Blog Archives

[Review] Cinta Tak Pernah Mati: Antologi Cerpen Klasik

Kadang-kadang, pena bisa lebih tajam daripada pisau. Dan kadang-kadang, sebuah cerita pendek bisa bergaung lebih keras daripada novel setebal ratusan halaman.

Selama ini saya tidak terlalu tertarik dengan cerpen, sampai buku ini jatuh ke tangan saya. Saya baru ngeh bahwa sebuah cerpen bisa memiliki daya pikat yang kadangkala bisa melebihi sebuah novel. Dan membuat sebuah cerita yang “nendang” hanya dalam beberapa ribu kata saja, jelas bukan pekerjaan gampang! Edgar Allan Poe pernah berkata,

“Dalam cerpen tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma, harus punya fungsi, tujuan dalam komposisi keseluruhan.”

Dalam seri kumpulan cerpen klasik terbitan Serambi Ilmu Semesta yang diberi tajuk Cinta Tak Pernah Mati ini, tidak kurang dari 17 cerpen dari para maestro sastra dunia dikumpulkan. Masing-masing cerpen mengusung warna dan ciri khas dari pengarangnya mengenai satu hal yang sangat universal di dunia ini, yaitu cinta. Seperti apa jadinya jika 17 orang luar biasa ini digabungkan untuk menyuarakan cinta melalui kertas dan pena?

Kumcer ini menyentuh tema cinta dari berbagai sisi. Cinta antara sepasang kekasih, suami dan istri, ayah dan anak, Tuhan dan manusia, manusia dengan sesamanya, dan bahkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Cinta yang terang benderang membahagiakan, cinta yang ganjil, cinta yang berkorban, sampai cinta yang meremukkan hati dan jiwa, dan cinta yang membuat manusia jadi gila.

Berikut ini adalah daftar judul cerpen yang ada di dalam kumcer Cinta Tak Pernah Mati:

  1. Suatu Hari di Surga – Ryunosuke Akutagawa
  2. Cinta Tak Pernah Mati – Honoré de Balzac
  3. Ayah dan Anak – Bjornstjerne Bjornson
  4. Varka Hanya Ingin Tidur – Anton Chekov
  5. Maling yang Jujur – Fyodor Dostoevsky
  6. Kebajikan – John Galsworthy
  7. Tamu Pernikahan – O. Henry
  8. Ibunda – James Joyce
  9. Hantu Mantan Kekasih -Rudyard Kipling
  10. Bekas Luka – W. Somerset Maugham
  11. Senyum Schopenhauer – Guy de Maupassant
  12. Kucing Hitam – Edgar Allan Poe
  13. Perkawinan – August Strindberg
  14. Kesetiaan – Rabindranath Tagore
  15. Kebahagiaan – Leo Tolstoy
  16. Keberuntungan – Mark Twain
  17. Sepatu Bot – Émile Zola

Jujur saja, saya agak bingung bagaimana harus meresensi buku ini. Anda harus membacanya sendiri untuk bisa mengerti kehebatan buku ini. Anda harus mengalami sendiri ‘didongengi’ oleh 17 pengarang kenamaan seantero dunia ini. Satu hal yang membuat buku ini semakin istimewa adalah foto dan biografi singkat masing-masing pengarang yang diselipkan di akhir masing-masing cerpen.

Jika anda penasaran, maka bacalah, dan jika anda penggemar karya sastra klasik, maka koleksi anda tidak akan lengkap sebelum buku ini nangkring di rak buku anda. Dijamin anda tidak akan rugi jika memilikinya! #bukanpromosi

Cinta Tak Pernah Mati dalam angka:
227 halaman
17 cerita pendek
17 pengarang ternama yang berasal dari 9 negara dan 3 benua
4 peraih Hadiah Nobel Sastra
kumpulan cerpen klasik ke-6 yang diterbitkan oleh Penerbit Serambi
2 jempol dari saya untuk Serambi, Anton Kurnia dan Atta Verin :)

Detail buku:
“Cinta Tak Pernah Mati” oleh Ryunosuke Akutagawa, dkk
227 halaman, diterbitkan Juni 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Esperanza Rising

Esperanza. Ramona. Alfonso. Hortensia. Miguel. Membaca nama-nama ini membuat saya merasa seakan kembali ke tahun 90-an di mana telenovela lagi booming-boomingnya :D

Esperanza Rising, yang sekilas ceritanya mirip A Little Princess versi Latin, memperkenalkan kita pada seorang gadis muda bernama Esperanza Ortega, anak pemilik perkebunan yang luas di Meksiko, yang belum pernah mengenal kesusahan sepanjang hidupnya. Kisah ini dirangkai dengan setting tahun 1930, sepuluh tahun setelah revolusi Meksiko, dan tahun dimulainya Depresi Besar di Amerika.

Tepat sehari sebelum ulang tahun Esperanza yang ketiga belas, terjadi musibah yang tak diharapkan dalam hidupnya. Ayahnya tercinta terbunuh oleh bandit-bandit dalam perjalanan pulang dari perkebunan. Fiesta ulang tahun yang dinanti-nantikan Esperanza lenyap sudah, digantikan duka mendalam. Dengan kematian sang pemilik perkebunan, maka kedua paman Esperanza, Tio Marco dan Tio Luis, memulai rencana busuk mereka untuk menguasai perkebunan itu. Tio Luis membujuk ibu Esperanza, Ramona, untuk menikah dengannya; sehingga Ramona, Esperanza, Abuelita (nenek Esperanza), beserta pekerja-pekerja perkebunan Sixto Ortega yang setia tidak perlu menguatirkan hidup mereka di masa mendatang. Ramona menolak lamaran Luis, kemudian rumah dan tanahnya ludes dilahap api dalam kebakaran besar.

Ramona dan Abuelita mempunyai kecurigaan kuat bahwa kebakaran itu memang direncanakan oleh Tio Luis, sebagai upaya untuk memaksa Ramona agar setuju menikah dengannya. Tak sudi menuruti ambisi licik Tio Luis, Ramona dan Esperanza akhirnya memutuskan kabur ke California, mengikuti pelayan-pelayan mereka, Alfonso, Hortensia, dan anak mereka Miguel. Di kereta menuju California mereka bertemu dengan Carmen, seorang janda dengan 8 orang anak yang baru saja ditinggal mati suaminya. Meskipun begitu, Carmen adalah seorang wanita yang kuat, dan ia berkata,

“Aku miskin, tapi aku kaya. Aku memiliki anak-anakku. Aku memiliki taman dengan bunga-bunga mawar, dan aku memiliki keyakinanku, serta kenangan akan orang-orang yang telah pergi mendahuluiku. Apa lagi yang kubutuhkan?”

Sesampainya di California mereka bekerja di suatu perkebunan milik perusahaan, bersama adik Alfonso yang bernama Juan, istrinya Josefina, serta ketiga anak mereka, Isabel serta bayi kembar Lupe dan Pepe. Sayangnya Abuelita tidak dapat ikut ke California karena sakit.

Di babak baru kehidupannya ini, Esperanza dipaksa untuk berubah dari nona muda yang kaya menjadi pekerja kasar yang miskin. Tidak ada lagi rumah yang megah dan luas, Esperanza dan ibunya harus tidur dalam pondok sempit yang diisi lima orang. Tidak ada lagi gaun-gaun yang indah dan mainan-mainan yang mewah. Ia kemudian bersahabat dengan Isabel, dan Esperanza iri kepadanya karena “…Isabel tidak memiliki apa-apa, tetapi dia juga memiliki segalanya. Esperanza menginginkan milik Isabel. Ia menginginkan begitu sedikit kekhawatiran sehingga sesuatu yang sesederhana boneka benang bisa membuatnya gembira.” Dan Esperanza rindu kepada sang ayah, yang pernah mengajarinya menempelkan telinga di tanah untuk mendengar denyut jantung bumi. Ia rindu mendengar ayahnya membisikkan kata-kata ini kepadanya;

“Aguántate tantito y la fruta caerá en tu mano” (“Tunggu beberapa saat dan buahnya akan jatuh ke tanganmu”).

Cobaan belum berhenti sampai disitu; beberapa bulan setelah pindah ke California, ibunya jatuh sakit karena infeksi yang diakibatkan oleh spora debu setelah terjadinya badai debu, dan juga karena depresi. Inilah saat bagi Esperanza mengambil alih tanggung jawab atas dirinya dan ibunya, dengan bekerja keras untuk membiayai pengobatan ibunya, dan sekaligus menabung untuk ongkos perjalanan Abuelita ke California untuk bisa bersama-sama dengan mereka lagi. Esperanza pun akhirnya paham, bahwa kehidupan itu naik turun, seperti alur zigzag pada selimut Abuelita: ada kalanya naik ke puncak gunung, ada kalanya turun ke lembah. Dan pada saat ia gagal, ia mengingat perkataan Abuelita: jangan takut untuk memulai lagi dari awal.

###

Novel indah yang ditulis Pam Munoz Ryan ini menceritakan riwayat neneknya, Esperanza Ortega. Buku ini unik karena setiap bab diberi judul buah-buahan, misalnya Las Uvas (buah-buah anggur), Las Papayas (buah-buah pepaya), Los Melones (buah-buah melon), dan sebagainya. Selain itu ada resep untuk membuat Jamaica Flower Punch dan cara membuat boneka benang di akhir buku. Nilai moral yang berharga terkandung di dalam buku ini sehingga saya merekomendasikan buku ini terutama kepada para remaja, sesuai segmen yang disasar Penerbit Atria. Terjemahan yang baik, cover yang manis (lebih manis daripada cover aslinya, walaupun hampir sama), dan banyaknya kutipan-kutipan indah nan bijak, membuat buku ini pantas dimasukkan dalam wishlist.

Detail buku:
“Esperanza Rising” oleh Pam Munoz Ryan
238 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] A Golden Web: Tidak Ada Kata Menyerah bagi Alessandra!

Malang benar nasib para perempuan yang hidup di Italia pada awal abad keempat belas. Hanya ada dua pilihan hidup bagi mereka: kalau tidak menjadi seorang istri, berarti menjadi biarawati. Kalaupun bekerja, paling-paling sebagai pelayan. Setiap perempuan yang menunjukkan kemampuan di bidang lainnya misalnya dalam bidang medis, hukum, dan sastra (yang di masa itu hanya dikuasai kaum lelaki), dianggap sebagai penyihir dan terancam menemui ajal di tiang pembakaran.

Namun Alessandra Giliani, putri seorang pengusaha percetakan di Persiceto, Italia, yang dikaruniai otak cemerlang, bukanlah seorang perempuan biasa. Ia telah membaca semua buku di perpustakaan ayahnya tapi tetap ingin untuk belajar lebih banyak hal lagi. Peristiwa kematian ibunya setelah melahirkan adik bungsunya memicu hasrat menggebu di hati Alessandra untuk menuntut ilmu kedokteran di universitas Bologna, yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan, karena menjadi mahasiswa adalah “haram” bagi seorang perempuan di masa itu.

Mengapa Tuhan memberinya hasrat dan benak yang selalu bertanya-tanya jika Tuhan tidak menghendaki dia menggunakannya?
Mengapa dunia dan seluruh Alam terhampar bagaikan sebuah buku terbuka, menunggu untuk dibaca dan dipahami, jika sang Pencipta tidak menginginkannya mengungkap rahasia-rahasia dan memahami kebijaksanaan di dalamnya?

Pada usia lima belas tahun, Alessandra dikirim ke biara oleh Ursula, ibu tirinya, untuk disiapkan menjadi seorang istri. Alessandra merana karena merasa terkucil di biara suram itu, dan ia ogah menikah karena masih bermimpi pergi ke Bologna untuk belajar anatomi tubuh manusia. Dan juga ia sama sekali tidak tahu menahu dengan siapa ia dijodohkan, bisa saja dengan seorang pria tua botak, begitu pikirnya dengan jijik.

Suatu hari di biara, Alessandra menerima pesan untuk kembali ke rumahnya di Persiceto. Ia tahu bahwa ini berarti pernikahan akan segera dilangsungkan. Namun alih-alih pulang ke rumah dan menjadi pengantin, ia malah melarikan diri ke Bologna dan menyamar menjadi seorang pemuda untuk mewujudkan mimpinya menjadi mahasiswa kedokteran. Beruntung bagi Alessandra karena memiliki Nicco, kakak lelaki yang sangat menyayangi dan memahaminya. Berkat bantuan Nicco dan Giorgio, seorang karyawan percetakan ayahnya, rencana nekat Alessandra dapat terwujud.

Selanjutnya Alessandra dikenal sebagai Sandro, dan kepandaiannya yang menonjol dengan cepat membuatnya menjadi salah satu mahasiswa paling ternama di universitas, walaupun dianggap kemayu (mirip perempuan) oleh teman-temannya. Pada masa itu, lazim untuk beberapa mahasiswa yang paling menonjol untuk mendapat kehormatan tinggal di rumah dosen yang mengajar mereka. Seorang dokter terkenal bernama Mondino de’ Liuzzi memberikan privilese itu kepada tiga orang mahasiswa yaitu Bene, Otto Agenio, serta Sandro sendiri. Bene adalah seorang pemuda miskin yang beruntung bisa menjadi mahasiswa di Bologna dengan dibiayai hasil patungan orang-orang di desanya.  Sedangkan Otto adalah seorang pemuda kaya yang tampan dan berkepribadian hangat. Bene secara tak sengaja mengetahui rahasia Sandro dan mengancam akan membongkarnya, namun segera dicegah Sandro dengan suap; sedangkan Otto sudah menaruh perhatian kepada Sandro dari pertama kali mereka bertemu. Alessandra – dibalik topeng Sandro – merasakan jantungnya berdebar-debar setiap kali berdekatan dengan Otto. Semua ini membuat Alessandra bingung setengah mati. Ia takut Bene suatu saat akan membongkar rahasianya. Dan bagaimana mungkin ia dapat memiliki suatu hubungan romantis dalam keadaan seperti yang sedang dijalaninya ini? Bagaimana pula dengan keluarganya yang belum mengetahui rahasia nekatnya, dan apa yang terjadi dengan tunangan yang telah dipilih oleh ayahnya untuk Alessandra?

###

A Golden Web adalah sebuah novel yang berusaha menghidupkan kembali sosok Alessandra Giliani, ahli anatomi perempuan pertama yang pernah hidup di Italia pada awal abad ke-14. Semasa hidupnya Alessandra tak mau menyerah pada keadaan dan terus berjuang mewujudkan impiannya, walaupun akhirnya ia tak mempunyai banyak waktu untuk menikmati hidupnya karena kelelahan bekerja membuatnya meninggal pada usia 19 tahun.

Sang penulis, Barbara Quick, menulis novel tentang Alessandra Giliani setelah menemukan sekelumit informasi tentangnya secara tak sengaja, saat sedang meneliti kehidupan dan hasil karya seorang ahli anatomi perempuan lain yang hidup pada abad ke-18. Selanjutnya, penulis melakukan riset mengenai kehidupan dan tatanan sosial yang berlaku pada abad ke-14, dan hasilnya, Alessandra dan tokoh-tokoh lainnya menjadi hidup dalam novel yang merupakan gabungan antara fiksi, sejarah, drama, dan romansa ini.

Saya secara pribadi menyukai buku ini karena mengenalkan sosok yang sebelumnya belum pernah dikenal dunia, nilai-nilai yang dapat diambil dari kegigihan Alessandra dalam meraih cita-citanya, dan juga kemauannya untuk bekerja keras dalam bidangnya, membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang setara dengan laki-laki.

Detail buku:
“A Golden Web”, oleh Barbara Quick
272 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada: Kumcer Klasik Leo Tolstoy

”Tidak pernah akan ada saat di mana orang tidak perlu saling mengasihi.”

- 1 Korintus 13:8, terjemahan Bahasa Indonesia sehari-hari

***

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang mencintai, karena Tuhan sendiri adalah pribadi yang penuh dengan cinta. Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, demikian judul kumpulan cerita pendek karya Leo Tolstoy ini. Melalui lima cerpen karyanya, pembaca akan diajak merenungkan apakah hidup mereka telah diisi dengan cinta tanpa pamrih kepada sesama.

Tuhan Akan Bertamu ke Rumahku!

Martin Avdeich adalah tokoh utama dalam cerpen pertama yang berjudul sama dengan buku ini. Martin adalah seorang pengrajin sepatu yang telah ditinggal mati oleh istrinya, dan begitu pula anak-anak mereka tidak ada yang bertahan hidup, kecuali seorang bocah lelaki yang dipanggilnya Kapiton. Ketika Kapiton jatuh sakit dan akhirnya juga meninggal dunia, Martin terpuruk dalam keputusasaan dan meninggalkan Tuhan.
Sejak kedatangan tamu seorang biarawan yang menasihatinya untuk hidup bagi Tuhan, hidup Martin pun berubah, ia mulai rajin membaca Kitab Suci dan menjadi seorang pribadi yang menyenangkan.
Suatu malam Martin bermimpi mendengar Tuhan berbicara bahwa Ia akan bertamu ke rumah Martin. Keesokan harinya, dengan hati berdebar-debar ia menanti di tokonya. Ternyata yang muncul adalah seorang lelaki tua yang kedinginan, seorang perempuan yang menggendong anaknya, dan seorang perempuan tua penjual apel. Lalu dimana Tuhan yang begitu dinantikan oleh Martin? Pada akhirnya Martin pun memahami bahwa Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada.

Aku Mengampuni Engkau

Cerpen kedua yang berjudul Tuhan Tahu, tapi Menunggu bercerita tentang seorang saudagar muda bernama Aksionov, yang difitnah melakukan pembunuhan kepada seorang temannya. Aksionov dihukum dera atas kejahatan yang tak dilakukannya itu, kemudian selama dua puluh enam tahun ia menjalani kerja paksa di Siberia. Di penjara ia bertemu dengan pelaku pembunuhan temannya yang sebenarnya. Dan ia pun dihadapkan kepada pilihan untuk mengampuni orang itu atau tidak.

Haus akan Ajaran Tuhan

Perjalanan seorang uskup yang hendak berlayar ke suatu biara yang jauh mengawali cerpen ketiga yang berjudul Tiga Pertapa. Ketika sedang berlayar sang uskup mendengar cerita tentang keberadaan tiga orang pertapa yang tinggal di pulau tidak bernama. Sang uskup pun turun di pulau tersebut dan mengajarkan doa dan pemahaman tentang Kitab Suci kepada tiga lelaki tua yang bijaksana itu.

Hati yang Rela Berkorban demi Orang Lain

Cerpen keempat dan terpanjang di dalam buku ini berjudul Majikan dan Pelayan. Cerpen ini mengisahkan perjalanan seorang pedagang bernama Vasili dengan pelayannya, Nikita, pada suatu malam berbadai salju. Vasili yang aslinya seorang yang berwatak egois dan hanya memikirkan soal keuntungan yang bisa didapatnya lewat berdagang, tersentuh akan kesungguhan yang ditunjukkan pelayannya dalam menyertai sang majikan dalam perjalanan yang dapat membawa maut bagi mereka berdua. Di akhir dari perjalanan itu hanya seorang dari antara mereka berdua yang hidup, sementara yang satunya rela melepaskan hidupnya supaya rekannya tidak mati.

Apalah Arti Ibadahmu?

Dua Lelaki Tua adalah cerpen kelima dan terakhir di dalam buku ini, yang bercerita tentang Efim dan Elisha, dua orang lelaki tua yang bersahabat dan hendak pergi berziarah ke kota suci Yerusalem. Di perjalanan menuju Yerusalem, mereka sampai di suatu daerah yang terkena wabah penyakit dan penduduknya hanya tinggal menunggu maut. Elisha yang awalnya hanya hendak minta air kepada mereka, digerakkan oleh rasa belas kasihan dan membantu orang-orang itu, dengan pikiran bahwa ia bisa segera menyusul Efim. Namun kemudian ia bertanya pada dirinya sendiri, ”Apa gunanya menyeberang lautan untuk mencari Tuhan, bila selama itu aku kehilangan kebenaran yang ada di dalam diriku?” Elisha tinggal beberapa hari di situ dan berbuat lebih banyak lagi untuk orang-orang itu, sehingga ia tidak lagi menyusul Efim, melainkan langsung pulang ke rumahnya dari tempat itu. Sementara itu, Efim terus melanjutkan perjalanannya dan sampai ke Yerusalem. Ia beribadah kepada Tuhan di sana dan menyangka bahwa ia melihat Elisha ada di sana, sedang beribadah kepada Tuhan sama seperti dirinya.
Sepulangnya Efim ke rumahnya, ia mendapati bahwa ternyata Elisha tidak pernah menginjakkan kaki ke Yerusalem, namun ia juga telah beribadah kepada Tuhan, dengan cara menolong sesama yang membutuhkan pertolongannya.

Cerita ini mengingatkan saya pada lagu Kidung Jemaat yang berbunyi demikian:

“Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada rela sujud dan sungkur?
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada hati tulus dan syukur.
Ibadah sejati jadikanlah persembahan. Ibadah sejati kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan, jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.”

###

Itulah kelima cerita pendek yang tertuang di dalam Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada, kumpulan cerpen terbaik karya sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoy (1828-1910), yang dikenal lewat dua karyanya yang dahsyat, War and Peace (1863) dan Anna Karenina (1873). Buah tulisannya sederhana, namun sarat nilai-nilai religius dan moral yang membawa pembacanya pada perenungan diri sebagai ciptaan Tuhan yang diciptakan untuk mengasihi dan melakukan pekerjaan baik hingga akhir hayat.

Detail buku:

“Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada” oleh Leo Tolstoy
197 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya


Ternyata memang ada beberapa cerita yang melekat pada diri kita dari masa kecil dan ketika kita membacanya lagi saat sudah dewasa, perasaan yang ditimbulkan oleh cerita-cerita itu sama seperti perasaan pada waktu kita membacanya sebagai seorang anak kecil.

Jacob dan Wilhelm Grimm atau yang lebih dikenal dengan sebutan The Brothers Grimm (Grimm bersaudara) tidak mengakui diri mereka sebagai pendongeng bagi anak-anak, namun sebagai pahlawan folklor yang berjasa mengabadikan dongeng-dongeng rakyat Jerman yang disampaikan dari generasi ke generasi secara lisan dalam bentuk tertulis. Tak dapat dipungkiri jika Grimm bersaudara tidak mengumpulkan dan menerbitkan dongeng-dongeng pada masanya dan jika Kinder-und Hausmärchen atau Children’s and Household Tales (kumpulan dongeng pertama yang mereka publikasikan pada tahun 1812) tidak pernah terbit, maka mungkin sampai pada era ini kita tidak akan pernah mendengar cerita tentang Snow White, Musisi dari Bremen, Tom Ibu Jari, Hansel dan Gretel, Pangeran Katak, ataupun Rapunzel.

grimm tales
Cover Grimm’s Kinder- und Hausmärchen (1812)

Dan jika sampai saat ini kita sudah membaca, mendengar, atau menonton berbagai versi dari dongeng-dongeng Grimm, maka melalui buku ini kita dapat mengetahui bagaimana cerita dalam versi aslinya.

Buku “Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya” besutan Penerbit Atria berisi 19 dongeng, antara lain:

1. Musisi dari Bremen
2. Teka-teki
3. Tom Ibu Jari
4. Briar Rose
5. Dua Belas Putri yang Menari
6. Pengantin Perampok
7. Ratu Lebah
8. Raja Janggut-Mengerikan
9. Peri Pembuat Sepatu
10. Aschenputtel
11. Hansel dan Gretel
12. Serigala dan Tujuh Kambing Kecil
13. Pangeran Katak
14. Frau Holle
15. Rumpelstiltskin
16. Tiga Pemintal
17. Gadis Angsa
18. Rapunzel
19. Snow-white

Buku ini seakan menjadi jawaban bagi penikmat buku yang ingin memiliki kumpulan dongeng dengan harga yang terjangkau. Karena sejauh pengamatan saya, buku kumpulan dongeng biasanya terbuat dari kertas tebal yang berat dan full color, sehingga harganya pun menjadi selangit. Tampilan fisik Hansel dan Gretel versi Atria menurut saya cukup cocok bagi pembaca anak-anak, dengan ilustrasi-ilustrasi hitam putih cantik yang dikemas secara modern di dalamnya akan semakin memanjakan mereka ketika menikmati buku ini. Sedangkan bagi pembaca remaja dan dewasa, buku ini dapat menjadi koleksi yang berharga, karena setiap dongeng dalam buku ini adalah cerita versi asli dari Grimm bersaudara yang telah diterjemahkan dengan baik ke dalam bahasa Indonesia.

Namun ada beberapa kekurangan dan hal yang mengganjal bagi saya tentang buku ini, antara lain:

  1. Tidak adanya daftar isi. Rasanya sudah sepatutnya, sebuah buku kumpulan cerita (kumcer) menyertakan daftar isi di bagian awal buku. Absennya daftar isi ini cukup menyusahkan pembaca jika ingin langsung skip membaca cerita/dongeng tertentu di dalam buku.
  2. Castle, di dalam buku ini diterjemahkan menjadi kastel. Sungguh kata yang aneh, meskipun kata ini memang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mengapa tidak menggunakan kata kastil saja, atau lebih baik lagi, istana.
  3. Pada hal. 126 dalam cerita Frau Holle, ada kalimat yang berbunyi, “Hatta, Frau Holle memegang tangannya dan menuntunnya ke sebuah gerbang”. Nah lho, apa lagi artinya “Hatta” ini?

Namun demikian, kerja keras Penerbit Atria untuk menghidupkan kembali dongeng-dongeng Grimm versi asli untuk dinikmati dalam bahasa Indonesia patut diapresiasi, karena itu saya memberikan 4 bintang untuk buku ini.

Dongeng-dongeng Grimm lainnya bisa dinikmati lewat berbagai situs di dunia maya, ini salah satunya yang menarik: http://www.nationalgeographic.com/grimm/

Detail buku:

“Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya”, oleh Grimm Bersaudara
192 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Tuck Everlasting

Bagaimana jika kau bisa hidup selamanya?

Pada minggu pertama bulan Agustus yang panas itu, serangkaian kejadian yang tampaknya tak saling berhubungan terjadi. Pada pagi hari Mae Tuck pergi dengan kudanya ke hutan di sisi Desa Treegap untuk menemui kedua anaknya. Siangnya, Winnie Foster, anak pemilik hutan Treegap bosan dengan hidupnya yang serba teratur, berpikir untuk melarikan diri. Sore harinya, seorang pria asing datang ke rumah keluarga Foster dengan maksud tertentu di benaknya.

Winnie Foster, anak perempuan keluarga Foster yang berusia sepuluh tahun, mengalami hari yang paling tidak terduga sepanjang hidupnya. Ia memasuki hutan Treegap dan melihat seorang pemuda tampan minum dari mata air yang tersembunyi di dekat sebuah pohon besar di pusat hutan itu. Pemuda yang ditemuinya bernama Jesse Tuck, dan Winnie langsung jatuh hati kepadanya. Dan ternyata, Jesse beserta ayah, ibu dan kakaknya telah hidup selama delapan puluh tujuh tahun tanpa menua barang semenit pun!

Keluarga Tuck pun menculik Winnie, namun mereka tidak berniat menyakitinya, hanya untuk memberikan penjelasan padanya bahwa tidak ada seorang pun yang boleh tahu keberadaan mata air keabadian itu. Di saat yang sama, pria asing yang datang ke kediaman keluarga Tuck menawarkan diri untuk menyelamatkan Winnie dari cengkeraman para penculik dan meminta hutan Treegap yang dimiliki keluarga Foster sebagai gantinya.

Winnie harus memilih. Ia harus memilih antara keluarganya sendiri dengan keluarga Tuck yang juga ia kasihi, terutama Jesse. Ia harus memilih antara membiarkan keberadaan mata air itu diketahui—dan dimanfaatkan, atau berjuang untuk menutup rapat-rapat rahasia itu, tidak peduli sebesar apapun harga yang harus dibayar.

###

Buku tipis yang ditulis dengan apik ini mungkin singkat, namun memiliki makna yang sangat bagus. Buku ini menyadarkan kita, bahwa hidup selamanya itu tak selamanya enak, seperti yang dipikirkan oleh banyak orang. Segala sesuatunya di dunia ini diciptakan Tuhan untuk mengecap kehidupan, dan kemudian mati, semua pada waktu dan perencanaan-Nya yang sempurna.

Tuck Everlasting pernah difilmkan pada tahun 2002 dengan bintang Alexis Bledel (Gilmore Girls) dan Jonathan Jackson. Saya tidak tahu apakah versi filmnya setia pada bukunya karena saya belum pernah menontonnya :)

Detail buku:
“Tuck Everlasting”, oleh Natalie Babbitt
173 halaman, diterbitkan November 2010 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers