Blog Archives
[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part II & Conclusion
# Conclusion in English at the bottom of the post #
Melanjutkan review Petualangan Sherlock Holmes, Part I, inilah bagian yang kedua.
7. Batu Delima Biru (judul asli: The Adventure of the Blue Carbuncle)
Dalam cerpen ini kita diajak mengikuti petualangan sang detektif pada hari sesudah Natal. Dikisahkan bahwa Peterson, seorang petugas antar barang yang jujur, pada pukul empat pagi hari Natal, menyaksikan seorang pria yang dihadang sekelompok pemuda berandalan. Pria itu lalu kabur, dan meninggalkan begitu saja seekor bebek putih yang tadi dipanggulnya. “Bebek Natal” itu kemudian diambil oleh Peterson berikut topi penyok pria itu, yang kemudian jatuh ke tangan Sherlock Holmes. Dari serangkaian kejadian dan barang bukti yang tampaknya sepele, Holmes menganalisis topi penyok itu untuk mendapatkan gambaran tentang pemiliknya, dan melacak asal-usul si bebek sampai ke penjual dan penyuplainya. Ternyata memang si bebek menyimpan “harta terpendam”, secara harafiah.
8. Lilitan Bintik-bintik (judul asli: The Adventure of the Speckled Band)
Inilah cerita paling menegangkan dari semua cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes. Helen Stoner muda datang kepada Sherlock Holmes pada suatu pagi, dalam keadaan penuh teror dan ketakutan. Miss Stoner mengaku tinggal di Stoke Moran, Surrey, bersama dengan ayah tirinya, Dr. Grimesby Roylott. Ia ketakutan, karena malam sebelumnya, suatu peristiwa yang terjadi sesaat sebelum kematian saudara kembarnya terjadi lagi. Ia takut bahwa ia akan mengalami nasib yang sama, mati secara misterius! Bagaimanakah Sherlock Holmes memecahkan kasus ini? Baca saja dalam cerpen yang menurut saya adalah cerpen terbaik dalam kumcer ini!
9. Ibu Jari Sang Insinyur (judul asli: The Adventure of the Engineer’s Thumb)
Orang bisa saja mengalami berbagai kejadian aneh, tapi berapa orang yang mengalami petualangan sehubungan dengan ibu jarinya? Seorang insinyur hidrolik muda bernama Mr. Victor Hatherley mengalaminya. Sebuah tawaran pekerjaan yang ringan, tapi dengan bayaran tinggi dari seorang Kolonel Lysander Stark membawanya ke sebuah wilayah terpencil dekat Reading. Victor tak menyangka kalau nantinya ia akan mengalami peristiwa menegangkan yang melibatkan beberapa orang Jerman dan membuatnya harus kehilangan ibu jarinya. Dalam cerpen yang satu ini Conan Doyle banyak menggunakan istilah teknik berkenaan dengan bidang pekerjaan seorang insinyur hidrolik, yang membuat orang non-teknik seperti saya mengerutkan dahi membacanya…
10. Bangsawan Muda (judul asli: The Adventure of the Noble Bachelor)
Lord St. Simon yang malang! Istrinya yang cantik tiba-tiba menghilang saat jamuan makan tepat setelah upacara pernikahan! Sang bangsawan meminta pertolongan Sherlock Holmes untuk menemukan istrinya, dan menyampaikan bahwa istrinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mau kabur sebelum pernikahan. Hanya saja, ia sempat gugup dan menjatuhkan buket bunganya saat berjalan keluar dari altar setelah upacara pemberkatan di gereja. Peristiwa yang nampaknya misterius ini ternyata pemecahannya sederhana saja.
11. Tiara Bertatahkan Permata Hijau (judul asli: The Adventure of the Beryl Coronet)
Klien Sherlock Holmes kali ini adalah seorang bankir dari salah satu bank swasta paling ternama di London, Mr. Alexander Holder dari Holder & Stevenson Bank. Mr. Holder baru saja memberikan pinjaman sebesar 50.000 pound kepada seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Jaminannya adalah benda yang nilainya jauh melebihi nilai pinjaman, yaitu sebuah tiara bertatahkan 39 buah permata hijau. Merasa terbeban karena dititipi benda yang merupakan kekayaan negara, Mr. Holder menyimpan tiara itu dengan ekstra hati-hati dan bersikap ekstra waspada. Namun malang, tiara itu berhasil dicuri juga! Tersangka utama adalah putra Mr. Holder sendiri, Arthur. Sementara itu, Sherlock Holmes yang sedang melakukan penyelidikan, tidak sampai pada keyakinan bahwa Arthurlah pelakunya. Arthur yang malang telah dijebak…
12. Petualangan di Copper Beeches (judul asli: The Adventure of the Copper Beeches)
Cerpen yang dibuka dengan cukup menarik dengan perdebatan antara Holmes-Watson ini berkisah tentang Miss Violet Hunter yang ingin berkonsultasi dengan Sherlock Holmes mengenai apakah sebaiknya ia menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Kedengarannya sepele sekali, bukan? Tapi ternyata tidak. Violet menemukan banyak keanehan saat ia mulai bekerja di kediaman Mr. Jephro Rucastle, dan belum menyadari bahwa ia terlibat suatu persekongkolan licik. Namun pada waktunya ia akan tahu.
***
Itulah kedua belas cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes (baca review bagian pertama). Kumcer ini merupakan buku Sherlock Holmes yang pertama kali saya baca, dan secara umum kumcer ini menarik, terutama karena kecemerlangan metode deduksi Sherlock Holmes dan perhatiannya terhadap detail. Kadang-kadang karakter Holmes tampak terlalu sempurna bagi saya, karena sepertinya tidak ada misteri yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Kegagalan yang jarang sekali terjadi tampak dalam cerpen pertama dalam kumcer ini, Skandal di Bohemia. Cerpen favorit saya tetap jatuh pada Lima Butir Biji Jeruk (cerpen no. 5) yang berlatar belakang sejarah perkumpulan Ku Klux Klan dan Lilitan Bintik-bintik (cerpen no. 8) yang bikin deg-degan, membuat saya merasa sedang membaca karya Poe. Saya tertarik untuk membaca novel-novel Sherlock Holmes dengan harapan novel-novelnya lebih dalam dan menyentuh sisi emosional sang detektif handal. Tiga bintang untuk keseluruhan kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini.
Conclusion in English:
I have written 2-part review for The Adventures of Sherlock Holmes (it is Petualangan Sherlock Holmes in the Indonesian translated version). Part I was written fully in Indonesian, but here in Part II I included a conclusion in English too. This is the first Sherlock Holmes I have ever read, and I found this book interesting, especially for the brilliant deductive method used by Sherlock Holmes, and his attention to tiny, seemingly meaningless details. However, sometimes I found the character Sherlock Holmes a bit beyond perfection, because it seemed that there was no case that cannot be solved by him (except A Scandal in Bohemia in this particular work). My two favorite short stories in this work go to The Five Orange Pips with its background history of Ku Klux Klan extremist organization and the gripping The Adventure of the Speckled Band that made me felt like I was reading Poe. I want to read Sherlock Holmes’ novels too, with hope that they would be deeper and more emotional. I gave three out of five stars for The Adventures of Sherlock Holmes.
Detail buku:
Petualangan Sherlock Holmes (judul asli: “The Adventures of Sherlock Holmes”), oleh Sir Arthur Conan Doyle
504 halaman, diterbitkan Maret 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] The Phantom of the Opera
# Please skip to the bottom of the post for Conclusion in English #
Bayangkan Gedung Opera Paris yang berdiri megah, dengan dua puluh lima lantai di atas permukaan tanah dan lima gudang bawah tanah. Bayangkan sosok misterius berjubah hitam yang “gentayangan” di dalam Gedung Opera, yang dikenal dengan sebutan “Hantu Opera”. Sekarang bayangkan sebuah cerita yang memuat sejarah, kisah cinta, musik, petualangan, dan sekaligus horor. Cerita yang menyajikan semua hal tadi ada dalam The Phantom of the Opera karya Gaston Leroux.
Dikemas dalam bentuk semi-reportase, sehingga feel ketika membacanya tidak seperti ketika sedang membaca sebuah novel biasa, kisah The Phantom of the Opera dibuka dengan pergantian dua manajer Gedung Opera. Monsieur Armand dan Moncharmin-lah yang kini memegang jabatan penting tersebut, dan kedua pendahulunya menasihati kedua manajer baru tersebut untuk memperhatikan permintaan-permintaan sang Hantu Opera, kalau tidak hal-hal yang buruk akan terjadi. Permintaan si hantu antara lain mengenai siapa yang memerankan karakter apa dalam pementasan opera, menyisihkan Balkon Nomor Lima baginya, dan tunjangan bulanan sebesar 20.000 franc. Sedikit saja kekeliruan dalam menyanggupi permintaan-permintaan si hantu, berarti musibah. Musibah bisa datang dalam bentuk kematian seorang staf opera dengan cara yang mengerikan, tragedi dalam pementasan di mana tiba-tiba sang biduanita mengeluarkan suara kwok-kwok-kwok seperti katak, atau jatuhnya kandelar besar yang menewaskan orang yang sialnya sedang berada di bawahnya.
Ada seorang penyanyi, gadis muda yang cantik bernama Christine Daae yang sangat diperhatikan oleh si hantu. Dengan cara-cara yang magis, si hantu memberikan pelajaran menyanyi kepada Christine, yang berbuah penampilan gemilangnya sebagai Marguerite dalam pementasan pada suatu malam. Pada malam itu juga, Vicomte Raoul de Chagny muda, yang telah mengenal Christine sejak kecil, menyaksikan bagaimana si gadis bernyanyi dengan luar biasa indahnya, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti Christine untuk memberinya ucapan selamat secara pribadi. Betapa kagetnya ia ketika berada di depan kamar ganti Christine, didengarnya Christine sedang berbicara kepada seorang pria… namun tidak ada seorangpun di dalam ruangan itu selain Christine sendiri. Di lain waktu, Raoul menyaksikan Christine menghilang ke dalam cermin besar di kamar gantinya. Peristiwa-peristiwa aneh ini membuatnya penasaran setengah mati, apalagi ketika ia mengetahui bahwa pemilik suara tanpa tubuh ini adalah sang Hantu Opera sendiri. Lebih lagi kemudian, ketika si hantu membujuk Christine supaya mencintainya, padahal Christine hanya mencintai Raoul, si hantu akhirnya menculik Christine tepat di tengah-tengah suatu pementasan. Raoul pun memutuskan untuk memburu sosok misterius yang dipanggil oleh Christine dengan sebutan “Malaikat Musik” ini.
Perburuan yang dilakukan Raoul terhadap Hantu Opera alias “Malaikat Musik” menemui titik terang ketika ia bertemu dengan Orang Persia, seorang pria yang konon mengetahui asal-usul Erik, sang Hantu Opera. Petualangan Raoul dan si orang Persia dimulai dengan menyusuri ruang-ruang bawah tanah Gedung Opera, sampai ke rumah di samping telaga milik Erik dan sempat terperangkap dalam Bilik Penyiksaan yang mengerikan. Pada bagian cerita yang ini ketegangan dibangun oleh pengarang dengan sangat intens. Berhasilkah Raoul menyelamatkan Christine, ataukah ia harus mati di dalam Bilik Penyiksaan bersama si Orang Persia? Lalu siapa sesungguhnya sang Hantu Opera?
***
Membaca karya ini menimbulkan sensasi yang agak berbeda daripada ketika membaca karya-karya klasik lain. Di satu sisi, cara pengarang menggambarkan musik dan cinta antara Raoul-Christine terasa begitu magis dan menyentuh, namun di sisi lain penggambaran sosok Erik begitu mengerikan dan brutal. Belum lagi fakta-fakta yang dijabarkan di sepanjang karya ini. Pada akhir cerita, saya merasa tercabik antara membenci dan merasa iba terhadap tokoh Erik, yang karena rupanya yang buruk, harus menutup diri terhadap dunia dan akhirnya menjadi jahat. Sebenarnya apa yang menjadi hasratnya hanya satu dan sama dengan setiap manusia normal yang ada di dunia: untuk dicintai.
Novel gothic ini menginspirasi komposer Andrew Lloyd Webber untuk menggubah sekumpulan lagu dalam pertunjukan teater musikal The Phantom of the Opera yang pertama kali dipentaskan di West End pada tahun 1986 dan kemudian di Broadway pada tahun 1988. Pertunjukan The Phantom of the Opera ini diklaim menjadi pertunjukan yang terlama dipentaskan di Broadway dan pementasannya yang ke 10.000 berlangsung pada 11 Februari 2012 lalu. Pada tahun 2004, sutradara Joel Schumacher merilis adaptasi film dari pertunjukan ini dengan bintang Gerard Butler sebagai Erik/the Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul de Chagny. Membaca novelnya dan kemudian menonton versi filmnya memberikan kepuasan tersendiri karena yang dinikmati bukan hanya karya sastra, namun juga karya seni bercitarasa tinggi dalam bentuk musik dan sinematografi.
Conclusion in English:
Reading this piece gave an exclusively different sensation than when reading other classic literature pieces. The way the author expressed music and love between Christine and Raoul felt magical to the root, when the way Erik was expressed was so brutal and gruesome. At the end of the story, I felt torn between hating Erik for his ruthlessness and at the same time pity him, that because of his grotesque looks, he had to hide from the world, and in time became villainous. His desire was the same with every living human’s desire: to be loved. I would recommend everyone who is interested in The Phantom of the Opera to read the novel and then watch the musical (or the film adaptation of the musical). They would give a complete experience of a journey in literature, art, music, performance, and cinematography.
Detail buku:
“The Phantom of the Opera” (judul asli: “Le Fantôme de l’Opéra”), oleh Gaston Leroux
485 halaman, diterbitkan Februari 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde
Dalam jiwa setiap manusia berperang dua sisi yang berlawanan: Baik dan Jahat.
Mr. Utterson, seorang pengacara, mencium sesuatu yang ganjil mengenai Henry Jekyll, seorang dokter berusia setengah baya yang ternama dan dermawan, yang menulis dalam surat wasiatnya seperti berikut:
“… dalam hal meninggalnya Henry Jekyll, maka semua harta miliknya akan diwariskan kepada “teman dan pelindungnya Edward Hyde”; tetapi juga dalam hal apabila Dr. Jekyll menghilang atau tidak bisa dijelaskan ketidakberadaannya selama jangka waktu apa pun yang melebihi tiga bulan kalender…”
Siapakah Edward Hyde? Dr. Lanyon, salah seorang sahabat dekat Jekyll yang ditanyai oleh Mr. Utterson, mengaku tak tahu-menahu mengenai Hyde. Dahi Mr. Utterson semakin berkerut bila ia mengingat sebuah kisah aneh yang diceritakan seorang rekannya, Mr. Enfield, beberapa hari sebelumnya. Ia menceritakan tentang seorang laki-laki berperawakan kecil yang menabrak seorang anak perempuan dan kemudian ia menginjak-injak tubuh si anak perempua dan berjalan pergi dengan tenang, membiarkan si anak perempuan menjerit-jerit di tanah. Lelaki jahat ini adalah Mr. Hyde, yang digambarkan bertubuh kecil dan mengesankan bahwa dirinya mempunyai suatu kecacatan yang tak dapat dijelaskan, sesuatu yang membuat orang merasa benci dan muak terhadap dirinya.
Beberapa waktu kemudian, kota London kembali dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan terhadap seorang yang terpandang di masyarakat, Sir Danvers Carew. Keterangan saksi dan bukti yang ada menunjukkan bahwa pelakunya adalah Mr. Hyde, sementara yang menjadi tersangka raib seakan ditelan bumi. Waktu berlalu dan sementara Mr. Hyde belum juga ditemukan, Mr. Utterson menyadari bahwa ada perubahan yang terjadi pada diri Dr. Jekyll. Sang dokter yang biasanya supel dan ramah itu tiba-tiba menutup diri dan menolak menerima tamu di rumahnya. Mr. Utterson yang mengutarakan pendapatnya kepada Dr. Lanyon bahwa kemungkinan besar Jekyll sedang sakit, malah dikejutkan dengan respon Lanyon yang mengatakan bahwa ia tidak mau melihat atau mendengar apa-apa lagi mengenai Dr. Jekyll. Lanyon sendiri kelihatan tidak sehat dan akhirnya meninggal dunia beberapa minggu kemudian.
Pada suatu malam, Mr. Utterson dikejutkan oleh kunjungan mendadak Poole, kepala pelayan Dr. Jekyll, yang memintanya untuk mengikutinya ke rumah Dr. Jekyll. Dengan rasa takut dan was-was Mr. Utterson pun mengikuti Poole, dan apa yang terjadi sesudahnya menanamkan suatu kecurigaan kuat dalam benak Mr. Utterson bahwa Dr. Jekyll telah dibunuh, dan pembunuhnya masih berada di ruang kerjanya, tak lain tak bukan adalah Mr. Hyde, yang diberi akses penuh atas ruang kerja dan kamar Dr. Jekyll. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Dr. Jekyll? Lalu apa gerangan yang dilakukan si pembunuh gila di ruang kerjanya?
***
Karya Robert Louis Stevenson ini merupakan gabungan antara kisah misteri Gothic, fiksi ilmiah, dan sekaligus merupakan studi psikologis dualitas sifat manusia (the duality of human nature); yang diwujudkan di dalam kisah melalui karakter Dr. Jekyll (gabungan karakter baik dan jahat, namun lebih berat pada sisi baik), dan Mr. Hyde (mewakili sisi jahat, sama sekali tidak ada kebaikan dalam dirinya). Dalam 128 halaman versi terjemahan kisah ini, Stevenson menguraikan teka-teki mengenai Dr. Jekyll dan Mr. Hyde yang sedang diusut oleh Mr. Utterson dengan tingkat ketegangan yang cukup mendebarkan, termasuk di dalamnya pergumulan fisik dan batin yang mendera Dr. Jekyll, dan peristiwa-peristiwa menyeramkan yang terjadi dalam kegelapan dan kesuraman kota London. Kalau pun ada yang kurang, mungkin hal tersebut adalah detail eksperimen ilmiah yang dilakukan Dr. Jekyll. Terjemahannya cukup baik, walau mungkin di banyak bagian dahi pembaca dibuat berkerut akibat kalimat dengan penjelasan yang panjang-panjang. Tapi memang begitulah ciri khas literatur klasik (terutama literatur yang ditulis dalam era Victoria).
“Hari demi hari, dan dengan kedua sisi diriku, moral dan intelektual, aku, perlahan-lahan tapi pasti, semakin mendekati kebenarannya, yang pada akhirnya membuatku menjadi manusia terkutuk: bahwa manusia sesungguhnya bukanlah satu, melainkan dua.
… Sudah menjadi kutukan takdir manusia sehingga kedua aspek yang berlawanan tersebut saling terikat bersama-sama—dan oleh karenanya, di dalam rahim alam sadar, seorang manusia dengan kedua kutub kembar tersebut harus selalu berjuang untuk mengalahkan satu sama lain. Bagaimana seandainya keduanya dipisahkan?”
Dengan demikian, kesimpulan logis yang saya tarik setelah membaca buku ini (karena saya tidak punya kapabilitas cukup untuk membahasnya secara psikologis):
- Kepandaian manusia adalah berkat dari Tuhan, namun bisa menjadi kutuk ketika digunakan tidak pada tempatnya, atau dengan cara yang salah. Kejeniusan Dr. Jekyll membuatnya berangan-angan, dan kemudian mewujudkan, ide “memisahkan kedua sisi berlawanan di dalam dirinya”. Ide gila ini, tanpa bisa dihentikan lagi, kemudian membawanya ke kehancuran. So, people, it is best to use our intelligence wisely and responsibly.
- Penting bagi seorang manusia untuk mempunyai kehidupan yang seimbang. Usahakanlah bahwa “Jekyll” di dalam diri kita yang memegang kendali, dan bukannya “Hyde”. “Hyde” tidak harus hilang sama sekali dari diri kita, karena toh kita masih manusia yang punya kekuatan juga kelemahan. Yang penting adalah “Jekyll” harus bisa mengontrol “Hyde”, sehingga kehidupan kita menjadi seimbang.
Tiga bintang saya berikan untuk novel yang pendek namun menarik untuk didiskusikan ini.
Baca juga:
Playing Hyde & Seek (Eng)
Analisis Kejiwaan Dr. Jekyll dalam Novel “The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde” karya Robert Louis Stevenson, oleh Ferry Ismawan (Ind)
Detail buku:
“The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde”, oleh Robert Louis Stevenson
128 halaman, diterbitkan 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] Dongeng Ketiga Belas (The Thirteenth Tale)
Semua orang memiliki cerita. Karena cerita seperti keluarga. Kau mungkin tidak mengenal siapa mereka, atau telah kehilangan mereka, tetapi mereka tetap ada.
Kau tak bisa berkata kau tidak memiliki mereka.
Vida Winter adalah seorang penenun cerita. Semasa hidupnya ia telah melahirkan 56 buku yang semuanya laris bak kacang goreng. Cerita-cerita. Dongeng-dongeng.
Namun tak satupun cerita yang ditenunnya memberitahu pembaca kebenaran mengenai jati dirinya sendiri. Kepada para wartawan yang penasaran ia memberikan 19 versi yang berbeda-beda mengenai jati dirinya.
Siapa Vida Winter sesungguhnya tetap tertutup rapat… hingga beberapa waktu menjelang akhir hidupnya. Ingatan tentang kejadian 40 tahun silam kembali menghantuinya. Seorang pemuda, tampak seperti wartawan tak berpengalaman. Dengan raut wajah penuh tekad pemuda itu berkata,
“Ceritakan padaku yang sesungguhnya.”
Empat puluh tahun sesudah kejadian itu, Miss Winter telah siap menguntai jalinan kisah yang sesungguhnya. Ia memilih Margaret Lea, seorang penulis biografi amatir dan anak pemilik toko buku antik, untuk menuliskan biografinya. Margaret, yang tidak tertarik pada literatur kontemporer, awalnya enggan terlibat, namun setelah menemukan edisi langka salah satu buku Miss Winter dalam toko buku antik ayahnya, ia menjadi penasaran. Buku yang ada di toko ayahnya itu berjudul Tiga Belas Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan, namun tidak ada dongeng ketiga belas. Edisi-edisi buku itu yang beredar selanjutnya hanya memuat judul Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan, tanpa embel-embel Tiga Belas. Misteri Dongeng Ketiga Belas ini sama terkenalnya dengan pengarangnya sendiri.
Maka mereka pun bertemu, dan Miss Winter mulai menceritakan kisahnya. Kisah yang ia tuturkan adalah mengenai rumah Angelfield; kakeknya, George Angelfield; ibu dan pamannya, Isabelle dan Charlie Angelfield; dan terutama, mengenai dua anak kembar yang berlawanan sifat, Adeline dan Emmeline. Dan ia juga menceritakan tentang hantu yang ada di tengah-tengah keluarga Angelfield, orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan mereka, peristiwa-peristiwa yang aneh, menyedihkan, dan mengerikan yang mereka alami. Dan di penghujung cerita, akhirnya, teka-teki Dongeng Ketiga Belas pun dibukakan oleh Miss Winter.
Menyatukan kepingan-kepingan cerita yang satu persatu dituturkan Miss Winter, dengan tabir-tabir misteri yang disibakkan tentang Adeline dan Emmeline yang berperilaku ganjil; Margaret pun larut di dalamnya. Kehidupan pribadinya perlahan meredup dari dirinya dan ia tenggelam dalam cerita Miss Winter. Namun, pada waktunya, Margaret pun harus menghadapi hantunya sendiri; kesedihan yang terasa menekan di sisi tubuhnya.
###
“Tahukah kau perasaan yang muncul saat kau mulai membaca buku baru sebelum pelapis buku terakhir sempat menutup? Kau meninggalkan ide dan tema buku sebelumnya – bahkan karakter-karakternya – terperangkap di serat-serat pakaianmu, dan ketika kau membuka buku baru, semua ide, tema, dan karakter buku sebelumnya masih melekat bersamamu.”
Hanya sedikit buku yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi saya, dan Dongeng Ketiga Belas (judul asli: The Thirteenth Tale) ini adalah salah satunya.
Buku yang banyak menyebut karya-karya sastra klasik (yang menjadi favorit karakter Margaret Lea) ini adalah karya debut penulis asal Inggris, Diane Setterfield. The Thirteenth Tale meraih kesuksesan dengan meraih predikat New York Times #1 bestseller pada 8 Oktober 2006.
Cerita yang ditulis dengan gaya Gothic ini dihimpun penulis secara rapat tanpa celah, kental dengan aura yang misterius dan penuh teka-teki, namun disampaikan dengan begitu alami, tanpa terkesan mengada-ada atau melebih-lebihkan.
Jane Wood, editor-in-chief Orion, penerbit Inggris untuk The Thirteenth Tale, mengatakan bahwa, “The book marks “a return to that rich mine of storytelling that our parents loved and we loved as children. It also satisfies the appetite for narrative-driven fiction that has beginnings, middles and endings, like the great novels of the 19th century. She creates a wonderful fictional world.”
Gaya penulisan Diane Setterfield yang membius juga membuat saya berpendapat bahwa saya tidak akan bisa menikmati The Thirteenth Tale ini selain dalam bentuk buku. Terjemahannya juga digarap dengan sangat, sangat bagus. Tentu saja review saya yang singkat ini takkan mampu merangkum isi buku yang penuh subtansi ini, anda harus mencicipinya sendiri untuk mengetahui apa yang begitu istimewa dengan buku ini.
Buku yang saya dapatkan sebagai hadiah menang lomba mendongeng Vixxio Buku Gratis di FB (Thanks to Mbak Fanda Vixxio
) ini sebelumnya sudah sering saya lihat di toko buku sih, tapi entah kenapa saya nggak pernah tertarik, mungkin karena covernya yang suram ya? Tapi saya jelas lebih menyukai cover edisi terjemahannya, jika dibandingkan dengan cover edisi aslinya.
Cover edisi internasional The Thirteenth Tale
Karakter Margaret Lea membuat saya tercengang, karena si Margaret ini seorang kutu buku yang amat parah, dan ia hanya tertarik kepada literatur-literatur tua, karya-karya orang yang sudah mati. Begitu cintanya terhadap buku, si Margaret sampai bisa membaca tanpa ingat lagi kepada makanan, hari dan waktu. Bahkan, dia terang-terangan mengakui bahwa ia lebih mencintai buku daripada manusia!
Agak kaget juga ketika mendapati Jane Eyre paling banyak disebut-sebut dalam buku ini – karena saya baru saja menyelesaikan Jane Eyre akhir Februari kemarin dan buku tersebut langsung saja menghuni shelf favorites saya
. Dua hal ini – Margaret Lea dan Jane Eyre, membuat saya berkata dalam hati, “buku ini memang buat gue!” Hehehe.
Sesudah membaca buku ini saya merenung sejenak mengapa saya begitu menyukai buku-buku klasik, dan jawabannya saya tuangkan dalam tulisan singkat berikut:
“Sebagian buku di dunia ini adalah mesin waktu. Dalam kasusku, buku-buku favoritku seringkali membawaku mundur dua abad dari zaman sekarang. Abad dua puluh satu yang gemerlap, hiruk-pikuk, dan modern, untuk beberapa saat hilang, digantikan dengan abad sembilan belas.
Kehidupan yang sudah mati, lama, dan usang. Namun pernah ada kehidupan seperti itu sebelum saat ini. Itulah yang terpenting.
Lembar-lembar literatur yang ditulis orang-orang dari abad yang telah berlalu adalah harta karun. Tak penting apakah lembar-lembar itu berisi dongeng, sejarah, atau penelitian; seseorang di masa lalu telah menulisnya.”
Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Thirteenth_Tale_%28novel%29
http://www.bookbrowse.com/biographies/index.cfm?author_number=1376
Detail buku:
“Dongeng Ketiga Belas” (judul asli: The Thirteenth Tale), oleh Diane Setterfield
608 halaman, diterbitkan November 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Kisah-kisah Tengah Malam
Kisah-kisah Tengah Malam by Edgar Allan Poe
My rating: 4 of 5 stars
“Mereka yang berkeliaran di lembah itu
Melihat sesuatu di balik dua jendela istana
Roh gentayangan bergerak dan berdansa
Mengikuti irama suling yang ditiup;
Di atas takhta, duduklah
Seorang penguasa istana
Gagah dan penuh kemenangan.”
– “Istana Berhantu” dari Misteri Rumah Keluarga Usher (1839)
Kisah-kisah Tengah Malam yang judul aslinya adalah Tales of Mystery and Terror, adalah kumpulan tiga belas cerita pendek bertema horor gotik karya Edgar Allan Poe.
Inilah judul ketiga belas cerita pendek yang ada dalam Kisah-kisah Tengah Malam sesuai daftar isi:
- Gema Jantung yang Tersiksa
- Pesan Dalam Botol (namun di halaman cerita judul yang tercantum adalah Catatan dalam Botol)
- Hop-Frog
- Potret Seorang Gadis
- Mengarungi Badai Maelström
- Kotak Persegi Panjang
- Obrolan dengan Mummy
- Setan Merah
- Kucing Hitam
- Jurang dan Pendulum
- Pertanda Buruk
- William Wilson
- Misteri Rumah Keluarga Usher
Jika Anda belum pernah mengenal atau mendengar nama Edgar Allan Poe, beliau adalah seorang penulis cerita pendek, penyair, dan kritikus sastra kelahiran Boston, Amerika Serikat, yang hidup antara tahun 1809-1849 (umurnya pendek hanya 40 tahun), dan boleh disebut sebagai salah satu pelopor genre horor/misteri/teror/suspens di masanya.
Dalam Kisah-kisah Tengah Malam, pembaca akan dibawa ke dalam situasi dan tempat yang berbeda-beda; di dalam rumah tua yang seram, di atas kapal yang dilanda badai, di atas tebing curam, dalam istana raja, dan di dalam penjara yang gelap pekat.
Salah satu ciri khas Poe adalah penggunaan sudut pandang orang pertama atau “Aku” dalam setiap cerita dalam buku ini. Uniknya, hampir-hampir tak ada penjelasan mengenai “Aku” di setiap cerita. Tidak ada nama, kecuali dalam cerita pendek berjudul William Wilson ketika si “Aku” menyebut dirinya dengan nama yang sama dengan judul cerita pendek tersebut. Dalam beberapa cerita yang lain, disebutkan bahwa “Aku” memiliki istri, jadi jelaslah dalam cerita pendek itu sang tokoh utama adalah seorang laki-laki.
Ciri khas Poe yang kedua, yaitu penggambaran sedemikian rupa kondisi psikis sang tokoh utama dalam cerita, yang sarat kegilaan, dicekam ketakutan dan teror yang berkecamuk dalam jiwa dan benak. Pada cerita pertama, Gema Jantung yang Tersiksa, pembaca diajak menyelami kegilaan yang dialami sang tokoh utama, seseorang yang telah membunuh seorang tua dan menyembunyikan tubuhnya di bawah lantai kayu.
Selain itu, dari cerita-cerita yang dituturkan, kita dapat melihat betapa Poe adalah orang cerdas yang berpengetahuan luas.
Di dalam cerita Catatan Dalam Botol dan Mengarungi Badai Maelström, Poe memaparkan dengan panjang-lebar mengenai terjadinya badai yang menggulung laut. Saya pribadi berpendapat kedua cerita tersebut agak melelahkan untuk dibaca, karena panjangnya penjelasannya. Namun membaca Obrolan dengan Mummy menjadi angin segar bagi saya, karena wacana mengenai mumifikasi ras tertentu di Mesir adalah baru bagi saya.

Cerita favorit saya dari semuanya adalah Setan Merah, yang menurut saya paling menakutkan sekaligus menakjubkan. Dalam cerita ini Poe membuktikan bahwa beliau adalah benar-benar seorang master horor yang mampu membangun cerita yang membuat pembacanya tak berani menarik napas ketika membaca.
Secara keseluruhan, membaca Kisah-kisah Tengah Malam membuka jendela yang sama sekali baru bagi pembaca yang belum pernah mengecap karya Poe sebelumnya, membawa kita semua di alam yang mungkin asing, tapi sungguh menantang.
Sedikit saran saja bagi Anda yang agak penakut, walaupun judul buku ini Kisah-kisah Tengah Malam, saya tak akan menyarankan Anda untuk membacanya pada tengah malam, karena mungkin—mungkin saja, bisa timbul imajinasi liar dalam kepala Anda dan akhirnya Anda mengalami salah satu cerita horor khas Edgar Allan Poe. ;-P
Softcover, 245 pages
Published December 28th 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 40,000
[Review] Theodore Boone, Pengacara Cilik
Theodore Boone, Pengacara Cilik by John Grisham
My rating: 3 of 5 stars
Theo Boone, 13 tahun, bukan remaja biasa. Bukan, Theo bukanlah penyihir seperti Harry Potter dan bukan juga demigod seperti Percy Jackson. Dan jelas Theo bukan vampir ;P
Theo, yang pergi ke sekolah naik sepeda dan punya anjing bernama Judge, adalah putra satu-satunya pasangan suami istri yang sama-sama pengacara, ayahnya pengacara real estate dan ibunya pengacara perceraian. Theo juga mempunyai minat dan pengetahuan yang besar terhadap hukum, khususnya proses hukum pidana. Remaja mana lagi yang betah menghabiskan berjam-jam mengikuti persidangan daripada bermain bola basket atau skateboard di luar rumah? Remaja mana lagi yang bisa menjadi ”konsultan hukum gratisan” bagi teman-temannya yang bingung menghadapi masalah hukum?
Saat Theo sedang mengalami pergumulan yang biasa terjadi pada masa remaja, yaitu mengenai cewek dan cita-cita masa depan, kota tempat tinggalnya dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan seorang wanita di kompleks perumahan mewah, dan tersangka utamanya adalah suami wanita itu!
Theo, seperti (hampir) semua orang lain di Strattenburg, penasaran setengah mati dengan kasus tersebut, dan tak mau melewatkan persidangan, yang diadakan secara terbuka. Tak dinyana, Theo bertemu dengan seorang saksi rahasia dan satu-satunya, yang kesaksiannya dapat mengubah vonis yang akan dijatuhkan kepada terdakwa!
Hanya ada satu masalah, yaitu orang itu tidak mau bersaksi. Sementara si terdakwa sudah sangat dekat dengan vonis bebas, berhasilkah Theo meyakinkan si saksi untuk membeberkan semua yang ia ketahui di persidangan?
==============
”What could John Grisham write for teens?” mungkin adalah pertanyaan yang jawabannya adalah buku ini. Sudah pasti buku ini muatannya lebih “ringan” dari buku-buku John Grisham yang lain, namun bukan berarti buku ini tidak patut dibaca.
Grisham, menurut saya, sukses meramu antara kehidupan seorang remaja berikut seluk-beluknya, pengetahuan dasar mengenai proses hukum pidana di Amerika Serikat, dialog yang cerdas dan cukup lucu, dan karakter-karakter yang membuat cerita semakin hidup.
Buku ini terutama, saya rekomendasikan kepada para remaja. Mudah-mudahan melalui Theo mereka juga bisa belajar mengutamakan pendidikan, dan menumbuhkan “hasrat” belajar yang lebih menggebu. Theo tidak akan menjadi Theo jika ia sebelumnya tidak melahap buku-buku hukum, mengamati proses hukum, banyak berdiskusi dengan orang-orang yang melek hukum bukan?
==============
Buku ini kudapat dari menang kuis di toko buku online langganan… gak sia-sia deh jadi pelanggan setia hehehe.
Lihat post nya di sini!
Kebetulan kakakku juga penggemar John Grisham, dulu waktu masih belasan tahun aku juga sempat coba-coba baca The Firm, The Client, Runaway Jury, A Time to Kill, The Pelican Brief dll. Tapi dasar belum bisa dibebani buku seberat itu, jadi banyak gak selesainya deh.
Sekarang, tiba-tiba sang maestro menerbitkan novel dengan judul Pengacara Cilik. Mungkin bagi penggemar Grisham sejati buku ini hanya ditulis untuk “selingan” saja, karena begitu banyaknya karya Grisham lain yang berat dan serius.
Buatku, mungkin setelah selesai membacanya aku bisa mulai (lagi) untuk membaca karya-karya yang “John Grisham banget”.
Anyway, thanks to Vixxio for giving me this book!
Paperback, 272 pages
Published September 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published May 25th 2010)
Price IDR 42.000






















