Blog Archives

[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part II & Conclusion

# Conclusion in English at the bottom of the post #

Melanjutkan review Petualangan Sherlock Holmes, Part I, inilah bagian yang kedua. :)

7. Batu Delima Biru (judul asli: The Adventure of the Blue Carbuncle)

Dalam cerpen ini kita diajak mengikuti petualangan sang detektif pada hari sesudah Natal. Dikisahkan bahwa Peterson, seorang petugas antar barang yang jujur, pada pukul empat pagi hari Natal, menyaksikan seorang pria yang dihadang sekelompok pemuda berandalan. Pria itu lalu kabur, dan meninggalkan begitu saja seekor bebek putih yang tadi dipanggulnya. “Bebek Natal” itu kemudian diambil oleh Peterson berikut topi penyok pria itu, yang kemudian jatuh ke tangan Sherlock Holmes. Dari serangkaian kejadian dan barang bukti yang tampaknya sepele, Holmes menganalisis topi penyok itu untuk mendapatkan gambaran tentang pemiliknya, dan melacak asal-usul si bebek sampai ke penjual dan penyuplainya. Ternyata memang si bebek menyimpan “harta terpendam”, secara harafiah.

 

8. Lilitan Bintik-bintik (judul asli: The Adventure of the Speckled Band)

Inilah  cerita paling menegangkan dari semua cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes. Helen Stoner muda datang kepada Sherlock Holmes pada suatu pagi, dalam keadaan penuh teror dan ketakutan. Miss Stoner mengaku tinggal di Stoke Moran, Surrey, bersama dengan ayah tirinya, Dr. Grimesby Roylott. Ia ketakutan, karena malam sebelumnya, suatu peristiwa yang terjadi sesaat sebelum kematian saudara kembarnya terjadi lagi. Ia takut bahwa ia akan mengalami nasib yang sama, mati secara misterius! Bagaimanakah Sherlock Holmes memecahkan kasus ini? Baca saja dalam cerpen yang menurut saya adalah cerpen terbaik dalam kumcer ini!

 

9. Ibu Jari Sang Insinyur (judul asli: The Adventure of the Engineer’s Thumb)

Orang bisa saja mengalami berbagai kejadian aneh, tapi berapa orang yang mengalami petualangan sehubungan dengan ibu jarinya? Seorang insinyur hidrolik muda bernama Mr. Victor Hatherley mengalaminya. Sebuah tawaran pekerjaan yang ringan, tapi dengan bayaran tinggi dari seorang Kolonel Lysander Stark membawanya ke sebuah wilayah terpencil dekat Reading. Victor tak menyangka kalau nantinya ia akan mengalami peristiwa menegangkan yang melibatkan beberapa orang Jerman dan membuatnya harus kehilangan ibu jarinya. Dalam cerpen yang satu ini Conan Doyle banyak menggunakan istilah teknik berkenaan dengan bidang pekerjaan seorang insinyur hidrolik, yang membuat orang non-teknik seperti saya mengerutkan dahi membacanya…

 

10. Bangsawan Muda (judul asli: The Adventure of the Noble Bachelor)

Lord St. Simon yang malang! Istrinya yang cantik tiba-tiba menghilang saat jamuan makan tepat setelah upacara pernikahan! Sang bangsawan meminta pertolongan Sherlock Holmes untuk menemukan istrinya, dan menyampaikan bahwa istrinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mau kabur sebelum pernikahan. Hanya saja, ia sempat gugup dan menjatuhkan buket bunganya saat berjalan keluar dari altar setelah upacara pemberkatan di gereja. Peristiwa yang nampaknya misterius ini ternyata pemecahannya sederhana saja.

 11. Tiara Bertatahkan Permata Hijau (judul asli: The Adventure of the Beryl Coronet)

Klien Sherlock Holmes kali ini adalah seorang bankir dari salah satu bank swasta paling ternama di London, Mr. Alexander Holder dari Holder & Stevenson Bank. Mr. Holder baru saja memberikan pinjaman sebesar 50.000 pound kepada seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Jaminannya adalah benda yang nilainya jauh melebihi nilai pinjaman, yaitu sebuah tiara bertatahkan 39 buah permata hijau. Merasa terbeban karena dititipi benda yang merupakan kekayaan negara, Mr. Holder menyimpan tiara itu dengan ekstra hati-hati dan bersikap ekstra waspada. Namun malang, tiara itu berhasil dicuri juga! Tersangka utama adalah putra Mr. Holder sendiri, Arthur. Sementara itu, Sherlock Holmes yang sedang melakukan penyelidikan, tidak sampai pada keyakinan bahwa Arthurlah pelakunya. Arthur yang malang telah dijebak…

 

12. Petualangan di Copper Beeches (judul asli: The Adventure of the Copper Beeches)

Cerpen yang dibuka dengan cukup menarik dengan perdebatan antara Holmes-Watson ini berkisah tentang Miss Violet Hunter yang ingin berkonsultasi dengan Sherlock Holmes mengenai apakah sebaiknya ia menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Kedengarannya sepele sekali, bukan? Tapi ternyata tidak. Violet menemukan banyak keanehan saat ia mulai bekerja di kediaman Mr. Jephro Rucastle, dan belum menyadari bahwa ia terlibat suatu persekongkolan licik. Namun pada waktunya ia akan tahu.

***

Itulah kedua belas cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes (baca review bagian pertama). Kumcer ini merupakan buku Sherlock Holmes yang pertama kali saya baca, dan secara umum kumcer ini menarik, terutama karena kecemerlangan metode deduksi Sherlock Holmes dan perhatiannya terhadap detail. Kadang-kadang karakter Holmes tampak terlalu sempurna bagi saya, karena sepertinya tidak ada misteri yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Kegagalan yang jarang sekali terjadi tampak dalam cerpen pertama dalam kumcer ini, Skandal di Bohemia. Cerpen favorit saya tetap jatuh pada Lima Butir Biji Jeruk (cerpen no. 5) yang berlatar belakang sejarah perkumpulan Ku Klux Klan dan Lilitan Bintik-bintik (cerpen no. 8) yang bikin deg-degan, membuat saya merasa sedang membaca karya Poe. Saya tertarik untuk membaca novel-novel Sherlock Holmes dengan harapan novel-novelnya lebih dalam dan menyentuh sisi emosional sang detektif handal. Tiga bintang untuk keseluruhan kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini.

Conclusion in English:

 

I have written 2-part review for The Adventures of Sherlock Holmes (it is Petualangan Sherlock Holmes in the Indonesian translated version). Part I was written fully in Indonesian, but here in Part II I included a conclusion in English too. This is the first Sherlock Holmes I have ever read, and I found this book interesting, especially for the brilliant deductive method used by Sherlock Holmes, and his attention to tiny, seemingly meaningless details. However, sometimes I found the character Sherlock Holmes a bit beyond perfection, because it seemed that there was no case that cannot be solved by him (except A Scandal in Bohemia in this particular work). My two favorite short stories in this work go to The Five Orange Pips with its background history of Ku Klux Klan extremist organization and the gripping The Adventure of the Speckled Band that made me felt like I was reading Poe. I want to read Sherlock Holmes’ novels too, with hope that they would be deeper and more emotional. I gave three out of five stars for The Adventures of Sherlock Holmes.

Detail buku:

Petualangan Sherlock Holmes (judul asli: “The Adventures of Sherlock Holmes”), oleh Sir Arthur Conan Doyle
504 halaman, diterbitkan Maret 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] Cinta yang Hilang: Kumcer Klasik O. Henry


Cinta yang hilang. Sound so cheesy. Jujur saja, itu pemikiran pertama saya saat mengetahui tentang buku ini. Namun, setelah ‘berkenalan’ untuk pertama kalinya dengan O. Henry dalam antologi cerpen klasik Cinta Tak Pernah Mati, saya pun jadi penasaran dan akhirnya membeli kumcer ini.

Buku setebal 118 halaman ini berisi 7 cerita pendek karya O. Henry, yang bernama asli William Sydney Porter (1862-1910), sang maestro cerpen yang namanya diabadikan sebagai nama penghargaan tahunan bergengsi bagi cerpen-cerpen terbaik di Amerika Serikat; O. Henry Award.

Yang tadinya saya kira roman picisan (dari kesan pertama terhadap judul kumcer ini), ternyata adalah cerita-cerita pendek bertema cinta yang padat, penuh humor, menghibur, kadang satir dan misterius, dan selalu punya ending mengejutkan. Sama sekali bukan cerita cinta yang cengeng. Ketujuh cerpen di dalam kumcer ini ditulis O. Henry dengan menggunakan karakter dan setting yang tidak jauh-jauh dari dunia seni.

William Sydney Porter a.k.a. O. Henry

Di cerpen pembuka yang bertajuk sama dengan judul kumcer ini; Cinta yang Hilang, pembaca akan diperkenalkan dengan seorang lelaki muda yang dengan gelisah mengitari rumah-rumah di area teater di West Side. Ia sebenarnya hanya punya satu tujuan: mencari seorang gadis bernama Eloise Vashner, seorang aktris teater dan cinta sejatinya. Saat si lelaki muda akhirnya menyewa kamar di sebuah rumah, tiba-tiba ia mencium wangi tajam bunga mignonette di dalam kamar itu, bau yang menjadi ciri khas Eloise! Apakah dia sudah gila?

Cinta membuatmu rela mengorbankan hartamu yang paling berharga. Demikian juga dengan Della, yang begitu ingin memberikan hadiah yang indah di malam Natal buat suami tercinta, Jim. Padahal mereka hanyalah sepasang suami-istri yang miskin. Begitulah kisah yang disajikan cerpen kedua yang berjudul Hadiah Kejutan (judul aslinya The Gift of the Magi). Magi yang dimaksud disini adalah orang Majus yang memberi hadiah pada malam Yesus Kristus dilahirkan di dunia. Cerpen yang ini favorit saya dari keseluruhan buku, karena walaupun singkat, tapi menghangatkan hati.

Dalam cerpen ketiga berjudul Bukti Cerita, kita akan diajak mengikuti perdebatan seru dua orang kenalan lama, Westbrook yang adalah seorang redaktur majalah, dan Dawe seorang penulis fiksi. Westbrook punya teori, jika seseorang tiba-tiba dihadapkan dengan krisis emosional, ucapan yang keluar dari mulut orang itu akan kacau, namun tetap menggunakan kata-kata dalam bahasa sehari-hari. Teori Dawe sebaliknya, sebagai penulis fiksi, menurutnya seseorang akan mengucapkan kata-kata dramatis nan lebay jika dihadapkan dengan krisis emosional. Nah, yang mana dari mereka yang benar?

Semata-mata Bisnis. Dunia pertunjukan kabaret merupakan bisnis yang menguntungkan. Jadi jangan heran ketika aktor dan aktris yang terlibat dalam satu pementasan “mengikat kontrak” satu sama lain demi suksesnya pertunjukan. Itulah yang dilakukan Bob Hart dan Winona Cherry, ketika mereka terlibat dalam pementasan bertajuk “Mice Will Play” yang kemudian sukses besar. Tapi benarkah semuanya hanya semata-mata demi uang?

“Aku benar-benar takut kalau semua pertunjukan mencerminkan dunia yang sebenarnya dan semua orang adalah aktor dan aktris.”

Demikian kata narator cerpen berjudul Kenyataan adalah Sandiwara. Ia lalu menguraikan kisah cinta segitiga antara seorang perempuan bernama Helen, Frank Barry, dan John Delaney. Di hari pernikahan Helen dengan Frank, John yang gila karena cinta menghambur ke kamar Helen dan memintanya untuk kabur bersamanya. Frank yang marah besar karena melihat adegan itu kabur dan tidak kembali. Helen kemudian menjalani hidup 18 tahun tanpa suami, sampai akhirnya beberapa orang pria secara misterius muncul untuk melamar Helen. Apakah suaminya yang menghilang selama 18 tahun akhirnya kembali?

Judul cerpen selanjutnya adalah Perempuan dan Suap Menyuap. Tidak, cerpen ini tidak mendiskreditkan perempuan, malah sang penulis mengakui bahwa “Lelaki adalah masalah tersulit yang harus dihadapi perempuan.” Inti cerpen ini sebenarnya adalah seberapa jauh, atau lebih tepatnya berapa banyak uang yang bersedia dikeluarkan oleh seseorang demi terciptanya sensasi yang membuatnya terkenal. Seorang pencoleng bernama Pogue membuat kesepakatan dengan seorang wanita bernama Artemisia Blye dan Tuan Vaucross, seorang pengusaha kaya. Vaucross harus berpura-pura jatuh cinta setengah mati kepada Nona Blye kemudian mencampakkannya. Nona Blye kemudian akan mengajukan tuntutan kepada Vaucross. Semua diuntungkan, uang dan ketenaran ada di tangan. Jika saja semuanya berjalan sesuai dengan rencana.

Cerpen terakhir yang berjudul Demi Cinta dibuka dengan kalimat:

“Ketika seseorang mencintai Seni, tidak ada yang terasa membebani.”

Hidup yang dijalani Joe dan Delia Larrabee berat, namun mereka tidak mau menganggapnya sebagai beban. Joe adalah seorang pelukis dan Delia adalah penyanyi lulusan sekolah musik. Suatu hari, Delia mengatakan pada Joe bahwa ia akan memberi les musik kepada anak perempuan seorang jenderal. Beberapa hari kemudian, Joe dengan gembira mengumumkan bahwa sketsa-sketsanya dibeli seorang lelaki dari Peoria. Mereka hidup dengan cinta dan seni di setiap helaan nafas, namun pada akhirnya mereka sadar bahwa cinta jauh lebih besar daripada seni.

Empat bintang saya berikan untuk kumcer ini, karena gaya penulisan O. Henry yang khas mampu membuat saya merasa seakan terlempar ke dunia seni dan hiburan di New York pada akhir abad 19. Cerpen-cerpen O. Henry merupakan selebrasi kehidupan, sifat-sifat alami manusia, kejutan, dan tentu saja seni dan cinta. Dua hal yang mengganjal di hati saya, yang pertama adalah cover yang tidak mewakili isi buku yang bertema seni. Dengan cover seperti itu dan judul “Cinta yang Hilang”, jangan heran kalau orang mengira buku ini sebuah novel roman biasa. Kedua, salah ketik pada profil O. Henry di bagian belakang buku. Tertulis di buku ini bahwa O. Henry lahir pada tahun 1896 dan wafat 1910, sementara tahun kelahiran O. Henry yang benar adalah tahun 1862. Kesalahan ketik yang sama saya temui pada profil O. Henry di kumcer Cinta Tak Pernah Mati. Semoga penerbit bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan seperti ini, karena sungguh sayang jika sebuah buku yang bagus jadi “cacat” hanya gara-gara masalah sepele.

“Cinta yang Hilang” oleh O. Henry
118 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Penerbit Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Cinta Tak Pernah Mati: Antologi Cerpen Klasik

Kadang-kadang, pena bisa lebih tajam daripada pisau. Dan kadang-kadang, sebuah cerita pendek bisa bergaung lebih keras daripada novel setebal ratusan halaman.

Selama ini saya tidak terlalu tertarik dengan cerpen, sampai buku ini jatuh ke tangan saya. Saya baru ngeh bahwa sebuah cerpen bisa memiliki daya pikat yang kadangkala bisa melebihi sebuah novel. Dan membuat sebuah cerita yang “nendang” hanya dalam beberapa ribu kata saja, jelas bukan pekerjaan gampang! Edgar Allan Poe pernah berkata,

“Dalam cerpen tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma, harus punya fungsi, tujuan dalam komposisi keseluruhan.”

Dalam seri kumpulan cerpen klasik terbitan Serambi Ilmu Semesta yang diberi tajuk Cinta Tak Pernah Mati ini, tidak kurang dari 17 cerpen dari para maestro sastra dunia dikumpulkan. Masing-masing cerpen mengusung warna dan ciri khas dari pengarangnya mengenai satu hal yang sangat universal di dunia ini, yaitu cinta. Seperti apa jadinya jika 17 orang luar biasa ini digabungkan untuk menyuarakan cinta melalui kertas dan pena?

Kumcer ini menyentuh tema cinta dari berbagai sisi. Cinta antara sepasang kekasih, suami dan istri, ayah dan anak, Tuhan dan manusia, manusia dengan sesamanya, dan bahkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Cinta yang terang benderang membahagiakan, cinta yang ganjil, cinta yang berkorban, sampai cinta yang meremukkan hati dan jiwa, dan cinta yang membuat manusia jadi gila.

Berikut ini adalah daftar judul cerpen yang ada di dalam kumcer Cinta Tak Pernah Mati:

  1. Suatu Hari di Surga – Ryunosuke Akutagawa
  2. Cinta Tak Pernah Mati – Honoré de Balzac
  3. Ayah dan Anak – Bjornstjerne Bjornson
  4. Varka Hanya Ingin Tidur – Anton Chekov
  5. Maling yang Jujur – Fyodor Dostoevsky
  6. Kebajikan – John Galsworthy
  7. Tamu Pernikahan – O. Henry
  8. Ibunda – James Joyce
  9. Hantu Mantan Kekasih -Rudyard Kipling
  10. Bekas Luka – W. Somerset Maugham
  11. Senyum Schopenhauer – Guy de Maupassant
  12. Kucing Hitam – Edgar Allan Poe
  13. Perkawinan – August Strindberg
  14. Kesetiaan – Rabindranath Tagore
  15. Kebahagiaan – Leo Tolstoy
  16. Keberuntungan – Mark Twain
  17. Sepatu Bot – Émile Zola

Jujur saja, saya agak bingung bagaimana harus meresensi buku ini. Anda harus membacanya sendiri untuk bisa mengerti kehebatan buku ini. Anda harus mengalami sendiri ‘didongengi’ oleh 17 pengarang kenamaan seantero dunia ini. Satu hal yang membuat buku ini semakin istimewa adalah foto dan biografi singkat masing-masing pengarang yang diselipkan di akhir masing-masing cerpen.

Jika anda penasaran, maka bacalah, dan jika anda penggemar karya sastra klasik, maka koleksi anda tidak akan lengkap sebelum buku ini nangkring di rak buku anda. Dijamin anda tidak akan rugi jika memilikinya! #bukanpromosi

Cinta Tak Pernah Mati dalam angka:
227 halaman
17 cerita pendek
17 pengarang ternama yang berasal dari 9 negara dan 3 benua
4 peraih Hadiah Nobel Sastra
kumpulan cerpen klasik ke-6 yang diterbitkan oleh Penerbit Serambi
2 jempol dari saya untuk Serambi, Anton Kurnia dan Atta Verin :)

Detail buku:
“Cinta Tak Pernah Mati” oleh Ryunosuke Akutagawa, dkk
227 halaman, diterbitkan Juni 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Kisah-kisah Tengah Malam

Kisah-kisah Tengah Malam Kisah-kisah Tengah Malam by Edgar Allan Poe

My rating: 4 of 5 stars

“Mereka yang berkeliaran di lembah itu
Melihat sesuatu di balik dua jendela istana
Roh gentayangan bergerak dan berdansa
Mengikuti irama suling yang ditiup;
Di atas takhta, duduklah
Seorang penguasa istana
Gagah dan penuh kemenangan.”

“Istana Berhantu” dari Misteri Rumah Keluarga Usher (1839)

Kisah-kisah Tengah Malam yang judul aslinya adalah Tales of Mystery and Terror, adalah kumpulan tiga belas cerita pendek bertema horor gotik karya Edgar Allan Poe.

Inilah judul ketiga belas cerita pendek yang ada dalam Kisah-kisah Tengah Malam sesuai daftar isi:

  1. Gema Jantung yang Tersiksa
  2. Pesan Dalam Botol (namun di halaman cerita judul yang tercantum adalah Catatan dalam Botol)
  3. Hop-Frog
  4. Potret Seorang Gadis
  5. Mengarungi Badai Maelström
  6. Kotak Persegi Panjang
  7. Obrolan dengan Mummy
  8. Setan Merah
  9. Kucing Hitam
  10. Jurang dan Pendulum
  11. Pertanda Buruk
  12. William Wilson
  13. Misteri Rumah Keluarga Usher

Jika Anda belum pernah mengenal atau mendengar nama Edgar Allan Poe, beliau adalah seorang penulis cerita pendek, penyair, dan kritikus sastra kelahiran Boston, Amerika Serikat, yang hidup antara tahun 1809-1849 (umurnya pendek hanya 40 tahun), dan boleh disebut sebagai salah satu pelopor genre horor/misteri/teror/suspens di masanya.

Dalam Kisah-kisah Tengah Malam, pembaca akan dibawa ke dalam situasi dan tempat yang berbeda-beda; di dalam rumah tua yang seram, di atas kapal yang dilanda badai, di atas tebing curam, dalam istana raja, dan di dalam penjara yang gelap pekat.
Salah satu ciri khas Poe adalah penggunaan sudut pandang orang pertama atau “Aku” dalam setiap cerita dalam buku ini. Uniknya, hampir-hampir tak ada penjelasan mengenai “Aku” di setiap cerita. Tidak ada nama, kecuali dalam cerita pendek berjudul William Wilson ketika si “Aku” menyebut dirinya dengan nama yang sama dengan judul cerita pendek tersebut. Dalam beberapa cerita yang lain, disebutkan bahwa “Aku” memiliki istri, jadi jelaslah dalam cerita pendek itu sang tokoh utama adalah seorang laki-laki.

Ciri khas Poe yang kedua, yaitu penggambaran sedemikian rupa kondisi psikis sang tokoh utama dalam cerita, yang sarat kegilaan, dicekam ketakutan dan teror yang berkecamuk dalam jiwa dan benak. Pada cerita pertama, Gema Jantung yang Tersiksa, pembaca diajak menyelami kegilaan yang dialami sang tokoh utama, seseorang yang telah membunuh seorang tua dan menyembunyikan tubuhnya di bawah lantai kayu.
Selain itu, dari cerita-cerita yang dituturkan, kita dapat melihat betapa Poe adalah orang cerdas yang berpengetahuan luas.
Di dalam cerita Catatan Dalam Botol dan Mengarungi Badai Maelström, Poe memaparkan dengan panjang-lebar mengenai terjadinya badai yang menggulung laut. Saya pribadi berpendapat kedua cerita tersebut agak melelahkan untuk dibaca, karena panjangnya penjelasannya. Namun membaca Obrolan dengan Mummy menjadi angin segar bagi saya, karena wacana mengenai mumifikasi ras tertentu di Mesir adalah baru bagi saya.

Cerita favorit saya dari semuanya adalah Setan Merah, yang menurut saya paling menakutkan sekaligus menakjubkan. Dalam cerita ini Poe membuktikan bahwa beliau adalah benar-benar seorang master horor yang mampu membangun cerita yang membuat pembacanya tak berani menarik napas ketika membaca.

Secara keseluruhan, membaca Kisah-kisah Tengah Malam membuka jendela yang sama sekali baru bagi pembaca yang belum pernah mengecap karya Poe sebelumnya, membawa kita semua di alam yang mungkin asing, tapi sungguh menantang.
Sedikit saran saja bagi Anda yang agak penakut, walaupun judul buku ini Kisah-kisah Tengah Malam, saya tak akan menyarankan Anda untuk membacanya pada tengah malam, karena mungkin—mungkin saja, bisa timbul imajinasi liar dalam kepala Anda dan akhirnya Anda mengalami salah satu cerita horor khas Edgar Allan Poe. ;-P

View all my reviews

Softcover, 245 pages
Published December 28th 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 40,000

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers