Blog Archives

[Review] The Tale of Desperaux

This is a tale about a mouse, a princess, a king, some soup, a rat, a servant girl, a treacherous plan of revenge gone wrong. The story takes place in a castle, and the dungeon underneath the castle.

The mouse, Desperaux Tilling his name, was born as the last mouse to his parents and the only surviving one of his litter. Desperaux was born so small, with two huge ears, and with eyes open, staring directly to light. Instead of being so small and sickly, the strange little mouse lived. And he was nothing like other mice. He listened to music, he loved light, and he read pages of books instead of eating them.

“Reader, you must know that an interesting fate (sometimes involving rats, sometimes not) awaits almost everyone, mouse or man, who does not conform.”

Interesting fate it was. One day when Desperaux lifted up his head to listen to the sweet sweet music, the music brought him to encounter the king and his beloved daughter, the Princess Pea. The princess looked down at him and smiled to the little mouse. As ridiculous as it might be, Desperaux fell in love.

“Love is ridiculous. But love is also wonderful. And powerful. And Desperaux’s love for the princess would prove, in time, to be all these things: powerful, wonderful, and ridiculous.”

Desperaux’s little encounter with the king and the princess then brought him serious consequence: the Mouse Council decided to punish him with sending him to the dungeon. Dungeon means deep darkness. It also means rats. And rats never meant a good thing.

While we’re still talking about rats, there was one peculiar rat that lived in the dungeon. Unlike his rat brothers and sisters, Chiaroscuro, or Roscuro, loved being surrounded by light. He too, like Desperaux, had a little encounter with the king and the princess, only then he also meets the queen. His encounter with the royal family was followed with a tragedy, which caused the king to ban soup and all soup-related items like bowls and soup spoons. The look the princess Pea gave Roscuro broke his heart and made him desire revenge. A servant girl called Miggery Sow then helped the rat to execute his plan.

The princess was in danger. What will Desperaux do? Could it be that a little mouse, in spite of all circumstances, help the lovely princess and save her from harm? The answer to this question, dear reader, you must read in this remarkable book, winner of Newbery Medal 2004, The Tale of Desperaux.

***

I have always been a fan of Kate DiCamillo, whom I love for her extraordinary writing. Kate can make a simple story so beautiful with her brilliant choice of words. Her sentences flow like a song, and I’m not exaggerating. That’s what I felt when I read The Magician’s Elephant. The book broke my heart and I felt myself crying alongside the main character. Reading The Tale of Desperaux gave me a similar feeling, although it wasn’t as dark as The Magician’s Elephant. I’m really glad I bought a copy of this book in English and not the Indonesian translation, this time I can really succumb into Kate DiCamillo’s beautiful writing. This book also has nice illustrations by Timothy Basil Ering. Parents, you should read this to your kids, I’m sure they’ll love it. ;)

“Stories are light. Light is precious in a world so dark. Begin at the beginning. Tell Gregory a story. Make some light.”

P.S. : You can also read a post about the character Desperaux here (in Indonesian).

Book details:
“The Tale of Desperaux”, by Kate DiCamillo
272 pages Paperback, published 2008 by Candlewick Press
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya


Ternyata memang ada beberapa cerita yang melekat pada diri kita dari masa kecil dan ketika kita membacanya lagi saat sudah dewasa, perasaan yang ditimbulkan oleh cerita-cerita itu sama seperti perasaan pada waktu kita membacanya sebagai seorang anak kecil.

Jacob dan Wilhelm Grimm atau yang lebih dikenal dengan sebutan The Brothers Grimm (Grimm bersaudara) tidak mengakui diri mereka sebagai pendongeng bagi anak-anak, namun sebagai pahlawan folklor yang berjasa mengabadikan dongeng-dongeng rakyat Jerman yang disampaikan dari generasi ke generasi secara lisan dalam bentuk tertulis. Tak dapat dipungkiri jika Grimm bersaudara tidak mengumpulkan dan menerbitkan dongeng-dongeng pada masanya dan jika Kinder-und Hausmärchen atau Children’s and Household Tales (kumpulan dongeng pertama yang mereka publikasikan pada tahun 1812) tidak pernah terbit, maka mungkin sampai pada era ini kita tidak akan pernah mendengar cerita tentang Snow White, Musisi dari Bremen, Tom Ibu Jari, Hansel dan Gretel, Pangeran Katak, ataupun Rapunzel.

grimm tales
Cover Grimm’s Kinder- und Hausmärchen (1812)

Dan jika sampai saat ini kita sudah membaca, mendengar, atau menonton berbagai versi dari dongeng-dongeng Grimm, maka melalui buku ini kita dapat mengetahui bagaimana cerita dalam versi aslinya.

Buku “Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya” besutan Penerbit Atria berisi 19 dongeng, antara lain:

1. Musisi dari Bremen
2. Teka-teki
3. Tom Ibu Jari
4. Briar Rose
5. Dua Belas Putri yang Menari
6. Pengantin Perampok
7. Ratu Lebah
8. Raja Janggut-Mengerikan
9. Peri Pembuat Sepatu
10. Aschenputtel
11. Hansel dan Gretel
12. Serigala dan Tujuh Kambing Kecil
13. Pangeran Katak
14. Frau Holle
15. Rumpelstiltskin
16. Tiga Pemintal
17. Gadis Angsa
18. Rapunzel
19. Snow-white

Buku ini seakan menjadi jawaban bagi penikmat buku yang ingin memiliki kumpulan dongeng dengan harga yang terjangkau. Karena sejauh pengamatan saya, buku kumpulan dongeng biasanya terbuat dari kertas tebal yang berat dan full color, sehingga harganya pun menjadi selangit. Tampilan fisik Hansel dan Gretel versi Atria menurut saya cukup cocok bagi pembaca anak-anak, dengan ilustrasi-ilustrasi hitam putih cantik yang dikemas secara modern di dalamnya akan semakin memanjakan mereka ketika menikmati buku ini. Sedangkan bagi pembaca remaja dan dewasa, buku ini dapat menjadi koleksi yang berharga, karena setiap dongeng dalam buku ini adalah cerita versi asli dari Grimm bersaudara yang telah diterjemahkan dengan baik ke dalam bahasa Indonesia.

Namun ada beberapa kekurangan dan hal yang mengganjal bagi saya tentang buku ini, antara lain:

  1. Tidak adanya daftar isi. Rasanya sudah sepatutnya, sebuah buku kumpulan cerita (kumcer) menyertakan daftar isi di bagian awal buku. Absennya daftar isi ini cukup menyusahkan pembaca jika ingin langsung skip membaca cerita/dongeng tertentu di dalam buku.
  2. Castle, di dalam buku ini diterjemahkan menjadi kastel. Sungguh kata yang aneh, meskipun kata ini memang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mengapa tidak menggunakan kata kastil saja, atau lebih baik lagi, istana.
  3. Pada hal. 126 dalam cerita Frau Holle, ada kalimat yang berbunyi, “Hatta, Frau Holle memegang tangannya dan menuntunnya ke sebuah gerbang”. Nah lho, apa lagi artinya “Hatta” ini?

Namun demikian, kerja keras Penerbit Atria untuk menghidupkan kembali dongeng-dongeng Grimm versi asli untuk dinikmati dalam bahasa Indonesia patut diapresiasi, karena itu saya memberikan 4 bintang untuk buku ini.

Dongeng-dongeng Grimm lainnya bisa dinikmati lewat berbagai situs di dunia maya, ini salah satunya yang menarik: http://www.nationalgeographic.com/grimm/

Detail buku:

“Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya”, oleh Grimm Bersaudara
192 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Kerutan dalam Waktu (A Wrinkle in Time)

“Satu hal yang telah kupelajari, adalah kau tak perlu memahami sesuatu untuk menerima sesuatu itu ada.”


Margaret “Meg” Murry, anak tertua dari empat bersaudara, adalah seorang anak perempuan yang bermasalah di sekolah. Sepertinya ia tidak bisa melakukan apapun dengan benar, para guru dan teman-temannya mencelanya, dan dengan penampilan fisiknya yang “mengerikan”: kawat gigi, kacamata tebal, dan rambut berantakan; ia semakin dianggap makhluk yang aneh. Orangtua Meg adalah sepasang ilmuwan jenius, sehingga orang-orang tak habis pikir mengapa Meg bisa menjadi begitu bodoh, demikian juga adik bungsunya, Charles Wallace. Padahal, mereka sama sekali tidak bodoh, mereka hanya melakukan segala sesuatunya tidak seperti kebanyakan orang. Dan itulah yang membuat Meg dan Charles Wallace berbeda, bahkan berbeda dengan saudara lelaki kembar mereka, Sandy dan Dennys.

Ditambah lagi, ayah Meg telah menghilang secara misterius setelah beliau pergi melakukan pekerjaan untuk pemerintah. Pada suatu malam berbadai yang aneh, Meg akhirnya terlibat perjalanan berbahaya menembus ruang dan waktu untuk menyelamatkan ayahnya, bersama-sama dengan Charles Wallace dan seorang anak lelaki bernama Calvin O’Keefe. Mereka dibantu oleh tiga individu yang masing-masing sangat ganjil; Mrs. Whatsit yang penampilannya seperti perempuan tua yang tenggelam dibawah mantel dan tumpukan syal, Mrs. Who yang memakai kacamata amat besar dan selalu mengutip peribahasa-peribahasa dan ungkapan-ungkapan kuno serta ucapan-ucapan para tokoh terkenal dari abad yang sudah berlalu; serta Mrs. Which yang sosok tubuhnya seakan transparan dan suaranya menggema tajam di udara ketika ia berbicara.

Meg, Charles Wallace dan Calvin melintasi dimensi kelima untuk pergi ke Camazotz, tempat Mr. Murry ditawan oleh ITU, suatu individu jahat yang mengendalikan segala sesuatunya sehingga semua makhluk hidup di tempat itu bergerak dalam satu irama yang sama, sehingga mereka tidak kelihatan benar-benar hidup tapi seperti selongsong kosong yang tak berjiwa. “Mengapa kau pikir orang-orang menjadi bingung dan tidak bahagia? Karena mereka semua menjalani kehidupan mereka masing-masing, terpisah, dan individual. Perbedaan hanya menciptakan masalah,” demikian alasan ITU. Bertiga mereka saling membantu untuk melewati segala bahaya dalam perjalanan mereka, dan pada akhirnya Meg sendirilah yang harus menghadapi ITU, dengan senjata rahasia yang ia miliki namun tidak dimiliki oleh ITU. Akankah Meg memenangkan pertempuran ini?

###

“Buku-buku yang paling melekat dalam kenangan masa kecil kita adalah buku-buku yang membuat kita merasa tidak kesepian, yang meyakinkan kita bahwa kelemahan dan keanehan kita sama individualnya dengan sidik jari dan sama universalnya dengan tangan yang terbuka.”

Demikian kalimat pembuka dari halaman apresiasi yang ditulis oleh Anna Quindlen, seorang penulis dan jurnalis Amerika yang pernah memenangkan Pulitzer Prize, yang entah mengapa diletakkan di bagian awal buku A Wrinkle In Time edisi terjemahan Indonesia terbitan Atria ini. Dalam enam halaman apresiasi ini Anna sudah merangkum isi buku ini, sehingga, bagi anda yang ingin membaca buku ini tanpa terganggu dengan spoiler, maka saya menyarankan anda untuk melewati halaman apresiasi ini dan langsung membaca bab pertama.

Jujur saja, saya agak bingung mengkategorikan buku ini. Pendapat saya ketika sekilas melihat covernya, ini adalah buku anak-anak. Setelah membacanya, saya berpendapat buku ini agak terlalu berat untuk anak-anak, mereka yang sudah memasuki usia remaja yang bisa membacanya. Namun, dalam beberapa bagian, sayapun yang sudah tergolong pembaca dewasa pun agak sulit memahami buku ini, terutama mengenai tesseract alias dimensi kelima, serta siapa sebenarnya Mrs. Whatsit, Mrs. Who, dan Mrs. Which, serta Medium Bahagia serta beberapa tokoh lain yang notabene bukan manusia. Karakter Charles Wallace kecil yang unik juga membuat saya bingung, sebab bagaimana mungkin seorang anak lelaki kecil yang berusia tak lebih dari 9 tahun, dapat berkata seperti ini, “Jalan menuju neraka dilapisi oleh niat-niat baik.”

Kesimpulan yang saya tarik ketika selesai membacanya, A Wrinkle in Time adalah kisah tentang perjuangan batin melawan rasa kesepian, tidak dicintai, dan ketakutan pribadi. (bagi saya buku ini seakan berteriak keras-keras “YOU ARE LOVED!” )
Dan pada akhirnya, perang antara kebaikan dan kejahatan, namun tidak dalam hingar bingar spektakuler seperti yang sering tampak di film-film Hollywood. Semua ini dibungkus rapat oleh penulis dengan rasa fiksi ilmiah dan unsur-unsur sains yang kental, serta imajinasi yang berbeda dengan apa yang sudah sering kita baca sebelumnya.

Dan tentu saja, kutipan-kutipan yang diucapkan oleh Mrs. Who adalah daya tarik tersendiri.


“Tidak ada yang mustahil; kita harus berharap akan segala sesuatu.” – Euripides


Ab honesto virum bonum nihil deterret. Tidak ada yang mampu menghalangi seseorang yang baik untuk melakukan sesuatu yang terhormat.” – Seneca


Qui plus sait, plus se tait. Jika seseorang tahu lebih banyak, dia akan lebih sedikit berbicara.” – peribahasa Prancis


Detail buku:

“Kerutan dalam Waktu” (judul asli: A Wrinkle in Time), oleh Madeleine L’Engle
267 halaman, diterbitkan September 2010 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥

[Review] Tuck Everlasting

Bagaimana jika kau bisa hidup selamanya?

Pada minggu pertama bulan Agustus yang panas itu, serangkaian kejadian yang tampaknya tak saling berhubungan terjadi. Pada pagi hari Mae Tuck pergi dengan kudanya ke hutan di sisi Desa Treegap untuk menemui kedua anaknya. Siangnya, Winnie Foster, anak pemilik hutan Treegap bosan dengan hidupnya yang serba teratur, berpikir untuk melarikan diri. Sore harinya, seorang pria asing datang ke rumah keluarga Foster dengan maksud tertentu di benaknya.

Winnie Foster, anak perempuan keluarga Foster yang berusia sepuluh tahun, mengalami hari yang paling tidak terduga sepanjang hidupnya. Ia memasuki hutan Treegap dan melihat seorang pemuda tampan minum dari mata air yang tersembunyi di dekat sebuah pohon besar di pusat hutan itu. Pemuda yang ditemuinya bernama Jesse Tuck, dan Winnie langsung jatuh hati kepadanya. Dan ternyata, Jesse beserta ayah, ibu dan kakaknya telah hidup selama delapan puluh tujuh tahun tanpa menua barang semenit pun!

Keluarga Tuck pun menculik Winnie, namun mereka tidak berniat menyakitinya, hanya untuk memberikan penjelasan padanya bahwa tidak ada seorang pun yang boleh tahu keberadaan mata air keabadian itu. Di saat yang sama, pria asing yang datang ke kediaman keluarga Tuck menawarkan diri untuk menyelamatkan Winnie dari cengkeraman para penculik dan meminta hutan Treegap yang dimiliki keluarga Foster sebagai gantinya.

Winnie harus memilih. Ia harus memilih antara keluarganya sendiri dengan keluarga Tuck yang juga ia kasihi, terutama Jesse. Ia harus memilih antara membiarkan keberadaan mata air itu diketahui—dan dimanfaatkan, atau berjuang untuk menutup rapat-rapat rahasia itu, tidak peduli sebesar apapun harga yang harus dibayar.

###

Buku tipis yang ditulis dengan apik ini mungkin singkat, namun memiliki makna yang sangat bagus. Buku ini menyadarkan kita, bahwa hidup selamanya itu tak selamanya enak, seperti yang dipikirkan oleh banyak orang. Segala sesuatunya di dunia ini diciptakan Tuhan untuk mengecap kehidupan, dan kemudian mati, semua pada waktu dan perencanaan-Nya yang sempurna.

Tuck Everlasting pernah difilmkan pada tahun 2002 dengan bintang Alexis Bledel (Gilmore Girls) dan Jonathan Jackson. Saya tidak tahu apakah versi filmnya setia pada bukunya karena saya belum pernah menontonnya :)

Detail buku:
“Tuck Everlasting”, oleh Natalie Babbitt
173 halaman, diterbitkan November 2010 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥

[Review] The Iron King

Phew! Menyelesaikan membaca buku ini penuh perjuangan! Tapi bukan karena bukunya jelek lho… ;-)

Yang pertama, saat saya mulai baca buku ini mood memang lagi jelek dan kejenuhan menyerang setelah baca Jane Eyre setebal 688 halaman.

Kedua, setelah sampai dengan selamat (walaupun agak kepayahan) di hal. 368, betapa kagetnya saya ketika melihat halaman di sebelah 368 bukan 369, tapi 385!!! Emosi rasanya naik ke ubun-ubun, pas lagi seru-serunya lha kok halamannya loncat! Esok harinya saya ke Togamas Diponegoro Surabaya untuk menukar buku yang cacat itu. Syukurlah dengan pelayanan dari staff Togamas Dipo yang memuaskan, saya akhirnya membawa pulang copy The Iron King pengganti, walau buku yang lama sudah sempat saya coret-coret dengan nama dan paraf saya! ;-p. (untunglah juga saya masih nyimpen bukti pembeliannya, moga jadi pelajaran buat teman-teman, sehabis beli buku, bukti pembeliannya jangan langsung dibuang yah!)

Oke, cukup cuap-cuapnya, back to the review. Here we go…


 

 

 

“Kaupikir tidak ada yang namanya faery di dunia ini? Kami ada dimana-mana, di tempat tidurmu, di lotengmu, berpapasan denganmu di jalan.”

 

 

 

MEGHAN CHASE mengira dirinya hanya seorang remaja biasa, sampai ia berulang tahun yang keenam belas. Hal-hal aneh mulai terjadi padanya, dan keanehan itu memuncak ketika adik tirinya, Ethan, bertingkah seperti seekor binatang buas. Betapa kagetnya Meghan ketika Robbie, sahabatnya, mengatakan bahwa Ethan telah diculik kaum faery, dan makhluk yang ada dirumah Meghan adalah changeling. Bahkan, Robbie sendiri pun adalah faery yang bernama asli Robin Goodfellow atau lebih sering dipanggil Puck!

Maka demi menyelamatkan adiknya, Meghan dan Puck pergi ke Nevernever, rumah segala kaum faery atau fey. Nevernever terbagi menjadi 2 teritorial, Istana Musim Panas/Istana Terang adalah daerah kekuasaan Raja Oberon dan Ratu Titania, sedangkan Istana Musim Dingin/Istana Gelap dikuasai oleh Ratu Mab. Meghan dan Puck menempuh perjalanan yang penuh bahaya menuju ke Istana Terang, dikejar-kejar oleh berbagai makhluk fey, juga diburu oleh putra termuda Ratu Mab, Pangeran Ash, yang sangat tampan sekaligus dingin. Seekor cait sith bernama Grimalkin juga menyertai perjalanan mereka (kalau kamu penasaran apa itu cait sith, coba ingat-ingat tokoh Cheshire Cat di Alice in Wonderland, makhluk seperti itulah si Grimalkin ini).

Sesampainya mereka di istana Terang, Meghan mengetahui kebenaran yang sangat mengagetkan mengenai dirinya. Dan ternyata Ethan tidak ada di Istana Musim Panas maupun Istana Musim Dingin, namun diculik oleh oknum yang disebut Raja Besi. Tanpa ada yang tahu, suatu kaum fey baru telah lahir, yaitu fey besi, yang terbentuk dari mimpi-mimpi manusia akan teknologi. Kehadiran mereka mengancam eksistensi kaum fey yang sudah ada selama berabad-abad lamanya!

Berhasilkah Meghan menyelamatkan adiknya? Dan bagaimana nasib Faeryland yang kian hari kian sekarat karena digerogoti keberadaan fey besi?

###

The Iron King karya Julie Kagawa adalah novel bergenre fantasy/young adult yang menurut saya, komplit. Mengapa komplit? Karena begitu banyak makhluk faery yang muncul dalam buku ini, mulai dari changeling, troll, sidhe, dwarf, redcap, ogre, siren, gremlin, cait sith, pixie, dan lain-lain. Penulis dengan jempolan menggambarkan faery, demikian juga deskripsi masing-masing makhluk fey yang beda jenisnya, beda pula karakternya. Ketegangan dalam adegan-adegan aksinya pun berhasil dibangun dengan baik. And last but not least, adegan romantis yang ada juga mampu membius pembaca, apalagi karena cinta yang tumbuh antara Meghan dan Ash jelas-jelas adalah forbidden love, mengingat sebenarnya mereka adalah musuh. Perlu dicatat, meskipun buku ini berlabel Harlequin Teen, pembaca tidak akan menemukan adegan romantis sebelum pertengahan buku.

Beberapa hal menarik dari dunia faery a la Julie Kagawa adalah sebagai berikut:

1. Dalam dunia faery, perjanjian adalah sesuatu yang sangat mengikat, sehingga tak mungkin melanggar janji tersebut. Maka membuat perjanjian dengan faery sangat-sangat tricky karena mereka cenderung memanfaatkan hal ini untuk menjeratmu dan meminta hal-hal seperti kenangan terindah yang kau miliki, atau bahkan anak pertamamu.

2. Kaum faery dapat eksis karena mendapat energi dari mimpi-mimpi manusia. Nah, seiring dengan perkembangan teknologi, impian-impian manusia pun bergeser, menjadi impian-impian yang sarat teknologi. Inilah yang melatarbelakangi lahirnya fey besi. Ide tentang fey besi ini sangat brilian sekaligus menyadarkan kita, bahwa di satu segi teknologi sangat membantu kehidupan manusia, namun di sisi lainnya teknologi telah begitu rupa menggerus sisi-sisi kemanusiaan tertentu kita sehingga tempat bagi mimpi dan imajinasi semakin sempit dalam benak manusia.

3. Karakter Oberon, Titania, dan Puck diambil dari A Midsummer Night’s Dream, dongeng karya sang master komedi dan tragedi asal Inggris, William Shakespeare. Saya hanya membaca versi Saddleback Illustrated Classics dari karya ini, karena kalau membaca versi aslinya yang berbahasa Inggris “jadul” otak saya bisa-bisa njarem, hehehe… Julie Kagawa mencomot karakter-karakter dongeng klasik ini dengan gaya yang segar.

Saya sebenarnya bisa sangat menikmati membaca buku ini, jika tidak terganggu oleh banyaknya typo. Terjemahannya juga lumayan, walaupun di beberapa bagian tetap membuat saya mengangkat sebelah alis, karena rasanya kok kurang pas. Kemudian, tidak adanya catatan kaki mengenai berbagai macam makhluk faery itu, cukup menyulitkan bagi pembaca yang tidak mau repot-repot googling untuk mencari tahu deskripsi makhluk-makhluk itu. Alangkah baiknya kalau ada ilustrasi yang menjelaskan penampilan fisik makhluk-makhluk khayalan tersebut (Eh tapi, ilustrasi di novel fantasy young adult, relevan nggak yah? Hehehe).

Semoga hal-hal ini dijadikan PR oleh Penerbit Kubika sehingga ketika buku kedua Iron Fey, yang berjudul The Iron Daughter terbit, gangguan-gangguan ini sudah bisa diatasi, karena sungguh seri Iron Fey ini merupakan buku fantasi yang luar biasa sehingga sayang jika terganggu oleh typo dan terjemahan yang kurang pas.

Detail buku :
“The Iron King”, oleh Julie Kagawa
462 halaman, diterbitkan 2011 oleh Penerbit Kubika
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] I Am Number Four

I Am Number Four (Lorien Legacies, #1)I Am Number Four by Pittacus Lore

My rating: 5 of 5 stars

 

 

 

 

THEY WALK AMONG US.

Kami hidup tersamar di tengah-tengah kalian,
menunggu hari saat kami akan saling bertemu untuk bertempur terakhir kalinya.
Bila kami menang, kalian akan terselamatkan.
Bila kami kalah, semua akan musnah.
Mulanya kami bersembilan.
Tiga mati.
Akulah Nomor Empat.
Berikutnya adalah giliranku.

Sepuluh tahun lalu, planet Lorien dihancurkan oleh kaum Mogadorian. Sembilan anak dan sembilan Penjaga dikirim ke bumi, sebagai harapan terakhir untuk mencegah kepunahan bangsa Loric. Bangsa Loric terbagi menjadi dua jenis, Garde adalah warga yang memiliki Pusaka atau kekuatan, dan Cêpan atau Penjaga yang tidak memiliki kekuatan. Cêpan bertugas menjalankan planet, sementara tugas Garde adalah mempertahankan planet. Suatu mantra dilakukan oleh tetua-tetua Lorien kepada kesembilan anak itu yang menyebabkan mereka hanya bisa dibunuh secara berurutan. Dan setiap anak memiliki tanda pada tubuhnya sehingga mereka akan tahu ketika salah satu dari mereka terbunuh.

Saat merasakan goresan ketiga di pergelangan kaki kanannya, Nomor Empat dan Cêpannya, Henri, lari ke Paradise, Ohio. Selama ini mereka selalu berpindah-pindah tempat, tujuan mereka selalu kota kecil, dan setiap kali mereka pindah, Nomor Empat selalu punya identitas baru dan sekolah baru. Saat ini ia bernama John Smith.

Hari pertama di sekolah barunya, John terlibat masalah dengan Mark James, si bintang football sekolah. Dan di hari yang sama, Pusaka pertama John muncul. Cahaya keluar dari kedua telapak tangannya. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, Garde memiliki Pusaka atau kekuatan– yang banyak macamnya mulai dari kemampuan untuk menjadi tidak terlihat, membaca pikiran, terbang, sampai kemampuan untuk mengendalikan cuaca. Setiap Garde punya banyak Pusaka sekunder dan satu Pusaka utama, yang paling kuat, yang akan digunakan untuk bertempur melawan musuh.

Di Paradise juga, John akhirnya merasakan seperti apa punya sahabat sejati yang memahaminya. Ia bertemu dengan Sam Goode, anak lelaki ceking yang terobsesi dengan alien. Dan John juga jatuh cinta, dengan Sarah Hart, cewek cantik mantan cheerleader dan sekarang menjadi fotografer sekolah, sekaligus mantan pacar Mark James. Diam-diam ia tidak ingin meninggalkan Ohio. Ia sudah lelah berpindah-pindah tempat terus menerus.

Sementara itu, ternyata pengintai-pengintai Mogadorian sudah sangat dekat dengan mereka! John punya dua pilihan– lari ke kota selanjutnya bersama Henri, atau tinggal dan melawan– karena Pusakanya telah muncul dan berkembang– ia bertambah kuat setiap hari!

Kisah sci-fi remaja yang fast-paced (beralur cepat) dan menegangkan (konon yang jantungan tidak disarankan untuk membaca buku ini ;p) ini ditulis oleh Pittacus Lore, pseudonym dari James Frey dan Jobie Hughes. Di buku dijelaskan bahwa Pittacus Lore adalah salah satu dari tetua Lorien yang sekarang berada di bumi. Lucunya, kedua nama itu dipakai menjadi identitas alternatif untuk Nomor Empat selanjutnya, hanya saja dibalik, menjadi James Hughes dan Jobie Frey.

Ada 3 hal yang ingin saya sampaikan mengenai buku ini:
1. Ide ceritanya tidak benar-benar baru.

Makhluk luar angkasa yang mempunyai kekuatan super? Yang ada di benak kita pastilah si Kal-El dari planet Krypton, yang di Bumi dikenal dengan nama Clark Kent atau Superman.
Alien yang menginvasi planet lain (dan Bumi)? Sudah sering juga. Yang masih segar dalam ingatan saya adalah adaptasi film War of the Worlds nya H.G. Wells yang dibintangi Tom Cruise.
Alien yang mewujud sebagai manusia (usia remaja) dan jatuh cinta? Eh, dulu pernah ada serial Roswell yang dipenuhi aktor-aktris muda yang ganteng dan cantik, termasuk Katherine Heigl yang saat itu belum sebeken sekarang. Dan tentu saja serial Smallville.
Bagaimana dengan kisah cinta John-Sarah? Biasa saja, standar cinta-cintaan ala remaja. Penggemar romance jangan terlalu banyak berharap pada buku ini, apalagi membandingkannya dengan seri Twilight (entah kenapa seri Lorien Legacies disebut-sebut sebagai The Next Twilight Saga, padahal jelas-jelas berbeda).
Namun demikian, sang penulis mampu mengemas kisah ini menjadi sajian yang mengasyikkan dan menantang, dengan banyak aksi di dalamnya.

2. Seperti dalam banyak sci-fi lain, selalu ada hal-hal yang menjadi tanda tanya. Misalnya, apa sebenarnya tujuan para tetua Lorien memantrai kesembilan anak itu sehingga mereka hanya bisa dibunuh secara berurutan? Di buku ini dijelaskan bahwa kekuatan para tetua tidak cukup untuk, katakanlah, melindungi kesembilan anak itu sehingga tidak ada yang mampu melukai mereka. Tetap saja ini tanda tanya besar bagi saya. Di buku juga tidak dijelaskan apakah Garde dan Cêpan hanya bisa menikah dengan jenisnya sendiri atau tidak. Kemudian, bagaimana cara kaum Mogadorian berbaur dengan manusia Bumi jika penampilan fisik mereka begitu mengerikan? Juga bagaimana menyembunyikan binatang-binatang buas dari planet Mogadore? Mudah-mudahan ada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya di buku-buku selanjutnya, walaupun saya sih tidak terlalu berharap juga ;p

3. Ini poster film I Am Number Four yang akan tayang Maret 2011 ini, sekaligus juga cover buku edisi terjemahan Indonesia yang diterbitkan Mizan Fantasi.

descriptionFoto: Flickr.com

Sedangkan ini adalah official poster untuk film I Am Number Four di UK:

descriptionFoto: iamnumberfour.co.uk

Nomor Empat atau John Smith di buku berusia 15 tahun, apakah sosok di poster tampak seperti remaja 15 tahun bagi anda? (jawab sendiri deh ;p)

Btw, si ganteng Alex Pettyfer yang memerankan Nomor Empat, tahun ini berusia 21 tahun. Kalau filmnya keluar saya ingin menontonnya, meski tidak dengan ekpektasi terlalu tinggi mengingat banyak film yang diangkat dari buku hasilnya mengecewakan :|

Dan akhirnya, saya mau menutup review yang udah kepanjangan ini :D
Overall, I Am Number Four adalah buku yang sayang untuk dilewatkan, terutama bila anda mencari buku yang menghibur, penuh aksi dan ketegangan. Terjemahannya mulus dan minim typo. Penampilan fisik buku edisi Indonesianya juga keren, dengan cover hologram, kertas bagus yang enteng, juga terselip bookmark di dalamnya (walau saya perhatikan, logo Mizan Fantasi di bookmark terbalik!) Hehe, maaf kalo saya menjadi pembaca yang terlalu pay attention kepada hal remeh temeh :p

Makasih banyak buat Penerbit Mizan yang mengirimkan buku ini buat saya!

Sedikit bocoran, terjemahan Indonesia dari buku kedua seri Lorien Legacies, berjudul The Power of Six, akan terbit akhir 2011.

Jadi, setelah anda membaca review ini, apakah anda jadi tertarik untuk membaca bukunya sebelum filmnya keluar? Atau malah memutuskan untuk nonton filmnya saja? You decide!

View all my reviews

Softcover, Indonesian Edition, 500 pages
Published January 18th 2011 by Pustaka Mizan (first published July 2010)
Price IDR 59.000

[Review] Cinders

CindersCinders by Michelle Davidson Argyle

My rating: 3 of 5 stars

Goodreads First Reads Winner!

I would like to thank Michelle D. Argyle who sent the autographed copy of her book all the way to Indonesia. :)

***

###

A Cinderella story… like never told before.

Cinders is an adult fantasy fiction and a debut by author Michelle Davidson Argyle.

Most of us are familiar with various kinds of Cinderella stories, which usually follows a similar pattern—a damsel in distress, evil stepmother and stepsisters, fairy godmother, Prince Charming, the castle, the ball, and finally the marriage (or the so-called happily-ever-after).

In Cinders readers would not be fed with such a thing. The story is a continuation of the Cinderella story we are used to hearing. The tag line at the upper side of the front cover emphasizes that “Happily-ever-after isn’t as long as you thought”.

What if Cinderella isn’t in love with Prince Charming?

What if her fairy godmother is in prison, waiting for death?

What if the King and Queen aren’t as kind as she expected?

I love a story with a lot of “what ifs”, it shows that the author has simply refused to follow the usual pattern, and went beyond most people’s imagination. And for Cinders, I think the author is pretty sure of what she’s doing.

Cinderella—whose real name is Christina in this story, after a few weeks of her new life as a princess, felt unhappy living inside castle walls. She wasn’t used to servants do everything for her or to be escorted everywhere. As she is required to learn and to act as true royalty, she felt the weight of the crown in her head.

She wasn’t sure of her feelings to the Prince (his name in his book is Rowland) because she’s still haunted by her first love, a mysterious stranger she sees every now and then in her dreams. She wondered if Rowland’s love for her is true or was it just the spell.

When everything felt so wrong Cinderella took a dangerous chance to see her fairy godmother in prison, and the rendezvous lead her into unveiling the mystery of her dreams.

If I could reduce Cinders to one word, then I would say “interesting”. The story wasn’t really a bomb, but once again it is interesting to see how an author would create a whole new post-marriage life of Cinderella, and twisted with magical powers, creatures, psychological conflict and fragments of the kingdom’s political situation, these things make Cinders worth to give a try. And I am genuinely looking forward to what Ms. Argyle could do in her next work.
View all my reviews

Paperback, 182 pages
Published June 23rd 2010 by CreateSpace

[Review] Perjalanan Ajaib Edward Tulane

The Miraculous Journey of Edward Tulane: Perjalanan Ajaib Edward TulaneThe Miraculous Journey of Edward Tulane: Perjalanan Ajaib Edward Tulane by Kate DiCamillo

My rating: 5 of 5 stars


“Aku pernah disayang,” kata Edward.
“Jangan bicara soal kasih sayang padaku.”

Dahulu, ada seekor kelinci porselen yang amat disayangi oleh seorang gadis cilik. Edward Tulane, demikian nama kelinci itu. Ia sangat bangga akan dirinya sendiri, karena ia hampir seluruhnya terbuat dari porselen, sedangkan telinga dan ekornya terbuat dari bulu kelinci asli, dan Abilene, gadis cilik pemiliknya, selalu mendandaninya dengan pakaian-pakaian indah yang dijahit khusus. Meski tak dapat bicara, Edward dapat mendengar dan melihat sekelilingnya, dan ia sangat benci bila disebut boneka.

Walaupun Abilene sangat menyayanginya, hati Edward tetap dingin. Sampai suatu hari, Edward hilang! Ia jatuh ke laut. Disinilah Edward memulai perjalanan ajaibnya dan mengalami banyak hal. Ia diselamatkan oleh seorang nelayan, dibuang di tempat pembuangan sampah, dipungut oleh gelandangan, dibuang dari kereta, digantung di tempat orang-orangan sawah, diambil oleh anak lelaki untuk adik perempuannya yang sakit, melihat anak itu meninggal, menari di kota, kepalanya dipecahkan orang, disatukan kembali oleh tukang reparasi, dan berakhir di rak toko sang tukang reparasi boneka. Dalam perjalanannya, ia menjadi kelinci betina dan jantan, dan dipanggil dengan nama yang berbeda-beda.

Edward yang tadinya tak mampu membalas kasih sayang, akhirnya sedikit demi sedikit terbuka hatinya setelah menerima kasih sayang dari nelayan dan istrinya, dari gelandangan yang memungutnya, dan akhirnya ketika ia menjadi boneka kesayangan Sarah Ruth, anak perempuan yang sedang sakit keras. Ada sesuatu pada diri Sarah Ruth yang membuat Edward ingin melindunginya dan berbuat lebih untuknya. Namun kehangatan itu tak berlangsung lama.

Ketika ia akhirnya duduk menunggu di rak toko boneka selama beberapa waktu, Edward menyerah dan tak mau disayangi lagi. Sebuah boneka anak perempuan yang sudah sangat tua dan kepalanya penuh retakan berkata padanya, “Buka hatimu. Akan ada yang datang, akan ada yang datang menjemputmu. Tapi kau harus membuka hatimu dulu.”

Edward pun membuka hatinya lagi, menyimpan harapan bahwa akan ada yang datang menjemputnya. Dan akhirnya, di hari hujan di musim semi itu, Edward menemukan jalan pulang.

Dongeng yang luar biasa indah dan menyentuh, yang membuat saya agak menyesal mengapa saya tak pernah melirik karya-karya Kate DiCamillo sebelumnya.
Seperti kata pepatah, “Orang tidak tahu apa yang dimilikinya sampai ia kehilangan sesuatu itu” demikian juga moral yang dapat diambil dari kisah Edward Tulane.
Balaslah kasih sayang dari orang-orang yang mengasihimu, selagi mereka semua masih ada dalam hidupmu.

Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi—atau menurut saya lebih tepat disebut lukisan-lukisan—yang begitu mendetail dan hidup, oleh tangan seorang bernama Bagram Ibatoulline. Kisah menyentuh dan lukisan-lukisan indah yang mewarnai setiap babnya, membuat buku ini to die for!

View all my reviews

Softcover, 188 pages
Published 2006 by PT Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 50.000

[Review] The Wizard of Oz

The Wizard of Oz (Oz, #1)The Wizard of Oz by L. Frank Baum

My rating: 3 of 5 stars

Kisah fantasi anak-anak yg sarat imajinasi dan petualangan. Setiap kali Dorothy dan kawan-kawan datang ke suatu tempat, selalu saja ada yg baru, entah itu kawanan Kera Bersayap atau perkampungan yang seluruh penduduk dan bangunannya terbuat dari porselen Cina yang gampang pecah.

Dari cerita ini kita juga dapat belajar dari kebersamaan dan kesetiakawanan Dorothy dengan Scarecrow, Tin Woodman dan Singa Penakut bahkan ketika mereka masing-masing telah menemukan tempat paling nyaman bagi mereka, mereka tetap dengan setia mendampingi Dorothy sampai tujuannya tercapai, yaitu kembali ke kampung halamannya di Kansas.

Gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini sederhana dan tidak bertele-tele, dalam banyak bagian tidak ada penjelasan yang detil tentang peristiwa yang sedang terjadi. Namun maklum, ini buku untuk anak-anak.

Ada beberapa hal yg masih ‘ganjel’ di hati saya, antara lain:

1. Entah mengapa sang penulis memberi kisah ini judul “The Wizard of Oz”. Jelas-jelas tokoh utamanya adalah Dorothy, disusul kawan-kawannya. Si Penyihir Oz sendiri hanya bagian kecil dari kisah ini.

2. Rasanya lebih pas kalau “Scarecrow” tidak usah diterjemahkan menjadi “Boneka Jerami”. Yah itu menurut saya saja sih ;)

Lepas dari itu semua, saya sangat menyukai kisah ini, termasuk juga karena adanya ilustrasi-ilustrasi cantik di edisi terjemahan terbitan Atria. 4 stars for this!

View all my reviews

Paperback, 206 pages
Published October 22nd 2010 by Penerbit Atria (first published 1900)
Price IDR 24.900

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers