Blog Archives

Classic Author of May 2012: Sir Arthur Conan Doyle

Siapa tak kenal Sherlock Holmes? Sosok detektif bohemian yang diceritakan hidup di abad ke-19 Inggris ini begitu terkenal seantero dunia. Sekarang, mari kita berkenalan dengan “bapak” dari Sherlock Holmes, yaitu Sir Arthur Conan Doyle.

Pria bernama lengkap ARTHUR IGNATIUS CONAN DOYLE ini lahir di 11 Picardy Place, Edinburgh, Skotlandia, pada tanggal 22 Mei 1859. Beliau dilahirkan dalam keluarga Katolik Irlandia yang terbilang kaya. Ayahnya, Charles Altamont Doyle mempunyai ketergantungan parah terhadap alkohol sementara ibunya, Mary Foley Doyle, adalah seorang kutu buku dan pendongeng ulung yang memiliki bakat “sinking her voice to a horror-stricken whisper” saat mencapai titik puncak dalam pembacaan sebuah cerita. Doyle memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ibunya, sehingga dalam biografinya beliau menggambarkan ibundanya seperti berikut: “In my early childhood, as far as I can remember anything at all, the vivid stories she would tell me stand out so clearly that they obscure the real facts of my life.”

Pengarang yang sekaligus berprofesi sebagai dokter ini mulai menulis cerita pendek ketika menempuh pendidikan kedokterannya di University of Edinburgh (1876-1881). Di universitas tersebut beliau bertemu dengan James Barrie dan Robert Louis Stevenson, namun sosok yang menjadi sasaran kekagumannya adalah salah seorang gurunya, Dr. Joseph Bell, yang nantinya menjadi inspirasi karakter Sherlock Holmes.

Selagi menempuh kuliah, Doyle mulai mengasah kemampuannya dalam menulis. Cerita pendek karyanya yang pertama kali diterbitkan berjudul “The Mystery of Sasassa Valley”, merupakan sebuah cerita yang mengambil setting Afrika Selatan, muncul dalam Chamber’s Edinburgh Journal pada tanggal 6 September 1879. Di bulan yang sama pada tanggal 20, artikel ilmiah pertamanya, “Gelsemium as a Poison” diterbitkan dalam British Medical Journal.

Pada tahun 1881, Doyle merayakan keberhasilannya dalam meraih gelar Bachelor of Medicine dan Master of Surgery dengan menggambar sketsa lucu-lucuan dirinya yang sedang menerima diploma, dan menambahkan teks di bawahnya: “Licensed to Kill.” Setelah lulus kuliah, Doyle bekerja sebagai dokter militer di kapal SS Mayumba yang menempuh perjalanan dari Liverpool ke daerah pantai barat Afrika.

Doyle menelurkan novel pertama Sherlock Holmes yang berjudul A Study in Scarlet pada tanggal 20 November 1886, diterbitkan oleh Ward Lock & Co, dan juga dimuat di Beeton’s Christmas Annual. Selanjutnya, sekuel dari A Study in Scarlet; The Sign of the Four, muncul dalam Lippincott’s Magazine pada bulan Februari 1890, sedangkan cerpen-cerpen Sherlock Holmes dimuat dalam Strand Magazine. Potret Sherlock Holmes digambar oleh Sidney Paget dengan mengambil saudara lelakinya yang tampan, Walter, sebagai model. Selanjutnya, novel-novel Sherlock Holmes diterbitkan secara berseri dalam Strand Magazine; The Hound of the Baskervilles pada bulan Agustus 1901, dan novel terakhir Sherlock Holmes, The Valley of Fear, mulai terbit pada awal tahun 1914.

Saat terjadinya Boer War di Afrika Selatan pada pergantian abad dari abad 19 ke abad 20, Doyle menulis artikel singkat berjudul The War in South Africa: Its Cause and Conduct yang menjelaskan peranan Inggris dalam Boer War, yang sebelumnya sempat dicerca oleh dunia. Inilah yang dianggap menjadi penyebab beliau dianugerahi gelar ksatria oleh Raja Edward VII pada tahun 1902.

Karakter Sherlock Holmes muncul dalam tidak kurang dari 56 cerita pendek dan 4 novel karya Conan Doyle, belum lagi muncul dalam banyak cerita dan novel karya pengarang-pengarang lain. Selain seri Sherlock Holmes yang tidak perlu dipertanyakan ketenarannya, Doyle juga menulis seri fiksi ilmiah Professor Challenger, novel sejarah, puisi, dan naskah sandiwara, yang beliau harapkan dapat menegakkan posisinya sebagai seorang pengarang yang “serius”. Salah satu novel dalam seri Professor Challenger yang terkenal adalah The Lost World (1912), yang menceritakan tentang petualangan dan penemuan flora dan fauna prasejarah di daerah terpencil dan misterius di Amerika Selatan. 81 tahun kemudian, “The Lost World” digunakan oleh pengarang Michael Crichton sebagai judul sekuel novel Jurassic Park.

Patung Sherlock Holmes di Picardy Place, Edinburgh

Sebuah patung Conan Doyle berdiri di Crowborough, sebagai penghargaan bagi beliau yang tinggal di daerah itu selama kurang lebih 23 tahun. Di Picardy Place, dekat rumah di mana Doyle dilahirkan, juga berdiri patung Sherlock Holmes.

Conan Doyle mempunyai lima orang anak. Dua orang dari istri pertamanya, Louisa Hawkins, yaitu Mary Louise dan Arthur Alleyne Kingsley. Setelah Louisa meninggal pada tahun 1906, beliau menikahi Jean Elizabeth Leckie, seorang perempuan yang multitalenta, dan mereka dikaruniai tiga orang anak yaitu Denis Percy Stewart, Adrian Malcolm, dan Jean Lena Annette.

Beliau meninggal dunia pada usia 71 tahun akibat serangan jantung pada 7 Juli 1930 di rumahnya, Windlesham, di Crowborough, East Sussex, dengan kata-kata terakhir yang ditujukan kepada istrinya; “You are wonderful.” Setelah sebelumnya dimakamkan di halaman Windlesham, jenazahnya dikebumikan bersama istrinya di pekarangan gereja Minstead di New Forest, Hampshire. Sebagian tulisan pada batu nisannya berbunyi, “Steel true/Blade straight/Arthur Conan Doyle/Knight/Patriot, Physician, and man of letters”.

Masih banyak detail menarik dari kehidupan Sir Arthur Conan Doyle yang tidak dimuat dalam artikel ini, misalnya ketertarikannya dalam Spiritualisme, keterlibatannya dalam reformasi Congo, studi spesialis mata yang ditempuhnya di Vienna, dan keputusannya untuk meninggalkan dunia medis demi menulis. Satu hal yang dapat kita catat mengenai beliau adalah; Sir Arthur Conan Doyle was so much more than just Sherlock Holmes, the fictional character he created.

“My mind rebels at stagnation. Give me problems, give me work, give me the most abstruse cryptogram, or the most intricate analysis, and I am in my own proper atmosphere. But I abhor the dull routine of existence. I crave for mental exaltation.” – Sir Arthur Conan Doyle

Dari berbagai sumber
Sebagian gambar diambil dari situs http://www.sherlockholmesonline.org/

***

Untuk merayakan HUT Sir Arthur Conan Doyle yang ke-153, selama bulan Mei Komunitas Baca Klasik menyelenggarakan event Sherlock Quest yaitu lomba review, quiz, dan game. Info lengkapnya bisa dibaca di sini. Review kumcer Petualangan Sherlock Holmes juga akan terbit di blog ini pada tanggal tersebut. Mari berkutat dengan misteri bersama Sherlock Holmes!

Classic Author of April 2012: Charlotte Brontë

“If all the world hated you, and believed you wicked, while your own conscience approved you, and absolved you from guilt, you would not be without friends.”
– Charlotte Brontë

The authoress

Bagaimana rasanya punya saudara sekandung yang sama-sama berprofesi sebagai penulis? Seandainya Charlotte Brontë masih hidup, kita mungkin bisa menanyakan kepadanya. Berikut biografi singkat Charlotte Brontë, pengarang perempuan Inggris era Victoria yang diakui, yang mempunyai tanggal lahir sama dengan pahlawan wanita Indonesia, Raden Ajeng Kartini.

***

CHARLOTTE BRONTË dilahirkan tanggal 21 April 1816 sebagai putri ketiga pasangan Rev. Patrick Brontë dan Maria Branwell. Dua kakak tertua Charlotte adalah Maria dan Elizabeth, sedangkan adik-adiknya antara lain Patrick Branwell, Emily, dan Anne. Ibu mereka meninggal dunia saat Charlotte masih berusia lima tahun. Brontë bersaudara akhirnya diasuh oleh saudara perempuan ibu mereka, Elizabeth Branwell, dan kemudian pada tahun 1824 Charlotte beserta tiga Brontë lainnya: Maria, Elizabeth, dan Emily, dikirimkan ke Clergy Daughters’ School, di Cowan Bridge, Lancashire. Adapun kondisi sekolah ini sangat tidak layak dan berpengaruh buruk pada kesehatan dan perkembangan fisik Charlotte. Dua Brontë tertua, Maria dan Elizabeth meninggal dunia akibat tuberkulosis saat masih berada di sekolah tersebut. Clergy Daughters’ School nantinya dipakai Charlotte sebagai inspirasi sekolah Lowood dalam novel Jane Eyre.

Rumah keluarga Brontë di Haworth, sekarang menjadi Brontë Parsonage Museum

Padang moor di Haworth, yang sering menjadi setting di kisah-kisah karya Brontë bersaudara

Di rumah mereka yang terpencil di Haworth Parsonage, keempat Brontë mulai mengembangkan daya imajinasi mereka; Charlotte dan Branwell menulis kisah tentang suatu kerajaan fiktif dan penghuninya, berjudul “The Tales of Angria”, sementara Emily dan Anne menulis puisi-puisi “kerajaan tetangga” Angria yang diberi judul “Gondal”.

Pada tahun 1842, Charlotte dan Emily belajar di sebuah sekolah asrama di Brussels, di bawah pimpinan Constantin Heger dan istrinya. Charlotte menghabiskan tahun berikutnya dengan perasaan kesepian, rindu rumah, dan cinta tak sampai kepada sang “pak guru”, Mr. Heger. Charlotte menulis surat-surat cinta untuk Heger, yang meskipun telah dibakar, dijual, dipotong-potong, pendeknya dihancurkan; surat-surat cinta tersebut berhasil diselamatkan dan akhirnya diterbitkan oleh The British Library. Pengalaman di sekolah asrama di Brussels tersebut kemudian digunakan oleh Charlotte sebagai inspirasi cerita dalam novel The Professor dan Villette. Selain menulis, Charlotte bekerja sebagai guru dan pengasuh anak.

Portrait by Duyckinick, 1873

Charlotte, Emily, dan Anne menerbitkan kumpulan puisi karya mereka secara independen pada Mei 1846, di bawah nama pena Currer, Ellis, dan Acton Bell. Charlotte mengungkapkan alasan mereka menggunakan nama pena sebagai berikut:

“… while we did not like to declare ourselves women, because — without at that time suspecting that our mode of writing and thinking was not what is called ‘feminine’ – we had a vague impression that authoresses are liable to be looked on with prejudice…”

Setelah manuskrip The Professor ditolak oleh penerbit, Charlotte kemudian mengirimkan manuskrip Jane Eyre pada bulan Agustus 1847. Jane Eyre diterbitkan enam minggu kemudian dan menuai kesuksesan. Beberapa bulan kemudian novel-novel pertama dari kedua saudari Charlotte, Emily (Wuthering Heights), dan Anne (Agnes Grey) juga diterbitkan. Publik mulai penasaran dan curiga mengenai identitas sebenarnya “Currer Bell”, dan timbul kritik tajam yang mengatakan bahwa tulisan Charlotte “kasar”. Kritik yang senada juga dialamatkan terhadap Villette, novel ketiga Charlotte yang dipublikasikan semasa ia masih hidup, dengan tambahan bahwa penggambaran keinginan sang tokoh utama (Lucy Snowe) tidak “feminin” sebagaimana seharusnya.

Charlotte baru menyelesaikan sebagian dari novel keduanya, Shirley, ketika tragedi merundung keluarga Brontë bertubi-tubi. Satu-satunya saudara lelaki Charlotte, Branwell, meninggal dunia akibat bronkhitis kronis pada bulan September 1848, disusul Emily karena tuberkulosis pada bulan Desember, dan Anne karena penyakit yang sama dengan Emily pada bulan Mei tahun berikutnya. Setelah kematian Anne, Charlotte melanjutkan penulisan Shirley dan akhirnya novel tersebut terbit pada bulan Oktober 1849.

Hanya setahun setelah menikahi Arthur Bell Nicholls, Charlotte meninggal dunia pada usia 38 tahun dalam keadaan mengandung pada akhir Maret 1855. Jenazah Charlotte disemayamkan di pemakaman keluarga di The Church of St. Michael and All Angels, Haworth, West Yorkshire, Inggris. Novel pertama yang ditulisnya, The Professor, diterbitkan secara anumerta pada tahun 1857, dan menyusul fragmen “Emma” yang baru ditulisnya sebanyak 20 halaman pada tahun 1860. 143 tahun kemudian, di tahun 2003, fragmen “Emma” diselesaikan oleh penulis Clare Boylan dengan judul Emma Brown: A Novel from the Unfinished Manuscript by Charlotte Brontë. Penulis Jean Rhys juga mempublikasikan karyanya yang berjudul Wide Sargasso Sea, yang menceritakan tentang kehidupan cinta Edward Rochester (tokoh utama pria dalam Jane Eyre) di masa mudanya.

Semasa hidupnya, Charlotte juga membina hubungan pertemanan dengan beberapa sastrawan terkemuka di masa itu, termasuk Elizabeth Gaskell, Harriet Martineau dan William Makepeace Thackeray. Bahkan, Gaskell menuliskan biografi Charlotte setelah yang bersangkutan wafat pada tahun 1855. Biografi dengan judul The Life of Charlotte Brontë tersebut dianggap tidak biasa pada masa itu karena bukannya memfokuskan pada pencapaian-pencapaian subyeknya, Gaskell malah memberikan detail-detail kehidupan pribadi Charlotte dan berusaha menjawab tuduhan para kritikus akan “kekasaran” gaya menulis Charlotte.

L'Ingratitude

Berita terbaru yang dirilis London Review of Books, the Guardian, the Telegraph, dan Huffington Post, menyatakan bahwa sebuah cerita pendek karya Brontë yang telah lama hilang, ditemukan di sebuah museum di Belgia. Cerita pendek yang ditulis dalam bahasa Prancis ini berjudul “L’Ingratitude”, dan rupanya adalah pekerjaan rumah dari Pak Guru Heger yang ditaksir Charlotte setengah mati. Cerita “L’Ingratitude” adalah sebuah alegori tentang seekor tikus muda ceroboh yang melarikan diri dari ayahnya dan mengalami suatu akhir yang sangat menyedihkan. Anda bisa membaca “L’Ingratitude” dalam bahasa Prancis dan Inggris di website London Review of Books di sini, juga mendengarkan cerita tersebut dibacakan oleh aktris Gillian Anderson.

My Brontë collection (sebenarnya saya juga punya buku puisinya tapi ketlisut entah dimana T__T)

Miris rasanya, bila kita melihat kisah hidup tragis (yang semuanya berakhir pada usia muda) dari kakak-beradik Brontë. Namun yang patut dikagumi adalah dalam masa hidup yang pendek, juga dalam keterasingan kehidupan mereka, masing-masing telah menghasilkan karya yang tidak punah sampai saat ini, dan membuat nama mereka diakui sebagai tokoh-tokoh terkemuka dalam sastra Inggris.

Dari berbagai sumber

Useful links:

Charlotte Brontë on Wikipedia
Charlotte Brontë on Poetry Foundation
The Brontë Parsonage Museum & Brontë Society
My review of Charlotte Brontë’s Jane Eyre (in Indonesian)
My review of Emily Brontë’s Wuthering Heights (in Indonesian)

Classic Author of March 2012: Émile Zola


The artist is nothing without the gift, but the gift is nothing without work.

~ Émile Zola

Émile Zola

Émile François Zola lahir di Paris pada tanggal 2 April 1840, dari pasangan François Zola (nama aslinya Francesco Zolla), seorang insinyur Italia, dan istrinya Émilie Aurélie Aubert. Ketiga Zola pindah ke Aix-en-Provence ketika Émile berusia tiga tahun, lalu kembali ke Paris pada tahun 1858, 11 tahun setelah kematian sang ayah. Zola sejak kecil bersahabat dengan seniman Paul Cézanne.

Pernah bekerja dalam sebuah perusahaan pelayaran dan penerbit Hachette, Zola menghabiskan tahun-tahun pertama dalam karirnya dengan menulis review sastra dan seni untuk surat kabar, dan kemudian sebagai jurnalis politik. Novel utamanya yang pertama adalah Thérèse Raquin (1867), dan setelah itu Zola mulai menulis seri Les Rougon-Macquart ,yang mengisahkan tentang dua keluarga, keluarga Rougon dan keluarga Macquart, sepanjang lima generasi dalam setting The Second Empire di Prancis, di bawah pemerintahan Napoleon III. Selain itu Zola juga menulis The Masterpiece (1886), l’Assommoir (1877), Germinal (1885), kemudian “kisah tiga kota”, Lourdes (1894), Rome (1896), dan Paris (1897).

Image from: http://www.shapell.org/manuscript.aspx?170038

Kamis pagi, 13 Januari 1898, Prancis dihebohkan dengan halaman pertama surat kabar L’Aurore. Halaman pertama harian itu memuat tulisan Zola dengan headline: “J’Accuse…!” (dalam bahasa Inggris: “I accuse…! Letter to the President of the Republic”). Surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Félix Faure ini mengungkapkan tentang Kapten Alfred Dreyfus, seorang opsir Yahudi dalam tentara Prancis. Dreyfus dituduh telah membocorkan rahasia militer Prancis ke pihak Jerman. Ia kemudian dinyatakan bersalah dan dipenjarakan seumur hidup di Devil’s Island, French Guiana. Belakangan, Letkol Georges Picquart menemukan bukti bahwa seorang opsir lain, Ferdinand Walsin Esterhazy, adalah orang yang bertanggung jawab atas bocornya rahasia militer tersebut dan bukannya Dreyfus. Anti-semitisme yang mengakar kuat pada saat itu mencegah Esterhazy diadili, sehingga nasib Dreyfus pun tidak mengalami perubahan. Zola mengambil risiko yang sangat besar dalam karir dan kehidupannya saat J’Accuse muncul . Kasus yang kemudian dikenal sebagai The Dreyfus Affair ini memecah Prancis menjadi dua kubu, kubu ketentaraan dan gereja yang reaksioner, dan kubu masyarakat yang cenderung lebih liberal. Kutipan Zola yang terkenal terkait The Dreyfus Affair adalah,

“The truth is on the march, and nothing shall stop it.”

Portrait of Emile Zola (1868) by Édouard Manet

Zola meninggal dunia pada umur 62 tahun, pada tanggal 29 September 1902 karena keracunan gas karbon monoksida, akibat cerobong asap yang ditutup. Banyak yang mencurigai bahwa musuh-musuh Zola terlibat dalam kematiannya ini, namun asumsi ini menguap begitu saja karena tidak ada bukti. Zola awalnya dikubur di Cimetière de Montmartre di Paris, namun 6 tahun kemudian jasadnya dipindahkan ke Panthéon, di sebuah kapel bawah tanah di mana jasad Victor Hugo dan Alexandre Dumas juga bersemayam.

Émile Zola yang karya sastranya banyak diinspirasi oleh Balzac (1799-1850), diakui sebagai bapak dari sastra naturalis, dan sastrawan yang tak kalah sinarnya dengan sastrawan-sastrawan Prancis lain, semisal Victor Hugo. Ciri khas karya-karya literatur Zola adalah bahasa yang jelas, sederhana, tepat, deskripsi kenyataan seakurat mungkin. Memulai karirnya sebagai jurnalis, saran Zola bagi penulis-penulis muda adalah dengan memulai karir dari jurnalisme untuk mencapai gaya menulis yang ringkas dan efektif.

Dari berbagai sumber

Links:
Émile Zola on Wikipedia
The Dreyfus Affair on Wikipedia
“J’Accuse…!” (letter) on Wikipedia
English translation of “J’Accuse…!”
Biographical film “The Life of Émile Zola” on IMDb

Classic Author of February 2012: Victor Hugo

Melanjutkan Classics Challenge bulan Januari 2012 yang mengulas sekilas mengenai penulis klasik Charles Dickens, maka menggunakan pertanyaan-pertanyaan dasar dari Classics Challenge Januari level 1, bulan ini saya mau memperkenalkan sosok penulis klasik yang terkenal lewat dua mahakaryanya yaitu The Hunchback of Notre Dame dan Les Misérables.

Who is the author?
Victor-Marie Hugo

What do they look like?

When were they born?
26 Februari 1802

Where did they live?
Victor Hugo menyewa sebuah apartemen di lantai dua Hôtel de Rohan-Guéménée di Place des Vosges, Paris selama 16 tahun (1832-1848). Tempat ini menjadi museum bernama Maison de Victor Hugo.

Maison de Victor Hugo

Hauteville House

Dan selama 15 tahun pembuangannya di Pulau Guernsey (1856-1870), beliau tinggal di Hauteville House, di 38 Rue Hauteville, St. Peter Port.

What does their handwriting look like?

What are some of the other novels they’ve written?
Selain The Hunchback of Notre Dame dan Les Misérables, Hugo juga menulis Bug-Jargal, The History of a Crime, The Last Day of a Condemned Man, The Man Who Laughs, Ninety-Three, dan Toilers of the Sea.

What is an interesting and random fact about their life?
Victor Hugo ternyata juga jago melukis. Semasa hidupnya ia menghasilkan lebih dari 4000 lukisan yang tidak pernah dipublikasikan karena beliau takut hal itu akan membayangi karya-karya sastranya. Lukisan-lukisan karya Hugo diapreasiasi oleh beberapa seniman besar seperti Van Gogh dan Delacroix, yang terakhir malah berpendapat bahwa jika Hugo memutuskan untuk menjadi seorang pelukis dan bukan seorang penulis, ia bisa mengalahkan seniman-seniman lain di masanya.

Ville avec le pont de Tumbledown, 1847

Lebih lanjut tentang lukisan-lukisan karya Victor Hugo, klik link ini.

Untuk merayakan 210 tahun Victor Hugo (1802-2012), tanggal 26 Februari nanti blog ini akan mempost review The Hunchback of Notre Dame, bersama dengan blog Fanda Classiclit yang akan mempost review Les Misérables. Tungguin yah!

Ilustrasi Charles Dickens oleh Court Jones

Illustration of Charles Dickens by Court Jones, edited by me :)

Sumber gambar dari sini.

Ilustrasi Edgar Allan Poe oleh Rudy-Jan Faber

Cuma ingin share gambar dari situs menarik yang saya temukan waktu iseng-iseng browsing, www.hireanillustrator.com

The House Of Usher © Rudy-Jan Faber

Gambar diambil dari sini.

Sumber inspirasi sang ilustrator dari cerpen The Fall of the House of Usher (jelas dari judul ilustrasinya).

Sekian. Post selanjutnya harus berupa review buku! #toyordirisendiri >_<

[Classics Challenge 2012] January – Author Charles Dickens

Let’s read classics!

Tidak hanya sekedar membaca, melalui challenge yang ini pembaca buku klasik juga ditantang untuk memperdalam wawasan tentang buku klasik yang dibaca. Posting aslinya (dari blog luar) bisa dilihat di sini. Bertepatan dengan perayaan 200 tahun penulis besar asal Inggris Charles Dickens, maka classics challenge ini saya dedikasikan untuk beliau.

Level 1

Who is the author?

Charles John Huffam Dickens, lebih dikenal dengan nama Charles Dickens.

What do they look like?

Gambar dari http://www.guardian.co.uk/books/2011/nov/27/dickens-exhibition-spooky-plagiarism-scare

Jika dicari melalui Google, foto Dickens hampir semuanya berkumis dan berjanggut…

When were they born?

7 Februari 1812

Where did they live?

2 Ordnance Terrace, Chatham

Dickens menghabiskan masa kecil (1817–1822) di 2 Ordnance Terrace, Chatham, di Kent. Tahun 1824, ayah Dickens dipenjarakan di Marshalsea debtors’ prison beserta seluruh keluarga, kecuali Charles yang pada saat itu dikirim untuk bekerja di Warren’s Shoe Blacking Factory. Saat itu Charles tinggal di rumah kos-kosan di Camden Town dan mengunjungi keluarganya di Marshalsea setiap minggu. Dickens tinggal di Gad’s Hill di Kent mulai tahun 1857 hingga 1870, tahun dimana beliau wafat. Gad’s Hill menjadi Gad’s Hill School sejak tahun 1924 hingga saat ini.

Gad's Hill Place

What does their handwriting look like?

Gambar dari http://www.fathom.com/course/21701768/s5_14_fields.html

What are some of the other novels they’ve written?

Dickens menghasilkan banyak karya sepanjang hidupnya. Selain A Tale of Two Cities yang laris manis di seluruh penjuru dunia, ada novel pertamanya, The Pickwick Papers, kemudian Oliver Twist, Great Expectations, Bleak House, A Christmas Carol, Little Dorrit, The Old Curiosity Shop, dan masih banyak lagi…

What is an interesting and random fact about their life?

Tidak banyak yang tahu, bahwa Dickens punya pengaruh terhadap sastra Amerika melalui suatu hal yang unik. Hewan peliharaan kesayangan Dickens, seekor burung raven bernama Grip, yang setelah kematiannya di tahun 1841 diawetkan (Grip masih disimpan di Free Library of Philadelphia sampai saat ini) ternyata adalah sumber inspirasi Edgar Allan Poe, penyair dan kritikus sastra Amerika, dalam menulis puisi “The Raven” yang fenomenal. Baca artikel lengkapnya di sini.

Untuk merayakan 2 abad Charles Dickens, review salah satu karyanya yang paling terkenal, A Tale of Two Cities (diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai “Kisah Dua Kota”) akan dipublish di blog ini tepat pada tanggal 7 Februari 2012 nanti.

Happy 200th Birthday, Charles Dickens! :)

The Raven: Ketika Horor a la Poe Naik ke Layar Lebar

Masih ada yang tertinggal dari HUT ke-203 sang master of macabre, Edgar Allan Poe!

The Raven (2012) Movie Poster

Akan dirilis resmi di Amerika Serikat tanggal 9 Maret 2012, sebuah film bergenre thriller (atau tepatnya horor?) dengan judul The Raven, besutan sutradara John McTeigue.
Film ini merupakan versi fiktif dari hari-hari terakhir Edgar Allan Poe (di film diperankan oleh John Cusack). Ceritanya, Poe bersama seorang detektif bernama Emmet Fields (Luke Evans, Aramis dari The Three Musketeers versi 2011) memburu seorang pembunuh berantai yang konon, terinspirasi oleh cerita-cerita kondang karya Poe dalam melakukan setiap pembunuhan!

WOWWW!  Smiley

John Cusack cocok nggak memerankan Poe? Kalo menurut saya sih cocok :)

Dan dibawah ini trailer filmnya. Saya udah nonton, dan trailer ini sukses bikin saya merinding… Bener-bener horor ala Poe!

Silakan tonton… kalau berani… Smiley

Semoga filmnya juga bisa kita nikmati di bioskop Indonesia!

~ Udah nggak sabar ~
~ Ternyata horor ala Poe belum berakhir! ~

203th Anniversary of the Master of Macabre, Edgar Allan Poe

Edgar Allan Poe (1809-1849)

Dalam rangka merayakan ulang tahun ke-203 maestro sastra gotik asal Amerika Serikat, Edgar Allan Poe (19 Januari 1809 – 7 Oktober 7 1849), kemarin empat orang Blogger Buku Indonesia mempost secara serentak resensi buku kumpulan cerpen milik beliau yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bertajuk “Kisah-kisah Tengah Malam”.

Here they are:

  1. Fanda (http://klasikfanda.blogspot.com/2012/01/kisah-kisah-tengah-malam.html)
  2. Alvina (http://orybooks.blogspot.com/2012/01/kisah-kisah-tengah-malam.html)
  3. Sulis “peri hutan” (http://kutubokek.posterous.com/kisah-kisah-tengah-malam)
  4. Sinta (http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com/2012/01/kisah-kisah-tengah-malam.html)

Saya sendiri sudah pernah meresensi buku ini, bisa dilihat di sini.

Pertama kali mengenal Edgar Allan Poe tahun 2001, saat saya masih SMA. Saat itu saya sempat membeli buku puisi beliau dan walaupun tidak sepenuhnya bisa saya mengerti, saya menikmati banget puisi-puisi di dalamnya :)

Buku puisi "The Raven", Phoenix Paperback 1996

Nah, masih dalam rangka HUT ke-203 Edgar Allan Poe, saya ingin membagikan salah satu puisinya yang berjudul “The Raven”. Puisi yang pertama kali dipublikasikan di koran New York Evening Mirror pada Januari 1845 menarasikan kunjungan seekor burung raven pada tengah malam kepada seorang pria yang sedang menangisi kepergian kekasihnya. Puisi ini kemudian dicetak ulang di koran-koran di seantero Amerika dan Eropa.

Ilustrasi "The Raven" oleh John Tenniel (1858) Sumber: Wikipedia

***

The Raven

Once upon a midnight dreary, while I pondered, weak and weary,
Over many a quaint and curious volume of forgotten lore —
While I nodded, nearly napping, suddenly there came a tapping,
As of some one gently rapping, rapping at my chamber door.
“‘Tis some visiter,” I muttered, “tapping at my chamber door —

Only this and nothing more.”

Ah, distinctly I remember it was in the bleak December;
And each separate dying ember wrought its ghost upon the floor.
Eagerly I wished the morrow; — vainly I had sought to borrow
From my books surcease of sorrow — sorrow for the lost Lenore —
For the rare and radiant maiden whom the angels name Lenore —

Nameless here for evermore.

And the silken, sad, uncertain rustling of each purple curtain
Thrilled me — filled me with fantastic terrors never felt before;
So that now, to still the beating of my heart, I stood repeating
“‘Tis some visiter entreating entrance at my chamber door —
Some late visiter entreating entrance at my chamber door; —

This it is and nothing more.”

Presently my soul grew stronger; hesitating then no longer,
“Sir,” said I, “or Madam, truly your forgiveness I implore;
But the fact is I was napping, and so gently you came rapping,
And so faintly you came tapping, tapping at my chamber door,
That I scarce was sure I heard you” — here I opened wide the door; ——

Darkness there and nothing more.

Deep into that darkness peering, long I stood there wondering, fearing,
Doubting, dreaming dreams no mortal ever dared to dream before;
But the silence was unbroken, and the stillness gave no token,
And the only word there spoken was the whispered word, “Lenore?”
This I whispered, and an echo murmured back the word, “Lenore!” —

Merely this and nothing more.

Back into the chamber turning, all my soul within me burning,
Soon again I heard a tapping somewhat louder than before.
“Surely,” said I, “surely that is something at my window lattice;
Let me see, then, what thereat is, and this mystery explore —
Let my heart be still a moment and this mystery explore;—

‘Tis the wind and nothing more!”

Open here I flung the shutter, when, with many a flirt and flutter,
In there stepped a stately Raven of the saintly days of yore;
Not the least obeisance made he; not a minute stopped or stayed he;
But, with mien of lord or lady, perched above my chamber door —
Perched upon a bust of Pallas just above my chamber door —

Perched, and sat, and nothing more.

Then this ebony bird beguiling my sad fancy into smiling,
By the grave and stern decorum of the countenance it wore,
“Though thy crest be shorn and shaven, thou,” I said, “art sure no craven,
Ghastly grim and ancient Raven wandering from the Nightly shore —
Tell me what thy lordly name is on the Night’s Plutonian shore!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

Much I marvelled this ungainly fowl to hear discourse so plainly,
Though its answer little meaning — little relevancy bore;
For we cannot help agreeing that no living human being
Ever yet was blessed with seeing bird above his chamber door —
Bird or beast upon the sculptured bust above his chamber door,

With such name as “Nevermore.”

But the Raven, sitting lonely on the placid bust, spoke only
That one word, as if his soul in that one word he did outpour.
Nothing farther then he uttered — not a feather then he fluttered —
Till I scarcely more than muttered “Other friends have flown before —
On the morrow he will leave me, as my Hopes have flown before.”

Then the bird said “Nevermore.”

Startled at the stillness broken by reply so aptly spoken,
“Doubtless,” said I, “what it utters is its only stock and store
Caught from some unhappy master whom unmerciful Disaster
Followed fast and followed faster till his songs one burden bore —
Till the dirges of his Hope that melancholy burden bore

Of ‘Never — nevermore’.”

But the Raven still beguiling my sad fancy into smiling,
Straight I wheeled a cushioned seat in front of bird, and bust and door;
Then, upon the velvet sinking, I betook myself to linking
Fancy unto fancy, thinking what this ominous bird of yore —
What this grim, ungainly, ghastly, gaunt, and ominous bird of yore

Meant in croaking “Nevermore.”

This I sat engaged in guessing, but no syllable expressing
To the fowl whose fiery eyes now burned into my bosom’s core;
This and more I sat divining, with my head at ease reclining
On the cushion’s velvet lining that the lamp-light gloated o’er,
But whose velvet-violet lining with the lamp-light gloating o’er,

She shall press, ah, nevermore!

Then, methought, the air grew denser, perfumed from an unseen censer
Swung by seraphim whose foot-falls tinkled on the tufted floor.
“Wretch,” I cried, “thy God hath lent thee — by these angels he hath sent thee
Respite — respite and nepenthe, from thy memories of Lenore;
Quaff, oh quaff this kind nepenthe and forget this lost Lenore!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

“Prophet!” said I, “thing of evil! — prophet still, if bird or devil! —
Whether Tempter sent, or whether tempest tossed thee here ashore,
Desolate yet all undaunted, on this desert land enchanted —
On this home by Horror haunted — tell me truly, I implore —
Is there — is there balm in Gilead? — tell me — tell me, I implore!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

“Prophet!” said I, “thing of evil! — prophet still, if bird or devil!
By that Heaven that bends above us — by that God we both adore —
Tell this soul with sorrow laden if, within the distant Aidenn,
It shall clasp a sainted maiden whom the angels name Lenore —
Clasp a rare and radiant maiden whom the angels name Lenore.”

Quoth the Raven “Nevermore.”

“Be that word our sign of parting, bird or fiend!” I shrieked, upstarting —
“Get thee back into the tempest and the Night’s Plutonian shore!
Leave no black plume as a token of that lie thy soul hath spoken!
Leave my loneliness unbroken! — quit the bust above my door!
Take thy beak from out my heart, and take thy form from off my door!”

Quoth the Raven “Nevermore.”

And the Raven, never flitting, still is sitting, still is sitting
On the pallid bust of Pallas just above my chamber door;
And his eyes have all the seeming of a demon’s that is dreaming,
And the lamp-light o’er him streaming throws his shadow on the floor;
And my soul from out that shadow that lies floating on the floor

Shall be lifted — nevermore!

—Edgar Allan Poe

Semoga ada yang menerbitkan terjemahan karya-karya Poe yang lain T__T. Karya-karya beliau bikin ketagihan, hehe. Ingin tahu lebih banyak tentang Edgar Allan Poe? Silakan klik di sini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers