Monthly Archives: February 2012

Pendatang Baru di Rak Bukuku – Februari 2012

Kalap nih bulan ini!!! :(
Ini dia para pendatang baru di rak bukuku bulan Februari 2012.
Jeng jeng jeng……

DIBELI

Terre Des Hommes by Antoine de-Saint Exupery

Things Fall Apart by Chinua Achebe

Escape Over the Himalayas by Maria Blumencron

In Cold Blood by Truman Capote

An Old Fashioned Girl by Louisa May Alcott

Robert Frost's Poems by Robert Frost

A Moveable Feast by Ernest Hemingway

Juliet by Anne Fortier

The Bridge of San Luis Rey by Thornton Wilder

Jonathan Strange & Mr. Norrell by Susanna Clarke

Ben-Hur by Lew Wallace

High Fidelity by Nick Hornby

Christmas Books by Charles Dickens

Tsotsi by Athol Fugard

Kelas Memasak Lilian by Erica Bauermeister

One for the Money by Janet Evanovich

The Professor & The Madman by Simon Winchester

Wishful Wednesday [1]

Ikutan blog hop dari blognya mba Astrid. Berikut ini ketentuannya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Hmmm, bingung juga buku yang mana yang mau dimasukkan dalam Wishful Wednesday, lha wishlist saya buanyaaak :D (lengkapnya intip di sini)

Baiklah, yang jadi bintang utama dalam posting Wishful Wednesday saya yang pertama ini adalah: The Shadow of the Wind, oleh Carlos Ruiz Zafon.

Sinopsis dari Goodreads:

Barcelona, 1945: A city slowly heals from its war wounds, and Daniel, an antiquarian book dealer’s son who mourns the loss of his mother, finds solace in a mysterious book entitled The Shadow of the Wind, by one Julian Carax. But when he sets out to find the author’s other works, he makes a shocking discovery; someone has been systematically destroying every copy of every book Carax has written. In fact, Daniel may have the last of Carax’s books in existence. Soon Daniel’s seemingly innocent quest opens a door into one of Barcelona’s darkest secrets – an epic story of murder, madness, and doomed love.

Kenapa saya pengen buku ini? Karena ini adalah buku tentang buku. Average ratingnya di Goodreads 4.17 dari 5 bintang (per 29 Februari 2012). Dan buku ini sudah diterjemahkan oleh mbak Uci (Barokah Ruziati), tapi entah kenapa sampai sekarang belum terbit juga. Berikut secuil quote yang saya comot dari GR review-nya mbak Uci:

“…hanya sedikit hal yang meninggalkan kesan mendalam pada seorang pembaca dibandingkan buku pertama yang menemukan jalan ke hatinya.”

Hadehhh bikin ngiler nggak sihhh? Ayo Penerbit X cepet terbitin dong… mungkin ada seseorang yang mau ngadoin saya buku ini lho… XD

Mau ikutan blog hop Wishful Wednesday juga? Sila berkunjung ke link ini ya.

[Miniseries Review] Little Dorrit by Charles Dickens


ORANG KAYA BARU DI INGGRIS ERA VICTORIA.

Adalah Amy Dorrit (Claire Foy), gadis muda yang miskin namun tekun, yang setia mendampingi sang ayah, William Dorrit (Tom Courtenay), yang telah sangat lama dipenjarakan di Marshalsea debtors’ prison karena masalah hutang. Amy terus bekerja tanpa lelah sebagai penjahit untuk menghidupi dirinya dan sang ayah, kepada seorang wanita tua bernama Mrs. Clennam. Sementara itu, putra satu-satunya Mrs. Clennam yang bernama Arthur (Matthew Macfadyen) mendadak pulang setelah menghabiskan 20 tahun di Cina untuk mengurus bisnis keluarga. Sebab utama kepulangannya adalah mandat terakhir almarhum ayahnya yang berkata sebelum ajal menjemput, “Your mother, Arthur. Put it right.” Kata-kata itu keluar dari mulut ayahnya sambil mengulurkan potongan kain bundar bertulisan “Do not forget.” Arthur bertekad mengusut misteri keluarganya ini sampai tuntas, namun niatnya terhalang oleh sang ibu yang berwatak dingin dan keras. Ketika ia melihat bahwa ibunya mempekerjakan Amy, Arthur pun curiga bahwa mungkin di masa lalu keluarganya menyebabkan suatu kemalangan bagi keluarga Amy, dan ia dengan sukarela membantu meringankan beban keluarga Dorrit. Dari sini hubungan Arthur dan Amy lama-lama berkembang menjadi persahabatan.

Berkat Arthur pulalah, terkuak sebuah fakta mengenai William Dorrit yang membuatnya beserta ketiga anaknya tidak perlu mendekam di Marshalsea lagi. Keluarga Dorrit jadi kaya raya! Sangat menarik melihat perkembangan karakter William Dorrit yang sudah sekian lama hidup miskin, kemudian tiba-tiba *plop!* ia jadi bergelimang harta. Sementara itu, ada karakter antagonis berkebangsaan Prancis bernama Rigaud (Andy Serkis), seorang pembunuh berdarah dingin yang oportunis, secara tidak sengaja ia mengetahui rahasia keluarga Clennam dan kemudian menggunakannya untuk memeras Mrs. Clennam.

***

Sebagai warning awal, saya harus katakan bahwa miniseri Little Dorrit versi BBC ini:

  1. Panjang
  2. Plotnya agak jelimet dan susah dipahami
  3. Karakternya banyak (ada sekurang-kurangnya 29 karakter utama yang mendapat bagian dalam miniseri ini)
  4. Endingnya akan membuat anda mengerutkan kening.

Walau demikian, jika anda:

  1. Punya banyak waktu luang
  2. Penggemar period drama
  3. Penggemar Charles Dickens
  4. Tidak keberatan menelusuri plot dan mencari tahu mengapa ini-begini dan itu-begitu;

maka saya harus menyarankan anda untuk menonton miniseri ini. Karena semuanya bisa anda dapatkan: kelucuan, ketegangan, konflik pribadi, konflik sosial, birokrasi, pesta, orang kaya, orang miskin, orang baik, orang jahat, cinta, kebencian, kebahagiaan, kesedihan, tawa, depresi, kemelaratan, kekayaan. Aktor-aktornya tidak ada yang mengecewakan. Semua bermain bagus dalam mewujudkan deretan karakter yang berwarna-warni. Andy Serkis bermain luar biasa apik di sini, sampai mendapatkan nominasi Best Supporting Actor di Emmy Awards 2009, sayang nggak menang. :(

Satu lagi, dari sejumlah karya Charles Dickens, mungkin Little Dorrit ini termasuk judul yang jarang didengar. Saya sendiri rasanya tidak akan membaca bukunya, karena jumlah halamannya benar-benar serem (menurut data di Goodreads, edisi-edisi buku ini rata-rata punya sekitar 800-1000 halaman, bahkan ada yang sampai 1400 halaman >.<). Namun dengan menonton miniserinya, saya tetap bisa menikmati karya Charles Dickens yang disebut-sebut sebagai “one of the supreme works of Dickens’s maturity”  ini.

Average rating on IMDB : 8.4 out of 10
My rating: 8.5 out of 10

Awards: Nominated as Best Mini-Series or Motion Picture Made for Television at Golden Globes 2010
Nominated on 11 categories at 2009 Emmy Awards, won 7.

Links:
Little Dorrit (TV Miniseries) on IMDB
Little Dorrit DVD review by The Jane Austen Film Club –> with explanation of the 29 characters, very helpful post.
Little Dorrit (book) on Goodreads
Little Dorrit (book) on Wikipedia

Details:
“Little Dorrit” Miniseries by BBC Video, released 2008
Adapted by Andrew Davies from the novel by Charles Dickens
Starring Claire Foy, Matthew Macfadyen, Tom Courtenay, Judy Parfitt, Eddie Marsan, Andy Serkis
Format: DVD (2 Discs), 14 episodes, total runtime 416 mins approx.
Language: English, Subtitles: Indonesian & English
Distributed in Indonesia by Horizon (PT. Intermedia Prima Vision)
Price: IDR 139.000

[Classics Challenge 2012] February – Character Claude Frollo (Level 1&2)


Posting asli: di sini.

Character - CLAUDE FROLLO (The Hunchback of Notre Dame)
Level 1

What phrases has the author used to introduce this character?

Seraut wajah lelaki yang sederhana, tenang, dan murung. Tampaknya, usianya tak lebih dari tiga puluh lima, tapi kepalanya sudah sepenuhnya botak, hanya tumbuh beberapa helai rambut tipis kelabu di keningnya. Dahinya yang lebar dan besar mulai berkerut, tapi kemudaan serta gairah memancar dari sepasang matanya yang dalam. -hal. 47

Seorang pendeta muda telah mendengar pembicaraan ini beberapa saat lamanya. Wajahnya keras dan dahinya lebar, matanya menghunjam tajam. -hal. 105

Dia belajar bahasa Latin, Yunani, serta Ibrani, suatu kombinasi tiga kemampuan yang sangat jarang pada masa itu. Dia punya gairah yang tinggi untuk memperoleh dan menyimpan pengetahuan. Tampaknya anak muda ini hidup hanya punya satu tujuan: untuk tahu. -hal. 107

What are your first impressions of them?
Sepertinya orangnya kaku dan tidak bisa diajak bercanda… :-S

Find a portrait or photograph that closely embodies how you imagine them.

Alexander Marakulin as Frollo

Agak susah mencari foto aktor yang mendekati penggambaran asli Victor Hugo terhadap karakter Frollo. Dalam kebanyakan versi film, Frollo digambarkan sudah tua, padahal ia aslinya belum empat puluh tahun. Aktor di dalam foto adalah Alexander Marakulin, yang memerankan Frollo dalam salah satu pementasan teater Notre-Dame de Paris versi Rusia.

Level 2

How has the character changed?
Yang mengubah Frollo adalah kehadiran La Esmeralda si gadis gipsi cantik. Ia yang dulunya teguh berkutat dalam agama dan ilmu pengetahuan, mulai merasakan hasrat seksual yang besar sejak ia pertama kali melihat La Esmeralda.

Has your opinion of them altered?
Ya. Saya merasa ngeri dengan perkembangan karakter Frollo mendekati akhir cerita. Namun di saat yang sama saya juga merasa kasihan padanya, karena dia punya segala hasrat yang sangat manusiawi itu tapi tidak bisa menyalurkannya karena ia adalah seorang pendeta Katolik. Mestinya jika seseorang sudah bersumpah untuk hidup selibat bagi Tuhan hal yang seperti ini tidak terjadi ya, tapi akhirnya Frollo menyerah terhadap hasratnya dan malah mencelakakan Esmeralda.

Are there aspects of their character you aspire to? or hope never to be?
Frollo adalah seorang yang sangat jenius dan menguasai banyak cabang ilmu pengetahuan. Dalam hal ini saya ingin seperti dia (pandai) tapi saya nggak mau menjadi terlalu serius dan kaku seperti dia, apalagi jadi gila karena cinta (atau nafsu, tergantung bagaimana pembaca memandangnya).

What are their strengths and faults?
Seperti yang sudah saya sebutkan, dia luar biasa pandai. Sementara kelemahannya, ia begitu pendendam. Ia hampir tak punya hubungan sosial yang nyata (kecuali dengan Quasimodo dan adiknya yang kurang ajar, Jehan). Seisi gereja dan mungkin seisi kota Paris takut padanya. Dan ia juga gagal memelihara komitmennya kepada Tuhan.

Do you find them believable? If not, how could they have been molded so?
Ya, mungkin saja ada seorang Frollo sungguhan di dunia nyata.

Would you want to meet them?
Hmmm, tidak, terima kasih. :D

[Review] Si Cantik dari Notre Dame

“Atau, bisa dikatakan, semua saling menghancurkan melalui perjalanan nasib yang tak dapat dijelaskan…”

Paris, Januari 1482. Perayaan hari Epifani yang diadakan bersamaan dengan Festival Kaum Dungu di alun-alun Paris berlangsung dengan meriah. Hampir semua penduduk Paris larut dalam euforia yang aneh, kecuali mungkin sang penyair dan filsuf Pierre Gringoire, yang pementasan dramanya terganggu dengan kedatangan Kardinal dan rombongannya. Kemudian ada seorang gadis gipsi cantik yang menari dengan lincah di jalan, seekor kambing berbaring di permadani di sudut di dekatnya. Gadis luar biasa ini bernama La Esmeralda. Rombongan orang yang menontonnya ternganga oleh kecantikan dan kelincahan kakinya yang anggun, termasuk sang wakil uskup dari Katedral Notre Dame, Dom Claude Frollo. Ia begitu asyik mengamati si gadis menari, sesuatu yang tak patut dilakukan oleh seseorang yang telah bersumpah untuk hidup selibat.

Di saat yang sama, ada Quasimodo, si bungkuk buruk rupa yang adalah pemukul lonceng gereja Notre Dame. Quasimodo dipungut oleh Claude Frollo ketika berusia empat tahun ketika ia ditinggalkan di depan gereja, begitu buruk rupa sehingga menjadi sasaran hujatan orang. Sang pendeta membesarkannya dengan susah payah dan Quasimodo tumbuh dengan hanya dua bentuk kasih sayang yang dikenalnya, yang pertama kepada tuannya Frollo, dan yang kedua untuk Katedral Notre Dame.

Kembali ke La Esmeralda, suatu malam ketika ia hendak pulang ke Mahkamah Keajaiban, ia merasa bahwa dirinya sedang dikuntit. Seorang pria misterius berpakaian hitam-hitam dan pembantunya yang berperawakan besar menghadang gadis itu. Saat itulah Kapten Phoebus de Chateaupers yang gagah dan tampan lewat dan menyelamatkan si gadis cantik. La Esmeralda jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya, namun lenyap segera sesudah sang kapten menyelamatkannya. Pada suatu malam di waktu yang lain, gadis yang dimabuk cinta itu bertemu dengan sang kapten, yang memandang si gadis dengan nafsu badaniah yang menggelegak. Pertemuan mereka berakhir dengan sebuah golok menancap di tubuh Phoebus. Pagi harinya La Esmeralda diseret ke penjara oleh sekawanan prajurit penjaga. Tiang gantungan telah menanti si gadis.

Quasimodo menyelamatkan si gadis cantik dari tiang gantungan dan membawanya ke Notre Dame sehingga ia terlindung oleh suaka yang diberikan gereja. Namun keselamatan La Esmeralda masih terancam. Di dalam dinding Notre Dame masih ada Claude Frollo yang dibakar kecemburuan yang amat sangat melihat kedekatan anak asuhnya yang buruk rupa dengan La Esmeralda. Sementara cinta si gadis justru tertuju pada kapten Phoebus yang sesungguhnya tidak mati, namun berangsur-angsur sembuh dari lukanya dan kembali kepada tunangannya, gadis bangsawan bernama Fleur-de-Lys. Sementara Parlemen telah memerintahkan supaya La Esmeralda kembali diseret ke tiang gantungan, teman-teman si gadis di Mahkamah Keajaiban, orang-orang gipsi, telah menyusun rencana untuk menculik si gadis dari tempat perlindungannya. Mereka datang menyerbu Notre Dame.

***

Karya yang indah sekaligus tragis dan mengerikan dengan segala kemegahannya. Inilah karya yang paling terkenal dari sastrawan besar Prancis, Victor Hugo (1802-1885). Karya yang berjudul asli Notre Dame de Paris (1831) ini dikenal seantero dunia dengan judul The Hunchback of Notre Dame, sementara terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi terbit dengan judul Si Cantik dari Notre Dame. Mengapa “The Hunchback” lantas diterjemahkan menjadi “si cantik”? Setelah selesai membaca buku ini saya baru paham, pusat cerita dalam kisah ini sebenarnya bukanlah Quasimodo si bungkuk, melainkan si gadis cantik, La Esmeralda, yang dicintai sekaligus dikutuk. Pernah menonton film versi Disney dari novel ini? Bersiaplah karena saat membaca buku ini anda akan sadar bahwa ceritanya jauh berbeda dengan versi Disney.

Novel ini membuktikan bahwa karya klasik tak melulu muram dan serius, karena Victor Hugo juga menyelipkan humor di dalam novel ini. Beberapa adegan yang lucu antara lain ketika Quasimodo yang tuli akibat bunyi lonceng gereja disidang oleh seorang hakim yang juga tuli, kemudian karakter Gringoire yang tidak bisa berhenti bicara, dan adegan ketika Jehan Frollo, adik Claude Frollo, datang menemui kakaknya untuk minta uang. Sang kakak menanyai adiknya mengenai studinya, dan sang adik menjawabnya dengan apa yang kita sebut hari ini sebagai “ngeles”. Berikut sebagian percakapan mereka.

“Bagaimana studimu mengenai perintah Gratian?”
“Aku kehilangan buku catatanku.”
“Dan bagaimana dengan humaniora Latin?”
“Seseorang mencuri kopi naskah Horatius.”
“Dan bagaimana dengan pelajaranmu mengenai Aristoteles?”
“Lho, apakah kakak tak tahu bahwa salah seorang frater di gereja berkata bahwa pendukung bidah selalu mencari perlindungan di bahwah kekusutan metafisika Aristoteles? Aku tak perlu mengetahui apa pun mengenai Aristoteles. Aku tak ingin metafisikanya menghancurkan agamaku.”

Terdengar sangat familier? Ternyata “ngeles” tidak hanya terjadi di zaman modern, lho!

Penerjemah juga menambahkan kelucuan dalam bagian ketika Phoebus memanggil La Esmeralda dengan “Semar” lantaran ia kesulitan menyebut nama si gadis.

Penulisan Hugo yang sangat indah, cerita yang dijalin antara ketiga tokoh utama dan banyak tokoh pendukung yang mempunyai peran masing-masing, terjemahan yang digarap dengan baik oleh Sunaryono Basuki K.S., membuat saya tidak ragu memberikan lima bintang untuk novel ini, sebagaimana saya juga memberi lima bintang untuk novel karya Hugo yang lain, Les Misérables.

Review buku ini dipost dalam rangka merayakan HUT ke-210 Victor Hugo (26 Februari 1802 – 26 Februari 2012)

Happy birthday, Victor Hugo!

Detail buku:
“Si Cantik dari Notre Dame” (judul asli: “Notre Dame de Paris”), oleh Victor Hugo
572 halaman, diterbitkan Juli 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Classic Author of February 2012: Victor Hugo

Melanjutkan Classics Challenge bulan Januari 2012 yang mengulas sekilas mengenai penulis klasik Charles Dickens, maka menggunakan pertanyaan-pertanyaan dasar dari Classics Challenge Januari level 1, bulan ini saya mau memperkenalkan sosok penulis klasik yang terkenal lewat dua mahakaryanya yaitu The Hunchback of Notre Dame dan Les Misérables.

Who is the author?
Victor-Marie Hugo

What do they look like?

When were they born?
26 Februari 1802

Where did they live?
Victor Hugo menyewa sebuah apartemen di lantai dua Hôtel de Rohan-Guéménée di Place des Vosges, Paris selama 16 tahun (1832-1848). Tempat ini menjadi museum bernama Maison de Victor Hugo.

Maison de Victor Hugo

Hauteville House

Dan selama 15 tahun pembuangannya di Pulau Guernsey (1856-1870), beliau tinggal di Hauteville House, di 38 Rue Hauteville, St. Peter Port.

What does their handwriting look like?

What are some of the other novels they’ve written?
Selain The Hunchback of Notre Dame dan Les Misérables, Hugo juga menulis Bug-Jargal, The History of a Crime, The Last Day of a Condemned Man, The Man Who Laughs, Ninety-Three, dan Toilers of the Sea.

What is an interesting and random fact about their life?
Victor Hugo ternyata juga jago melukis. Semasa hidupnya ia menghasilkan lebih dari 4000 lukisan yang tidak pernah dipublikasikan karena beliau takut hal itu akan membayangi karya-karya sastranya. Lukisan-lukisan karya Hugo diapreasiasi oleh beberapa seniman besar seperti Van Gogh dan Delacroix, yang terakhir malah berpendapat bahwa jika Hugo memutuskan untuk menjadi seorang pelukis dan bukan seorang penulis, ia bisa mengalahkan seniman-seniman lain di masanya.

Ville avec le pont de Tumbledown, 1847

Lebih lanjut tentang lukisan-lukisan karya Victor Hugo, klik link ini.

Untuk merayakan 210 tahun Victor Hugo (1802-2012), tanggal 26 Februari nanti blog ini akan mempost review The Hunchback of Notre Dame, bersama dengan blog Fanda Classiclit yang akan mempost review Les Misérables. Tungguin yah!

#Twitteriak Eps. 9 bersama @htanzil (Hernadi Tanzil)

Reblogged from Twitteriak:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Harus diakui banyak orang suka membaca, tetapi dari sekian banyak, berapa banyak yang mampu berkomitmen untuk menulis semua buku yang pernah dibacanya, tanpa kecuali? Rasa-rasanya tidak banyak. Padahal peresensi buku dalam dunia perbukuan cukup memiliki posisi penting. Ia merupakan pembaca pertama dari buku-buku yang telah terbit. Posisi first reader ini di luar negeri, memiliki kekuatan penentu, semacam radar yang digunakan oleh masyarakat buku untuk menebak apakah suatu buku akan berhasil atau tidak diterima oleh masyarakat.

Read more… 2,079 more words

Obrolan seputar buku dan meresensi buku dengan sang Rahib @htanzil !

[Review] Mockingjay

*** SPOILER ALERT ***

DYSTOPIA.
Produk dari kekuatan imajinasi manusia yang setelah mencapai utopia, masih belum puas juga dan akhirnya mengoyak batasan-batasan akal sehat dan meraih impian yang liar dan gila dengan memutarbalikkan utopia.
Mengapa harus ada dystopia? Apakah karena manusia semakin lama semakin jahat? Atau karena kemanusiaan kita makin lama makin digerogoti teknologi? Apakah karena Bumi sudah semakin tua, lelah, rusak parah akibat perbuatan manusia?

Inilah dunia dystopia yang diciptakan Suzanne Collins melalui trilogi The Hunger Games. Collins mengubah wajah negara yang tadinya adalah Amerika menjadi Panem, negara dengan tiga belas distrik dibawah pemerintahan ibukota Capitol. Jika di dua buku pertama trilogi ini, The Hunger Games dan Catching Fire, pembaca banyak disuguhi aksi mendebarkan dalam permainan maut Hunger Games dan Quarter Quell, maka Mockingjay sebagai sekuel penutup tidak kalah banyak menyimpan aksi. Namun sayangnya aksi yang dimiliki Mockingjay cenderung dingin dan tak berperasaan. Cerita masih berpusat pada Katniss Everdeen, pemenang dari Distrik Dua Belas, yang kali ini dielu-elukan sebagai simbol pemberontakan, sang Mockingjay. Setelah diloloskan dari Quarter Quell oleh kelompok pemberontak dari Distrik Tiga Belas yang sebelum ini diyakininya sudah musnah, setelah memulihkan keadaan fisiknya Katniss menjalani sesi-sesi latihan dalam kota bawah tanah di Distrik Tiga Belas untuk menjadikannya seorang pejuang. Pemberontak. Prajurit Everdeen.

Distrik Tiga Belas sungguh aneh. Semua orang berpakaian sama, berwarna abu-abu membosankan. Ada jadwal yang ditato di tanganmu yang memberitahumu apa saja yang akan (dan harus) kau lakukan hari ini. Makanan dijatah dan diberikan tanpa variasi, jangan harap bisa makan enak disini. Sama sekali tidak ada hiburan. Semua orang terkungkung di bawah tanah, yang mana beberapa orang tidak bisa menyukainya, termasuk Katniss yang suka berburu di hutan. Dan Tiga Belas memiliki Presiden Coin, pemimpin wanita yang penuh perhitungan, namun sebenarnya tidak kalah kejam dari Presiden Snow.

Siapakah Katniss dalam Mockingjay? Rasanya kok nggak jelas. Meskipun dialah simbol pemberontakan, dan apapun yang ia lakukan berdampak kepada Capitol dan seluruh Panem. Katniss sudah amat lelah secara fisik dan mental setelah melalui Hunger Games dan Quarter Quell, ditambah dengan kehilangan orang-orang yang dicintainya, dan dalam Mockingjay bebannya menjadi semakin berat karena setiap perbuatannya memiliki konsekuensi bahwa ada yang akan dihukum, entah orang itu dekat dengannya atau tidak. Si gadis yang terbakar jadi melempem dalam buku final ini.

Peeta berubah 180 derajat. Ia ditahan dan disiksa sedemikian rupa oleh Capitol, dan kemudian para pemberontak berhasil menculiknya dan membawanya ke Tiga Belas, hanya untuk menghadapi anak lelaki yang telah kacau pikirannya. Peeta telah dibajak. Dicuci otak. Segala kenangan masa lalunya, terutama yang berhubungan dengan Katniss, diobrak-abrik dengan racun tawon penjejak. Peeta yang baru ini melihat Katniss sebagai mutt (makhluk buas ciptaan Capitol), dan bernafsu membunuhnya.

Katniss depresi. Stres. Menderita gangguan mental. Namun sementara itu ia terus berperang bersama para pemberontak, merebut distrik-distrik. Seakan luka-luka yang dideritanya belum cukup banyak saja. Katniss menjadi boneka Coin, sang Mockingjay yang menyulutkan api pemberontakan ke seluruh distrik. Namun ia belum mengetahui, bahwa Coin punya rencana lain terkait dengan dirinya. Katniss punya satu tujuan yang menguasai benaknya, yaitu membunuh Presiden Snow dengan tangannya sendiri. Gale selalu ada disampingnya selama perjuangan, namun juga ada Peeta dengan pikirannya yang kacau. Di saat-saat paling tak memungkinkan inilah, Katniss akhirnya bisa menentukan perasaannya ditujukan kepada siapa. Tapi percuma saja ia memilih, karena ia tahu dirinya, Peeta, Gale, beserta semua orang lain yang terlibat perjuangan, tidak ditakdirkan untuk tetap hidup.

Kejam, dingin, brutal, sadis, melelahkan. Itulah Mockingjay. Penutup trilogi Hunger Games yang fenomenal ini jujur saja tidak memenuhi ekspektasi saya. Akhir dari perang di Capitol malah jadi antiklimaks. Penulis tidak menjabarkan banyak tentang perkembangan hubungan Katniss-Peeta, walaupun sudah membukanya dengan menarik dengan membuat ingatan Peeta kacau. Endingnya menguap begitu saja, walaupun epilognya cukup manis. Sang Mockingjay melakukan penerbangan terakhirnya dengan kelelahan luar biasa, dengan kondisi fisik dan mental yang sudah luluh lantak. Kemudian ia kandas begitu saja di tanah. Pada akhirnya, saya memberi 3 bintang buat Mockingjay, karena penulisan Collins masih mengagumkan dengan segala detailnya.

Dialog penutup Katniss-Peeta tidak akan mudah dilupakan.

“You love me. Real or not real?”
I tell him, “Real.”

Hanya tinggal satu pertanyaan tersisa buat kita renungkan.
Akankah suatu saat nanti, di saat dunia sudah sedemikian rusaknya dan tak bisa dikendalikan lagi, dystopia versi Collins menjadi nyata?

Detail buku:
“Mockingjay” (The Hunger Games, #3), oleh Suzanne Collins
432 halaman, diterbitkan 12 Januari 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

[Reading Challenge 2012] Back to the Classics

Lagi-lagi challenge… :D tapi yang ini berhadiah lho. (Siapa sih yang nggak mau hadiah?)
Sebagai penikmat novel-novel klasik, saya merasa kudu ikut challenge yang satu ini.

Back To The Classics Challenge 2012

Begini syarat-syarat mengikutinya (diambil dari posting asli di blog ini)

  1. Challenge runs from January 1, 2012 through December 31, 2012. Books started before January 1st do not count, and all links/reviews/comments for each category must be posted in the correct place by December 31st. Feel free to join in at any time, but the end date is December 31.
  2. Please feel free to use books in this Challenge toward any other Challenge you may be participating in. However, you must read a different book for each category of this challenge. Audio and e-books are allowed.
  3. Please sign up for the Challenge using the linky list (or comment section if you do not have a blog/website). If you would be so kind, please spread the word about this challenge by creating a post on your blog/website and link back to this sign up page.
  4. Once the Challenge has begun, you will see a new bar on the left hand side of this blog. This will list the places for you to link/comment your reviews of the book you have read for each category as well as a “wrap up” page. I will not be doing monthly check-in posts this year. I will probably do a “Half Way” post in June. These will be important because….
  5. THERE IS A PRIZE THIS YEAR! People who complete the challenge (and I will check that all categories are completed!) will be entered into a random drawing for $30 worth of books (Book Depository will be used for an International Winner). I may have other prizes as well. Make sure you are following me via GFC, Email, Twitter, or Facebook/Networked Blogs so you are in the know!

Nah, kategori-kategorinya adalah sebagai berikut:

  • Any 19th Century ClassicThe Hunchback of Notre Dame by Victor Hugo –> READ
  • Any 20th Century Classic – One Flew Over the Cuckoo’s Nest by Ken Kesey
  • Reread a classic of your choice – Bleak House by Charles Dickens –> READ
  • A Classic Play – Oidipus by Sophocles
  • Classic Mystery/Horror/Crime Fiction – And Then There Were None by Agatha Christie –> READ
  • Classic RomanceThe Painted Veil by G. Somerset Maugham
  • Read a Classic that has been translated from its original language to your language - The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde by Robert Louis Stevenson –> READ
    To clarify, if your native language is NOT English, you may read any classic originally written in English that has been translated into your native language.
  • Classic Award Winner - The Bridge of San Luis Rey by Thornton Wilder –> READ
    To clarify, the book should be a classic which has won any established literary award.
  • Read a Classic set in a Country that you (realistically speaking) will not visit during your lifetimeThe Chronicles of Narnia: The Vovage of Dawn Treader by C.S. Lewis
    To Clarify, this does not have to be a country that you hope to visit either. Countries that no longer exist or have never existed count.

Tertarik ikutan? Hadiahnya lumayan bikin ngiler loh… :D Silakan meluncur ke blog ini untuk keterangan lebih lanjut yah!

[Review] Bleak House oleh Charles Dickens

“London, 1852. London in November. It was cold, winter weather. There was mud in the streets. There was fog too. The fog was everywhere. It came up the river and down the river.
Cold, mud, and fog filled the streets of London. And the fog was thickest and the mud was deepest near Lincoln’s Inn, the very heart of London. The Lord High Chancellor was there, sitting in his High Court of Chancery.
Some of the fog and the mud had got into the courtroom too. Perhaps a little fog and mud had got into the minds of the people in the High Court of Chancery.”

Bleak House merupakan karya Dickens kedua yang pernah saya baca, dan saya pertama kali membacanya ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMP. :)

“Bleak House”, jika diIndonesiakan berarti “Rumah Suram” adalah karya Dickens yang merupakan kritik sosial terhadap kehidupan di London pada pertengahan abad 19. Mengambil setting waktu tahun 1852, Dickens menyorot bobroknya sistem hukum perdata di Inggris pada waktu itu, secara spesifik mengenai hal waris. Alkisah ada sebuah kasus mengenai hak waris yang telah dilangsungkan selama bertahun-tahun, bahkan beberapa generasi telah mati dan dilahirkan selama kasus tersebut berlangsung. Kasus ini dikenal dengan nama kasus Jarndyce dan Jarndyce (the case of Jarndyce and Jarndyce). Konon, kasus ini menghabiskan seluruh energi, waktu, dan kepandaian para pengacara di High Court of Chancery, London, dan para penuntut hak waris yang tadinya muda dan penuh harapan, lama kelamaan-menjadi tua dan hancur hidupnya selama menunggu penyelesaian/keputusan atas kasus Jarndyce dan Jarndyce. Kasus ini telah membuat nasib banyak orang menjadi begitu sengsara. Mengapa begitu lama dan sulit untuk menyelesaikan kasus ini? Konon karena tidak ada pengacara yang mampu memahami surat waris Jarndyce.

Para penuntut–mereka yang mempunyai hak atas warisan Jarndyce–yang berumur di bawah 21 tahun diurus oleh Pengadilan, dan Pengadilanlah yang akan mencarikan rumah bagi mereka. Para penuntut ini disebut “wards of court”. Diantara sekian banyak penuntut kasus Jarndyce dan Jarndyce, ada sepasang sepupu yang masih berusia di bawah 21 tahun, mereka adalah Ada Clare dan Richard Carstone. Pengadilan kemudian memutuskan bahwa Ada dan Richard akan tinggal bersama sepupu mereka, John Jarndyce, di kediaman tua Jarndyce yang disebut Bleak House. Pengadilan mengutus Esther Summerson, seorang perempuan muda yang memiliki masa lalu pahit, namun sangat mandiri dan bisa diandalkan, untuk mendampingi Ada. Mereka berempat pun tinggal di Bleak House, yang ternyata tidak sesuram namanya karena sang sepupu, John Jarndyce, adalah seorang pria paruh baya yang periang dan menyenangkan.

Di sudut lain Inggris, di Lincolnshire, tinggallah sepasang bangsawan yang terkenal angkuh. Mereka adalah Sir Leicester Dedlock, dan istrinya, Lady Dedlock yang cantik namun dingin. Suami-istri Dedlock tinggal di rumah yang disebut Chesney Wold. Teras di bagian depan rumah besar itu dijuluki Ghost’s Walk, karena kadang-kadang terdengar langkah-langkah kaki di batu yang keras itu. Konon jika langkah-langkah kaki terdengar di Ghost’s Walk, itu berarti akan ada kematian, kemalangan atau aib yang akan menimpa keluarga Dedlock.

Kembali ke London, Esther, Ada, dan Richard mengunjungi sebuah toko yang sangat kotor dan aneh di dekat High Court of Chancery, toko ini bernama “Krook, Rag and Bottle Shop”. Toko ini begitu aneh karena “everything is bought here, but nothing is sold.” Pemiliknya, Mr Krook, berkata bahwa orang-orang memanggilnya Lord Chancellor (semacam Hakim Agung), dan tokonya adalah High Court of Chancery, karena ia tidak pernah melepaskan satupun barang-barang berkarat dan berdebu dari tokonya. Toko tersebut tidak pernah disapu, dibersihkan, atau diperbaiki, melambangkan High Court of Chancery. Mereka bertiga melihat bagaimana kemiskinan menggerogoti warga yang tinggal di jantung kota London, dan ironisnya warga yang termasuk kaya seakan menutup dunia mereka dari keberadaan warga lain yang miskin.

Sejauh ini terdengar membosankan? Tunggu dulu, Lady Dedlock ternyata punya rahasia yang selama ini setengah mati disimpannya supaya keluarga Dedlock tidak dipermalukan akibat aib masa lalunya. Rahasia ini berkaitan dengan Esther Summerson dan Nemo, seorang law-writer (penulis dokumen hukum) yang identitasnya tidak jelas, yang dulunya tinggal di atas Krook, Rag and Bottle Shop, sampai ia ditemukan mati karena sakit. FYI, “Nemo” dalam bahasa Latin berarti “no one”. Pengacara Sir Leicester, Mr Tulkinghorn, curiga bahwa Lady Dedlock memiliki rahasia dan berusaha mengoreknya. Ada juga seorang perempuan Perancis bernama Hortense yang sangat membenci Lady Dedlock dan berusaha mencelakainya. Karakter penting lainnya adalah Allan Woodcourt, seorang dokter yang datang ketika Nemo ditemukan telah mati. Allan menjalin hubungan persahabatan yang erat dengan para penghuni Bleak House dan menjadi suami Esther di akhir cerita. Menarik juga mengikuti bagaimana kasus Jarndyce dan Jarndyce berhasil menggelapkan hidup banyak orang, termasuk Richard Carstone, karakter yang plin-plan dan tidak pikir panjang, yang selalu berpikir bahwa ia akan menjadi kaya jika keputusan atas kasus Jarndyce dan Jarndyce telah dijatuhkan. Sepupunya, John Jarndyce menasihatinya: “For the love of God, do not put any hope or trust in Jarndyce and Jarndyce. It is better to borrow, better to beg, better to die.”

Ilustrasi kantor pengacara dalam Bleak House - sumber: Wikipedia

Penjelasan singkat tentang kasus Jarndyce dan Jarndyce, sebagaimana disampaikan oleh John Jarndyce, adalah sebagai berikut:

“Long ago, a man called Jarndyce made a great fortune. And so he made a great will. This will was difficult to understand. Lawyers have been arguing about it ever since. The Court of Chancery has to decide about the money. Every member of the family has to go to Court sometime. No one can escape. I don’t like to think about it. My poor great-uncle, Tom Jarndyce, thought about the case all the time. In the end, he shot himself.”

***

Bleak House merupakan sebuah novel yang kompleks dan panjang, merupakan suatu potret sosial Inggris pada era Victoria. Sekalipun beberapa sumber menyebutkan bahwa Bleak House adalah novel terbaik Dickens, mungkin novel ini tidak terlalu enjoyable, khususnya bagi pembaca Indonesia, karena cenderung panjang dan membosankan. Begini pendapat G. K. Chesterton mengenai Bleak House: there is a certain monotony about the book: “the artistic . . . unity . . . is satisfying, almost suffocating. There is the motif and again the motif.”
Namun bagi saya pribadi, saya masih bisa menikmati kompleksitasnya, dan juga gaya penulisan Dickens yang sangat khas dan memikat, yang masih terasa sekalipun buku yang saya baca ini versi yang telah dipersingkat dan disederhanakan.

Detail buku:
“Bleak House”, oleh Charles Dickens, diceritakan kembali oleh Margaret Tarner
122 halaman, diterbitkan 1990 oleh Dian Rakyat
My rating: ♥ ♥ ♥

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers