Blog Archives
[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part II & Conclusion
# Conclusion in English at the bottom of the post #
Melanjutkan review Petualangan Sherlock Holmes, Part I, inilah bagian yang kedua.
7. Batu Delima Biru (judul asli: The Adventure of the Blue Carbuncle)
Dalam cerpen ini kita diajak mengikuti petualangan sang detektif pada hari sesudah Natal. Dikisahkan bahwa Peterson, seorang petugas antar barang yang jujur, pada pukul empat pagi hari Natal, menyaksikan seorang pria yang dihadang sekelompok pemuda berandalan. Pria itu lalu kabur, dan meninggalkan begitu saja seekor bebek putih yang tadi dipanggulnya. “Bebek Natal” itu kemudian diambil oleh Peterson berikut topi penyok pria itu, yang kemudian jatuh ke tangan Sherlock Holmes. Dari serangkaian kejadian dan barang bukti yang tampaknya sepele, Holmes menganalisis topi penyok itu untuk mendapatkan gambaran tentang pemiliknya, dan melacak asal-usul si bebek sampai ke penjual dan penyuplainya. Ternyata memang si bebek menyimpan “harta terpendam”, secara harafiah.
8. Lilitan Bintik-bintik (judul asli: The Adventure of the Speckled Band)
Inilah cerita paling menegangkan dari semua cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes. Helen Stoner muda datang kepada Sherlock Holmes pada suatu pagi, dalam keadaan penuh teror dan ketakutan. Miss Stoner mengaku tinggal di Stoke Moran, Surrey, bersama dengan ayah tirinya, Dr. Grimesby Roylott. Ia ketakutan, karena malam sebelumnya, suatu peristiwa yang terjadi sesaat sebelum kematian saudara kembarnya terjadi lagi. Ia takut bahwa ia akan mengalami nasib yang sama, mati secara misterius! Bagaimanakah Sherlock Holmes memecahkan kasus ini? Baca saja dalam cerpen yang menurut saya adalah cerpen terbaik dalam kumcer ini!
9. Ibu Jari Sang Insinyur (judul asli: The Adventure of the Engineer’s Thumb)
Orang bisa saja mengalami berbagai kejadian aneh, tapi berapa orang yang mengalami petualangan sehubungan dengan ibu jarinya? Seorang insinyur hidrolik muda bernama Mr. Victor Hatherley mengalaminya. Sebuah tawaran pekerjaan yang ringan, tapi dengan bayaran tinggi dari seorang Kolonel Lysander Stark membawanya ke sebuah wilayah terpencil dekat Reading. Victor tak menyangka kalau nantinya ia akan mengalami peristiwa menegangkan yang melibatkan beberapa orang Jerman dan membuatnya harus kehilangan ibu jarinya. Dalam cerpen yang satu ini Conan Doyle banyak menggunakan istilah teknik berkenaan dengan bidang pekerjaan seorang insinyur hidrolik, yang membuat orang non-teknik seperti saya mengerutkan dahi membacanya…
10. Bangsawan Muda (judul asli: The Adventure of the Noble Bachelor)
Lord St. Simon yang malang! Istrinya yang cantik tiba-tiba menghilang saat jamuan makan tepat setelah upacara pernikahan! Sang bangsawan meminta pertolongan Sherlock Holmes untuk menemukan istrinya, dan menyampaikan bahwa istrinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mau kabur sebelum pernikahan. Hanya saja, ia sempat gugup dan menjatuhkan buket bunganya saat berjalan keluar dari altar setelah upacara pemberkatan di gereja. Peristiwa yang nampaknya misterius ini ternyata pemecahannya sederhana saja.
11. Tiara Bertatahkan Permata Hijau (judul asli: The Adventure of the Beryl Coronet)
Klien Sherlock Holmes kali ini adalah seorang bankir dari salah satu bank swasta paling ternama di London, Mr. Alexander Holder dari Holder & Stevenson Bank. Mr. Holder baru saja memberikan pinjaman sebesar 50.000 pound kepada seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Jaminannya adalah benda yang nilainya jauh melebihi nilai pinjaman, yaitu sebuah tiara bertatahkan 39 buah permata hijau. Merasa terbeban karena dititipi benda yang merupakan kekayaan negara, Mr. Holder menyimpan tiara itu dengan ekstra hati-hati dan bersikap ekstra waspada. Namun malang, tiara itu berhasil dicuri juga! Tersangka utama adalah putra Mr. Holder sendiri, Arthur. Sementara itu, Sherlock Holmes yang sedang melakukan penyelidikan, tidak sampai pada keyakinan bahwa Arthurlah pelakunya. Arthur yang malang telah dijebak…
12. Petualangan di Copper Beeches (judul asli: The Adventure of the Copper Beeches)
Cerpen yang dibuka dengan cukup menarik dengan perdebatan antara Holmes-Watson ini berkisah tentang Miss Violet Hunter yang ingin berkonsultasi dengan Sherlock Holmes mengenai apakah sebaiknya ia menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Kedengarannya sepele sekali, bukan? Tapi ternyata tidak. Violet menemukan banyak keanehan saat ia mulai bekerja di kediaman Mr. Jephro Rucastle, dan belum menyadari bahwa ia terlibat suatu persekongkolan licik. Namun pada waktunya ia akan tahu.
***
Itulah kedua belas cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes (baca review bagian pertama). Kumcer ini merupakan buku Sherlock Holmes yang pertama kali saya baca, dan secara umum kumcer ini menarik, terutama karena kecemerlangan metode deduksi Sherlock Holmes dan perhatiannya terhadap detail. Kadang-kadang karakter Holmes tampak terlalu sempurna bagi saya, karena sepertinya tidak ada misteri yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Kegagalan yang jarang sekali terjadi tampak dalam cerpen pertama dalam kumcer ini, Skandal di Bohemia. Cerpen favorit saya tetap jatuh pada Lima Butir Biji Jeruk (cerpen no. 5) yang berlatar belakang sejarah perkumpulan Ku Klux Klan dan Lilitan Bintik-bintik (cerpen no. 8) yang bikin deg-degan, membuat saya merasa sedang membaca karya Poe. Saya tertarik untuk membaca novel-novel Sherlock Holmes dengan harapan novel-novelnya lebih dalam dan menyentuh sisi emosional sang detektif handal. Tiga bintang untuk keseluruhan kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini.
Conclusion in English:
I have written 2-part review for The Adventures of Sherlock Holmes (it is Petualangan Sherlock Holmes in the Indonesian translated version). Part I was written fully in Indonesian, but here in Part II I included a conclusion in English too. This is the first Sherlock Holmes I have ever read, and I found this book interesting, especially for the brilliant deductive method used by Sherlock Holmes, and his attention to tiny, seemingly meaningless details. However, sometimes I found the character Sherlock Holmes a bit beyond perfection, because it seemed that there was no case that cannot be solved by him (except A Scandal in Bohemia in this particular work). My two favorite short stories in this work go to The Five Orange Pips with its background history of Ku Klux Klan extremist organization and the gripping The Adventure of the Speckled Band that made me felt like I was reading Poe. I want to read Sherlock Holmes’ novels too, with hope that they would be deeper and more emotional. I gave three out of five stars for The Adventures of Sherlock Holmes.
Detail buku:
Petualangan Sherlock Holmes (judul asli: “The Adventures of Sherlock Holmes”), oleh Sir Arthur Conan Doyle
504 halaman, diterbitkan Maret 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] The Phantom of the Opera
# Please skip to the bottom of the post for Conclusion in English #
Bayangkan Gedung Opera Paris yang berdiri megah, dengan dua puluh lima lantai di atas permukaan tanah dan lima gudang bawah tanah. Bayangkan sosok misterius berjubah hitam yang “gentayangan” di dalam Gedung Opera, yang dikenal dengan sebutan “Hantu Opera”. Sekarang bayangkan sebuah cerita yang memuat sejarah, kisah cinta, musik, petualangan, dan sekaligus horor. Cerita yang menyajikan semua hal tadi ada dalam The Phantom of the Opera karya Gaston Leroux.
Dikemas dalam bentuk semi-reportase, sehingga feel ketika membacanya tidak seperti ketika sedang membaca sebuah novel biasa, kisah The Phantom of the Opera dibuka dengan pergantian dua manajer Gedung Opera. Monsieur Armand dan Moncharmin-lah yang kini memegang jabatan penting tersebut, dan kedua pendahulunya menasihati kedua manajer baru tersebut untuk memperhatikan permintaan-permintaan sang Hantu Opera, kalau tidak hal-hal yang buruk akan terjadi. Permintaan si hantu antara lain mengenai siapa yang memerankan karakter apa dalam pementasan opera, menyisihkan Balkon Nomor Lima baginya, dan tunjangan bulanan sebesar 20.000 franc. Sedikit saja kekeliruan dalam menyanggupi permintaan-permintaan si hantu, berarti musibah. Musibah bisa datang dalam bentuk kematian seorang staf opera dengan cara yang mengerikan, tragedi dalam pementasan di mana tiba-tiba sang biduanita mengeluarkan suara kwok-kwok-kwok seperti katak, atau jatuhnya kandelar besar yang menewaskan orang yang sialnya sedang berada di bawahnya.
Ada seorang penyanyi, gadis muda yang cantik bernama Christine Daae yang sangat diperhatikan oleh si hantu. Dengan cara-cara yang magis, si hantu memberikan pelajaran menyanyi kepada Christine, yang berbuah penampilan gemilangnya sebagai Marguerite dalam pementasan pada suatu malam. Pada malam itu juga, Vicomte Raoul de Chagny muda, yang telah mengenal Christine sejak kecil, menyaksikan bagaimana si gadis bernyanyi dengan luar biasa indahnya, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti Christine untuk memberinya ucapan selamat secara pribadi. Betapa kagetnya ia ketika berada di depan kamar ganti Christine, didengarnya Christine sedang berbicara kepada seorang pria… namun tidak ada seorangpun di dalam ruangan itu selain Christine sendiri. Di lain waktu, Raoul menyaksikan Christine menghilang ke dalam cermin besar di kamar gantinya. Peristiwa-peristiwa aneh ini membuatnya penasaran setengah mati, apalagi ketika ia mengetahui bahwa pemilik suara tanpa tubuh ini adalah sang Hantu Opera sendiri. Lebih lagi kemudian, ketika si hantu membujuk Christine supaya mencintainya, padahal Christine hanya mencintai Raoul, si hantu akhirnya menculik Christine tepat di tengah-tengah suatu pementasan. Raoul pun memutuskan untuk memburu sosok misterius yang dipanggil oleh Christine dengan sebutan “Malaikat Musik” ini.
Perburuan yang dilakukan Raoul terhadap Hantu Opera alias “Malaikat Musik” menemui titik terang ketika ia bertemu dengan Orang Persia, seorang pria yang konon mengetahui asal-usul Erik, sang Hantu Opera. Petualangan Raoul dan si orang Persia dimulai dengan menyusuri ruang-ruang bawah tanah Gedung Opera, sampai ke rumah di samping telaga milik Erik dan sempat terperangkap dalam Bilik Penyiksaan yang mengerikan. Pada bagian cerita yang ini ketegangan dibangun oleh pengarang dengan sangat intens. Berhasilkah Raoul menyelamatkan Christine, ataukah ia harus mati di dalam Bilik Penyiksaan bersama si Orang Persia? Lalu siapa sesungguhnya sang Hantu Opera?
***
Membaca karya ini menimbulkan sensasi yang agak berbeda daripada ketika membaca karya-karya klasik lain. Di satu sisi, cara pengarang menggambarkan musik dan cinta antara Raoul-Christine terasa begitu magis dan menyentuh, namun di sisi lain penggambaran sosok Erik begitu mengerikan dan brutal. Belum lagi fakta-fakta yang dijabarkan di sepanjang karya ini. Pada akhir cerita, saya merasa tercabik antara membenci dan merasa iba terhadap tokoh Erik, yang karena rupanya yang buruk, harus menutup diri terhadap dunia dan akhirnya menjadi jahat. Sebenarnya apa yang menjadi hasratnya hanya satu dan sama dengan setiap manusia normal yang ada di dunia: untuk dicintai.
Novel gothic ini menginspirasi komposer Andrew Lloyd Webber untuk menggubah sekumpulan lagu dalam pertunjukan teater musikal The Phantom of the Opera yang pertama kali dipentaskan di West End pada tahun 1986 dan kemudian di Broadway pada tahun 1988. Pertunjukan The Phantom of the Opera ini diklaim menjadi pertunjukan yang terlama dipentaskan di Broadway dan pementasannya yang ke 10.000 berlangsung pada 11 Februari 2012 lalu. Pada tahun 2004, sutradara Joel Schumacher merilis adaptasi film dari pertunjukan ini dengan bintang Gerard Butler sebagai Erik/the Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul de Chagny. Membaca novelnya dan kemudian menonton versi filmnya memberikan kepuasan tersendiri karena yang dinikmati bukan hanya karya sastra, namun juga karya seni bercitarasa tinggi dalam bentuk musik dan sinematografi.
Conclusion in English:
Reading this piece gave an exclusively different sensation than when reading other classic literature pieces. The way the author expressed music and love between Christine and Raoul felt magical to the root, when the way Erik was expressed was so brutal and gruesome. At the end of the story, I felt torn between hating Erik for his ruthlessness and at the same time pity him, that because of his grotesque looks, he had to hide from the world, and in time became villainous. His desire was the same with every living human’s desire: to be loved. I would recommend everyone who is interested in The Phantom of the Opera to read the novel and then watch the musical (or the film adaptation of the musical). They would give a complete experience of a journey in literature, art, music, performance, and cinematography.
Detail buku:
“The Phantom of the Opera” (judul asli: “Le Fantôme de l’Opéra”), oleh Gaston Leroux
485 halaman, diterbitkan Februari 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde
Dalam jiwa setiap manusia berperang dua sisi yang berlawanan: Baik dan Jahat.
Mr. Utterson, seorang pengacara, mencium sesuatu yang ganjil mengenai Henry Jekyll, seorang dokter berusia setengah baya yang ternama dan dermawan, yang menulis dalam surat wasiatnya seperti berikut:
“… dalam hal meninggalnya Henry Jekyll, maka semua harta miliknya akan diwariskan kepada “teman dan pelindungnya Edward Hyde”; tetapi juga dalam hal apabila Dr. Jekyll menghilang atau tidak bisa dijelaskan ketidakberadaannya selama jangka waktu apa pun yang melebihi tiga bulan kalender…”
Siapakah Edward Hyde? Dr. Lanyon, salah seorang sahabat dekat Jekyll yang ditanyai oleh Mr. Utterson, mengaku tak tahu-menahu mengenai Hyde. Dahi Mr. Utterson semakin berkerut bila ia mengingat sebuah kisah aneh yang diceritakan seorang rekannya, Mr. Enfield, beberapa hari sebelumnya. Ia menceritakan tentang seorang laki-laki berperawakan kecil yang menabrak seorang anak perempuan dan kemudian ia menginjak-injak tubuh si anak perempua dan berjalan pergi dengan tenang, membiarkan si anak perempuan menjerit-jerit di tanah. Lelaki jahat ini adalah Mr. Hyde, yang digambarkan bertubuh kecil dan mengesankan bahwa dirinya mempunyai suatu kecacatan yang tak dapat dijelaskan, sesuatu yang membuat orang merasa benci dan muak terhadap dirinya.
Beberapa waktu kemudian, kota London kembali dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan terhadap seorang yang terpandang di masyarakat, Sir Danvers Carew. Keterangan saksi dan bukti yang ada menunjukkan bahwa pelakunya adalah Mr. Hyde, sementara yang menjadi tersangka raib seakan ditelan bumi. Waktu berlalu dan sementara Mr. Hyde belum juga ditemukan, Mr. Utterson menyadari bahwa ada perubahan yang terjadi pada diri Dr. Jekyll. Sang dokter yang biasanya supel dan ramah itu tiba-tiba menutup diri dan menolak menerima tamu di rumahnya. Mr. Utterson yang mengutarakan pendapatnya kepada Dr. Lanyon bahwa kemungkinan besar Jekyll sedang sakit, malah dikejutkan dengan respon Lanyon yang mengatakan bahwa ia tidak mau melihat atau mendengar apa-apa lagi mengenai Dr. Jekyll. Lanyon sendiri kelihatan tidak sehat dan akhirnya meninggal dunia beberapa minggu kemudian.
Pada suatu malam, Mr. Utterson dikejutkan oleh kunjungan mendadak Poole, kepala pelayan Dr. Jekyll, yang memintanya untuk mengikutinya ke rumah Dr. Jekyll. Dengan rasa takut dan was-was Mr. Utterson pun mengikuti Poole, dan apa yang terjadi sesudahnya menanamkan suatu kecurigaan kuat dalam benak Mr. Utterson bahwa Dr. Jekyll telah dibunuh, dan pembunuhnya masih berada di ruang kerjanya, tak lain tak bukan adalah Mr. Hyde, yang diberi akses penuh atas ruang kerja dan kamar Dr. Jekyll. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Dr. Jekyll? Lalu apa gerangan yang dilakukan si pembunuh gila di ruang kerjanya?
***
Karya Robert Louis Stevenson ini merupakan gabungan antara kisah misteri Gothic, fiksi ilmiah, dan sekaligus merupakan studi psikologis dualitas sifat manusia (the duality of human nature); yang diwujudkan di dalam kisah melalui karakter Dr. Jekyll (gabungan karakter baik dan jahat, namun lebih berat pada sisi baik), dan Mr. Hyde (mewakili sisi jahat, sama sekali tidak ada kebaikan dalam dirinya). Dalam 128 halaman versi terjemahan kisah ini, Stevenson menguraikan teka-teki mengenai Dr. Jekyll dan Mr. Hyde yang sedang diusut oleh Mr. Utterson dengan tingkat ketegangan yang cukup mendebarkan, termasuk di dalamnya pergumulan fisik dan batin yang mendera Dr. Jekyll, dan peristiwa-peristiwa menyeramkan yang terjadi dalam kegelapan dan kesuraman kota London. Kalau pun ada yang kurang, mungkin hal tersebut adalah detail eksperimen ilmiah yang dilakukan Dr. Jekyll. Terjemahannya cukup baik, walau mungkin di banyak bagian dahi pembaca dibuat berkerut akibat kalimat dengan penjelasan yang panjang-panjang. Tapi memang begitulah ciri khas literatur klasik (terutama literatur yang ditulis dalam era Victoria).
“Hari demi hari, dan dengan kedua sisi diriku, moral dan intelektual, aku, perlahan-lahan tapi pasti, semakin mendekati kebenarannya, yang pada akhirnya membuatku menjadi manusia terkutuk: bahwa manusia sesungguhnya bukanlah satu, melainkan dua.
… Sudah menjadi kutukan takdir manusia sehingga kedua aspek yang berlawanan tersebut saling terikat bersama-sama—dan oleh karenanya, di dalam rahim alam sadar, seorang manusia dengan kedua kutub kembar tersebut harus selalu berjuang untuk mengalahkan satu sama lain. Bagaimana seandainya keduanya dipisahkan?”
Dengan demikian, kesimpulan logis yang saya tarik setelah membaca buku ini (karena saya tidak punya kapabilitas cukup untuk membahasnya secara psikologis):
- Kepandaian manusia adalah berkat dari Tuhan, namun bisa menjadi kutuk ketika digunakan tidak pada tempatnya, atau dengan cara yang salah. Kejeniusan Dr. Jekyll membuatnya berangan-angan, dan kemudian mewujudkan, ide “memisahkan kedua sisi berlawanan di dalam dirinya”. Ide gila ini, tanpa bisa dihentikan lagi, kemudian membawanya ke kehancuran. So, people, it is best to use our intelligence wisely and responsibly.
- Penting bagi seorang manusia untuk mempunyai kehidupan yang seimbang. Usahakanlah bahwa “Jekyll” di dalam diri kita yang memegang kendali, dan bukannya “Hyde”. “Hyde” tidak harus hilang sama sekali dari diri kita, karena toh kita masih manusia yang punya kekuatan juga kelemahan. Yang penting adalah “Jekyll” harus bisa mengontrol “Hyde”, sehingga kehidupan kita menjadi seimbang.
Tiga bintang saya berikan untuk novel yang pendek namun menarik untuk didiskusikan ini.
Baca juga:
Playing Hyde & Seek (Eng)
Analisis Kejiwaan Dr. Jekyll dalam Novel “The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde” karya Robert Louis Stevenson, oleh Ferry Ismawan (Ind)
Detail buku:
“The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde”, oleh Robert Louis Stevenson
128 halaman, diterbitkan 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥
[Real Short Review] Perempuan di Titik Nol
“Kembali ke rumah Ayah, saya memandang dengan hampa pada tembok-tembok dari tanah liat, bagaikan orang asing yang belum pernah masuk ke tempat ini. Saya melihat sekeliling hampir-hampir keheranan, seakan-akan saya tidak lahir di situ, tetapi tiba-tiba terjatuh dari langit, atau muncul entah dari mana dari dalam perut bumi, menemukan diri saya di suatu tempat di mana saya tidak termasuk di rumah yang bukan milik saya, lahir dari seorang ayah yang bukan ayah saya, dan dari seorang ibu yang bukan ibu saya.
Apakah itu karena cerita Paman tentang kota Kairo, tentang rakyat penghuni kota itu yang telah mengubah saya? Apakah saya benar-benar anak perempuan ibu saya, apakah ibu saya seorang yang lain pula? Apakah saya dilahirkan sebagai anak ibu saya dan berubah menjadi seorang yang lain? Ataukah ibu saya telah mengubah dirinya menjadi seorang perempuan lain yang sangat mirip dengannya, sehingga saya tidak dapat melihat perbedaannya?”
Duh, maap beribu maap, buku ini memang bukan buat saya. Ceritanya sebenarnya menarik, tapi saya nggak tahan dengan gaya menulis Saadawi. Narasi panjang-panjang memenuhi seluruh buku, belum lagi ada beberapa frase yang diulang, misalnya “cincin yang teramat putih di sekitar dua lingkaran yang hitam pekat”. Feminisme yang digaungkan di buku ini juga nggak terlalu sesuai dengan diri saya. Sudah berusaha untuk menikmati buku ini, tapi gagal. So sorry. –”
Detail buku:
“Perempuan di Titik Nol” (“Woman at Point Zero”), oleh Nawal El Saadawi
156 halaman, diterbitkan 2002 oleh Yayasan Obor Indonesia
My rating: ♥
[Review] Si Cantik dari Notre Dame
“Atau, bisa dikatakan, semua saling menghancurkan melalui perjalanan nasib yang tak dapat dijelaskan…”
Paris, Januari 1482. Perayaan hari Epifani yang diadakan bersamaan dengan Festival Kaum Dungu di alun-alun Paris berlangsung dengan meriah. Hampir semua penduduk Paris larut dalam euforia yang aneh, kecuali mungkin sang penyair dan filsuf Pierre Gringoire, yang pementasan dramanya terganggu dengan kedatangan Kardinal dan rombongannya. Kemudian ada seorang gadis gipsi cantik yang menari dengan lincah di jalan, seekor kambing berbaring di permadani di sudut di dekatnya. Gadis luar biasa ini bernama La Esmeralda. Rombongan orang yang menontonnya ternganga oleh kecantikan dan kelincahan kakinya yang anggun, termasuk sang wakil uskup dari Katedral Notre Dame, Dom Claude Frollo. Ia begitu asyik mengamati si gadis menari, sesuatu yang tak patut dilakukan oleh seseorang yang telah bersumpah untuk hidup selibat.
Di saat yang sama, ada Quasimodo, si bungkuk buruk rupa yang adalah pemukul lonceng gereja Notre Dame. Quasimodo dipungut oleh Claude Frollo ketika berusia empat tahun ketika ia ditinggalkan di depan gereja, begitu buruk rupa sehingga menjadi sasaran hujatan orang. Sang pendeta membesarkannya dengan susah payah dan Quasimodo tumbuh dengan hanya dua bentuk kasih sayang yang dikenalnya, yang pertama kepada tuannya Frollo, dan yang kedua untuk Katedral Notre Dame.
Kembali ke La Esmeralda, suatu malam ketika ia hendak pulang ke Mahkamah Keajaiban, ia merasa bahwa dirinya sedang dikuntit. Seorang pria misterius berpakaian hitam-hitam dan pembantunya yang berperawakan besar menghadang gadis itu. Saat itulah Kapten Phoebus de Chateaupers yang gagah dan tampan lewat dan menyelamatkan si gadis cantik. La Esmeralda jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya, namun lenyap segera sesudah sang kapten menyelamatkannya. Pada suatu malam di waktu yang lain, gadis yang dimabuk cinta itu bertemu dengan sang kapten, yang memandang si gadis dengan nafsu badaniah yang menggelegak. Pertemuan mereka berakhir dengan sebuah golok menancap di tubuh Phoebus. Pagi harinya La Esmeralda diseret ke penjara oleh sekawanan prajurit penjaga. Tiang gantungan telah menanti si gadis.
Quasimodo menyelamatkan si gadis cantik dari tiang gantungan dan membawanya ke Notre Dame sehingga ia terlindung oleh suaka yang diberikan gereja. Namun keselamatan La Esmeralda masih terancam. Di dalam dinding Notre Dame masih ada Claude Frollo yang dibakar kecemburuan yang amat sangat melihat kedekatan anak asuhnya yang buruk rupa dengan La Esmeralda. Sementara cinta si gadis justru tertuju pada kapten Phoebus yang sesungguhnya tidak mati, namun berangsur-angsur sembuh dari lukanya dan kembali kepada tunangannya, gadis bangsawan bernama Fleur-de-Lys. Sementara Parlemen telah memerintahkan supaya La Esmeralda kembali diseret ke tiang gantungan, teman-teman si gadis di Mahkamah Keajaiban, orang-orang gipsi, telah menyusun rencana untuk menculik si gadis dari tempat perlindungannya. Mereka datang menyerbu Notre Dame.
***
Karya yang indah sekaligus tragis dan mengerikan dengan segala kemegahannya. Inilah karya yang paling terkenal dari sastrawan besar Prancis, Victor Hugo (1802-1885). Karya yang berjudul asli Notre Dame de Paris (1831) ini dikenal seantero dunia dengan judul The Hunchback of Notre Dame, sementara terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi terbit dengan judul Si Cantik dari Notre Dame. Mengapa “The Hunchback” lantas diterjemahkan menjadi “si cantik”? Setelah selesai membaca buku ini saya baru paham, pusat cerita dalam kisah ini sebenarnya bukanlah Quasimodo si bungkuk, melainkan si gadis cantik, La Esmeralda, yang dicintai sekaligus dikutuk. Pernah menonton film versi Disney dari novel ini? Bersiaplah karena saat membaca buku ini anda akan sadar bahwa ceritanya jauh berbeda dengan versi Disney.
Novel ini membuktikan bahwa karya klasik tak melulu muram dan serius, karena Victor Hugo juga menyelipkan humor di dalam novel ini. Beberapa adegan yang lucu antara lain ketika Quasimodo yang tuli akibat bunyi lonceng gereja disidang oleh seorang hakim yang juga tuli, kemudian karakter Gringoire yang tidak bisa berhenti bicara, dan adegan ketika Jehan Frollo, adik Claude Frollo, datang menemui kakaknya untuk minta uang. Sang kakak menanyai adiknya mengenai studinya, dan sang adik menjawabnya dengan apa yang kita sebut hari ini sebagai “ngeles”. Berikut sebagian percakapan mereka.
“Bagaimana studimu mengenai perintah Gratian?”
“Aku kehilangan buku catatanku.”
“Dan bagaimana dengan humaniora Latin?”
“Seseorang mencuri kopi naskah Horatius.”
“Dan bagaimana dengan pelajaranmu mengenai Aristoteles?”
“Lho, apakah kakak tak tahu bahwa salah seorang frater di gereja berkata bahwa pendukung bidah selalu mencari perlindungan di bahwah kekusutan metafisika Aristoteles? Aku tak perlu mengetahui apa pun mengenai Aristoteles. Aku tak ingin metafisikanya menghancurkan agamaku.”
Terdengar sangat familier? Ternyata “ngeles” tidak hanya terjadi di zaman modern, lho!
Penerjemah juga menambahkan kelucuan dalam bagian ketika Phoebus memanggil La Esmeralda dengan “Semar” lantaran ia kesulitan menyebut nama si gadis.
Penulisan Hugo yang sangat indah, cerita yang dijalin antara ketiga tokoh utama dan banyak tokoh pendukung yang mempunyai peran masing-masing, terjemahan yang digarap dengan baik oleh Sunaryono Basuki K.S., membuat saya tidak ragu memberikan lima bintang untuk novel ini, sebagaimana saya juga memberi lima bintang untuk novel karya Hugo yang lain, Les Misérables.
Review buku ini dipost dalam rangka merayakan HUT ke-210 Victor Hugo (26 Februari 1802 – 26 Februari 2012)
Happy birthday, Victor Hugo!
Detail buku:
“Si Cantik dari Notre Dame” (judul asli: “Notre Dame de Paris”), oleh Victor Hugo
572 halaman, diterbitkan Juli 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥


























