[Review] Pride and Prejudice

“Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi.”



Begitu kuatnya prasangka yang dapat berakar dalam hati seseorang, sehingga tumbuh kebencian. Angkuh dan menyebalkan, begitu kesan pertama yang didapatkan Elizabeth Bennet ketika bertemu Mr. Darcy.

Elizabeth sendiri adalah putri kedua dari pasangan Mr. dan Mrs. Bennet. Ia memiliki empat orang saudari yang berbeda-beda karakternya; Jane, yang tertua, adalah yang tercantik dan paling lembut dari semuanya; Mary, seorang penyendiri dan kutu buku; serta Catherine dan Lydia yang agak liar, terutama jika menyangkut prajurit-prajurit tampan.

Suatu saat, Netherfield, sebuah rumah tiga mil dari rumah mereka di Longbourn, kedatangan penyewa baru bernama Mr. Bingley. Mrs. Bennet yang sangat ingin anak-anak perempuannya segera menikah, terutama si sulung Jane, begitu bersemangat mendengar kedatangan Mr. Bingley. Kakak beradik Bennet pun bertemu Mr. Bingley di sebuah pesta yang diadakan di Netherfield dan disana mereka melihat bahwa Mr. Bingley membawa dua adik perempuannya, dan seorang temannya, yaitu Mr. Darcy.

Seperti yang diharapkan oleh Mrs. Bennet, Mr. Bingley tertarik kepada Jane. Dan Mr. Darcy lambat laun pun tertarik kepada Elizabeth, namun perasaan itu tidak dibalas oleh Elizabeth, karena ia, juga ibunya, terlanjur mencap buruk Mr. Darcy. Pada bagian akhir cerita, ketika suatu masalah pelik menimpa keluarga Bennet, akhirnya Elizabeth pun dapat melihat kebaikan yang tersembunyi dalam diri Mr. Darcy, dan juga mulai membuka hatinya terhadap pria itu.

###

Saya banyak menyenangi novel-novel klasik, dan meskipun bukan penikmat roman, saya sangat menikmati membaca Jane Eyre karangan Charlotte Bronte. Ketika memutuskan membaca Pride and Prejudice, karya paling terkenal dari novelis roman ternama Jane Austen, saya berharap banyak bahwa novel ini, setidaknya, akan sebagus Jane Eyre. Ternyata saya sangat kecewa setelah membacanya. Isi Pride and Prejudice sangat mencerminkan judulnya (yang bila diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia berarti Harga Diri dan Prasangka), diuraikan penulis menjadi 585 halaman dalam versi terjemahan Indonesianya. Ceritanya, walau tidak bisa dibilang beralur lamban, namun datar-datar saja, cenderung hambar, tanpa ada konflik yang berarti, dan sangat mudah ditebak. Kebanyakan hanya berkisah tentang kunjungan Mr. X ke tempat Y, pesta di Z, dan tokoh-tokoh yang mengagumi rumah yang mereka kunjungi, melontarkan pujian untuk entah taman atau perabotnya, dan tentu saja percakapan-percakapan panjang nan ngalor ngidul yang terjadi antar tokohnya. Konflik terbesar yang terjadi di bagian akhir buku pun entah kenapa tidak mampu mencapai klimaksnya, dan apa yang terjadi pada kedua tokoh utama setelah konflik berlalu hanya mampu membuat saya membatin, “Ealah, cuma begitu doang to???”

Hal yang menarik mengenai Pride and Prejudice bahwa di Indonesia ini ada tiga penerbit yang hampir secara bersamaan merilis versi terjemahannya. Yang pertama adalah penerbit Bukune, yang kedua Qanita (Mizan Group) yaitu versi yang saya baca ini, dan yang terakhir Gramedia Pustaka Utama, yang sedianya akan terbit pertengahan tahun 2011. Tertarik membandingkannya? Kalau saya sih, jujur, angkat tangan. Nyerah. ;-P

Detail buku:
“Pride and Prejudice”, oleh Jane Austen
585 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating : ♥ ♥

About melmarian

Accountant, booklover. Thankful and blessed for ever.

Posted on April 22, 2011, in Book Reviews and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 15 Comments.

  1. hay Mel, aku nonton filmnya aja nih, yang main Keira Knightley. lupa2 inget ceritanya. tapi kayaknya Elizabeth pertama kali menilai Mr. Darcy buruk soalnya si Mr. ini emang misterius dan sombong2 serius gityu sikapnya, hehehee…

    oiya, waktu kmrn ke Gramed kan banyak tuh novel2 klasik dengan terjemahan penerbit yang beda2. gimana ya cara kita ngebandingin-nya? selain Pride and Prejudice, ada juga Little Women, contohnya. kalo selama ini sih aku masih beranggapan kalo terjemahan versi GPU adalah yang paling enak dibaca. Menurutmu gimana?? Kalo buku2nya Atria itu bagus nggak? itu masuk grup penerbit mana??

    *eh yang komen pertama hapus yah* :P

    • Aku belom pernah nonton versi filmnya Pride n Prejudice, ada yang bilang versi yang Colin Firth jadi Mr. Darcy yg paling bagus, tapi ada juga yang favoritin versi Keira Knightley. Sepertinya kalo buat aku nonton filmnya akan lebih menghibur daripada baca bukunya… hehehe.

      Cara bandingin berbagai versi terjemahan? Wedew, kudu buka kartu nih. Sejauh ini aku paling puas sama terjemahannya Gramedia n Penerbit Mizan (di dalamnya ada Bentang Pustaka, Rumah Buku Hikmah, n Orange Books). Atria itu dibawah Penerbit Serambi, kualitas terjemahannya OK kok.

      Sepertinya kamu harus gabung Goodreads deh, informasi tentang buku2 n terjemahan bejibun disana *promosi* ;)

  2. hahaa… join Goodreads? ehem, kayaknya harus lebih dulu mengembalikan mood dan semangat membaca seperti dulu, sebelum gabung ke Goodreads. minder duluan, hehehee..

    baca reviewnya Melissa aja dueehh, lebih gampang :D

    thankies, have a goodday!

  3. Saya suka sekali Pride and Prejudice, bahkan saya memiliki beberapa versi bukunya dan memesan dari Amerika langsung untuk buku-buku kritik Pride and Prejudice, Jane Austen dan DVD miniseri tahun 1995 yang diproduksi oleh BBC. Bahkan saat ini saya sedang dalam proses penelitian kepribadian tokoh utama sebagai analisis psikologi sastra sebagai bahan skripsi saya. Dan baru saya ketahui, ternyata Kate dan Pengeran William pun menyukai miniseri Pride and Prejudice. Bahkan Kate menjuluki William sebagai Darcy. http://international.okezone.com/read/2011/04/28/414/450825/mau-tau-julukan-kate-untuk-william

    Tapi saya dapat mengerti bila kesukaan tiap pribadi terhadap karya sastra tidaklah sama. Tetapi terima kasih sudah memposting tentang novel ini di blog anda ;)

  4. Julio Kurniawan

    well,, aku setuju kalo si Tiny Ma mengatakan “Tapi saya dapat mengerti bila kesukaan tiap pribadi terhadap karya sastra tidaklah sama”… But ,, aku jugaakk radak bingung kok bisa yahh novel ii dianggap “evergreen” yang tidak lekang oleh waktu…??? mm,,, berarti, maaf saya bukan menghina,a to mengejekk,, yang mereview kayakx radakk rendah levelnya… but sekali lagiii kesukaan tiap pribadi terhadap karya sastra tidaklah sama….
    But mungkin ajah yang menerjemahkan kurangg kena, tidak seperti versi aslinya… jadi yang mereview ini radakk gg suka sama bukunya…. :)

    • Hmmm, “rendah levelnya” ya kata anda.
      Selera baca setiap orang pasti berbeda, jadi nggak ada tuh yang berhak bilang “tinggi levelnya” atau “rendah levelnya”, karena mau ngukur tinggi/rendah “level” pake patokan apa juga nggak jelas.
      semuanya kembali ke selera baca masing-masing.

  5. Pride n prejudice mnrt sy lumayan bagus. Kalo mau yg agak2 kelam,baca wuthering heighs nya Emily bronte.ada lg yg bgs tp blm prnh diterjemahkan yakni south n north nya Elizabeth gaskell,cb liat d Amazon.

  6. bagaimana cara mendapatkan buku ini

  7. setelah membaca dari review anda dan membaca novelnya, benar bahwa novelnya “sedikit” membuat saya bingung. mungkin karena ini novel lama dan mungkin saja terjemahannya yang sedikit membingungkan membuat saja jadi harus membaca novel ini dalam waktu yang lama. karena penasaran jadi saya putuskan untuk membaca sampai akhir.. terimakasih atas reviewnya.. :D

  8. Ah ternyata kita sepemahaman mba’.. waktu itu saya tertarik untuk baca karena penasaran dengan ‘kebesaran namanya’ Tapi setelah dibaca, kecewaaaa :( Tapi saya belum baca Jane eyre.. Baiklah.. akan saya masukkan dalam whislist mendatang ;) )

  9. lagi ada tugas u analisis novel klasik…pride and prajudice…
    bahasanya memang beda sekali dng jaman sekarang..ya wajar tahun 1800an…
    tapi seru….
    pada jaman itu banyak orang2 bangga dengan kekayaannya dan sebagai wanita harus punya bnyak keahlian.. agar dibilang wanita sempurna….
    novel ini sesuai jamannya

    • setuju dengan esri. novel ini sesuai jamannya. aku sudah tonton filmnya dari yang hitam putih, sampai yang terbaru. dan aku paling suka yg versi bbc dan keira. very verry good. seneng jg ada terjemahannya. cuma kok aku mlh takut kecewa dgn terjemahannya. karena versi asli itu disukai karena “bahasa” nya juga. inggris jaman dl. yg memanggil suaminya dengan sebutan mr. mr bennet. membayangkan ibunya elizabeth marah2. qiqiqi… lucu.

Tinggalkan komentarmu disini... (akan dimoderasi dulu jika komen pertama kali)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers