Blog Archives

[Review] Pope Joan, Sang Paus Perempuan

Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?

Quis — siapa?

Namanya Joan. Dilahirkan tahun 814 Masehi di Ingelheim (sekarang di wilayah Jerman). Putri satu-satunya seorang kanon (semacam pendeta atau imam) dari Inggris dan istrinya yang orang Saxon. Punya dua kakak laki-laki, Matthew dan John. Dari kecil sudah menampakkan kecerdasan dan keingintahuan yang luar biasa. Joan menderita siksaan fisik dari ayahnya gara-gara hal itu, tapi toh ia tidak mau berhenti belajar.

Quid — apa?

Perjuangan Joan, yang dengan karunia kecerdasan yang dimilikinya, menolak kenyataan yang terjadi pada masa itu bahwa perempuan tidak diperbolehkan untuk membaca dan menulis, apalagi belajar dan menguasai berbagai ilmu sebagaimana kaum laki-laki. Ditengah-tengah busuknya politik Kepausan Katolik Roma, ancaman Kaisar Lothar dari kerajaan Frank, ancaman wabah yang merajalela, dan juga serangan bangsa Viking, Joan menapaki langkah demi langkah menuju tahta tertinggi dalam Katolik Roma – Paus.

Quomondo – bagaimana?

Di satu titik Joan membuat suatu keputusan besar yang mengubah seluruh hidupnya – ia menyamar sebagai seorang laki-laki, sehingga ia bisa mempelajari banyak hal – sesuatu yang mustahil dilakukan seorang perempuan pada abad kesembilan. Keteguhannya untuk terus menjalani hidup sebagai laki-laki hampir tergoyahkan ketika ia jatuh cinta pada Gerold, seorang count yang menjadi ayah angkatnya di Dorstadt. Namun toh Joan tetap teguh melakukan apa yang menjadi hasratnya sampai nafasnya yang terakhir.

Ubi – Di mana?

Mengawali dengan bersekolah di Dorstadt oleh rujukan dari guru pertamanya, Aesculapius, seorang Yunani. Setelah lolos dari serangan brutal bangsa Viking di Dorstadt, Joan melarikan diri ke pertapaan di Fulda di mana ia menyamar sebagai laki-laki untuk pertama kalinya. Kemudian, setelah menghabiskan bertahun-tahun di Fulda, sebuah wabah demam nyaris membongkar penyamarannya sehingga ia kabur, dan akhirnya pergi ke Roma, menjadi tabib pribadi Paus Sergius, dan pada waktunya—ia sendiri yang diangkat menjadi Paus.

Quando – kapan?

Keseluruhan kisah berlangsung pada tahun 814 hingga 855 Masehi, yang termasuk dalam era Abad Kegelapan. Joan memerintah sebagai Paus pada tahun 853 hingga 855. Setelah Joan meninggal, Katolik Roma dibawah tulisan Anastasius menghapuskannya dari Liber pontificalis, yaitu kronik resmi seluruh Paus yang pernah ada. Empat puluh tahun setelah kematiannya, Uskup Agung Arnaldo menyalin Liber pontificalis dan menambahkan bab mengenai Joan ke dalamnya, sehingga kebenaran tidak sepenuhnya hilang.

Cur – mengapa?

Mengapa Joan sampai memilih meninggalkan identitas keperempuanannya? Karena ia punya impian, dan hasratnya terhadap impian tersebut demikian besarnya sehingga pengorbanan demi pengorbanan yang ia lakukan dirasanya setimpal. Mengapa lalu ia bisa sampai di tahta tertinggi Katolik Roma? Karena Joan mampu. Karena perempuan mampu, karena perempuan bukanlah makhluk yang bodoh dan lemah. Karena perempuan sejajar dengan laki-laki.

***

Pope Joan adalah sebuah novel yang lengkap. Sejarah, politik, perjuangan perempuan, agama, perang, cinta, pengorbanan, kemunafikan, kebrutalan manusia; semua terkandung di dalamnya. Sang pengarang, Donna Woolfolk Cross, menghimpun kisah ini dengan apik, tokoh-tokohnya terasa nyata dan emosinya dapet. Apalagi dengan alur cepat yang tidak membuat bosan. Walau di beberapa bagian emang sadis sih, terutama pas serangan bangsa Viking itu. Pope Joan versi film (2009) kurang mengesankan walaupun dari segi cast secara fisik sudah pas, setting juga bagus, tapi emosinya kurang terasa.

Salut untuk pengarang yang menyelesaikan penulisan Pope Joan setelah melakukan riset selama tujuh tahun. Salut juga untuk F.X. Dono Sunardi sang penerjemah, karena menerjemahkan karya ini sudah pasti bukan pekerjaan gampang. Puasss banget melahap lebih dari 700 halaman novel ini, karena wawasan bertambah banyak, terutama tentang sejarah, seluk-beluk kepausan di Katolik Roma, dan beberapa kalimat dalam bahasa Latin… Juga bagian Catatan dari Pengarang sungguh-sungguh membantu dalam memahami kisah.

Saran saya bagi penerbit yang hendak menerbitkan novel serupa: akan lebih nyaman kalau ada glossary di bagian belakang buku, terutama sih tentang berbagai istilah dan jabatan keagamaan yang tidak familiar bagi saya sehingga membuat saya jadi cukup bingung. Kalau sebatas catatan kaki, kan, kalau ketemu lagi dengan kata “X’, saya sudah lupa catatan kakinya ada di halaman berapa, hehehe.

Jadi, apakah Paus Joan pernah ada? Setelah membaca buku ini rasanya saya percaya kalau beliau benar-benar pernah ada. Bagaimanapun, kisahnya menginspirasi para perempuan (dan juga laki-laki) untuk tidak menyerah dan berani berkorban dalam berusaha mencapai impian.
Go for it, no matter what it takes! Empat bintang bagi kisah perempuan hebat yang nyaris terlupakan ini.

Beberapa kutipan favorit:

“Jika ingin dapat bertahan di dunia ini, kau harus bersikap lebih sabar dengan mereka yang ada di atasmu.” – hal. 179

“Sungguh aneh apa yang terjadi pada hati manusia. Orang dapat saja terus hidup selama bertahun-tahun, terbiasa kehilangan, serta berdamai dengannya, tetapi kemudian, dalam sekejap saja, rasa sakit itu muncul kembali bersama rasa pedih dan perih seperti luka yang masih baru.” – hal. 495

“Kita akan tetap berdoa seakan-akan semuanya bergantung kepada Tuhan dan terus bekerja seolah-olah segalanya tergantung pada diri kita sendiri.” – hal. 573

“Terangnya harapan yang dipantikkan oleh para perempuan tersebut hanya serupa kelap-kelip cahaya kecil di samudra kegelapan, tetapi nyalanya tidak pernah sepenuhnya padam. Kesempatan selalu ada dan tersedia bagi kaum perempuan yang cukup kuat untuk bermimpi. Pope Joan adalah kisah dari salah satu pemimpi itu.” – hal. 732.

Catatan:Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?” tidak lain adalah 5W+1H (Who, what, when, where, why, how) yang konsep awalnya dirumuskan oleh filsuf Romawi Marcus Tullius Cicero (106-43 SM).

Links:

Pope Joan on Wikipedia
Pope Joan the Novel Official Site
Resensi Pope Joan di Kompasiana oleh Kornelius Ginting

Detail buku:
“Pope Joan”, oleh Donna Woolfolk Cross
736 halaman, diterbitkan Januari 2007 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Real Short Review] Perempuan di Titik Nol


“Kembali ke rumah Ayah, saya memandang dengan hampa pada tembok-tembok dari tanah liat, bagaikan orang asing yang belum pernah masuk ke tempat ini. Saya melihat sekeliling hampir-hampir keheranan, seakan-akan saya tidak lahir di situ, tetapi tiba-tiba terjatuh dari langit, atau muncul entah dari mana dari dalam perut bumi, menemukan diri saya di suatu tempat di mana saya tidak termasuk di rumah yang bukan milik saya, lahir dari seorang ayah yang bukan ayah saya, dan dari seorang ibu yang bukan ibu saya.

Apakah itu karena cerita Paman tentang kota Kairo, tentang rakyat penghuni kota itu yang telah mengubah saya? Apakah saya benar-benar anak perempuan ibu saya, apakah ibu saya seorang yang lain pula? Apakah saya dilahirkan sebagai anak ibu saya dan berubah menjadi seorang yang lain? Ataukah ibu saya telah mengubah dirinya menjadi seorang perempuan lain yang sangat mirip dengannya, sehingga saya tidak dapat melihat perbedaannya?”

Duh, maap beribu maap, buku ini memang bukan buat saya. Ceritanya sebenarnya menarik, tapi saya nggak tahan dengan gaya menulis Saadawi. Narasi panjang-panjang memenuhi seluruh buku, belum lagi ada beberapa frase yang diulang, misalnya “cincin yang teramat putih di sekitar dua lingkaran yang hitam pekat”. Feminisme yang digaungkan di buku ini juga nggak terlalu sesuai dengan diri saya. Sudah berusaha untuk menikmati buku ini, tapi gagal. So sorry. –”

Detail buku:
“Perempuan di Titik Nol” (“Woman at Point Zero”), oleh Nawal El Saadawi
156 halaman, diterbitkan 2002 oleh Yayasan Obor Indonesia
My rating: ♥

[Review] And Then There Were None – Agatha Christie

Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.
Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima.
Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.
Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.

Itulah bunyi sajak anak-anak yang tergantung dalam bingkai krom di atas perapian di kamar Vera Claythorne di Pulau Negro. Ia baru saja sampai di pulau terpencil di seberang pantai Devon itu dengan sembilan orang lainnya, suami-istri pelayan Mr & Mrs Rogers, Mr Justice Wargrave seorang hakim, bekas tentara Philip Lombard, mantan polisi William Henry Blore, seorang wanita tua yang kaku Emily Brent, veteran perang Jenderal Macarthur, anak muda tampan Tony Marston, dan Dokter Armstrong. Mereka semua diundang secara misterius untuk berlibur di Pulau Negro oleh seorang Mr. Owen.

Mereka semua sedang menikmati makan malam yang enak ketika sesuatu yang sangat aneh terjadi. Kejadian itu diikuti oleh kematian salah seorang dari mereka karena tersedak minuman. Mereka jadi kacau dan ketakutan. Dari hasil pembicaraan, akhirnya terkuak dua nama yang menandatangani dua surat yang ditujukan kepada dua dari antara mereka. Dua nama itu adalah Mr. Ulick Norman Owen dan Mrs. Una Nancy Owen. Dua U.N.O. yang disimpulkan dengan ngeri oleh sang hakim sebagai UNKNOWN (tak dikenal)! Sementara itu, beberapa pria diantara mereka menyelidiki seluruh pulau dan mendapati bahwa tidak ada orang lain selain mereka bersepuluh (kalau semuanya masih hidup) di pulau itu. Mustahil pergi dari sana karena cuaca badai dan air pasang. Dan dengan waktu yang berjalan, pembunuhan terus terjadi, dengan sangat mengherankan, persis seperti sajak yang tergantung di kamar mereka masing-masing. Seorang pembunuh gila ada diantara mereka sementara mereka mati satu demi satu… Satu demi satu…

***

Beuuuuuhhhhh! Buku ini bikin jantungan! Megap-megap! Kejet-kejet! Ups, maaf saya jadi agak lebay. Ini buku Agatha Christie pertama yang saya baca. Sekaligus merupakan karya yang disebut-sebut sebagai salah satu karya terbaik beliau. Saya tidak akan banyak menghamburkan kata dalam review ini, hanya bahwa yang menjadi kunci mengapa buku ini bagus adalah KETEGANGAN luar biasa yang dibangun sang Queen of Crime dengan ciamiknya. Pembaca akan ikut bertanya-tanya bersama para tokoh, “Siapa? Siapa? Yang mana?” Dan satu hal yang sangat penting kalau anda mau membaca buku ini adalah: JANGAN buka halaman terakhirnya sebelum anda benar-benar sampai di sana. Serius. Dua rius, ding.

Nah, sekarang setelah detak jantung saya kembali normal dan saya bisa bernafas seperti biasa, ada yang mau menyarankan buku Agatha Christie mana yang selanjutnya perlu saya lahap?

The Queen of Crime

Sekilas tentang Agatha Christie

Sang Queen of Crime lahir di Torquay, Devon, Inggris, pada tanggal 15 September 1890. Ia adalah anak termuda dari tiga bersaudara, dengan beda usia sebelas tahun dengan kakaknya yang tertua dan sepuluh tahun dengan kakaknya yang kedua (believe it or not, ini SAMA PERSIS dengan saya!). Tempat kelahirannya di Devon menjadi setting dalam And Then There Were None. Ia dianugerahi gelar Dame Commander of the Order of the British Empire pada malam tahun baru 1971. Guinness Book of World Records mencatat rekornya sebagai best-selling novelist of all time, dengan jumlah kasar empat milyar kopi novel-novelnya yang terjual di seluruh dunia. Semasa hidupnya ia menghasilkan 66 novel dan 14 kumpulan cerita pendek bertema misteri, thriller, dan detektif; sangat terkenal terutama dengan seri Hercule Poirot dan seri Miss Marple. Ia juga menulis novel roman dengan pseudonym Mary Westmacott, skrip drama panggung West End, dan dua buah autobiografi. Dame Christie menghembuskan nafas terakhir pada 12 Januari 1976.

Detail buku:
“Lalu Semuanya Lenyap” (juga dikenal dengan judul “10 Anak Negro”; judul asli: “And Then There Were None”), oleh Agatha Christie
296 halaman, diterbitkan Februari 2011 (Cetakan ke-9) oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] City of Thieves, Kota Para Pencuri

Sepotong peristiwa yang menjadi bagian sejarah Perang Dunia II (1939-1945) adalah pengepungan kota Leningrad (sekarang dikenal dengan nama St. Petersburg) di Rusia yang dilakukan oleh Jerman, berlangsung selama kurang lebih 900 hari, dari tanggal 8 September 1941 hingga 8 Januari 1944. Pengepungan ini merupakan pengepungan terbesar dan paling berdarah dalam sejarah, menewaskan lebih dari 1 juta orang. Pihak Jerman menyebutnya Operation Nordlicht (Operasi Cahaya Utara).

Peristiwa sejarah inilah yang menjadi latar belakang cerita dalam novel Kota Para Pencuri (City of Thieves). Namun jangan bayangkan City of Thieves sebagai sebuah novel yang serius dan melankolis. Sang penulis, David Benioff, yang sejatinya adalah seorang penulis skenario film, mengambil sisi petualangan yang dialami tokoh-tokoh utama di tengah-tengah gejolak perang.

Pengeboman di kota Leningrad, gambar dari http://planetcoh.gamespy.com/

Benioff bercerita tentang sang ayah, yang konon telah membunuh dua orang Jerman sebelum ia berusia delapan belas tahun. Suatu hari sang ayah membeberkan segala ceritanya kepada Benioff, mengenai apa yang dialaminya semasa perang.

Adalah Lev, seorang pemuda Yahudi 17 tahun bertubuh pendek yang tinggal di apartemen yang dinamai Kirov, di salah satu sudut kota Leningrad. Ayah Lev yang seorang penyair  telah tewas di tangan Jerman, sementara ibu dan adik perempuannya mengungsi ke Moskwa. Tinggallah Lev dan teman-teman seapartemennya, anak-anak Piter (sebutan penduduk St. Petersburg bagi kota mereka) yang bangga, ikut berjuang mempertahankan kota.

Pada suatu malam yang membeku sesudah tahun baru, mayat seorang prajurit Jerman yang mati kedinginan melayang turun dengan parasutnya di atap Kirov. Lev mengambil pisau milik si prajurit, sementara teman-temannya mengambili barang-barang milik si prajurit yang lain. Siapa sangka lewat kejadian itu Lev akhirnya tertangkap oleh NKVD dan dijebloskan ke penjara Kresty. Di Kresty, Lev yang mengira bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, bertemu dengan Kolya, seorang prajurit Rusia berumur awal dua puluhan yang punya ketampanan khas ras Arya: rambut berwarna jerami, mata biru, tubuh tinggi dan gagah. Kolya dijebloskan ke Kresty dengan tuduhan sebagai desertir. Tak disangka, mereka berdua malah dipertemukan dengan seorang kolonel tua yang akan melangsungkan pernikahan anak perempuannya dalam sepekan kedepan. Lev dan Kolya dibebankan suatu misi yang kedengarannya konyol namun taruhannya nyawa: mereka harus mencari selusin telur untuk kue pernikahan anak perempuan sang kolonel dalam waktu satu minggu!

Dari sini banyak petualangan yang dialami Lev dan Kolya, dan kebanyakan nyawa mereka hampir melayang dalam petualangan yang mereka jalani untuk mencari selusin telur. Saya tidak akan membocorkan apa saja yang mereka alami, anda harus membacanya sendiri :-p. Berhasilkah mereka memenuhi misi gila yang dipercayakan sang kolonel kepada mereka?

Satu hal yang tertanam di benak saya ketika membaca buku ini adalah: saya sungguh-sungguh bersyukur bahwa saya tidak hidup di tengah-tengah situasi perang. Benioff menggambarkan situasi yang terjadi saat itu dengan blak-blakan dan sangat riil, kekejaman dan kebrutalannya terasa banget, namun di saat yang sama juga menyorot hal-hal yang agak vulgar namun sangat manusiawi. Misalnya, Lev yang nggak pede tapi sangat penasaran dengan makhluk bernama cewek. Kolya, di sisi lain, adalah karakter yang suka omong besar, nekat, dan sebenarnya seorang maniak seks. Sangat menarik mengikuti perkembangan hubungan antara Lev dan Kolya, yang mana awalnya Lev sangat sebal dengan Kolya namun lama-lama mereka pun bersahabat.

Beberapa hal menarik yang saya temukan dalam buku ini:

Di halaman 104:

“Anak itu menjual sesuatu yg dijuluki orang permen perpustakaan. Cara membuatnya adalah dengan menghancurkan sampul buku, mengelupaskan lem perekatnya, lalu merebus, dan mencetaknya menjadi potongan-potongan yang selanjutnya dibungkus dlm kertas. Rasanya seperti lilin, tapi lem yang terkandung di dalamnya mengandung protein yg membuatmu tetap hidup. Sementara itu buku-buku di kota menghilang seperti burung dara.”

Baru tahu kan ada yang namanya permen perpustakaan? Saking sengsaranya orang-orang yang hidup di masa dan di tempat yang sedang terjadi peperangan, mereka sehari-hari hanya makan bawang dan roti yang sangat keras. Mereka menjadi sangat kurus dan banyak yang mati akibat kelaparan dan kedinginan (musim dingin di Rusia bisa mencapai titik suhu minus 30 derajat Celcius!) Jangankan telur dan daging, ”permen perpustakaan” ini merupakan hidangan yang cukup mewah bagi mereka! :-S

Di halaman 202:

“Tapi tak ada Elba untuk Hitler!”

Pulau Elba di Italia adalah tempat dimana Napoleon Bonaparte pernah dibuang. Ini kejutan yang saya suka dalam sebuah novel fiksi sejarah. I just love how the author can connect to another historical event. ;)

Just a warning: City of Thieves adalah novel dewasa. Saya tidak menyarankan siapapun yang berumur di bawah 18 tahun untuk membacanya.

Secara keseluruhan, saya sangat suka buku ini! Terima kasih sekali lagi buat Secret Santaku, Ally, yang sudah menghadiahkan buku ini! *peluk* :)

Detail buku:
“Kota Para Pencuri” (judul asli: “City of Thieves”, oleh David Benioff
490 halaman, diterbitkan Agustus 2010 oleh Penerbit Ufuk Press
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Sarah’s Key: Kunci ke Masa Lalu yang Tragis


“Berhati-hatilah. Kau bermain-main dengan kotak Pandora. Terkadang, lebih baik tidak membukanya. Terkadang, lebih baik tidak tahu.”

Julia Jarmond, seorang wartawan perempuan Amerika setengah baya yang tinggal di Prancis, memegang kunci ke masa lalu ketika ia ditugasi meliput pengumpulan besar-besaran orang Yahudi di Vélodrome d’Hiver (Vel’ d’Hiv’), sebuah stadion tertutup di jantung kota Paris, 16 Juli 1942. Pengumpulan ini dilakukan oleh polisi Prancis, dengan sarana dan prasarana milik Prancis, atas perintah pendudukan Nazi.

Di dalam Vel’ d’Hiv’ inilah, 1.129 lelaki, 2.916 perempuan, dan 4.115 anak-anak dijejalkan dalam kondisi tidak manusiawi. Tempat itu panas dan pengap, tidak ada toilet dan tempat tidur, hampir tidak ada makanan dan air. Anak-anak Yahudi ini kemudian dipisahkan dari orangtua mereka, yang dikirim langsung ke Auschwitz untuk menerima kematian dalam kamar gas. Pada pertengahan Agustus, keputusan dari Berlin mengatakan bahwa nasib yang sama menanti anak-anak malang tersebut di Auschwitz.

Dari sekitar empat ribu anak-anak Yahudi yang dikumpulkan di Vel’ d’Hiv’, ada seorang anak perempuan sepuluh tahun bernama Sarah Starzynski. Pada malam terjadinya pengumpulan besar-besaran itu, Sarah telah mengunci adik lelakinya yang baru berumur empat tahun, Michel, di dalam lemari tersembunyi di apartemen keluarganya di rue de Saintonge. Ia bersumpah akan kembali untuk menjemput adiknya, bahkan ketika mereka dipindahkan dari Vel’ d’Hiv’ ke kamp Drancy, jauh dari kota Paris, Sarah meneguhkan hati untuk kabur dari Drancy dan menjemput adik semata wayangnya. Perjalanan dan jerih payah Sarah inilah yang berusaha dikorek oleh Julia sejak ia mengetahui bahwa apartemen tua nenek suaminya ternyata dulunya dihuni oleh keluarga Starzynski. Dari apartemen di rue de Saintonge itulah keluarga Starzynski diciduk oleh polisi Prancis, dan digiring ke Vel’ d’Hiv. Di dalam lemari yang tersembunyi di dalam dinding apartemen itulah, Sarah pernah menyembunyikan adik lelakinya, menguncinya disana dengan harapan bahwa dia akan aman, dan Sarah akan segera menjemputnya dan mereka akan bersama-sama lagi, juga dengan ayah dan ibunya, utuh dan bahagia.

Benang merah antara Sarah dan Julia yang terpaut waktu enam puluh tahun dijalin dalam kisah mendebarkan ini dengan alur bolak-balik masa lalu dan masa kini. Siap-siaplah emosi anda dijungkirbalikkan ketika membaca buku ini, ketika Julia melakukan penyelidikan terhadap nasib Sarah, saat ia menemukan fakta demi fakta, dan bagaimana penyelidikannya itu berdampak sedemikian rupa terhadap keluarga suaminya, keluarga Prancis tua bermarga Tézac, bagaimana hidup mereka semua tidak akan pernah sama lagi sejak kebenaran menyakitkan itu terungkap…

***

Jika dihadapkan dengan dua pilihan, antara mengetahui kebenaran, entah bagaimanapun menyakitkannya, atau menutup mata dan memilih untuk tidak tahu, manakah yang akan anda pilih?
Di satu sisi, kebenaran tetaplah hal yang terbaik. Namun di sisi lain, kadangkala kebenaran terlalu menyakitkan sehingga lebih baik tidak tahu.

Peristiwa 16 Juli 1942 di Vel’ d’Hiv’ di kota Paris adalah salah satu peristiwa terburuk di dalam sejarah Prancis. Menurut buku ini, kebanyakan orang Prancis menutup mata akan bagian sejarah negeri mereka yang satu ini, dan generasi muda Prancis hanya menerima secuil, kalau tidak sama sekali, pengetahuan tentang sejarah peristiwa Vel’ d’Hiv’ di bangku sekolah. Pada tahun 1995 , Presiden Prancis yang baru saja terpilih, Jacques Chirac, memberikan pidato yang secara resmi mengakui keterlibatan Prancis dalam pembunuhan dan deportasi orang-orang Yahudi di Eropa.

Sang penulis, Tatiana de Rosnay, boleh diberi pujian karena keberaniannya menulis fiksi sejarah yang didasarkan pada peristiwa yang dianggap borok memalukan dalam sejarah Prancis, dengan twist masa lalu versus masa kini. Sarah’s Key ditulis dengan cantik, mendetail, sekaligus dekat dan menyentuh. Emosi masing-masing karakter utama dapat sampai kepada pembaca dengan baik. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Lily Endang Joeliani juga tidak buruk. Terlepas dari berbagai kelemahan, misalnya alur bolak-balik masa lalu-masa kini di dalam bab-bab pendek yang bagi saya agak melelahkan, dan ada beberapa hal mengenai cerita kehidupan Julia yang menurut saya tidak penting untuk disampaikan, cerita masih gampang ditebak ujungnya, serta cover yang, kalau boleh saya bilang, terlalu cantik, sama sekali tidak mewakili isi buku; Sarah’s Key adalah sebuah buku yang haunting dan memeras emosi. Empat bintang bagi karya yang didedikasikan penulis sebagai penghormatan bagi anak-anak Vel’ d’Hiv’. Bahwa pada 16 Juli 1942 ada 13 ribu orang Yahudi yang dikumpulkan di tempat itu, 4 ribu diantaranya adalah anak-anak tak bersalah, mereka yang menjerit menangis karena tak mengerti, terkurung mengenaskan di dalam tempat persinggahan sementara menuju kematian.

Sarah’s Key telah difilmkan tahun 2010 dengan aktris nominator Oscar Kristin Scott Thomas sebagai Julia Jarmond.

“Kadangkala aku bertanya-tanya berapa banyak anak, sepertinya, yang mengalami neraka itu dan bertahan hidup, dan sekarang harus terus hidup, tanpa orang-orang yang mereka cintai.

Begitu banyak penderitaan, begitu banyak rasa sakit. Sarah harus menyerahkan semua yang dimilikinya: keluarganya, namanya, agamanya.

Kami tidak pernah membicarakannya, tetapi aku tahu betapa dalam kehampaannya, betapa kejam kehilangan yang dialaminya.”


Zakhor, Al Tichkah.

Ingat. Jangan pernah lupa.

***

Links:
French President Jacques Chirac’s Speech at the Ceremonies to Commemorate “The Great Roundup” of July 16 and 17, 1942
YouTube video: Jacques Chirac – Discours du Vel’d'Hiv’ – 1995
Speech by M. Chirac at the official opening of the new exhibition, French pavilion of the Auschwitz-Birkenau Memorial and Museum, Auschwitz 27.01.2005
Behind the French Ruling on WWII Deportations of Jews (article by Bruce Crumley)
Chirac hailed for citing France’s role in Holocaust (article by Michel di Paz, Jewish Telegraphic Agency)

Detail buku:
“Sarah’s Key”, oleh Tatiana de Rosnay
356 halaman, diterbitkan 15 Agustus 2011 oleh Elex Media Komputindo
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina

Jangan tertipu dengan judulnya.
Tidak, saya tidak tertarik dengan traktor.
Tidak, tentu saja saya tidak bisa bahasa Ukraina.
Lantas mengapa saya membaca buku ini?

Pertama, karena menyadari bahwa buku ini adalah novel dan bukannya buku non fiksi, seperti yang tersirat pada judulnya yang unik (bagi sebuah novel).

Kedua, karena membaca review di Goodreads yang rata-rata menyatakan bahwa buku ini lucu, kadang mengharukan, kadang kelam. Intinya, layak dicoba untuk dibaca.

Ketiga, karena buku ini dijual hanya dengan harga sepuluh ribu rupiah di event Kompas Gramedia Fair di kota saya beberapa bulan yang lalu.

Keempat, karena saya memang punya ketertarikan khusus kepada negara Ukraina (anda akan mengerti nanti setelah selesai membaca review ini).

Jadi……………

Berkenalanlah saya dengan Nikolai Mayevskyj, duda 84 tahun yang tinggal di Inggris dengan dua anak perempuan yang sudah menginjak usia setengah baya dan hampir tak pernah akur, Vera dan Nadezhda. Nikolai baru saja ditinggal mati istrinya, Ludmilla, selama dua tahun ketika sosok Valentina, seorang janda Ukraina berambut pirang dan (maaf) berpayudara besar memasuki bingkai keluarga Mayevskyj.

Nikolai tergila-gila pada Valentina yang berumur 36 tahun itu. Vera dan Nadezhda menganggap ayah mereka sudah gila. Singkat cerita,Valentina dan anaknya, Stanislav, diboyong dari Ukraina ke Inggris. Kemudian pernikahan pun dilangsungkan antara Nikolai dan sang “Venus dari lukisan Botticelli”. Nadezhda awalnya berpikiran positif dengan pernikahan kedua ayahnya ini, dan menganggap bahwa suatu kabar baik bila sang ayah yang telah tua punya seseorang untuk menemani dan merawatnya. Namun ternyata dia sama sekali salah.

Valentina adalah penjajah dan pemeras dengan sejuta akal licik. Dari si tua bangka Nikolai ia berhasil mengeruk sejumlah uang yang tidak sedikit, diantaranya untuk biaya perjalanan Ukraina-Inggris, tujuan kecantikan, dan untuk membeli tidak hanya satu, tapi tiga buah mobil, yang ternyata semuanya bobrok. Dan jangankan bermanis-manis dan perhatian dengan si tua Nikolai, Valentina justru sangat kasar kepada si kakek tua. Dan tebak apa yang Nikolai katakan mengenai hal itu?

“Orang bisa memaafkan wanita cantik atas banyak hal.” #doh!

Wegah ayahnya terus menerus diperlakukan demikian, Vera dan Nadezhda terpaksa melupakan permusuhan lama mereka dan bergabung untuk mendongkel Valentina dari “tahta”. Dan sementara itu, dari ocehan-ocehan ayah mereka yang adalah seorang insinyur eksentrik, sedikit demi sedikit terkuaklah sejarah keluarga mereka, dimulai dari kisah kakek-nenek buyut Vera dan Nadezhda, dan bagaimana sejarah keluarga mereka merupakan satu bagian kecil dari sejarah tanah air mereka, Ukraina, yang awalnya bergelut dalam agrikultura dan industri, kemudian remuk redam dan hancur oleh perang dan penjajahan. Dan tentu saja ada sejarah mengenai perkembangan pembuatan traktor di Ukraina. Nikolai menjelaskan dengan hampir-hampir dramatis bagaimana ia memutuskan untuk berhenti bekerja di industri penerbangan yang pelik dengan konflik dan intrik masa perang, dan memilih berkarya di suatu industri yang lebih “down-to-earth”, memproduksi traktor.

Buku ini menggabungkan drama dysfunctional family saga dengan banyak unsur sejarah, dengan banyak lompatan-lompatan dari masa kini ke masa lalu, antara periode-periode sejarah kelam di Ukraina yang membuat bergidik, dan keadaan masa kini yang kacau balau, abnormal, dan sinting ketika Valentina melakukan “penjajahan” terhadap Nikolai dan harta bendanya, serta bagaimana upaya Vera dan Nadezhda untuk membebaskan ayah mereka dari cengkeraman Valentina.

Sang penulis, Marina Lewycka, menulis novel dewasa pemenang Saga Award for Wit 2005 ini dengan begitu blak-blakan, dengan humor sinis di balik setiap kata, namun tetap enak untuk dinikmati. Sedangkan dari unsur sejarahnya, saya jadi banyak mengetahui hal baru, misalnya bahwa bendera Ukraina yang berwarna biru dan kuning, melambangkan langit biru di atas hamparan ladang jagung yang menguning. Membaca ini mengingatkan saya pada film Everything is Illuminated yang pernah saya tonton (diangkat dari buku berjudul sama karya penulis Jonathan Safran Foer). Di film tersebut ada satu pemandangan yang tidak bisa saya lupakan.

Memang yang berada di bawah langit biru bukan ladang jagung, tapi lebih cantik bukan? Dan ya, tempat ini berada di Ukraina.

Fakta lain yang menyesakkan, bahwa Ukraina sebenarnya adalah negara yang kuat dengan agrikulturnya, namun pengembangan potensi agrikultura dengan mekanisasi dilakukan dengan cara yang sangat mengerikan oleh Stalin. Ia memaksakan pertanian kolektif, sementara petani yang memilih tetap mempertahankan lahannya sendiri mendapat ganjaran yang kejam. Hasil produksi pertanian diserobot oleh pasukan Stalin, kemudian dikirim ke pabrik-pabrik untuk memberi makan kaum proletar, sementara di desa-desa Ukraina orang-orang menderita kelaparan. Hasilnya, sekitar tujuh hingga sepuluh juta manusia mati di seantero Ukraina selama musim kelaparan buatan manusia pada tahun 1932-1933.

Ironis!

Yah, begitulah sekelumit kesan yang saya dapatkan melalui membaca buku ini. Buku ini menghibur sekaligus memberi banyak tambahan pengetahuan terutama tentang sejarah. Dan kabar baiknya lagi, buku ini bukan termasuk buku berat yang membuat kening berkerut. Karena si tua Nikolai akan membuat anda tertawa, geleng-geleng kepala, dan mungkin bahkan terkesima dengan kejeniusannya yang eksentrik. Apakah saya sempat menyebutkan bahwa Nikolai menulis buku? Ya, ia menulis kalimat berikut sebagai penutup mahakaryanya:

“Tetapi bisa ditambahkan, lebih lanjut, bahwa ketidakstabilan dan kemelaratan yang menyebar ke seluruh dunia juga menjadi faktor di balik timbulnya Fasisme di Jerman dan Komunisme di Rusia, sementara benturan kedua ideologi itu nyaris mengantar bangsa manusia ke kehancurannya.
Maka aku meninggalkan Anda dengan pikiran ini, pembaca yang budiman. Gunakan teknologi yang dikembangkan insinyur, tetapi gunakan dengan semangat rendah hati dan selalu mempertanyakan. Jangan pernah membiarkan teknologi menjadi penguasamu, dan jangan manfatkan demi menguasai orang lain.”

Apa judul buku yang ditulis oleh Nikolai? Tentu saja, “Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina”.

***

In loving memory of my father, 1941-2011
He attended school for 6 years in Marine Engineering Institute in Odessa, Ukraine (was Soviet Union at that time)

***

Detail buku:
“Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina” (judul asli: “A Short History of Tractors in Ukrainian”, oleh Marina Lewycka
416 halaman, diterbitkan Februari 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] Dongeng Ketiga Belas (The Thirteenth Tale)

Semua orang memiliki cerita. Karena cerita seperti keluarga. Kau mungkin tidak mengenal siapa mereka, atau telah kehilangan mereka, tetapi mereka tetap ada.
Kau tak bisa berkata kau tidak memiliki mereka.

Vida Winter adalah seorang penenun cerita. Semasa hidupnya ia telah melahirkan 56 buku yang semuanya laris bak kacang goreng. Cerita-cerita. Dongeng-dongeng.
Namun tak satupun cerita yang ditenunnya memberitahu pembaca kebenaran mengenai jati dirinya sendiri. Kepada para wartawan yang penasaran ia memberikan 19 versi yang berbeda-beda mengenai jati dirinya.

Siapa Vida Winter sesungguhnya tetap tertutup rapat… hingga beberapa waktu menjelang akhir hidupnya. Ingatan tentang kejadian 40 tahun silam kembali menghantuinya. Seorang pemuda, tampak seperti wartawan tak berpengalaman. Dengan raut wajah penuh tekad pemuda itu berkata,
“Ceritakan padaku yang sesungguhnya.”

Empat puluh tahun sesudah kejadian itu, Miss Winter telah siap menguntai jalinan kisah yang sesungguhnya. Ia memilih Margaret Lea, seorang penulis biografi amatir dan anak pemilik toko buku antik, untuk menuliskan biografinya. Margaret, yang tidak tertarik pada literatur kontemporer, awalnya enggan terlibat, namun setelah menemukan edisi langka salah satu buku Miss Winter dalam toko buku antik ayahnya, ia menjadi penasaran. Buku yang ada di toko ayahnya itu berjudul Tiga Belas Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan, namun tidak ada dongeng ketiga belas. Edisi-edisi buku itu yang beredar selanjutnya hanya memuat judul Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan, tanpa embel-embel Tiga Belas. Misteri Dongeng Ketiga Belas ini sama terkenalnya dengan pengarangnya sendiri.

Maka mereka pun bertemu, dan Miss Winter mulai menceritakan kisahnya. Kisah yang ia tuturkan adalah mengenai rumah Angelfield; kakeknya, George Angelfield; ibu dan pamannya, Isabelle dan Charlie Angelfield; dan terutama, mengenai dua anak kembar yang berlawanan sifat, Adeline dan Emmeline. Dan ia juga menceritakan tentang hantu yang ada di tengah-tengah keluarga Angelfield, orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan mereka, peristiwa-peristiwa yang aneh, menyedihkan, dan mengerikan yang mereka alami. Dan di penghujung cerita, akhirnya, teka-teki Dongeng Ketiga Belas pun dibukakan oleh Miss Winter.

Menyatukan kepingan-kepingan cerita yang satu persatu dituturkan Miss Winter, dengan tabir-tabir misteri yang disibakkan tentang Adeline dan Emmeline yang berperilaku ganjil; Margaret pun larut di dalamnya. Kehidupan pribadinya perlahan meredup dari dirinya dan ia tenggelam dalam cerita Miss Winter. Namun, pada waktunya, Margaret pun harus menghadapi hantunya sendiri; kesedihan yang terasa menekan di sisi tubuhnya.

###

“Tahukah kau perasaan yang muncul saat kau mulai membaca buku baru sebelum pelapis buku terakhir sempat menutup? Kau meninggalkan ide dan tema buku sebelumnya – bahkan karakter-karakternya – terperangkap di serat-serat pakaianmu, dan ketika kau membuka buku baru, semua ide, tema, dan karakter buku sebelumnya masih melekat bersamamu.”

Hanya sedikit buku yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi saya, dan Dongeng Ketiga Belas (judul asli: The Thirteenth Tale) ini adalah salah satunya.
Buku yang banyak menyebut karya-karya sastra klasik (yang menjadi favorit karakter Margaret Lea) ini adalah karya debut penulis asal Inggris, Diane Setterfield. The Thirteenth Tale meraih kesuksesan dengan meraih predikat New York Times #1 bestseller pada 8 Oktober 2006.
Cerita yang ditulis dengan gaya Gothic ini dihimpun penulis secara rapat tanpa celah, kental dengan aura yang misterius dan penuh teka-teki, namun disampaikan dengan begitu alami, tanpa terkesan mengada-ada atau melebih-lebihkan.

Jane Wood, editor-in-chief Orion, penerbit Inggris untuk The Thirteenth Tale, mengatakan bahwa, “The book marks “a return to that rich mine of storytelling that our parents loved and we loved as children. It also satisfies the appetite for narrative-driven fiction that has beginnings, middles and endings, like the great novels of the 19th century. She creates a wonderful fictional world.”

Gaya penulisan Diane Setterfield yang membius juga membuat saya berpendapat bahwa saya tidak akan bisa menikmati The Thirteenth Tale ini selain dalam bentuk buku. Terjemahannya juga digarap dengan sangat, sangat bagus. Tentu saja review saya yang singkat ini takkan mampu merangkum isi buku yang penuh subtansi ini, anda harus mencicipinya sendiri untuk mengetahui apa yang begitu istimewa dengan buku ini.

Buku yang saya dapatkan sebagai hadiah menang lomba mendongeng Vixxio Buku Gratis di FB (Thanks to Mbak Fanda Vixxio ;-) ) ini sebelumnya sudah sering saya lihat di toko buku sih, tapi entah kenapa saya nggak pernah tertarik, mungkin karena covernya yang suram ya? Tapi saya jelas lebih menyukai cover edisi terjemahannya, jika dibandingkan dengan cover edisi aslinya.

Cover edisi internasional The Thirteenth Tale

Karakter Margaret Lea membuat saya tercengang, karena si Margaret ini seorang kutu buku yang amat parah, dan ia hanya tertarik kepada literatur-literatur tua, karya-karya orang yang sudah mati. Begitu cintanya terhadap buku, si Margaret sampai bisa membaca tanpa ingat lagi kepada makanan, hari dan waktu. Bahkan, dia terang-terangan mengakui bahwa ia lebih mencintai buku daripada manusia!
Agak kaget juga ketika mendapati Jane Eyre paling banyak disebut-sebut dalam buku ini – karena saya baru saja menyelesaikan Jane Eyre akhir Februari kemarin dan buku tersebut langsung saja menghuni shelf favorites saya :) . Dua hal ini – Margaret Lea dan Jane Eyre, membuat saya berkata dalam hati, “buku ini memang buat gue!” Hehehe.
Sesudah membaca buku ini saya merenung sejenak mengapa saya begitu menyukai buku-buku klasik, dan jawabannya saya tuangkan dalam tulisan singkat berikut:

“Sebagian buku di dunia ini adalah mesin waktu. Dalam kasusku, buku-buku favoritku seringkali membawaku mundur dua abad dari zaman sekarang. Abad dua puluh satu yang gemerlap, hiruk-pikuk, dan modern, untuk beberapa saat hilang, digantikan dengan abad sembilan belas.
Kehidupan yang sudah mati, lama, dan usang. Namun pernah ada kehidupan seperti itu sebelum saat ini. Itulah yang terpenting.
Lembar-lembar literatur yang ditulis orang-orang dari abad yang telah berlalu adalah harta karun. Tak penting apakah lembar-lembar itu berisi dongeng, sejarah, atau penelitian; seseorang di masa lalu telah menulisnya.”

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Thirteenth_Tale_%28novel%29
http://www.bookbrowse.com/biographies/index.cfm?author_number=1376

 

Detail buku:
“Dongeng Ketiga Belas” (judul asli: The Thirteenth Tale), oleh Diane Setterfield
608 halaman, diterbitkan November 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Cinders

CindersCinders by Michelle Davidson Argyle

My rating: 3 of 5 stars

Goodreads First Reads Winner!

I would like to thank Michelle D. Argyle who sent the autographed copy of her book all the way to Indonesia. :)

***

###

A Cinderella story… like never told before.

Cinders is an adult fantasy fiction and a debut by author Michelle Davidson Argyle.

Most of us are familiar with various kinds of Cinderella stories, which usually follows a similar pattern—a damsel in distress, evil stepmother and stepsisters, fairy godmother, Prince Charming, the castle, the ball, and finally the marriage (or the so-called happily-ever-after).

In Cinders readers would not be fed with such a thing. The story is a continuation of the Cinderella story we are used to hearing. The tag line at the upper side of the front cover emphasizes that “Happily-ever-after isn’t as long as you thought”.

What if Cinderella isn’t in love with Prince Charming?

What if her fairy godmother is in prison, waiting for death?

What if the King and Queen aren’t as kind as she expected?

I love a story with a lot of “what ifs”, it shows that the author has simply refused to follow the usual pattern, and went beyond most people’s imagination. And for Cinders, I think the author is pretty sure of what she’s doing.

Cinderella—whose real name is Christina in this story, after a few weeks of her new life as a princess, felt unhappy living inside castle walls. She wasn’t used to servants do everything for her or to be escorted everywhere. As she is required to learn and to act as true royalty, she felt the weight of the crown in her head.

She wasn’t sure of her feelings to the Prince (his name in his book is Rowland) because she’s still haunted by her first love, a mysterious stranger she sees every now and then in her dreams. She wondered if Rowland’s love for her is true or was it just the spell.

When everything felt so wrong Cinderella took a dangerous chance to see her fairy godmother in prison, and the rendezvous lead her into unveiling the mystery of her dreams.

If I could reduce Cinders to one word, then I would say “interesting”. The story wasn’t really a bomb, but once again it is interesting to see how an author would create a whole new post-marriage life of Cinderella, and twisted with magical powers, creatures, psychological conflict and fragments of the kingdom’s political situation, these things make Cinders worth to give a try. And I am genuinely looking forward to what Ms. Argyle could do in her next work.
View all my reviews

Paperback, 182 pages
Published June 23rd 2010 by CreateSpace

[Review] Pesan Dalam Botol (Message In A Bottle)

Pesan dalam Botol (Message In A Bottle)Pesan dalam Botol by Nicholas Sparks

My rating: 2 of 5 stars

“Aku ada disini untuk mencintaimu, untuk memelukmu, untuk melindungimu.
Aku ada disini untuk belajar darimu dan untuk merasakan balasan cintamu.
Aku ada disini karena tak ada tempat lain bagiku.”

Itulah sepenggal dari isi surat dalam botol yang ditemukan Theresa Osborne saat joging pagi-pagi di pantai Cape Cod. Kata-kata yang dibacanya begitu menyentuh hati Theresa, yang hidupnya hampa sejak suaminya mengkhianatinya.

Surat itu ditulis oleh seorang lelaki, Garrett, kepada wanita cinta abadinya yang telah tiada, Catherine. Mengikuti keinginan hatinya dan atas saran sahabatnya, Deanna, Theresa pun mencari dan menemukan Garrett. Kemudian takdir pun membawa dua orang kesepian itu ke dalam sesuatu yang tak pernah mereka sangka sebelumnya…

###

Cerita Message in A Bottle sebetulnya biasa saja, dengan karakter-karakter yang tipikal untuk novel roman dan alur cerita yang tidak terlalu sulit ditebak. Saya pun sebetulnya bukan penggemar novel roman, namun karena penasaran dengan karya Nicholas Sparks dan merasa perlu untuk “menjelajah” buku dalam genre-genre yang belum pernah saya sentuh sebelumnya, akhirnya saya membaca buku ini.

Pelajaran berharga yang dapat diambil dari Message in A Bottle adalah, yang pertama, cinta saja tidak cukup, perlu ada pengorbanan dari masing-masing pihak agar hubungan tetap terpelihara. Garrett tinggal di North Carolina yang jauh dari tempat tinggal Theresa, yaitu di Boston. Garrett dan Theresa punya kehidupan mereka masing-masing; Garrett sangat mencintai laut dan profesinya sebagai instruktur selam, sementara Theresa juga punya karir yang bagus sebagai kolumnis surat kabar dan ia sudah terbiasa tinggal di kota dengan ritme yang cepat. Perlu pengorbanan dari salah satu pihak untuk pindah ke tempat pihak yang lain, bila mereka mau membawa cinta mereka ke tahap yang lebih serius.

Yang kedua, jangan hidup berpegangan pada masa lalu. Karena masa lalu adalah masa lalu. Kau tak bisa hidup pada masa kini dan memandang masa depan dengan penuh pengharapan, jika terus memandang ke masa lalu. Garrett mencintai Theresa, namun karena tak mampu mengenyahkan dan meninggalkan bayangan Catherine yang sudah tiada di belakangnya, akhirnya hubungan mereka pun kandas. Orang yang memiliki cinta sejati pasti ingin pasangannya bahagia, walaupun bersama orang lain dan bukan dirinya.

“Ini bukan ucapan selamat berpisah, kasihku. Ini adalah ucapan terima kasihku.
Terima kasih telah mencintaiku dan menerima cintaku.
Tapi terutama terima kasih telah menunjukkan padaku bahwa suatu saat nanti aku akan bisa merelakanmu.”

View all my reviews

Softcover, 409 pages
Published 1999 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1998)
Price : IDR 37.000

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers