Blog Archives
[Review] The Bridge of San Luis Rey
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman TUHAN.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9)
Siapakah dari umat manusia yang mengetahui rencana Tuhan, dan memahami rancangan-rancangan-Nya? Ketika sesuatu yang buruk terjadi, bukankah kita bertanya, “Mengapa?” “Mengapa hal ini terjadi?” “Mengapa hal itu menimpa kami?”, atau “Mengapa hal ini menimpa mereka?”
Pertanyaan yang sama terpatri di benak Brother Juniper, seorang biarawan Fransiskan, setelah peristiwa putusnya jembatan gantung San Luis Rey di Peru yang terkenal. Adapun jembatan gantung yang menghubungkan kota Lima dan Cuzco tersebut ditenun oleh peradaban suku Inca dari abad yang telah berlalu, dan masih dilewati ratusan orang setiap harinya, sampai hari nahas itu tiba.
Pada siang hari, tanggal 20 Juli 1714, jembatan gantung San Luis Rey putus dan melemparkan lima orang ke dalam jurang di bawahnya. Peristiwa ini menggugah masyarakat Lima begitu rupa dan mengusik hati Brother Juniper, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mengadakan suatu “penelitian”, untuk menyelidiki kehidupan kelima orang korban. Ia berusaha menemukan jawaban mengapa Tuhan memilih kelima orang tersebut, untuk menunjukkan demostrasi kebijaksanaan-Nya, pada hari itu.
“Why did this happen to those five? If there were any plan in the universe at all, if there were pattern in a human life, surely it could be discovered mysteriously latent in those lives so suddenly cut off. Either we live by accident and die by accident, or we live by plan and die by plan.”
Selama enam tahun Brother Juniper mengetuk semua pintu di Lima, mengajukan ribuan pertanyaan, dan mencatat di buku catatannya semua fakta, kecil dan besar, penting maupun kurang penting, terkait kelima orang korban San Luis Rey, untuk membuktikan bahwa kelima nyawa yang hilang tersebut sesungguhnya adalah satu kesatuan yang utuh. Penelitian ini membawanya menguak lembar demi lembar kehidupan Dona Maria, La Marquesa de Montemayor, seorang wanita bangsawan yang tidak dicintai oleh putrinya semata wayang; Pepita, gadis muda cerdas pelayan sang Marquesa; Camila Perichole, seorang aktris luar biasa cantik yang dikagumi oleh seantero Peru; Paman Pio, lelaki paruh baya yang merupakan pelatih sekaligus “ayah” La Perichole; dan pemuda kembar yatim piatu Manuel dan Esteban, yang memiliki kisah hidup muram mereka sendiri.
Setiap dari mereka mencintai dan berjuang untuk hidup dengan cara masing-masing; hampir setiap detail dari kehidupan mereka dikumpulkan oleh Brother Juniper dengan harapan samar bahwa entah bagaimana detail-detail tersebut akan memunculkan diri begitu rupa dan membuka tabir rahasia lima nyawa yang direnggut. Apakah Brother Juniper akan menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini menghantui dirinya, dan mungkin juga hampir setiap orang di muka bumi ini?
***
Kekuatan utama novel pendek ini adalah gaya penulisan Thornton Wilder yang indah. Sebenarnya saya terlebih dahulu mengetahui versi film dari novel ini, secara tidak sengaja menemukan VCDnya beberapa tahun yang lalu. Versi film tahun 2004 dibintangi antara lain Gabriel Byrne sebagai Brother Juniper, Kathy Bates sebagai Marquesa de Montemayor, Harvey Keitel sebagai Uncle Pio, dan Robert De Niro sebagai Archbishop of Peru; dan menurut saya merupakan adaptasi yang cukup bagus. Jika dulu, saat pertama selesai menonton filmnya, saya akan duduk diam termenung beberapa saat, sekarang lebih lagi saat saya menyelesaikan bukunya. Alih-alih memberikan jawaban, buku ini mengajak pembaca untuk merenung. Kesimpulan yang saya ambil dalam hati mengenai buku ini adalah: kita mungkin tidak mengetahui rahasia Tuhan, mengapa Ia berbuat begini dan begitu. Namun satu hal yang mutlak adalah; ia menganugerahi masing-masing kita dengan cinta. Inilah hal yang terpenting, di atas segalanya.
“But soon we shall die and all memory of those five will have left the earth, and we ourselves shall be loved for a while and forgotten. But the love will have been enough; all those impulses of love return to the love that made them. Even memory is not necessary for love.
There is a land of the living and a land of the dead and the bridge is love, the only survival, the only meaning.“
Tentang Pengarang
Thornton Wilder, novelis dan penulis naskah sandiwara berkebangsaan Amerika, lahir pada tanggal 17 April 1897 di Madison, Wisconsin, Amerika Serikat. Beliau menghabiskan sebagian masa kecil di wilayah Amerika Selatan karena pekerjaan ayahnya. Sebagai seorang yang punya intelektualitas tinggi, beliau mengenyam pendidikan di Yale University dan meraih gelar master dalam bahasa Prancis di Princeton. Beliau juga tergabung dalam komunitas sastra Alpha Delta Phi Fraternity. Setelah lulus beliau melanjutkan studi di Roma, Italia, dan mengajar bahasa Prancis di New Jersey, dan kemudian di University of Chicago. Novel pertamanya, The Cabala, dirilis pada tahun 1926. Menyusul di tahun 1927, novel keduanya, The Bridge of San Luis Rey, sukses di pasaran dan membuatnya memenangkan hadiah Pulitzer Prize pertamanya. Beliau memenangkan hadiah Pulitzer dua kali lagi untuk kategori Drama untuk naskah sandiwara Our Town (1938) dan The Skin of Our Teeth (1942). Novel The Eighth Day (1967) juga dianugerahi penghargaan National Book Award for Fiction. Di tahun 1998, American Modern Library memilih The Bridge of San Luis Rey sebagai salah satu dari 100 novel terbaik di abad 20. Novel ini juga dikutip oleh PM Inggris Tony Blair dalam pidato dalam memorial service korban tragedi 11 September 2001. Thornton Wilder meninggal dunia tanggal 7 Desember 1975 pada usia 78 tahun.
Detail buku:
“The Bridge of San Luis Rey”, oleh Thornton Wilder
148 halaman, diterbitkan tahun 1986 oleh Harper Perennial
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Si Cantik dari Notre Dame
“Atau, bisa dikatakan, semua saling menghancurkan melalui perjalanan nasib yang tak dapat dijelaskan…”
Paris, Januari 1482. Perayaan hari Epifani yang diadakan bersamaan dengan Festival Kaum Dungu di alun-alun Paris berlangsung dengan meriah. Hampir semua penduduk Paris larut dalam euforia yang aneh, kecuali mungkin sang penyair dan filsuf Pierre Gringoire, yang pementasan dramanya terganggu dengan kedatangan Kardinal dan rombongannya. Kemudian ada seorang gadis gipsi cantik yang menari dengan lincah di jalan, seekor kambing berbaring di permadani di sudut di dekatnya. Gadis luar biasa ini bernama La Esmeralda. Rombongan orang yang menontonnya ternganga oleh kecantikan dan kelincahan kakinya yang anggun, termasuk sang wakil uskup dari Katedral Notre Dame, Dom Claude Frollo. Ia begitu asyik mengamati si gadis menari, sesuatu yang tak patut dilakukan oleh seseorang yang telah bersumpah untuk hidup selibat.
Di saat yang sama, ada Quasimodo, si bungkuk buruk rupa yang adalah pemukul lonceng gereja Notre Dame. Quasimodo dipungut oleh Claude Frollo ketika berusia empat tahun ketika ia ditinggalkan di depan gereja, begitu buruk rupa sehingga menjadi sasaran hujatan orang. Sang pendeta membesarkannya dengan susah payah dan Quasimodo tumbuh dengan hanya dua bentuk kasih sayang yang dikenalnya, yang pertama kepada tuannya Frollo, dan yang kedua untuk Katedral Notre Dame.
Kembali ke La Esmeralda, suatu malam ketika ia hendak pulang ke Mahkamah Keajaiban, ia merasa bahwa dirinya sedang dikuntit. Seorang pria misterius berpakaian hitam-hitam dan pembantunya yang berperawakan besar menghadang gadis itu. Saat itulah Kapten Phoebus de Chateaupers yang gagah dan tampan lewat dan menyelamatkan si gadis cantik. La Esmeralda jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya, namun lenyap segera sesudah sang kapten menyelamatkannya. Pada suatu malam di waktu yang lain, gadis yang dimabuk cinta itu bertemu dengan sang kapten, yang memandang si gadis dengan nafsu badaniah yang menggelegak. Pertemuan mereka berakhir dengan sebuah golok menancap di tubuh Phoebus. Pagi harinya La Esmeralda diseret ke penjara oleh sekawanan prajurit penjaga. Tiang gantungan telah menanti si gadis.
Quasimodo menyelamatkan si gadis cantik dari tiang gantungan dan membawanya ke Notre Dame sehingga ia terlindung oleh suaka yang diberikan gereja. Namun keselamatan La Esmeralda masih terancam. Di dalam dinding Notre Dame masih ada Claude Frollo yang dibakar kecemburuan yang amat sangat melihat kedekatan anak asuhnya yang buruk rupa dengan La Esmeralda. Sementara cinta si gadis justru tertuju pada kapten Phoebus yang sesungguhnya tidak mati, namun berangsur-angsur sembuh dari lukanya dan kembali kepada tunangannya, gadis bangsawan bernama Fleur-de-Lys. Sementara Parlemen telah memerintahkan supaya La Esmeralda kembali diseret ke tiang gantungan, teman-teman si gadis di Mahkamah Keajaiban, orang-orang gipsi, telah menyusun rencana untuk menculik si gadis dari tempat perlindungannya. Mereka datang menyerbu Notre Dame.
***
Karya yang indah sekaligus tragis dan mengerikan dengan segala kemegahannya. Inilah karya yang paling terkenal dari sastrawan besar Prancis, Victor Hugo (1802-1885). Karya yang berjudul asli Notre Dame de Paris (1831) ini dikenal seantero dunia dengan judul The Hunchback of Notre Dame, sementara terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi terbit dengan judul Si Cantik dari Notre Dame. Mengapa “The Hunchback” lantas diterjemahkan menjadi “si cantik”? Setelah selesai membaca buku ini saya baru paham, pusat cerita dalam kisah ini sebenarnya bukanlah Quasimodo si bungkuk, melainkan si gadis cantik, La Esmeralda, yang dicintai sekaligus dikutuk. Pernah menonton film versi Disney dari novel ini? Bersiaplah karena saat membaca buku ini anda akan sadar bahwa ceritanya jauh berbeda dengan versi Disney.
Novel ini membuktikan bahwa karya klasik tak melulu muram dan serius, karena Victor Hugo juga menyelipkan humor di dalam novel ini. Beberapa adegan yang lucu antara lain ketika Quasimodo yang tuli akibat bunyi lonceng gereja disidang oleh seorang hakim yang juga tuli, kemudian karakter Gringoire yang tidak bisa berhenti bicara, dan adegan ketika Jehan Frollo, adik Claude Frollo, datang menemui kakaknya untuk minta uang. Sang kakak menanyai adiknya mengenai studinya, dan sang adik menjawabnya dengan apa yang kita sebut hari ini sebagai “ngeles”. Berikut sebagian percakapan mereka.
“Bagaimana studimu mengenai perintah Gratian?”
“Aku kehilangan buku catatanku.”
“Dan bagaimana dengan humaniora Latin?”
“Seseorang mencuri kopi naskah Horatius.”
“Dan bagaimana dengan pelajaranmu mengenai Aristoteles?”
“Lho, apakah kakak tak tahu bahwa salah seorang frater di gereja berkata bahwa pendukung bidah selalu mencari perlindungan di bahwah kekusutan metafisika Aristoteles? Aku tak perlu mengetahui apa pun mengenai Aristoteles. Aku tak ingin metafisikanya menghancurkan agamaku.”
Terdengar sangat familier? Ternyata “ngeles” tidak hanya terjadi di zaman modern, lho!
Penerjemah juga menambahkan kelucuan dalam bagian ketika Phoebus memanggil La Esmeralda dengan “Semar” lantaran ia kesulitan menyebut nama si gadis.
Penulisan Hugo yang sangat indah, cerita yang dijalin antara ketiga tokoh utama dan banyak tokoh pendukung yang mempunyai peran masing-masing, terjemahan yang digarap dengan baik oleh Sunaryono Basuki K.S., membuat saya tidak ragu memberikan lima bintang untuk novel ini, sebagaimana saya juga memberi lima bintang untuk novel karya Hugo yang lain, Les Misérables.
Review buku ini dipost dalam rangka merayakan HUT ke-210 Victor Hugo (26 Februari 1802 – 26 Februari 2012)
Happy birthday, Victor Hugo!
Detail buku:
“Si Cantik dari Notre Dame” (judul asli: “Notre Dame de Paris”), oleh Victor Hugo
572 halaman, diterbitkan Juli 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Bleak House oleh Charles Dickens
“London, 1852. London in November. It was cold, winter weather. There was mud in the streets. There was fog too. The fog was everywhere. It came up the river and down the river.
Cold, mud, and fog filled the streets of London. And the fog was thickest and the mud was deepest near Lincoln’s Inn, the very heart of London. The Lord High Chancellor was there, sitting in his High Court of Chancery.
Some of the fog and the mud had got into the courtroom too. Perhaps a little fog and mud had got into the minds of the people in the High Court of Chancery.”
Bleak House merupakan karya Dickens kedua yang pernah saya baca, dan saya pertama kali membacanya ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMP.
“Bleak House”, jika diIndonesiakan berarti “Rumah Suram” adalah karya Dickens yang merupakan kritik sosial terhadap kehidupan di London pada pertengahan abad 19. Mengambil setting waktu tahun 1852, Dickens menyorot bobroknya sistem hukum perdata di Inggris pada waktu itu, secara spesifik mengenai hal waris. Alkisah ada sebuah kasus mengenai hak waris yang telah dilangsungkan selama bertahun-tahun, bahkan beberapa generasi telah mati dan dilahirkan selama kasus tersebut berlangsung. Kasus ini dikenal dengan nama kasus Jarndyce dan Jarndyce (the case of Jarndyce and Jarndyce). Konon, kasus ini menghabiskan seluruh energi, waktu, dan kepandaian para pengacara di High Court of Chancery, London, dan para penuntut hak waris yang tadinya muda dan penuh harapan, lama kelamaan-menjadi tua dan hancur hidupnya selama menunggu penyelesaian/keputusan atas kasus Jarndyce dan Jarndyce. Kasus ini telah membuat nasib banyak orang menjadi begitu sengsara. Mengapa begitu lama dan sulit untuk menyelesaikan kasus ini? Konon karena tidak ada pengacara yang mampu memahami surat waris Jarndyce.
Para penuntut–mereka yang mempunyai hak atas warisan Jarndyce–yang berumur di bawah 21 tahun diurus oleh Pengadilan, dan Pengadilanlah yang akan mencarikan rumah bagi mereka. Para penuntut ini disebut “wards of court”. Diantara sekian banyak penuntut kasus Jarndyce dan Jarndyce, ada sepasang sepupu yang masih berusia di bawah 21 tahun, mereka adalah Ada Clare dan Richard Carstone. Pengadilan kemudian memutuskan bahwa Ada dan Richard akan tinggal bersama sepupu mereka, John Jarndyce, di kediaman tua Jarndyce yang disebut Bleak House. Pengadilan mengutus Esther Summerson, seorang perempuan muda yang memiliki masa lalu pahit, namun sangat mandiri dan bisa diandalkan, untuk mendampingi Ada. Mereka berempat pun tinggal di Bleak House, yang ternyata tidak sesuram namanya karena sang sepupu, John Jarndyce, adalah seorang pria paruh baya yang periang dan menyenangkan.
Di sudut lain Inggris, di Lincolnshire, tinggallah sepasang bangsawan yang terkenal angkuh. Mereka adalah Sir Leicester Dedlock, dan istrinya, Lady Dedlock yang cantik namun dingin. Suami-istri Dedlock tinggal di rumah yang disebut Chesney Wold. Teras di bagian depan rumah besar itu dijuluki Ghost’s Walk, karena kadang-kadang terdengar langkah-langkah kaki di batu yang keras itu. Konon jika langkah-langkah kaki terdengar di Ghost’s Walk, itu berarti akan ada kematian, kemalangan atau aib yang akan menimpa keluarga Dedlock.
Kembali ke London, Esther, Ada, dan Richard mengunjungi sebuah toko yang sangat kotor dan aneh di dekat High Court of Chancery, toko ini bernama “Krook, Rag and Bottle Shop”. Toko ini begitu aneh karena “everything is bought here, but nothing is sold.” Pemiliknya, Mr Krook, berkata bahwa orang-orang memanggilnya Lord Chancellor (semacam Hakim Agung), dan tokonya adalah High Court of Chancery, karena ia tidak pernah melepaskan satupun barang-barang berkarat dan berdebu dari tokonya. Toko tersebut tidak pernah disapu, dibersihkan, atau diperbaiki, melambangkan High Court of Chancery. Mereka bertiga melihat bagaimana kemiskinan menggerogoti warga yang tinggal di jantung kota London, dan ironisnya warga yang termasuk kaya seakan menutup dunia mereka dari keberadaan warga lain yang miskin.
Sejauh ini terdengar membosankan? Tunggu dulu, Lady Dedlock ternyata punya rahasia yang selama ini setengah mati disimpannya supaya keluarga Dedlock tidak dipermalukan akibat aib masa lalunya. Rahasia ini berkaitan dengan Esther Summerson dan Nemo, seorang law-writer (penulis dokumen hukum) yang identitasnya tidak jelas, yang dulunya tinggal di atas Krook, Rag and Bottle Shop, sampai ia ditemukan mati karena sakit. FYI, “Nemo” dalam bahasa Latin berarti “no one”. Pengacara Sir Leicester, Mr Tulkinghorn, curiga bahwa Lady Dedlock memiliki rahasia dan berusaha mengoreknya. Ada juga seorang perempuan Perancis bernama Hortense yang sangat membenci Lady Dedlock dan berusaha mencelakainya. Karakter penting lainnya adalah Allan Woodcourt, seorang dokter yang datang ketika Nemo ditemukan telah mati. Allan menjalin hubungan persahabatan yang erat dengan para penghuni Bleak House dan menjadi suami Esther di akhir cerita. Menarik juga mengikuti bagaimana kasus Jarndyce dan Jarndyce berhasil menggelapkan hidup banyak orang, termasuk Richard Carstone, karakter yang plin-plan dan tidak pikir panjang, yang selalu berpikir bahwa ia akan menjadi kaya jika keputusan atas kasus Jarndyce dan Jarndyce telah dijatuhkan. Sepupunya, John Jarndyce menasihatinya: “For the love of God, do not put any hope or trust in Jarndyce and Jarndyce. It is better to borrow, better to beg, better to die.”
Penjelasan singkat tentang kasus Jarndyce dan Jarndyce, sebagaimana disampaikan oleh John Jarndyce, adalah sebagai berikut:
“Long ago, a man called Jarndyce made a great fortune. And so he made a great will. This will was difficult to understand. Lawyers have been arguing about it ever since. The Court of Chancery has to decide about the money. Every member of the family has to go to Court sometime. No one can escape. I don’t like to think about it. My poor great-uncle, Tom Jarndyce, thought about the case all the time. In the end, he shot himself.”
***
Bleak House merupakan sebuah novel yang kompleks dan panjang, merupakan suatu potret sosial Inggris pada era Victoria. Sekalipun beberapa sumber menyebutkan bahwa Bleak House adalah novel terbaik Dickens, mungkin novel ini tidak terlalu enjoyable, khususnya bagi pembaca Indonesia, karena cenderung panjang dan membosankan. Begini pendapat G. K. Chesterton mengenai Bleak House: there is a certain monotony about the book: “the artistic . . . unity . . . is satisfying, almost suffocating. There is the motif and again the motif.”
Namun bagi saya pribadi, saya masih bisa menikmati kompleksitasnya, dan juga gaya penulisan Dickens yang sangat khas dan memikat, yang masih terasa sekalipun buku yang saya baca ini versi yang telah dipersingkat dan disederhanakan.
Detail buku:
“Bleak House”, oleh Charles Dickens, diceritakan kembali oleh Margaret Tarner
122 halaman, diterbitkan 1990 oleh Dian Rakyat
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) oleh Charles Dickens
London dan Paris; dua kota yang bergolak menjelang revolusi Prancis. Konon di Prancis, kaum bangsawan memerintah dengan sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyat. Kesejahteraan kaum bangsawan diletakkan diatas segalanya, sementara rakyat kecil dianggap tidak lebih daripada anjing. Rakyat harus membayar pajak dengan jumlah yang menggigit, sementara kaum bangsawan terus berfoya-foya dan menggemukkan badan. Kejahatan merajalela, tiada hari tanpa pelaksanaan hukuman mati, tidak peduli kecil atau besar kejahatan yang dilakukan orang yang akan dieksekusi. Begitulah situasinya, sampai di suatu titik, rakyat Prancis bangkit dan melakukan perlawanan. Situasi berputar balik, kali ini kaum bangsawanlah yang ditangkapi, diadili, dan dibunuh.
Di tengah-tengah gejolak yang terjadi, Mr. Jarvis Lorry, seorang bankir di Tellson’s Bank, London, ditemui oleh seorang gadis muda berparas cantik berkebangsaan Prancis bernama Lucie, mengenai keberadaan ayah yang disangkanya telah mati. Dr. Manette, ayah si gadis, ternyata masih hidup di Prancis. Ia dijebloskan ke penjara Bastille tanpa pernah tahu bahwa ia memiliki keturunan. Setelah bertahun-tahun menjalani hukuman di Bastille, yang menguras kewarasan sang dokter, ia tinggal di rumah mantan pelayannya yang bernama Defarge. Mr. Lorry dan Mlle Manette menjemput sang dokter dari tempat itu, pindah ke Inggris, dimana mereka berusaha memulihkan keadaan fisik dan psikis sang dokter.
Lima tahun kemudian, Dr. Manette dan putrinya terlibat dalam persidangan seorang keturunan Prancis yang bernama Charles Darnay, sebagai saksi. Darnay didakwa sebagai mata-mata Prancis yang menjalankan suatu rencana untuk melumpuhkan Inggris. Di persidangan itu mereka bertemu dengan pengacara yang bernama Mr. Stryver, dan rekannya yang eksentrik, Sydney Carton, yang secara mengherankan memiliki kemiripan fisik dengan Charles Darnay. Darnay akhirnya diputuskan tidak bersalah oleh pengadilan. Beberapa tahun kemudian Darnay menikahi Lucie, dan ketiga orang keturunan Prancis itu, Darnay, Lucie, dan sang dokter, hidup di Inggris dengan cukup bahagia.
Namun suatu hal yang belum diketahui Lucie, bahwa nama asli suaminya bukan Charles Darnay. Darnay sebenarnya adalah salah satu keturunan bangsawan Prancis, keponakan dari Marquis Evrémonde. Ketika Gabelle, pengurus kediaman Evrémonde dipenjarakan, ia menulis surat kepada tuannya, Darnay, minta diselamatkan. Maka Darnay, dengan mengabaikan bahaya yang mengancam dirinya sendiri, pergi ke Prancis. Disana ia ditangkap karena jati dirinya yang seorang bangsawan. Darnay sempat dibebaskan, karena Dr. Manette dan Lucie pergi ke Prancis, dan Dr. Manette memanfaatkan pengaruh yang dimilikinya sehingga menantunya itu bisa bebas. Namun malam harinya Darnay ditangkap lagi, dengan tuduhan yang berasal dari Defarge dan istrinya, serta Dr. Manette! Dalam persidangan, Defarge membacakan sebuah surat yang ditulis Dr. Manette, yang mengungkapkan alasan mengapa ia dijebloskan ke Bastille. Suatu peristiwa buruk yang terjadi di masa lalu mengaitkan Dr. Manette dengan keluarga bangsawan Evrémonde, dimana sekarang seorang keturunan Evrémonde menjadi menantunya. Sementara itu, Darnay akan dieksekusi oleh La Guillotine, si wanita tajam, dalam waktu dua puluh empat jam. Dr. Manette, Lucie, Mr. Lorry, dan Sydney Carton berada di tengah-tengah situasi tak menentu itu. Bagaimanakah badai kehidupan ini akan berakhir?
”Saat itu adalah waktu terbaik, sekaligus waktu terburuk.
Masa kebijaksanaan, sekaligus masa kebodohan.
Zaman iman, sekaligus zaman keraguan.
Musim Terang, sekaligus musim Kegelapan.
Musim semi pengharapan, sekaligus musim dingin keputusasaan.
Kita memiliki semuanya di hadapan kita, sekaligus tidak memiliki semuanya.
Kita semua langsung pergi ke Surga, sekaligus langsung pergi ke jalan lainnya.
Pendeknya, zaman itu begitu persis dengan zaman sekarang.”
Kalimat di atas adalah kalimat pembuka yang terkenal dari Kisah Dua Kota. Novel ini terbagi menjadi 3 buku, Buku I: Kembali ke Kehidupan, Buku II: Benang Emas, dan Buku III: Badai Kehidupan. Kisah Dua Kota adalah terjemahan dari karya fenomenal Charles Dickens, A Tale of Two Cities. Novel klasik dengan plot yang kompleks ini ditulis Dickens dengan menggunakan kontradiksi, mempertentangkan situasi yang terjadi di dua negara pada masa itu, Inggris yang taat hukum dan Prancis yang feodal. Kontradiksi juga bisa ditemukan dalam karakter-karakter di dalam cerita, misalnya Darnay, si bangsawan yang emigran karena menolak feodalisme, berpenampilan necis dan rapi, merupakan ”lawan” dari karakter Sydney Carton, si pengacara slengean yang tidak memiliki fokus dalam hidupnya untuk mencapai apapun. Karakter Miss Pross, pelayan Lucie yang secara fisik tangguh namun sangat setia, bertolak belakang dengan Madame Defarge yang pendendam dan haus darah. Dalam banyak bagian juga Dickens menggunakan simbol-simbol yang kadang sulit dipahami, misalnya di awal cerita pada Buku I: Kembali ke Kehidupan, Mr. Lorry akan menjemput ”seseorang yang telah dikubur hidup-hidup selama delapan belas tahun”. Maksudnya adalah Mr. Lorry akan menjemput Dr. Manette, yang telah menjalani sekian tahun hukuman di Bastille sehingga kehilangan akal sehatnya. Ia sama saja seperti orang yang sudah mati. Kemudian Madame Defarge yang merajut tanpa henti. Ia sebenarnya sedang mendaftar nama-nama mereka yang akan dijatuhi hukuman mati. Kegiatan merajut ini juga menyimbolkan ”serigala berbulu domba”, rakyat kecil Prancis yang kelihatan tidak berbahaya, merajut dalam diam, namun di tangan mereka juga aristokrasi akan tumbang.
Terjemahan A Tale of Two Cities yang diterbitkan Elex Media Komputindo dengan judul ”Kisah Dua Kota” ini sama sekali tidak mengecewakan, baik dalam bentuk fisik maupun substansi buku. Terjemahan yang digarap oleh Peusy Sharmaya menurut saya sangat bagus, jenis kertas dan font yang digunakan sangat nyaman untuk dibaca. Meskipun rasanya lebih nyaman membaca “Mr.”, “Monsieur”, “Mademoiselle” ketimbang “Tuan” dan “Nona”. Dan semoga juga jilidan bukunya awet, mengingat bukunya cukup tebal. Saya tidak menyesal membeli buku ini walaupun harganya relatif mahal
Secara keseluruhan, Kisah Dua Kota layak diganjar 5 bintang. Faktor yang terbesar adalah penulisan Dickens yang brilian. Ia mampu membangun cerita dengan plot yang padat dan kompleks, kadang-kadang sengaja menyimpan beberapa elemen untuk akhir cerita, sehingga pembaca tidak akan berhenti penasaran seperti apakah nanti endingnya. Gaya penulisannya puitis namun dengan aura yang suram dan tragis, sangat khas Dickens. Namun, bagi pembaca yang tidak suka narasi yang panjang-panjang, kemungkinan akan sulit menikmati karya Dickens ini. Ada yang menyebutkan A Tale of Two Cities sebagai karya Dickens yang tidak memiliki karakter yang se-memorable Scrooge di A Christmas Carol, Miss Havisham di Great Expectations, atau Fagin di Oliver Twist. Saya secara pribadi tidak setuju, setelah membaca buku ini sampai akhir dan mengalami “gema” di akhir cerita yang disebabkan tokoh yang bernama Sydney Carton. Bagi saya, A Tale of Two Cities akan selalu menjadi salah satu karya sastra yang akan terus saya kenang.
Resensi Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) ini diposting dalam rangka merayakan HUT ke-200 Charles Dickens yang jatuh tepat pada hari ini, 7 Februari 2012.
Happy Birthday, Charles Dickens!
Senang rasanya bisa menikmati karyamu yang bunyinya masih terdengar bahkan setelah 200 tahun berlalu!
***
Detail buku:
“Kisah Dua Kota” (judul asli: “A Tale of Two Cities”), oleh Charles Dickens
576 halaman, diterbitkan Oktober 2010 oleh Elex Media Komputindo
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Sarah’s Key: Kunci ke Masa Lalu yang Tragis
“Berhati-hatilah. Kau bermain-main dengan kotak Pandora. Terkadang, lebih baik tidak membukanya. Terkadang, lebih baik tidak tahu.”
Julia Jarmond, seorang wartawan perempuan Amerika setengah baya yang tinggal di Prancis, memegang kunci ke masa lalu ketika ia ditugasi meliput pengumpulan besar-besaran orang Yahudi di Vélodrome d’Hiver (Vel’ d’Hiv’), sebuah stadion tertutup di jantung kota Paris, 16 Juli 1942. Pengumpulan ini dilakukan oleh polisi Prancis, dengan sarana dan prasarana milik Prancis, atas perintah pendudukan Nazi.
Di dalam Vel’ d’Hiv’ inilah, 1.129 lelaki, 2.916 perempuan, dan 4.115 anak-anak dijejalkan dalam kondisi tidak manusiawi. Tempat itu panas dan pengap, tidak ada toilet dan tempat tidur, hampir tidak ada makanan dan air. Anak-anak Yahudi ini kemudian dipisahkan dari orangtua mereka, yang dikirim langsung ke Auschwitz untuk menerima kematian dalam kamar gas. Pada pertengahan Agustus, keputusan dari Berlin mengatakan bahwa nasib yang sama menanti anak-anak malang tersebut di Auschwitz.
Dari sekitar empat ribu anak-anak Yahudi yang dikumpulkan di Vel’ d’Hiv’, ada seorang anak perempuan sepuluh tahun bernama Sarah Starzynski. Pada malam terjadinya pengumpulan besar-besaran itu, Sarah telah mengunci adik lelakinya yang baru berumur empat tahun, Michel, di dalam lemari tersembunyi di apartemen keluarganya di rue de Saintonge. Ia bersumpah akan kembali untuk menjemput adiknya, bahkan ketika mereka dipindahkan dari Vel’ d’Hiv’ ke kamp Drancy, jauh dari kota Paris, Sarah meneguhkan hati untuk kabur dari Drancy dan menjemput adik semata wayangnya. Perjalanan dan jerih payah Sarah inilah yang berusaha dikorek oleh Julia sejak ia mengetahui bahwa apartemen tua nenek suaminya ternyata dulunya dihuni oleh keluarga Starzynski. Dari apartemen di rue de Saintonge itulah keluarga Starzynski diciduk oleh polisi Prancis, dan digiring ke Vel’ d’Hiv. Di dalam lemari yang tersembunyi di dalam dinding apartemen itulah, Sarah pernah menyembunyikan adik lelakinya, menguncinya disana dengan harapan bahwa dia akan aman, dan Sarah akan segera menjemputnya dan mereka akan bersama-sama lagi, juga dengan ayah dan ibunya, utuh dan bahagia.
Benang merah antara Sarah dan Julia yang terpaut waktu enam puluh tahun dijalin dalam kisah mendebarkan ini dengan alur bolak-balik masa lalu dan masa kini. Siap-siaplah emosi anda dijungkirbalikkan ketika membaca buku ini, ketika Julia melakukan penyelidikan terhadap nasib Sarah, saat ia menemukan fakta demi fakta, dan bagaimana penyelidikannya itu berdampak sedemikian rupa terhadap keluarga suaminya, keluarga Prancis tua bermarga Tézac, bagaimana hidup mereka semua tidak akan pernah sama lagi sejak kebenaran menyakitkan itu terungkap…
***
Jika dihadapkan dengan dua pilihan, antara mengetahui kebenaran, entah bagaimanapun menyakitkannya, atau menutup mata dan memilih untuk tidak tahu, manakah yang akan anda pilih?
Di satu sisi, kebenaran tetaplah hal yang terbaik. Namun di sisi lain, kadangkala kebenaran terlalu menyakitkan sehingga lebih baik tidak tahu.
Peristiwa 16 Juli 1942 di Vel’ d’Hiv’ di kota Paris adalah salah satu peristiwa terburuk di dalam sejarah Prancis. Menurut buku ini, kebanyakan orang Prancis menutup mata akan bagian sejarah negeri mereka yang satu ini, dan generasi muda Prancis hanya menerima secuil, kalau tidak sama sekali, pengetahuan tentang sejarah peristiwa Vel’ d’Hiv’ di bangku sekolah. Pada tahun 1995 , Presiden Prancis yang baru saja terpilih, Jacques Chirac, memberikan pidato yang secara resmi mengakui keterlibatan Prancis dalam pembunuhan dan deportasi orang-orang Yahudi di Eropa.
Sang penulis, Tatiana de Rosnay, boleh diberi pujian karena keberaniannya menulis fiksi sejarah yang didasarkan pada peristiwa yang dianggap borok memalukan dalam sejarah Prancis, dengan twist masa lalu versus masa kini. Sarah’s Key ditulis dengan cantik, mendetail, sekaligus dekat dan menyentuh. Emosi masing-masing karakter utama dapat sampai kepada pembaca dengan baik. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Lily Endang Joeliani juga tidak buruk. Terlepas dari berbagai kelemahan, misalnya alur bolak-balik masa lalu-masa kini di dalam bab-bab pendek yang bagi saya agak melelahkan, dan ada beberapa hal mengenai cerita kehidupan Julia yang menurut saya tidak penting untuk disampaikan, cerita masih gampang ditebak ujungnya, serta cover yang, kalau boleh saya bilang, terlalu cantik, sama sekali tidak mewakili isi buku; Sarah’s Key adalah sebuah buku yang haunting dan memeras emosi. Empat bintang bagi karya yang didedikasikan penulis sebagai penghormatan bagi anak-anak Vel’ d’Hiv’. Bahwa pada 16 Juli 1942 ada 13 ribu orang Yahudi yang dikumpulkan di tempat itu, 4 ribu diantaranya adalah anak-anak tak bersalah, mereka yang menjerit menangis karena tak mengerti, terkurung mengenaskan di dalam tempat persinggahan sementara menuju kematian.
Sarah’s Key telah difilmkan tahun 2010 dengan aktris nominator Oscar Kristin Scott Thomas sebagai Julia Jarmond.
“Kadangkala aku bertanya-tanya berapa banyak anak, sepertinya, yang mengalami neraka itu dan bertahan hidup, dan sekarang harus terus hidup, tanpa orang-orang yang mereka cintai.
Begitu banyak penderitaan, begitu banyak rasa sakit. Sarah harus menyerahkan semua yang dimilikinya: keluarganya, namanya, agamanya.
Kami tidak pernah membicarakannya, tetapi aku tahu betapa dalam kehampaannya, betapa kejam kehilangan yang dialaminya.”
Zakhor, Al Tichkah.
Ingat. Jangan pernah lupa.
***
Links:
French President Jacques Chirac’s Speech at the Ceremonies to Commemorate “The Great Roundup” of July 16 and 17, 1942
YouTube video: Jacques Chirac – Discours du Vel’d'Hiv’ – 1995
Speech by M. Chirac at the official opening of the new exhibition, French pavilion of the Auschwitz-Birkenau Memorial and Museum, Auschwitz 27.01.2005
Behind the French Ruling on WWII Deportations of Jews (article by Bruce Crumley)
Chirac hailed for citing France’s role in Holocaust (article by Michel di Paz, Jewish Telegraphic Agency)
Detail buku:
“Sarah’s Key”, oleh Tatiana de Rosnay
356 halaman, diterbitkan 15 Agustus 2011 oleh Elex Media Komputindo
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina
Jangan tertipu dengan judulnya.
Tidak, saya tidak tertarik dengan traktor.
Tidak, tentu saja saya tidak bisa bahasa Ukraina.
Lantas mengapa saya membaca buku ini?
Pertama, karena menyadari bahwa buku ini adalah novel dan bukannya buku non fiksi, seperti yang tersirat pada judulnya yang unik (bagi sebuah novel).
Kedua, karena membaca review di Goodreads yang rata-rata menyatakan bahwa buku ini lucu, kadang mengharukan, kadang kelam. Intinya, layak dicoba untuk dibaca.
Ketiga, karena buku ini dijual hanya dengan harga sepuluh ribu rupiah di event Kompas Gramedia Fair di kota saya beberapa bulan yang lalu.
Keempat, karena saya memang punya ketertarikan khusus kepada negara Ukraina (anda akan mengerti nanti setelah selesai membaca review ini).
Jadi……………
Berkenalanlah saya dengan Nikolai Mayevskyj, duda 84 tahun yang tinggal di Inggris dengan dua anak perempuan yang sudah menginjak usia setengah baya dan hampir tak pernah akur, Vera dan Nadezhda. Nikolai baru saja ditinggal mati istrinya, Ludmilla, selama dua tahun ketika sosok Valentina, seorang janda Ukraina berambut pirang dan (maaf) berpayudara besar memasuki bingkai keluarga Mayevskyj.
Nikolai tergila-gila pada Valentina yang berumur 36 tahun itu. Vera dan Nadezhda menganggap ayah mereka sudah gila. Singkat cerita,Valentina dan anaknya, Stanislav, diboyong dari Ukraina ke Inggris. Kemudian pernikahan pun dilangsungkan antara Nikolai dan sang “Venus dari lukisan Botticelli”. Nadezhda awalnya berpikiran positif dengan pernikahan kedua ayahnya ini, dan menganggap bahwa suatu kabar baik bila sang ayah yang telah tua punya seseorang untuk menemani dan merawatnya. Namun ternyata dia sama sekali salah.
Valentina adalah penjajah dan pemeras dengan sejuta akal licik. Dari si tua bangka Nikolai ia berhasil mengeruk sejumlah uang yang tidak sedikit, diantaranya untuk biaya perjalanan Ukraina-Inggris, tujuan kecantikan, dan untuk membeli tidak hanya satu, tapi tiga buah mobil, yang ternyata semuanya bobrok. Dan jangankan bermanis-manis dan perhatian dengan si tua Nikolai, Valentina justru sangat kasar kepada si kakek tua. Dan tebak apa yang Nikolai katakan mengenai hal itu?
“Orang bisa memaafkan wanita cantik atas banyak hal.” #doh!
Wegah ayahnya terus menerus diperlakukan demikian, Vera dan Nadezhda terpaksa melupakan permusuhan lama mereka dan bergabung untuk mendongkel Valentina dari “tahta”. Dan sementara itu, dari ocehan-ocehan ayah mereka yang adalah seorang insinyur eksentrik, sedikit demi sedikit terkuaklah sejarah keluarga mereka, dimulai dari kisah kakek-nenek buyut Vera dan Nadezhda, dan bagaimana sejarah keluarga mereka merupakan satu bagian kecil dari sejarah tanah air mereka, Ukraina, yang awalnya bergelut dalam agrikultura dan industri, kemudian remuk redam dan hancur oleh perang dan penjajahan. Dan tentu saja ada sejarah mengenai perkembangan pembuatan traktor di Ukraina. Nikolai menjelaskan dengan hampir-hampir dramatis bagaimana ia memutuskan untuk berhenti bekerja di industri penerbangan yang pelik dengan konflik dan intrik masa perang, dan memilih berkarya di suatu industri yang lebih “down-to-earth”, memproduksi traktor.
Buku ini menggabungkan drama dysfunctional family saga dengan banyak unsur sejarah, dengan banyak lompatan-lompatan dari masa kini ke masa lalu, antara periode-periode sejarah kelam di Ukraina yang membuat bergidik, dan keadaan masa kini yang kacau balau, abnormal, dan sinting ketika Valentina melakukan “penjajahan” terhadap Nikolai dan harta bendanya, serta bagaimana upaya Vera dan Nadezhda untuk membebaskan ayah mereka dari cengkeraman Valentina.
Sang penulis, Marina Lewycka, menulis novel dewasa pemenang Saga Award for Wit 2005 ini dengan begitu blak-blakan, dengan humor sinis di balik setiap kata, namun tetap enak untuk dinikmati. Sedangkan dari unsur sejarahnya, saya jadi banyak mengetahui hal baru, misalnya bahwa bendera Ukraina yang berwarna biru dan kuning, melambangkan langit biru di atas hamparan ladang jagung yang menguning. Membaca ini mengingatkan saya pada film Everything is Illuminated yang pernah saya tonton (diangkat dari buku berjudul sama karya penulis Jonathan Safran Foer). Di film tersebut ada satu pemandangan yang tidak bisa saya lupakan.
Memang yang berada di bawah langit biru bukan ladang jagung, tapi lebih cantik bukan? Dan ya, tempat ini berada di Ukraina.
Fakta lain yang menyesakkan, bahwa Ukraina sebenarnya adalah negara yang kuat dengan agrikulturnya, namun pengembangan potensi agrikultura dengan mekanisasi dilakukan dengan cara yang sangat mengerikan oleh Stalin. Ia memaksakan pertanian kolektif, sementara petani yang memilih tetap mempertahankan lahannya sendiri mendapat ganjaran yang kejam. Hasil produksi pertanian diserobot oleh pasukan Stalin, kemudian dikirim ke pabrik-pabrik untuk memberi makan kaum proletar, sementara di desa-desa Ukraina orang-orang menderita kelaparan. Hasilnya, sekitar tujuh hingga sepuluh juta manusia mati di seantero Ukraina selama musim kelaparan buatan manusia pada tahun 1932-1933.
Ironis!
Yah, begitulah sekelumit kesan yang saya dapatkan melalui membaca buku ini. Buku ini menghibur sekaligus memberi banyak tambahan pengetahuan terutama tentang sejarah. Dan kabar baiknya lagi, buku ini bukan termasuk buku berat yang membuat kening berkerut. Karena si tua Nikolai akan membuat anda tertawa, geleng-geleng kepala, dan mungkin bahkan terkesima dengan kejeniusannya yang eksentrik. Apakah saya sempat menyebutkan bahwa Nikolai menulis buku? Ya, ia menulis kalimat berikut sebagai penutup mahakaryanya:
“Tetapi bisa ditambahkan, lebih lanjut, bahwa ketidakstabilan dan kemelaratan yang menyebar ke seluruh dunia juga menjadi faktor di balik timbulnya Fasisme di Jerman dan Komunisme di Rusia, sementara benturan kedua ideologi itu nyaris mengantar bangsa manusia ke kehancurannya.
Maka aku meninggalkan Anda dengan pikiran ini, pembaca yang budiman. Gunakan teknologi yang dikembangkan insinyur, tetapi gunakan dengan semangat rendah hati dan selalu mempertanyakan. Jangan pernah membiarkan teknologi menjadi penguasamu, dan jangan manfatkan demi menguasai orang lain.”
Apa judul buku yang ditulis oleh Nikolai? Tentu saja, “Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina”.
***
In loving memory of my father, 1941-2011
He attended school for 6 years in Marine Engineering Institute in Odessa, Ukraine (was Soviet Union at that time)
***
Detail buku:
“Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina” (judul asli: “A Short History of Tractors in Ukrainian”, oleh Marina Lewycka
416 halaman, diterbitkan Februari 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] The Heretic’s Daughter: Ibuku Bukan Penyihir!
Tahun 1692 menandai salah satu episode terburuk dalam sejarah Amerika: insiden yang dikenal dengan istilah pengadilan penyihir Salem, terjadi di Massachusetts, Amerika Serikat. Insiden ini mengakibatkan ratusan lelaki, perempuan, dan anak-anak dituduh sebagai penyihir dan dipenjarakan, dan 20 orang dari mereka dihukum mati, sebagian besar dengan cara digantung. Yang paling buruk adalah, para tertuduh dipaksa mengakui bahwa mereka memang melakukan praktik-praktik sihir. Inilah salah satu masa dimana keadilan adalah: apa yang diinginkan hakim, itulah yang harus dijawab oleh para tertuduh.
Dua tahun sebelum tahun nahas itu, Sarah Carrier yang baru berusia sembilan tahun beserta seluruh keluarganya pindah dari Billerica ke Andover, New England, untuk menghindari wabah cacar. Ayah dan ibu Sarah bernama Thomas dan Martha Carrier, ketiga kakak lelakinya adalah Richard, Andrew, dan Tom, serta adik perempuannya yang masih balita bernama Hannah. Cacar memang akhirnya menyerang keluarga Sarah, namun semuanya berhasil bertahan hidup.
Penyakit cacar inilah, yang juga menyebabkan keluarga Carrier dicurigai sebagai pihak yang bertanggung jawab atas menyebarnya penyakit itu. Bisik-bisik tetangga dan tatapan-tatapan tak senang mulai ditujukan kepada Martha Carrier, yang kemudian berkembang menjadi tuduhan serius bahwa Martha adalah seorang penyihir. Pada tanggal 31 Mei ia ditangkap dan dimasukkan ke penjara di Desa Salem.
Sebelum ia ditangkap, Martha memberi mandat kepada Sarah, anak perempuan tertuanya, untuk memberi kesaksian memberatkan terhadap dirinya. Ia ingin Sarah mengatakan kepada hakim bahwa ibunya memang seorang penyihir. Ia juga menginginkan kakak-kakak Sarah melakukan hal yang sama. Selain itu, ia mengubur sebuah buku bersampul merah yang berisi riwayat masa lalu ayah Sarah, dan mengatakan pada Sarah bahwa ia baru boleh membacanya setelah cukup umur. Pada saat itulah Sarah yakin bahwa ibunya yang tegas, dingin dan kaku, ternyata sangat mencintai dirinya dan kakak-kakaknya. Ibunya, yang berpegang teguh kepada kebenaran, sampai akhir tak akan mengakui bahwa dirinya penyihir, dan di saat yang sama memerintahkan anak-anaknya untuk menyampaikan hal yang sebaliknya, agar mereka lolos dari hukuman. Nasib orang-orang yang dituduh sebagai penyihir itu seperti burung-burung gagak yang ditancapkan hidup-hidup pada ujung tongkat tajam di ladang, yang menurut Thomas Carrier adalah cara orang Inggris untuk membuat orang-orangan sawah.
“Tak ada kebaikan yang muncul tanpa perjuangan dan pengorbanan, baik dia laki-laki atau perempuan. Hanya dengan cara itulah kita bebas dari tirani.”

"Examination of a witch" (1853), a painting by T.H. Matteson inspired by the Salem trials
Namun, seperti yang terjadi pada keluarga-keluarga lain yang salah satu anggotanya dituduh sebagai penyihir, anak-anak Martha pun ditangkap dan dimasukkan ke dalam sel. Mula-mula Richard dan Andrew yang ditangkap, kemudian baru Tom dan Sarah. Di dalam sel yang seharusnya hanya diisi tujuh orang, namun nyatanya diisi lima belas orang, mereka menjalani hidup yang sama sekali tak layak; kelaparan, penuh penyakit, kotor, dan dingin. Di dalam sel inilah Sarah, ibunya, kakak-kakaknya, dan beberapa tahanan yang lain saling membantu dan menguatkan, berbagi penderitaan. Di dalam sel pula Sarah dan saudara-saudaranya menyaksikan ibu mereka dibawa pergi untuk dihukum gantung. Kata-kata terakhirnya kepada Sarah adalah,
“Tidak ada kematian bagi kenangan. Kenanglah aku, Sarah. Kenanglah aku, dan sebagian diriku akan selalu bersamamu.”
Pada tanggal 6 Oktober, Sarah dan kakak-kakaknya dibebaskan dari penjara. Mereka menjalani hidup yang lama sesudah peristiwa itu bersama dengan ayah mereka tercinta. Masing-masing kemudian menikah dan memberi banyak cucu bagi ayah mereka. Biarpun pengalaman buruk di Salem dan kenangan akan ibu yang direnggut dari mereka kadang masih menghantui, kehidupan terus berlanjut…
###
Buku yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan apik oleh Leinovar Bahfein ini secara brilian mencatat bagian sejarah kelam yang terjadi di Desa Salem tahun 1692. Berawal dari kelakuan aneh beberapa gadis yang mengaku bahwa mereka telah disihir, yang ditanggapi secara salah dan fatal oleh kaum Puritan (aliran Protestan ekstrem yang berkembang dalam gereja di Inggris mulai abad ke-16, dan mempunyai misi memurnikan/”purify” gereja dari segala pengaruh Katolik), ditambah dengan pengadilan yang berat sebelah dan irasional, menghasilkan tragedi kemanusiaan yang menelan banyak jiwa tak bersalah. Ironisnya, dengan membeludaknya orang-orang yang dimasukkan dalam penjara, histeria terhadap penyihir mereda dan para tahanan kemudian dibebaskan. Mereka yang memberi kesaksian memberatkan terhadap para tertuduh mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf. Bertahun-tahun kemudian, keturunan dari para tertuduh memperoleh kompensasi atas kehilangan yang telah mereka derita.
The Heretic’s Daughter, karya debut Kathleen Kent, ditulis setelah melakukan penelitian selama 5 tahun mengenai pengadilan penyihir Salem. Buku ini memberi kita kisah mengenai sejarah, keluarga, dan kekuatan yang disimpan para korban yang dituduh sebagai penyihir. Walau di separuh bagian pertama saya sempat bosan membacanya, di paruh kedua konflik menjadi lebih intens karena akhirnya muncul tuduhan serius terhadap Martha Carrier. Beberapa bagian membuat saya terharu dan sedih, misalnya ketika Andrew jatuh sakit di penjara, kemudian saat Martha pergi untuk menghadapi hukuman gantung, dan saat Thomas menjemput anak-anaknya dari penjara. Seperti endorsement New York Times Book Review di belakang buku yang berbunyi: “pada intinya, ini kisah keluarga.”
“Aku maju selangkah. Dan selangkah lagi. Begitu seterusnya saat kami mengikuti Ayah, yang datang untuk membawa kami pergi dari Salem selamanya. Dengan setiap langkah aku teringat keberanian Ibu saat menghadapi hakim. Dengan setiap langkah aku mengingat keteguhannya kepada kebenaran meski ia harus tersungkur dalam lingkaran tambang. Dengan setiap langkah aku mengingat harga dirinya, kekuatannya, cintanya.
Dan dengan setiap langkah aku ingat, aku adalah putri ibuku.
Aku adalah putri ibuku….”
Detail buku:
“The Heretic’s Daughter” oleh Kathleen Kent
282 halaman, diterbitkan Mei 2011 oleh Penerbit Matahati
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥



























