Blog Archives

[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part 1

Untuk pertama kalinya, review satu buku saya jadikan dua bagian. Karena kebetulan buku ini adalah kumpulan cerpen, maka tidak ada salahnya bila saya membahas satu per satu cerpen yang ada di dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini. Enam cerpen pertama dari kedua belas cerpen yang ada dalam Petualangan Sherlock Holmes inilah yang akan saya bahas dalam review bagian pertama ini.

 1. Skandal di Bohemia (judul asli: A Scandal in Bohemia)

Cerpen Sherlock Holmes pertama yang pernah diterbitkan ini membuka perkenalan pertama saya dengan Sherlock Holmes dengan cukup mulus. Melalui kacamata Watson, saya tidak hanya jadi tahu tentang reputasi dan kebiasaan-kebiasaan Holmes, tetapi juga sosok wanita yang dikaguminya. Cukup pribadi untuk perkenalan pertama, bukan? Ya, sosok wanita istimewa itu adalah Irene Adler, mantan penyanyi opera, petualang asmara, dan seorang wanita yang luar biasa cantik. Ms. Adler terlibat hubungan rahasia dengan Raja Bohemia, dan sang raja yang akan menikah, menghendaki agar bukti-bukti hubungan gelapnya dengan wanita itu direnggut dari tangan Irene. Sang raja meminta bantuan detektif kita untuk menjalankan rencana ini dan… peristiwa ini merupakan satu-satunya peristiwa di mana Sherlock Holmes dikelabui oleh seorang wanita.

 2. Kasus Identitas (judul asli: A Case of Identity)

Suatu malam, apartemen Holmes di Baker Street kedatangan seorang wanita muda yang bingung, bernama Mary Sutherland. Miss Mary mengaku bahwa tunangannya, Mr. Hosmer Angel telah menghilang tepat di hari pernikahannya dengan Mary. Adapun Mary adalah seorang wanita muda yang berpenghasilan cukup, dan ayah tirinya (yang hanya lebih tua 5 tahun dari dirinya) menentang keras hubungannya dengan Mr. Angel, sehingga pernikahan diantara Mary dan Mr. Angel harus dilaksanakan secara diam-diam. Lalu sekarang ketika sang tunangan misterius itu menghilang, apa yang harus dilakukan Mary? Sherlock Holmes membongkar misteri ini dengan cukup mudah, tanpa “merenggut angan-angan indah dari seorang gadis”; sebagaimana yang dikutipnya dari seorang penyair Persia bernama Hafiz.

 3. Perkumpulan Orang Berambut Merah (judul asli: The Adventure of the Red-Headed League)

I wonder why Ron Weasley wasn’t in this story! Hahaha. Setiap kali membaca tentang orang berambut merah menyala, mau tak mau saya teringat akan Ron Weasley. Kebetulan pengarang yang menciptakan karakter Ron dan pengarang yang menulis cerpen ini berasal dari negara yang sama. Tokoh utama berambut merah dalam cerpen ini adalah Mr. Jabez Wilson, seorang pedagang paruh baya dengan penghasilan pas-pasan yang memiliki tempat usaha di salah satu sudut kumuh kota London. Suatu hari, ia mendengar tentang lowongan yang dipasang “Perkumpulan Orang Berambut Merah” yang mencari pegawai untuk melakukan pekerjaan ringan, namun dengan gaji yang cukup besar. Asisten Mr. Wilson, Vincent Spaulding, mendorong Mr. Wilson untuk melamar pekerjaan itu, dan benar saja, dengan sangat mudah ia diterima. Ia melakukan pekerjaan untuk Perkumpulan Orang Berambut Merah untuk beberapa minggu, dengan menyalin Encyclopedia Britannica. Betapa kagetnya ia ketika suatu hari perkumpulan itu dikabarkan bubar begitu saja. Memang, Mr. Wilson tidak rugi apa-apa, karena toh ia sudah mendapatkan penghasilan tambahan untuk beberapa minggu, dan tambahan pengetahuan dari hasil menyalin ensiklopedi, namun ia tidak rela pekerjaan bagus ini hilang begitu saja, dan Sherlock Holmes pun tertarik akan kasus yang aneh ini. Benar saja, memang ada “udang di balik batu” dari perkumpulan aneh ini, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh Mr. Wilson, atau orang-orang lain.

 4. Misteri di Boscombe Valley (judul asli: The Boscombe Valley Mystery)

Seorang petani yang tinggal di daerah pedesaan di Herefordshire terbunuh dengan tangan dingin, dan tersangka utama pembunuhan ini adalah putranya sendiri. Bagaimana mungkin? Sementara semua bukti dan kesaksian menunjuk kepada si pemuda, James McCarthy muda, dan vonis hampir pasti menyatakan bahwa ia bersalah; sementara itu Sherlock Holmes kembali menyusuri tempat kejadian perkara dan menemukan fakta-fakta kecil yang bisa jadi menunjukkan bahwa bukan si pemuda pelakunya… Cerpen yang satu ini menarik karena di sini kita bisa melihat bagaimana Conan Doyle memutarbalikkan asumsi para tokoh yang beranggapan bahwa James McCarthy pasti bersalah, ternyata malah sama sekali keliru.

 5. Lima Butir Biji Jeruk (judul asli: The Five Orange Pips)

Cerpen favorit saya dari enam cerpen pertama dalam Petualangan Sherlock Holmes. Kasus yang ditangani Holmes yang satu ini benar-benar aneh dan misterius. Tiga pembunuhan yang terjadi semuanya ditandai dengan datangnya amplop berisi lima butir biji jeruk yang sudah kering, dan tulisan K.K.K. berwarna merah di bagian dalam amplop. Anehnya lagi, kematian ketiga orang tersebut tampak seperti bunuh diri atau kecelakaan, padahal sesungguhnya adalah pembunuhan. Cerpen ini memuat sejarah singkat tentang perkumpulan Ku Klux Klan yang mempunyai reputasi dan agenda yang sadis dan mengerikan. Dan walaupun endingnya menggantung, cerpen yang satu ini cukup membuat saya penasaran dan tegang karena kisahnya, dan saya jadi ingin membaca lebih banyak tentang perkumpulan Ku Klux Klan yang membuat jantung terasa dingin itu.

 6. Pria Berbibir Miring (judul asli: The Man With the Twisted Lip)

Ketika hendak menjemput Isa Whitney, suami dari teman istrinya, Dr. Watson terkaget-kaget ketika menjumpai teman baiknya, Sherlock Holmes sedang berada di dalam pondok candu yang sama dengan Mr. Whitney. Ternyata Holmes sedang menyelidiki kasus di mana seorang pria, Neville St. Clair, dilaporkan belum pulang ke rumah selama dua hari. Namun, istrinya sempat melihatnya di atas atap pondok candu, namun kemudian menghilang begitu saja seperti ditarik seseorang dari belakang. Mereka hanya menemukan sebagian pakaian Mr. St. Clair dari hasil pemeriksaan di lantai atas pondok candu itu, sementara jasnya baru ditemukan belakangan. Seorang pengemis bernama Hugh Boone tinggal di lantai atas pondok candu itu, ia mempunyai bekas luka mengerikan pada wajahnya yang menyebabkan pinggiran bibir atasnya tertarik ke atas kalau wajahnya sedang bergerak-gerak. Bagaimana keterlibatan si pengemis dalam peristiwa hilangnya Mr. St. Clair? Lalu dimanakah pria itu sebenarnya?

***

Sejauh ini, kumcer Petualangan Sherlock Holmes layak diganjar tiga bintang. Beberapa cerpen memang agak datar dan membosankan, namun beberapa lainnya berhasil memukau saya dengan cara brilian Sherlock Holmes memecahkan kasus dan perhatiannya kepada detail-detail kecil yang dianggap orang tak penting. Seandainya saya bertemu dengan Sherlock Holmes saat review ini terbit, ia pasti akan memperhatikan lingkaran hitam dibawah kedua mata saya yang menunjukkan bahwa saya sering tidur larut malam dan jari telunjuk kanan saya yang kelihatan lebih berotot daripada jari-jari yang lain karena keseringan digunakan memencet-mencet mouse; tapi saya harus berhenti menulis sekarang.

Review ini diposting bersama-sama dengan beberapa BBI-ers dalam rangka merayakan HUT Sir Arthur Conan Doyle yang ke-153 (22 Mei 1859-22 Mei 2012)

Happy birthday, Sir Arthur Conan Doyle!

Dan sampai jumpa di bagian kedua review ini! ;)

Baca juga:
Mini biografi Sir Arthur Conan Doyle
Event Baca Klasik Mei 2012: Sherlock Quest
Sherlock Classics Quest Game

[Review] Pope Joan, Sang Paus Perempuan

Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?

Quis — siapa?

Namanya Joan. Dilahirkan tahun 814 Masehi di Ingelheim (sekarang di wilayah Jerman). Putri satu-satunya seorang kanon (semacam pendeta atau imam) dari Inggris dan istrinya yang orang Saxon. Punya dua kakak laki-laki, Matthew dan John. Dari kecil sudah menampakkan kecerdasan dan keingintahuan yang luar biasa. Joan menderita siksaan fisik dari ayahnya gara-gara hal itu, tapi toh ia tidak mau berhenti belajar.

Quid — apa?

Perjuangan Joan, yang dengan karunia kecerdasan yang dimilikinya, menolak kenyataan yang terjadi pada masa itu bahwa perempuan tidak diperbolehkan untuk membaca dan menulis, apalagi belajar dan menguasai berbagai ilmu sebagaimana kaum laki-laki. Ditengah-tengah busuknya politik Kepausan Katolik Roma, ancaman Kaisar Lothar dari kerajaan Frank, ancaman wabah yang merajalela, dan juga serangan bangsa Viking, Joan menapaki langkah demi langkah menuju tahta tertinggi dalam Katolik Roma – Paus.

Quomondo – bagaimana?

Di satu titik Joan membuat suatu keputusan besar yang mengubah seluruh hidupnya – ia menyamar sebagai seorang laki-laki, sehingga ia bisa mempelajari banyak hal – sesuatu yang mustahil dilakukan seorang perempuan pada abad kesembilan. Keteguhannya untuk terus menjalani hidup sebagai laki-laki hampir tergoyahkan ketika ia jatuh cinta pada Gerold, seorang count yang menjadi ayah angkatnya di Dorstadt. Namun toh Joan tetap teguh melakukan apa yang menjadi hasratnya sampai nafasnya yang terakhir.

Ubi – Di mana?

Mengawali dengan bersekolah di Dorstadt oleh rujukan dari guru pertamanya, Aesculapius, seorang Yunani. Setelah lolos dari serangan brutal bangsa Viking di Dorstadt, Joan melarikan diri ke pertapaan di Fulda di mana ia menyamar sebagai laki-laki untuk pertama kalinya. Kemudian, setelah menghabiskan bertahun-tahun di Fulda, sebuah wabah demam nyaris membongkar penyamarannya sehingga ia kabur, dan akhirnya pergi ke Roma, menjadi tabib pribadi Paus Sergius, dan pada waktunya—ia sendiri yang diangkat menjadi Paus.

Quando – kapan?

Keseluruhan kisah berlangsung pada tahun 814 hingga 855 Masehi, yang termasuk dalam era Abad Kegelapan. Joan memerintah sebagai Paus pada tahun 853 hingga 855. Setelah Joan meninggal, Katolik Roma dibawah tulisan Anastasius menghapuskannya dari Liber pontificalis, yaitu kronik resmi seluruh Paus yang pernah ada. Empat puluh tahun setelah kematiannya, Uskup Agung Arnaldo menyalin Liber pontificalis dan menambahkan bab mengenai Joan ke dalamnya, sehingga kebenaran tidak sepenuhnya hilang.

Cur – mengapa?

Mengapa Joan sampai memilih meninggalkan identitas keperempuanannya? Karena ia punya impian, dan hasratnya terhadap impian tersebut demikian besarnya sehingga pengorbanan demi pengorbanan yang ia lakukan dirasanya setimpal. Mengapa lalu ia bisa sampai di tahta tertinggi Katolik Roma? Karena Joan mampu. Karena perempuan mampu, karena perempuan bukanlah makhluk yang bodoh dan lemah. Karena perempuan sejajar dengan laki-laki.

***

Pope Joan adalah sebuah novel yang lengkap. Sejarah, politik, perjuangan perempuan, agama, perang, cinta, pengorbanan, kemunafikan, kebrutalan manusia; semua terkandung di dalamnya. Sang pengarang, Donna Woolfolk Cross, menghimpun kisah ini dengan apik, tokoh-tokohnya terasa nyata dan emosinya dapet. Apalagi dengan alur cepat yang tidak membuat bosan. Walau di beberapa bagian emang sadis sih, terutama pas serangan bangsa Viking itu. Pope Joan versi film (2009) kurang mengesankan walaupun dari segi cast secara fisik sudah pas, setting juga bagus, tapi emosinya kurang terasa.

Salut untuk pengarang yang menyelesaikan penulisan Pope Joan setelah melakukan riset selama tujuh tahun. Salut juga untuk F.X. Dono Sunardi sang penerjemah, karena menerjemahkan karya ini sudah pasti bukan pekerjaan gampang. Puasss banget melahap lebih dari 700 halaman novel ini, karena wawasan bertambah banyak, terutama tentang sejarah, seluk-beluk kepausan di Katolik Roma, dan beberapa kalimat dalam bahasa Latin… Juga bagian Catatan dari Pengarang sungguh-sungguh membantu dalam memahami kisah.

Saran saya bagi penerbit yang hendak menerbitkan novel serupa: akan lebih nyaman kalau ada glossary di bagian belakang buku, terutama sih tentang berbagai istilah dan jabatan keagamaan yang tidak familiar bagi saya sehingga membuat saya jadi cukup bingung. Kalau sebatas catatan kaki, kan, kalau ketemu lagi dengan kata “X’, saya sudah lupa catatan kakinya ada di halaman berapa, hehehe.

Jadi, apakah Paus Joan pernah ada? Setelah membaca buku ini rasanya saya percaya kalau beliau benar-benar pernah ada. Bagaimanapun, kisahnya menginspirasi para perempuan (dan juga laki-laki) untuk tidak menyerah dan berani berkorban dalam berusaha mencapai impian.
Go for it, no matter what it takes! Empat bintang bagi kisah perempuan hebat yang nyaris terlupakan ini.

Beberapa kutipan favorit:

“Jika ingin dapat bertahan di dunia ini, kau harus bersikap lebih sabar dengan mereka yang ada di atasmu.” – hal. 179

“Sungguh aneh apa yang terjadi pada hati manusia. Orang dapat saja terus hidup selama bertahun-tahun, terbiasa kehilangan, serta berdamai dengannya, tetapi kemudian, dalam sekejap saja, rasa sakit itu muncul kembali bersama rasa pedih dan perih seperti luka yang masih baru.” – hal. 495

“Kita akan tetap berdoa seakan-akan semuanya bergantung kepada Tuhan dan terus bekerja seolah-olah segalanya tergantung pada diri kita sendiri.” – hal. 573

“Terangnya harapan yang dipantikkan oleh para perempuan tersebut hanya serupa kelap-kelip cahaya kecil di samudra kegelapan, tetapi nyalanya tidak pernah sepenuhnya padam. Kesempatan selalu ada dan tersedia bagi kaum perempuan yang cukup kuat untuk bermimpi. Pope Joan adalah kisah dari salah satu pemimpi itu.” – hal. 732.

Catatan:Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?” tidak lain adalah 5W+1H (Who, what, when, where, why, how) yang konsep awalnya dirumuskan oleh filsuf Romawi Marcus Tullius Cicero (106-43 SM).

Links:

Pope Joan on Wikipedia
Pope Joan the Novel Official Site
Resensi Pope Joan di Kompasiana oleh Kornelius Ginting

Detail buku:
“Pope Joan”, oleh Donna Woolfolk Cross
736 halaman, diterbitkan Januari 2007 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] The Tale of Desperaux

This is a tale about a mouse, a princess, a king, some soup, a rat, a servant girl, a treacherous plan of revenge gone wrong. The story takes place in a castle, and the dungeon underneath the castle.

The mouse, Desperaux Tilling his name, was born as the last mouse to his parents and the only surviving one of his litter. Desperaux was born so small, with two huge ears, and with eyes open, staring directly to light. Instead of being so small and sickly, the strange little mouse lived. And he was nothing like other mice. He listened to music, he loved light, and he read pages of books instead of eating them.

“Reader, you must know that an interesting fate (sometimes involving rats, sometimes not) awaits almost everyone, mouse or man, who does not conform.”

Interesting fate it was. One day when Desperaux lifted up his head to listen to the sweet sweet music, the music brought him to encounter the king and his beloved daughter, the Princess Pea. The princess looked down at him and smiled to the little mouse. As ridiculous as it might be, Desperaux fell in love.

“Love is ridiculous. But love is also wonderful. And powerful. And Desperaux’s love for the princess would prove, in time, to be all these things: powerful, wonderful, and ridiculous.”

Desperaux’s little encounter with the king and the princess then brought him serious consequence: the Mouse Council decided to punish him with sending him to the dungeon. Dungeon means deep darkness. It also means rats. And rats never meant a good thing.

While we’re still talking about rats, there was one peculiar rat that lived in the dungeon. Unlike his rat brothers and sisters, Chiaroscuro, or Roscuro, loved being surrounded by light. He too, like Desperaux, had a little encounter with the king and the princess, only then he also meets the queen. His encounter with the royal family was followed with a tragedy, which caused the king to ban soup and all soup-related items like bowls and soup spoons. The look the princess Pea gave Roscuro broke his heart and made him desire revenge. A servant girl called Miggery Sow then helped the rat to execute his plan.

The princess was in danger. What will Desperaux do? Could it be that a little mouse, in spite of all circumstances, help the lovely princess and save her from harm? The answer to this question, dear reader, you must read in this remarkable book, winner of Newbery Medal 2004, The Tale of Desperaux.

***

I have always been a fan of Kate DiCamillo, whom I love for her extraordinary writing. Kate can make a simple story so beautiful with her brilliant choice of words. Her sentences flow like a song, and I’m not exaggerating. That’s what I felt when I read The Magician’s Elephant. The book broke my heart and I felt myself crying alongside the main character. Reading The Tale of Desperaux gave me a similar feeling, although it wasn’t as dark as The Magician’s Elephant. I’m really glad I bought a copy of this book in English and not the Indonesian translation, this time I can really succumb into Kate DiCamillo’s beautiful writing. This book also has nice illustrations by Timothy Basil Ering. Parents, you should read this to your kids, I’m sure they’ll love it. ;)

“Stories are light. Light is precious in a world so dark. Begin at the beginning. Tell Gregory a story. Make some light.”

P.S. : You can also read a post about the character Desperaux here (in Indonesian).

Book details:
“The Tale of Desperaux”, by Kate DiCamillo
272 pages Paperback, published 2008 by Candlewick Press
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] The Wind in the Willows

Ini cerita tentang empat sahabat, Moly si Tikus Tanah, Ratty si Tikus Air, Katak, dan Tuan Luak. Masing-masing memiliki karakter yang khas, Moly cenderung pemalu, Ratty ramah dan senang berkawan, Katak kaya dan suka menyombongkan diri, dan Tuan Luak yang pendiam dan misterius, namun bijaksana dan sangat peduli akan teman-temannya.

Cerita bergulir dari Tikus Tanah yang meninggalkan sarangnya untuk kemudian tinggal bersama Tikus Air di tepi sungai. Suatu hari di musim salju secara tidak sengaja mereka terdampar di pintu rumah Tuan Luak, yang awalnya terkesan waspada, namun kemudian mempersilakan mereka masuk dengan ramah dan menyuguhi mereka makanan yang hangat. Mereka pun bercakap-cakap tentang Katak yang ceroboh dan suka keasyikan dengan “mainan”nya, jika dulu ia tergila-gila dengan perahu, sejak mengalami kecelakaan ia memilih “bermain” dengan kereta gipsi. Suatu hari ia terpesona akan sebuah mobil balap mengilap yang dipanggil Tut-tut.

Lama-kelamaan Katak menjadi terobsesi terhadap Tut-tut si mobil balap sampai secara tidak sadar ia mencurinya! Katak pun dikejar polisi, dijebloskan ke penjara , melarikan diri dari penjara dengan bantuan anak perempuan sipir, dan melalui berbagai petualangan untuk sampai ke rumahnya yang megah, Puri Katak. Sementara itu, teman-temannya mulai kehabisan akal untuk menasihati si Katak. Mereka ingin Katak menjadi lebih bertanggung jawab dan tidak hanya menghabiskan hidupnya untuk bersenang-senang. Bisakah mereka mengubah pribadi si Katak yang keras kepala itu?

***

Kisah yang disebut-sebut penuh petualangan dan banyak menyimpan pesan moral ini ternyata tidak banyak menyentuh hati saya. Jika dibilang penuh petualangan, saya lebih condong memilih Manxmouse karya Paul Gallico yang tokoh-tokohnya juga dari dunia hewan. Pesan moral yang bisa saya ambil dari kisah ini adalah:

1. Rumah adalah tempat terbaik di dunia. Kamu bisa bertualang ke mana saja namun pada saatnya pasti kamu akan pulang ke rumah.

Berikut sepenggal kutipan dari halaman 57:

“Malam itu, Tikus Tanah – walau kelelahan – merasa gembira karena telah kembali ke rumah. Namun sebelum dipejamkan, ia membiarkan kedua matanya menjelajahi setiap sudut kamarnya yang lama. Tindakan yang amat sederhana, tapi sangat berarti. Ia tidak ingin mengabaikan kehidupan barunya. Dunia di atas sana terlalu menarik. Tempat itu memanggil-manggil ke dalam dirinya. Namun sungguh melegakan karena dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima.

Sungai adalah tempat bertualang.

Di sini adalah rumahnya.”

2. Jangan abaikan nasihat dari sahabat-sahabat yang peduli akan dirimu. Dengarkan mereka, apa yang mereka katakan mungkin mencegahmu masuk dalam kesulitan.

The Wind in the Willows terjemahan Indonesia yang diterbitkan Mahda Books ini, dengan fisik hardcover, font relatif besar, banyak ilustrasi, dan penerjemahan yang bagus oleh mbak Rini Nurul Badariah rasanya cocok untuk anak-anak yang baru menginjak bangku sekolah dasar.

Review buku ini dibuat dalam rangka merayakan HUT ke-153 Kenneth Grahame (8 Maret 1859 – 8 Maret 2012)
Happy birthday, mas Kenneth! :D

Detail buku:
“The Wind in the Willows”
, oleh Kenneth Grahame
134 halaman (HC), diterbitkan April 2010 oleh Mahda Books
My rating: ♥ ♥

[Review] And Then There Were None – Agatha Christie

Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.
Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima.
Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.
Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.

Itulah bunyi sajak anak-anak yang tergantung dalam bingkai krom di atas perapian di kamar Vera Claythorne di Pulau Negro. Ia baru saja sampai di pulau terpencil di seberang pantai Devon itu dengan sembilan orang lainnya, suami-istri pelayan Mr & Mrs Rogers, Mr Justice Wargrave seorang hakim, bekas tentara Philip Lombard, mantan polisi William Henry Blore, seorang wanita tua yang kaku Emily Brent, veteran perang Jenderal Macarthur, anak muda tampan Tony Marston, dan Dokter Armstrong. Mereka semua diundang secara misterius untuk berlibur di Pulau Negro oleh seorang Mr. Owen.

Mereka semua sedang menikmati makan malam yang enak ketika sesuatu yang sangat aneh terjadi. Kejadian itu diikuti oleh kematian salah seorang dari mereka karena tersedak minuman. Mereka jadi kacau dan ketakutan. Dari hasil pembicaraan, akhirnya terkuak dua nama yang menandatangani dua surat yang ditujukan kepada dua dari antara mereka. Dua nama itu adalah Mr. Ulick Norman Owen dan Mrs. Una Nancy Owen. Dua U.N.O. yang disimpulkan dengan ngeri oleh sang hakim sebagai UNKNOWN (tak dikenal)! Sementara itu, beberapa pria diantara mereka menyelidiki seluruh pulau dan mendapati bahwa tidak ada orang lain selain mereka bersepuluh (kalau semuanya masih hidup) di pulau itu. Mustahil pergi dari sana karena cuaca badai dan air pasang. Dan dengan waktu yang berjalan, pembunuhan terus terjadi, dengan sangat mengherankan, persis seperti sajak yang tergantung di kamar mereka masing-masing. Seorang pembunuh gila ada diantara mereka sementara mereka mati satu demi satu… Satu demi satu…

***

Beuuuuuhhhhh! Buku ini bikin jantungan! Megap-megap! Kejet-kejet! Ups, maaf saya jadi agak lebay. Ini buku Agatha Christie pertama yang saya baca. Sekaligus merupakan karya yang disebut-sebut sebagai salah satu karya terbaik beliau. Saya tidak akan banyak menghamburkan kata dalam review ini, hanya bahwa yang menjadi kunci mengapa buku ini bagus adalah KETEGANGAN luar biasa yang dibangun sang Queen of Crime dengan ciamiknya. Pembaca akan ikut bertanya-tanya bersama para tokoh, “Siapa? Siapa? Yang mana?” Dan satu hal yang sangat penting kalau anda mau membaca buku ini adalah: JANGAN buka halaman terakhirnya sebelum anda benar-benar sampai di sana. Serius. Dua rius, ding.

Nah, sekarang setelah detak jantung saya kembali normal dan saya bisa bernafas seperti biasa, ada yang mau menyarankan buku Agatha Christie mana yang selanjutnya perlu saya lahap?

The Queen of Crime

Sekilas tentang Agatha Christie

Sang Queen of Crime lahir di Torquay, Devon, Inggris, pada tanggal 15 September 1890. Ia adalah anak termuda dari tiga bersaudara, dengan beda usia sebelas tahun dengan kakaknya yang tertua dan sepuluh tahun dengan kakaknya yang kedua (believe it or not, ini SAMA PERSIS dengan saya!). Tempat kelahirannya di Devon menjadi setting dalam And Then There Were None. Ia dianugerahi gelar Dame Commander of the Order of the British Empire pada malam tahun baru 1971. Guinness Book of World Records mencatat rekornya sebagai best-selling novelist of all time, dengan jumlah kasar empat milyar kopi novel-novelnya yang terjual di seluruh dunia. Semasa hidupnya ia menghasilkan 66 novel dan 14 kumpulan cerita pendek bertema misteri, thriller, dan detektif; sangat terkenal terutama dengan seri Hercule Poirot dan seri Miss Marple. Ia juga menulis novel roman dengan pseudonym Mary Westmacott, skrip drama panggung West End, dan dua buah autobiografi. Dame Christie menghembuskan nafas terakhir pada 12 Januari 1976.

Detail buku:
“Lalu Semuanya Lenyap” (juga dikenal dengan judul “10 Anak Negro”; judul asli: “And Then There Were None”), oleh Agatha Christie
296 halaman, diterbitkan Februari 2011 (Cetakan ke-9) oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Mockingjay

*** SPOILER ALERT ***

DYSTOPIA.
Produk dari kekuatan imajinasi manusia yang setelah mencapai utopia, masih belum puas juga dan akhirnya mengoyak batasan-batasan akal sehat dan meraih impian yang liar dan gila dengan memutarbalikkan utopia.
Mengapa harus ada dystopia? Apakah karena manusia semakin lama semakin jahat? Atau karena kemanusiaan kita makin lama makin digerogoti teknologi? Apakah karena Bumi sudah semakin tua, lelah, rusak parah akibat perbuatan manusia?

Inilah dunia dystopia yang diciptakan Suzanne Collins melalui trilogi The Hunger Games. Collins mengubah wajah negara yang tadinya adalah Amerika menjadi Panem, negara dengan tiga belas distrik dibawah pemerintahan ibukota Capitol. Jika di dua buku pertama trilogi ini, The Hunger Games dan Catching Fire, pembaca banyak disuguhi aksi mendebarkan dalam permainan maut Hunger Games dan Quarter Quell, maka Mockingjay sebagai sekuel penutup tidak kalah banyak menyimpan aksi. Namun sayangnya aksi yang dimiliki Mockingjay cenderung dingin dan tak berperasaan. Cerita masih berpusat pada Katniss Everdeen, pemenang dari Distrik Dua Belas, yang kali ini dielu-elukan sebagai simbol pemberontakan, sang Mockingjay. Setelah diloloskan dari Quarter Quell oleh kelompok pemberontak dari Distrik Tiga Belas yang sebelum ini diyakininya sudah musnah, setelah memulihkan keadaan fisiknya Katniss menjalani sesi-sesi latihan dalam kota bawah tanah di Distrik Tiga Belas untuk menjadikannya seorang pejuang. Pemberontak. Prajurit Everdeen.

Distrik Tiga Belas sungguh aneh. Semua orang berpakaian sama, berwarna abu-abu membosankan. Ada jadwal yang ditato di tanganmu yang memberitahumu apa saja yang akan (dan harus) kau lakukan hari ini. Makanan dijatah dan diberikan tanpa variasi, jangan harap bisa makan enak disini. Sama sekali tidak ada hiburan. Semua orang terkungkung di bawah tanah, yang mana beberapa orang tidak bisa menyukainya, termasuk Katniss yang suka berburu di hutan. Dan Tiga Belas memiliki Presiden Coin, pemimpin wanita yang penuh perhitungan, namun sebenarnya tidak kalah kejam dari Presiden Snow.

Siapakah Katniss dalam Mockingjay? Rasanya kok nggak jelas. Meskipun dialah simbol pemberontakan, dan apapun yang ia lakukan berdampak kepada Capitol dan seluruh Panem. Katniss sudah amat lelah secara fisik dan mental setelah melalui Hunger Games dan Quarter Quell, ditambah dengan kehilangan orang-orang yang dicintainya, dan dalam Mockingjay bebannya menjadi semakin berat karena setiap perbuatannya memiliki konsekuensi bahwa ada yang akan dihukum, entah orang itu dekat dengannya atau tidak. Si gadis yang terbakar jadi melempem dalam buku final ini.

Peeta berubah 180 derajat. Ia ditahan dan disiksa sedemikian rupa oleh Capitol, dan kemudian para pemberontak berhasil menculiknya dan membawanya ke Tiga Belas, hanya untuk menghadapi anak lelaki yang telah kacau pikirannya. Peeta telah dibajak. Dicuci otak. Segala kenangan masa lalunya, terutama yang berhubungan dengan Katniss, diobrak-abrik dengan racun tawon penjejak. Peeta yang baru ini melihat Katniss sebagai mutt (makhluk buas ciptaan Capitol), dan bernafsu membunuhnya.

Katniss depresi. Stres. Menderita gangguan mental. Namun sementara itu ia terus berperang bersama para pemberontak, merebut distrik-distrik. Seakan luka-luka yang dideritanya belum cukup banyak saja. Katniss menjadi boneka Coin, sang Mockingjay yang menyulutkan api pemberontakan ke seluruh distrik. Namun ia belum mengetahui, bahwa Coin punya rencana lain terkait dengan dirinya. Katniss punya satu tujuan yang menguasai benaknya, yaitu membunuh Presiden Snow dengan tangannya sendiri. Gale selalu ada disampingnya selama perjuangan, namun juga ada Peeta dengan pikirannya yang kacau. Di saat-saat paling tak memungkinkan inilah, Katniss akhirnya bisa menentukan perasaannya ditujukan kepada siapa. Tapi percuma saja ia memilih, karena ia tahu dirinya, Peeta, Gale, beserta semua orang lain yang terlibat perjuangan, tidak ditakdirkan untuk tetap hidup.

Kejam, dingin, brutal, sadis, melelahkan. Itulah Mockingjay. Penutup trilogi Hunger Games yang fenomenal ini jujur saja tidak memenuhi ekspektasi saya. Akhir dari perang di Capitol malah jadi antiklimaks. Penulis tidak menjabarkan banyak tentang perkembangan hubungan Katniss-Peeta, walaupun sudah membukanya dengan menarik dengan membuat ingatan Peeta kacau. Endingnya menguap begitu saja, walaupun epilognya cukup manis. Sang Mockingjay melakukan penerbangan terakhirnya dengan kelelahan luar biasa, dengan kondisi fisik dan mental yang sudah luluh lantak. Kemudian ia kandas begitu saja di tanah. Pada akhirnya, saya memberi 3 bintang buat Mockingjay, karena penulisan Collins masih mengagumkan dengan segala detailnya.

Dialog penutup Katniss-Peeta tidak akan mudah dilupakan.

“You love me. Real or not real?”
I tell him, “Real.”

Hanya tinggal satu pertanyaan tersisa buat kita renungkan.
Akankah suatu saat nanti, di saat dunia sudah sedemikian rusaknya dan tak bisa dikendalikan lagi, dystopia versi Collins menjadi nyata?

Detail buku:
“Mockingjay” (The Hunger Games, #3), oleh Suzanne Collins
432 halaman, diterbitkan 12 Januari 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] City of Thieves, Kota Para Pencuri

Sepotong peristiwa yang menjadi bagian sejarah Perang Dunia II (1939-1945) adalah pengepungan kota Leningrad (sekarang dikenal dengan nama St. Petersburg) di Rusia yang dilakukan oleh Jerman, berlangsung selama kurang lebih 900 hari, dari tanggal 8 September 1941 hingga 8 Januari 1944. Pengepungan ini merupakan pengepungan terbesar dan paling berdarah dalam sejarah, menewaskan lebih dari 1 juta orang. Pihak Jerman menyebutnya Operation Nordlicht (Operasi Cahaya Utara).

Peristiwa sejarah inilah yang menjadi latar belakang cerita dalam novel Kota Para Pencuri (City of Thieves). Namun jangan bayangkan City of Thieves sebagai sebuah novel yang serius dan melankolis. Sang penulis, David Benioff, yang sejatinya adalah seorang penulis skenario film, mengambil sisi petualangan yang dialami tokoh-tokoh utama di tengah-tengah gejolak perang.

Pengeboman di kota Leningrad, gambar dari http://planetcoh.gamespy.com/

Benioff bercerita tentang sang ayah, yang konon telah membunuh dua orang Jerman sebelum ia berusia delapan belas tahun. Suatu hari sang ayah membeberkan segala ceritanya kepada Benioff, mengenai apa yang dialaminya semasa perang.

Adalah Lev, seorang pemuda Yahudi 17 tahun bertubuh pendek yang tinggal di apartemen yang dinamai Kirov, di salah satu sudut kota Leningrad. Ayah Lev yang seorang penyair  telah tewas di tangan Jerman, sementara ibu dan adik perempuannya mengungsi ke Moskwa. Tinggallah Lev dan teman-teman seapartemennya, anak-anak Piter (sebutan penduduk St. Petersburg bagi kota mereka) yang bangga, ikut berjuang mempertahankan kota.

Pada suatu malam yang membeku sesudah tahun baru, mayat seorang prajurit Jerman yang mati kedinginan melayang turun dengan parasutnya di atap Kirov. Lev mengambil pisau milik si prajurit, sementara teman-temannya mengambili barang-barang milik si prajurit yang lain. Siapa sangka lewat kejadian itu Lev akhirnya tertangkap oleh NKVD dan dijebloskan ke penjara Kresty. Di Kresty, Lev yang mengira bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, bertemu dengan Kolya, seorang prajurit Rusia berumur awal dua puluhan yang punya ketampanan khas ras Arya: rambut berwarna jerami, mata biru, tubuh tinggi dan gagah. Kolya dijebloskan ke Kresty dengan tuduhan sebagai desertir. Tak disangka, mereka berdua malah dipertemukan dengan seorang kolonel tua yang akan melangsungkan pernikahan anak perempuannya dalam sepekan kedepan. Lev dan Kolya dibebankan suatu misi yang kedengarannya konyol namun taruhannya nyawa: mereka harus mencari selusin telur untuk kue pernikahan anak perempuan sang kolonel dalam waktu satu minggu!

Dari sini banyak petualangan yang dialami Lev dan Kolya, dan kebanyakan nyawa mereka hampir melayang dalam petualangan yang mereka jalani untuk mencari selusin telur. Saya tidak akan membocorkan apa saja yang mereka alami, anda harus membacanya sendiri :-p. Berhasilkah mereka memenuhi misi gila yang dipercayakan sang kolonel kepada mereka?

Satu hal yang tertanam di benak saya ketika membaca buku ini adalah: saya sungguh-sungguh bersyukur bahwa saya tidak hidup di tengah-tengah situasi perang. Benioff menggambarkan situasi yang terjadi saat itu dengan blak-blakan dan sangat riil, kekejaman dan kebrutalannya terasa banget, namun di saat yang sama juga menyorot hal-hal yang agak vulgar namun sangat manusiawi. Misalnya, Lev yang nggak pede tapi sangat penasaran dengan makhluk bernama cewek. Kolya, di sisi lain, adalah karakter yang suka omong besar, nekat, dan sebenarnya seorang maniak seks. Sangat menarik mengikuti perkembangan hubungan antara Lev dan Kolya, yang mana awalnya Lev sangat sebal dengan Kolya namun lama-lama mereka pun bersahabat.

Beberapa hal menarik yang saya temukan dalam buku ini:

Di halaman 104:

“Anak itu menjual sesuatu yg dijuluki orang permen perpustakaan. Cara membuatnya adalah dengan menghancurkan sampul buku, mengelupaskan lem perekatnya, lalu merebus, dan mencetaknya menjadi potongan-potongan yang selanjutnya dibungkus dlm kertas. Rasanya seperti lilin, tapi lem yang terkandung di dalamnya mengandung protein yg membuatmu tetap hidup. Sementara itu buku-buku di kota menghilang seperti burung dara.”

Baru tahu kan ada yang namanya permen perpustakaan? Saking sengsaranya orang-orang yang hidup di masa dan di tempat yang sedang terjadi peperangan, mereka sehari-hari hanya makan bawang dan roti yang sangat keras. Mereka menjadi sangat kurus dan banyak yang mati akibat kelaparan dan kedinginan (musim dingin di Rusia bisa mencapai titik suhu minus 30 derajat Celcius!) Jangankan telur dan daging, ”permen perpustakaan” ini merupakan hidangan yang cukup mewah bagi mereka! :-S

Di halaman 202:

“Tapi tak ada Elba untuk Hitler!”

Pulau Elba di Italia adalah tempat dimana Napoleon Bonaparte pernah dibuang. Ini kejutan yang saya suka dalam sebuah novel fiksi sejarah. I just love how the author can connect to another historical event. ;)

Just a warning: City of Thieves adalah novel dewasa. Saya tidak menyarankan siapapun yang berumur di bawah 18 tahun untuk membacanya.

Secara keseluruhan, saya sangat suka buku ini! Terima kasih sekali lagi buat Secret Santaku, Ally, yang sudah menghadiahkan buku ini! *peluk* :)

Detail buku:
“Kota Para Pencuri” (judul asli: “City of Thieves”, oleh David Benioff
490 halaman, diterbitkan Agustus 2010 oleh Penerbit Ufuk Press
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Rumah Tangga yang Bahagia oleh Leo Tolstoy

Baru-baru ini saya menemukan sebuah kutipan menarik dari akun @ihatequotes di Twitter. Jika diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia kira-kira artinya, “Sebuah hubungan yang baik mampu mengeluarkan yang terbaik dari dirimu, menerima yang terburuk dari dirimu, dan lebih lagi mendekatkan Tuhan padamu.”

Mungkin itulah yang dirasakan Marya Alexandrovna atau Masha, seorang gadis yatim piatu 17 tahun, terhadap sosok Sergei Mikhailich, yang adalah teman baik ayahnya sekaligus pelindung bagi Masha dan adiknya, Sonya. Mendung yang meliputi hati Masha ketika satu persatu ayah dan ibunya meninggal dunia perlahan-lahan terkikis oleh kepribadian Sergei Mikhailich yang selalu riang, jujur dan bersahaja. Sergei Mikhailich boleh berusia 36 tahun, namun yang dilihat Masha dalam senyumnya dan matanya yang berseri-seri tak ubahnya kanak-kanak berusia 10 tahun. Walau sebelumnya ia berperan seperti seorang ayah yang bijak bagi Masha, kini Sergei Mikhailich mengajari Masha yang masih belia sedemikian rupa, sehingga Masha bisa menjadi seseorang yang setaraf dengannya, dan hal ini sangat dihargai oleh Masha. Salahkah Masha bila ia jatuh cinta pada pria yang usianya jauh lebih tua darinya? Tak salah lagi, dalam sorot mata dan segala tindak tanduk Sergei Mikhailich, Masha dapat melihat bahwa pria itu juga mencintainya, hanya saja ia sepertinya sulit mengatakannya pada Masha.


“Tetapi mengapa ia tak lantas saja mengatakan cintanya padaku?” Aku merasa heran. “Mengapa dia merasa sulit dan merasa dirinya telah tua, sedangkan semua itu begitu mudah dan indah? Mengapa saat-saat yang segemilang ini dikatakannya telah berlalu dan tak ‘kan kembali?

Suruhlah ia mengatakan ‘aku cinta padamu!’ Suruhlah ia mengucapkannya dalam kata-kata. Suruhlah ia meraih tanganku dalam genggamannya, suruhlah kepalanya merunduk dan berkata ‘aku cinta padamu’. Suruhlah ia tersipu-sipu dan menundukkan kepalanya di hadapanku, dan biarlah kukatakan semuanya. Atau tidak, tak ‘kan kukatakan sepatah kata pun jua — akan kulilitkan lenganku dan kudekapkan badanku padanya dan menangis.”

Singkat cerita, seperti yang jelas tersirat pada judul buku, Masha dan Sergei Mikhailich menikah. Namun disinilah, tantangan yang sesungguhnya dimulai. Bagaimana Sergei Mikhailich, seorang pria yang sudah mapan dan sangat menikmati kehidupan pedesaan yang tenang, menghadapi gelora jiwa masa muda Masha yang jemu akan ketenangan dan mendambakan kegemparan, kehidupan yang hiruk pikuk, dan pergaulan yang penuh hasrat duniawi di kota? Bagaimanakah mereka akan mewujudkan apa yang dinamakan rumah tangga yang bahagia?

Kisah yang sebetulnya sederhana, namun terasa luar biasa indah akibat penceritaan yang kuat. Inilah yang menurut saya menjadi kekuatan karya-karya Leo Tolstoy, yang mana tidak semua penulis mampu melakukannya. Penerjemahan oleh Dodong Djiwapradja yang ‘nyastra’ sekali juga ternyata masih bisa dinikmati oleh saya yang tidak begitu terbiasa dengan gaya bahasa demikian, dan malah saya rasakan semakin menambah keindahan cerita.

Dalam Rumah Tangga yang Bahagia, Tolstoy berusaha menyampaikan bahwa kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah hidup untuk orang lain. Dalam hal rumah tangga, ini tentu berarti pengorbanan masing-masing pihak atas kepentingan diri sendiri, dan hidup bagi suami atau istrinya serta anak-anak mereka. Namun seringkali sifat manusia yang egois lebih dominan sehingga seseorang tak mau berkorban dan akhirnya terjadi konflik dalam rumah tangga, atau pengorbanan tidak terjadi timbal-balik sehingga rumah tangga menjadi timpang. Tolstoy juga menyampaikan bahwa, “Setiap waktu punya bentuk cintanya sendiri-sendiri”. Cinta yang dirasakan sepasang suami istri ketika baru saja menikah dan beberapa tahun setelah itu mungkin berbeda, tapi cinta itu tidak binasa, hanya berubah saja bentuknya. Dan sebetulnya salah satu hal sederhana namun penting untuk menjadi bahagia malah sering kita lupakan, yaitu puas dengan keberadaan pasangan kita, dan puas dengan segala sesuatu yang kita miliki. Pertanyaannya sekarang, mampukah kita hidup seperti itu?


“Satu-satunya kebahagiaan dalam hidup ini ialah hidup untuk orang lain. Aku yakin bahwa kami bersama-sama akan hidup rukun dan bahagia untuk selama-lamanya. Aku tidak melamunkan pergi ke luar negeri, juga tidak memimpikan kemewahan, melainkan hidup yang sama sekali lain hidup rumah tangga yang damai di pedalaman, hidup yang tak henti-hentinya berkorban dan cinta mencintai antara satu dengan lainnya, yang bersamaan dengan itu senantiasa menyadari akan adanya rahmat Tuhan yang Pengasih dan Penyayang dalam menghadapi segala yang bakal tiba.”

Resensi buku ini ditulis dalam rangka #SavePustakaJaya sekaligus baca bareng Blogger Buku Indonesia bulan November 2011. Lebih lanjut tentang Pustaka Jaya klik link ini : Demi Pustaka Jaya

Detail buku:

“Rumah Tangga yang Bahagia” oleh Leo Tolstoy
168 halaman, diterbitkan tahun 2008 oleh Pustaka Jaya
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Letters to Sam: Kumpulan Surat Cinta Kakek kepada Cucunya

Tak ada gunanya hidup jika anda tak menyadari sepenuhnya bahwa anda adalah seorang manusia yang manusiawi — yang penuh dengan kelemahan.

Namun bahkan di dalam kelemahan, manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk menguatkan sesamanya. Yang menjadi masalah bukanlah bagaimana menghilangkan kelemahan itu, namun bagaimana mentransformasi kelemahan menjadi suatu bentuk kekuatan, yang bisa menolong diri sendiri dan bahkan orang lain. Dan langkah pertama yang perlu dilakukan supaya hal ini terjadi, adalah mengubah cara berpikir kita terhadap diri sendiri dan terhadap kehidupan.


Letters to Sam
merupakan 217 halaman surat cinta dari seorang manusia lemah kepada manusia lemah lainnya, yakni seorang kakek yang menderita kelumpuhan kepada cucunya yang mengidap autisme. Sang kakek, yang adalah seorang psikolog dan terapis keluarga yang telah menangani ratusan pasien sepanjang hidupnya, menuturkan berbagai nasihat, pandangan, pengalaman, dan filosofi bagi Sam, cucu tercintanya, dengan harapan bahwa suatu hari nanti Sam akan mampu membaca surat-surat ini dan memahami apa yang disampaikan kakeknya padanya.

Buku ini terbagi menjadi enam bagian. Di bagian pertama sang kakek menulis surat untuk menyambut hadirnya cucunya di dunia ini. Pada bagian-bagian selanjutnya, ia akan bercerita banyak hal mengenai keluarga, hubungan, tubuh, pikiran, dan jiwa, masa depan dan harapan, mengenai tempatmu di dunia, dan ditutup dengan salam perpisahan. Bagi saya, buku ini membuka jalan untuk perenungan pribadi, apa artinya menjadi manusia; sebanyak apa cinta yang telah saya berikan bagi orang lain sepanjang hidup saya.

Namun demikian, berbagai nasihat, pandangan, dan filosofi yang terkandung dalam buku ini, bagaimanapun baik kedengarannya, tidaklah untuk ditelan mentah-mentah. Kita perlu ingat bahwa buku ini adalah kumpulan surat-surat yang ditulis oleh seseorang yang memiliki keterbatasan, kepada seorang lain yang juga memiliki keterbatasan, sehingga notabene hidup mereka berbeda dengan hidup yang dijalani kebanyakan orang. Hal ini saya jumpai dalam surat yang berjudul “Berikan kesempatan untuk berbuat baik”. Dalam surat ini sang kakek menunjukkan bahwa kebaikan manusia seringkali muncul ketika mereka melihat kerapuhan dan kelemahan dalam diri sesamanya. Hal ini tentu saja benar. Namun mari kita cermati penggalan di bawah ini,


“Terkadang, keadaan memaksa kita untuk berpura-pura kuat dan berani, padahal sebenarnya kita merasakan sebaliknya. Tapi itu jarang sekali. Pada umumnya, akan lebih baik kalau kita tak usah berpura-pura berani padahal merasa takut. Aku percaya, dunia akan menjadi tempat yang lebih aman kalau setiap orang yang merasa lemah menggunakan flasher dan berkata, ‘Aku punya masalah. Aku lemah dan sedang berusaha semaksimal mungkin’.”
(hal. 58)

Saya setuju dan tidak setuju terhadap penggalan di atas. Di satu sisi, pada dasarnya bersikap apa adanya — berlaku A ketika kita merasakan A dan berkata B ketika kita merasakan B, adalah sesuatu yang baik. Namun kalimat terakhir berpotensi menimbulkan dampak yang negatif bagi beberapa orang, yang mungkin, suka ‘obral kelemahan’. Pandangan ini seakan-akan mengesahkan bahwa oke-oke saja jika anda berkata kepada orang lain, “I’m weak” dalam banyak kesempatan. Pada akhirnya, orang yang terus menerus berkata kepada dirinya dan orang lain bahwa saya lemah, akan terus menuntut untuk menerima bantuan, dan tidak akan mampu berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Ini suatu hal yang buruk, jika yang mengalaminya seseorang yang tidak memiliki keterbatasan sebagaimana Dr Gottlieb atau Sam.

Kemudian kalimat ini :

“Hanya dengan menerima, hanya dengan berhenti melawan, aku menemukan kedamaian.” (hal 76)

Entah karena sudah natur saya bahwa saya seorang fighter yang terus memperjuangkan berbagai hal dalam hidup, saya tidak setuju dengan ungkapan ini. Selama masih ada harapan, saya tidak mau berhenti berjuang, meskipun itu berarti melawan banyak hal atau banyak orang. Namun jika perjuangan itu buntu dan tidak membuahkan hasil, itu bisa berarti memang sudah saatnya berhenti melawan.

Di dalam buku ini juga Daniel Gottlieb memasukkan berbagai kebijaksanaan dari beberapa keyakinan yang berbeda-beda, mulai dari Yahudi, Kristen, sufi, sampai Buddha. Saya pribadi kurang suka jika seseorang membawa berbagai elemen keyakinan dalam dirinya. Kalau sekedar mempelajari, okelah, namun jika anda hidup ditengah-tengah bermacam-macam filosofi dan lebih parah lagi, mengajarkannya kepada orang lain, maka siapakah sebenarnya anda? Jika anda seorang Kristen, jadilah sepenuhnya Kristen, jika anda muslim, jadilah sepenuhnya muslim, jika anda penganut Buddha, jadilah sepenuhnya orang Buddha. Tentu saja dengan tidak mengabaikan cinta kepada sesama manusia, tanpa pandang bulu. Tetapkan apakah anda panas atau dingin, jangan mengambil tempat di tengah-tengahnya karena ini sangat berbahaya!

Terlepas dari hal-hal diatas, buku ini menyimpan banyak nilai-nilai berharga yang dapat dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan:

1. Cinta mengubah segalanya. Memberikan cinta jauh lebih penting daripada menerimanya.

2. Seorang yang punya keterbatasan seperti seorang tunadaksa pun mampu memberi, mampu melakukan sesuatu yang berharga bagi orang lain.

3. Labelling atau pengelompokan terhadap manusia sangatlah berbahaya. Kita tidak pernah tahu dampak psikologis sebuah label bagi seseorang yang kita panggil “si cacat”, “si bodoh”, “si autis”, dan sebagainya. Yang perlu kita lakukan adalah menerima seorang manusia sebagaimana adanya, karena apapun yang terjadi dengan tubuh atau pikirannya, jiwanya tetap utuh.

4. Tubuh kita mempunyai sistem yang mampu menyembuhkan luka fisik dengan sendirinya. Demikian juga luka emosional, semua yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka tersebut sebenarnya sudah ada dalam diri kita. Tidak perlu menuntut supaya luka itu sembuh dengan cepat, karena sudah pasti diperlukan waktu dalam proses penyembuhan. Dan diperlukan keyakinan bahwa kelak rasa sakit itu akan pergi. Seseorang yang sakit lebih membutuhkan seseorang yang bersedia duduk bersamanya, hanya menemaninya dan mendengarkannya, tanpa melontarkan berbagai nasihat atau saran terkait penyakitnya.

5. Kadang-kadang seorang manusia dapat mencapai suatu titik penting dalam hidupnya — justru ketika ia sendirian, tidak punya siapa-siapa.

“Masa itu menjadi sebagian dari tahun-tahun terpenting dalam hidupku. Aku tinggal sendirian. Aku tak punya teman. Namun, aku berhasil meningkatkan keahlian akademisku. Aku sendiri terkejut dengan daya tahan yang kumiliki. Aku juga mendapati diriku mampu bertoleransi dengan kesunyian. Perjalananku yang sesungguhnya dimulai di sana — dalam kesunyian.” (hal 121)

Saya mengenal seseorang yang boleh dibilang hampir tak punya teman. Ia lebih memilih kesendirian daripada hangout dan membiarkan diri dikelilingi banyak teman. Awalnya saya berseru padanya, “Bagaimana mungkin kamu hidup seperti itu?”
Namun sekarang, semakin lama saya mengenal dia, saya jadi mengerti bahwa mungkin keadaan seperti itu yang paling baik baginya, dan bahwa dalam kesendirian ia bergaul erat dengan Tuhan, dan hasilnya Tuhan mengaruniakan dia kebijaksanaan yang jauh melampaui usia fisiknya.

6. Seorang anak membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan dia. Ketika seorang anak menjadi korban bullying, misalnya (diterjemahkan menjadi ‘penggencetan’), hal yang lebih dihargai oleh seorang anak adalah jika orang tuanya mau mendengarkan dan bertindak dengan kepala dingin, sehingga akhirnya tindakan tersebut tidak berakibat buruk kepada si anak, daripada langsung mengkonfrontasi si pelaku bullying atau pihak sekolah.

7. Saat orangtua tak berhenti mengkhawatirkan anaknya, sebenarnya si anak juga khawatir tentang orangtuanya. Terkadang cara terbaik bagi orangtua untuk menjaga anak-anak adalah dengan menjaga diri mereka sendiri (hal 141).

8. Kebahagiaan bukan terletak pada uang, kesuksesan, atau pencapaian-pencapaian lainnya. Seringkali orangtua tidak memahami hal ini dan secara tidak sadar menuntut anaknya untuk meraih pencapaian-pencapaian sampai tingkat tertentu. Ketika hal itu tidak tercapai, anak akan merasa tidak aman dan tidak cukup dicintai oleh orangtuanya. Ketika hal itu tercapai, apa sesungguhnya yang dirasakan oleh jiwa anak tersebut?

“Rasa aman yang sebenarnya hanya datang saat kita merasa nyaman dengan diri kita yang sesungguhnya (dan perasaan ini akan meningkat ketika kita memiliki sebuah hubungan yang ada rasa saling mencintai dan memahami). Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah efek samping dari kehidupan yang kita jalani dengan baik.”

“‘Tugas anda sekarang,’ kataku kepada para orangtua, ‘adalah menikmati keuntungan, menoleransi kegagalan mereka, memiliki keyakinan atas daya tahan mereka, dan jangan pernah memberikan nasihat jika tidak diminta.’ (Ketika aku mengatakan ini, aku mendapatkan tepuk tangan bergemuruh dari anak-anak mereka.)” (hal. 156)

9. Kita harus mengalami kematian supaya kita lebih menghargai hidup yang kita miliki.

“Kematian bukanlah musuh. Mengetahui bahwa hidupmu telah mencapai titik akhir akan membantumu menghargai setiap momen yang kau lalui dalam hidup. Kematian membuatmu memahami hadiah berharga yang diberikan kehidupan itu sendiri.” (hal 187)

10. Just live your life as it is.

“Banyak dari kita menderita karena mencoba menjalani kehidupan yang pernah kita miliki atau kehidupan yang kita dambakan. Kau mengingatkanku hari itu bahwa hidup terasa sangat manis ketika kita menjalani kehidupan yang kita miliki.” (hal 202)

Dan saya sangat suka dengan puisi Jalaluddin Rumi berjudul Guest House yang diselipkan oleh Gottlieb di akhir buku.

“Be grateful for whoever comes, because each has been sent as a guide from beyond.”

Tiga bintang saya persembahkan untuk kumpulan surat cinta seorang kakek kepada cucunya ini. Terjemahannya digarap oleh Windy Ariestanty dengan sangat baik, walaupun masih bertabur typo di beberapa tempat :( dan tampilan fisik buku benar-benar cakep khas penerbit Gagas Media ;)
Pesan saya, bacalah buku ini dengan hati dan pikiran lapang dan terbuka, jangan langsung melahap mentah-mentah kalimat-kalimat di dalamnya. Saringlah filosofi yang mana yang sesuai dengan keyakinan pribadi anda dan yang mana yang bukan, karena paling baik jika seseorang benar-benar yakin akan sesuatu dalam hatinya sendiri.

Detail buku:
“Letters to Sam” oleh Daniel Gottlieb
217 halaman, diterbitkan Juli 2011 oleh Gagas Media
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] The Count of Monte Cristo: Balas Dendam Anggun sang Count


My emotions will flow with hatred,
And death you will meet,
Through this day of reckoning I have realized,
Revenge through success is sweet.

- “Sweet Revenge” by Matt Pike, © 2005

Sumber: dari sini

Balas dendam itu manis? Hmmmm, dalam cerita yang dituturkan Alexandre Dumas ini, balas dendam yang dilakukan sang tokoh utama tak selamanya manis, dan orang yang melakukan balas dendam tak selamanya jahat. Agak bingung dengan pernyataan saya? Mari simak alur ceritanya di bawah ini…

Muda, tampan, sukses, dan akan segera menikah dengan wanita pujaannya, begitulah keadaan Edmond Dantes si pelaut muda yang bekerja sebagai kelasi pertama di kapal Pharaon milik Monsieur Morrel. Kematian Kapten Leclere dalam perjalanan menuju Marseilles memberikan keuntungan bagi Dantes, dia dipromosikan menjadi kapten kapal Pharaon yg baru.

Kemujuran yang dialami Dantes rupaya membuat iri ketiga rekannya, yang pertama adalah Danglars si kepala keuangan Monsieur Morrel, kemudian Caderousse tetangga Dantes, kemudian Fernand, pemuda yang cinta mati kepada Mercedes, tunangan Dantes. Dengan memanfaatkan mandat terakhir Kapten Leclere kepada Dantes, yaitu mengantarkan sebuah paket ke Pulau Elba, mereka bertiga menjegal Dantes dengan menuduhnya seorang agen Bonapartis yang berbahaya. Sesaat sebelum pesta pertunangannya, Dantes ditangkap dan dibawa ke hadapan penuntut umum yang bernama Monsieur Villefort. Malang bagi Dantes, sang penuntut umum memanfaatkan tuduhan yang dialamatkan ke Dantes untuk kepentingannya sendiri, sehingga tak ayal lagi, Dantes dijebloskan ke dalam penjara.

Dalam sekejap, segala yang berharga dalam hidup Dantes pun lenyap. Ia dibawa ke suatu rutan yang berdiri di atas batu karang hitam terjal dan terpencil bernama Chateau d’If, meninggalkan seorang ayah yang renta dan miskin, serta seorang tunangan yang putus asa.

Hari-hari Dantes sebagai seorang narapidana dihabiskan dalam sel bawah tanah yang gelap. Keadaan itu membuatnya putus asa dan nyaris memutuskan untuk bunuh diri, sampai suatu hari terdengar suara aneh dari balik dinding selnya. Ternyata itu adalah Abbe Faria, seorang pastor yang dianggap gila, yang telah berusaha meloloskan diri dari penjara selama beberapa tahun. Dari Abbe Faria jugalah, Dantes mengetahui keberadaan Pulau Monte Cristo, yang konon menyimpan harta karun berlimpah. Abbe Faria meninggal sebelum mereka berdua bisa meloloskan diri dari Chateau d’If, dan ‘mewariskan’ harta karun di Pulau Monte Cristo kepada Dantes. Yang terjadi kemudian adalah Dantes akhirnya berhasil kabur dari Chateau d’If dan menemukan Pulau Monte Cristo.

Sepuluh tahun kemudian, Dantes yang kini dikenal sebagai Count of Monte Cristo yang terhormat, kaya raya dan berkuasa, mulai melancarkan aksi balas dendam kepada Caderousse, Danglars, Fernand, dan Villefort beserta keluarga mereka masing-masing. Lama-kelamaan, justru sepertinya pembalasan dendam itu bergerak sendiri menghabisi musuh-musuh Dantes, dan bukan lagi Count of Monte Cristo yang menjadi nahkoda dari aksi balas dendam itu. Apakah anda berpikir ceritanya berakhir sampai disitu?
Tidak, ceritanya justru baru dimulai!

###

The Count of Monte Cristo (1846) adalah karya Alexandre Dumas yang paling terkenal setelah The Three Musketeers (1844). Namun menurut saya, Monte Cristo lebih unggul karena kekayaan detail, dan kemampuan sang pengarang yang dengan ciamik menyulam benang merah rumit antara banyak tokoh dengan beragam konfliknya, dan tetap membuat cerita tidak membosankan dan tidak gampang ditebak. The Count of Monte Cristo juga adalah salah satu karya klasik yang telah berulang kali diadaptasi dalam bentuk film, salah satunya yang paling terkenal adalah versi tahun 2002 dengan bintang Jim Caviezel (pemeran Yesus dalam film The Passion of the Christ) sebagai Edmond Dantes/Count of Monte Cristo.

Sedangkan kekurangannya, di beberapa bagian terjemahannya terasa kurang nyaman dibaca. Misalnya, ada kata-kata ‘dua belas ratus’. Saya menebak bahwa kata-kata ini diterjemahkan dari ‘twelve hundred‘, yang setahu saya berarti seribu dua ratus. Penggunaan ‘dua belas ratus’ sungguh mengganggu saya. Namun perlu dipahami juga bahwa menerjemahkan sebuah karya klasik bukanlah pekerjaan mudah, apalagi jika bertemu dengan kalimat sulit seperti dibawah ini:


Robespierre mewakili suatu persamaan yang ‘merosot’: dia membawa raja-raja ke guilotin, sementara Napoleon mewakili suatu persamaan yang ‘ditingkatkan’: dia mengangkat orang-orang setaraf singgasana.

Saya butuh lebih dari dua kali membaca kalimat diatas sebelum mampu memahaminya.

Karena sama-sama bersetting pada abad 19 di Prancis, mau tak mau saya membandingkan Monte Cristo dengan Les Miserables karya Victor Hugo yang masih menjadi buku favorit saya, dan saya harus mengakui bahwa pengaruh yang ditimbulkan sang tokoh utama Dantes/Count of Monte Cristo tidaklah sebesar pengaruh Jean Valjean dalam Les Miserables terhadap saya. Jadi, 4 bintang saya berikan untuk buku ini.  Walaupun demikian, buku ini tetap menyimpan bejibun kutipan bijak yang sayang untuk dilewatkan:


Bagi orang yang bahagia, doa hanya suatu rentetan kata-kata, sampai hari ketika derita datang untuk menjelaskan kepadanya bahasa luhur yang dengan cara itu dia berbicara kepada Tuhan.

Hidupmu, anak muda, terlalu pendek untuk dimasukkan ke dalam apa saja yang amat penting.

Kebencian itu buta, kemarahan itu gegabah, dan dia yang menuangkan pembalasan dendam punya risiko harus minum bir pahit.

Dengarkan aku. Inilah apa yang telah dilakukan Tuhan, yang tidak mau kauakui pada saat-saat terakhirmu di dunia, terhadapmu. Dia memberimu kesehatan, kekuatan, kerja yang menghasilkan dan teman-teman; singkat kata, segala sesuatu yang dibutuhkan seorang manusia dengan hati nurani bersih dan memuaskan keinginan alaminya. Tetapi, alih-alih menikmati karunia Tuhan itu, kau membiarkan dirimu dikuasai kemalasan dan kemabukan, dan dalam mabukmu kau mengkhianati salah seorang sahabat karibmu.

Aku tahu apa yang bisa dilakukan oleh kekuatan kemauan. Ada orang-orang yang telah menderita dan tidak hanya melanjutkan hidup, tetapi bahkan membangun suatu kekayaan baru di atas reruntuhan kebahagiaan mereka yang sebelumnya. Dari kedalaman tempat musuh yang telah melemparkannya, dia justru bangkit lagi dengan kekuatan dan kemuliaan sedemikian rupa sehingga mengalahkan mereka yang dahulu menaklukkannya dan pada gilirannya menyingkirkan mereka.

Jika Tuhan yang memukul mereka sampai jatuh, itu karena Dia tidak dapat menemukan sesuatu pada masa lalu mereka yang berguna untuk mengurangi hukuman mereka.

Semua kebijaksanaan manusia termuat dalam dua kata ini: tunggulah dan berharaplah.

Detail buku:
“The Count of Monte Cristo”, oleh Alexandre Dumas
568 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Bentang Pustaka (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers