Blog Archives

[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part II & Conclusion

# Conclusion in English at the bottom of the post #

Melanjutkan review Petualangan Sherlock Holmes, Part I, inilah bagian yang kedua. :)

7. Batu Delima Biru (judul asli: The Adventure of the Blue Carbuncle)

Dalam cerpen ini kita diajak mengikuti petualangan sang detektif pada hari sesudah Natal. Dikisahkan bahwa Peterson, seorang petugas antar barang yang jujur, pada pukul empat pagi hari Natal, menyaksikan seorang pria yang dihadang sekelompok pemuda berandalan. Pria itu lalu kabur, dan meninggalkan begitu saja seekor bebek putih yang tadi dipanggulnya. “Bebek Natal” itu kemudian diambil oleh Peterson berikut topi penyok pria itu, yang kemudian jatuh ke tangan Sherlock Holmes. Dari serangkaian kejadian dan barang bukti yang tampaknya sepele, Holmes menganalisis topi penyok itu untuk mendapatkan gambaran tentang pemiliknya, dan melacak asal-usul si bebek sampai ke penjual dan penyuplainya. Ternyata memang si bebek menyimpan “harta terpendam”, secara harafiah.

 

8. Lilitan Bintik-bintik (judul asli: The Adventure of the Speckled Band)

Inilah  cerita paling menegangkan dari semua cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes. Helen Stoner muda datang kepada Sherlock Holmes pada suatu pagi, dalam keadaan penuh teror dan ketakutan. Miss Stoner mengaku tinggal di Stoke Moran, Surrey, bersama dengan ayah tirinya, Dr. Grimesby Roylott. Ia ketakutan, karena malam sebelumnya, suatu peristiwa yang terjadi sesaat sebelum kematian saudara kembarnya terjadi lagi. Ia takut bahwa ia akan mengalami nasib yang sama, mati secara misterius! Bagaimanakah Sherlock Holmes memecahkan kasus ini? Baca saja dalam cerpen yang menurut saya adalah cerpen terbaik dalam kumcer ini!

 

9. Ibu Jari Sang Insinyur (judul asli: The Adventure of the Engineer’s Thumb)

Orang bisa saja mengalami berbagai kejadian aneh, tapi berapa orang yang mengalami petualangan sehubungan dengan ibu jarinya? Seorang insinyur hidrolik muda bernama Mr. Victor Hatherley mengalaminya. Sebuah tawaran pekerjaan yang ringan, tapi dengan bayaran tinggi dari seorang Kolonel Lysander Stark membawanya ke sebuah wilayah terpencil dekat Reading. Victor tak menyangka kalau nantinya ia akan mengalami peristiwa menegangkan yang melibatkan beberapa orang Jerman dan membuatnya harus kehilangan ibu jarinya. Dalam cerpen yang satu ini Conan Doyle banyak menggunakan istilah teknik berkenaan dengan bidang pekerjaan seorang insinyur hidrolik, yang membuat orang non-teknik seperti saya mengerutkan dahi membacanya…

 

10. Bangsawan Muda (judul asli: The Adventure of the Noble Bachelor)

Lord St. Simon yang malang! Istrinya yang cantik tiba-tiba menghilang saat jamuan makan tepat setelah upacara pernikahan! Sang bangsawan meminta pertolongan Sherlock Holmes untuk menemukan istrinya, dan menyampaikan bahwa istrinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mau kabur sebelum pernikahan. Hanya saja, ia sempat gugup dan menjatuhkan buket bunganya saat berjalan keluar dari altar setelah upacara pemberkatan di gereja. Peristiwa yang nampaknya misterius ini ternyata pemecahannya sederhana saja.

 11. Tiara Bertatahkan Permata Hijau (judul asli: The Adventure of the Beryl Coronet)

Klien Sherlock Holmes kali ini adalah seorang bankir dari salah satu bank swasta paling ternama di London, Mr. Alexander Holder dari Holder & Stevenson Bank. Mr. Holder baru saja memberikan pinjaman sebesar 50.000 pound kepada seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Jaminannya adalah benda yang nilainya jauh melebihi nilai pinjaman, yaitu sebuah tiara bertatahkan 39 buah permata hijau. Merasa terbeban karena dititipi benda yang merupakan kekayaan negara, Mr. Holder menyimpan tiara itu dengan ekstra hati-hati dan bersikap ekstra waspada. Namun malang, tiara itu berhasil dicuri juga! Tersangka utama adalah putra Mr. Holder sendiri, Arthur. Sementara itu, Sherlock Holmes yang sedang melakukan penyelidikan, tidak sampai pada keyakinan bahwa Arthurlah pelakunya. Arthur yang malang telah dijebak…

 

12. Petualangan di Copper Beeches (judul asli: The Adventure of the Copper Beeches)

Cerpen yang dibuka dengan cukup menarik dengan perdebatan antara Holmes-Watson ini berkisah tentang Miss Violet Hunter yang ingin berkonsultasi dengan Sherlock Holmes mengenai apakah sebaiknya ia menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Kedengarannya sepele sekali, bukan? Tapi ternyata tidak. Violet menemukan banyak keanehan saat ia mulai bekerja di kediaman Mr. Jephro Rucastle, dan belum menyadari bahwa ia terlibat suatu persekongkolan licik. Namun pada waktunya ia akan tahu.

***

Itulah kedua belas cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes (baca review bagian pertama). Kumcer ini merupakan buku Sherlock Holmes yang pertama kali saya baca, dan secara umum kumcer ini menarik, terutama karena kecemerlangan metode deduksi Sherlock Holmes dan perhatiannya terhadap detail. Kadang-kadang karakter Holmes tampak terlalu sempurna bagi saya, karena sepertinya tidak ada misteri yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Kegagalan yang jarang sekali terjadi tampak dalam cerpen pertama dalam kumcer ini, Skandal di Bohemia. Cerpen favorit saya tetap jatuh pada Lima Butir Biji Jeruk (cerpen no. 5) yang berlatar belakang sejarah perkumpulan Ku Klux Klan dan Lilitan Bintik-bintik (cerpen no. 8) yang bikin deg-degan, membuat saya merasa sedang membaca karya Poe. Saya tertarik untuk membaca novel-novel Sherlock Holmes dengan harapan novel-novelnya lebih dalam dan menyentuh sisi emosional sang detektif handal. Tiga bintang untuk keseluruhan kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini.

Conclusion in English:

 

I have written 2-part review for The Adventures of Sherlock Holmes (it is Petualangan Sherlock Holmes in the Indonesian translated version). Part I was written fully in Indonesian, but here in Part II I included a conclusion in English too. This is the first Sherlock Holmes I have ever read, and I found this book interesting, especially for the brilliant deductive method used by Sherlock Holmes, and his attention to tiny, seemingly meaningless details. However, sometimes I found the character Sherlock Holmes a bit beyond perfection, because it seemed that there was no case that cannot be solved by him (except A Scandal in Bohemia in this particular work). My two favorite short stories in this work go to The Five Orange Pips with its background history of Ku Klux Klan extremist organization and the gripping The Adventure of the Speckled Band that made me felt like I was reading Poe. I want to read Sherlock Holmes’ novels too, with hope that they would be deeper and more emotional. I gave three out of five stars for The Adventures of Sherlock Holmes.

Detail buku:

Petualangan Sherlock Holmes (judul asli: “The Adventures of Sherlock Holmes”), oleh Sir Arthur Conan Doyle
504 halaman, diterbitkan Maret 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part 1

Untuk pertama kalinya, review satu buku saya jadikan dua bagian. Karena kebetulan buku ini adalah kumpulan cerpen, maka tidak ada salahnya bila saya membahas satu per satu cerpen yang ada di dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini. Enam cerpen pertama dari kedua belas cerpen yang ada dalam Petualangan Sherlock Holmes inilah yang akan saya bahas dalam review bagian pertama ini.

 1. Skandal di Bohemia (judul asli: A Scandal in Bohemia)

Cerpen Sherlock Holmes pertama yang pernah diterbitkan ini membuka perkenalan pertama saya dengan Sherlock Holmes dengan cukup mulus. Melalui kacamata Watson, saya tidak hanya jadi tahu tentang reputasi dan kebiasaan-kebiasaan Holmes, tetapi juga sosok wanita yang dikaguminya. Cukup pribadi untuk perkenalan pertama, bukan? Ya, sosok wanita istimewa itu adalah Irene Adler, mantan penyanyi opera, petualang asmara, dan seorang wanita yang luar biasa cantik. Ms. Adler terlibat hubungan rahasia dengan Raja Bohemia, dan sang raja yang akan menikah, menghendaki agar bukti-bukti hubungan gelapnya dengan wanita itu direnggut dari tangan Irene. Sang raja meminta bantuan detektif kita untuk menjalankan rencana ini dan… peristiwa ini merupakan satu-satunya peristiwa di mana Sherlock Holmes dikelabui oleh seorang wanita.

 2. Kasus Identitas (judul asli: A Case of Identity)

Suatu malam, apartemen Holmes di Baker Street kedatangan seorang wanita muda yang bingung, bernama Mary Sutherland. Miss Mary mengaku bahwa tunangannya, Mr. Hosmer Angel telah menghilang tepat di hari pernikahannya dengan Mary. Adapun Mary adalah seorang wanita muda yang berpenghasilan cukup, dan ayah tirinya (yang hanya lebih tua 5 tahun dari dirinya) menentang keras hubungannya dengan Mr. Angel, sehingga pernikahan diantara Mary dan Mr. Angel harus dilaksanakan secara diam-diam. Lalu sekarang ketika sang tunangan misterius itu menghilang, apa yang harus dilakukan Mary? Sherlock Holmes membongkar misteri ini dengan cukup mudah, tanpa “merenggut angan-angan indah dari seorang gadis”; sebagaimana yang dikutipnya dari seorang penyair Persia bernama Hafiz.

 3. Perkumpulan Orang Berambut Merah (judul asli: The Adventure of the Red-Headed League)

I wonder why Ron Weasley wasn’t in this story! Hahaha. Setiap kali membaca tentang orang berambut merah menyala, mau tak mau saya teringat akan Ron Weasley. Kebetulan pengarang yang menciptakan karakter Ron dan pengarang yang menulis cerpen ini berasal dari negara yang sama. Tokoh utama berambut merah dalam cerpen ini adalah Mr. Jabez Wilson, seorang pedagang paruh baya dengan penghasilan pas-pasan yang memiliki tempat usaha di salah satu sudut kumuh kota London. Suatu hari, ia mendengar tentang lowongan yang dipasang “Perkumpulan Orang Berambut Merah” yang mencari pegawai untuk melakukan pekerjaan ringan, namun dengan gaji yang cukup besar. Asisten Mr. Wilson, Vincent Spaulding, mendorong Mr. Wilson untuk melamar pekerjaan itu, dan benar saja, dengan sangat mudah ia diterima. Ia melakukan pekerjaan untuk Perkumpulan Orang Berambut Merah untuk beberapa minggu, dengan menyalin Encyclopedia Britannica. Betapa kagetnya ia ketika suatu hari perkumpulan itu dikabarkan bubar begitu saja. Memang, Mr. Wilson tidak rugi apa-apa, karena toh ia sudah mendapatkan penghasilan tambahan untuk beberapa minggu, dan tambahan pengetahuan dari hasil menyalin ensiklopedi, namun ia tidak rela pekerjaan bagus ini hilang begitu saja, dan Sherlock Holmes pun tertarik akan kasus yang aneh ini. Benar saja, memang ada “udang di balik batu” dari perkumpulan aneh ini, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh Mr. Wilson, atau orang-orang lain.

 4. Misteri di Boscombe Valley (judul asli: The Boscombe Valley Mystery)

Seorang petani yang tinggal di daerah pedesaan di Herefordshire terbunuh dengan tangan dingin, dan tersangka utama pembunuhan ini adalah putranya sendiri. Bagaimana mungkin? Sementara semua bukti dan kesaksian menunjuk kepada si pemuda, James McCarthy muda, dan vonis hampir pasti menyatakan bahwa ia bersalah; sementara itu Sherlock Holmes kembali menyusuri tempat kejadian perkara dan menemukan fakta-fakta kecil yang bisa jadi menunjukkan bahwa bukan si pemuda pelakunya… Cerpen yang satu ini menarik karena di sini kita bisa melihat bagaimana Conan Doyle memutarbalikkan asumsi para tokoh yang beranggapan bahwa James McCarthy pasti bersalah, ternyata malah sama sekali keliru.

 5. Lima Butir Biji Jeruk (judul asli: The Five Orange Pips)

Cerpen favorit saya dari enam cerpen pertama dalam Petualangan Sherlock Holmes. Kasus yang ditangani Holmes yang satu ini benar-benar aneh dan misterius. Tiga pembunuhan yang terjadi semuanya ditandai dengan datangnya amplop berisi lima butir biji jeruk yang sudah kering, dan tulisan K.K.K. berwarna merah di bagian dalam amplop. Anehnya lagi, kematian ketiga orang tersebut tampak seperti bunuh diri atau kecelakaan, padahal sesungguhnya adalah pembunuhan. Cerpen ini memuat sejarah singkat tentang perkumpulan Ku Klux Klan yang mempunyai reputasi dan agenda yang sadis dan mengerikan. Dan walaupun endingnya menggantung, cerpen yang satu ini cukup membuat saya penasaran dan tegang karena kisahnya, dan saya jadi ingin membaca lebih banyak tentang perkumpulan Ku Klux Klan yang membuat jantung terasa dingin itu.

 6. Pria Berbibir Miring (judul asli: The Man With the Twisted Lip)

Ketika hendak menjemput Isa Whitney, suami dari teman istrinya, Dr. Watson terkaget-kaget ketika menjumpai teman baiknya, Sherlock Holmes sedang berada di dalam pondok candu yang sama dengan Mr. Whitney. Ternyata Holmes sedang menyelidiki kasus di mana seorang pria, Neville St. Clair, dilaporkan belum pulang ke rumah selama dua hari. Namun, istrinya sempat melihatnya di atas atap pondok candu, namun kemudian menghilang begitu saja seperti ditarik seseorang dari belakang. Mereka hanya menemukan sebagian pakaian Mr. St. Clair dari hasil pemeriksaan di lantai atas pondok candu itu, sementara jasnya baru ditemukan belakangan. Seorang pengemis bernama Hugh Boone tinggal di lantai atas pondok candu itu, ia mempunyai bekas luka mengerikan pada wajahnya yang menyebabkan pinggiran bibir atasnya tertarik ke atas kalau wajahnya sedang bergerak-gerak. Bagaimana keterlibatan si pengemis dalam peristiwa hilangnya Mr. St. Clair? Lalu dimanakah pria itu sebenarnya?

***

Sejauh ini, kumcer Petualangan Sherlock Holmes layak diganjar tiga bintang. Beberapa cerpen memang agak datar dan membosankan, namun beberapa lainnya berhasil memukau saya dengan cara brilian Sherlock Holmes memecahkan kasus dan perhatiannya kepada detail-detail kecil yang dianggap orang tak penting. Seandainya saya bertemu dengan Sherlock Holmes saat review ini terbit, ia pasti akan memperhatikan lingkaran hitam dibawah kedua mata saya yang menunjukkan bahwa saya sering tidur larut malam dan jari telunjuk kanan saya yang kelihatan lebih berotot daripada jari-jari yang lain karena keseringan digunakan memencet-mencet mouse; tapi saya harus berhenti menulis sekarang.

Review ini diposting bersama-sama dengan beberapa BBI-ers dalam rangka merayakan HUT Sir Arthur Conan Doyle yang ke-153 (22 Mei 1859-22 Mei 2012)

Happy birthday, Sir Arthur Conan Doyle!

Dan sampai jumpa di bagian kedua review ini! ;)

Baca juga:
Mini biografi Sir Arthur Conan Doyle
Event Baca Klasik Mei 2012: Sherlock Quest
Sherlock Classics Quest Game

[Review] The Phantom of the Opera

# Please skip to the bottom of the post for Conclusion in English #

Bayangkan Gedung Opera Paris yang berdiri megah, dengan dua puluh lima lantai di atas permukaan tanah dan lima gudang bawah tanah. Bayangkan sosok misterius berjubah hitam yang “gentayangan” di dalam Gedung Opera, yang dikenal dengan sebutan “Hantu Opera”. Sekarang bayangkan sebuah cerita yang memuat sejarah, kisah cinta, musik, petualangan, dan sekaligus horor. Cerita yang menyajikan semua hal tadi ada dalam The Phantom of the Opera karya Gaston Leroux.

Dikemas dalam bentuk semi-reportase, sehingga feel ketika membacanya tidak seperti ketika sedang membaca sebuah novel biasa, kisah The Phantom of the Opera dibuka dengan pergantian dua manajer Gedung Opera. Monsieur Armand dan Moncharmin-lah yang kini memegang jabatan penting tersebut, dan kedua pendahulunya menasihati kedua manajer baru tersebut untuk memperhatikan permintaan-permintaan sang Hantu Opera, kalau tidak hal-hal yang buruk akan terjadi. Permintaan si hantu antara lain mengenai siapa yang memerankan karakter apa dalam pementasan opera, menyisihkan Balkon Nomor Lima baginya, dan tunjangan bulanan sebesar 20.000 franc. Sedikit saja kekeliruan dalam menyanggupi permintaan-permintaan si hantu, berarti musibah. Musibah bisa datang dalam bentuk kematian seorang staf opera dengan cara yang mengerikan, tragedi dalam pementasan di mana tiba-tiba sang biduanita mengeluarkan suara kwok-kwok-kwok seperti katak, atau jatuhnya kandelar besar yang menewaskan orang yang sialnya sedang berada di bawahnya.

Ada seorang penyanyi, gadis muda yang cantik bernama Christine Daae yang sangat diperhatikan oleh si hantu. Dengan cara-cara yang magis, si hantu memberikan pelajaran menyanyi kepada Christine, yang berbuah penampilan gemilangnya sebagai Marguerite dalam pementasan pada suatu malam. Pada malam itu juga, Vicomte Raoul de Chagny muda, yang telah mengenal Christine sejak kecil, menyaksikan bagaimana si gadis bernyanyi dengan luar biasa indahnya, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti Christine untuk memberinya ucapan selamat secara pribadi. Betapa kagetnya ia ketika berada di depan kamar ganti Christine, didengarnya Christine sedang berbicara kepada seorang pria… namun tidak ada seorangpun di dalam ruangan itu selain Christine sendiri. Di lain waktu, Raoul menyaksikan Christine menghilang ke dalam cermin besar di kamar gantinya. Peristiwa-peristiwa aneh ini membuatnya penasaran setengah mati, apalagi ketika ia mengetahui bahwa pemilik suara tanpa tubuh ini adalah sang Hantu Opera sendiri. Lebih lagi kemudian, ketika si hantu membujuk Christine supaya mencintainya, padahal Christine hanya mencintai Raoul, si hantu akhirnya menculik Christine tepat di tengah-tengah suatu pementasan. Raoul pun memutuskan untuk memburu sosok misterius yang dipanggil oleh Christine dengan sebutan “Malaikat Musik” ini.

Perburuan yang dilakukan Raoul terhadap Hantu Opera alias “Malaikat Musik” menemui titik terang ketika ia bertemu dengan Orang Persia, seorang pria yang konon mengetahui asal-usul Erik, sang Hantu Opera. Petualangan Raoul dan si orang Persia dimulai dengan menyusuri ruang-ruang bawah tanah Gedung Opera, sampai ke rumah di samping telaga milik Erik dan sempat terperangkap dalam Bilik Penyiksaan yang mengerikan. Pada bagian cerita yang ini ketegangan dibangun oleh pengarang dengan sangat intens. Berhasilkah Raoul menyelamatkan Christine, ataukah ia harus mati di dalam Bilik Penyiksaan bersama si Orang Persia? Lalu siapa sesungguhnya sang Hantu Opera?

***

Membaca karya ini menimbulkan sensasi yang agak berbeda daripada ketika membaca karya-karya klasik lain. Di satu sisi, cara pengarang menggambarkan musik dan cinta antara Raoul-Christine terasa begitu magis dan menyentuh, namun di sisi lain penggambaran sosok Erik begitu mengerikan dan brutal. Belum lagi fakta-fakta yang dijabarkan di sepanjang karya ini. Pada akhir cerita, saya merasa tercabik antara membenci dan merasa iba terhadap tokoh Erik, yang karena rupanya yang buruk, harus menutup diri terhadap dunia dan akhirnya menjadi jahat. Sebenarnya apa yang menjadi hasratnya hanya satu dan sama dengan setiap manusia normal yang ada di dunia: untuk dicintai.

Novel gothic ini menginspirasi komposer Andrew Lloyd Webber untuk menggubah sekumpulan lagu dalam pertunjukan teater musikal The Phantom of the Opera yang pertama kali dipentaskan di West End pada tahun 1986 dan kemudian di Broadway pada tahun 1988. Pertunjukan The Phantom of the Opera ini diklaim menjadi pertunjukan yang terlama dipentaskan di Broadway dan pementasannya yang ke 10.000 berlangsung pada 11 Februari 2012 lalu. Pada tahun 2004, sutradara Joel Schumacher merilis adaptasi film dari pertunjukan ini dengan bintang Gerard Butler sebagai Erik/the Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul de Chagny. Membaca novelnya dan kemudian menonton versi filmnya memberikan kepuasan tersendiri karena yang dinikmati bukan hanya karya sastra, namun juga karya seni bercitarasa tinggi dalam bentuk musik dan sinematografi.

Conclusion in English:

Reading this piece gave an exclusively different sensation than when reading other classic literature pieces. The way the author expressed music and love between Christine and Raoul felt magical to the root, when the way Erik was expressed was so brutal and gruesome. At the end of the story, I felt torn between hating Erik for his ruthlessness and at the same time pity him, that because of his grotesque looks, he had to hide from the world, and in time became villainous. His desire was the same with every living human’s desire: to be loved. I would recommend everyone who is interested in The Phantom of the Opera to read the novel and then watch the musical (or the film adaptation of the musical). They would give a complete experience of a journey in literature, art, music, performance, and cinematography.

Detail buku:

“The Phantom of the Opera” (judul asli: “Le Fantôme de l’Opéra”), oleh Gaston Leroux
485 halaman, diterbitkan Februari 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde

Dalam jiwa setiap manusia berperang dua sisi yang berlawanan: Baik dan Jahat.

Mr. Utterson, seorang pengacara, mencium sesuatu yang ganjil mengenai Henry Jekyll, seorang dokter berusia setengah baya yang ternama dan dermawan, yang menulis dalam surat wasiatnya seperti berikut:

“… dalam hal meninggalnya Henry Jekyll, maka semua harta miliknya akan diwariskan kepada “teman dan pelindungnya Edward Hyde”; tetapi juga dalam hal apabila Dr. Jekyll menghilang atau tidak bisa dijelaskan ketidakberadaannya selama jangka waktu apa pun yang melebihi tiga bulan kalender…”

Siapakah Edward Hyde? Dr. Lanyon, salah seorang sahabat dekat Jekyll yang ditanyai oleh Mr. Utterson, mengaku tak tahu-menahu mengenai Hyde. Dahi Mr. Utterson semakin berkerut bila ia mengingat sebuah kisah aneh yang diceritakan seorang rekannya, Mr. Enfield, beberapa hari sebelumnya. Ia menceritakan tentang seorang laki-laki berperawakan kecil yang menabrak seorang anak perempuan dan kemudian ia menginjak-injak tubuh si anak perempua dan berjalan pergi dengan tenang, membiarkan si anak perempuan menjerit-jerit di tanah. Lelaki jahat ini adalah Mr. Hyde, yang digambarkan bertubuh kecil dan mengesankan bahwa dirinya mempunyai suatu kecacatan yang tak dapat dijelaskan, sesuatu yang membuat orang merasa benci dan muak terhadap dirinya.

Beberapa waktu kemudian, kota London kembali dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan terhadap seorang yang terpandang di masyarakat, Sir Danvers Carew. Keterangan saksi dan bukti yang ada menunjukkan bahwa pelakunya adalah Mr. Hyde, sementara yang menjadi tersangka raib seakan ditelan bumi. Waktu berlalu dan sementara Mr. Hyde belum juga ditemukan, Mr. Utterson menyadari bahwa ada perubahan yang terjadi pada diri Dr. Jekyll. Sang dokter yang biasanya supel dan ramah itu tiba-tiba menutup diri dan menolak menerima tamu di rumahnya. Mr. Utterson yang mengutarakan pendapatnya kepada Dr. Lanyon bahwa kemungkinan besar Jekyll sedang sakit, malah dikejutkan dengan respon Lanyon yang mengatakan bahwa ia tidak mau melihat atau mendengar apa-apa lagi mengenai Dr. Jekyll. Lanyon sendiri kelihatan tidak sehat dan akhirnya meninggal dunia beberapa minggu kemudian.

Pada suatu malam, Mr. Utterson dikejutkan oleh kunjungan mendadak Poole, kepala pelayan Dr. Jekyll, yang memintanya untuk mengikutinya ke rumah Dr. Jekyll. Dengan rasa takut dan was-was Mr. Utterson pun mengikuti Poole, dan apa yang terjadi sesudahnya menanamkan suatu kecurigaan kuat dalam benak Mr. Utterson bahwa Dr. Jekyll telah dibunuh, dan pembunuhnya masih berada di ruang kerjanya, tak lain tak bukan adalah Mr. Hyde, yang diberi akses penuh atas ruang kerja dan kamar Dr. Jekyll. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Dr. Jekyll? Lalu apa gerangan yang dilakukan si pembunuh gila di ruang kerjanya?

***

Karya Robert Louis Stevenson ini merupakan gabungan antara kisah misteri Gothic, fiksi ilmiah, dan sekaligus merupakan studi psikologis dualitas sifat manusia (the duality of human nature); yang diwujudkan di dalam kisah melalui karakter Dr. Jekyll (gabungan karakter baik dan jahat, namun lebih berat pada sisi baik), dan Mr. Hyde (mewakili sisi jahat, sama sekali tidak ada kebaikan dalam dirinya). Dalam 128 halaman versi terjemahan kisah ini, Stevenson menguraikan teka-teki mengenai Dr. Jekyll dan Mr. Hyde yang sedang diusut oleh Mr. Utterson dengan tingkat ketegangan yang cukup mendebarkan, termasuk di dalamnya pergumulan fisik dan batin yang mendera Dr. Jekyll, dan peristiwa-peristiwa menyeramkan yang terjadi dalam kegelapan dan kesuraman kota London. Kalau pun ada yang kurang, mungkin hal tersebut adalah detail eksperimen ilmiah yang dilakukan Dr. Jekyll. Terjemahannya cukup baik, walau mungkin di banyak bagian dahi pembaca dibuat berkerut akibat kalimat dengan penjelasan yang panjang-panjang. Tapi memang begitulah ciri khas literatur klasik (terutama literatur yang ditulis dalam era Victoria).

 

“Hari demi hari, dan dengan kedua sisi diriku, moral dan intelektual, aku, perlahan-lahan tapi pasti, semakin mendekati kebenarannya, yang pada akhirnya membuatku menjadi manusia terkutuk: bahwa manusia sesungguhnya bukanlah satu, melainkan dua.

… Sudah menjadi kutukan takdir manusia sehingga kedua aspek yang berlawanan tersebut saling terikat bersama-sama—dan oleh karenanya, di dalam rahim alam sadar, seorang manusia dengan kedua kutub kembar tersebut harus selalu berjuang untuk mengalahkan satu sama lain. Bagaimana seandainya keduanya dipisahkan?”

Dengan demikian, kesimpulan logis yang saya tarik setelah membaca buku ini (karena saya tidak punya kapabilitas cukup untuk membahasnya secara psikologis):

  • Kepandaian manusia adalah berkat dari Tuhan, namun bisa menjadi kutuk ketika digunakan tidak pada tempatnya, atau dengan cara yang salah. Kejeniusan Dr. Jekyll membuatnya berangan-angan, dan kemudian mewujudkan, ide “memisahkan kedua sisi berlawanan di dalam dirinya”. Ide gila ini, tanpa bisa dihentikan lagi, kemudian membawanya ke kehancuran. So, people, it is best to use our intelligence wisely and responsibly.
  • Penting bagi seorang manusia untuk mempunyai kehidupan yang seimbang. Usahakanlah bahwa “Jekyll” di dalam diri kita yang memegang kendali, dan bukannya “Hyde”. “Hyde” tidak harus hilang sama sekali dari diri kita, karena toh kita masih manusia yang punya kekuatan juga  kelemahan. Yang penting adalah “Jekyll” harus bisa mengontrol “Hyde”, sehingga kehidupan kita menjadi seimbang.

Tiga bintang saya berikan untuk novel yang pendek namun menarik untuk didiskusikan ini.

Baca juga:
Playing Hyde & Seek (Eng)
Analisis Kejiwaan Dr. Jekyll dalam Novel “The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde” karya Robert Louis Stevenson, oleh Ferry Ismawan (Ind)

Detail buku:
“The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde”, oleh Robert Louis Stevenson
128 halaman, diterbitkan 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] And Then There Were None – Agatha Christie

Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.
Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima.
Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.
Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.

Itulah bunyi sajak anak-anak yang tergantung dalam bingkai krom di atas perapian di kamar Vera Claythorne di Pulau Negro. Ia baru saja sampai di pulau terpencil di seberang pantai Devon itu dengan sembilan orang lainnya, suami-istri pelayan Mr & Mrs Rogers, Mr Justice Wargrave seorang hakim, bekas tentara Philip Lombard, mantan polisi William Henry Blore, seorang wanita tua yang kaku Emily Brent, veteran perang Jenderal Macarthur, anak muda tampan Tony Marston, dan Dokter Armstrong. Mereka semua diundang secara misterius untuk berlibur di Pulau Negro oleh seorang Mr. Owen.

Mereka semua sedang menikmati makan malam yang enak ketika sesuatu yang sangat aneh terjadi. Kejadian itu diikuti oleh kematian salah seorang dari mereka karena tersedak minuman. Mereka jadi kacau dan ketakutan. Dari hasil pembicaraan, akhirnya terkuak dua nama yang menandatangani dua surat yang ditujukan kepada dua dari antara mereka. Dua nama itu adalah Mr. Ulick Norman Owen dan Mrs. Una Nancy Owen. Dua U.N.O. yang disimpulkan dengan ngeri oleh sang hakim sebagai UNKNOWN (tak dikenal)! Sementara itu, beberapa pria diantara mereka menyelidiki seluruh pulau dan mendapati bahwa tidak ada orang lain selain mereka bersepuluh (kalau semuanya masih hidup) di pulau itu. Mustahil pergi dari sana karena cuaca badai dan air pasang. Dan dengan waktu yang berjalan, pembunuhan terus terjadi, dengan sangat mengherankan, persis seperti sajak yang tergantung di kamar mereka masing-masing. Seorang pembunuh gila ada diantara mereka sementara mereka mati satu demi satu… Satu demi satu…

***

Beuuuuuhhhhh! Buku ini bikin jantungan! Megap-megap! Kejet-kejet! Ups, maaf saya jadi agak lebay. Ini buku Agatha Christie pertama yang saya baca. Sekaligus merupakan karya yang disebut-sebut sebagai salah satu karya terbaik beliau. Saya tidak akan banyak menghamburkan kata dalam review ini, hanya bahwa yang menjadi kunci mengapa buku ini bagus adalah KETEGANGAN luar biasa yang dibangun sang Queen of Crime dengan ciamiknya. Pembaca akan ikut bertanya-tanya bersama para tokoh, “Siapa? Siapa? Yang mana?” Dan satu hal yang sangat penting kalau anda mau membaca buku ini adalah: JANGAN buka halaman terakhirnya sebelum anda benar-benar sampai di sana. Serius. Dua rius, ding.

Nah, sekarang setelah detak jantung saya kembali normal dan saya bisa bernafas seperti biasa, ada yang mau menyarankan buku Agatha Christie mana yang selanjutnya perlu saya lahap?

The Queen of Crime

Sekilas tentang Agatha Christie

Sang Queen of Crime lahir di Torquay, Devon, Inggris, pada tanggal 15 September 1890. Ia adalah anak termuda dari tiga bersaudara, dengan beda usia sebelas tahun dengan kakaknya yang tertua dan sepuluh tahun dengan kakaknya yang kedua (believe it or not, ini SAMA PERSIS dengan saya!). Tempat kelahirannya di Devon menjadi setting dalam And Then There Were None. Ia dianugerahi gelar Dame Commander of the Order of the British Empire pada malam tahun baru 1971. Guinness Book of World Records mencatat rekornya sebagai best-selling novelist of all time, dengan jumlah kasar empat milyar kopi novel-novelnya yang terjual di seluruh dunia. Semasa hidupnya ia menghasilkan 66 novel dan 14 kumpulan cerita pendek bertema misteri, thriller, dan detektif; sangat terkenal terutama dengan seri Hercule Poirot dan seri Miss Marple. Ia juga menulis novel roman dengan pseudonym Mary Westmacott, skrip drama panggung West End, dan dua buah autobiografi. Dame Christie menghembuskan nafas terakhir pada 12 Januari 1976.

Detail buku:
“Lalu Semuanya Lenyap” (juga dikenal dengan judul “10 Anak Negro”; judul asli: “And Then There Were None”), oleh Agatha Christie
296 halaman, diterbitkan Februari 2011 (Cetakan ke-9) oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Dongeng Ketiga Belas (The Thirteenth Tale)

Semua orang memiliki cerita. Karena cerita seperti keluarga. Kau mungkin tidak mengenal siapa mereka, atau telah kehilangan mereka, tetapi mereka tetap ada.
Kau tak bisa berkata kau tidak memiliki mereka.

Vida Winter adalah seorang penenun cerita. Semasa hidupnya ia telah melahirkan 56 buku yang semuanya laris bak kacang goreng. Cerita-cerita. Dongeng-dongeng.
Namun tak satupun cerita yang ditenunnya memberitahu pembaca kebenaran mengenai jati dirinya sendiri. Kepada para wartawan yang penasaran ia memberikan 19 versi yang berbeda-beda mengenai jati dirinya.

Siapa Vida Winter sesungguhnya tetap tertutup rapat… hingga beberapa waktu menjelang akhir hidupnya. Ingatan tentang kejadian 40 tahun silam kembali menghantuinya. Seorang pemuda, tampak seperti wartawan tak berpengalaman. Dengan raut wajah penuh tekad pemuda itu berkata,
“Ceritakan padaku yang sesungguhnya.”

Empat puluh tahun sesudah kejadian itu, Miss Winter telah siap menguntai jalinan kisah yang sesungguhnya. Ia memilih Margaret Lea, seorang penulis biografi amatir dan anak pemilik toko buku antik, untuk menuliskan biografinya. Margaret, yang tidak tertarik pada literatur kontemporer, awalnya enggan terlibat, namun setelah menemukan edisi langka salah satu buku Miss Winter dalam toko buku antik ayahnya, ia menjadi penasaran. Buku yang ada di toko ayahnya itu berjudul Tiga Belas Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan, namun tidak ada dongeng ketiga belas. Edisi-edisi buku itu yang beredar selanjutnya hanya memuat judul Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan, tanpa embel-embel Tiga Belas. Misteri Dongeng Ketiga Belas ini sama terkenalnya dengan pengarangnya sendiri.

Maka mereka pun bertemu, dan Miss Winter mulai menceritakan kisahnya. Kisah yang ia tuturkan adalah mengenai rumah Angelfield; kakeknya, George Angelfield; ibu dan pamannya, Isabelle dan Charlie Angelfield; dan terutama, mengenai dua anak kembar yang berlawanan sifat, Adeline dan Emmeline. Dan ia juga menceritakan tentang hantu yang ada di tengah-tengah keluarga Angelfield, orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan mereka, peristiwa-peristiwa yang aneh, menyedihkan, dan mengerikan yang mereka alami. Dan di penghujung cerita, akhirnya, teka-teki Dongeng Ketiga Belas pun dibukakan oleh Miss Winter.

Menyatukan kepingan-kepingan cerita yang satu persatu dituturkan Miss Winter, dengan tabir-tabir misteri yang disibakkan tentang Adeline dan Emmeline yang berperilaku ganjil; Margaret pun larut di dalamnya. Kehidupan pribadinya perlahan meredup dari dirinya dan ia tenggelam dalam cerita Miss Winter. Namun, pada waktunya, Margaret pun harus menghadapi hantunya sendiri; kesedihan yang terasa menekan di sisi tubuhnya.

###

“Tahukah kau perasaan yang muncul saat kau mulai membaca buku baru sebelum pelapis buku terakhir sempat menutup? Kau meninggalkan ide dan tema buku sebelumnya – bahkan karakter-karakternya – terperangkap di serat-serat pakaianmu, dan ketika kau membuka buku baru, semua ide, tema, dan karakter buku sebelumnya masih melekat bersamamu.”

Hanya sedikit buku yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi saya, dan Dongeng Ketiga Belas (judul asli: The Thirteenth Tale) ini adalah salah satunya.
Buku yang banyak menyebut karya-karya sastra klasik (yang menjadi favorit karakter Margaret Lea) ini adalah karya debut penulis asal Inggris, Diane Setterfield. The Thirteenth Tale meraih kesuksesan dengan meraih predikat New York Times #1 bestseller pada 8 Oktober 2006.
Cerita yang ditulis dengan gaya Gothic ini dihimpun penulis secara rapat tanpa celah, kental dengan aura yang misterius dan penuh teka-teki, namun disampaikan dengan begitu alami, tanpa terkesan mengada-ada atau melebih-lebihkan.

Jane Wood, editor-in-chief Orion, penerbit Inggris untuk The Thirteenth Tale, mengatakan bahwa, “The book marks “a return to that rich mine of storytelling that our parents loved and we loved as children. It also satisfies the appetite for narrative-driven fiction that has beginnings, middles and endings, like the great novels of the 19th century. She creates a wonderful fictional world.”

Gaya penulisan Diane Setterfield yang membius juga membuat saya berpendapat bahwa saya tidak akan bisa menikmati The Thirteenth Tale ini selain dalam bentuk buku. Terjemahannya juga digarap dengan sangat, sangat bagus. Tentu saja review saya yang singkat ini takkan mampu merangkum isi buku yang penuh subtansi ini, anda harus mencicipinya sendiri untuk mengetahui apa yang begitu istimewa dengan buku ini.

Buku yang saya dapatkan sebagai hadiah menang lomba mendongeng Vixxio Buku Gratis di FB (Thanks to Mbak Fanda Vixxio ;-) ) ini sebelumnya sudah sering saya lihat di toko buku sih, tapi entah kenapa saya nggak pernah tertarik, mungkin karena covernya yang suram ya? Tapi saya jelas lebih menyukai cover edisi terjemahannya, jika dibandingkan dengan cover edisi aslinya.

Cover edisi internasional The Thirteenth Tale

Karakter Margaret Lea membuat saya tercengang, karena si Margaret ini seorang kutu buku yang amat parah, dan ia hanya tertarik kepada literatur-literatur tua, karya-karya orang yang sudah mati. Begitu cintanya terhadap buku, si Margaret sampai bisa membaca tanpa ingat lagi kepada makanan, hari dan waktu. Bahkan, dia terang-terangan mengakui bahwa ia lebih mencintai buku daripada manusia!
Agak kaget juga ketika mendapati Jane Eyre paling banyak disebut-sebut dalam buku ini – karena saya baru saja menyelesaikan Jane Eyre akhir Februari kemarin dan buku tersebut langsung saja menghuni shelf favorites saya :) . Dua hal ini – Margaret Lea dan Jane Eyre, membuat saya berkata dalam hati, “buku ini memang buat gue!” Hehehe.
Sesudah membaca buku ini saya merenung sejenak mengapa saya begitu menyukai buku-buku klasik, dan jawabannya saya tuangkan dalam tulisan singkat berikut:

“Sebagian buku di dunia ini adalah mesin waktu. Dalam kasusku, buku-buku favoritku seringkali membawaku mundur dua abad dari zaman sekarang. Abad dua puluh satu yang gemerlap, hiruk-pikuk, dan modern, untuk beberapa saat hilang, digantikan dengan abad sembilan belas.
Kehidupan yang sudah mati, lama, dan usang. Namun pernah ada kehidupan seperti itu sebelum saat ini. Itulah yang terpenting.
Lembar-lembar literatur yang ditulis orang-orang dari abad yang telah berlalu adalah harta karun. Tak penting apakah lembar-lembar itu berisi dongeng, sejarah, atau penelitian; seseorang di masa lalu telah menulisnya.”

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Thirteenth_Tale_%28novel%29
http://www.bookbrowse.com/biographies/index.cfm?author_number=1376

 

Detail buku:
“Dongeng Ketiga Belas” (judul asli: The Thirteenth Tale), oleh Diane Setterfield
608 halaman, diterbitkan November 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Kisah-kisah Tengah Malam

Kisah-kisah Tengah Malam Kisah-kisah Tengah Malam by Edgar Allan Poe

My rating: 4 of 5 stars

“Mereka yang berkeliaran di lembah itu
Melihat sesuatu di balik dua jendela istana
Roh gentayangan bergerak dan berdansa
Mengikuti irama suling yang ditiup;
Di atas takhta, duduklah
Seorang penguasa istana
Gagah dan penuh kemenangan.”

“Istana Berhantu” dari Misteri Rumah Keluarga Usher (1839)

Kisah-kisah Tengah Malam yang judul aslinya adalah Tales of Mystery and Terror, adalah kumpulan tiga belas cerita pendek bertema horor gotik karya Edgar Allan Poe.

Inilah judul ketiga belas cerita pendek yang ada dalam Kisah-kisah Tengah Malam sesuai daftar isi:

  1. Gema Jantung yang Tersiksa
  2. Pesan Dalam Botol (namun di halaman cerita judul yang tercantum adalah Catatan dalam Botol)
  3. Hop-Frog
  4. Potret Seorang Gadis
  5. Mengarungi Badai Maelström
  6. Kotak Persegi Panjang
  7. Obrolan dengan Mummy
  8. Setan Merah
  9. Kucing Hitam
  10. Jurang dan Pendulum
  11. Pertanda Buruk
  12. William Wilson
  13. Misteri Rumah Keluarga Usher

Jika Anda belum pernah mengenal atau mendengar nama Edgar Allan Poe, beliau adalah seorang penulis cerita pendek, penyair, dan kritikus sastra kelahiran Boston, Amerika Serikat, yang hidup antara tahun 1809-1849 (umurnya pendek hanya 40 tahun), dan boleh disebut sebagai salah satu pelopor genre horor/misteri/teror/suspens di masanya.

Dalam Kisah-kisah Tengah Malam, pembaca akan dibawa ke dalam situasi dan tempat yang berbeda-beda; di dalam rumah tua yang seram, di atas kapal yang dilanda badai, di atas tebing curam, dalam istana raja, dan di dalam penjara yang gelap pekat.
Salah satu ciri khas Poe adalah penggunaan sudut pandang orang pertama atau “Aku” dalam setiap cerita dalam buku ini. Uniknya, hampir-hampir tak ada penjelasan mengenai “Aku” di setiap cerita. Tidak ada nama, kecuali dalam cerita pendek berjudul William Wilson ketika si “Aku” menyebut dirinya dengan nama yang sama dengan judul cerita pendek tersebut. Dalam beberapa cerita yang lain, disebutkan bahwa “Aku” memiliki istri, jadi jelaslah dalam cerita pendek itu sang tokoh utama adalah seorang laki-laki.

Ciri khas Poe yang kedua, yaitu penggambaran sedemikian rupa kondisi psikis sang tokoh utama dalam cerita, yang sarat kegilaan, dicekam ketakutan dan teror yang berkecamuk dalam jiwa dan benak. Pada cerita pertama, Gema Jantung yang Tersiksa, pembaca diajak menyelami kegilaan yang dialami sang tokoh utama, seseorang yang telah membunuh seorang tua dan menyembunyikan tubuhnya di bawah lantai kayu.
Selain itu, dari cerita-cerita yang dituturkan, kita dapat melihat betapa Poe adalah orang cerdas yang berpengetahuan luas.
Di dalam cerita Catatan Dalam Botol dan Mengarungi Badai Maelström, Poe memaparkan dengan panjang-lebar mengenai terjadinya badai yang menggulung laut. Saya pribadi berpendapat kedua cerita tersebut agak melelahkan untuk dibaca, karena panjangnya penjelasannya. Namun membaca Obrolan dengan Mummy menjadi angin segar bagi saya, karena wacana mengenai mumifikasi ras tertentu di Mesir adalah baru bagi saya.

Cerita favorit saya dari semuanya adalah Setan Merah, yang menurut saya paling menakutkan sekaligus menakjubkan. Dalam cerita ini Poe membuktikan bahwa beliau adalah benar-benar seorang master horor yang mampu membangun cerita yang membuat pembacanya tak berani menarik napas ketika membaca.

Secara keseluruhan, membaca Kisah-kisah Tengah Malam membuka jendela yang sama sekali baru bagi pembaca yang belum pernah mengecap karya Poe sebelumnya, membawa kita semua di alam yang mungkin asing, tapi sungguh menantang.
Sedikit saran saja bagi Anda yang agak penakut, walaupun judul buku ini Kisah-kisah Tengah Malam, saya tak akan menyarankan Anda untuk membacanya pada tengah malam, karena mungkin—mungkin saja, bisa timbul imajinasi liar dalam kepala Anda dan akhirnya Anda mengalami salah satu cerita horor khas Edgar Allan Poe. ;-P

View all my reviews

Softcover, 245 pages
Published December 28th 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 40,000

[Review] Theodore Boone, Pengacara Cilik

Theodore Boone, Pengacara CilikTheodore Boone, Pengacara Cilik by John Grisham
My rating: 3 of 5 stars

Theo Boone, 13 tahun, bukan remaja biasa. Bukan, Theo bukanlah penyihir seperti Harry Potter dan bukan juga demigod seperti Percy Jackson. Dan jelas Theo bukan vampir ;P

Theo, yang pergi ke sekolah naik sepeda dan punya anjing bernama Judge, adalah putra satu-satunya pasangan suami istri yang sama-sama pengacara, ayahnya pengacara real estate dan ibunya pengacara perceraian. Theo juga mempunyai minat dan pengetahuan yang besar terhadap hukum, khususnya proses hukum pidana. Remaja mana lagi yang betah menghabiskan berjam-jam mengikuti persidangan daripada bermain bola basket atau skateboard di luar rumah? Remaja mana lagi yang bisa menjadi ”konsultan hukum gratisan” bagi teman-temannya yang bingung menghadapi masalah hukum?

Saat Theo sedang mengalami pergumulan yang biasa terjadi pada masa remaja, yaitu mengenai cewek dan cita-cita masa depan, kota tempat tinggalnya dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan seorang wanita di kompleks perumahan mewah, dan tersangka utamanya adalah suami wanita itu!

Theo, seperti (hampir) semua orang lain di Strattenburg, penasaran setengah mati dengan kasus tersebut, dan tak mau melewatkan persidangan, yang diadakan secara terbuka. Tak dinyana, Theo bertemu dengan seorang saksi rahasia dan satu-satunya, yang kesaksiannya dapat mengubah vonis yang akan dijatuhkan kepada terdakwa!

Hanya ada satu masalah, yaitu orang itu tidak mau bersaksi. Sementara si terdakwa sudah sangat dekat dengan vonis bebas, berhasilkah Theo meyakinkan si saksi untuk membeberkan semua yang ia ketahui di persidangan?

==============

”What could John Grisham write for teens?” mungkin adalah pertanyaan yang jawabannya adalah buku ini. Sudah pasti buku ini muatannya lebih “ringan” dari buku-buku John Grisham yang lain, namun bukan berarti buku ini tidak patut dibaca.

Grisham, menurut saya, sukses meramu antara kehidupan seorang remaja berikut seluk-beluknya, pengetahuan dasar mengenai proses hukum pidana di Amerika Serikat, dialog yang cerdas dan cukup lucu, dan karakter-karakter yang membuat cerita semakin hidup.

Buku ini terutama, saya rekomendasikan kepada para remaja. Mudah-mudahan melalui Theo mereka juga bisa belajar mengutamakan pendidikan, dan menumbuhkan “hasrat” belajar yang lebih menggebu. Theo tidak akan menjadi Theo jika ia sebelumnya tidak melahap buku-buku hukum, mengamati proses hukum, banyak berdiskusi dengan orang-orang yang melek hukum bukan?

==============

Buku ini kudapat dari menang kuis di toko buku online langganan… gak sia-sia deh jadi pelanggan setia hehehe.
Lihat post nya di sini!

Kebetulan kakakku juga penggemar John Grisham, dulu waktu masih belasan tahun aku juga sempat coba-coba baca The Firm, The Client, Runaway Jury, A Time to Kill, The Pelican Brief dll. Tapi dasar belum bisa dibebani buku seberat itu, jadi banyak gak selesainya deh.

Sekarang, tiba-tiba sang maestro menerbitkan novel dengan judul Pengacara Cilik. Mungkin bagi penggemar Grisham sejati buku ini hanya ditulis untuk “selingan” saja, karena begitu banyaknya karya Grisham lain yang berat dan serius.

Buatku, mungkin setelah selesai membacanya aku bisa mulai (lagi) untuk membaca karya-karya yang “John Grisham banget”.

Anyway, thanks to Vixxio for giving me this book! :)

View all my reviews

Paperback, 272 pages
Published September 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published May 25th 2010)
Price IDR 42.000

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers