Blog Archives

[Review] The Tale of Desperaux

This is a tale about a mouse, a princess, a king, some soup, a rat, a servant girl, a treacherous plan of revenge gone wrong. The story takes place in a castle, and the dungeon underneath the castle.

The mouse, Desperaux Tilling his name, was born as the last mouse to his parents and the only surviving one of his litter. Desperaux was born so small, with two huge ears, and with eyes open, staring directly to light. Instead of being so small and sickly, the strange little mouse lived. And he was nothing like other mice. He listened to music, he loved light, and he read pages of books instead of eating them.

“Reader, you must know that an interesting fate (sometimes involving rats, sometimes not) awaits almost everyone, mouse or man, who does not conform.”

Interesting fate it was. One day when Desperaux lifted up his head to listen to the sweet sweet music, the music brought him to encounter the king and his beloved daughter, the Princess Pea. The princess looked down at him and smiled to the little mouse. As ridiculous as it might be, Desperaux fell in love.

“Love is ridiculous. But love is also wonderful. And powerful. And Desperaux’s love for the princess would prove, in time, to be all these things: powerful, wonderful, and ridiculous.”

Desperaux’s little encounter with the king and the princess then brought him serious consequence: the Mouse Council decided to punish him with sending him to the dungeon. Dungeon means deep darkness. It also means rats. And rats never meant a good thing.

While we’re still talking about rats, there was one peculiar rat that lived in the dungeon. Unlike his rat brothers and sisters, Chiaroscuro, or Roscuro, loved being surrounded by light. He too, like Desperaux, had a little encounter with the king and the princess, only then he also meets the queen. His encounter with the royal family was followed with a tragedy, which caused the king to ban soup and all soup-related items like bowls and soup spoons. The look the princess Pea gave Roscuro broke his heart and made him desire revenge. A servant girl called Miggery Sow then helped the rat to execute his plan.

The princess was in danger. What will Desperaux do? Could it be that a little mouse, in spite of all circumstances, help the lovely princess and save her from harm? The answer to this question, dear reader, you must read in this remarkable book, winner of Newbery Medal 2004, The Tale of Desperaux.

***

I have always been a fan of Kate DiCamillo, whom I love for her extraordinary writing. Kate can make a simple story so beautiful with her brilliant choice of words. Her sentences flow like a song, and I’m not exaggerating. That’s what I felt when I read The Magician’s Elephant. The book broke my heart and I felt myself crying alongside the main character. Reading The Tale of Desperaux gave me a similar feeling, although it wasn’t as dark as The Magician’s Elephant. I’m really glad I bought a copy of this book in English and not the Indonesian translation, this time I can really succumb into Kate DiCamillo’s beautiful writing. This book also has nice illustrations by Timothy Basil Ering. Parents, you should read this to your kids, I’m sure they’ll love it. ;)

“Stories are light. Light is precious in a world so dark. Begin at the beginning. Tell Gregory a story. Make some light.”

P.S. : You can also read a post about the character Desperaux here (in Indonesian).

Book details:
“The Tale of Desperaux”, by Kate DiCamillo
272 pages Paperback, published 2008 by Candlewick Press
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] The Wind in the Willows

Ini cerita tentang empat sahabat, Moly si Tikus Tanah, Ratty si Tikus Air, Katak, dan Tuan Luak. Masing-masing memiliki karakter yang khas, Moly cenderung pemalu, Ratty ramah dan senang berkawan, Katak kaya dan suka menyombongkan diri, dan Tuan Luak yang pendiam dan misterius, namun bijaksana dan sangat peduli akan teman-temannya.

Cerita bergulir dari Tikus Tanah yang meninggalkan sarangnya untuk kemudian tinggal bersama Tikus Air di tepi sungai. Suatu hari di musim salju secara tidak sengaja mereka terdampar di pintu rumah Tuan Luak, yang awalnya terkesan waspada, namun kemudian mempersilakan mereka masuk dengan ramah dan menyuguhi mereka makanan yang hangat. Mereka pun bercakap-cakap tentang Katak yang ceroboh dan suka keasyikan dengan “mainan”nya, jika dulu ia tergila-gila dengan perahu, sejak mengalami kecelakaan ia memilih “bermain” dengan kereta gipsi. Suatu hari ia terpesona akan sebuah mobil balap mengilap yang dipanggil Tut-tut.

Lama-kelamaan Katak menjadi terobsesi terhadap Tut-tut si mobil balap sampai secara tidak sadar ia mencurinya! Katak pun dikejar polisi, dijebloskan ke penjara , melarikan diri dari penjara dengan bantuan anak perempuan sipir, dan melalui berbagai petualangan untuk sampai ke rumahnya yang megah, Puri Katak. Sementara itu, teman-temannya mulai kehabisan akal untuk menasihati si Katak. Mereka ingin Katak menjadi lebih bertanggung jawab dan tidak hanya menghabiskan hidupnya untuk bersenang-senang. Bisakah mereka mengubah pribadi si Katak yang keras kepala itu?

***

Kisah yang disebut-sebut penuh petualangan dan banyak menyimpan pesan moral ini ternyata tidak banyak menyentuh hati saya. Jika dibilang penuh petualangan, saya lebih condong memilih Manxmouse karya Paul Gallico yang tokoh-tokohnya juga dari dunia hewan. Pesan moral yang bisa saya ambil dari kisah ini adalah:

1. Rumah adalah tempat terbaik di dunia. Kamu bisa bertualang ke mana saja namun pada saatnya pasti kamu akan pulang ke rumah.

Berikut sepenggal kutipan dari halaman 57:

“Malam itu, Tikus Tanah – walau kelelahan – merasa gembira karena telah kembali ke rumah. Namun sebelum dipejamkan, ia membiarkan kedua matanya menjelajahi setiap sudut kamarnya yang lama. Tindakan yang amat sederhana, tapi sangat berarti. Ia tidak ingin mengabaikan kehidupan barunya. Dunia di atas sana terlalu menarik. Tempat itu memanggil-manggil ke dalam dirinya. Namun sungguh melegakan karena dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima.

Sungai adalah tempat bertualang.

Di sini adalah rumahnya.”

2. Jangan abaikan nasihat dari sahabat-sahabat yang peduli akan dirimu. Dengarkan mereka, apa yang mereka katakan mungkin mencegahmu masuk dalam kesulitan.

The Wind in the Willows terjemahan Indonesia yang diterbitkan Mahda Books ini, dengan fisik hardcover, font relatif besar, banyak ilustrasi, dan penerjemahan yang bagus oleh mbak Rini Nurul Badariah rasanya cocok untuk anak-anak yang baru menginjak bangku sekolah dasar.

Review buku ini dibuat dalam rangka merayakan HUT ke-153 Kenneth Grahame (8 Maret 1859 – 8 Maret 2012)
Happy birthday, mas Kenneth! :D

Detail buku:
“The Wind in the Willows”
, oleh Kenneth Grahame
134 halaman (HC), diterbitkan April 2010 oleh Mahda Books
My rating: ♥ ♥

[Review] Herr Der Diebe (Pangeran Pencuri)

Selamat datang di Venezia, Kota Rembulan! Di sini anda akan dibuai dengan semilir angin Venezia saat anda menyusuri kanal-kanal dengan gondola, sambil menikmati keindahan bangunan-bangunan eksotik! Namun awasi selalu dompet, kamera, dan perhiasan anda terutama bila anda berjalan melewati Lapangan Markus, jika anda tidak ingin barang-barang berharga anda berpindah tangan ke Pangeran Pencuri dan komplotannya!

Apa? Anda belum mendengar tentang Pangeran Pencuri? Dia bukan Robin Hood, tentu saja. Pangeran Pencuri adalah pencuri paling lihai seantero Venezia, atau setidaknya ia ingin dianggap demikian. Diantara kita saja (ini rahasia), sang Pangeran Pencuri sebenarnya adalah seorang remaja misterius dengan rambut dikuncir yang suka mengenakan jaket panjang hitam dan sepatu bot berhak tinggi, dan tak lupa topeng menyeramkan yang mirip burung pembawa kematian. Nama aslinya adalah Scipio, dan ia memiliki teman-teman yang ia pelihara lewat hasil mencuri, mereka adalah Riccio si Rambut Landak, si hitam Mosca, dan seorang anak perempuan yang dipanggil Tawon. Mereka semua, kecuali Scipio sendiri, tinggal di sebuah bangunan eks bioskop bernama STELLA, namun mereka memanggil tempat itu Istana Bintang.

Sssst, belakangan, ada dua tambahan dalam rombongan anak-anak jalanan itu, mereka adalah kakak-beradik Prosper dan Bo. Prosper dan Bo yang malang sudah yatim piatu, dan paman dan bibi mereka, Max dan Esther Hartlieb, hendak mengangkat si kecil Bo sebagai anak mereka, dan memasukkan Prosper ke sekolah asrama. Tak mau berpisah dengan adik semata wayangnya, Prosper melarikan mereka berdua ke Venezia, kota yang begitu dicintai mendiang ibu mereka.

Tahu bahwa Prosper dan Bo mungkin lari ke Venezia, Bibi Hartlieb menyewa jasa seorang detektif lokal bernama Victor Getz untuk melacak keberadaan mereka. Benar saja, tak lama setelah itu Victor bertemu dengan Prosper dan Bo yang telah menyamarkan penampilan, bersama ketiga teman mereka. Namun alih-alih menangkap kakak beradik itu, Victor malah dikerjai oleh anak-anak jalanan itu sampai-sampai ia dibawa ke kantor polisi!

Sementara itu, melalui Barbarossa, seorang pemilik toko barang antik yang tamak, Pangeran Pencuri mendapat tawaran dari seorang Conte untuk mencuri sesuatu baginya di sebuah rumah di Campo Santa Margherita. Imbalan sang ditawarkan sang Conte begitu menggiurkan sehingga Scipio menyanggupi untuk melakukan pekerjaan itu, walau akhirnya ia tahu bahwa barang yang harus mereka curi hanyalah sepotong kayu tua berbentuk sayap. Dengan berani mereka memasuki rumah itu dan tertangkap basah oleh sang tuan rumah, seorang fotografer wanita terkenal bernama Ida Spavento! Untunglah, Ida seorang wanita baik hati yang tidak serta merta melaporkan mereka ke polisi. Alih-alih, ia menceritakan kisah yang sulit dipercaya mengenai sepotong sayap yang ada dirumahnya itu, dan bahkan berkomplot dengan anak-anak bandel itu untuk mengetahui siapa yang membayar mereka untuk mencuri sayapnya. Begitu banyak petualangan yang mereka jalani! Akankah Victor Getz menangkap Prosper dan Bo dan mengembalikan mereka ke bibi yang begitu mereka benci? Benda apakah sebenarnya sayap kayu itu? Siapa sebenarnya si Pangeran Pencuri? Dan bagaimana nasib Tawon, Mosca, dan Riccio selanjutnya?

###

Hal yang paling memukau mengenai novel anak Pangeran Pencuri ini adalah kemampuan pengarangnya, Cornelia Funke, untuk mendeskripsikan seluk-beluk kota Venezia yang eksotik. Dari jalanan ke gedung-gedung, dari kanal-kanal ke laguna luas dan pulau-pulau misterius. Karakter tokoh-tokohnya beraneka warna mulai Scipio yang ngebos, Prosper yang cerdik, Bo yang polos, Tawon yang ceria namun menutupi jati dirinya, Barbarossa yang tamak, dan Victor si detektif yang sering sial. Adegan demi adegan dalam buku yang sarat petualangan ini bergulir dengan mulus dan ilustrasi-ilustrasi karya penulis yang menghiasi halaman-halaman buku menjadi nilai tambah novel anak yang dapat dinikmati segala usia ini.

Dibawah ini adalah cover baru Pangeran Pencuri yang diterbitkan ulang oleh GPU April 2011 lalu, apakah anda lebih suka cover lamanya yang bernuansa biru atau cover barunya yang hitam putih?

Buku ini membuat saya ingin jalan-jalan ke Venezia dan melihat sendiri patung Cagalibri, si Gila Buku di Campo Morosini, yang dipilih Tawon (yang seorang kutu buku) sebagai “tempat pertemuan”. Hai teman-teman BBI, kapan-kapan kita foto bareng di depan patung ini yah! ;-p

Cagalibri (pic from Imageshack)

Detail buku:

“Herr Der Diebe” (Pangeran Pencuri), oleh Cornelia Funke
420 halaman, diterbitkan Maret 2006 (republish April 2011) oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya


Ternyata memang ada beberapa cerita yang melekat pada diri kita dari masa kecil dan ketika kita membacanya lagi saat sudah dewasa, perasaan yang ditimbulkan oleh cerita-cerita itu sama seperti perasaan pada waktu kita membacanya sebagai seorang anak kecil.

Jacob dan Wilhelm Grimm atau yang lebih dikenal dengan sebutan The Brothers Grimm (Grimm bersaudara) tidak mengakui diri mereka sebagai pendongeng bagi anak-anak, namun sebagai pahlawan folklor yang berjasa mengabadikan dongeng-dongeng rakyat Jerman yang disampaikan dari generasi ke generasi secara lisan dalam bentuk tertulis. Tak dapat dipungkiri jika Grimm bersaudara tidak mengumpulkan dan menerbitkan dongeng-dongeng pada masanya dan jika Kinder-und Hausmärchen atau Children’s and Household Tales (kumpulan dongeng pertama yang mereka publikasikan pada tahun 1812) tidak pernah terbit, maka mungkin sampai pada era ini kita tidak akan pernah mendengar cerita tentang Snow White, Musisi dari Bremen, Tom Ibu Jari, Hansel dan Gretel, Pangeran Katak, ataupun Rapunzel.

grimm tales
Cover Grimm’s Kinder- und Hausmärchen (1812)

Dan jika sampai saat ini kita sudah membaca, mendengar, atau menonton berbagai versi dari dongeng-dongeng Grimm, maka melalui buku ini kita dapat mengetahui bagaimana cerita dalam versi aslinya.

Buku “Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya” besutan Penerbit Atria berisi 19 dongeng, antara lain:

1. Musisi dari Bremen
2. Teka-teki
3. Tom Ibu Jari
4. Briar Rose
5. Dua Belas Putri yang Menari
6. Pengantin Perampok
7. Ratu Lebah
8. Raja Janggut-Mengerikan
9. Peri Pembuat Sepatu
10. Aschenputtel
11. Hansel dan Gretel
12. Serigala dan Tujuh Kambing Kecil
13. Pangeran Katak
14. Frau Holle
15. Rumpelstiltskin
16. Tiga Pemintal
17. Gadis Angsa
18. Rapunzel
19. Snow-white

Buku ini seakan menjadi jawaban bagi penikmat buku yang ingin memiliki kumpulan dongeng dengan harga yang terjangkau. Karena sejauh pengamatan saya, buku kumpulan dongeng biasanya terbuat dari kertas tebal yang berat dan full color, sehingga harganya pun menjadi selangit. Tampilan fisik Hansel dan Gretel versi Atria menurut saya cukup cocok bagi pembaca anak-anak, dengan ilustrasi-ilustrasi hitam putih cantik yang dikemas secara modern di dalamnya akan semakin memanjakan mereka ketika menikmati buku ini. Sedangkan bagi pembaca remaja dan dewasa, buku ini dapat menjadi koleksi yang berharga, karena setiap dongeng dalam buku ini adalah cerita versi asli dari Grimm bersaudara yang telah diterjemahkan dengan baik ke dalam bahasa Indonesia.

Namun ada beberapa kekurangan dan hal yang mengganjal bagi saya tentang buku ini, antara lain:

  1. Tidak adanya daftar isi. Rasanya sudah sepatutnya, sebuah buku kumpulan cerita (kumcer) menyertakan daftar isi di bagian awal buku. Absennya daftar isi ini cukup menyusahkan pembaca jika ingin langsung skip membaca cerita/dongeng tertentu di dalam buku.
  2. Castle, di dalam buku ini diterjemahkan menjadi kastel. Sungguh kata yang aneh, meskipun kata ini memang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mengapa tidak menggunakan kata kastil saja, atau lebih baik lagi, istana.
  3. Pada hal. 126 dalam cerita Frau Holle, ada kalimat yang berbunyi, “Hatta, Frau Holle memegang tangannya dan menuntunnya ke sebuah gerbang”. Nah lho, apa lagi artinya “Hatta” ini?

Namun demikian, kerja keras Penerbit Atria untuk menghidupkan kembali dongeng-dongeng Grimm versi asli untuk dinikmati dalam bahasa Indonesia patut diapresiasi, karena itu saya memberikan 4 bintang untuk buku ini.

Dongeng-dongeng Grimm lainnya bisa dinikmati lewat berbagai situs di dunia maya, ini salah satunya yang menarik: http://www.nationalgeographic.com/grimm/

Detail buku:

“Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya”, oleh Grimm Bersaudara
192 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Keluarga Penderwick (The Penderwicks)

Saya baru tahu keberadaan buku ini ketika berburu buku murah di Kompas Gramedia Fair Surabaya, di Gramedia Expo. Beruntung sekali bisa mendapatkan buku ini dengan harga yang super duper murah, dan saya sangat menikmati membacanya!

Cerita dimulai ketika keluarga Penderwick, yang beranggotakan seorang profesor botani dan keempat anak perempuannya, serta seekor anjing bernama Hound, berlibur musim panas di sebuah tempat bernama Arundel. Arundel adalah sebuah mansion luar biasa besar dan mewah yang dikelilingi taman yang indah dan rapi. Keempat gadis Penderwick adalah Rosalind, dua belas tahun, yang tertua dan paling cantik, bijaksana dan bertanggung jawab; kemudian Skye, sebelas tahun, yang tomboi dan terpandai dari semuanya; Jane, sepuluh tahun, yang bercita-cita menjadi penulis hebat dan punya alter ego bernama Sabrina Starr (yang adalah pahlawan dalam cerita-ceritanya); serta Batty si bungsu yang baru empat tahun yang manis dan sangat polos.

Akibat insiden di hari pertama mereka di Arundel yang melibatkan Skye, mereka akhirnya bersahabat dengan Jeffrey Tifton, putra pemilik Arundel. Jeffrey anak yang sangat asyik, sementara ibunya, Mrs. Tifton, telah menjadi sosok yang ditakuti gadis-gadis Penderwick bahkan sebelum mereka memasuki Arundel, karena Mrs. Tifton pemarah dan sangat overprotektif terhadap tamannya. Gadis-gadis Penderwick juga bersahabat dengan Cagney, si pemuda tukang kebun yang tampan dan punya dua ekor kelinci sangat lucu bernama Yaz dan Carla, juga Churchie si pengurus rumah tangga, dan Harry si penjual tomat.

Hari-hari mereka di Arundel diisi dengan petualangan-petualangan mengasyikkan, yang seringkali konyol namun sangat seru. Misalnya ketika mereka menyelamatkan Batty dari sapi jantan yang dikenal suka menyeruduk orang yang melanggar teritorinya. Insiden ketika dua kelinci Cagney lepas dari kandangnya. Dan juga ketika Jeffrey, Skye dan Jane bermain bola sampai lupa daratan justru ketika para juri Kontes Berkebun sedang menilai taman Mrs. Tifton. Peristiwa-peristiwa lain yang tak kalah serunya, terjadi sampai pada menjelang akhir libur musim panas. Dan sebelum mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Arundel, keluarga Penderwick membantu Jeffrey untuk menghadapi ibunya yang kurang peduli terhadap putranya dan memaksanya masuk sekolah militer.

Beberapa orang mengatakan bahwa buku ini seperti gabungan antara The Secret Garden dengan Little Women. The Secret Garden memang menyajikan taman-taman yang indah dan kisah persahabatan, namun saya belum pernah membaca Little Women. Karakter para gadis Penderwick yang bengal-bengal adalah daya tarik utama cerita ini, saya kira. Kemudian kelincahan penulis dalam menggambarkan petualangan demi petualangan yang dialami para tokoh, dengan gaya konyol namun tetap terasa ketegangannya, dan juga ada adegan yang mengharukan, membuat saya sangat terhibur ketika membaca buku ini. Ini jenis bacaan yang akan saya baca lagi, lagi, dan lagi. Yang membuat saya kecewa hanyalah kenyataan bahwa Gramedia tidak menerbitkan sekuel dari The Penderwicks, yang berjudul The Penderwicks on Gardam Street. Jika ada, tentu saya akan sangat senang, ditambah lagi bahwa sekuel keduanya (alias buku ketiga), The Penderwicks at Point Mouette akan terbit Agustus 2011 ini. I’m craving for more of Jeanne Birdsall’s works!

Detail buku:
“Keluarga Penderwick” (judul asli: The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy), oleh Jeanne Birdsall
291 halaman, diterbitkan Maret 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Perjalanan Ajaib Edward Tulane

The Miraculous Journey of Edward Tulane: Perjalanan Ajaib Edward TulaneThe Miraculous Journey of Edward Tulane: Perjalanan Ajaib Edward Tulane by Kate DiCamillo

My rating: 5 of 5 stars


“Aku pernah disayang,” kata Edward.
“Jangan bicara soal kasih sayang padaku.”

Dahulu, ada seekor kelinci porselen yang amat disayangi oleh seorang gadis cilik. Edward Tulane, demikian nama kelinci itu. Ia sangat bangga akan dirinya sendiri, karena ia hampir seluruhnya terbuat dari porselen, sedangkan telinga dan ekornya terbuat dari bulu kelinci asli, dan Abilene, gadis cilik pemiliknya, selalu mendandaninya dengan pakaian-pakaian indah yang dijahit khusus. Meski tak dapat bicara, Edward dapat mendengar dan melihat sekelilingnya, dan ia sangat benci bila disebut boneka.

Walaupun Abilene sangat menyayanginya, hati Edward tetap dingin. Sampai suatu hari, Edward hilang! Ia jatuh ke laut. Disinilah Edward memulai perjalanan ajaibnya dan mengalami banyak hal. Ia diselamatkan oleh seorang nelayan, dibuang di tempat pembuangan sampah, dipungut oleh gelandangan, dibuang dari kereta, digantung di tempat orang-orangan sawah, diambil oleh anak lelaki untuk adik perempuannya yang sakit, melihat anak itu meninggal, menari di kota, kepalanya dipecahkan orang, disatukan kembali oleh tukang reparasi, dan berakhir di rak toko sang tukang reparasi boneka. Dalam perjalanannya, ia menjadi kelinci betina dan jantan, dan dipanggil dengan nama yang berbeda-beda.

