Sumber gambar dari sini.
Blog Archives
[Review] Bleak House oleh Charles Dickens
“London, 1852. London in November. It was cold, winter weather. There was mud in the streets. There was fog too. The fog was everywhere. It came up the river and down the river.
Cold, mud, and fog filled the streets of London. And the fog was thickest and the mud was deepest near Lincoln’s Inn, the very heart of London. The Lord High Chancellor was there, sitting in his High Court of Chancery.
Some of the fog and the mud had got into the courtroom too. Perhaps a little fog and mud had got into the minds of the people in the High Court of Chancery.”
Bleak House merupakan karya Dickens kedua yang pernah saya baca, dan saya pertama kali membacanya ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMP.
“Bleak House”, jika diIndonesiakan berarti “Rumah Suram” adalah karya Dickens yang merupakan kritik sosial terhadap kehidupan di London pada pertengahan abad 19. Mengambil setting waktu tahun 1852, Dickens menyorot bobroknya sistem hukum perdata di Inggris pada waktu itu, secara spesifik mengenai hal waris. Alkisah ada sebuah kasus mengenai hak waris yang telah dilangsungkan selama bertahun-tahun, bahkan beberapa generasi telah mati dan dilahirkan selama kasus tersebut berlangsung. Kasus ini dikenal dengan nama kasus Jarndyce dan Jarndyce (the case of Jarndyce and Jarndyce). Konon, kasus ini menghabiskan seluruh energi, waktu, dan kepandaian para pengacara di High Court of Chancery, London, dan para penuntut hak waris yang tadinya muda dan penuh harapan, lama kelamaan-menjadi tua dan hancur hidupnya selama menunggu penyelesaian/keputusan atas kasus Jarndyce dan Jarndyce. Kasus ini telah membuat nasib banyak orang menjadi begitu sengsara. Mengapa begitu lama dan sulit untuk menyelesaikan kasus ini? Konon karena tidak ada pengacara yang mampu memahami surat waris Jarndyce.
Para penuntut–mereka yang mempunyai hak atas warisan Jarndyce–yang berumur di bawah 21 tahun diurus oleh Pengadilan, dan Pengadilanlah yang akan mencarikan rumah bagi mereka. Para penuntut ini disebut “wards of court”. Diantara sekian banyak penuntut kasus Jarndyce dan Jarndyce, ada sepasang sepupu yang masih berusia di bawah 21 tahun, mereka adalah Ada Clare dan Richard Carstone. Pengadilan kemudian memutuskan bahwa Ada dan Richard akan tinggal bersama sepupu mereka, John Jarndyce, di kediaman tua Jarndyce yang disebut Bleak House. Pengadilan mengutus Esther Summerson, seorang perempuan muda yang memiliki masa lalu pahit, namun sangat mandiri dan bisa diandalkan, untuk mendampingi Ada. Mereka berempat pun tinggal di Bleak House, yang ternyata tidak sesuram namanya karena sang sepupu, John Jarndyce, adalah seorang pria paruh baya yang periang dan menyenangkan.
Di sudut lain Inggris, di Lincolnshire, tinggallah sepasang bangsawan yang terkenal angkuh. Mereka adalah Sir Leicester Dedlock, dan istrinya, Lady Dedlock yang cantik namun dingin. Suami-istri Dedlock tinggal di rumah yang disebut Chesney Wold. Teras di bagian depan rumah besar itu dijuluki Ghost’s Walk, karena kadang-kadang terdengar langkah-langkah kaki di batu yang keras itu. Konon jika langkah-langkah kaki terdengar di Ghost’s Walk, itu berarti akan ada kematian, kemalangan atau aib yang akan menimpa keluarga Dedlock.
Kembali ke London, Esther, Ada, dan Richard mengunjungi sebuah toko yang sangat kotor dan aneh di dekat High Court of Chancery, toko ini bernama “Krook, Rag and Bottle Shop”. Toko ini begitu aneh karena “everything is bought here, but nothing is sold.” Pemiliknya, Mr Krook, berkata bahwa orang-orang memanggilnya Lord Chancellor (semacam Hakim Agung), dan tokonya adalah High Court of Chancery, karena ia tidak pernah melepaskan satupun barang-barang berkarat dan berdebu dari tokonya. Toko tersebut tidak pernah disapu, dibersihkan, atau diperbaiki, melambangkan High Court of Chancery. Mereka bertiga melihat bagaimana kemiskinan menggerogoti warga yang tinggal di jantung kota London, dan ironisnya warga yang termasuk kaya seakan menutup dunia mereka dari keberadaan warga lain yang miskin.
Sejauh ini terdengar membosankan? Tunggu dulu, Lady Dedlock ternyata punya rahasia yang selama ini setengah mati disimpannya supaya keluarga Dedlock tidak dipermalukan akibat aib masa lalunya. Rahasia ini berkaitan dengan Esther Summerson dan Nemo, seorang law-writer (penulis dokumen hukum) yang identitasnya tidak jelas, yang dulunya tinggal di atas Krook, Rag and Bottle Shop, sampai ia ditemukan mati karena sakit. FYI, “Nemo” dalam bahasa Latin berarti “no one”. Pengacara Sir Leicester, Mr Tulkinghorn, curiga bahwa Lady Dedlock memiliki rahasia dan berusaha mengoreknya. Ada juga seorang perempuan Perancis bernama Hortense yang sangat membenci Lady Dedlock dan berusaha mencelakainya. Karakter penting lainnya adalah Allan Woodcourt, seorang dokter yang datang ketika Nemo ditemukan telah mati. Allan menjalin hubungan persahabatan yang erat dengan para penghuni Bleak House dan menjadi suami Esther di akhir cerita. Menarik juga mengikuti bagaimana kasus Jarndyce dan Jarndyce berhasil menggelapkan hidup banyak orang, termasuk Richard Carstone, karakter yang plin-plan dan tidak pikir panjang, yang selalu berpikir bahwa ia akan menjadi kaya jika keputusan atas kasus Jarndyce dan Jarndyce telah dijatuhkan. Sepupunya, John Jarndyce menasihatinya: “For the love of God, do not put any hope or trust in Jarndyce and Jarndyce. It is better to borrow, better to beg, better to die.”
Penjelasan singkat tentang kasus Jarndyce dan Jarndyce, sebagaimana disampaikan oleh John Jarndyce, adalah sebagai berikut:
“Long ago, a man called Jarndyce made a great fortune. And so he made a great will. This will was difficult to understand. Lawyers have been arguing about it ever since. The Court of Chancery has to decide about the money. Every member of the family has to go to Court sometime. No one can escape. I don’t like to think about it. My poor great-uncle, Tom Jarndyce, thought about the case all the time. In the end, he shot himself.”
***
Bleak House merupakan sebuah novel yang kompleks dan panjang, merupakan suatu potret sosial Inggris pada era Victoria. Sekalipun beberapa sumber menyebutkan bahwa Bleak House adalah novel terbaik Dickens, mungkin novel ini tidak terlalu enjoyable, khususnya bagi pembaca Indonesia, karena cenderung panjang dan membosankan. Begini pendapat G. K. Chesterton mengenai Bleak House: there is a certain monotony about the book: “the artistic . . . unity . . . is satisfying, almost suffocating. There is the motif and again the motif.”
Namun bagi saya pribadi, saya masih bisa menikmati kompleksitasnya, dan juga gaya penulisan Dickens yang sangat khas dan memikat, yang masih terasa sekalipun buku yang saya baca ini versi yang telah dipersingkat dan disederhanakan.
Detail buku:
“Bleak House”, oleh Charles Dickens, diceritakan kembali oleh Margaret Tarner
122 halaman, diterbitkan 1990 oleh Dian Rakyat
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) oleh Charles Dickens
London dan Paris; dua kota yang bergolak menjelang revolusi Prancis. Konon di Prancis, kaum bangsawan memerintah dengan sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyat. Kesejahteraan kaum bangsawan diletakkan diatas segalanya, sementara rakyat kecil dianggap tidak lebih daripada anjing. Rakyat harus membayar pajak dengan jumlah yang menggigit, sementara kaum bangsawan terus berfoya-foya dan menggemukkan badan. Kejahatan merajalela, tiada hari tanpa pelaksanaan hukuman mati, tidak peduli kecil atau besar kejahatan yang dilakukan orang yang akan dieksekusi. Begitulah situasinya, sampai di suatu titik, rakyat Prancis bangkit dan melakukan perlawanan. Situasi berputar balik, kali ini kaum bangsawanlah yang ditangkapi, diadili, dan dibunuh.
Di tengah-tengah gejolak yang terjadi, Mr. Jarvis Lorry, seorang bankir di Tellson’s Bank, London, ditemui oleh seorang gadis muda berparas cantik berkebangsaan Prancis bernama Lucie, mengenai keberadaan ayah yang disangkanya telah mati. Dr. Manette, ayah si gadis, ternyata masih hidup di Prancis. Ia dijebloskan ke penjara Bastille tanpa pernah tahu bahwa ia memiliki keturunan. Setelah bertahun-tahun menjalani hukuman di Bastille, yang menguras kewarasan sang dokter, ia tinggal di rumah mantan pelayannya yang bernama Defarge. Mr. Lorry dan Mlle Manette menjemput sang dokter dari tempat itu, pindah ke Inggris, dimana mereka berusaha memulihkan keadaan fisik dan psikis sang dokter.
Lima tahun kemudian, Dr. Manette dan putrinya terlibat dalam persidangan seorang keturunan Prancis yang bernama Charles Darnay, sebagai saksi. Darnay didakwa sebagai mata-mata Prancis yang menjalankan suatu rencana untuk melumpuhkan Inggris. Di persidangan itu mereka bertemu dengan pengacara yang bernama Mr. Stryver, dan rekannya yang eksentrik, Sydney Carton, yang secara mengherankan memiliki kemiripan fisik dengan Charles Darnay. Darnay akhirnya diputuskan tidak bersalah oleh pengadilan. Beberapa tahun kemudian Darnay menikahi Lucie, dan ketiga orang keturunan Prancis itu, Darnay, Lucie, dan sang dokter, hidup di Inggris dengan cukup bahagia.
Namun suatu hal yang belum diketahui Lucie, bahwa nama asli suaminya bukan Charles Darnay. Darnay sebenarnya adalah salah satu keturunan bangsawan Prancis, keponakan dari Marquis Evrémonde. Ketika Gabelle, pengurus kediaman Evrémonde dipenjarakan, ia menulis surat kepada tuannya, Darnay, minta diselamatkan. Maka Darnay, dengan mengabaikan bahaya yang mengancam dirinya sendiri, pergi ke Prancis. Disana ia ditangkap karena jati dirinya yang seorang bangsawan. Darnay sempat dibebaskan, karena Dr. Manette dan Lucie pergi ke Prancis, dan Dr. Manette memanfaatkan pengaruh yang dimilikinya sehingga menantunya itu bisa bebas. Namun malam harinya Darnay ditangkap lagi, dengan tuduhan yang berasal dari Defarge dan istrinya, serta Dr. Manette! Dalam persidangan, Defarge membacakan sebuah surat yang ditulis Dr. Manette, yang mengungkapkan alasan mengapa ia dijebloskan ke Bastille. Suatu peristiwa buruk yang terjadi di masa lalu mengaitkan Dr. Manette dengan keluarga bangsawan Evrémonde, dimana sekarang seorang keturunan Evrémonde menjadi menantunya. Sementara itu, Darnay akan dieksekusi oleh La Guillotine, si wanita tajam, dalam waktu dua puluh empat jam. Dr. Manette, Lucie, Mr. Lorry, dan Sydney Carton berada di tengah-tengah situasi tak menentu itu. Bagaimanakah badai kehidupan ini akan berakhir?
”Saat itu adalah waktu terbaik, sekaligus waktu terburuk.
Masa kebijaksanaan, sekaligus masa kebodohan.
Zaman iman, sekaligus zaman keraguan.
Musim Terang, sekaligus musim Kegelapan.
Musim semi pengharapan, sekaligus musim dingin keputusasaan.
Kita memiliki semuanya di hadapan kita, sekaligus tidak memiliki semuanya.
Kita semua langsung pergi ke Surga, sekaligus langsung pergi ke jalan lainnya.
Pendeknya, zaman itu begitu persis dengan zaman sekarang.”
Kalimat di atas adalah kalimat pembuka yang terkenal dari Kisah Dua Kota. Novel ini terbagi menjadi 3 buku, Buku I: Kembali ke Kehidupan, Buku II: Benang Emas, dan Buku III: Badai Kehidupan. Kisah Dua Kota adalah terjemahan dari karya fenomenal Charles Dickens, A Tale of Two Cities. Novel klasik dengan plot yang kompleks ini ditulis Dickens dengan menggunakan kontradiksi, mempertentangkan situasi yang terjadi di dua negara pada masa itu, Inggris yang taat hukum dan Prancis yang feodal. Kontradiksi juga bisa ditemukan dalam karakter-karakter di dalam cerita, misalnya Darnay, si bangsawan yang emigran karena menolak feodalisme, berpenampilan necis dan rapi, merupakan ”lawan” dari karakter Sydney Carton, si pengacara slengean yang tidak memiliki fokus dalam hidupnya untuk mencapai apapun. Karakter Miss Pross, pelayan Lucie yang secara fisik tangguh namun sangat setia, bertolak belakang dengan Madame Defarge yang pendendam dan haus darah. Dalam banyak bagian juga Dickens menggunakan simbol-simbol yang kadang sulit dipahami, misalnya di awal cerita pada Buku I: Kembali ke Kehidupan, Mr. Lorry akan menjemput ”seseorang yang telah dikubur hidup-hidup selama delapan belas tahun”. Maksudnya adalah Mr. Lorry akan menjemput Dr. Manette, yang telah menjalani sekian tahun hukuman di Bastille sehingga kehilangan akal sehatnya. Ia sama saja seperti orang yang sudah mati. Kemudian Madame Defarge yang merajut tanpa henti. Ia sebenarnya sedang mendaftar nama-nama mereka yang akan dijatuhi hukuman mati. Kegiatan merajut ini juga menyimbolkan ”serigala berbulu domba”, rakyat kecil Prancis yang kelihatan tidak berbahaya, merajut dalam diam, namun di tangan mereka juga aristokrasi akan tumbang.
Terjemahan A Tale of Two Cities yang diterbitkan Elex Media Komputindo dengan judul ”Kisah Dua Kota” ini sama sekali tidak mengecewakan, baik dalam bentuk fisik maupun substansi buku. Terjemahan yang digarap oleh Peusy Sharmaya menurut saya sangat bagus, jenis kertas dan font yang digunakan sangat nyaman untuk dibaca. Meskipun rasanya lebih nyaman membaca “Mr.”, “Monsieur”, “Mademoiselle” ketimbang “Tuan” dan “Nona”. Dan semoga juga jilidan bukunya awet, mengingat bukunya cukup tebal. Saya tidak menyesal membeli buku ini walaupun harganya relatif mahal
Secara keseluruhan, Kisah Dua Kota layak diganjar 5 bintang. Faktor yang terbesar adalah penulisan Dickens yang brilian. Ia mampu membangun cerita dengan plot yang padat dan kompleks, kadang-kadang sengaja menyimpan beberapa elemen untuk akhir cerita, sehingga pembaca tidak akan berhenti penasaran seperti apakah nanti endingnya. Gaya penulisannya puitis namun dengan aura yang suram dan tragis, sangat khas Dickens. Namun, bagi pembaca yang tidak suka narasi yang panjang-panjang, kemungkinan akan sulit menikmati karya Dickens ini. Ada yang menyebutkan A Tale of Two Cities sebagai karya Dickens yang tidak memiliki karakter yang se-memorable Scrooge di A Christmas Carol, Miss Havisham di Great Expectations, atau Fagin di Oliver Twist. Saya secara pribadi tidak setuju, setelah membaca buku ini sampai akhir dan mengalami “gema” di akhir cerita yang disebabkan tokoh yang bernama Sydney Carton. Bagi saya, A Tale of Two Cities akan selalu menjadi salah satu karya sastra yang akan terus saya kenang.
Resensi Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) ini diposting dalam rangka merayakan HUT ke-200 Charles Dickens yang jatuh tepat pada hari ini, 7 Februari 2012.
Happy Birthday, Charles Dickens!
Senang rasanya bisa menikmati karyamu yang bunyinya masih terdengar bahkan setelah 200 tahun berlalu!
***
Detail buku:
“Kisah Dua Kota” (judul asli: “A Tale of Two Cities”), oleh Charles Dickens
576 halaman, diterbitkan Oktober 2010 oleh Elex Media Komputindo
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥


















