Blog Archives
[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part II & Conclusion
# Conclusion in English at the bottom of the post #
Melanjutkan review Petualangan Sherlock Holmes, Part I, inilah bagian yang kedua.
7. Batu Delima Biru (judul asli: The Adventure of the Blue Carbuncle)
Dalam cerpen ini kita diajak mengikuti petualangan sang detektif pada hari sesudah Natal. Dikisahkan bahwa Peterson, seorang petugas antar barang yang jujur, pada pukul empat pagi hari Natal, menyaksikan seorang pria yang dihadang sekelompok pemuda berandalan. Pria itu lalu kabur, dan meninggalkan begitu saja seekor bebek putih yang tadi dipanggulnya. “Bebek Natal” itu kemudian diambil oleh Peterson berikut topi penyok pria itu, yang kemudian jatuh ke tangan Sherlock Holmes. Dari serangkaian kejadian dan barang bukti yang tampaknya sepele, Holmes menganalisis topi penyok itu untuk mendapatkan gambaran tentang pemiliknya, dan melacak asal-usul si bebek sampai ke penjual dan penyuplainya. Ternyata memang si bebek menyimpan “harta terpendam”, secara harafiah.
8. Lilitan Bintik-bintik (judul asli: The Adventure of the Speckled Band)
Inilah cerita paling menegangkan dari semua cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes. Helen Stoner muda datang kepada Sherlock Holmes pada suatu pagi, dalam keadaan penuh teror dan ketakutan. Miss Stoner mengaku tinggal di Stoke Moran, Surrey, bersama dengan ayah tirinya, Dr. Grimesby Roylott. Ia ketakutan, karena malam sebelumnya, suatu peristiwa yang terjadi sesaat sebelum kematian saudara kembarnya terjadi lagi. Ia takut bahwa ia akan mengalami nasib yang sama, mati secara misterius! Bagaimanakah Sherlock Holmes memecahkan kasus ini? Baca saja dalam cerpen yang menurut saya adalah cerpen terbaik dalam kumcer ini!
9. Ibu Jari Sang Insinyur (judul asli: The Adventure of the Engineer’s Thumb)
Orang bisa saja mengalami berbagai kejadian aneh, tapi berapa orang yang mengalami petualangan sehubungan dengan ibu jarinya? Seorang insinyur hidrolik muda bernama Mr. Victor Hatherley mengalaminya. Sebuah tawaran pekerjaan yang ringan, tapi dengan bayaran tinggi dari seorang Kolonel Lysander Stark membawanya ke sebuah wilayah terpencil dekat Reading. Victor tak menyangka kalau nantinya ia akan mengalami peristiwa menegangkan yang melibatkan beberapa orang Jerman dan membuatnya harus kehilangan ibu jarinya. Dalam cerpen yang satu ini Conan Doyle banyak menggunakan istilah teknik berkenaan dengan bidang pekerjaan seorang insinyur hidrolik, yang membuat orang non-teknik seperti saya mengerutkan dahi membacanya…
10. Bangsawan Muda (judul asli: The Adventure of the Noble Bachelor)
Lord St. Simon yang malang! Istrinya yang cantik tiba-tiba menghilang saat jamuan makan tepat setelah upacara pernikahan! Sang bangsawan meminta pertolongan Sherlock Holmes untuk menemukan istrinya, dan menyampaikan bahwa istrinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mau kabur sebelum pernikahan. Hanya saja, ia sempat gugup dan menjatuhkan buket bunganya saat berjalan keluar dari altar setelah upacara pemberkatan di gereja. Peristiwa yang nampaknya misterius ini ternyata pemecahannya sederhana saja.
11. Tiara Bertatahkan Permata Hijau (judul asli: The Adventure of the Beryl Coronet)
Klien Sherlock Holmes kali ini adalah seorang bankir dari salah satu bank swasta paling ternama di London, Mr. Alexander Holder dari Holder & Stevenson Bank. Mr. Holder baru saja memberikan pinjaman sebesar 50.000 pound kepada seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Jaminannya adalah benda yang nilainya jauh melebihi nilai pinjaman, yaitu sebuah tiara bertatahkan 39 buah permata hijau. Merasa terbeban karena dititipi benda yang merupakan kekayaan negara, Mr. Holder menyimpan tiara itu dengan ekstra hati-hati dan bersikap ekstra waspada. Namun malang, tiara itu berhasil dicuri juga! Tersangka utama adalah putra Mr. Holder sendiri, Arthur. Sementara itu, Sherlock Holmes yang sedang melakukan penyelidikan, tidak sampai pada keyakinan bahwa Arthurlah pelakunya. Arthur yang malang telah dijebak…
12. Petualangan di Copper Beeches (judul asli: The Adventure of the Copper Beeches)
Cerpen yang dibuka dengan cukup menarik dengan perdebatan antara Holmes-Watson ini berkisah tentang Miss Violet Hunter yang ingin berkonsultasi dengan Sherlock Holmes mengenai apakah sebaiknya ia menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Kedengarannya sepele sekali, bukan? Tapi ternyata tidak. Violet menemukan banyak keanehan saat ia mulai bekerja di kediaman Mr. Jephro Rucastle, dan belum menyadari bahwa ia terlibat suatu persekongkolan licik. Namun pada waktunya ia akan tahu.
***
Itulah kedua belas cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes (baca review bagian pertama). Kumcer ini merupakan buku Sherlock Holmes yang pertama kali saya baca, dan secara umum kumcer ini menarik, terutama karena kecemerlangan metode deduksi Sherlock Holmes dan perhatiannya terhadap detail. Kadang-kadang karakter Holmes tampak terlalu sempurna bagi saya, karena sepertinya tidak ada misteri yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Kegagalan yang jarang sekali terjadi tampak dalam cerpen pertama dalam kumcer ini, Skandal di Bohemia. Cerpen favorit saya tetap jatuh pada Lima Butir Biji Jeruk (cerpen no. 5) yang berlatar belakang sejarah perkumpulan Ku Klux Klan dan Lilitan Bintik-bintik (cerpen no. 8) yang bikin deg-degan, membuat saya merasa sedang membaca karya Poe. Saya tertarik untuk membaca novel-novel Sherlock Holmes dengan harapan novel-novelnya lebih dalam dan menyentuh sisi emosional sang detektif handal. Tiga bintang untuk keseluruhan kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini.
Conclusion in English:
I have written 2-part review for The Adventures of Sherlock Holmes (it is Petualangan Sherlock Holmes in the Indonesian translated version). Part I was written fully in Indonesian, but here in Part II I included a conclusion in English too. This is the first Sherlock Holmes I have ever read, and I found this book interesting, especially for the brilliant deductive method used by Sherlock Holmes, and his attention to tiny, seemingly meaningless details. However, sometimes I found the character Sherlock Holmes a bit beyond perfection, because it seemed that there was no case that cannot be solved by him (except A Scandal in Bohemia in this particular work). My two favorite short stories in this work go to The Five Orange Pips with its background history of Ku Klux Klan extremist organization and the gripping The Adventure of the Speckled Band that made me felt like I was reading Poe. I want to read Sherlock Holmes’ novels too, with hope that they would be deeper and more emotional. I gave three out of five stars for The Adventures of Sherlock Holmes.
Detail buku:
Petualangan Sherlock Holmes (judul asli: “The Adventures of Sherlock Holmes”), oleh Sir Arthur Conan Doyle
504 halaman, diterbitkan Maret 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] The Phantom of the Opera
# Please skip to the bottom of the post for Conclusion in English #
Bayangkan Gedung Opera Paris yang berdiri megah, dengan dua puluh lima lantai di atas permukaan tanah dan lima gudang bawah tanah. Bayangkan sosok misterius berjubah hitam yang “gentayangan” di dalam Gedung Opera, yang dikenal dengan sebutan “Hantu Opera”. Sekarang bayangkan sebuah cerita yang memuat sejarah, kisah cinta, musik, petualangan, dan sekaligus horor. Cerita yang menyajikan semua hal tadi ada dalam The Phantom of the Opera karya Gaston Leroux.
Dikemas dalam bentuk semi-reportase, sehingga feel ketika membacanya tidak seperti ketika sedang membaca sebuah novel biasa, kisah The Phantom of the Opera dibuka dengan pergantian dua manajer Gedung Opera. Monsieur Armand dan Moncharmin-lah yang kini memegang jabatan penting tersebut, dan kedua pendahulunya menasihati kedua manajer baru tersebut untuk memperhatikan permintaan-permintaan sang Hantu Opera, kalau tidak hal-hal yang buruk akan terjadi. Permintaan si hantu antara lain mengenai siapa yang memerankan karakter apa dalam pementasan opera, menyisihkan Balkon Nomor Lima baginya, dan tunjangan bulanan sebesar 20.000 franc. Sedikit saja kekeliruan dalam menyanggupi permintaan-permintaan si hantu, berarti musibah. Musibah bisa datang dalam bentuk kematian seorang staf opera dengan cara yang mengerikan, tragedi dalam pementasan di mana tiba-tiba sang biduanita mengeluarkan suara kwok-kwok-kwok seperti katak, atau jatuhnya kandelar besar yang menewaskan orang yang sialnya sedang berada di bawahnya.
Ada seorang penyanyi, gadis muda yang cantik bernama Christine Daae yang sangat diperhatikan oleh si hantu. Dengan cara-cara yang magis, si hantu memberikan pelajaran menyanyi kepada Christine, yang berbuah penampilan gemilangnya sebagai Marguerite dalam pementasan pada suatu malam. Pada malam itu juga, Vicomte Raoul de Chagny muda, yang telah mengenal Christine sejak kecil, menyaksikan bagaimana si gadis bernyanyi dengan luar biasa indahnya, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti Christine untuk memberinya ucapan selamat secara pribadi. Betapa kagetnya ia ketika berada di depan kamar ganti Christine, didengarnya Christine sedang berbicara kepada seorang pria… namun tidak ada seorangpun di dalam ruangan itu selain Christine sendiri. Di lain waktu, Raoul menyaksikan Christine menghilang ke dalam cermin besar di kamar gantinya. Peristiwa-peristiwa aneh ini membuatnya penasaran setengah mati, apalagi ketika ia mengetahui bahwa pemilik suara tanpa tubuh ini adalah sang Hantu Opera sendiri. Lebih lagi kemudian, ketika si hantu membujuk Christine supaya mencintainya, padahal Christine hanya mencintai Raoul, si hantu akhirnya menculik Christine tepat di tengah-tengah suatu pementasan. Raoul pun memutuskan untuk memburu sosok misterius yang dipanggil oleh Christine dengan sebutan “Malaikat Musik” ini.
Perburuan yang dilakukan Raoul terhadap Hantu Opera alias “Malaikat Musik” menemui titik terang ketika ia bertemu dengan Orang Persia, seorang pria yang konon mengetahui asal-usul Erik, sang Hantu Opera. Petualangan Raoul dan si orang Persia dimulai dengan menyusuri ruang-ruang bawah tanah Gedung Opera, sampai ke rumah di samping telaga milik Erik dan sempat terperangkap dalam Bilik Penyiksaan yang mengerikan. Pada bagian cerita yang ini ketegangan dibangun oleh pengarang dengan sangat intens. Berhasilkah Raoul menyelamatkan Christine, ataukah ia harus mati di dalam Bilik Penyiksaan bersama si Orang Persia? Lalu siapa sesungguhnya sang Hantu Opera?
***
Membaca karya ini menimbulkan sensasi yang agak berbeda daripada ketika membaca karya-karya klasik lain. Di satu sisi, cara pengarang menggambarkan musik dan cinta antara Raoul-Christine terasa begitu magis dan menyentuh, namun di sisi lain penggambaran sosok Erik begitu mengerikan dan brutal. Belum lagi fakta-fakta yang dijabarkan di sepanjang karya ini. Pada akhir cerita, saya merasa tercabik antara membenci dan merasa iba terhadap tokoh Erik, yang karena rupanya yang buruk, harus menutup diri terhadap dunia dan akhirnya menjadi jahat. Sebenarnya apa yang menjadi hasratnya hanya satu dan sama dengan setiap manusia normal yang ada di dunia: untuk dicintai.
Novel gothic ini menginspirasi komposer Andrew Lloyd Webber untuk menggubah sekumpulan lagu dalam pertunjukan teater musikal The Phantom of the Opera yang pertama kali dipentaskan di West End pada tahun 1986 dan kemudian di Broadway pada tahun 1988. Pertunjukan The Phantom of the Opera ini diklaim menjadi pertunjukan yang terlama dipentaskan di Broadway dan pementasannya yang ke 10.000 berlangsung pada 11 Februari 2012 lalu. Pada tahun 2004, sutradara Joel Schumacher merilis adaptasi film dari pertunjukan ini dengan bintang Gerard Butler sebagai Erik/the Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul de Chagny. Membaca novelnya dan kemudian menonton versi filmnya memberikan kepuasan tersendiri karena yang dinikmati bukan hanya karya sastra, namun juga karya seni bercitarasa tinggi dalam bentuk musik dan sinematografi.
Conclusion in English:
Reading this piece gave an exclusively different sensation than when reading other classic literature pieces. The way the author expressed music and love between Christine and Raoul felt magical to the root, when the way Erik was expressed was so brutal and gruesome. At the end of the story, I felt torn between hating Erik for his ruthlessness and at the same time pity him, that because of his grotesque looks, he had to hide from the world, and in time became villainous. His desire was the same with every living human’s desire: to be loved. I would recommend everyone who is interested in The Phantom of the Opera to read the novel and then watch the musical (or the film adaptation of the musical). They would give a complete experience of a journey in literature, art, music, performance, and cinematography.
Detail buku:
“The Phantom of the Opera” (judul asli: “Le Fantôme de l’Opéra”), oleh Gaston Leroux
485 halaman, diterbitkan Februari 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] The Bridge of San Luis Rey
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman TUHAN.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9)
Siapakah dari umat manusia yang mengetahui rencana Tuhan, dan memahami rancangan-rancangan-Nya? Ketika sesuatu yang buruk terjadi, bukankah kita bertanya, “Mengapa?” “Mengapa hal ini terjadi?” “Mengapa hal itu menimpa kami?”, atau “Mengapa hal ini menimpa mereka?”
Pertanyaan yang sama terpatri di benak Brother Juniper, seorang biarawan Fransiskan, setelah peristiwa putusnya jembatan gantung San Luis Rey di Peru yang terkenal. Adapun jembatan gantung yang menghubungkan kota Lima dan Cuzco tersebut ditenun oleh peradaban suku Inca dari abad yang telah berlalu, dan masih dilewati ratusan orang setiap harinya, sampai hari nahas itu tiba.
Pada siang hari, tanggal 20 Juli 1714, jembatan gantung San Luis Rey putus dan melemparkan lima orang ke dalam jurang di bawahnya. Peristiwa ini menggugah masyarakat Lima begitu rupa dan mengusik hati Brother Juniper, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mengadakan suatu “penelitian”, untuk menyelidiki kehidupan kelima orang korban. Ia berusaha menemukan jawaban mengapa Tuhan memilih kelima orang tersebut, untuk menunjukkan demostrasi kebijaksanaan-Nya, pada hari itu.
“Why did this happen to those five? If there were any plan in the universe at all, if there were pattern in a human life, surely it could be discovered mysteriously latent in those lives so suddenly cut off. Either we live by accident and die by accident, or we live by plan and die by plan.”
Selama enam tahun Brother Juniper mengetuk semua pintu di Lima, mengajukan ribuan pertanyaan, dan mencatat di buku catatannya semua fakta, kecil dan besar, penting maupun kurang penting, terkait kelima orang korban San Luis Rey, untuk membuktikan bahwa kelima nyawa yang hilang tersebut sesungguhnya adalah satu kesatuan yang utuh. Penelitian ini membawanya menguak lembar demi lembar kehidupan Dona Maria, La Marquesa de Montemayor, seorang wanita bangsawan yang tidak dicintai oleh putrinya semata wayang; Pepita, gadis muda cerdas pelayan sang Marquesa; Camila Perichole, seorang aktris luar biasa cantik yang dikagumi oleh seantero Peru; Paman Pio, lelaki paruh baya yang merupakan pelatih sekaligus “ayah” La Perichole; dan pemuda kembar yatim piatu Manuel dan Esteban, yang memiliki kisah hidup muram mereka sendiri.
Setiap dari mereka mencintai dan berjuang untuk hidup dengan cara masing-masing; hampir setiap detail dari kehidupan mereka dikumpulkan oleh Brother Juniper dengan harapan samar bahwa entah bagaimana detail-detail tersebut akan memunculkan diri begitu rupa dan membuka tabir rahasia lima nyawa yang direnggut. Apakah Brother Juniper akan menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini menghantui dirinya, dan mungkin juga hampir setiap orang di muka bumi ini?
***
Kekuatan utama novel pendek ini adalah gaya penulisan Thornton Wilder yang indah. Sebenarnya saya terlebih dahulu mengetahui versi film dari novel ini, secara tidak sengaja menemukan VCDnya beberapa tahun yang lalu. Versi film tahun 2004 dibintangi antara lain Gabriel Byrne sebagai Brother Juniper, Kathy Bates sebagai Marquesa de Montemayor, Harvey Keitel sebagai Uncle Pio, dan Robert De Niro sebagai Archbishop of Peru; dan menurut saya merupakan adaptasi yang cukup bagus. Jika dulu, saat pertama selesai menonton filmnya, saya akan duduk diam termenung beberapa saat, sekarang lebih lagi saat saya menyelesaikan bukunya. Alih-alih memberikan jawaban, buku ini mengajak pembaca untuk merenung. Kesimpulan yang saya ambil dalam hati mengenai buku ini adalah: kita mungkin tidak mengetahui rahasia Tuhan, mengapa Ia berbuat begini dan begitu. Namun satu hal yang mutlak adalah; ia menganugerahi masing-masing kita dengan cinta. Inilah hal yang terpenting, di atas segalanya.
“But soon we shall die and all memory of those five will have left the earth, and we ourselves shall be loved for a while and forgotten. But the love will have been enough; all those impulses of love return to the love that made them. Even memory is not necessary for love.
There is a land of the living and a land of the dead and the bridge is love, the only survival, the only meaning.“
Tentang Pengarang
Thornton Wilder, novelis dan penulis naskah sandiwara berkebangsaan Amerika, lahir pada tanggal 17 April 1897 di Madison, Wisconsin, Amerika Serikat. Beliau menghabiskan sebagian masa kecil di wilayah Amerika Selatan karena pekerjaan ayahnya. Sebagai seorang yang punya intelektualitas tinggi, beliau mengenyam pendidikan di Yale University dan meraih gelar master dalam bahasa Prancis di Princeton. Beliau juga tergabung dalam komunitas sastra Alpha Delta Phi Fraternity. Setelah lulus beliau melanjutkan studi di Roma, Italia, dan mengajar bahasa Prancis di New Jersey, dan kemudian di University of Chicago. Novel pertamanya, The Cabala, dirilis pada tahun 1926. Menyusul di tahun 1927, novel keduanya, The Bridge of San Luis Rey, sukses di pasaran dan membuatnya memenangkan hadiah Pulitzer Prize pertamanya. Beliau memenangkan hadiah Pulitzer dua kali lagi untuk kategori Drama untuk naskah sandiwara Our Town (1938) dan The Skin of Our Teeth (1942). Novel The Eighth Day (1967) juga dianugerahi penghargaan National Book Award for Fiction. Di tahun 1998, American Modern Library memilih The Bridge of San Luis Rey sebagai salah satu dari 100 novel terbaik di abad 20. Novel ini juga dikutip oleh PM Inggris Tony Blair dalam pidato dalam memorial service korban tragedi 11 September 2001. Thornton Wilder meninggal dunia tanggal 7 Desember 1975 pada usia 78 tahun.
Detail buku:
“The Bridge of San Luis Rey”, oleh Thornton Wilder
148 halaman, diterbitkan tahun 1986 oleh Harper Perennial
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde
Dalam jiwa setiap manusia berperang dua sisi yang berlawanan: Baik dan Jahat.
Mr. Utterson, seorang pengacara, mencium sesuatu yang ganjil mengenai Henry Jekyll, seorang dokter berusia setengah baya yang ternama dan dermawan, yang menulis dalam surat wasiatnya seperti berikut:
“… dalam hal meninggalnya Henry Jekyll, maka semua harta miliknya akan diwariskan kepada “teman dan pelindungnya Edward Hyde”; tetapi juga dalam hal apabila Dr. Jekyll menghilang atau tidak bisa dijelaskan ketidakberadaannya selama jangka waktu apa pun yang melebihi tiga bulan kalender…”
Siapakah Edward Hyde? Dr. Lanyon, salah seorang sahabat dekat Jekyll yang ditanyai oleh Mr. Utterson, mengaku tak tahu-menahu mengenai Hyde. Dahi Mr. Utterson semakin berkerut bila ia mengingat sebuah kisah aneh yang diceritakan seorang rekannya, Mr. Enfield, beberapa hari sebelumnya. Ia menceritakan tentang seorang laki-laki berperawakan kecil yang menabrak seorang anak perempuan dan kemudian ia menginjak-injak tubuh si anak perempua dan berjalan pergi dengan tenang, membiarkan si anak perempuan menjerit-jerit di tanah. Lelaki jahat ini adalah Mr. Hyde, yang digambarkan bertubuh kecil dan mengesankan bahwa dirinya mempunyai suatu kecacatan yang tak dapat dijelaskan, sesuatu yang membuat orang merasa benci dan muak terhadap dirinya.
Beberapa waktu kemudian, kota London kembali dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan terhadap seorang yang terpandang di masyarakat, Sir Danvers Carew. Keterangan saksi dan bukti yang ada menunjukkan bahwa pelakunya adalah Mr. Hyde, sementara yang menjadi tersangka raib seakan ditelan bumi. Waktu berlalu dan sementara Mr. Hyde belum juga ditemukan, Mr. Utterson menyadari bahwa ada perubahan yang terjadi pada diri Dr. Jekyll. Sang dokter yang biasanya supel dan ramah itu tiba-tiba menutup diri dan menolak menerima tamu di rumahnya. Mr. Utterson yang mengutarakan pendapatnya kepada Dr. Lanyon bahwa kemungkinan besar Jekyll sedang sakit, malah dikejutkan dengan respon Lanyon yang mengatakan bahwa ia tidak mau melihat atau mendengar apa-apa lagi mengenai Dr. Jekyll. Lanyon sendiri kelihatan tidak sehat dan akhirnya meninggal dunia beberapa minggu kemudian.
Pada suatu malam, Mr. Utterson dikejutkan oleh kunjungan mendadak Poole, kepala pelayan Dr. Jekyll, yang memintanya untuk mengikutinya ke rumah Dr. Jekyll. Dengan rasa takut dan was-was Mr. Utterson pun mengikuti Poole, dan apa yang terjadi sesudahnya menanamkan suatu kecurigaan kuat dalam benak Mr. Utterson bahwa Dr. Jekyll telah dibunuh, dan pembunuhnya masih berada di ruang kerjanya, tak lain tak bukan adalah Mr. Hyde, yang diberi akses penuh atas ruang kerja dan kamar Dr. Jekyll. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Dr. Jekyll? Lalu apa gerangan yang dilakukan si pembunuh gila di ruang kerjanya?
***
Karya Robert Louis Stevenson ini merupakan gabungan antara kisah misteri Gothic, fiksi ilmiah, dan sekaligus merupakan studi psikologis dualitas sifat manusia (the duality of human nature); yang diwujudkan di dalam kisah melalui karakter Dr. Jekyll (gabungan karakter baik dan jahat, namun lebih berat pada sisi baik), dan Mr. Hyde (mewakili sisi jahat, sama sekali tidak ada kebaikan dalam dirinya). Dalam 128 halaman versi terjemahan kisah ini, Stevenson menguraikan teka-teki mengenai Dr. Jekyll dan Mr. Hyde yang sedang diusut oleh Mr. Utterson dengan tingkat ketegangan yang cukup mendebarkan, termasuk di dalamnya pergumulan fisik dan batin yang mendera Dr. Jekyll, dan peristiwa-peristiwa menyeramkan yang terjadi dalam kegelapan dan kesuraman kota London. Kalau pun ada yang kurang, mungkin hal tersebut adalah detail eksperimen ilmiah yang dilakukan Dr. Jekyll. Terjemahannya cukup baik, walau mungkin di banyak bagian dahi pembaca dibuat berkerut akibat kalimat dengan penjelasan yang panjang-panjang. Tapi memang begitulah ciri khas literatur klasik (terutama literatur yang ditulis dalam era Victoria).
“Hari demi hari, dan dengan kedua sisi diriku, moral dan intelektual, aku, perlahan-lahan tapi pasti, semakin mendekati kebenarannya, yang pada akhirnya membuatku menjadi manusia terkutuk: bahwa manusia sesungguhnya bukanlah satu, melainkan dua.
… Sudah menjadi kutukan takdir manusia sehingga kedua aspek yang berlawanan tersebut saling terikat bersama-sama—dan oleh karenanya, di dalam rahim alam sadar, seorang manusia dengan kedua kutub kembar tersebut harus selalu berjuang untuk mengalahkan satu sama lain. Bagaimana seandainya keduanya dipisahkan?”
Dengan demikian, kesimpulan logis yang saya tarik setelah membaca buku ini (karena saya tidak punya kapabilitas cukup untuk membahasnya secara psikologis):
- Kepandaian manusia adalah berkat dari Tuhan, namun bisa menjadi kutuk ketika digunakan tidak pada tempatnya, atau dengan cara yang salah. Kejeniusan Dr. Jekyll membuatnya berangan-angan, dan kemudian mewujudkan, ide “memisahkan kedua sisi berlawanan di dalam dirinya”. Ide gila ini, tanpa bisa dihentikan lagi, kemudian membawanya ke kehancuran. So, people, it is best to use our intelligence wisely and responsibly.
- Penting bagi seorang manusia untuk mempunyai kehidupan yang seimbang. Usahakanlah bahwa “Jekyll” di dalam diri kita yang memegang kendali, dan bukannya “Hyde”. “Hyde” tidak harus hilang sama sekali dari diri kita, karena toh kita masih manusia yang punya kekuatan juga kelemahan. Yang penting adalah “Jekyll” harus bisa mengontrol “Hyde”, sehingga kehidupan kita menjadi seimbang.
Tiga bintang saya berikan untuk novel yang pendek namun menarik untuk didiskusikan ini.
Baca juga:
Playing Hyde & Seek (Eng)
Analisis Kejiwaan Dr. Jekyll dalam Novel “The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde” karya Robert Louis Stevenson, oleh Ferry Ismawan (Ind)
Detail buku:
“The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde”, oleh Robert Louis Stevenson
128 halaman, diterbitkan 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] Si Cantik dari Notre Dame
“Atau, bisa dikatakan, semua saling menghancurkan melalui perjalanan nasib yang tak dapat dijelaskan…”
Paris, Januari 1482. Perayaan hari Epifani yang diadakan bersamaan dengan Festival Kaum Dungu di alun-alun Paris berlangsung dengan meriah. Hampir semua penduduk Paris larut dalam euforia yang aneh, kecuali mungkin sang penyair dan filsuf Pierre Gringoire, yang pementasan dramanya terganggu dengan kedatangan Kardinal dan rombongannya. Kemudian ada seorang gadis gipsi cantik yang menari dengan lincah di jalan, seekor kambing berbaring di permadani di sudut di dekatnya. Gadis luar biasa ini bernama La Esmeralda. Rombongan orang yang menontonnya ternganga oleh kecantikan dan kelincahan kakinya yang anggun, termasuk sang wakil uskup dari Katedral Notre Dame, Dom Claude Frollo. Ia begitu asyik mengamati si gadis menari, sesuatu yang tak patut dilakukan oleh seseorang yang telah bersumpah untuk hidup selibat.
Di saat yang sama, ada Quasimodo, si bungkuk buruk rupa yang adalah pemukul lonceng gereja Notre Dame. Quasimodo dipungut oleh Claude Frollo ketika berusia empat tahun ketika ia ditinggalkan di depan gereja, begitu buruk rupa sehingga menjadi sasaran hujatan orang. Sang pendeta membesarkannya dengan susah payah dan Quasimodo tumbuh dengan hanya dua bentuk kasih sayang yang dikenalnya, yang pertama kepada tuannya Frollo, dan yang kedua untuk Katedral Notre Dame.
Kembali ke La Esmeralda, suatu malam ketika ia hendak pulang ke Mahkamah Keajaiban, ia merasa bahwa dirinya sedang dikuntit. Seorang pria misterius berpakaian hitam-hitam dan pembantunya yang berperawakan besar menghadang gadis itu. Saat itulah Kapten Phoebus de Chateaupers yang gagah dan tampan lewat dan menyelamatkan si gadis cantik. La Esmeralda jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya, namun lenyap segera sesudah sang kapten menyelamatkannya. Pada suatu malam di waktu yang lain, gadis yang dimabuk cinta itu bertemu dengan sang kapten, yang memandang si gadis dengan nafsu badaniah yang menggelegak. Pertemuan mereka berakhir dengan sebuah golok menancap di tubuh Phoebus. Pagi harinya La Esmeralda diseret ke penjara oleh sekawanan prajurit penjaga. Tiang gantungan telah menanti si gadis.
Quasimodo menyelamatkan si gadis cantik dari tiang gantungan dan membawanya ke Notre Dame sehingga ia terlindung oleh suaka yang diberikan gereja. Namun keselamatan La Esmeralda masih terancam. Di dalam dinding Notre Dame masih ada Claude Frollo yang dibakar kecemburuan yang amat sangat melihat kedekatan anak asuhnya yang buruk rupa dengan La Esmeralda. Sementara cinta si gadis justru tertuju pada kapten Phoebus yang sesungguhnya tidak mati, namun berangsur-angsur sembuh dari lukanya dan kembali kepada tunangannya, gadis bangsawan bernama Fleur-de-Lys. Sementara Parlemen telah memerintahkan supaya La Esmeralda kembali diseret ke tiang gantungan, teman-teman si gadis di Mahkamah Keajaiban, orang-orang gipsi, telah menyusun rencana untuk menculik si gadis dari tempat perlindungannya. Mereka datang menyerbu Notre Dame.
***
Karya yang indah sekaligus tragis dan mengerikan dengan segala kemegahannya. Inilah karya yang paling terkenal dari sastrawan besar Prancis, Victor Hugo (1802-1885). Karya yang berjudul asli Notre Dame de Paris (1831) ini dikenal seantero dunia dengan judul The Hunchback of Notre Dame, sementara terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi terbit dengan judul Si Cantik dari Notre Dame. Mengapa “The Hunchback” lantas diterjemahkan menjadi “si cantik”? Setelah selesai membaca buku ini saya baru paham, pusat cerita dalam kisah ini sebenarnya bukanlah Quasimodo si bungkuk, melainkan si gadis cantik, La Esmeralda, yang dicintai sekaligus dikutuk. Pernah menonton film versi Disney dari novel ini? Bersiaplah karena saat membaca buku ini anda akan sadar bahwa ceritanya jauh berbeda dengan versi Disney.
Novel ini membuktikan bahwa karya klasik tak melulu muram dan serius, karena Victor Hugo juga menyelipkan humor di dalam novel ini. Beberapa adegan yang lucu antara lain ketika Quasimodo yang tuli akibat bunyi lonceng gereja disidang oleh seorang hakim yang juga tuli, kemudian karakter Gringoire yang tidak bisa berhenti bicara, dan adegan ketika Jehan Frollo, adik Claude Frollo, datang menemui kakaknya untuk minta uang. Sang kakak menanyai adiknya mengenai studinya, dan sang adik menjawabnya dengan apa yang kita sebut hari ini sebagai “ngeles”. Berikut sebagian percakapan mereka.
“Bagaimana studimu mengenai perintah Gratian?”
“Aku kehilangan buku catatanku.”
“Dan bagaimana dengan humaniora Latin?”
“Seseorang mencuri kopi naskah Horatius.”
“Dan bagaimana dengan pelajaranmu mengenai Aristoteles?”
“Lho, apakah kakak tak tahu bahwa salah seorang frater di gereja berkata bahwa pendukung bidah selalu mencari perlindungan di bahwah kekusutan metafisika Aristoteles? Aku tak perlu mengetahui apa pun mengenai Aristoteles. Aku tak ingin metafisikanya menghancurkan agamaku.”
Terdengar sangat familier? Ternyata “ngeles” tidak hanya terjadi di zaman modern, lho!
Penerjemah juga menambahkan kelucuan dalam bagian ketika Phoebus memanggil La Esmeralda dengan “Semar” lantaran ia kesulitan menyebut nama si gadis.
Penulisan Hugo yang sangat indah, cerita yang dijalin antara ketiga tokoh utama dan banyak tokoh pendukung yang mempunyai peran masing-masing, terjemahan yang digarap dengan baik oleh Sunaryono Basuki K.S., membuat saya tidak ragu memberikan lima bintang untuk novel ini, sebagaimana saya juga memberi lima bintang untuk novel karya Hugo yang lain, Les Misérables.
Review buku ini dipost dalam rangka merayakan HUT ke-210 Victor Hugo (26 Februari 1802 – 26 Februari 2012)
Happy birthday, Victor Hugo!
Detail buku:
“Si Cantik dari Notre Dame” (judul asli: “Notre Dame de Paris”), oleh Victor Hugo
572 halaman, diterbitkan Juli 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Bleak House oleh Charles Dickens
“London, 1852. London in November. It was cold, winter weather. There was mud in the streets. There was fog too. The fog was everywhere. It came up the river and down the river.
Cold, mud, and fog filled the streets of London. And the fog was thickest and the mud was deepest near Lincoln’s Inn, the very heart of London. The Lord High Chancellor was there, sitting in his High Court of Chancery.
Some of the fog and the mud had got into the courtroom too. Perhaps a little fog and mud had got into the minds of the people in the High Court of Chancery.”
Bleak House merupakan karya Dickens kedua yang pernah saya baca, dan saya pertama kali membacanya ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMP.
“Bleak House”, jika diIndonesiakan berarti “Rumah Suram” adalah karya Dickens yang merupakan kritik sosial terhadap kehidupan di London pada pertengahan abad 19. Mengambil setting waktu tahun 1852, Dickens menyorot bobroknya sistem hukum perdata di Inggris pada waktu itu, secara spesifik mengenai hal waris. Alkisah ada sebuah kasus mengenai hak waris yang telah dilangsungkan selama bertahun-tahun, bahkan beberapa generasi telah mati dan dilahirkan selama kasus tersebut berlangsung. Kasus ini dikenal dengan nama kasus Jarndyce dan Jarndyce (the case of Jarndyce and Jarndyce). Konon, kasus ini menghabiskan seluruh energi, waktu, dan kepandaian para pengacara di High Court of Chancery, London, dan para penuntut hak waris yang tadinya muda dan penuh harapan, lama kelamaan-menjadi tua dan hancur hidupnya selama menunggu penyelesaian/keputusan atas kasus Jarndyce dan Jarndyce. Kasus ini telah membuat nasib banyak orang menjadi begitu sengsara. Mengapa begitu lama dan sulit untuk menyelesaikan kasus ini? Konon karena tidak ada pengacara yang mampu memahami surat waris Jarndyce.
Para penuntut–mereka yang mempunyai hak atas warisan Jarndyce–yang berumur di bawah 21 tahun diurus oleh Pengadilan, dan Pengadilanlah yang akan mencarikan rumah bagi mereka. Para penuntut ini disebut “wards of court”. Diantara sekian banyak penuntut kasus Jarndyce dan Jarndyce, ada sepasang sepupu yang masih berusia di bawah 21 tahun, mereka adalah Ada Clare dan Richard Carstone. Pengadilan kemudian memutuskan bahwa Ada dan Richard akan tinggal bersama sepupu mereka, John Jarndyce, di kediaman tua Jarndyce yang disebut Bleak House. Pengadilan mengutus Esther Summerson, seorang perempuan muda yang memiliki masa lalu pahit, namun sangat mandiri dan bisa diandalkan, untuk mendampingi Ada. Mereka berempat pun tinggal di Bleak House, yang ternyata tidak sesuram namanya karena sang sepupu, John Jarndyce, adalah seorang pria paruh baya yang periang dan menyenangkan.
Di sudut lain Inggris, di Lincolnshire, tinggallah sepasang bangsawan yang terkenal angkuh. Mereka adalah Sir Leicester Dedlock, dan istrinya, Lady Dedlock yang cantik namun dingin. Suami-istri Dedlock tinggal di rumah yang disebut Chesney Wold. Teras di bagian depan rumah besar itu dijuluki Ghost’s Walk, karena kadang-kadang terdengar langkah-langkah kaki di batu yang keras itu. Konon jika langkah-langkah kaki terdengar di Ghost’s Walk, itu berarti akan ada kematian, kemalangan atau aib yang akan menimpa keluarga Dedlock.
Kembali ke London, Esther, Ada, dan Richard mengunjungi sebuah toko yang sangat kotor dan aneh di dekat High Court of Chancery, toko ini bernama “Krook, Rag and Bottle Shop”. Toko ini begitu aneh karena “everything is bought here, but nothing is sold.” Pemiliknya, Mr Krook, berkata bahwa orang-orang memanggilnya Lord Chancellor (semacam Hakim Agung), dan tokonya adalah High Court of Chancery, karena ia tidak pernah melepaskan satupun barang-barang berkarat dan berdebu dari tokonya. Toko tersebut tidak pernah disapu, dibersihkan, atau diperbaiki, melambangkan High Court of Chancery. Mereka bertiga melihat bagaimana kemiskinan menggerogoti warga yang tinggal di jantung kota London, dan ironisnya warga yang termasuk kaya seakan menutup dunia mereka dari keberadaan warga lain yang miskin.
Sejauh ini terdengar membosankan? Tunggu dulu, Lady Dedlock ternyata punya rahasia yang selama ini setengah mati disimpannya supaya keluarga Dedlock tidak dipermalukan akibat aib masa lalunya. Rahasia ini berkaitan dengan Esther Summerson dan Nemo, seorang law-writer (penulis dokumen hukum) yang identitasnya tidak jelas, yang dulunya tinggal di atas Krook, Rag and Bottle Shop, sampai ia ditemukan mati karena sakit. FYI, “Nemo” dalam bahasa Latin berarti “no one”. Pengacara Sir Leicester, Mr Tulkinghorn, curiga bahwa Lady Dedlock memiliki rahasia dan berusaha mengoreknya. Ada juga seorang perempuan Perancis bernama Hortense yang sangat membenci Lady Dedlock dan berusaha mencelakainya. Karakter penting lainnya adalah Allan Woodcourt, seorang dokter yang datang ketika Nemo ditemukan telah mati. Allan menjalin hubungan persahabatan yang erat dengan para penghuni Bleak House dan menjadi suami Esther di akhir cerita. Menarik juga mengikuti bagaimana kasus Jarndyce dan Jarndyce berhasil menggelapkan hidup banyak orang, termasuk Richard Carstone, karakter yang plin-plan dan tidak pikir panjang, yang selalu berpikir bahwa ia akan menjadi kaya jika keputusan atas kasus Jarndyce dan Jarndyce telah dijatuhkan. Sepupunya, John Jarndyce menasihatinya: “For the love of God, do not put any hope or trust in Jarndyce and Jarndyce. It is better to borrow, better to beg, better to die.”
Penjelasan singkat tentang kasus Jarndyce dan Jarndyce, sebagaimana disampaikan oleh John Jarndyce, adalah sebagai berikut:
“Long ago, a man called Jarndyce made a great fortune. And so he made a great will. This will was difficult to understand. Lawyers have been arguing about it ever since. The Court of Chancery has to decide about the money. Every member of the family has to go to Court sometime. No one can escape. I don’t like to think about it. My poor great-uncle, Tom Jarndyce, thought about the case all the time. In the end, he shot himself.”
***
Bleak House merupakan sebuah novel yang kompleks dan panjang, merupakan suatu potret sosial Inggris pada era Victoria. Sekalipun beberapa sumber menyebutkan bahwa Bleak House adalah novel terbaik Dickens, mungkin novel ini tidak terlalu enjoyable, khususnya bagi pembaca Indonesia, karena cenderung panjang dan membosankan. Begini pendapat G. K. Chesterton mengenai Bleak House: there is a certain monotony about the book: “the artistic . . . unity . . . is satisfying, almost suffocating. There is the motif and again the motif.”
Namun bagi saya pribadi, saya masih bisa menikmati kompleksitasnya, dan juga gaya penulisan Dickens yang sangat khas dan memikat, yang masih terasa sekalipun buku yang saya baca ini versi yang telah dipersingkat dan disederhanakan.
Detail buku:
“Bleak House”, oleh Charles Dickens, diceritakan kembali oleh Margaret Tarner
122 halaman, diterbitkan 1990 oleh Dian Rakyat
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) oleh Charles Dickens
London dan Paris; dua kota yang bergolak menjelang revolusi Prancis. Konon di Prancis, kaum bangsawan memerintah dengan sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyat. Kesejahteraan kaum bangsawan diletakkan diatas segalanya, sementara rakyat kecil dianggap tidak lebih daripada anjing. Rakyat harus membayar pajak dengan jumlah yang menggigit, sementara kaum bangsawan terus berfoya-foya dan menggemukkan badan. Kejahatan merajalela, tiada hari tanpa pelaksanaan hukuman mati, tidak peduli kecil atau besar kejahatan yang dilakukan orang yang akan dieksekusi. Begitulah situasinya, sampai di suatu titik, rakyat Prancis bangkit dan melakukan perlawanan. Situasi berputar balik, kali ini kaum bangsawanlah yang ditangkapi, diadili, dan dibunuh.
Di tengah-tengah gejolak yang terjadi, Mr. Jarvis Lorry, seorang bankir di Tellson’s Bank, London, ditemui oleh seorang gadis muda berparas cantik berkebangsaan Prancis bernama Lucie, mengenai keberadaan ayah yang disangkanya telah mati. Dr. Manette, ayah si gadis, ternyata masih hidup di Prancis. Ia dijebloskan ke penjara Bastille tanpa pernah tahu bahwa ia memiliki keturunan. Setelah bertahun-tahun menjalani hukuman di Bastille, yang menguras kewarasan sang dokter, ia tinggal di rumah mantan pelayannya yang bernama Defarge. Mr. Lorry dan Mlle Manette menjemput sang dokter dari tempat itu, pindah ke Inggris, dimana mereka berusaha memulihkan keadaan fisik dan psikis sang dokter.
Lima tahun kemudian, Dr. Manette dan putrinya terlibat dalam persidangan seorang keturunan Prancis yang bernama Charles Darnay, sebagai saksi. Darnay didakwa sebagai mata-mata Prancis yang menjalankan suatu rencana untuk melumpuhkan Inggris. Di persidangan itu mereka bertemu dengan pengacara yang bernama Mr. Stryver, dan rekannya yang eksentrik, Sydney Carton, yang secara mengherankan memiliki kemiripan fisik dengan Charles Darnay. Darnay akhirnya diputuskan tidak bersalah oleh pengadilan. Beberapa tahun kemudian Darnay menikahi Lucie, dan ketiga orang keturunan Prancis itu, Darnay, Lucie, dan sang dokter, hidup di Inggris dengan cukup bahagia.
Namun suatu hal yang belum diketahui Lucie, bahwa nama asli suaminya bukan Charles Darnay. Darnay sebenarnya adalah salah satu keturunan bangsawan Prancis, keponakan dari Marquis Evrémonde. Ketika Gabelle, pengurus kediaman Evrémonde dipenjarakan, ia menulis surat kepada tuannya, Darnay, minta diselamatkan. Maka Darnay, dengan mengabaikan bahaya yang mengancam dirinya sendiri, pergi ke Prancis. Disana ia ditangkap karena jati dirinya yang seorang bangsawan. Darnay sempat dibebaskan, karena Dr. Manette dan Lucie pergi ke Prancis, dan Dr. Manette memanfaatkan pengaruh yang dimilikinya sehingga menantunya itu bisa bebas. Namun malam harinya Darnay ditangkap lagi, dengan tuduhan yang berasal dari Defarge dan istrinya, serta Dr. Manette! Dalam persidangan, Defarge membacakan sebuah surat yang ditulis Dr. Manette, yang mengungkapkan alasan mengapa ia dijebloskan ke Bastille. Suatu peristiwa buruk yang terjadi di masa lalu mengaitkan Dr. Manette dengan keluarga bangsawan Evrémonde, dimana sekarang seorang keturunan Evrémonde menjadi menantunya. Sementara itu, Darnay akan dieksekusi oleh La Guillotine, si wanita tajam, dalam waktu dua puluh empat jam. Dr. Manette, Lucie, Mr. Lorry, dan Sydney Carton berada di tengah-tengah situasi tak menentu itu. Bagaimanakah badai kehidupan ini akan berakhir?
”Saat itu adalah waktu terbaik, sekaligus waktu terburuk.
Masa kebijaksanaan, sekaligus masa kebodohan.
Zaman iman, sekaligus zaman keraguan.
Musim Terang, sekaligus musim Kegelapan.
Musim semi pengharapan, sekaligus musim dingin keputusasaan.
Kita memiliki semuanya di hadapan kita, sekaligus tidak memiliki semuanya.
Kita semua langsung pergi ke Surga, sekaligus langsung pergi ke jalan lainnya.
Pendeknya, zaman itu begitu persis dengan zaman sekarang.”
Kalimat di atas adalah kalimat pembuka yang terkenal dari Kisah Dua Kota. Novel ini terbagi menjadi 3 buku, Buku I: Kembali ke Kehidupan, Buku II: Benang Emas, dan Buku III: Badai Kehidupan. Kisah Dua Kota adalah terjemahan dari karya fenomenal Charles Dickens, A Tale of Two Cities. Novel klasik dengan plot yang kompleks ini ditulis Dickens dengan menggunakan kontradiksi, mempertentangkan situasi yang terjadi di dua negara pada masa itu, Inggris yang taat hukum dan Prancis yang feodal. Kontradiksi juga bisa ditemukan dalam karakter-karakter di dalam cerita, misalnya Darnay, si bangsawan yang emigran karena menolak feodalisme, berpenampilan necis dan rapi, merupakan ”lawan” dari karakter Sydney Carton, si pengacara slengean yang tidak memiliki fokus dalam hidupnya untuk mencapai apapun. Karakter Miss Pross, pelayan Lucie yang secara fisik tangguh namun sangat setia, bertolak belakang dengan Madame Defarge yang pendendam dan haus darah. Dalam banyak bagian juga Dickens menggunakan simbol-simbol yang kadang sulit dipahami, misalnya di awal cerita pada Buku I: Kembali ke Kehidupan, Mr. Lorry akan menjemput ”seseorang yang telah dikubur hidup-hidup selama delapan belas tahun”. Maksudnya adalah Mr. Lorry akan menjemput Dr. Manette, yang telah menjalani sekian tahun hukuman di Bastille sehingga kehilangan akal sehatnya. Ia sama saja seperti orang yang sudah mati. Kemudian Madame Defarge yang merajut tanpa henti. Ia sebenarnya sedang mendaftar nama-nama mereka yang akan dijatuhi hukuman mati. Kegiatan merajut ini juga menyimbolkan ”serigala berbulu domba”, rakyat kecil Prancis yang kelihatan tidak berbahaya, merajut dalam diam, namun di tangan mereka juga aristokrasi akan tumbang.
Terjemahan A Tale of Two Cities yang diterbitkan Elex Media Komputindo dengan judul ”Kisah Dua Kota” ini sama sekali tidak mengecewakan, baik dalam bentuk fisik maupun substansi buku. Terjemahan yang digarap oleh Peusy Sharmaya menurut saya sangat bagus, jenis kertas dan font yang digunakan sangat nyaman untuk dibaca. Meskipun rasanya lebih nyaman membaca “Mr.”, “Monsieur”, “Mademoiselle” ketimbang “Tuan” dan “Nona”. Dan semoga juga jilidan bukunya awet, mengingat bukunya cukup tebal. Saya tidak menyesal membeli buku ini walaupun harganya relatif mahal
Secara keseluruhan, Kisah Dua Kota layak diganjar 5 bintang. Faktor yang terbesar adalah penulisan Dickens yang brilian. Ia mampu membangun cerita dengan plot yang padat dan kompleks, kadang-kadang sengaja menyimpan beberapa elemen untuk akhir cerita, sehingga pembaca tidak akan berhenti penasaran seperti apakah nanti endingnya. Gaya penulisannya puitis namun dengan aura yang suram dan tragis, sangat khas Dickens. Namun, bagi pembaca yang tidak suka narasi yang panjang-panjang, kemungkinan akan sulit menikmati karya Dickens ini. Ada yang menyebutkan A Tale of Two Cities sebagai karya Dickens yang tidak memiliki karakter yang se-memorable Scrooge di A Christmas Carol, Miss Havisham di Great Expectations, atau Fagin di Oliver Twist. Saya secara pribadi tidak setuju, setelah membaca buku ini sampai akhir dan mengalami “gema” di akhir cerita yang disebabkan tokoh yang bernama Sydney Carton. Bagi saya, A Tale of Two Cities akan selalu menjadi salah satu karya sastra yang akan terus saya kenang.
Resensi Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) ini diposting dalam rangka merayakan HUT ke-200 Charles Dickens yang jatuh tepat pada hari ini, 7 Februari 2012.
Happy Birthday, Charles Dickens!
Senang rasanya bisa menikmati karyamu yang bunyinya masih terdengar bahkan setelah 200 tahun berlalu!
***
Detail buku:
“Kisah Dua Kota” (judul asli: “A Tale of Two Cities”), oleh Charles Dickens
576 halaman, diterbitkan Oktober 2010 oleh Elex Media Komputindo
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥






