Edward yang tadinya tak mampu membalas kasih sayang, akhirnya sedikit demi sedikit terbuka hatinya setelah menerima kasih sayang dari nelayan dan istrinya, dari gelandangan yang memungutnya, dan akhirnya ketika ia menjadi boneka kesayangan Sarah Ruth, anak perempuan yang sedang sakit keras. Ada sesuatu pada diri Sarah Ruth yang membuat Edward ingin melindunginya dan berbuat lebih untuknya. Namun kehangatan itu tak berlangsung lama.

Ketika ia akhirnya duduk menunggu di rak toko boneka selama beberapa waktu, Edward menyerah dan tak mau disayangi lagi. Sebuah boneka anak perempuan yang sudah sangat tua dan kepalanya penuh retakan berkata padanya, “Buka hatimu. Akan ada yang datang, akan ada yang datang menjemputmu. Tapi kau harus membuka hatimu dulu.”

Edward pun membuka hatinya lagi, menyimpan harapan bahwa akan ada yang datang menjemputnya. Dan akhirnya, di hari hujan di musim semi itu, Edward menemukan jalan pulang.

Dongeng yang luar biasa indah dan menyentuh, yang membuat saya agak menyesal mengapa saya tak pernah melirik karya-karya Kate DiCamillo sebelumnya.
Seperti kata pepatah, “Orang tidak tahu apa yang dimilikinya sampai ia kehilangan sesuatu itu” demikian juga moral yang dapat diambil dari kisah Edward Tulane.
Balaslah kasih sayang dari orang-orang yang mengasihimu, selagi mereka semua masih ada dalam hidupmu.

Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi—atau menurut saya lebih tepat disebut lukisan-lukisan—yang begitu mendetail dan hidup, oleh tangan seorang bernama Bagram Ibatoulline. Kisah menyentuh dan lukisan-lukisan indah yang mewarnai setiap babnya, membuat buku ini to die for!

View all my reviews

Softcover, 188 pages
Published 2006 by PT Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 50.000

[Review] Sang Harimau (The Tiger Rising)

Sang HarimauSang Harimau by Kate DiCamillo
My rating: 3 of 5 stars

Pernahkah kau merasa seperti menyimpan seekor harimau di dalam hatimu?

Mungkin ada beberapa dari kita yang pernah atau masih menyimpan ‘harimau’ di dalam hatinya. Harimau itu bisa berupa kesedihan, kemarahan, kepahitan, pemberontakan, dan berbagai macam lagi yang terus dipendam dalam hati sampai berkarat, dan akhirnya menyedot sisa kehidupan yang kita miliki.

The Tiger Rising mengisahkan seorang anak lelaki, Rob Horton, yang berjuang melawan kesedihannya karena ditinggal ibunda tercinta. Rob sampai pada suatu titik dalam hidupnya dimana ia menyimpan rapat-rapat segala perasaannya dan bersikap diam untuk banyak hal, bahkan ketika ia menjadi korban bullying.

Sampai di suatu hari yang ajaib, saat berjalan-jalan di hutan, ia menemukan seekor harimau yang terkurung dalam kandang. Di hari yang sama ia bertemu dengan Sistine Bailey, anak perempuan yang terus terang dan berkemauan keras. Rob dan sahabat barunya pun mulai memikirkan untuk melepaskan si harimau dari kandangnya, dan seiring tumbuhnya persahabatan mereka, pelan-pelan hati Rob pun dijalari perasaan yang hampir dilupakannya–yaitu kebahagiaan.

Kisah ini amat sederhana dan cenderung melankolis, namun nilai moral yang dapat diambil sangat bagus, yaitu jangan menyimpan rapat-rapat perasaan atau kenangan yang kau miliki, walaupun mungkin menyakitkan. Pada suatu waktu kita harus melepaskan segala sesuatu dari ‘kurungan’ hati kita dan memulai kembali hidup kita dengan hati yang ringan.

N.B.: melepaskan harimau dari kurungan dalam arti harfiah —> DON’T TRY THIS AT HOME, CAUSE IT’S VERY DANGEROUUUUSSS…. :D

View all my reviews

Softcover, 146 pages
Published April 2005 by PT Gramedia Pustaka Utama (first published 2001)
Price IDR 20.000

[Review] Putri Raja Cilik (A Little Princess)

A Little Princess (Putri Raja Cilik)A Little Princess by Frances Hodgson Burnett

My rating: 4 of 5 stars

What does it take to be a princess?

Sara Crewe berusia tujuh tahun ketika masuk Sekolah Pilihan untuk Anak Perempuan Miss Minchin. Sara adalah seorang gadis piatu yang memiliki ayah kaya raya yang selalu memenuhi segala keinginannya. Semua pakaian yang dimilikinya bagus dan mahal, ia memiliki boneka-boneka yang cantik dan banyak sekali buku.
Sara anak yang pintar dan sangat suka belajar. Ia juga punya imajinasi yang tinggi dan pandai mendongeng.

Sounds too perfect?

Memiliki segalanya, Sara kecil ternyata tidak tumbuh menjadi anak yang sombong, egois, keras kepala atau tidak tahu terima kasih. Ia justru menjadi anak yang bijaksana dan penuh kasih, yang senang membantu teman-temannya yang sedang dalam kesulitan. Hal ini, di satu sisi, membuatnya disayangi teman-temannya dan menjadikannya “pemimpin” atas mereka, sedangkan di sisi lain membuat beberapa murid dan Miss Minchin sendiri iri hati kepadanya.

Kehidupannya yang seperti putri raja harus berakhir tepat pada hari ulang tahunnya yang kesebelas, ketika ia menerima kabar bahwa ayahnya yang tercinta telah meninggal tanpa mewariskan apapun kepadanya.
Dari kamar istimewanya yang besar dan dipenuhi barang mewah, Sara harus pindah ke bilik bawah atap, yang sempit, dingin, dan suram.

Karena ia telah kehilangan semua hartanya, Miss Minchin sang kepala sekolah, juru masak, dan seluruh pembantu sekolah yang lain memperlakukannya seperti budak dan memaksanya bekerja melebihi kemampuan tubuh kecilnya. Ia hanya diberi pakaian dan sepatu yang tua dan butut, dan juga seringkali ia tidak diberi makan.

Di saat-saat paling sulit sekalipun, Sara mencoba bertahan, bahkan ketika ia diomeli tanpa henti, ia malah membalas dengan bersikap amat sopan. Ketika udara di bilik bawah atap terasa dingin menusuk tulang dan ia tidak mendapat makanan, ia membayangkan bahwa semuanya tersedia di biliknya; makanan hangat yang berlimpah, perapian yang menyala, dan berbagai perabot dan barang-barang indah nan cantik.

A Little Princess bercerita tentang keteguhan hati seorang gadis kecil yang terpaksa menjalani penderitaan. Kisah Sara mengajarkan kepada kita banyak hal, tentang ketabahan menghadapi penderitaan, amarah, pengendalian diri, ketekunan, persahabatan, dan banyak hal lainnya.

Berikut ini adalah beberapa kutipan dalam buku ini yang pantas kita renungkan.

“Tapi kurasa mungkin selalu ada hal-hal baik pada segala sesuatu di dunia ini, walaupun kita tidak melihatnya.”

-hal. 129

“Saat kau tidak mau terpancing kemarahan, orang-orang tahu kau lebih kuat daripada mereka, karena kau cukup kuat untuk menahan amarah, sedangkan mereka tidak.”

-hal. 158

“Mungkin, mampu mempelajari pelbagai hal dengan cepat bukanlah segala-galanya. Bersikap ramah jauh lebih berarti bagi orang lain.”

-hal. 220

“Entah bagaimana, selalu ada yang terjadi, persis sebelum keadaan jadi semakin buruk.”

-hal. 231

“Apa pun yang terjadi, takkan bisa mengubah satu hal. Meski pakaianku lusuh dan kumal, aku tetap bisa menjadi putri raja dalam hati.”

-hal. 174

View all my reviews

Softcover, 312 pages
Published November 11th 2010 by PT Gramedia Pustaka Utama (first published 1888)
Price : IDR 35.000

[Review] Theodore Boone, Pengacara Cilik

Theodore Boone, Pengacara CilikTheodore Boone, Pengacara Cilik by John Grisham
My rating: 3 of 5 stars

Theo Boone, 13 tahun, bukan remaja biasa. Bukan, Theo bukanlah penyihir seperti Harry Potter dan bukan juga demigod seperti Percy Jackson. Dan jelas Theo bukan vampir ;P

Theo, yang pergi ke sekolah naik sepeda dan punya anjing bernama Judge, adalah putra satu-satunya pasangan suami istri yang sama-sama pengacara, ayahnya pengacara real estate dan ibunya pengacara perceraian. Theo juga mempunyai minat dan pengetahuan yang besar terhadap hukum, khususnya proses hukum pidana. Remaja mana lagi yang betah menghabiskan berjam-jam mengikuti persidangan daripada bermain bola basket atau skateboard di luar rumah? Remaja mana lagi yang bisa menjadi ”konsultan hukum gratisan” bagi teman-temannya yang bingung menghadapi masalah hukum?

Saat Theo sedang mengalami pergumulan yang biasa terjadi pada masa remaja, yaitu mengenai cewek dan cita-cita masa depan, kota tempat tinggalnya dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan seorang wanita di kompleks perumahan mewah, dan tersangka utamanya adalah suami wanita itu!

Theo, seperti (hampir) semua orang lain di Strattenburg, penasaran setengah mati dengan kasus tersebut, dan tak mau melewatkan persidangan, yang diadakan secara terbuka. Tak dinyana, Theo bertemu dengan seorang saksi rahasia dan satu-satunya, yang kesaksiannya dapat mengubah vonis yang akan dijatuhkan kepada terdakwa!

Hanya ada satu masalah, yaitu orang itu tidak mau bersaksi. Sementara si terdakwa sudah sangat dekat dengan vonis bebas, berhasilkah Theo meyakinkan si saksi untuk membeberkan semua yang ia ketahui di persidangan?

==============

”What could John Grisham write for teens?” mungkin adalah pertanyaan yang jawabannya adalah buku ini. Sudah pasti buku ini muatannya lebih “ringan” dari buku-buku John Grisham yang lain, namun bukan berarti buku ini tidak patut dibaca.

Grisham, menurut saya, sukses meramu antara kehidupan seorang remaja berikut seluk-beluknya, pengetahuan dasar mengenai proses hukum pidana di Amerika Serikat, dialog yang cerdas dan cukup lucu, dan karakter-karakter yang membuat cerita semakin hidup.

Buku ini terutama, saya rekomendasikan kepada para remaja. Mudah-mudahan melalui Theo mereka juga bisa belajar mengutamakan pendidikan, dan menumbuhkan “hasrat” belajar yang lebih menggebu. Theo tidak akan menjadi Theo jika ia sebelumnya tidak melahap buku-buku hukum, mengamati proses hukum, banyak berdiskusi dengan orang-orang yang melek hukum bukan?

==============

Buku ini kudapat dari menang kuis di toko buku online langganan… gak sia-sia deh jadi pelanggan setia hehehe.
Lihat post nya di sini!

Kebetulan kakakku juga penggemar John Grisham, dulu waktu masih belasan tahun aku juga sempat coba-coba baca The Firm, The Client, Runaway Jury, A Time to Kill, The Pelican Brief dll. Tapi dasar belum bisa dibebani buku seberat itu, jadi banyak gak selesainya deh.

Sekarang, tiba-tiba sang maestro menerbitkan novel dengan judul Pengacara Cilik. Mungkin bagi penggemar Grisham sejati buku ini hanya ditulis untuk “selingan” saja, karena begitu banyaknya karya Grisham lain yang berat dan serius.

Buatku, mungkin setelah selesai membacanya aku bisa mulai (lagi) untuk membaca karya-karya yang “John Grisham banget”.

Anyway, thanks to Vixxio for giving me this book! :)

View all my reviews

Paperback, 272 pages
Published September 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published May 25th 2010)
Price IDR 42.000

[Review] The Wizard of Oz

The Wizard of Oz (Oz, #1)The Wizard of Oz by L. Frank Baum

My rating: 3 of 5 stars

Kisah fantasi anak-anak yg sarat imajinasi dan petualangan. Setiap kali Dorothy dan kawan-kawan datang ke suatu tempat, selalu saja ada yg baru, entah itu kawanan Kera Bersayap atau perkampungan yang seluruh penduduk dan bangunannya terbuat dari porselen Cina yang gampang pecah.

Dari cerita ini kita juga dapat belajar dari kebersamaan dan kesetiakawanan Dorothy dengan Scarecrow, Tin Woodman dan Singa Penakut bahkan ketika mereka masing-masing telah menemukan tempat paling nyaman bagi mereka, mereka tetap dengan setia mendampingi Dorothy sampai tujuannya tercapai, yaitu kembali ke kampung halamannya di Kansas.

Gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini sederhana dan tidak bertele-tele, dalam banyak bagian tidak ada penjelasan yang detil tentang peristiwa yang sedang terjadi. Namun maklum, ini buku untuk anak-anak.

Ada beberapa hal yg masih ‘ganjel’ di hati saya, antara lain:

1. Entah mengapa sang penulis memberi kisah ini judul “The Wizard of Oz”. Jelas-jelas tokoh utamanya adalah Dorothy, disusul kawan-kawannya. Si Penyihir Oz sendiri hanya bagian kecil dari kisah ini.

2. Rasanya lebih pas kalau “Scarecrow” tidak usah diterjemahkan menjadi “Boneka Jerami”. Yah itu menurut saya saja sih ;)

Lepas dari itu semua, saya sangat menyukai kisah ini, termasuk juga karena adanya ilustrasi-ilustrasi cantik di edisi terjemahan terbitan Atria. 4 stars for this!

View all my reviews

Paperback, 206 pages
Published October 22nd 2010 by Penerbit Atria (first published 1900)
Price IDR 24.900

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers