Blog Archives

[Miniseries Review] Little Dorrit by Charles Dickens


ORANG KAYA BARU DI INGGRIS ERA VICTORIA.

Adalah Amy Dorrit (Claire Foy), gadis muda yang miskin namun tekun, yang setia mendampingi sang ayah, William Dorrit (Tom Courtenay), yang telah sangat lama dipenjarakan di Marshalsea debtors’ prison karena masalah hutang. Amy terus bekerja tanpa lelah sebagai penjahit untuk menghidupi dirinya dan sang ayah, kepada seorang wanita tua bernama Mrs. Clennam. Sementara itu, putra satu-satunya Mrs. Clennam yang bernama Arthur (Matthew Macfadyen) mendadak pulang setelah menghabiskan 20 tahun di Cina untuk mengurus bisnis keluarga. Sebab utama kepulangannya adalah mandat terakhir almarhum ayahnya yang berkata sebelum ajal menjemput, “Your mother, Arthur. Put it right.” Kata-kata itu keluar dari mulut ayahnya sambil mengulurkan potongan kain bundar bertulisan “Do not forget.” Arthur bertekad mengusut misteri keluarganya ini sampai tuntas, namun niatnya terhalang oleh sang ibu yang berwatak dingin dan keras. Ketika ia melihat bahwa ibunya mempekerjakan Amy, Arthur pun curiga bahwa mungkin di masa lalu keluarganya menyebabkan suatu kemalangan bagi keluarga Amy, dan ia dengan sukarela membantu meringankan beban keluarga Dorrit. Dari sini hubungan Arthur dan Amy lama-lama berkembang menjadi persahabatan.

Berkat Arthur pulalah, terkuak sebuah fakta mengenai William Dorrit yang membuatnya beserta ketiga anaknya tidak perlu mendekam di Marshalsea lagi. Keluarga Dorrit jadi kaya raya! Sangat menarik melihat perkembangan karakter William Dorrit yang sudah sekian lama hidup miskin, kemudian tiba-tiba *plop!* ia jadi bergelimang harta. Sementara itu, ada karakter antagonis berkebangsaan Prancis bernama Rigaud (Andy Serkis), seorang pembunuh berdarah dingin yang oportunis, secara tidak sengaja ia mengetahui rahasia keluarga Clennam dan kemudian menggunakannya untuk memeras Mrs. Clennam.

***

Sebagai warning awal, saya harus katakan bahwa miniseri Little Dorrit versi BBC ini:

  1. Panjang
  2. Plotnya agak jelimet dan susah dipahami
  3. Karakternya banyak (ada sekurang-kurangnya 29 karakter utama yang mendapat bagian dalam miniseri ini)
  4. Endingnya akan membuat anda mengerutkan kening.

Walau demikian, jika anda:

  1. Punya banyak waktu luang
  2. Penggemar period drama
  3. Penggemar Charles Dickens
  4. Tidak keberatan menelusuri plot dan mencari tahu mengapa ini-begini dan itu-begitu;

maka saya harus menyarankan anda untuk menonton miniseri ini. Karena semuanya bisa anda dapatkan: kelucuan, ketegangan, konflik pribadi, konflik sosial, birokrasi, pesta, orang kaya, orang miskin, orang baik, orang jahat, cinta, kebencian, kebahagiaan, kesedihan, tawa, depresi, kemelaratan, kekayaan. Aktor-aktornya tidak ada yang mengecewakan. Semua bermain bagus dalam mewujudkan deretan karakter yang berwarna-warni. Andy Serkis bermain luar biasa apik di sini, sampai mendapatkan nominasi Best Supporting Actor di Emmy Awards 2009, sayang nggak menang. :(

Satu lagi, dari sejumlah karya Charles Dickens, mungkin Little Dorrit ini termasuk judul yang jarang didengar. Saya sendiri rasanya tidak akan membaca bukunya, karena jumlah halamannya benar-benar serem (menurut data di Goodreads, edisi-edisi buku ini rata-rata punya sekitar 800-1000 halaman, bahkan ada yang sampai 1400 halaman >.<). Namun dengan menonton miniserinya, saya tetap bisa menikmati karya Charles Dickens yang disebut-sebut sebagai “one of the supreme works of Dickens’s maturity”  ini.

Average rating on IMDB : 8.4 out of 10
My rating: 8.5 out of 10

Awards: Nominated as Best Mini-Series or Motion Picture Made for Television at Golden Globes 2010
Nominated on 11 categories at 2009 Emmy Awards, won 7.

Links:
Little Dorrit (TV Miniseries) on IMDB
Little Dorrit DVD review by The Jane Austen Film Club –> with explanation of the 29 characters, very helpful post.
Little Dorrit (book) on Goodreads
Little Dorrit (book) on Wikipedia

Details:
“Little Dorrit” Miniseries by BBC Video, released 2008
Adapted by Andrew Davies from the novel by Charles Dickens
Starring Claire Foy, Matthew Macfadyen, Tom Courtenay, Judy Parfitt, Eddie Marsan, Andy Serkis
Format: DVD (2 Discs), 14 episodes, total runtime 416 mins approx.
Language: English, Subtitles: Indonesian & English
Distributed in Indonesia by Horizon (PT. Intermedia Prima Vision)
Price: IDR 139.000

[Review] Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) oleh Charles Dickens

London dan Paris; dua kota yang bergolak menjelang revolusi Prancis. Konon di Prancis, kaum bangsawan memerintah dengan sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyat. Kesejahteraan kaum bangsawan diletakkan diatas segalanya, sementara rakyat kecil dianggap tidak lebih daripada anjing. Rakyat harus membayar pajak dengan jumlah yang menggigit, sementara kaum bangsawan terus berfoya-foya dan menggemukkan badan. Kejahatan merajalela, tiada hari tanpa pelaksanaan hukuman mati, tidak peduli kecil atau besar kejahatan yang dilakukan orang yang akan dieksekusi. Begitulah situasinya, sampai di suatu titik, rakyat Prancis bangkit dan melakukan perlawanan. Situasi berputar balik, kali ini kaum bangsawanlah yang ditangkapi, diadili, dan dibunuh.

Di tengah-tengah gejolak yang terjadi, Mr. Jarvis Lorry, seorang bankir di Tellson’s Bank, London, ditemui oleh seorang gadis muda berparas cantik berkebangsaan Prancis bernama Lucie, mengenai keberadaan ayah yang disangkanya telah mati. Dr. Manette, ayah si gadis, ternyata masih hidup di Prancis. Ia dijebloskan ke penjara Bastille tanpa pernah tahu bahwa ia memiliki keturunan. Setelah bertahun-tahun menjalani hukuman di Bastille, yang menguras kewarasan sang dokter, ia tinggal di rumah mantan pelayannya yang bernama Defarge. Mr. Lorry dan Mlle Manette menjemput sang dokter dari tempat itu, pindah ke Inggris, dimana mereka berusaha memulihkan keadaan fisik dan psikis sang dokter.

Lima tahun kemudian, Dr. Manette dan putrinya terlibat dalam persidangan seorang keturunan Prancis yang bernama Charles Darnay, sebagai saksi. Darnay didakwa sebagai mata-mata Prancis yang menjalankan suatu rencana untuk melumpuhkan Inggris. Di persidangan itu mereka bertemu dengan pengacara yang bernama Mr. Stryver, dan rekannya yang eksentrik, Sydney Carton, yang secara mengherankan memiliki kemiripan fisik dengan Charles Darnay. Darnay akhirnya diputuskan tidak bersalah oleh pengadilan. Beberapa tahun kemudian Darnay menikahi Lucie, dan ketiga orang keturunan Prancis itu, Darnay, Lucie, dan sang dokter, hidup di Inggris dengan cukup bahagia.

Namun suatu hal yang belum diketahui Lucie, bahwa nama asli suaminya bukan Charles Darnay. Darnay sebenarnya adalah salah satu keturunan bangsawan Prancis, keponakan dari Marquis Evrémonde. Ketika Gabelle, pengurus kediaman Evrémonde dipenjarakan, ia menulis surat kepada tuannya, Darnay, minta diselamatkan. Maka Darnay, dengan mengabaikan bahaya yang mengancam dirinya sendiri, pergi ke Prancis. Disana ia ditangkap karena jati dirinya yang seorang bangsawan. Darnay sempat dibebaskan, karena Dr. Manette dan Lucie pergi ke Prancis, dan Dr. Manette memanfaatkan pengaruh yang dimilikinya sehingga menantunya itu bisa bebas. Namun malam harinya Darnay ditangkap lagi, dengan tuduhan yang berasal dari Defarge dan istrinya, serta Dr. Manette! Dalam persidangan, Defarge membacakan sebuah surat yang ditulis Dr. Manette, yang mengungkapkan alasan mengapa ia dijebloskan ke Bastille. Suatu peristiwa buruk yang terjadi di masa lalu mengaitkan Dr. Manette dengan keluarga bangsawan Evrémonde, dimana sekarang seorang keturunan Evrémonde menjadi menantunya. Sementara itu, Darnay akan dieksekusi oleh La Guillotine, si wanita tajam, dalam waktu dua puluh empat jam. Dr. Manette, Lucie, Mr. Lorry, dan Sydney Carton berada di tengah-tengah situasi tak menentu itu. Bagaimanakah badai kehidupan ini akan berakhir?

Gambar dari http://charlesdickenspage.com/illustrations-cities.html

”Saat itu adalah waktu terbaik, sekaligus waktu terburuk.
Masa kebijaksanaan, sekaligus masa kebodohan.
Zaman iman, sekaligus zaman keraguan.
Musim Terang, sekaligus musim Kegelapan.
Musim semi pengharapan, sekaligus musim dingin keputusasaan.
Kita memiliki semuanya di hadapan kita, sekaligus tidak memiliki semuanya.
Kita semua langsung pergi ke Surga, sekaligus langsung pergi ke jalan lainnya.
Pendeknya, zaman itu begitu persis dengan zaman sekarang.”

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka yang terkenal dari Kisah Dua Kota. Novel ini terbagi menjadi 3 buku, Buku I: Kembali ke Kehidupan, Buku II: Benang Emas, dan Buku III: Badai Kehidupan. Kisah Dua Kota adalah terjemahan dari karya fenomenal Charles Dickens, A Tale of Two Cities. Novel klasik dengan plot yang kompleks ini ditulis Dickens dengan menggunakan kontradiksi, mempertentangkan situasi yang terjadi di dua negara pada masa itu, Inggris yang taat hukum dan Prancis yang feodal. Kontradiksi juga bisa ditemukan dalam karakter-karakter di dalam cerita, misalnya Darnay, si bangsawan yang emigran karena menolak feodalisme, berpenampilan necis dan rapi, merupakan ”lawan” dari karakter Sydney Carton, si pengacara slengean yang tidak memiliki fokus dalam hidupnya untuk mencapai apapun. Karakter Miss Pross, pelayan Lucie yang secara fisik tangguh namun sangat setia, bertolak belakang dengan Madame Defarge yang pendendam dan haus darah. Dalam banyak bagian juga Dickens menggunakan simbol-simbol yang kadang sulit dipahami, misalnya di awal cerita pada Buku I: Kembali ke Kehidupan, Mr. Lorry akan menjemput ”seseorang yang telah dikubur hidup-hidup selama delapan belas tahun”. Maksudnya adalah Mr. Lorry akan menjemput Dr. Manette, yang telah menjalani sekian tahun hukuman di Bastille sehingga kehilangan akal sehatnya. Ia sama saja seperti orang yang sudah mati. Kemudian Madame Defarge yang merajut tanpa henti. Ia sebenarnya sedang mendaftar nama-nama mereka yang akan dijatuhi hukuman mati. Kegiatan merajut ini juga menyimbolkan ”serigala berbulu domba”, rakyat kecil Prancis yang kelihatan tidak berbahaya, merajut dalam diam, namun di tangan mereka juga aristokrasi akan tumbang.

Terjemahan A Tale of Two Cities yang diterbitkan Elex Media Komputindo dengan judul ”Kisah Dua Kota” ini sama sekali tidak mengecewakan, baik dalam bentuk fisik maupun substansi buku. Terjemahan yang digarap oleh Peusy Sharmaya menurut saya sangat bagus, jenis kertas dan font yang digunakan sangat nyaman untuk dibaca. Meskipun rasanya lebih nyaman membaca “Mr.”, “Monsieur”, “Mademoiselle” ketimbang “Tuan” dan “Nona”. Dan semoga juga jilidan bukunya awet, mengingat bukunya cukup tebal. Saya tidak menyesal membeli buku ini walaupun harganya relatif mahal ;)

Secara keseluruhan, Kisah Dua Kota layak diganjar 5 bintang. Faktor yang terbesar adalah penulisan Dickens yang brilian. Ia mampu membangun cerita dengan plot yang padat dan kompleks, kadang-kadang sengaja menyimpan beberapa elemen untuk akhir cerita, sehingga pembaca tidak akan berhenti penasaran seperti apakah nanti endingnya. Gaya penulisannya puitis namun dengan aura yang suram dan tragis, sangat khas Dickens. Namun, bagi pembaca yang tidak suka narasi yang panjang-panjang, kemungkinan akan sulit menikmati karya Dickens ini. Ada yang menyebutkan A Tale of Two Cities sebagai karya Dickens yang tidak memiliki karakter yang se-memorable Scrooge di A Christmas Carol, Miss Havisham di Great Expectations, atau Fagin di Oliver Twist. Saya secara pribadi tidak setuju, setelah membaca buku ini sampai akhir dan mengalami “gema” di akhir cerita yang disebabkan tokoh yang bernama Sydney Carton. Bagi saya, A Tale of Two Cities akan selalu menjadi salah satu karya sastra yang akan terus saya kenang.

Resensi Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) ini diposting dalam rangka merayakan HUT ke-200 Charles Dickens yang jatuh tepat pada hari ini, 7 Februari 2012.

Happy Birthday, Charles Dickens!

Senang rasanya bisa menikmati karyamu yang bunyinya masih terdengar bahkan setelah 200 tahun berlalu! ;)

***

Detail buku:
“Kisah Dua Kota” (judul asli: “A Tale of Two Cities”), oleh Charles Dickens
576 halaman, diterbitkan Oktober 2010 oleh Elex Media Komputindo
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Ilustrasi Charles Dickens oleh Court Jones

Illustration of Charles Dickens by Court Jones, edited by me :)

Sumber gambar dari sini.

BULAN DICKENS: Perayaan 200 Tahun Charles Dickens

Repost dari Blog Fanda Classiclit

Tanggal 7 Februari 2012 merupakan hari yang istimewa. Pada hari itu kita akan merayakan ulang tahun penulis klasik besar dunia: CHARLES DICKENS, yang ke-200! Beliau lahir tepat pada 7 Februari 1812. Untuk merayakan dua abad Charles Dickens, blog Fanda Classiclit bekerja sama dengan Melmarian (pemilik blog Surgabukuku) akan mengadakan sebuah perayaan bertajuk: BULAN DICKENS.

Di BULAN DICKENS yang berlangsung selama bulan Februari 2012 akan ada 3 event antara lain:

#BacaDickens

*Menikmati min. 1 karya Dickens (lebih banyak lebih baik) dalam bentuk apa saja. Boleh membaca buku (buku terjemahan, buku bahasa Inggris, e-book, audiobook, videobook), atau menonton film yang diadaptasi dari karya Dickens.

* Follow @bacaklasik.

*Share pengalaman & kesan kalian selama membaca/menonton Dickens di Twitter dengan mention @bacaklasik dan hashtag #BacaDickens. Boleh juga di-share di blog masing-masing atau FB.

*Jadwal dan frekuensi share bebas, asalkan antara tanggal 1 s/d 29 Februari 2012.

*Judul buku/film, terbitan, penerbit apa saja terserah, pokoknya karya Dickens.

*Kami akan memilih 2 (dua) orang pemenang yang paling sering share pengalaman #BacaDickens selama sebulan (1 s/d 29 Februari 2012). Masing-masing akan mendapatkan hadiah 1 buku klasik dari kami.

(Tujuan kegiatan ini adalah untuk lebih mengakrabkan orang pada karya-karya dan ke-khas-an gaya penulisan Charles Dickens).

Lomba #ReviewDickens

*Mereview buku atau film yang kalian baca/tonton.

*Review diposting di :

1. Notes Facebook dengan men-tag min. 20 orang teman yang kalian rekomendasikan untuk turut membaca karya klasik Dickens (wajib). Sertakan keterangan bahwa review kalian dibuat dalam rangka Bulan Dickens bersama @bacaklasik. Review juga boleh direpost di blog masing-masing (bila punya).

2. Cantumkan link Notes tsb di kolom komentar posting ini supaya kami bisa menilai review tsb. (wajib)

3. Cantumkan juga link di Twitter (bila punya) dengan mention @bacaklasik dan hashtag #ReviewDickens, agar kami bisa men-RT.

*Review tersebut diposting antara tanggal 1 s/d 29 Februari 2012.

*Judul buku/film, terbitan, penerbit apa saja terserah, pokoknya karya Dickens. Review (baik buku/film) harus ditulis dalam bahasa Indonesia.

*Review akan kami nilai, dan 2 (dua) review terbaik akan mendapatkan hadiah masing-masing 1 buku klasik dari kami.

(Tujuan kegiatan ini adalah untuk menularkan virus membaca karya klasik, agar semakin banyak orang*tertarik membaca buku klasik—dalam hal ini karya Charles Dickens yang sedang dirayakan).

#TebakDickens

Quiz yang diadakan di Twitter selama bulan Februari. Pertanyaan-pertanyaannya akan berkisar di seputar Charles Dickens. Bisa mengenai sosok pribadinya, atau karya-karyanya. 2 (dua) orang yang paling banyak dan paling cepat mengumpulkan jawaban yang benar akan mendapat hadiah masing-masing 1 buku klasik dari kami.

Kuis #TebakDickens akan diadakan selama 5 hari (tanggal 20-24 Februari 2012) dengan 5 pertanyaan setiap harinya. Pertanyaan akan ditweet di jam kerja (pukul 08.00-17.00) namun menjawabnya boleh sampai sebelum pukul 24.00 setiap harinya.

Pertanyaan hari pertama akan ditweet dengan hastag #TebakDickensH1, hari kedua #TebakDickensH2 dan seterusnya.

Menjawab pertanyaan harus mention @bacaklasik dan hashtag sesuai hari (lihat keterangan diatas).

Tweet jawaban yang tidak sesuai kriteria tidak akan kami sertakan dalam penilaian.

(Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan sosok Charles Dickens dan karya-karyanya).

Pengumuman Pemenang

Peserta yang terpilih menjadi pemenang harus berdomisili di Indonesia.

Pemenang kuis #TebakDickens akan diumumkan pada hari Senin, 27 Februari 2012 pukul 12.00 siang di Twitter @bacaklasik

Sedangkan pemenang #BacaDickens dan Lomba #ReviewDickens akan diumumkan pada hari Senin, 5 Maret 2012 pukul 12.00 siang melalui Twitter @bacaklasik dan blog Fanda Classiclit.

 

Informasi Lainnya

Karya Charles Dickens yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia:

• Oliver Twist – oleh Bentang Pustaka, Maret 2011

• Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) – oleh Elex Media Komputindo, tahun 2010

Buku-buku Dickens berbahasa Inggris (buku fisik) bisa didapatkan di toko buku seperti Periplus atau toko buku online internasional seperti Amazon.com dan BookDepository.com

Sedangkan e-book karya-karya Dickens bisa di search salah satunya di Project Gutenberg. Beberapa judul yang tersddia antara lain:

A Christmas Carol
Great Expectations
Oliver Twist
A Tale of Two Cities
David Copperfield
The Pickwick Papers
Little Dorrit
Nicholas Nickleby
Dombey and Son
The Old Curiosity Shop
Dan lain-lain.

Ayo, ikut meriahkan 200 tahun Charles Dickens!

*Host BULAN DICKENS: Blog Fanda Classiclit bekerjasama dengan Blog Surgabukuku, Akun Twitter @bacaklasik, sponsored by Bukunya.com*

[Classics Challenge 2012] January – Author Charles Dickens

Let’s read classics!

Tidak hanya sekedar membaca, melalui challenge yang ini pembaca buku klasik juga ditantang untuk memperdalam wawasan tentang buku klasik yang dibaca. Posting aslinya (dari blog luar) bisa dilihat di sini. Bertepatan dengan perayaan 200 tahun penulis besar asal Inggris Charles Dickens, maka classics challenge ini saya dedikasikan untuk beliau.

Level 1

Who is the author?

Charles John Huffam Dickens, lebih dikenal dengan nama Charles Dickens.

What do they look like?

Gambar dari http://www.guardian.co.uk/books/2011/nov/27/dickens-exhibition-spooky-plagiarism-scare

Jika dicari melalui Google, foto Dickens hampir semuanya berkumis dan berjanggut…

When were they born?

7 Februari 1812

Where did they live?

2 Ordnance Terrace, Chatham

Dickens menghabiskan masa kecil (1817–1822) di 2 Ordnance Terrace, Chatham, di Kent. Tahun 1824, ayah Dickens dipenjarakan di Marshalsea debtors’ prison beserta seluruh keluarga, kecuali Charles yang pada saat itu dikirim untuk bekerja di Warren’s Shoe Blacking Factory. Saat itu Charles tinggal di rumah kos-kosan di Camden Town dan mengunjungi keluarganya di Marshalsea setiap minggu. Dickens tinggal di Gad’s Hill di Kent mulai tahun 1857 hingga 1870, tahun dimana beliau wafat. Gad’s Hill menjadi Gad’s Hill School sejak tahun 1924 hingga saat ini.

Gad's Hill Place

What does their handwriting look like?

Gambar dari http://www.fathom.com/course/21701768/s5_14_fields.html

What are some of the other novels they’ve written?

Dickens menghasilkan banyak karya sepanjang hidupnya. Selain A Tale of Two Cities yang laris manis di seluruh penjuru dunia, ada novel pertamanya, The Pickwick Papers, kemudian Oliver Twist, Great Expectations, Bleak House, A Christmas Carol, Little Dorrit, The Old Curiosity Shop, dan masih banyak lagi…

What is an interesting and random fact about their life?

Tidak banyak yang tahu, bahwa Dickens punya pengaruh terhadap sastra Amerika melalui suatu hal yang unik. Hewan peliharaan kesayangan Dickens, seekor burung raven bernama Grip, yang setelah kematiannya di tahun 1841 diawetkan (Grip masih disimpan di Free Library of Philadelphia sampai saat ini) ternyata adalah sumber inspirasi Edgar Allan Poe, penyair dan kritikus sastra Amerika, dalam menulis puisi “The Raven” yang fenomenal. Baca artikel lengkapnya di sini.

Untuk merayakan 2 abad Charles Dickens, review salah satu karyanya yang paling terkenal, A Tale of Two Cities (diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai “Kisah Dua Kota”) akan dipublish di blog ini tepat pada tanggal 7 Februari 2012 nanti.

Happy 200th Birthday, Charles Dickens! :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers