Blog Archives

[Review] Pope Joan, Sang Paus Perempuan

Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?

Quis — siapa?

Namanya Joan. Dilahirkan tahun 814 Masehi di Ingelheim (sekarang di wilayah Jerman). Putri satu-satunya seorang kanon (semacam pendeta atau imam) dari Inggris dan istrinya yang orang Saxon. Punya dua kakak laki-laki, Matthew dan John. Dari kecil sudah menampakkan kecerdasan dan keingintahuan yang luar biasa. Joan menderita siksaan fisik dari ayahnya gara-gara hal itu, tapi toh ia tidak mau berhenti belajar.

Quid — apa?

Perjuangan Joan, yang dengan karunia kecerdasan yang dimilikinya, menolak kenyataan yang terjadi pada masa itu bahwa perempuan tidak diperbolehkan untuk membaca dan menulis, apalagi belajar dan menguasai berbagai ilmu sebagaimana kaum laki-laki. Ditengah-tengah busuknya politik Kepausan Katolik Roma, ancaman Kaisar Lothar dari kerajaan Frank, ancaman wabah yang merajalela, dan juga serangan bangsa Viking, Joan menapaki langkah demi langkah menuju tahta tertinggi dalam Katolik Roma – Paus.

Quomondo – bagaimana?

Di satu titik Joan membuat suatu keputusan besar yang mengubah seluruh hidupnya – ia menyamar sebagai seorang laki-laki, sehingga ia bisa mempelajari banyak hal – sesuatu yang mustahil dilakukan seorang perempuan pada abad kesembilan. Keteguhannya untuk terus menjalani hidup sebagai laki-laki hampir tergoyahkan ketika ia jatuh cinta pada Gerold, seorang count yang menjadi ayah angkatnya di Dorstadt. Namun toh Joan tetap teguh melakukan apa yang menjadi hasratnya sampai nafasnya yang terakhir.

Ubi – Di mana?

Mengawali dengan bersekolah di Dorstadt oleh rujukan dari guru pertamanya, Aesculapius, seorang Yunani. Setelah lolos dari serangan brutal bangsa Viking di Dorstadt, Joan melarikan diri ke pertapaan di Fulda di mana ia menyamar sebagai laki-laki untuk pertama kalinya. Kemudian, setelah menghabiskan bertahun-tahun di Fulda, sebuah wabah demam nyaris membongkar penyamarannya sehingga ia kabur, dan akhirnya pergi ke Roma, menjadi tabib pribadi Paus Sergius, dan pada waktunya—ia sendiri yang diangkat menjadi Paus.

Quando – kapan?

Keseluruhan kisah berlangsung pada tahun 814 hingga 855 Masehi, yang termasuk dalam era Abad Kegelapan. Joan memerintah sebagai Paus pada tahun 853 hingga 855. Setelah Joan meninggal, Katolik Roma dibawah tulisan Anastasius menghapuskannya dari Liber pontificalis, yaitu kronik resmi seluruh Paus yang pernah ada. Empat puluh tahun setelah kematiannya, Uskup Agung Arnaldo menyalin Liber pontificalis dan menambahkan bab mengenai Joan ke dalamnya, sehingga kebenaran tidak sepenuhnya hilang.

Cur – mengapa?

Mengapa Joan sampai memilih meninggalkan identitas keperempuanannya? Karena ia punya impian, dan hasratnya terhadap impian tersebut demikian besarnya sehingga pengorbanan demi pengorbanan yang ia lakukan dirasanya setimpal. Mengapa lalu ia bisa sampai di tahta tertinggi Katolik Roma? Karena Joan mampu. Karena perempuan mampu, karena perempuan bukanlah makhluk yang bodoh dan lemah. Karena perempuan sejajar dengan laki-laki.

***

Pope Joan adalah sebuah novel yang lengkap. Sejarah, politik, perjuangan perempuan, agama, perang, cinta, pengorbanan, kemunafikan, kebrutalan manusia; semua terkandung di dalamnya. Sang pengarang, Donna Woolfolk Cross, menghimpun kisah ini dengan apik, tokoh-tokohnya terasa nyata dan emosinya dapet. Apalagi dengan alur cepat yang tidak membuat bosan. Walau di beberapa bagian emang sadis sih, terutama pas serangan bangsa Viking itu. Pope Joan versi film (2009) kurang mengesankan walaupun dari segi cast secara fisik sudah pas, setting juga bagus, tapi emosinya kurang terasa.

Salut untuk pengarang yang menyelesaikan penulisan Pope Joan setelah melakukan riset selama tujuh tahun. Salut juga untuk F.X. Dono Sunardi sang penerjemah, karena menerjemahkan karya ini sudah pasti bukan pekerjaan gampang. Puasss banget melahap lebih dari 700 halaman novel ini, karena wawasan bertambah banyak, terutama tentang sejarah, seluk-beluk kepausan di Katolik Roma, dan beberapa kalimat dalam bahasa Latin… Juga bagian Catatan dari Pengarang sungguh-sungguh membantu dalam memahami kisah.

Saran saya bagi penerbit yang hendak menerbitkan novel serupa: akan lebih nyaman kalau ada glossary di bagian belakang buku, terutama sih tentang berbagai istilah dan jabatan keagamaan yang tidak familiar bagi saya sehingga membuat saya jadi cukup bingung. Kalau sebatas catatan kaki, kan, kalau ketemu lagi dengan kata “X’, saya sudah lupa catatan kakinya ada di halaman berapa, hehehe.

Jadi, apakah Paus Joan pernah ada? Setelah membaca buku ini rasanya saya percaya kalau beliau benar-benar pernah ada. Bagaimanapun, kisahnya menginspirasi para perempuan (dan juga laki-laki) untuk tidak menyerah dan berani berkorban dalam berusaha mencapai impian.
Go for it, no matter what it takes! Empat bintang bagi kisah perempuan hebat yang nyaris terlupakan ini.

Beberapa kutipan favorit:

“Jika ingin dapat bertahan di dunia ini, kau harus bersikap lebih sabar dengan mereka yang ada di atasmu.” – hal. 179

“Sungguh aneh apa yang terjadi pada hati manusia. Orang dapat saja terus hidup selama bertahun-tahun, terbiasa kehilangan, serta berdamai dengannya, tetapi kemudian, dalam sekejap saja, rasa sakit itu muncul kembali bersama rasa pedih dan perih seperti luka yang masih baru.” – hal. 495

“Kita akan tetap berdoa seakan-akan semuanya bergantung kepada Tuhan dan terus bekerja seolah-olah segalanya tergantung pada diri kita sendiri.” – hal. 573

“Terangnya harapan yang dipantikkan oleh para perempuan tersebut hanya serupa kelap-kelip cahaya kecil di samudra kegelapan, tetapi nyalanya tidak pernah sepenuhnya padam. Kesempatan selalu ada dan tersedia bagi kaum perempuan yang cukup kuat untuk bermimpi. Pope Joan adalah kisah dari salah satu pemimpi itu.” – hal. 732.

Catatan:Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?” tidak lain adalah 5W+1H (Who, what, when, where, why, how) yang konsep awalnya dirumuskan oleh filsuf Romawi Marcus Tullius Cicero (106-43 SM).

Links:

Pope Joan on Wikipedia
Pope Joan the Novel Official Site
Resensi Pope Joan di Kompasiana oleh Kornelius Ginting

Detail buku:
“Pope Joan”, oleh Donna Woolfolk Cross
736 halaman, diterbitkan Januari 2007 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Belajar Hidup Tanpa Batas bersama Nick Vujicic

Entah kebetulan atau tidak, posting resensi pertama di tahun 2012 ini adalah buku non fiksi, sama seperti resensi pertama di tahun 2011 lalu. Padahal saya boleh dibilang sangat jarang membaca non fiksi. Bisa jadi tradisi ini akan saya teruskan di awal tahun depan dan seterusnya :)

***

Ada saat-saat ketika kehidupan terasa sangat sulit dan penuh masalah. Kita menjadi sedih, marah, pahit, negatif, kehilangan gairah hidup. Seakan kitalah orang paling sengsara di dunia, dan waktu yang ada hanya dimanfaatkan untuk duduk menunggu dunia runtuh.

Ada banyak orang yang hidupnya tidak bahagia karena mereka masih merasa “kekurangan”. Kurang kaya, kurang ganteng atau cantik, kurang langsing, kurang modis, kurang pandai, dan masih banyak kurang-kurang lainnya. Sebenarnya kunci untuk menjadi bahagia hanya satu: pilihan anda. Mungkin banyak hal yang tidak enak sedang terjadi dalam hidup anda saat ini. Tidak ada manusia yang dapat mengendalikan hal itu. Namun kita bisa mengendalikan bagaimana sikap kita ketika menghadapi masalah. Kita punya pilihan!

Demikian pula dengan Nicholas James Vujicic, yang akrab disapa Nick. Pemuda 29 tahun keturunan Serbia yang lahir dan dibesarkan di Australia ini terlahir ke dunia dengan Tetra-amelia syndrome, suatu kelainan langka yang menyebabkan ketiadaan lengan dan tungkai. Tidak dapat disangkal bahwa Nick menjalani kehidupan yang ekstra sulit. Akan tetapi, setelah melalui perjalanan panjang penemuan diri dan tujuan hidup, dan berbagai pengalaman yang mengerikan, Nick menyadari bahwa ia mempunyai pilihan. Alih-alih menyerah terhadap keadaan, Nick justru memilih untuk memanfaatkan kekurangannya sebagai suatu kelebihan. Nick menyadari bahwa Tuhan memberinya karunia untuk berbicara, memotivasi, dan menghibur orang lain, dan dengan karunia itu ia dapat memberi sesuatu yang spesial kepada dunia. Pilihan yang dibuat Nick telah membawanya menjadi seorang penginjil dan pembicara motivasi kelas internasional yang telah melakukan perjalanan keliling dunia untuk berbicara di depan ribuan hingga jutaan orang. Nick juga adalah seorang sarjana akuntansi dan perencanaan keuangan yang kini memiliki beberapa perusahaan termasuk organisasi nirlaba Life Without Limbs, dan bintang film pendek pemenang penghargaan Doorpost Film Project 2009 yang berjudul The Butterfly Circus.


“Orang kerap bertanya bagaimana aku bisa bahagia walaupun tidak punya lengan dan tungkai. Jawaban cepatku adalah aku punya pilihan. Aku bisa merasa marah karena tidak punya tungkai, atau aku bisa bersyukur karena punya tujuan. Aku memilih sikap bersyukur. Kau juga bisa melakukannya.”

– Nick Vujicic

Pengalaman mengatasi tantangan baik secara fisik maupun mental yang dialami Nick karena kondisi tubuhnya, dituangkan  dalam buku berjudul asli Life Without Limits: Inspiration for A Ridiculously Good Life, pertama kali diterbitkan oleh Random House tahun 2010. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia. Buku yang berisi 12 bab ini adalah gabungan memoar sekaligus merupakan non fiksi pengembangan diri/inspirasional.

Melalui halaman-halaman bukunya, pemuda tak berlengan dan bertungkai ini akan menuntun anda untuk menerima dan mencintai diri sendiri sebagaimana adanya, menemukan tujuan hidup, menyalakan iman dan harapan, berani menghadapi tantangan, bertahan dalam cobaan, bangkit dari kegagalan, dan akhirnya mendobrak segala batasan, mencintai kehidupan sepenuhnya dan mendorong anda untuk memberi dan menjadi berkat bagi orang lain.

Buku ini juga merekam banyak pengalaman Nick di berbagai kesempatan. Beberapa sangat menyentuh, beberapa lainnya sungguh konyol dan gila. Nick ingin pembaca buku ini tahu bahwa ia juga manusia biasa, yang sangat menikmati dan mencintai hidupnya. Ia suka melakukan berbagai hal yang bisa membantu meringankan beban orang lain, namun ia juga suka melakukan hal-hal yang murni untuk kesenangan pribadi. Ia menjalani hidup layaknya orang normal! Nick berenang, bermain basket, bermain musik, main skateboard, melakukan perencanaan bisnis, berkeliling dunia untuk berbicara di depan orang banyak, bertemu dengan berbagai tokoh penting dunia. Ia menjalani kehidupan dengan segala rasa syukur dan kebahagiaan. Ia menjalani kehidupan yang tanpa batas, meskipun secara fisik ia terbatas. Kalau orang tanpa lengan dan tungkai ini saja mampu hidup seperti itu, mengapa tidak demikian dengan anda?


“Kehidupanku adalah sebuah kesaksian tentang kenyataan bahwa kita tidak memiliki batasan kecuali batasan yang kita buat sendiri. Hidup tanpa batas berarti mengetahui bahwa kau selalu memiliki sesuatu untuk diberikan, sesuatu yang mungkin bisa meringankan beban orang lain.” –
hal. 242

Tak hanya dirinya sendiri, di dalam buku ini Nick menyebutkan beberapa nama yang telah membuktikan bahwa mereka mampu mendobrak tembok-tembok yang membatasi diri mereka dan memberikan kontribusi bagi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Ada Bethany Hamilton, peselancar kelas dunia yang kehilangan tangan kirinya karena diserang seekor hiu saat ia baru berusia 13 tahun. Bethany kembali berselancar setelah kecelakaan itu, walau ia hanya mempunyai sebelah lengan. Christy Brown, seorang laki-laki (ya, Christy Brown adalah seorang pria) Irlandia yang terlahir lumpuh, dari semua bagian tubuhnya hanya kaki kirinya saja yang bisa digerakkan. Christy menjadi seorang penulis, penyair, dan pelukis yang dihormati dan kisah hidupnya diangkat menjadi sebuah film pemenang penghargaan Academy Award. Kemudian ada Reggie Dabbs, yang lahir sebagai anak haram dari seorang pekerja seks dan nyaris saja diaborsi. Hari ini, seperti Nick, Reggie adalah seorang public speaker dan motivator yang dibayar untuk menumbuhkan harapan kepada orang-orang. Joni Eareckson Tada, penderita quadriplegia sekaligus musisi dan penulis buku inspiratif. Joni memiliki organisasi nirlaba yang telah membagikan lebih dari 60.000 kursi roda kepada para difabel di 102 negara. Dan beberapa nama lain yang memberikan kontribusi bagi sesama dengan cara masing-masing.

Buku yang ditulis dengan bantuan Wes Smith ini secara keseluruhan bagus dan sangat inspiratif. Penuturannya sederhana namun mengena, menarik dan jauh dari menjemukan. Banyak kutipan bagus yang bisa ditemukan di dalamnya. Kelemahannya mungkin terletak pada beberapa kalimat yang diulang (mungkin tidak persis sama, namun serupa) dalam bab-bab selanjutnya. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh P. Herdian Cahaya Khrisna sangat bagus, namun  sayang kenikmatan membaca masih terganggu dengan typo yang bertaburan di sana-sini. Dan perlu diketahui juga, meskipun buku yang di Indonesia telah memasuki cetakan keempat ini ditulis dengan nafas Kristiani, namun menurut saya masih sangat bisa dinikmati oleh pembaca non-Kristiani. Jadi, bacalah buku ini dan mulailah menjalani kehidupan tanpa batas seperti Nick!

Nick & his soon-to-be-wife Kanae

Berita gembira: Nick dan tunangannya, Kanae Miyahara, akan melangsungkan pernikahan bulan Februari 2012 ini. Congratulations, Nick & Kanae!

***

Lebih lanjut tentang Nick Vujicic:
NickVujicic.com / LifeWithoutLimbs.org / AttitudeIsAltitude.com
Lihat juga video-video Nick yang telah ditonton jutaan kali di YouTube.com

Detail buku:
“Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia” (judul asli: “Life Without Limits: Inspiration for A Ridiculously Good Life”), oleh Nick Vujicic
259 halaman, diterbitkan Mei 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Letters to Sam: Kumpulan Surat Cinta Kakek kepada Cucunya

Tak ada gunanya hidup jika anda tak menyadari sepenuhnya bahwa anda adalah seorang manusia yang manusiawi — yang penuh dengan kelemahan.

Namun bahkan di dalam kelemahan, manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk menguatkan sesamanya. Yang menjadi masalah bukanlah bagaimana menghilangkan kelemahan itu, namun bagaimana mentransformasi kelemahan menjadi suatu bentuk kekuatan, yang bisa menolong diri sendiri dan bahkan orang lain. Dan langkah pertama yang perlu dilakukan supaya hal ini terjadi, adalah mengubah cara berpikir kita terhadap diri sendiri dan terhadap kehidupan.


Letters to Sam
merupakan 217 halaman surat cinta dari seorang manusia lemah kepada manusia lemah lainnya, yakni seorang kakek yang menderita kelumpuhan kepada cucunya yang mengidap autisme. Sang kakek, yang adalah seorang psikolog dan terapis keluarga yang telah menangani ratusan pasien sepanjang hidupnya, menuturkan berbagai nasihat, pandangan, pengalaman, dan filosofi bagi Sam, cucu tercintanya, dengan harapan bahwa suatu hari nanti Sam akan mampu membaca surat-surat ini dan memahami apa yang disampaikan kakeknya padanya.

Buku ini terbagi menjadi enam bagian. Di bagian pertama sang kakek menulis surat untuk menyambut hadirnya cucunya di dunia ini. Pada bagian-bagian selanjutnya, ia akan bercerita banyak hal mengenai keluarga, hubungan, tubuh, pikiran, dan jiwa, masa depan dan harapan, mengenai tempatmu di dunia, dan ditutup dengan salam perpisahan. Bagi saya, buku ini membuka jalan untuk perenungan pribadi, apa artinya menjadi manusia; sebanyak apa cinta yang telah saya berikan bagi orang lain sepanjang hidup saya.

Namun demikian, berbagai nasihat, pandangan, dan filosofi yang terkandung dalam buku ini, bagaimanapun baik kedengarannya, tidaklah untuk ditelan mentah-mentah. Kita perlu ingat bahwa buku ini adalah kumpulan surat-surat yang ditulis oleh seseorang yang memiliki keterbatasan, kepada seorang lain yang juga memiliki keterbatasan, sehingga notabene hidup mereka berbeda dengan hidup yang dijalani kebanyakan orang. Hal ini saya jumpai dalam surat yang berjudul “Berikan kesempatan untuk berbuat baik”. Dalam surat ini sang kakek menunjukkan bahwa kebaikan manusia seringkali muncul ketika mereka melihat kerapuhan dan kelemahan dalam diri sesamanya. Hal ini tentu saja benar. Namun mari kita cermati penggalan di bawah ini,


“Terkadang, keadaan memaksa kita untuk berpura-pura kuat dan berani, padahal sebenarnya kita merasakan sebaliknya. Tapi itu jarang sekali. Pada umumnya, akan lebih baik kalau kita tak usah berpura-pura berani padahal merasa takut. Aku percaya, dunia akan menjadi tempat yang lebih aman kalau setiap orang yang merasa lemah menggunakan flasher dan berkata, ‘Aku punya masalah. Aku lemah dan sedang berusaha semaksimal mungkin’.”
(hal. 58)

Saya setuju dan tidak setuju terhadap penggalan di atas. Di satu sisi, pada dasarnya bersikap apa adanya — berlaku A ketika kita merasakan A dan berkata B ketika kita merasakan B, adalah sesuatu yang baik. Namun kalimat terakhir berpotensi menimbulkan dampak yang negatif bagi beberapa orang, yang mungkin, suka ‘obral kelemahan’. Pandangan ini seakan-akan mengesahkan bahwa oke-oke saja jika anda berkata kepada orang lain, “I’m weak” dalam banyak kesempatan. Pada akhirnya, orang yang terus menerus berkata kepada dirinya dan orang lain bahwa saya lemah, akan terus menuntut untuk menerima bantuan, dan tidak akan mampu berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Ini suatu hal yang buruk, jika yang mengalaminya seseorang yang tidak memiliki keterbatasan sebagaimana Dr Gottlieb atau Sam.

Kemudian kalimat ini :

“Hanya dengan menerima, hanya dengan berhenti melawan, aku menemukan kedamaian.” (hal 76)

Entah karena sudah natur saya bahwa saya seorang fighter yang terus memperjuangkan berbagai hal dalam hidup, saya tidak setuju dengan ungkapan ini. Selama masih ada harapan, saya tidak mau berhenti berjuang, meskipun itu berarti melawan banyak hal atau banyak orang. Namun jika perjuangan itu buntu dan tidak membuahkan hasil, itu bisa berarti memang sudah saatnya berhenti melawan.

Di dalam buku ini juga Daniel Gottlieb memasukkan berbagai kebijaksanaan dari beberapa keyakinan yang berbeda-beda, mulai dari Yahudi, Kristen, sufi, sampai Buddha. Saya pribadi kurang suka jika seseorang membawa berbagai elemen keyakinan dalam dirinya. Kalau sekedar mempelajari, okelah, namun jika anda hidup ditengah-tengah bermacam-macam filosofi dan lebih parah lagi, mengajarkannya kepada orang lain, maka siapakah sebenarnya anda? Jika anda seorang Kristen, jadilah sepenuhnya Kristen, jika anda muslim, jadilah sepenuhnya muslim, jika anda penganut Buddha, jadilah sepenuhnya orang Buddha. Tentu saja dengan tidak mengabaikan cinta kepada sesama manusia, tanpa pandang bulu. Tetapkan apakah anda panas atau dingin, jangan mengambil tempat di tengah-tengahnya karena ini sangat berbahaya!

Terlepas dari hal-hal diatas, buku ini menyimpan banyak nilai-nilai berharga yang dapat dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan:

1. Cinta mengubah segalanya. Memberikan cinta jauh lebih penting daripada menerimanya.

2. Seorang yang punya keterbatasan seperti seorang tunadaksa pun mampu memberi, mampu melakukan sesuatu yang berharga bagi orang lain.

3. Labelling atau pengelompokan terhadap manusia sangatlah berbahaya. Kita tidak pernah tahu dampak psikologis sebuah label bagi seseorang yang kita panggil “si cacat”, “si bodoh”, “si autis”, dan sebagainya. Yang perlu kita lakukan adalah menerima seorang manusia sebagaimana adanya, karena apapun yang terjadi dengan tubuh atau pikirannya, jiwanya tetap utuh.

4. Tubuh kita mempunyai sistem yang mampu menyembuhkan luka fisik dengan sendirinya. Demikian juga luka emosional, semua yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka tersebut sebenarnya sudah ada dalam diri kita. Tidak perlu menuntut supaya luka itu sembuh dengan cepat, karena sudah pasti diperlukan waktu dalam proses penyembuhan. Dan diperlukan keyakinan bahwa kelak rasa sakit itu akan pergi. Seseorang yang sakit lebih membutuhkan seseorang yang bersedia duduk bersamanya, hanya menemaninya dan mendengarkannya, tanpa melontarkan berbagai nasihat atau saran terkait penyakitnya.

5. Kadang-kadang seorang manusia dapat mencapai suatu titik penting dalam hidupnya — justru ketika ia sendirian, tidak punya siapa-siapa.

“Masa itu menjadi sebagian dari tahun-tahun terpenting dalam hidupku. Aku tinggal sendirian. Aku tak punya teman. Namun, aku berhasil meningkatkan keahlian akademisku. Aku sendiri terkejut dengan daya tahan yang kumiliki. Aku juga mendapati diriku mampu bertoleransi dengan kesunyian. Perjalananku yang sesungguhnya dimulai di sana — dalam kesunyian.” (hal 121)

Saya mengenal seseorang yang boleh dibilang hampir tak punya teman. Ia lebih memilih kesendirian daripada hangout dan membiarkan diri dikelilingi banyak teman. Awalnya saya berseru padanya, “Bagaimana mungkin kamu hidup seperti itu?”
Namun sekarang, semakin lama saya mengenal dia, saya jadi mengerti bahwa mungkin keadaan seperti itu yang paling baik baginya, dan bahwa dalam kesendirian ia bergaul erat dengan Tuhan, dan hasilnya Tuhan mengaruniakan dia kebijaksanaan yang jauh melampaui usia fisiknya.

6. Seorang anak membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan dia. Ketika seorang anak menjadi korban bullying, misalnya (diterjemahkan menjadi ‘penggencetan’), hal yang lebih dihargai oleh seorang anak adalah jika orang tuanya mau mendengarkan dan bertindak dengan kepala dingin, sehingga akhirnya tindakan tersebut tidak berakibat buruk kepada si anak, daripada langsung mengkonfrontasi si pelaku bullying atau pihak sekolah.

7. Saat orangtua tak berhenti mengkhawatirkan anaknya, sebenarnya si anak juga khawatir tentang orangtuanya. Terkadang cara terbaik bagi orangtua untuk menjaga anak-anak adalah dengan menjaga diri mereka sendiri (hal 141).

8. Kebahagiaan bukan terletak pada uang, kesuksesan, atau pencapaian-pencapaian lainnya. Seringkali orangtua tidak memahami hal ini dan secara tidak sadar menuntut anaknya untuk meraih pencapaian-pencapaian sampai tingkat tertentu. Ketika hal itu tidak tercapai, anak akan merasa tidak aman dan tidak cukup dicintai oleh orangtuanya. Ketika hal itu tercapai, apa sesungguhnya yang dirasakan oleh jiwa anak tersebut?

“Rasa aman yang sebenarnya hanya datang saat kita merasa nyaman dengan diri kita yang sesungguhnya (dan perasaan ini akan meningkat ketika kita memiliki sebuah hubungan yang ada rasa saling mencintai dan memahami). Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah efek samping dari kehidupan yang kita jalani dengan baik.”

“‘Tugas anda sekarang,’ kataku kepada para orangtua, ‘adalah menikmati keuntungan, menoleransi kegagalan mereka, memiliki keyakinan atas daya tahan mereka, dan jangan pernah memberikan nasihat jika tidak diminta.’ (Ketika aku mengatakan ini, aku mendapatkan tepuk tangan bergemuruh dari anak-anak mereka.)” (hal. 156)

9. Kita harus mengalami kematian supaya kita lebih menghargai hidup yang kita miliki.

“Kematian bukanlah musuh. Mengetahui bahwa hidupmu telah mencapai titik akhir akan membantumu menghargai setiap momen yang kau lalui dalam hidup. Kematian membuatmu memahami hadiah berharga yang diberikan kehidupan itu sendiri.” (hal 187)

10. Just live your life as it is.

“Banyak dari kita menderita karena mencoba menjalani kehidupan yang pernah kita miliki atau kehidupan yang kita dambakan. Kau mengingatkanku hari itu bahwa hidup terasa sangat manis ketika kita menjalani kehidupan yang kita miliki.” (hal 202)

Dan saya sangat suka dengan puisi Jalaluddin Rumi berjudul Guest House yang diselipkan oleh Gottlieb di akhir buku.

“Be grateful for whoever comes, because each has been sent as a guide from beyond.”

Tiga bintang saya persembahkan untuk kumpulan surat cinta seorang kakek kepada cucunya ini. Terjemahannya digarap oleh Windy Ariestanty dengan sangat baik, walaupun masih bertabur typo di beberapa tempat :( dan tampilan fisik buku benar-benar cakep khas penerbit Gagas Media ;)
Pesan saya, bacalah buku ini dengan hati dan pikiran lapang dan terbuka, jangan langsung melahap mentah-mentah kalimat-kalimat di dalamnya. Saringlah filosofi yang mana yang sesuai dengan keyakinan pribadi anda dan yang mana yang bukan, karena paling baik jika seseorang benar-benar yakin akan sesuatu dalam hatinya sendiri.

Detail buku:
“Letters to Sam” oleh Daniel Gottlieb
217 halaman, diterbitkan Juli 2011 oleh Gagas Media
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] Flipped: Siap-siap Jungkir Balik!

Cinta monyet tidak pandang bulu. Juli Baker yang masih berusia 7 tahun pun tidak luput dari panah si monyet (#eh) ketika tetangga baru datang untuk tinggal di seberang rumahnya dan membawa serta seorang anak laki-laki sebayanya yang bernama Bryce Loski.


[Juli] Pertama kali aku bertemu Bryce, aku jungkir balik. Pasti karena matanya. Ada sesuatu di matanya. Matanya yang biru dengan bulu mata hitam itu benar-benar memukau.

Dan begitulah keadaannya sampai mereka menginjak kelas sembilan. Juli membuntuti Bryce kemana-mana seperti bayangan kedua. Dan coba tebak apakah Bryce merasakan hal yang sama tentang Juli? Hell no! Selagi Juli kelihatannya tidak bisa jauh-jauh dari Bryce, sebaliknya Bryce malah ogah dekat-dekat dengan Juli. Cuma satu hal yang Bryce mau, yaitu supaya Juli lenyap dari hidupnya.

Kemudian, ketika Juli dan Bryce beranjak remaja, serangkaian insiden aneh nan membingungkan mulai terjadi. Bagi Juli, insiden-insiden ini melibatkan pohon sikamor, ayam-ayam dan telur-telur, pekarangan depan rumahnya, dan tentu saja Bryce. Dan Bryce, yang selama ini menganggap dirinya sedang ‘berperang’ melawan Juli, sebenarnya dia terus berperang melawan rasa takutnya sendiri.

Pengalaman duduk diatas pohon sikamor dan nasihat dari ayahnya untuk melihat sesuatu secara keseluruhan dan jangan hanya satu bagian saja, plus kejadian tak mengenakkan yang melibatkan Bryce, membuat Juli pelan-pelan merasa bahwa ia tidak begitu menyukai Bryce lagi.

Sedangkan Bryce yang awalnya menganggap Juli sebagai si Nona Menyebalkan yang betah menghabiskan waktu diatas pohon sikamor kesayangannya, dan merangkak masuk kandang ayam yang jorok dan kotor, akhirnya melihat sisi lain dalam diri Juli yang mulai membuatnya tertarik…

Tebak siapa sekarang yang jungkir balik… :D

###

Novel ‘ringan namun berbobot’ yang diberondong pujian dari berbagai pihak (Chicago Tribune, BookPage, Publishers Weekly, Kirkus Reviews, dan lain-lain) ini bukan hanya sekedar menyajikan kisah cinta-cintaan a la remaja, tapi juga pembelajaran karakter dan kisah keluarga yang menghangatkan hati. Karakter-karakter yang ada di dalamnya, mulai Juli yang keras kepala, Bryce yang diam-diam pengecut, Mr. Baker dan Chet yang bijak, sampai Mr. Loski yang doyan merendahkan orang lain; semuanya melambangkan orang-orang di sekitar kita atau bahkan diri kita sendiri. Cerita dalam novel ini tidak akan berlalu begitu saja setelah kita selesai membacanya, namun nilai-nilai yang ada di dalamnya, jika kita renungkan, akan membuka pintu gerbang untuk (istilah kerennya) aktualisasi diri. Novel ini seperti wake-up call yang ‘menyentil’ pola pikir kita secara halus namun tepat sasaran, dan masih mengena juga buat kita-kita yang umurnya sudah tidak belasan lagi….hehehe.

Empat bintang kupersembahkan untuk novel yang benar-benar sanggup bikin pembaca jungkir balik ini. Novel ini highly recommended terutama bagi para remaja! Ada yang tahu novel untuk remaja yang sekeren Flipped ini? Kasih tau saya dong!

Beberapa quote favorit saya dalam buku ini antara lain:

“Karakter seseorang terbentuk sejak kecil, Nak. Pilihan yang kau buat hari ini akan memengaruhi hidupmu sampai kapan pun.”

“Hanya wanita yang keras kepala saja yang bisa membuat hidup terasa lebih hidup.”

–> #tunjukdirisendiri #bloggerbukusedangnarsis #abaikan XD XD

“Walaupun berbagai macam emosi mengaduk perasaan kita setiap hari, tapi jika pada akhirnya kita merasa bahagia, alangkah indahnya.”

“Satu hal sudah kupelajari dari Juli Baker, bahwa jika aku ingin berhasil, aku harus fokus dan terus mencoba.”

Dari halaman Dialog dengan Wendelin Van Draanen :

“Cinta sejati berlabuh setelah kita mengenal dan menghormati orangnya.”

Dan berikut ini adalah kalimat yang merupakan inti dari buku ini:

“Keseluruhan lebih baik dibandingkan jumlah bagian-bagiannya. Begitu pula dengan manusia, hanya kalau manusia kadang kebalikannya, justru keseluruhan diri mereka itu bernilai kecil dibanding jumlah bagian-bagiannya.”

Dalam bahasa Inggris (ini saya ambil dari film, bukan buku berbahasa Inggrisnya) :

“The whole being is greater than the sum of its parts. It is the same with people, but sometimes with people, the whole could be less.”

A word of warning: terjemahan versi Orange Books ini remaja buangeeet *membuat berasa tua* =p. Saya jadi ingin baca versi bahasa Inggrisnya. And I love the movie as much as I love the book! Cuma satu hal yang kurang dari filmnya, yaitu tidak ada si Tukang Pipis Misterius! Siapa dia? Read the book and you’ll know… :D

Flipped movie poster

Bryce dan Juli versi film : diperankan oleh Callan McAuliffe dan Madeleine Carroll

Detail buku:
“Flipped” oleh Wendelin Van Draanen
272 halaman, diterbitkan Agustus 2011 oleh Orange Books
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Esperanza Rising

Esperanza. Ramona. Alfonso. Hortensia. Miguel. Membaca nama-nama ini membuat saya merasa seakan kembali ke tahun 90-an di mana telenovela lagi booming-boomingnya :D

Esperanza Rising, yang sekilas ceritanya mirip A Little Princess versi Latin, memperkenalkan kita pada seorang gadis muda bernama Esperanza Ortega, anak pemilik perkebunan yang luas di Meksiko, yang belum pernah mengenal kesusahan sepanjang hidupnya. Kisah ini dirangkai dengan setting tahun 1930, sepuluh tahun setelah revolusi Meksiko, dan tahun dimulainya Depresi Besar di Amerika.

Tepat sehari sebelum ulang tahun Esperanza yang ketiga belas, terjadi musibah yang tak diharapkan dalam hidupnya. Ayahnya tercinta terbunuh oleh bandit-bandit dalam perjalanan pulang dari perkebunan. Fiesta ulang tahun yang dinanti-nantikan Esperanza lenyap sudah, digantikan duka mendalam. Dengan kematian sang pemilik perkebunan, maka kedua paman Esperanza, Tio Marco dan Tio Luis, memulai rencana busuk mereka untuk menguasai perkebunan itu. Tio Luis membujuk ibu Esperanza, Ramona, untuk menikah dengannya; sehingga Ramona, Esperanza, Abuelita (nenek Esperanza), beserta pekerja-pekerja perkebunan Sixto Ortega yang setia tidak perlu menguatirkan hidup mereka di masa mendatang. Ramona menolak lamaran Luis, kemudian rumah dan tanahnya ludes dilahap api dalam kebakaran besar.

Ramona dan Abuelita mempunyai kecurigaan kuat bahwa kebakaran itu memang direncanakan oleh Tio Luis, sebagai upaya untuk memaksa Ramona agar setuju menikah dengannya. Tak sudi menuruti ambisi licik Tio Luis, Ramona dan Esperanza akhirnya memutuskan kabur ke California, mengikuti pelayan-pelayan mereka, Alfonso, Hortensia, dan anak mereka Miguel. Di kereta menuju California mereka bertemu dengan Carmen, seorang janda dengan 8 orang anak yang baru saja ditinggal mati suaminya. Meskipun begitu, Carmen adalah seorang wanita yang kuat, dan ia berkata,

“Aku miskin, tapi aku kaya. Aku memiliki anak-anakku. Aku memiliki taman dengan bunga-bunga mawar, dan aku memiliki keyakinanku, serta kenangan akan orang-orang yang telah pergi mendahuluiku. Apa lagi yang kubutuhkan?”

Sesampainya di California mereka bekerja di suatu perkebunan milik perusahaan, bersama adik Alfonso yang bernama Juan, istrinya Josefina, serta ketiga anak mereka, Isabel serta bayi kembar Lupe dan Pepe. Sayangnya Abuelita tidak dapat ikut ke California karena sakit.

Di babak baru kehidupannya ini, Esperanza dipaksa untuk berubah dari nona muda yang kaya menjadi pekerja kasar yang miskin. Tidak ada lagi rumah yang megah dan luas, Esperanza dan ibunya harus tidur dalam pondok sempit yang diisi lima orang. Tidak ada lagi gaun-gaun yang indah dan mainan-mainan yang mewah. Ia kemudian bersahabat dengan Isabel, dan Esperanza iri kepadanya karena “…Isabel tidak memiliki apa-apa, tetapi dia juga memiliki segalanya. Esperanza menginginkan milik Isabel. Ia menginginkan begitu sedikit kekhawatiran sehingga sesuatu yang sesederhana boneka benang bisa membuatnya gembira.” Dan Esperanza rindu kepada sang ayah, yang pernah mengajarinya menempelkan telinga di tanah untuk mendengar denyut jantung bumi. Ia rindu mendengar ayahnya membisikkan kata-kata ini kepadanya;

“Aguántate tantito y la fruta caerá en tu mano” (“Tunggu beberapa saat dan buahnya akan jatuh ke tanganmu”).

Cobaan belum berhenti sampai disitu; beberapa bulan setelah pindah ke California, ibunya jatuh sakit karena infeksi yang diakibatkan oleh spora debu setelah terjadinya badai debu, dan juga karena depresi. Inilah saat bagi Esperanza mengambil alih tanggung jawab atas dirinya dan ibunya, dengan bekerja keras untuk membiayai pengobatan ibunya, dan sekaligus menabung untuk ongkos perjalanan Abuelita ke California untuk bisa bersama-sama dengan mereka lagi. Esperanza pun akhirnya paham, bahwa kehidupan itu naik turun, seperti alur zigzag pada selimut Abuelita: ada kalanya naik ke puncak gunung, ada kalanya turun ke lembah. Dan pada saat ia gagal, ia mengingat perkataan Abuelita: jangan takut untuk memulai lagi dari awal.

###

Novel indah yang ditulis Pam Munoz Ryan ini menceritakan riwayat neneknya, Esperanza Ortega. Buku ini unik karena setiap bab diberi judul buah-buahan, misalnya Las Uvas (buah-buah anggur), Las Papayas (buah-buah pepaya), Los Melones (buah-buah melon), dan sebagainya. Selain itu ada resep untuk membuat Jamaica Flower Punch dan cara membuat boneka benang di akhir buku. Nilai moral yang berharga terkandung di dalam buku ini sehingga saya merekomendasikan buku ini terutama kepada para remaja, sesuai segmen yang disasar Penerbit Atria. Terjemahan yang baik, cover yang manis (lebih manis daripada cover aslinya, walaupun hampir sama), dan banyaknya kutipan-kutipan indah nan bijak, membuat buku ini pantas dimasukkan dalam wishlist.

Detail buku:
“Esperanza Rising” oleh Pam Munoz Ryan
238 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Saga no Gabai Baachan: Miskin Ceria a la Nenek Osano

Sederhana. Itulah kesan pertama yang saya tangkap ketika melihat cover buku ini. Saking sederhananya, buku ini beberapa kali gagal mencuri perhatian saya ketika dipajang di toko buku. Jika bukan karena testimoni positif orang-orang yang sudah membaca buku ini, saya tentu tidak akan memutuskan untuk membelinya dan larut dalam kesederhanaan sarat makna yang ditorehkan lewat memoar masa kecil Yoshichi Shimada (yang bernama asli Akihiro Tokunaga) ini.

Dari miskin jadi miskin. Itulah yang dialami Akihiro, anak lelaki kecil yang baru menginjak kelas dua SD. Saat masih sangat kecil, bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima membuatnya kehilangan ayah, dan ibunya yang terbebani dengan kewajiban membanting tulang bagi anak-anaknya mengirim Akihiro untuk tinggal bersama neneknya di sebuah kota kecil bernama Saga.

Bukannya menjalani hidup yang lebih enak, justru keadaan neneknya di Saga lebih miskin daripada keadaan ketika tinggal di Hiroshima. Saat bertatap muka pertama kali dengan sang nenek, tanpa ba-bi-bu Akihiro pun langsung diajari cara menanak nasi. Ini karena sang nenek yang bekerja sebagai petugas pembersih di universitas Saga harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menunaikan tanggung jawabnya, dan ia takkan sempat membuatkan sarapan untuk Akihiro. Akihiro harus mengurus dirinya sendiri.

Biarpun sangat miskin, Nenek Osano hidup dengan optimis dan ceria. Adaaaaa saja akal Nenek Osano untuk menyiasati keadaannya yang serba terbatas. Misalnya, ia mengikat pinggangnya dengan seutas tali dan menyeret-nyeret magnet kemanapun ia pergi. Klang klang klang klang bunyinya, dan si magnet pun menarik paku dan berbagai sampah logam lainnya yang nanti akan dijual nenek ke toko daur ulang. Dan miskin-miskin begitu, Nenek Osano punya “supermarket pribadi” lho! Yang dimaksud dengan supermarket pribadi adalah sungai di depan rumahnya, yang dipasangi sebatang galah. Berbagai macam benda yang hanyut di sungai tersangkut di galah itu dan Nenek Osano akan mengambilnya, misalnya ranting-ranting untuk dijadikan kayu bakar, sayur-sayuran cacat dari pasar yang dibuang ke sungai, bahkan benda-benda lain seperti geta (sandal kayu) yang bisa digunakan nenek atau Akihiro.

Dari hari ke hari, berbagai benda hanyut di sungai lalu tersangkut di galah Nenek. Itulah sebabnya Nenek menyebut sungai sebagai supermarket. Malah dengan pelayanan ekstra, katanya, “Belanjaan kita langsung diantar.”

Terkadang bila tidak ada apa pun yang tersangkut di galah, Nenek akan berkata, “Hari ini supermarket libur.” Dengan ekspresi wajah menyenangkan.

Kita mungkin akan terbahak membaca penggalan di atas, namun akal sang nenek memang patut diacungi jempol!

Miskin bukan berarti merendahkan diri dengan meminta-minta dan berharap belas kasihan orang lain. Begitu salah satu prinsip Nenek Osano, yang membuatnya mampu berbuat kebaikan kepada orang lain tanpa mengharap imbalan. Ketika seseorang berbuat baik dengan kelebihan yang ada padanya, itu hal yang biasa. Namun ketika seseorang berbuat baik meskipun ia sebenarnya kekurangan, itu baru namanya gabai (hebat)!

Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan.

Akihiro tinggal di Saga bersama Nenek Osano selama kurang lebih delapan tahun, dan selama itu pula prinsip-prinsip sang nenek mengakar kuat dalam dirinya dan tak pudar bahkan sampai ia dewasa. “Ada dua jalan buat orang miskin, yaitu miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin yang ceria,” kata Nenek Osano kepada Akihiro suatu waktu. Melalui memoar yang ditulis dengan sederhana, namun juga lucu dan mengharukan ini sang pengarang hendak mengajak setiap pembacanya untuk menciptakan “kehidupan yang baik”, yang rahasianya terdapat dalam dua kata ini: sukacita dan bersyukur.

Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.

###

Yoshichi Shimada, penulis memoar ini, saat dewasa menekuni dunia entertainment di Jepang, meskipun pada masa remajanya ia amat menggemari baseball dan berniat menjadi pemain baseball profesional. Buku yang pertama kali terbit pada tahun 2001 ini semakin meledak di pasaran setelah dipromosikan dalam acara televisi “Tetsuko no Heya” (Kamar Tetsuko) yang dipandu Tetsuko Kuroyanagi, penulis buku bestseller Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Kisah Nenek Hebat dari Saga ini begitu beken di negeri asalnya dan telah diadaptasi menjadi film layar lebar, game dan manga.

Di Indonesia, buku ini diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang oleh Indah S. Pratidina di bawah supervisi Mikihiro Moriyama sebagai koordinator penerjemah. Dan kalau boleh berpendapat, menurut saya terjemahannya sangat renyah dan enak dibaca. Untuk penerbit Kansha Books, dan semua orang yang bertanggung jawab atas terbitnya terjemahan buku ini di Indonesia, saya hanya mau bilang, “Anda semua gabai!” \m/

N.B.: Resensi ini saya ikut sertakan dalam Lomba Resensi Mahdabooks (Penerbit Redline), Juni 2011

Detail buku:

“Saga no Gabai Baachan” (Nenek Hebat dari Saga), oleh Yoshichi Shimada
263 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Kansha Books (a division of Mahda Books)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada: Kumcer Klasik Leo Tolstoy

”Tidak pernah akan ada saat di mana orang tidak perlu saling mengasihi.”

- 1 Korintus 13:8, terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari

***

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang mencintai, karena Tuhan sendiri adalah pribadi yang penuh dengan cinta. Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, demikian judul kumpulan cerita pendek karya Leo Tolstoy ini. Melalui lima cerpen karyanya, pembaca akan diajak merenungkan apakah hidup mereka telah diisi dengan cinta tanpa pamrih kepada sesama.

Tuhan Akan Bertamu ke Rumahku!

Martin Avdeich adalah tokoh utama dalam cerpen pertama yang berjudul sama dengan buku ini. Martin adalah seorang pengrajin sepatu yang telah ditinggal mati oleh istrinya, dan begitu pula anak-anak mereka tidak ada yang bertahan hidup, kecuali seorang bocah lelaki yang dipanggilnya Kapiton. Ketika Kapiton jatuh sakit dan akhirnya juga meninggal dunia, Martin terpuruk dalam keputusasaan dan meninggalkan Tuhan.
Sejak kedatangan tamu seorang biarawan yang menasihatinya untuk hidup bagi Tuhan, hidup Martin pun berubah, ia mulai rajin membaca Kitab Suci dan menjadi seorang pribadi yang menyenangkan.
Suatu malam Martin bermimpi mendengar Tuhan berbicara bahwa Ia akan bertamu ke rumah Martin. Keesokan harinya, dengan hati berdebar-debar ia menanti di tokonya. Ternyata yang muncul adalah seorang lelaki tua yang kedinginan, seorang perempuan yang menggendong anaknya, dan seorang perempuan tua penjual apel. Lalu dimana Tuhan yang begitu dinantikan oleh Martin? Pada akhirnya Martin pun memahami bahwa Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada.

Aku Mengampuni Engkau

Cerpen kedua yang berjudul Tuhan Tahu, tapi Menunggu bercerita tentang seorang saudagar muda bernama Aksionov, yang difitnah melakukan pembunuhan kepada seorang temannya. Aksionov dihukum dera atas kejahatan yang tak dilakukannya itu, kemudian selama dua puluh enam tahun ia menjalani kerja paksa di Siberia. Di penjara ia bertemu dengan pelaku pembunuhan temannya yang sebenarnya. Dan ia pun dihadapkan kepada pilihan untuk mengampuni orang itu atau tidak.

Haus akan Ajaran Tuhan

Perjalanan seorang uskup yang hendak berlayar ke suatu biara yang jauh mengawali cerpen ketiga yang berjudul Tiga Pertapa. Ketika sedang berlayar sang uskup mendengar cerita tentang keberadaan tiga orang pertapa yang tinggal di pulau tidak bernama. Sang uskup pun turun di pulau tersebut dan mengajarkan doa dan pemahaman tentang Kitab Suci kepada tiga lelaki tua yang bijaksana itu.

Hati yang Rela Berkorban demi Orang Lain

Cerpen keempat dan terpanjang di dalam buku ini berjudul Majikan dan Pelayan. Cerpen ini mengisahkan perjalanan seorang pedagang bernama Vasili dengan pelayannya, Nikita, pada suatu malam berbadai salju. Vasili yang aslinya seorang yang berwatak egois dan hanya memikirkan soal keuntungan yang bisa didapatnya lewat berdagang, tersentuh akan kesungguhan yang ditunjukkan pelayannya dalam menyertai sang majikan dalam perjalanan yang dapat membawa maut bagi mereka berdua. Di akhir dari perjalanan itu hanya seorang dari antara mereka berdua yang hidup, sementara yang satunya rela melepaskan hidupnya supaya rekannya tidak mati.

Apalah Arti Ibadahmu?

Dua Lelaki Tua adalah cerpen kelima dan terakhir di dalam buku ini, yang bercerita tentang Efim dan Elisha, dua orang lelaki tua yang bersahabat dan hendak pergi berziarah ke kota suci Yerusalem. Di perjalanan menuju Yerusalem, mereka sampai di suatu daerah yang terkena wabah penyakit dan penduduknya hanya tinggal menunggu maut. Elisha yang awalnya hanya hendak minta air kepada mereka, digerakkan oleh rasa belas kasihan dan membantu orang-orang itu, dengan pikiran bahwa ia bisa segera menyusul Efim. Namun kemudian ia bertanya pada dirinya sendiri, ”Apa gunanya menyeberang lautan untuk mencari Tuhan, bila selama itu aku kehilangan kebenaran yang ada di dalam diriku?” Elisha tinggal beberapa hari di situ dan berbuat lebih banyak lagi untuk orang-orang itu, sehingga ia tidak lagi menyusul Efim, melainkan langsung pulang ke rumahnya dari tempat itu. Sementara itu, Efim terus melanjutkan perjalanannya dan sampai ke Yerusalem. Ia beribadah kepada Tuhan di sana dan menyangka bahwa ia melihat Elisha ada di sana, sedang beribadah kepada Tuhan sama seperti dirinya.
Sepulangnya Efim ke rumahnya, ia mendapati bahwa ternyata Elisha tidak pernah menginjakkan kaki ke Yerusalem, namun ia juga telah beribadah kepada Tuhan, dengan cara menolong sesama yang membutuhkan pertolongannya.

Cerita ini mengingatkan saya pada lagu Kidung Jemaat yang berbunyi demikian:

“Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada rela sujud dan sungkur?
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada hati tulus dan syukur.
Ibadah sejati jadikanlah persembahan. Ibadah sejati kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan, jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.”

###

Itulah kelima cerita pendek yang tertuang di dalam Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, kumpulan cerpen terbaik karya sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoy (1828-1910), yang dikenal lewat dua karyanya yang dahsyat, War and Peace (1863) dan Anna Karenina (1873). Buah tulisannya sederhana, namun sarat nilai-nilai religius dan moral yang membawa pembacanya pada perenungan diri sebagai ciptaan Tuhan yang diciptakan untuk mengasihi dan melakukan pekerjaan baik hingga akhir hayat.

Detail buku:

“Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada” oleh Leo Tolstoy
197 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Lelaki Tua dan Laut

Lelaki Tua dan LautLelaki Tua dan Laut by Ernest Hemingway

My rating: 2 of 5 stars

Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea) adalah karya terbaik sastrawan Amerika kenamaan, Ernest Hemingway. Pemenang Nobel Sastra 1954 dan Pulitzer Prize 1953 ini mengisahkan perjuangan seorang nelayan tua yang telah 84 hari melaut tanpa menangkap seekor ikan pun.

Pada hari yang ke-85, ia berangkat dengan penuh optimisme bahwa hari ini bisa jadi hari keberuntungannya dan akhirnya dia tidak akan pulang dari laut dengan tangan kosong.

Hari itu adalah awal dari perjuangan pantang menyerah sang lelaki tua demi menangkap seekor ikan marlin raksasa, dimana dalam proses itu ia menghadapi banyak tantangan dan bahaya. Walaupun tubuh tuanya terus menerus protes selama ia terapung-apung di tengah lautan, ia tidak menyerah sampai kepada penghabisan.

Novel pendek (namun berat) ini ditulis dengan amat detail oleh penulisnya, boleh dibilang dengan alur yang bergerak lamban, yang membuat pembaca bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang nelayan.

View all my reviews

Softcover, 145 pages
Published May 2009 by Serambi Ilmu Semesta (first published 1952)
Price IDR 29.900

[Review] Anak-anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia

Totto-chan's Children: A Goodwill Journey to the Children of the World  (Anak-Anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-Anak Dunia)Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World by Tetsuko Kuroyanagi

Judul terjemahan Indonesia: Anak-anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia

My rating: 5 of 5 stars

Tanzania. Anak-anak antre mengambil air di ‘sumur’ yang tak lain lubang yang berisi air berlumpur. Mereka anak-anak asli Afrika yang tidak pernah melihat gajah, singa, atau jerapah secara langsung.

Nigeria. Negara dengan curah hujan tahunan 2,5 sentimeter. Suhu udara pada siang hari mencapai 60 derajat Celcius. Tidak ada air bersih yang layak dikonsumsi.

India. Negara dengan budaya yang menawan. Namun di kota Madras, 92 persen anak-anak menderita kekurangan gizi.

Mozambik. Bekas jajahan Portugis yang memperoleh kemerdekaan dengan tingkat literasi hanya 2 persen. Tentara gerilya menghancurkan semua fasilitas umum, laki-laki dibunuhi, perempuan diperkosa, anak-anak dilatih paksa menjadi tentara gerilya.

Kamboja. Ada tempat bernama kuburan massal Choeng Ek tempat 9.000 tengkorak manusia diletakkan begitu saja di atas rumput. Korban-korban rezim Pol Pot menggali lubang kuburan mereka sendiri dan dipenggal tepat di depan lubang yang mereka gali.

Vietnam. Anak-anak bekerja dari pagi hingga malam hari. Mereka pergi ke sekolah pukul 19.00-21.30.

Angola. Tentara gerilya antipemerintah memotong kaki dan tangan anak-anak. Ayah ibu mereka dibunuh di depan mata.

Bangladesh. Setiap kali terjadi banjir, sepertiga negara ini terendam. Bencana alam menyebabkan kelaparan dan wabah penyakit merajalela.

Irak. Kotoran masuk ke rumah penduduk karena saluran pembuangan dan pembangkit listrik tidak berfungsi akibat dibom. Anak-anak dijadikan alat pendeteksi ranjau darat.

Etiopia. Orang-orangnya kurus kering, hanya tulang berbalut kulit. Makanan dijatah, yang mendapatkannya hanya mereka yang berat badannya kurang dari 70 persen standar berat untuk umur dan tinggi badan mereka.

Sudan. Banyak sekali anak yang menjadi korban tembakan gerakan antipemerintah. Banyak anak menjadi yatim piatu karena perang saudara.

Rwanda. Kata salah satu pendeta setempat yang dimuat di majalah Time, “Tidak ada lagi iblis di neraka. Semuanya ada disini, di Rwanda.” Orang-orang saling membunuh karena kebencian yang amat hebat.

Haiti. Anak-anak menjadi pelacur untuk memberi makan keluarganya. Anak-anak jalanan dijebloskan ke penjara, tanpa mengetahui apa kesalahannya.

Bosnia-Herzegovina. Anak-anak menderita luka psikologis yang sulit disembuhkan, akibat perang. Ada ranjau dan bom yang khusus dibuat untuk membunuh anak-anak, yang berbentuk seperti cone es krim, cokelat, atau mainan.

###

Sangat mudah bagi kita untuk berkata, “Di negara X terjadi kelaparan,” atau “di negara Y pecah perang,” tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya dirasakan orang-orang yang mengalami langsung kejadian itu. Kalaupun kita sempat melihat liputan beritanya di televisi, paling-paling kita hanya mendesah pelan dan berkata, “Oh, kasihan ya.” Titik.

Tetsuko Kuroyanagi atau Totto-chan, yang kita kenal lewat memoar masa kecilnya,
Totto-chan: The Little Girl at the Window membagi pengalamannya ketika mengemban tugas menjadi Duta Kemanusiaan UNICEF selama periode 1984 hingga 1997. Ia mengunjungi sejumlah negara dan bertemu bermacam-macam anak; anak yang sangat kekurangan gizi sehingga otaknya rusak, anak yang ditinggal mati orangtuanya karena wabah kolera, anak yang harus bekerja untuk memberi makan keluarganya, anak yang haus belajar namun tidak ada sarana prasarana yang tersedia baginya untuk belajar, anak yang menderita trauma batin amat parah akibat perang saudara yang terjadi di negaranya.

Begitu banyak fakta mengejutkan yang dibeberkan Totto-chan dalam buku ini, baik mengenai musibah kelaparan, kejamnya perang, dan kondisi mereka yang mengalaminya, baik anak-anak maupun orang dewasa. Siapapun yang masih memiliki nurani akan remuk hatinya mengikuti penuturan Totto-chan sementara ia bergerak dari satu negara ke negara lain. Betapa mengerikannya dampak kelaparan dan perang terhadap anak-anak khususnya, dan umat manusia pada umumnya!

Namun kabar gembiranya adalah; masih ada orang-orang yang dengan sukarela mau membangun kembali negara yang hancur, mengusahakan kesehatan masyarakat, memberdayakan kaum perempuan, memperjuangkan perdamaian. Dari orang-orang seperti inilah kita dapat mengambil teladan, bahwa masih ada kasih sayang di dunia ini. Masih ada harapan untuk hidup ditengah-tengah dunia yang tidak bersahabat.

Inilah salah satu buku yang “menampar” saya dengan begitu keras. Walaupun fakta yang ditulis dalam buku ini terjadi sudah 13-26 tahun yang lampau, dan saya tidak begitu tahu seberapa banyak perkembangan yang terjadi sampai dengan hari ini, tetap saja selesai membacanya saya merenung lama, memikirkan hal-hal ini;

Saya masih bisa makan tiga kali sehari, masih pantaskah saya mengeluh?
Saya tidak kekurangan air bersih, kalau tidak ada air tinggal beli saja, masih pantaskah saya mengeluh?
Saya tinggal di negara yang relatif masih damai, ketakutan tidak merajalela di jalan-jalan, masih pantaskah saya mengeluh?

Di luar sana, ada anak-anak yang harus berjalan sejauh 4,8 sampai 9,6 kilometer untuk mengambil air. Airnya cokelat berlumpur, tapi tidak ada air yang lain.
Di luar sana, ada anak-anak yang tidak bisa bebas berlarian di padang berumput, karena satu kali saja salah melangkah, nyawa bisa hilang akibat ranjau darat yang tersebar dimana-mana.
Di luar sana, ada keluarga-keluarga terpisahkan akibat perang, rumah-rumah yang masih berdiri punya lubang-lubang yang tak terhitung jumlahnya, hasil bombardir peluru.

Teman-teman, bersyukurlah dan lebih banyak lagi bersyukur. Di luar sana, banyak orang yang mengalami kesulitan-kesulitan tak terbayangkan, masih pantaskah kau mengeluh karena hal yang begitu kecil dan remeh?

Totto-chan menuliskan hal ini dalam Epilog;

“Setelah bertemu berbagai macam anak,
Aku ingin mengatakan pada anak-anak Jepang:
Jika kalian sedih melihat anak-anak di negara berkembang,
Yang kalian temui di dalam buku ini,
Dan ingin membantu mereka,
Katakan sekarang kepada teman yang duduk di sebelahmu,
“Mari berdamai.
Mari bergandengan tangan dan menjalani hidup bersama
.”

Anak-anak tidak mengenal teman atau musuh. Bagi mereka semuanya sama. Dapatkah kita bersikap seperti mereka, dan memandang manusia sebagai manusia, sesama ciptaan Tuhan, tanpa memandang suku, ras, agama, golongan, kewarganegaraan? Jika kita bisa melakukan hal itu, tentulah akan jauh lebih sedikit perang yang terjadi di muka bumi ini.

Bersyukurlah dan berdamailah. Sesederhana itu. Sebab manusia tidak dilahirkan untuk saling membenci, tapi untuk saling mengasihi.

View all my reviews

Softcover, 328 pages
Published February 22nd 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 50.000

[Review] Sang Harimau (The Tiger Rising)

Sang HarimauSang Harimau by Kate DiCamillo
My rating: 3 of 5 stars

Pernahkah kau merasa seperti menyimpan seekor harimau di dalam hatimu?

Mungkin ada beberapa dari kita yang pernah atau masih menyimpan ‘harimau’ di dalam hatinya. Harimau itu bisa berupa kesedihan, kemarahan, kepahitan, pemberontakan, dan berbagai macam lagi yang terus dipendam dalam hati sampai berkarat, dan akhirnya menyedot sisa kehidupan yang kita miliki.

The Tiger Rising mengisahkan seorang anak lelaki, Rob Horton, yang berjuang melawan kesedihannya karena ditinggal ibunda tercinta. Rob sampai pada suatu titik dalam hidupnya dimana ia menyimpan rapat-rapat segala perasaannya dan bersikap diam untuk banyak hal, bahkan ketika ia menjadi korban bullying.

Sampai di suatu hari yang ajaib, saat berjalan-jalan di hutan, ia menemukan seekor harimau yang terkurung dalam kandang. Di hari yang sama ia bertemu dengan Sistine Bailey, anak perempuan yang terus terang dan berkemauan keras. Rob dan sahabat barunya pun mulai memikirkan untuk melepaskan si harimau dari kandangnya, dan seiring tumbuhnya persahabatan mereka, pelan-pelan hati Rob pun dijalari perasaan yang hampir dilupakannya–yaitu kebahagiaan.

Kisah ini amat sederhana dan cenderung melankolis, namun nilai moral yang dapat diambil sangat bagus, yaitu jangan menyimpan rapat-rapat perasaan atau kenangan yang kau miliki, walaupun mungkin menyakitkan. Pada suatu waktu kita harus melepaskan segala sesuatu dari ‘kurungan’ hati kita dan memulai kembali hidup kita dengan hati yang ringan.

N.B.: melepaskan harimau dari kurungan dalam arti harfiah —> DON’T TRY THIS AT HOME, CAUSE IT’S VERY DANGEROUUUUSSS…. :D

View all my reviews

Softcover, 146 pages
Published April 2005 by PT Gramedia Pustaka Utama (first published 2001)
Price IDR 20.000

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers