Monthly Archives: April 2011

[Reading Report] Jan-Apr 2011

Hai semua! Sudah baca apa saja selama kuartal pertama tahun 2011 ini?

Dibawah ini daftar bacaan saya selama bulan Januari hingga April 2011, berikut buku favorit dari tiap-tiap bulan, dan buku favorit selama 1 kuartal. Format yang digunakan dibawah adalah sbb: Judul, Pengarang, Tebal, Penerbit, Genre, Rating.
Buku favorit saya per bulannya adalah yang tercetak tebal.

Januari:

  1. “Anak-Anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-Anak Dunia (Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World)” oleh Tetsuko Kuroyanagi, 328 hal, GPU, Nonfiksi, ♥♥♥♥♥
  2. “5 cm” oleh Donny Dhirgantoro, ? hal, Grasindo, Fiksi Indonesia, ♥
  3. “Ruang Reptil (The Reptile Room, A Series of Unfortunate Events #2)” oleh Lemony Snicket, 177 hal, GPU, Buku Anak, ♥♥♥
  4. “Tolkien’s World: Paintings of the Middle-earth” (ebook) by Various Illustrators, 144 hal, Pictorial book, ♥♥♥♥♥
  5. “Les Miserables” oleh Victor Hugo, 604 hal, Bentang, Klasik-Sejarah, ♥♥♥♥♥
  6. “God’s Little Lessons on Life“, 224 hal, Immanuel, Spirituality-Religion, ♥♥♥♥
  7. “Gajah Sang Penyihir (The Magician’s Elephant)” oleh Kate DiCamillo,  152 hal, GPU, Buku Anak, ♥♥♥♥
  8. “Keponakan Penyihir ( The Magician’s Nephew: Chronicles of Narnia #1)” oleh C.S. Lewis, 275 hal, GPU, Fantasi, ♥♥♥
  9. “A Child Called ‘It’: Sebuah Kisah Nyata Perjuangan Seorang Anak untuk Bertahan Hidup” oleh Dave Pelzer, 184 hal, GPU, Autobiografi/Memoir, ♥♥
  10. “Cinders” by Michelle Davidson Argyle, 182 pages, CreateSpace, Adult Fantasy, ♥♥♥
  11. “Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea)” oleh Ernest Hemingway, 145 hal, Serambi, Klasik, ♥♥

Februari:

  1. “Sang Singa, Sang Penyihir, dan Lemari (The Lion, the Witch, and the Wardrobe, Chronicles of Narnia #2)” oleh C.S. Lewis, 232 hal, GPU, Fantasi, ♥♥♥♥
  2. “Dimsum Terakhir” oleh Clara Ng, 361 hal, GPU, Fiksi Indonesia, ♥♥♥♥
  3. “I Am Number Four (Lorien Legacies #1) oleh Pittacus Lore, 500 hal, Mizan Fantasi, Sci-fi, ♥♥♥♥♥
  4. “Kisah Pi (Life of Pi)” oleh Yann Martel, 446 hal, GPU, ♥♥♥♥
  5. “Gadis Pendongeng (The Story Girl)” oleh L.M. Montgomery, 368 hal, GPU, Klasik, ♥♥♥
  6. “Galau Putri Calon Arang” oleh Femmy Syahrani,Yulyana, 184 hal, GPU, Dongeng Indonesia, ♥♥
  7. “Kolektor Tulang (The Bone Collector, Lincoln Rhyme #1)” oleh Jeffery Deaver, 616 hal, GPU, Thriller, ♥♥♥♥♥
  8. “Jane Eyre” oleh Charlotte Bronte, 688 hal, GPU, Klasik, ♥♥♥♥♥

Maret:

  1. “The Iron King (Iron Fey #1)” oleh Julie Kagawa, 462 hal, Kubika,  Fantasi Young Adult, ♥♥♥♥
  2. “Winter’s Passage (Iron Fey #1,5)” (ebook) by Julie Kagawa, 59 pages, Fantasy Young Adult, ♥♥♥
  3. “A Midsummer Night’s Dream” by William Shakespeare , ? pages, Saddleback Illustrated Classics, Classics/Romance, ♥♥
  4. “Dongeng Ketiga Belas (The Thirteenth Tale)” oleh Diane Setterfield, 608 hal, GPU, Misteri, ♥♥♥♥♥
  5. “Setelah Aku Pergi (Ways to Live Forever)” oleh Sally Nicholls, 216 hal,  GPU, Drama, ♥♥♥♥
  6. “Tuck Everlasting oleh Natalie Babbitt, 173 hal, Atria, Fantasi, ♥♥♥

April:

  1. “Air untuk Gajah (Water for Elephants)” oleh Sara Gruen, 512 hal, GPU, Fiksi Dewasa, ♥♥♥
  2. “Kerutan dalam Waktu (A Wrinkle in Time)” oleh Madeleine L’Engle, 267 hal, Atria, Fantasi/Sci-fi, ♥♥♥
  3. “Prince Caspian: The Movie Storybook” oleh Lana Jacobs & C.S. Lewis, 48 hal, GPU, Pictorial book, Fantasi, ♥♥♥
  4. “Djakabaia: Djalan-djalan dan Makan-makan di Soerabaia” oleh Vina Tania, 72 hal, GPU, Kuliner, ♥♥♥
  5. “Pride and Prejudice” oleh Jane Austen, 588 hal, Qanita, Klasik-Roman, ♥♥
  6. “Keluarga Penderwick (The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy)” oleh Jeanne Birdsall, 291 hal, GPU, Buku Anak, ♥♥♥♥
  7. “Scones and Sensibility” oleh Lindsay Eland, 308 hal, Atria, Remaja, ♥♥
  8. “Si Pembuat Jam (Clockwork)” oleh Philip Pullman, 112 hal, GPU, Buku Anak, ♥♥♥
  9. “Putri Si Pembuat Kembang Api (The Firework Maker’s Daughter)” oleh Philip Pullman, 144 hal, GPU, Buku Anak, ♥♥♥♥

Dan buku favorit yang saya baca selama Januari-April 2011 adalaaaahh…. *drumroll*…………… Les Miserables by Victor Hugo!

That’s it! Mudah-mudahan di bulan-bulan ke depan saya bisa membaca lebih banyak buku, Amiiiieeenn…. ^___^

[Review] Scones and Sensibility

Saya ingin menampar Polly Madassa!

Yap, Polly Madassa, seandainya ia benar-benar nyata, pasti adalah gadis dua belas tahun paling menyebalkan di muka bumi. Dia kira dia sudah mengetahui semuanya tentang cinta dengan membaca Pride and Prejudice serta Anne of Green Gables berulang kali. Ia kecanduan segala sesuatu yang berbau romantis, setiap kata yang ia ucapkan (atau pikirkan) selalu berbunga-bunga dengan kata-kata seperti “indah”, “cantik”, “molek”, “anggun”, dan sebagainya.

Sebagai gadis muda yang salah abad, Polly lebih suka mengenakan gaun daripada t-shirt dan jeans, senang menulis dengan pencahayaan lilin menggunakan pena bulu daripada bolpoin, dan lebih memilih mesin tik daripada komputer.

Polly, yang bekerja membantu mengantarkan kue-kue selama musim panas untuk toko roti antik orangtuanya, merasa bahwa sudah panggilan hidupnya untuk membantu kehidupan percintaan orang-orang terdekatnya. Ia jengah melihat kakaknya, Clementine, yang berpacaran dengan cowok bernama Clint, yang menurutnya, kasar dan sama sekali tidak gentleman. Ia sedih melihat sahabat baiknya, Fran Fisk, dan ayahnya, yang telah hidup selama tiga tahun tanpa kehadiran sosok seorang ibu dan istri. Juga ada Mr. Nightquist, seorang kakek dari cucu lelaki yang nakal, yang telah lama ditinggal mati istrinya.

Maka Polly pun mulai menyusun rencana dan mencarikan “kandidat-kandidat” yang cocok bagi Clementine, Mr. Fisk, serta Mr. Nightquist. Yang masuk dalam kriterianya adalah orang-orang yang berpenampilan menawan dan “berbudaya”, kurang lebih seperti Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, tokoh-tokoh dalam novel yang telah berulang kali dibacanya. Polly menganggap bahwa segala rencananya akan berjalan lancar, dan semua orang yang dijodohkannya akan “mereguk kebahagiaan cinta yang teramat manis”. Polly sama sekali tak sadar bahwa semua yang dilakukannya bisa mengarah kepada bencana…

###

Sayang sekali, saya tidak bisa bilang bahwa saya menyukai buku ini. Saya sudah membaca Pride and Prejudice yang menjadi “kitab suci” bagi Polly dan saya tidak menyukainya. Bagi saya karakter Elizabeth Bennet terlalu dangkal karena ia menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya dan bagaimana ia membawa dirinya. Hey, orang-orang yang rupawan tak selalu jujur dan baik hati. Dan sebagian orang paling baik di dunia tidak tahu cara membawa diri dengan ramah dan ceria di tengah-tengah orang banyak. Keramahan dan keceriaan bisa saja palsu. Polly, menurut saya, sama dangkalnya dengan Elizabeth. Karena ia dengan terburu-buru menilai seseorang sebelum benar-benar mengenal orang itu. Dan ia juga tidak mengerti bahwa sesuatu yang romantis itu relatif, tergantung pada tiap-tiap orang. Sebagian besar juga karena ia mengira ia tahu yang terbaik bagi orang-orang tercintanya.

Nilai moral dari cerita ini adalah, lebih baik tidak usah ikut campur dalam kehidupan cinta orang lain. Anda juga pasti tidak mau kalau ada orang yang melakukan itu kepada anda. Satu bintang saya berikan untuk gaya penulisan Lindsay Eland yang berhasil memadukan gaya bahasa buku-buku klasik dengan setting masa kini, dan sukses membuat saya sebal (dan diterjemahkan dengan sangat baik oleh Mbak Uci) dan satu bintang lagi untuk nilai moral yang diberikan buku ini.

Detail buku:

“Scones and Sensibility”, oleh Lindsay Eland
308 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥

[Review] Pride and Prejudice

“Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi.”



Begitu kuatnya prasangka yang dapat berakar dalam hati seseorang, sehingga tumbuh kebencian. Angkuh dan menyebalkan, begitu kesan pertama yang didapatkan Elizabeth Bennet ketika bertemu Mr. Darcy.

Elizabeth sendiri adalah putri kedua dari pasangan Mr. dan Mrs. Bennet. Ia memiliki empat orang saudari yang berbeda-beda karakternya; Jane, yang tertua, adalah yang tercantik dan paling lembut dari semuanya; Mary, seorang penyendiri dan kutu buku; serta Catherine dan Lydia yang agak liar, terutama jika menyangkut prajurit-prajurit tampan.

Suatu saat, Netherfield, sebuah rumah tiga mil dari rumah mereka di Longbourn, kedatangan penyewa baru bernama Mr. Bingley. Mrs. Bennet yang sangat ingin anak-anak perempuannya segera menikah, terutama si sulung Jane, begitu bersemangat mendengar kedatangan Mr. Bingley. Kakak beradik Bennet pun bertemu Mr. Bingley di sebuah pesta yang diadakan di Netherfield dan disana mereka melihat bahwa Mr. Bingley membawa dua adik perempuannya, dan seorang temannya, yaitu Mr. Darcy.

Seperti yang diharapkan oleh Mrs. Bennet, Mr. Bingley tertarik kepada Jane. Dan Mr. Darcy lambat laun pun tertarik kepada Elizabeth, namun perasaan itu tidak dibalas oleh Elizabeth, karena ia, juga ibunya, terlanjur mencap buruk Mr. Darcy. Pada bagian akhir cerita, ketika suatu masalah pelik menimpa keluarga Bennet, akhirnya Elizabeth pun dapat melihat kebaikan yang tersembunyi dalam diri Mr. Darcy, dan juga mulai membuka hatinya terhadap pria itu.

###

Saya banyak menyenangi novel-novel klasik, dan meskipun bukan penikmat roman, saya sangat menikmati membaca Jane Eyre karangan Charlotte Bronte. Ketika memutuskan membaca Pride and Prejudice, karya paling terkenal dari novelis roman ternama Jane Austen, saya berharap banyak bahwa novel ini, setidaknya, akan sebagus Jane Eyre. Ternyata saya sangat kecewa setelah membacanya. Isi Pride and Prejudice sangat mencerminkan judulnya (yang bila diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia berarti Harga Diri dan Prasangka), diuraikan penulis menjadi 585 halaman dalam versi terjemahan Indonesianya. Ceritanya, walau tidak bisa dibilang beralur lamban, namun datar-datar saja, cenderung hambar, tanpa ada konflik yang berarti, dan sangat mudah ditebak. Kebanyakan hanya berkisah tentang kunjungan Mr. X ke tempat Y, pesta di Z, dan tokoh-tokoh yang mengagumi rumah yang mereka kunjungi, melontarkan pujian untuk entah taman atau perabotnya, dan tentu saja percakapan-percakapan panjang nan ngalor ngidul yang terjadi antar tokohnya. Konflik terbesar yang terjadi di bagian akhir buku pun entah kenapa tidak mampu mencapai klimaksnya, dan apa yang terjadi pada kedua tokoh utama setelah konflik berlalu hanya mampu membuat saya membatin, “Ealah, cuma begitu doang to???”

Hal yang menarik mengenai Pride and Prejudice bahwa di Indonesia ini ada tiga penerbit yang hampir secara bersamaan merilis versi terjemahannya. Yang pertama adalah penerbit Bukune, yang kedua Qanita (Mizan Group) yaitu versi yang saya baca ini, dan yang terakhir Gramedia Pustaka Utama, yang sedianya akan terbit pertengahan tahun 2011. Tertarik membandingkannya? Kalau saya sih, jujur, angkat tangan. Nyerah. ;-P

Detail buku:
“Pride and Prejudice”, oleh Jane Austen
585 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating : ♥ ♥

[Review] Keluarga Penderwick (The Penderwicks)

Saya baru tahu keberadaan buku ini ketika berburu buku murah di Kompas Gramedia Fair Surabaya, di Gramedia Expo. Beruntung sekali bisa mendapatkan buku ini dengan harga yang super duper murah, dan saya sangat menikmati membacanya!

Cerita dimulai ketika keluarga Penderwick, yang beranggotakan seorang profesor botani dan keempat anak perempuannya, serta seekor anjing bernama Hound, berlibur musim panas di sebuah tempat bernama Arundel. Arundel adalah sebuah mansion luar biasa besar dan mewah yang dikelilingi taman yang indah dan rapi. Keempat gadis Penderwick adalah Rosalind, dua belas tahun, yang tertua dan paling cantik, bijaksana dan bertanggung jawab; kemudian Skye, sebelas tahun, yang tomboi dan terpandai dari semuanya; Jane, sepuluh tahun, yang bercita-cita menjadi penulis hebat dan punya alter ego bernama Sabrina Starr (yang adalah pahlawan dalam cerita-ceritanya); serta Batty si bungsu yang baru empat tahun yang manis dan sangat polos.

Akibat insiden di hari pertama mereka di Arundel yang melibatkan Skye, mereka akhirnya bersahabat dengan Jeffrey Tifton, putra pemilik Arundel. Jeffrey anak yang sangat asyik, sementara ibunya, Mrs. Tifton, telah menjadi sosok yang ditakuti gadis-gadis Penderwick bahkan sebelum mereka memasuki Arundel, karena Mrs. Tifton pemarah dan sangat overprotektif terhadap tamannya. Gadis-gadis Penderwick juga bersahabat dengan Cagney, si pemuda tukang kebun yang tampan dan punya dua ekor kelinci sangat lucu bernama Yaz dan Carla, juga Churchie si pengurus rumah tangga, dan Harry si penjual tomat.

Hari-hari mereka di Arundel diisi dengan petualangan-petualangan mengasyikkan, yang seringkali konyol namun sangat seru. Misalnya ketika mereka menyelamatkan Batty dari sapi jantan yang dikenal suka menyeruduk orang yang melanggar teritorinya. Insiden ketika dua kelinci Cagney lepas dari kandangnya. Dan juga ketika Jeffrey, Skye dan Jane bermain bola sampai lupa daratan justru ketika para juri Kontes Berkebun sedang menilai taman Mrs. Tifton. Peristiwa-peristiwa lain yang tak kalah serunya, terjadi sampai pada menjelang akhir libur musim panas. Dan sebelum mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Arundel, keluarga Penderwick membantu Jeffrey untuk menghadapi ibunya yang kurang peduli terhadap putranya dan memaksanya masuk sekolah militer.

Beberapa orang mengatakan bahwa buku ini seperti gabungan antara The Secret Garden dengan Little Women. The Secret Garden memang menyajikan taman-taman yang indah dan kisah persahabatan, namun saya belum pernah membaca Little Women. Karakter para gadis Penderwick yang bengal-bengal adalah daya tarik utama cerita ini, saya kira. Kemudian kelincahan penulis dalam menggambarkan petualangan demi petualangan yang dialami para tokoh, dengan gaya konyol namun tetap terasa ketegangannya, dan juga ada adegan yang mengharukan, membuat saya sangat terhibur ketika membaca buku ini. Ini jenis bacaan yang akan saya baca lagi, lagi, dan lagi. Yang membuat saya kecewa hanyalah kenyataan bahwa Gramedia tidak menerbitkan sekuel dari The Penderwicks, yang berjudul The Penderwicks on Gardam Street. Jika ada, tentu saya akan sangat senang, ditambah lagi bahwa sekuel keduanya (alias buku ketiga), The Penderwicks at Point Mouette akan terbit Agustus 2011 ini. I’m craving for more of Jeanne Birdsall’s works!

Detail buku:
“Keluarga Penderwick” (judul asli: The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy), oleh Jeanne Birdsall
291 halaman, diterbitkan Maret 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Kerutan dalam Waktu (A Wrinkle in Time)

“Satu hal yang telah kupelajari, adalah kau tak perlu memahami sesuatu untuk menerima sesuatu itu ada.”


Margaret “Meg” Murry, anak tertua dari empat bersaudara, adalah seorang anak perempuan yang bermasalah di sekolah. Sepertinya ia tidak bisa melakukan apapun dengan benar, para guru dan teman-temannya mencelanya, dan dengan penampilan fisiknya yang “mengerikan”: kawat gigi, kacamata tebal, dan rambut berantakan; ia semakin dianggap makhluk yang aneh. Orangtua Meg adalah sepasang ilmuwan jenius, sehingga orang-orang tak habis pikir mengapa Meg bisa menjadi begitu bodoh, demikian juga adik bungsunya, Charles Wallace. Padahal, mereka sama sekali tidak bodoh, mereka hanya melakukan segala sesuatunya tidak seperti kebanyakan orang. Dan itulah yang membuat Meg dan Charles Wallace berbeda, bahkan berbeda dengan saudara lelaki kembar mereka, Sandy dan Dennys.

Ditambah lagi, ayah Meg telah menghilang secara misterius setelah beliau pergi melakukan pekerjaan untuk pemerintah. Pada suatu malam berbadai yang aneh, Meg akhirnya terlibat perjalanan berbahaya menembus ruang dan waktu untuk menyelamatkan ayahnya, bersama-sama dengan Charles Wallace dan seorang anak lelaki bernama Calvin O’Keefe. Mereka dibantu oleh tiga individu yang masing-masing sangat ganjil; Mrs. Whatsit yang penampilannya seperti perempuan tua yang tenggelam dibawah mantel dan tumpukan syal, Mrs. Who yang memakai kacamata amat besar dan selalu mengutip peribahasa-peribahasa dan ungkapan-ungkapan kuno serta ucapan-ucapan para tokoh terkenal dari abad yang sudah berlalu; serta Mrs. Which yang sosok tubuhnya seakan transparan dan suaranya menggema tajam di udara ketika ia berbicara.

Meg, Charles Wallace dan Calvin melintasi dimensi kelima untuk pergi ke Camazotz, tempat Mr. Murry ditawan oleh ITU, suatu individu jahat yang mengendalikan segala sesuatunya sehingga semua makhluk hidup di tempat itu bergerak dalam satu irama yang sama, sehingga mereka tidak kelihatan benar-benar hidup tapi seperti selongsong kosong yang tak berjiwa. “Mengapa kau pikir orang-orang menjadi bingung dan tidak bahagia? Karena mereka semua menjalani kehidupan mereka masing-masing, terpisah, dan individual. Perbedaan hanya menciptakan masalah,” demikian alasan ITU. Bertiga mereka saling membantu untuk melewati segala bahaya dalam perjalanan mereka, dan pada akhirnya Meg sendirilah yang harus menghadapi ITU, dengan senjata rahasia yang ia miliki namun tidak dimiliki oleh ITU. Akankah Meg memenangkan pertempuran ini?

###

“Buku-buku yang paling melekat dalam kenangan masa kecil kita adalah buku-buku yang membuat kita merasa tidak kesepian, yang meyakinkan kita bahwa kelemahan dan keanehan kita sama individualnya dengan sidik jari dan sama universalnya dengan tangan yang terbuka.”

Demikian kalimat pembuka dari halaman apresiasi yang ditulis oleh Anna Quindlen, seorang penulis dan jurnalis Amerika yang pernah memenangkan Pulitzer Prize, yang entah mengapa diletakkan di bagian awal buku A Wrinkle In Time edisi terjemahan Indonesia terbitan Atria ini. Dalam enam halaman apresiasi ini Anna sudah merangkum isi buku ini, sehingga, bagi anda yang ingin membaca buku ini tanpa terganggu dengan spoiler, maka saya menyarankan anda untuk melewati halaman apresiasi ini dan langsung membaca bab pertama.

Jujur saja, saya agak bingung mengkategorikan buku ini. Pendapat saya ketika sekilas melihat covernya, ini adalah buku anak-anak. Setelah membacanya, saya berpendapat buku ini agak terlalu berat untuk anak-anak, mereka yang sudah memasuki usia remaja yang bisa membacanya. Namun, dalam beberapa bagian, sayapun yang sudah tergolong pembaca dewasa pun agak sulit memahami buku ini, terutama mengenai tesseract alias dimensi kelima, serta siapa sebenarnya Mrs. Whatsit, Mrs. Who, dan Mrs. Which, serta Medium Bahagia serta beberapa tokoh lain yang notabene bukan manusia. Karakter Charles Wallace kecil yang unik juga membuat saya bingung, sebab bagaimana mungkin seorang anak lelaki kecil yang berusia tak lebih dari 9 tahun, dapat berkata seperti ini, “Jalan menuju neraka dilapisi oleh niat-niat baik.”

Kesimpulan yang saya tarik ketika selesai membacanya, A Wrinkle in Time adalah kisah tentang perjuangan batin melawan rasa kesepian, tidak dicintai, dan ketakutan pribadi. (bagi saya buku ini seakan berteriak keras-keras “YOU ARE LOVED!” )
Dan pada akhirnya, perang antara kebaikan dan kejahatan, namun tidak dalam hingar bingar spektakuler seperti yang sering tampak di film-film Hollywood. Semua ini dibungkus rapat oleh penulis dengan rasa fiksi ilmiah dan unsur-unsur sains yang kental, serta imajinasi yang berbeda dengan apa yang sudah sering kita baca sebelumnya.

Dan tentu saja, kutipan-kutipan yang diucapkan oleh Mrs. Who adalah daya tarik tersendiri.


“Tidak ada yang mustahil; kita harus berharap akan segala sesuatu.” – Euripides


Ab honesto virum bonum nihil deterret. Tidak ada yang mampu menghalangi seseorang yang baik untuk melakukan sesuatu yang terhormat.” – Seneca


Qui plus sait, plus se tait. Jika seseorang tahu lebih banyak, dia akan lebih sedikit berbicara.” – peribahasa Prancis


Detail buku:

“Kerutan dalam Waktu” (judul asli: A Wrinkle in Time), oleh Madeleine L’Engle
267 halaman, diterbitkan September 2010 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥

[Review] Tuck Everlasting

Bagaimana jika kau bisa hidup selamanya?

Pada minggu pertama bulan Agustus yang panas itu, serangkaian kejadian yang tampaknya tak saling berhubungan terjadi. Pada pagi hari Mae Tuck pergi dengan kudanya ke hutan di sisi Desa Treegap untuk menemui kedua anaknya. Siangnya, Winnie Foster, anak pemilik hutan Treegap bosan dengan hidupnya yang serba teratur, berpikir untuk melarikan diri. Sore harinya, seorang pria asing datang ke rumah keluarga Foster dengan maksud tertentu di benaknya.

Winnie Foster, anak perempuan keluarga Foster yang berusia sepuluh tahun, mengalami hari yang paling tidak terduga sepanjang hidupnya. Ia memasuki hutan Treegap dan melihat seorang pemuda tampan minum dari mata air yang tersembunyi di dekat sebuah pohon besar di pusat hutan itu. Pemuda yang ditemuinya bernama Jesse Tuck, dan Winnie langsung jatuh hati kepadanya. Dan ternyata, Jesse beserta ayah, ibu dan kakaknya telah hidup selama delapan puluh tujuh tahun tanpa menua barang semenit pun!

Keluarga Tuck pun menculik Winnie, namun mereka tidak berniat menyakitinya, hanya untuk memberikan penjelasan padanya bahwa tidak ada seorang pun yang boleh tahu keberadaan mata air keabadian itu. Di saat yang sama, pria asing yang datang ke kediaman keluarga Tuck menawarkan diri untuk menyelamatkan Winnie dari cengkeraman para penculik dan meminta hutan Treegap yang dimiliki keluarga Foster sebagai gantinya.

Winnie harus memilih. Ia harus memilih antara keluarganya sendiri dengan keluarga Tuck yang juga ia kasihi, terutama Jesse. Ia harus memilih antara membiarkan keberadaan mata air itu diketahui—dan dimanfaatkan, atau berjuang untuk menutup rapat-rapat rahasia itu, tidak peduli sebesar apapun harga yang harus dibayar.

###

Buku tipis yang ditulis dengan apik ini mungkin singkat, namun memiliki makna yang sangat bagus. Buku ini menyadarkan kita, bahwa hidup selamanya itu tak selamanya enak, seperti yang dipikirkan oleh banyak orang. Segala sesuatunya di dunia ini diciptakan Tuhan untuk mengecap kehidupan, dan kemudian mati, semua pada waktu dan perencanaan-Nya yang sempurna.

Tuck Everlasting pernah difilmkan pada tahun 2002 dengan bintang Alexis Bledel (Gilmore Girls) dan Jonathan Jackson. Saya tidak tahu apakah versi filmnya setia pada bukunya karena saya belum pernah menontonnya :)

Detail buku:
“Tuck Everlasting”, oleh Natalie Babbitt
173 halaman, diterbitkan November 2010 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers