Monthly Archives: January 2012

Pendatang Baru di Rak Bukuku – Januari 2012

Hai hai!

Hari ini hari terakhir di bulan pertama tahun 2012, tapi sejauh ini saya baru posting review 2 buku sajah, hiks hiks hiks… :’(. Semoga bulan depan saya bisa lebih produktif, huwaaaaa……

Tapiii, saya cukup terhibur karena bulan ini saya nggak mengeluarkan banyak duit untuk membeli buku. (YAY! Hahahaha :D )

Berikut ini buku-buku yang jadi pendatang baru di rak bukuku selama bulan Januari 2012. Enjoy! ;)

DIBELI

Oidipus Sang Raja (Sophocles)

The Given Day (Dennis Lehane)

The Paris Vendetta (Steve Berry)

Buku Oidipus: Sang Raja tidak sengaja saja temukan waktu iseng-iseng jalan ke TB Gramedia, saat itu si Oidipus sedang asyik leyeh-leyeh di tumpukan buku obralan. Saya cari-cari kembarannya kok nggak ada, yaudah disabet aja deh. Harganya sepuluh ribu rupiah saja. Kalo The Given Day dan Paris Vendetta, dua-duanya hasil beli saat Periplus diskon 50% selected items. Dua buku ini harganya sudah diturunkan, eh dari harga itu masih didiskon 50%. Hasilnya, ongkos untuk membawa pulang dua buku ini nggak lebih dari 30 ribu rupiah! Buku bahasa Inggris lho iniiiii… :D

HASIL SWAP

Jungle Child (Sabine Kuegler)

Hasil swap dengan Ndari. Dikirim bersamaan dengan buku Tanah Tabu, yuk bertualang di rimba Papua! :)

BUNTELAN & HADIAH

Desiree (Annemarie Selinko)

The Adventures of Tom Sawyer (Mark Twain)

The Bell Jar (Sylvia Plath)

Mockingjay (Suzanne Collins)

Desiree dan Tom Sawyer buah tangan dari acara Temu Pembaca Serambi di awal bulan Januari, The Bell Jar buntelan untuk direview dari penerbit, dan yang terakhir: Mockingjay yang baru mendarat kemarin, hadiah menang #ResensiPilihan Gramedia untuk review buku ini.

That’s it. Lumayan banyak juga yah! Bulan depan, semoga jumlah buku yang kubaca bisa melebihi jumlah “pendatang baru”.  :D

Kejutan dari Secret Santa BBI! :)

Mestinya hari ini saya posting review buku ini, tapi nggak sempat menamatkannya tepat waktu… Huhuhu maapkan TT_TT

Buat yang penasaran apaan sih Secret Santa, SS adalah suatu proyek/program/event (tepatnya apa yah? SESUATU deh :D ) yang diadakan komunitas Blogger Buku Indonesia pada akhir tahun 2011 kemarin. Awalnya Ndari yang melemparkan ide kepada BBI-ers untuk saling memberi kado. Kado apa? Jelas BUKU lah! *wink*

Setiap BBI-ers ngubek-ngubek wishlist si X yang akan dikasih kado, habis gitu membeli dan mengirimkan bukunya. Sampai menerima buku, si X nggak akan tahu siapa Secret Santa-nya. Malah ada beberapa BBI-ers yang identitas SS-nya masih “misterius” padahal udah nerima buku hadiah darinya, heheheh.

Daaaaaaan, inilah buku yang saya terima dari Secret Santa :

City of Thieves dari Secret Santa! ♥

Thank you dear Secret Santa! :-* Walau sempat nungguin lama (dan sempat kesilauan liat BBI-ers lain pada pamerin buku SS-nya :-p), seneeeeeng banget deh bisa dapat buku idaman :D .

So who is my Secret Santa? Dia adalah……. eng ing eeeeeeeennnnnnnngggggggg…….

Click Me!

Colek topi Santa dan anda akan langsung dibawa ke blognya!

Reviewnya nyusul yah…. ^^

It's Our Fault Classics are Boring

Reblogged from alphabetically inclined:

Click to visit the original post

Classics aren’t supposed to be boring. That’s why they’re classics–because generations of readers have enjoyed them. Well, except for Le Morte d’Arthur. But I’m pretty sure that book just sucks. How many times can “horsed” be used per page?

And yet, English class is invariably voted “most boring” by a completely unscientific poll of high schoolers.

Partly, I think it there’s this idea that classics should be like vitamins–good for you, but not something you take without a grimace.

Read more… 307 more words

Ilustrasi Edgar Allan Poe oleh Rudy-Jan Faber

Cuma ingin share gambar dari situs menarik yang saya temukan waktu iseng-iseng browsing, www.hireanillustrator.com

The House Of Usher © Rudy-Jan Faber

Gambar diambil dari sini.

Sumber inspirasi sang ilustrator dari cerpen The Fall of the House of Usher (jelas dari judul ilustrasinya).

Sekian. Post selanjutnya harus berupa review buku! #toyordirisendiri >_<

BULAN DICKENS: Perayaan 200 Tahun Charles Dickens

Repost dari Blog Fanda Classiclit

Tanggal 7 Februari 2012 merupakan hari yang istimewa. Pada hari itu kita akan merayakan ulang tahun penulis klasik besar dunia: CHARLES DICKENS, yang ke-200! Beliau lahir tepat pada 7 Februari 1812. Untuk merayakan dua abad Charles Dickens, blog Fanda Classiclit bekerja sama dengan Melmarian (pemilik blog Surgabukuku) akan mengadakan sebuah perayaan bertajuk: BULAN DICKENS.

Di BULAN DICKENS yang berlangsung selama bulan Februari 2012 akan ada 3 event antara lain:

#BacaDickens

*Menikmati min. 1 karya Dickens (lebih banyak lebih baik) dalam bentuk apa saja. Boleh membaca buku (buku terjemahan, buku bahasa Inggris, e-book, audiobook, videobook), atau menonton film yang diadaptasi dari karya Dickens.

* Follow @bacaklasik.

*Share pengalaman & kesan kalian selama membaca/menonton Dickens di Twitter dengan mention @bacaklasik dan hashtag #BacaDickens. Boleh juga di-share di blog masing-masing atau FB.

*Jadwal dan frekuensi share bebas, asalkan antara tanggal 1 s/d 29 Februari 2012.

*Judul buku/film, terbitan, penerbit apa saja terserah, pokoknya karya Dickens.

*Kami akan memilih 2 (dua) orang pemenang yang paling sering share pengalaman #BacaDickens selama sebulan (1 s/d 29 Februari 2012). Masing-masing akan mendapatkan hadiah 1 buku klasik dari kami.

(Tujuan kegiatan ini adalah untuk lebih mengakrabkan orang pada karya-karya dan ke-khas-an gaya penulisan Charles Dickens).

Lomba #ReviewDickens

*Mereview buku atau film yang kalian baca/tonton.

*Review diposting di :

1. Notes Facebook dengan men-tag min. 20 orang teman yang kalian rekomendasikan untuk turut membaca karya klasik Dickens (wajib). Sertakan keterangan bahwa review kalian dibuat dalam rangka Bulan Dickens bersama @bacaklasik. Review juga boleh direpost di blog masing-masing (bila punya).

2. Cantumkan link Notes tsb di kolom komentar posting ini supaya kami bisa menilai review tsb. (wajib)

3. Cantumkan juga link di Twitter (bila punya) dengan mention @bacaklasik dan hashtag #ReviewDickens, agar kami bisa men-RT.

*Review tersebut diposting antara tanggal 1 s/d 29 Februari 2012.

*Judul buku/film, terbitan, penerbit apa saja terserah, pokoknya karya Dickens. Review (baik buku/film) harus ditulis dalam bahasa Indonesia.

*Review akan kami nilai, dan 2 (dua) review terbaik akan mendapatkan hadiah masing-masing 1 buku klasik dari kami.

(Tujuan kegiatan ini adalah untuk menularkan virus membaca karya klasik, agar semakin banyak orang*tertarik membaca buku klasik—dalam hal ini karya Charles Dickens yang sedang dirayakan).

#TebakDickens

Quiz yang diadakan di Twitter selama bulan Februari. Pertanyaan-pertanyaannya akan berkisar di seputar Charles Dickens. Bisa mengenai sosok pribadinya, atau karya-karyanya. 2 (dua) orang yang paling banyak dan paling cepat mengumpulkan jawaban yang benar akan mendapat hadiah masing-masing 1 buku klasik dari kami.

Kuis #TebakDickens akan diadakan selama 5 hari (tanggal 20-24 Februari 2012) dengan 5 pertanyaan setiap harinya. Pertanyaan akan ditweet di jam kerja (pukul 08.00-17.00) namun menjawabnya boleh sampai sebelum pukul 24.00 setiap harinya.

Pertanyaan hari pertama akan ditweet dengan hastag #TebakDickensH1, hari kedua #TebakDickensH2 dan seterusnya.

Menjawab pertanyaan harus mention @bacaklasik dan hashtag sesuai hari (lihat keterangan diatas).

Tweet jawaban yang tidak sesuai kriteria tidak akan kami sertakan dalam penilaian.

(Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan sosok Charles Dickens dan karya-karyanya).

Pengumuman Pemenang

Peserta yang terpilih menjadi pemenang harus berdomisili di Indonesia.

Pemenang kuis #TebakDickens akan diumumkan pada hari Senin, 27 Februari 2012 pukul 12.00 siang di Twitter @bacaklasik

Sedangkan pemenang #BacaDickens dan Lomba #ReviewDickens akan diumumkan pada hari Senin, 5 Maret 2012 pukul 12.00 siang melalui Twitter @bacaklasik dan blog Fanda Classiclit.

 

Informasi Lainnya

Karya Charles Dickens yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia:

• Oliver Twist – oleh Bentang Pustaka, Maret 2011

• Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) – oleh Elex Media Komputindo, tahun 2010

Buku-buku Dickens berbahasa Inggris (buku fisik) bisa didapatkan di toko buku seperti Periplus atau toko buku online internasional seperti Amazon.com dan BookDepository.com

Sedangkan e-book karya-karya Dickens bisa di search salah satunya di Project Gutenberg. Beberapa judul yang tersddia antara lain:

A Christmas Carol
Great Expectations
Oliver Twist
A Tale of Two Cities
David Copperfield
The Pickwick Papers
Little Dorrit
Nicholas Nickleby
Dombey and Son
The Old Curiosity Shop
Dan lain-lain.

Ayo, ikut meriahkan 200 tahun Charles Dickens!

*Host BULAN DICKENS: Blog Fanda Classiclit bekerjasama dengan Blog Surgabukuku, Akun Twitter @bacaklasik, sponsored by Bukunya.com*

[Classics Challenge 2012] January – Author Charles Dickens

Let’s read classics!

Tidak hanya sekedar membaca, melalui challenge yang ini pembaca buku klasik juga ditantang untuk memperdalam wawasan tentang buku klasik yang dibaca. Posting aslinya (dari blog luar) bisa dilihat di sini. Bertepatan dengan perayaan 200 tahun penulis besar asal Inggris Charles Dickens, maka classics challenge ini saya dedikasikan untuk beliau.

Level 1

Who is the author?

Charles John Huffam Dickens, lebih dikenal dengan nama Charles Dickens.

What do they look like?

Gambar dari http://www.guardian.co.uk/books/2011/nov/27/dickens-exhibition-spooky-plagiarism-scare

Jika dicari melalui Google, foto Dickens hampir semuanya berkumis dan berjanggut…

When were they born?

7 Februari 1812

Where did they live?

2 Ordnance Terrace, Chatham

Dickens menghabiskan masa kecil (1817–1822) di 2 Ordnance Terrace, Chatham, di Kent. Tahun 1824, ayah Dickens dipenjarakan di Marshalsea debtors’ prison beserta seluruh keluarga, kecuali Charles yang pada saat itu dikirim untuk bekerja di Warren’s Shoe Blacking Factory. Saat itu Charles tinggal di rumah kos-kosan di Camden Town dan mengunjungi keluarganya di Marshalsea setiap minggu. Dickens tinggal di Gad’s Hill di Kent mulai tahun 1857 hingga 1870, tahun dimana beliau wafat. Gad’s Hill menjadi Gad’s Hill School sejak tahun 1924 hingga saat ini.

Gad's Hill Place

What does their handwriting look like?

Gambar dari http://www.fathom.com/course/21701768/s5_14_fields.html

What are some of the other novels they’ve written?

Dickens menghasilkan banyak karya sepanjang hidupnya. Selain A Tale of Two Cities yang laris manis di seluruh penjuru dunia, ada novel pertamanya, The Pickwick Papers, kemudian Oliver Twist, Great Expectations, Bleak House, A Christmas Carol, Little Dorrit, The Old Curiosity Shop, dan masih banyak lagi…

What is an interesting and random fact about their life?

Tidak banyak yang tahu, bahwa Dickens punya pengaruh terhadap sastra Amerika melalui suatu hal yang unik. Hewan peliharaan kesayangan Dickens, seekor burung raven bernama Grip, yang setelah kematiannya di tahun 1841 diawetkan (Grip masih disimpan di Free Library of Philadelphia sampai saat ini) ternyata adalah sumber inspirasi Edgar Allan Poe, penyair dan kritikus sastra Amerika, dalam menulis puisi “The Raven” yang fenomenal. Baca artikel lengkapnya di sini.

Untuk merayakan 2 abad Charles Dickens, review salah satu karyanya yang paling terkenal, A Tale of Two Cities (diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai “Kisah Dua Kota”) akan dipublish di blog ini tepat pada tanggal 7 Februari 2012 nanti.

Happy 200th Birthday, Charles Dickens! :)

The Raven: Ketika Horor a la Poe Naik ke Layar Lebar

Masih ada yang tertinggal dari HUT ke-203 sang master of macabre, Edgar Allan Poe!

The Raven (2012) Movie Poster

Akan dirilis resmi di Amerika Serikat tanggal 9 Maret 2012, sebuah film bergenre thriller (atau tepatnya horor?) dengan judul The Raven, besutan sutradara John McTeigue.
Film ini merupakan versi fiktif dari hari-hari terakhir Edgar Allan Poe (di film diperankan oleh John Cusack). Ceritanya, Poe bersama seorang detektif bernama Emmet Fields (Luke Evans, Aramis dari The Three Musketeers versi 2011) memburu seorang pembunuh berantai yang konon, terinspirasi oleh cerita-cerita kondang karya Poe dalam melakukan setiap pembunuhan!

WOWWW!  Smiley

John Cusack cocok nggak memerankan Poe? Kalo menurut saya sih cocok :)

Dan dibawah ini trailer filmnya. Saya udah nonton, dan trailer ini sukses bikin saya merinding… Bener-bener horor ala Poe!

Silakan tonton… kalau berani… Smiley

Semoga filmnya juga bisa kita nikmati di bioskop Indonesia!

~ Udah nggak sabar ~
~ Ternyata horor ala Poe belum berakhir! ~

[Reading Challenge 2012] Historical Fiction Challenge

Hah, reading challenge lagi???

Eit, jangan protes dulu. Saya ikut berbagai macam reading challenge cuma untuk memenuhi 1 tujuan mulia kok. Yaitu menghabiskan timbunan! Hihihi.

Reading challenge kali ini asalnya dari blog luar negeri, judulnya Historical Fiction Reading Challenge 2012.

Syaratnya adalah sebagai berikut:

During these following 12 months you can choose one of the different reading levels:
1. Severe Bookaholism: 20 books
2. Undoubtedly Obsessed: 15 books
3. Struggling the Addiction: 10 books
4. Daring & Curious: 5 books
5. Out of My Comfort Zone: 2 books

Setelah melalui pergumulan batin yang cukup panjang (tsahhh), saya memutuskan untuk ikut level Struggling the Addiction: 10 books.

Berikut ini daftar judul bukunya:

  1. City of Thieves by David Benioff READ
  2. Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) by Charles Dickens  READ
  3. The Bridge of San Luis Rey by Thornton Wilder READ
  4. Uncle Tom’s Cabin by Harriet Beecher Stowe
  5. The Book Thief by Markus Zusak
  6. The Help by Kathryn Stockett
  7. Pope Joan by Donna Woolfolk Cross READ
  8. Girl with A Pearl Earring by Tracy Chevalier
  9. The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society by Mary Ann Shaffer & Annie Barrows 
  10. Between Shades of Gray by Ruta Sepetys

Judul-judul dengan font italic dan berwarna ungu adalah buku-buku yang akan saya baca dalam bahasa Inggris. Di tahun 2012 ini saya bertekad untuk membaca setidaknya 1 (satu) buku berbahasa Inggris setiap bulannya.

Yes, I can make it! :)

203th Anniversary of the Master of Macabre, Edgar Allan Poe

Edgar Allan Poe (1809-1849)

Dalam rangka merayakan ulang tahun ke-203 maestro sastra gotik asal Amerika Serikat, Edgar Allan Poe (19 Januari 1809 – 7 Oktober 7 1849), kemarin empat orang Blogger Buku Indonesia mempost secara serentak resensi buku kumpulan cerpen milik beliau yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bertajuk “Kisah-kisah Tengah Malam”.

Here they are:

  1. Fanda (http://klasikfanda.blogspot.com/2012/01/kisah-kisah-tengah-malam.html)
  2. Alvina (http://orybooks.blogspot.com/2012/01/kisah-kisah-tengah-malam.html)
  3. Sulis “peri hutan” (http://kutubokek.posterous.com/kisah-kisah-tengah-malam)
  4. Sinta (http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com/2012/01/kisah-kisah-tengah-malam.html)

Saya sendiri sudah pernah meresensi buku ini, bisa dilihat di sini.

Pertama kali mengenal Edgar Allan Poe tahun 2001, saat saya masih SMA. Saat itu saya sempat membeli buku puisi beliau dan walaupun tidak sepenuhnya bisa saya mengerti, saya menikmati banget puisi-puisi di dalamnya :)

Buku puisi "The Raven", Phoenix Paperback 1996

Nah, masih dalam rangka HUT ke-203 Edgar Allan Poe, saya ingin membagikan salah satu puisinya yang berjudul “The Raven”. Puisi yang pertama kali dipublikasikan di koran New York Evening Mirror pada Januari 1845 menarasikan kunjungan seekor burung raven pada tengah malam kepada seorang pria yang sedang menangisi kepergian kekasihnya. Puisi ini kemudian dicetak ulang di koran-koran di seantero Amerika dan Eropa.

Ilustrasi "The Raven" oleh John Tenniel (1858) Sumber: Wikipedia

***

The Raven

Once upon a midnight dreary, while I pondered, weak and weary,
Over many a quaint and curious volume of forgotten lore —
While I nodded, nearly napping, suddenly there came a tapping,
As of some one gently rapping, rapping at my chamber door.
“‘Tis some visiter,” I muttered, “tapping at my chamber door —

Only this and nothing more.”

Ah, distinctly I remember it was in the bleak December;
And each separate dying ember wrought its ghost upon the floor.
Eagerly I wished the morrow; — vainly I had sought to borrow
From my books surcease of sorrow — sorrow for the lost Lenore —
For the rare and radiant maiden whom the angels name Lenore —

Nameless here for evermore.

And the silken, sad, uncertain rustling of each purple curtain
Thrilled me — filled me with fantastic terrors never felt before;
So that now, to still the beating of my heart, I stood repeating
“‘Tis some visiter entreating entrance at my chamber door —
Some late visiter entreating entrance at my chamber door; —

This it is and nothing more.”

Presently my soul grew stronger; hesitating then no longer,
“Sir,” said I, “or Madam, truly your forgiveness I implore;
But the fact is I was napping, and so gently you came rapping,
And so faintly you came tapping, tapping at my chamber door,
That I scarce was sure I heard you” — here I opened wide the door; ——

Darkness there and nothing more.

Deep into that darkness peering, long I stood there wondering, fearing,
Doubting, dreaming dreams no mortal ever dared to dream before;
But the silence was unbroken, and the stillness gave no token,
And the only word there spoken was the whispered word, “Lenore?”
This I whispered, and an echo murmured back the word, “Lenore!” —

Merely this and nothing more.

Back into the chamber turning, all my soul within me burning,
Soon again I heard a tapping somewhat louder than before.
“Surely,” said I, “surely that is something at my window lattice;
Let me see, then, what thereat is, and this mystery explore —
Let my heart be still a moment and this mystery explore;—

‘Tis the wind and nothing more!”

Open here I flung the shutter, when, with many a flirt and flutter,
In there stepped a stately Raven of the saintly days of yore;
Not the least obeisance made he; not a minute stopped or stayed he;
But, with mien of lord or lady, perched above my chamber door —
Perched upon a bust of Pallas just above my chamber door —

Perched, and sat, and nothing more.

Then this ebony bird beguiling my sad fancy into smiling,
By the grave and stern decorum of the countenance it wore,
“Though thy crest be shorn and shaven, thou,” I said, “art sure no craven,
Ghastly grim and ancient Raven wandering from the Nightly shore —
Tell me what thy lordly name is on the Night’s Plutonian shore!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

Much I marvelled this ungainly fowl to hear discourse so plainly,
Though its answer little meaning — little relevancy bore;
For we cannot help agreeing that no living human being
Ever yet was blessed with seeing bird above his chamber door —
Bird or beast upon the sculptured bust above his chamber door,

With such name as “Nevermore.”

But the Raven, sitting lonely on the placid bust, spoke only
That one word, as if his soul in that one word he did outpour.
Nothing farther then he uttered — not a feather then he fluttered —
Till I scarcely more than muttered “Other friends have flown before —
On the morrow he will leave me, as my Hopes have flown before.”

Then the bird said “Nevermore.”

Startled at the stillness broken by reply so aptly spoken,
“Doubtless,” said I, “what it utters is its only stock and store
Caught from some unhappy master whom unmerciful Disaster
Followed fast and followed faster till his songs one burden bore —
Till the dirges of his Hope that melancholy burden bore

Of ‘Never — nevermore’.”

But the Raven still beguiling my sad fancy into smiling,
Straight I wheeled a cushioned seat in front of bird, and bust and door;
Then, upon the velvet sinking, I betook myself to linking
Fancy unto fancy, thinking what this ominous bird of yore —
What this grim, ungainly, ghastly, gaunt, and ominous bird of yore

Meant in croaking “Nevermore.”

This I sat engaged in guessing, but no syllable expressing
To the fowl whose fiery eyes now burned into my bosom’s core;
This and more I sat divining, with my head at ease reclining
On the cushion’s velvet lining that the lamp-light gloated o’er,
But whose velvet-violet lining with the lamp-light gloating o’er,

She shall press, ah, nevermore!

Then, methought, the air grew denser, perfumed from an unseen censer
Swung by seraphim whose foot-falls tinkled on the tufted floor.
“Wretch,” I cried, “thy God hath lent thee — by these angels he hath sent thee
Respite — respite and nepenthe, from thy memories of Lenore;
Quaff, oh quaff this kind nepenthe and forget this lost Lenore!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

“Prophet!” said I, “thing of evil! — prophet still, if bird or devil! —
Whether Tempter sent, or whether tempest tossed thee here ashore,
Desolate yet all undaunted, on this desert land enchanted —
On this home by Horror haunted — tell me truly, I implore —
Is there — is there balm in Gilead? — tell me — tell me, I implore!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

“Prophet!” said I, “thing of evil! — prophet still, if bird or devil!
By that Heaven that bends above us — by that God we both adore —
Tell this soul with sorrow laden if, within the distant Aidenn,
It shall clasp a sainted maiden whom the angels name Lenore —
Clasp a rare and radiant maiden whom the angels name Lenore.”

Quoth the Raven “Nevermore.”

“Be that word our sign of parting, bird or fiend!” I shrieked, upstarting —
“Get thee back into the tempest and the Night’s Plutonian shore!
Leave no black plume as a token of that lie thy soul hath spoken!
Leave my loneliness unbroken! — quit the bust above my door!
Take thy beak from out my heart, and take thy form from off my door!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

And the Raven, never flitting, still is sitting, still is sitting
On the pallid bust of Pallas just above my chamber door;
And his eyes have all the seeming of a demon’s that is dreaming,
And the lamp-light o’er him streaming throws his shadow on the floor;
And my soul from out that shadow that lies floating on the floor

Shall be lifted — nevermore!

—Edgar Allan Poe

Semoga ada yang menerbitkan terjemahan karya-karya Poe yang lain T__T. Karya-karya beliau bikin ketagihan, hehe. Ingin tahu lebih banyak tentang Edgar Allan Poe? Silakan klik di sini.

[Review] Cinta yang Hilang: Kumcer Klasik O. Henry


Cinta yang hilang. Sound so cheesy. Jujur saja, itu pemikiran pertama saya saat mengetahui tentang buku ini. Namun, setelah ‘berkenalan’ untuk pertama kalinya dengan O. Henry dalam antologi cerpen klasik Cinta Tak Pernah Mati, saya pun jadi penasaran dan akhirnya membeli kumcer ini.

Buku setebal 118 halaman ini berisi 7 cerita pendek karya O. Henry, yang bernama asli William Sydney Porter (1862-1910), sang maestro cerpen yang namanya diabadikan sebagai nama penghargaan tahunan bergengsi bagi cerpen-cerpen terbaik di Amerika Serikat; O. Henry Award.

Yang tadinya saya kira roman picisan (dari kesan pertama terhadap judul kumcer ini), ternyata adalah cerita-cerita pendek bertema cinta yang padat, penuh humor, menghibur, kadang satir dan misterius, dan selalu punya ending mengejutkan. Sama sekali bukan cerita cinta yang cengeng. Ketujuh cerpen di dalam kumcer ini ditulis O. Henry dengan menggunakan karakter dan setting yang tidak jauh-jauh dari dunia seni.

William Sydney Porter a.k.a. O. Henry

Di cerpen pembuka yang bertajuk sama dengan judul kumcer ini; Cinta yang Hilang, pembaca akan diperkenalkan dengan seorang lelaki muda yang dengan gelisah mengitari rumah-rumah di area teater di West Side. Ia sebenarnya hanya punya satu tujuan: mencari seorang gadis bernama Eloise Vashner, seorang aktris teater dan cinta sejatinya. Saat si lelaki muda akhirnya menyewa kamar di sebuah rumah, tiba-tiba ia mencium wangi tajam bunga mignonette di dalam kamar itu, bau yang menjadi ciri khas Eloise! Apakah dia sudah gila?

Cinta membuatmu rela mengorbankan hartamu yang paling berharga. Demikian juga dengan Della, yang begitu ingin memberikan hadiah yang indah di malam Natal buat suami tercinta, Jim. Padahal mereka hanyalah sepasang suami-istri yang miskin. Begitulah kisah yang disajikan cerpen kedua yang berjudul Hadiah Kejutan (judul aslinya The Gift of the Magi). Magi yang dimaksud disini adalah orang Majus yang memberi hadiah pada malam Yesus Kristus dilahirkan di dunia. Cerpen yang ini favorit saya dari keseluruhan buku, karena walaupun singkat, tapi menghangatkan hati.

Dalam cerpen ketiga berjudul Bukti Cerita, kita akan diajak mengikuti perdebatan seru dua orang kenalan lama, Westbrook yang adalah seorang redaktur majalah, dan Dawe seorang penulis fiksi. Westbrook punya teori, jika seseorang tiba-tiba dihadapkan dengan krisis emosional, ucapan yang keluar dari mulut orang itu akan kacau, namun tetap menggunakan kata-kata dalam bahasa sehari-hari. Teori Dawe sebaliknya, sebagai penulis fiksi, menurutnya seseorang akan mengucapkan kata-kata dramatis nan lebay jika dihadapkan dengan krisis emosional. Nah, yang mana dari mereka yang benar?

Semata-mata Bisnis. Dunia pertunjukan kabaret merupakan bisnis yang menguntungkan. Jadi jangan heran ketika aktor dan aktris yang terlibat dalam satu pementasan “mengikat kontrak” satu sama lain demi suksesnya pertunjukan. Itulah yang dilakukan Bob Hart dan Winona Cherry, ketika mereka terlibat dalam pementasan bertajuk “Mice Will Play” yang kemudian sukses besar. Tapi benarkah semuanya hanya semata-mata demi uang?

“Aku benar-benar takut kalau semua pertunjukan mencerminkan dunia yang sebenarnya dan semua orang adalah aktor dan aktris.”

Demikian kata narator cerpen berjudul Kenyataan adalah Sandiwara. Ia lalu menguraikan kisah cinta segitiga antara seorang perempuan bernama Helen, Frank Barry, dan John Delaney. Di hari pernikahan Helen dengan Frank, John yang gila karena cinta menghambur ke kamar Helen dan memintanya untuk kabur bersamanya. Frank yang marah besar karena melihat adegan itu kabur dan tidak kembali. Helen kemudian menjalani hidup 18 tahun tanpa suami, sampai akhirnya beberapa orang pria secara misterius muncul untuk melamar Helen. Apakah suaminya yang menghilang selama 18 tahun akhirnya kembali?

Judul cerpen selanjutnya adalah Perempuan dan Suap Menyuap. Tidak, cerpen ini tidak mendiskreditkan perempuan, malah sang penulis mengakui bahwa “Lelaki adalah masalah tersulit yang harus dihadapi perempuan.” Inti cerpen ini sebenarnya adalah seberapa jauh, atau lebih tepatnya berapa banyak uang yang bersedia dikeluarkan oleh seseorang demi terciptanya sensasi yang membuatnya terkenal. Seorang pencoleng bernama Pogue membuat kesepakatan dengan seorang wanita bernama Artemisia Blye dan Tuan Vaucross, seorang pengusaha kaya. Vaucross harus berpura-pura jatuh cinta setengah mati kepada Nona Blye kemudian mencampakkannya. Nona Blye kemudian akan mengajukan tuntutan kepada Vaucross. Semua diuntungkan, uang dan ketenaran ada di tangan. Jika saja semuanya berjalan sesuai dengan rencana.

Cerpen terakhir yang berjudul Demi Cinta dibuka dengan kalimat:

“Ketika seseorang mencintai Seni, tidak ada yang terasa membebani.”

Hidup yang dijalani Joe dan Delia Larrabee berat, namun mereka tidak mau menganggapnya sebagai beban. Joe adalah seorang pelukis dan Delia adalah penyanyi lulusan sekolah musik. Suatu hari, Delia mengatakan pada Joe bahwa ia akan memberi les musik kepada anak perempuan seorang jenderal. Beberapa hari kemudian, Joe dengan gembira mengumumkan bahwa sketsa-sketsanya dibeli seorang lelaki dari Peoria. Mereka hidup dengan cinta dan seni di setiap helaan nafas, namun pada akhirnya mereka sadar bahwa cinta jauh lebih besar daripada seni.

Empat bintang saya berikan untuk kumcer ini, karena gaya penulisan O. Henry yang khas mampu membuat saya merasa seakan terlempar ke dunia seni dan hiburan di New York pada akhir abad 19. Cerpen-cerpen O. Henry merupakan selebrasi kehidupan, sifat-sifat alami manusia, kejutan, dan tentu saja seni dan cinta. Dua hal yang mengganjal di hati saya, yang pertama adalah cover yang tidak mewakili isi buku yang bertema seni. Dengan cover seperti itu dan judul “Cinta yang Hilang”, jangan heran kalau orang mengira buku ini sebuah novel roman biasa. Kedua, salah ketik pada profil O. Henry di bagian belakang buku. Tertulis di buku ini bahwa O. Henry lahir pada tahun 1896 dan wafat 1910, sementara tahun kelahiran O. Henry yang benar adalah tahun 1862. Kesalahan ketik yang sama saya temui pada profil O. Henry di kumcer Cinta Tak Pernah Mati. Semoga penerbit bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan seperti ini, karena sungguh sayang jika sebuah buku yang bagus jadi “cacat” hanya gara-gara masalah sepele.

“Cinta yang Hilang” oleh O. Henry
118 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Penerbit Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers