Blog Archives

[Review] Belajar Hidup Tanpa Batas bersama Nick Vujicic

Entah kebetulan atau tidak, posting resensi pertama di tahun 2012 ini adalah buku non fiksi, sama seperti resensi pertama di tahun 2011 lalu. Padahal saya boleh dibilang sangat jarang membaca non fiksi. Bisa jadi tradisi ini akan saya teruskan di awal tahun depan dan seterusnya :)

***

Ada saat-saat ketika kehidupan terasa sangat sulit dan penuh masalah. Kita menjadi sedih, marah, pahit, negatif, kehilangan gairah hidup. Seakan kitalah orang paling sengsara di dunia, dan waktu yang ada hanya dimanfaatkan untuk duduk menunggu dunia runtuh.

Ada banyak orang yang hidupnya tidak bahagia karena mereka masih merasa “kekurangan”. Kurang kaya, kurang ganteng atau cantik, kurang langsing, kurang modis, kurang pandai, dan masih banyak kurang-kurang lainnya. Sebenarnya kunci untuk menjadi bahagia hanya satu: pilihan anda. Mungkin banyak hal yang tidak enak sedang terjadi dalam hidup anda saat ini. Tidak ada manusia yang dapat mengendalikan hal itu. Namun kita bisa mengendalikan bagaimana sikap kita ketika menghadapi masalah. Kita punya pilihan!

Demikian pula dengan Nicholas James Vujicic, yang akrab disapa Nick. Pemuda 29 tahun keturunan Serbia yang lahir dan dibesarkan di Australia ini terlahir ke dunia dengan Tetra-amelia syndrome, suatu kelainan langka yang menyebabkan ketiadaan lengan dan tungkai. Tidak dapat disangkal bahwa Nick menjalani kehidupan yang ekstra sulit. Akan tetapi, setelah melalui perjalanan panjang penemuan diri dan tujuan hidup, dan berbagai pengalaman yang mengerikan, Nick menyadari bahwa ia mempunyai pilihan. Alih-alih menyerah terhadap keadaan, Nick justru memilih untuk memanfaatkan kekurangannya sebagai suatu kelebihan. Nick menyadari bahwa Tuhan memberinya karunia untuk berbicara, memotivasi, dan menghibur orang lain, dan dengan karunia itu ia dapat memberi sesuatu yang spesial kepada dunia. Pilihan yang dibuat Nick telah membawanya menjadi seorang penginjil dan pembicara motivasi kelas internasional yang telah melakukan perjalanan keliling dunia untuk berbicara di depan ribuan hingga jutaan orang. Nick juga adalah seorang sarjana akuntansi dan perencanaan keuangan yang kini memiliki beberapa perusahaan termasuk organisasi nirlaba Life Without Limbs, dan bintang film pendek pemenang penghargaan Doorpost Film Project 2009 yang berjudul The Butterfly Circus.


“Orang kerap bertanya bagaimana aku bisa bahagia walaupun tidak punya lengan dan tungkai. Jawaban cepatku adalah aku punya pilihan. Aku bisa merasa marah karena tidak punya tungkai, atau aku bisa bersyukur karena punya tujuan. Aku memilih sikap bersyukur. Kau juga bisa melakukannya.”

– Nick Vujicic

Pengalaman mengatasi tantangan baik secara fisik maupun mental yang dialami Nick karena kondisi tubuhnya, dituangkan  dalam buku berjudul asli Life Without Limits: Inspiration for A Ridiculously Good Life, pertama kali diterbitkan oleh Random House tahun 2010. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia. Buku yang berisi 12 bab ini adalah gabungan memoar sekaligus merupakan non fiksi pengembangan diri/inspirasional.

Melalui halaman-halaman bukunya, pemuda tak berlengan dan bertungkai ini akan menuntun anda untuk menerima dan mencintai diri sendiri sebagaimana adanya, menemukan tujuan hidup, menyalakan iman dan harapan, berani menghadapi tantangan, bertahan dalam cobaan, bangkit dari kegagalan, dan akhirnya mendobrak segala batasan, mencintai kehidupan sepenuhnya dan mendorong anda untuk memberi dan menjadi berkat bagi orang lain.

Buku ini juga merekam banyak pengalaman Nick di berbagai kesempatan. Beberapa sangat menyentuh, beberapa lainnya sungguh konyol dan gila. Nick ingin pembaca buku ini tahu bahwa ia juga manusia biasa, yang sangat menikmati dan mencintai hidupnya. Ia suka melakukan berbagai hal yang bisa membantu meringankan beban orang lain, namun ia juga suka melakukan hal-hal yang murni untuk kesenangan pribadi. Ia menjalani hidup layaknya orang normal! Nick berenang, bermain basket, bermain musik, main skateboard, melakukan perencanaan bisnis, berkeliling dunia untuk berbicara di depan orang banyak, bertemu dengan berbagai tokoh penting dunia. Ia menjalani kehidupan dengan segala rasa syukur dan kebahagiaan. Ia menjalani kehidupan yang tanpa batas, meskipun secara fisik ia terbatas. Kalau orang tanpa lengan dan tungkai ini saja mampu hidup seperti itu, mengapa tidak demikian dengan anda?


“Kehidupanku adalah sebuah kesaksian tentang kenyataan bahwa kita tidak memiliki batasan kecuali batasan yang kita buat sendiri. Hidup tanpa batas berarti mengetahui bahwa kau selalu memiliki sesuatu untuk diberikan, sesuatu yang mungkin bisa meringankan beban orang lain.” –
hal. 242

Tak hanya dirinya sendiri, di dalam buku ini Nick menyebutkan beberapa nama yang telah membuktikan bahwa mereka mampu mendobrak tembok-tembok yang membatasi diri mereka dan memberikan kontribusi bagi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Ada Bethany Hamilton, peselancar kelas dunia yang kehilangan tangan kirinya karena diserang seekor hiu saat ia baru berusia 13 tahun. Bethany kembali berselancar setelah kecelakaan itu, walau ia hanya mempunyai sebelah lengan. Christy Brown, seorang laki-laki (ya, Christy Brown adalah seorang pria) Irlandia yang terlahir lumpuh, dari semua bagian tubuhnya hanya kaki kirinya saja yang bisa digerakkan. Christy menjadi seorang penulis, penyair, dan pelukis yang dihormati dan kisah hidupnya diangkat menjadi sebuah film pemenang penghargaan Academy Award. Kemudian ada Reggie Dabbs, yang lahir sebagai anak haram dari seorang pekerja seks dan nyaris saja diaborsi. Hari ini, seperti Nick, Reggie adalah seorang public speaker dan motivator yang dibayar untuk menumbuhkan harapan kepada orang-orang. Joni Eareckson Tada, penderita quadriplegia sekaligus musisi dan penulis buku inspiratif. Joni memiliki organisasi nirlaba yang telah membagikan lebih dari 60.000 kursi roda kepada para difabel di 102 negara. Dan beberapa nama lain yang memberikan kontribusi bagi sesama dengan cara masing-masing.

Buku yang ditulis dengan bantuan Wes Smith ini secara keseluruhan bagus dan sangat inspiratif. Penuturannya sederhana namun mengena, menarik dan jauh dari menjemukan. Banyak kutipan bagus yang bisa ditemukan di dalamnya. Kelemahannya mungkin terletak pada beberapa kalimat yang diulang (mungkin tidak persis sama, namun serupa) dalam bab-bab selanjutnya. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh P. Herdian Cahaya Khrisna sangat bagus, namun  sayang kenikmatan membaca masih terganggu dengan typo yang bertaburan di sana-sini. Dan perlu diketahui juga, meskipun buku yang di Indonesia telah memasuki cetakan keempat ini ditulis dengan nafas Kristiani, namun menurut saya masih sangat bisa dinikmati oleh pembaca non-Kristiani. Jadi, bacalah buku ini dan mulailah menjalani kehidupan tanpa batas seperti Nick!

Nick & his soon-to-be-wife Kanae

Berita gembira: Nick dan tunangannya, Kanae Miyahara, akan melangsungkan pernikahan bulan Februari 2012 ini. Congratulations, Nick & Kanae!

***

Lebih lanjut tentang Nick Vujicic:
NickVujicic.com / LifeWithoutLimbs.org / AttitudeIsAltitude.com
Lihat juga video-video Nick yang telah ditonton jutaan kali di YouTube.com

Detail buku:
“Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia” (judul asli: “Life Without Limits: Inspiration for A Ridiculously Good Life”), oleh Nick Vujicic
259 halaman, diterbitkan Mei 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] The Journeys – untuk @bukunya

Klik gambar di bawah ini untuk membaca resensi buku The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita terbitan Gagas Media yang dimuat di Bukunya.com

Yuk, jalan-jalan!

[Review] Letters to Sam: Kumpulan Surat Cinta Kakek kepada Cucunya

Tak ada gunanya hidup jika anda tak menyadari sepenuhnya bahwa anda adalah seorang manusia yang manusiawi — yang penuh dengan kelemahan.

Namun bahkan di dalam kelemahan, manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk menguatkan sesamanya. Yang menjadi masalah bukanlah bagaimana menghilangkan kelemahan itu, namun bagaimana mentransformasi kelemahan menjadi suatu bentuk kekuatan, yang bisa menolong diri sendiri dan bahkan orang lain. Dan langkah pertama yang perlu dilakukan supaya hal ini terjadi, adalah mengubah cara berpikir kita terhadap diri sendiri dan terhadap kehidupan.


Letters to Sam
merupakan 217 halaman surat cinta dari seorang manusia lemah kepada manusia lemah lainnya, yakni seorang kakek yang menderita kelumpuhan kepada cucunya yang mengidap autisme. Sang kakek, yang adalah seorang psikolog dan terapis keluarga yang telah menangani ratusan pasien sepanjang hidupnya, menuturkan berbagai nasihat, pandangan, pengalaman, dan filosofi bagi Sam, cucu tercintanya, dengan harapan bahwa suatu hari nanti Sam akan mampu membaca surat-surat ini dan memahami apa yang disampaikan kakeknya padanya.

Buku ini terbagi menjadi enam bagian. Di bagian pertama sang kakek menulis surat untuk menyambut hadirnya cucunya di dunia ini. Pada bagian-bagian selanjutnya, ia akan bercerita banyak hal mengenai keluarga, hubungan, tubuh, pikiran, dan jiwa, masa depan dan harapan, mengenai tempatmu di dunia, dan ditutup dengan salam perpisahan. Bagi saya, buku ini membuka jalan untuk perenungan pribadi, apa artinya menjadi manusia; sebanyak apa cinta yang telah saya berikan bagi orang lain sepanjang hidup saya.

Namun demikian, berbagai nasihat, pandangan, dan filosofi yang terkandung dalam buku ini, bagaimanapun baik kedengarannya, tidaklah untuk ditelan mentah-mentah. Kita perlu ingat bahwa buku ini adalah kumpulan surat-surat yang ditulis oleh seseorang yang memiliki keterbatasan, kepada seorang lain yang juga memiliki keterbatasan, sehingga notabene hidup mereka berbeda dengan hidup yang dijalani kebanyakan orang. Hal ini saya jumpai dalam surat yang berjudul “Berikan kesempatan untuk berbuat baik”. Dalam surat ini sang kakek menunjukkan bahwa kebaikan manusia seringkali muncul ketika mereka melihat kerapuhan dan kelemahan dalam diri sesamanya. Hal ini tentu saja benar. Namun mari kita cermati penggalan di bawah ini,


“Terkadang, keadaan memaksa kita untuk berpura-pura kuat dan berani, padahal sebenarnya kita merasakan sebaliknya. Tapi itu jarang sekali. Pada umumnya, akan lebih baik kalau kita tak usah berpura-pura berani padahal merasa takut. Aku percaya, dunia akan menjadi tempat yang lebih aman kalau setiap orang yang merasa lemah menggunakan flasher dan berkata, ‘Aku punya masalah. Aku lemah dan sedang berusaha semaksimal mungkin’.”
(hal. 58)

Saya setuju dan tidak setuju terhadap penggalan di atas. Di satu sisi, pada dasarnya bersikap apa adanya — berlaku A ketika kita merasakan A dan berkata B ketika kita merasakan B, adalah sesuatu yang baik. Namun kalimat terakhir berpotensi menimbulkan dampak yang negatif bagi beberapa orang, yang mungkin, suka ‘obral kelemahan’. Pandangan ini seakan-akan mengesahkan bahwa oke-oke saja jika anda berkata kepada orang lain, “I’m weak” dalam banyak kesempatan. Pada akhirnya, orang yang terus menerus berkata kepada dirinya dan orang lain bahwa saya lemah, akan terus menuntut untuk menerima bantuan, dan tidak akan mampu berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Ini suatu hal yang buruk, jika yang mengalaminya seseorang yang tidak memiliki keterbatasan sebagaimana Dr Gottlieb atau Sam.

Kemudian kalimat ini :

“Hanya dengan menerima, hanya dengan berhenti melawan, aku menemukan kedamaian.” (hal 76)

Entah karena sudah natur saya bahwa saya seorang fighter yang terus memperjuangkan berbagai hal dalam hidup, saya tidak setuju dengan ungkapan ini. Selama masih ada harapan, saya tidak mau berhenti berjuang, meskipun itu berarti melawan banyak hal atau banyak orang. Namun jika perjuangan itu buntu dan tidak membuahkan hasil, itu bisa berarti memang sudah saatnya berhenti melawan.

Di dalam buku ini juga Daniel Gottlieb memasukkan berbagai kebijaksanaan dari beberapa keyakinan yang berbeda-beda, mulai dari Yahudi, Kristen, sufi, sampai Buddha. Saya pribadi kurang suka jika seseorang membawa berbagai elemen keyakinan dalam dirinya. Kalau sekedar mempelajari, okelah, namun jika anda hidup ditengah-tengah bermacam-macam filosofi dan lebih parah lagi, mengajarkannya kepada orang lain, maka siapakah sebenarnya anda? Jika anda seorang Kristen, jadilah sepenuhnya Kristen, jika anda muslim, jadilah sepenuhnya muslim, jika anda penganut Buddha, jadilah sepenuhnya orang Buddha. Tentu saja dengan tidak mengabaikan cinta kepada sesama manusia, tanpa pandang bulu. Tetapkan apakah anda panas atau dingin, jangan mengambil tempat di tengah-tengahnya karena ini sangat berbahaya!

Terlepas dari hal-hal diatas, buku ini menyimpan banyak nilai-nilai berharga yang dapat dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan:

1. Cinta mengubah segalanya. Memberikan cinta jauh lebih penting daripada menerimanya.

2. Seorang yang punya keterbatasan seperti seorang tunadaksa pun mampu memberi, mampu melakukan sesuatu yang berharga bagi orang lain.

3. Labelling atau pengelompokan terhadap manusia sangatlah berbahaya. Kita tidak pernah tahu dampak psikologis sebuah label bagi seseorang yang kita panggil “si cacat”, “si bodoh”, “si autis”, dan sebagainya. Yang perlu kita lakukan adalah menerima seorang manusia sebagaimana adanya, karena apapun yang terjadi dengan tubuh atau pikirannya, jiwanya tetap utuh.

4. Tubuh kita mempunyai sistem yang mampu menyembuhkan luka fisik dengan sendirinya. Demikian juga luka emosional, semua yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka tersebut sebenarnya sudah ada dalam diri kita. Tidak perlu menuntut supaya luka itu sembuh dengan cepat, karena sudah pasti diperlukan waktu dalam proses penyembuhan. Dan diperlukan keyakinan bahwa kelak rasa sakit itu akan pergi. Seseorang yang sakit lebih membutuhkan seseorang yang bersedia duduk bersamanya, hanya menemaninya dan mendengarkannya, tanpa melontarkan berbagai nasihat atau saran terkait penyakitnya.

5. Kadang-kadang seorang manusia dapat mencapai suatu titik penting dalam hidupnya — justru ketika ia sendirian, tidak punya siapa-siapa.

“Masa itu menjadi sebagian dari tahun-tahun terpenting dalam hidupku. Aku tinggal sendirian. Aku tak punya teman. Namun, aku berhasil meningkatkan keahlian akademisku. Aku sendiri terkejut dengan daya tahan yang kumiliki. Aku juga mendapati diriku mampu bertoleransi dengan kesunyian. Perjalananku yang sesungguhnya dimulai di sana — dalam kesunyian.” (hal 121)

Saya mengenal seseorang yang boleh dibilang hampir tak punya teman. Ia lebih memilih kesendirian daripada hangout dan membiarkan diri dikelilingi banyak teman. Awalnya saya berseru padanya, “Bagaimana mungkin kamu hidup seperti itu?”
Namun sekarang, semakin lama saya mengenal dia, saya jadi mengerti bahwa mungkin keadaan seperti itu yang paling baik baginya, dan bahwa dalam kesendirian ia bergaul erat dengan Tuhan, dan hasilnya Tuhan mengaruniakan dia kebijaksanaan yang jauh melampaui usia fisiknya.

6. Seorang anak membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan dia. Ketika seorang anak menjadi korban bullying, misalnya (diterjemahkan menjadi ‘penggencetan’), hal yang lebih dihargai oleh seorang anak adalah jika orang tuanya mau mendengarkan dan bertindak dengan kepala dingin, sehingga akhirnya tindakan tersebut tidak berakibat buruk kepada si anak, daripada langsung mengkonfrontasi si pelaku bullying atau pihak sekolah.

7. Saat orangtua tak berhenti mengkhawatirkan anaknya, sebenarnya si anak juga khawatir tentang orangtuanya. Terkadang cara terbaik bagi orangtua untuk menjaga anak-anak adalah dengan menjaga diri mereka sendiri (hal 141).

8. Kebahagiaan bukan terletak pada uang, kesuksesan, atau pencapaian-pencapaian lainnya. Seringkali orangtua tidak memahami hal ini dan secara tidak sadar menuntut anaknya untuk meraih pencapaian-pencapaian sampai tingkat tertentu. Ketika hal itu tidak tercapai, anak akan merasa tidak aman dan tidak cukup dicintai oleh orangtuanya. Ketika hal itu tercapai, apa sesungguhnya yang dirasakan oleh jiwa anak tersebut?

“Rasa aman yang sebenarnya hanya datang saat kita merasa nyaman dengan diri kita yang sesungguhnya (dan perasaan ini akan meningkat ketika kita memiliki sebuah hubungan yang ada rasa saling mencintai dan memahami). Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah efek samping dari kehidupan yang kita jalani dengan baik.”

“‘Tugas anda sekarang,’ kataku kepada para orangtua, ‘adalah menikmati keuntungan, menoleransi kegagalan mereka, memiliki keyakinan atas daya tahan mereka, dan jangan pernah memberikan nasihat jika tidak diminta.’ (Ketika aku mengatakan ini, aku mendapatkan tepuk tangan bergemuruh dari anak-anak mereka.)” (hal. 156)

9. Kita harus mengalami kematian supaya kita lebih menghargai hidup yang kita miliki.

“Kematian bukanlah musuh. Mengetahui bahwa hidupmu telah mencapai titik akhir akan membantumu menghargai setiap momen yang kau lalui dalam hidup. Kematian membuatmu memahami hadiah berharga yang diberikan kehidupan itu sendiri.” (hal 187)

10. Just live your life as it is.

“Banyak dari kita menderita karena mencoba menjalani kehidupan yang pernah kita miliki atau kehidupan yang kita dambakan. Kau mengingatkanku hari itu bahwa hidup terasa sangat manis ketika kita menjalani kehidupan yang kita miliki.” (hal 202)

Dan saya sangat suka dengan puisi Jalaluddin Rumi berjudul Guest House yang diselipkan oleh Gottlieb di akhir buku.

“Be grateful for whoever comes, because each has been sent as a guide from beyond.”

Tiga bintang saya persembahkan untuk kumpulan surat cinta seorang kakek kepada cucunya ini. Terjemahannya digarap oleh Windy Ariestanty dengan sangat baik, walaupun masih bertabur typo di beberapa tempat :( dan tampilan fisik buku benar-benar cakep khas penerbit Gagas Media ;)
Pesan saya, bacalah buku ini dengan hati dan pikiran lapang dan terbuka, jangan langsung melahap mentah-mentah kalimat-kalimat di dalamnya. Saringlah filosofi yang mana yang sesuai dengan keyakinan pribadi anda dan yang mana yang bukan, karena paling baik jika seseorang benar-benar yakin akan sesuatu dalam hatinya sendiri.

Detail buku:
“Letters to Sam” oleh Daniel Gottlieb
217 halaman, diterbitkan Juli 2011 oleh Gagas Media
My rating: ♥ ♥ ♥

Sekilas tentang Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku

Warning: INI BUKAN REVIEW.

Saya hanya akan menulis sekelumit kesan-kesan pribadi mengenai buku Berguru Pada Pesohor ini, karena bakal agak aneh kan kalau saya meresensi buku panduan meresensi buku? (mulai jelimet…)

Buku Limited Edition yang sukses bikin saya penasaran ini kemarin mendarat juga di tangan saya. Bikin penasaran karena buku ini mengupas teknik-teknik dan berbagai tips untuk meresensi buku. Dan tentu saja bikin penasaran karena daftar blog buku Indonesia yang dimuat di bagian akhir buku ini, walaupun sudah pernah melihat beberapa fotonya di note FB nya mbak Truly Rudiono, tapi tetep aja penasaran pingin lihat secara langsung :D

 Keren kan kalo blog anda dimuat di buku (congkak mode on :D )

 

Sekilas membaca-baca sebagian isi buku ini, saya mengambil kesimpulan kalau buku ini sebenarnya diperuntukkan bagi mereka yang ingin menekuni resensi buku secara serius, dan arahnya lebih ke media cetak (koran berskala nasional atau daerah) ketimbang dunia maya. Resensi-resensi yang dimuat sebagai contoh dalam buku ini pun kebanyakan adalah resensi buku-buku “kelas berat”, misalnya buku-buku Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Belum lagi berbagai buku non fiksi yang judulnya berbunyi seperti, “Abad Prahara, Ramalan Kehancuran Ekonomi Dunia Abad ke-21”, “Utang dan Korupsi Racun Pendidikan”, “Sosialisme Religius: Suatu Jalan Keempat”.

Aduh ampuuuuuuun, saya sejauh ini nggak sanggup melahap buku-buku macam beginiaaaannn….!!! Bisa jadi benar apa yang ditulis penyusun pada bab Halaman Resensi Buku di Internet tentang para blogger buku:

Mereka adalah generasi peresensi baru buku dengan menggunakan medium baru yang lebih egaliter dan lebih leluasa. Jika generasi peresensi lama masih memperebutkan halaman-halaman koran nasional dan daerah dengan mempertimbangkan selera redaktur buku masing-masing koran tersebut, maka generasi baru ini membaca buku dan menuliskannya kembali dengan semangat sangat personal tanpa takut tulisannya ditampik.

– hal. 239

 Mereka adalah pembaca yang ingin bersenang-senang dengan buku. Mereka mencoba melihat buku sebagai barang mainan dan hiburan yang tak perlu dipandang berat, apalagi harus dilihat dengan kaca pembesar segala.

– hal.241

I read for fun! I read for pleasure! Saya yakin sebagian besar teman-teman blogger buku setuju dengan pernyataan saya ini.

Namun, teknik-teknik dan tips menulis resensi yang dijabarkan dalam buku ini benar-benar membantu mereka yang ingin belajar menulis resensi buku dengan baik dan benar (seperti saya). Walaupun (mungkin) tak ada niat untuk terjun dalam dunia resensi buku di media cetak, buku ini memberikan tambahan ilmu berharga bagi para pecinta buku yang suka menulis resensi. Dan kedua penulis, Diana AV Sasa dan Muhidin M. Dahlan, sangat-sangat kompeten di bidangnya untuk menyusun sebuah buku seperti Berguru pada Pesohor ini.

Dan ternyata, saat membolak-balik halaman-halaman buku ini, saya beberapa kali ketemu dengan nama Hernadi Tanzil. Bahkan ada foto sang rahib 1 halaman penuh! Bisa ditebak deh bagaimana kiprah sang rahib dalam dunia resensi buku sampai namanya jadi sebeken itu. (hormat pada rahib, mohon ilmu… #edisi serial silat) =p

Oh ya, sedikit saja kritik tentang fisik buku… Bahan kertas covernya terlalu tipis, jadi gampang rusak. Judul bab yang ada di bagian kanan atas halaman kadang-kadang hurufnya tidak tercetak dengan benar (loncat). Juga ada beberapa foto yang dimuat di buku ini beresolusi rendah, jadi kurang enak dilihat, apalagi dalam warna hitam putih. Semoga menjadi masukan yang membangun buat penerbit.

Ingin tahu lebih banyak atau tertarik memiliki buku ini? Silakan loncat ke link berikut: http://indonesiabuku.com/?p=9308

[Review] Saga no Gabai Baachan: Miskin Ceria a la Nenek Osano

Sederhana. Itulah kesan pertama yang saya tangkap ketika melihat cover buku ini. Saking sederhananya, buku ini beberapa kali gagal mencuri perhatian saya ketika dipajang di toko buku. Jika bukan karena testimoni positif orang-orang yang sudah membaca buku ini, saya tentu tidak akan memutuskan untuk membelinya dan larut dalam kesederhanaan sarat makna yang ditorehkan lewat memoar masa kecil Yoshichi Shimada (yang bernama asli Akihiro Tokunaga) ini.

Dari miskin jadi miskin. Itulah yang dialami Akihiro, anak lelaki kecil yang baru menginjak kelas dua SD. Saat masih sangat kecil, bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima membuatnya kehilangan ayah, dan ibunya yang terbebani dengan kewajiban membanting tulang bagi anak-anaknya mengirim Akihiro untuk tinggal bersama neneknya di sebuah kota kecil bernama Saga.

Bukannya menjalani hidup yang lebih enak, justru keadaan neneknya di Saga lebih miskin daripada keadaan ketika tinggal di Hiroshima. Saat bertatap muka pertama kali dengan sang nenek, tanpa ba-bi-bu Akihiro pun langsung diajari cara menanak nasi. Ini karena sang nenek yang bekerja sebagai petugas pembersih di universitas Saga harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menunaikan tanggung jawabnya, dan ia takkan sempat membuatkan sarapan untuk Akihiro. Akihiro harus mengurus dirinya sendiri.

Biarpun sangat miskin, Nenek Osano hidup dengan optimis dan ceria. Adaaaaa saja akal Nenek Osano untuk menyiasati keadaannya yang serba terbatas. Misalnya, ia mengikat pinggangnya dengan seutas tali dan menyeret-nyeret magnet kemanapun ia pergi. Klang klang klang klang bunyinya, dan si magnet pun menarik paku dan berbagai sampah logam lainnya yang nanti akan dijual nenek ke toko daur ulang. Dan miskin-miskin begitu, Nenek Osano punya “supermarket pribadi” lho! Yang dimaksud dengan supermarket pribadi adalah sungai di depan rumahnya, yang dipasangi sebatang galah. Berbagai macam benda yang hanyut di sungai tersangkut di galah itu dan Nenek Osano akan mengambilnya, misalnya ranting-ranting untuk dijadikan kayu bakar, sayur-sayuran cacat dari pasar yang dibuang ke sungai, bahkan benda-benda lain seperti geta (sandal kayu) yang bisa digunakan nenek atau Akihiro.

Dari hari ke hari, berbagai benda hanyut di sungai lalu tersangkut di galah Nenek. Itulah sebabnya Nenek menyebut sungai sebagai supermarket. Malah dengan pelayanan ekstra, katanya, “Belanjaan kita langsung diantar.”

Terkadang bila tidak ada apa pun yang tersangkut di galah, Nenek akan berkata, “Hari ini supermarket libur.” Dengan ekspresi wajah menyenangkan.

Kita mungkin akan terbahak membaca penggalan di atas, namun akal sang nenek memang patut diacungi jempol!

Miskin bukan berarti merendahkan diri dengan meminta-minta dan berharap belas kasihan orang lain. Begitu salah satu prinsip Nenek Osano, yang membuatnya mampu berbuat kebaikan kepada orang lain tanpa mengharap imbalan. Ketika seseorang berbuat baik dengan kelebihan yang ada padanya, itu hal yang biasa. Namun ketika seseorang berbuat baik meskipun ia sebenarnya kekurangan, itu baru namanya gabai (hebat)!

Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan.

Akihiro tinggal di Saga bersama Nenek Osano selama kurang lebih delapan tahun, dan selama itu pula prinsip-prinsip sang nenek mengakar kuat dalam dirinya dan tak pudar bahkan sampai ia dewasa. “Ada dua jalan buat orang miskin, yaitu miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin yang ceria,” kata Nenek Osano kepada Akihiro suatu waktu. Melalui memoar yang ditulis dengan sederhana, namun juga lucu dan mengharukan ini sang pengarang hendak mengajak setiap pembacanya untuk menciptakan “kehidupan yang baik”, yang rahasianya terdapat dalam dua kata ini: sukacita dan bersyukur.

Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.

###

Yoshichi Shimada, penulis memoar ini, saat dewasa menekuni dunia entertainment di Jepang, meskipun pada masa remajanya ia amat menggemari baseball dan berniat menjadi pemain baseball profesional. Buku yang pertama kali terbit pada tahun 2001 ini semakin meledak di pasaran setelah dipromosikan dalam acara televisi “Tetsuko no Heya” (Kamar Tetsuko) yang dipandu Tetsuko Kuroyanagi, penulis buku bestseller Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Kisah Nenek Hebat dari Saga ini begitu beken di negeri asalnya dan telah diadaptasi menjadi film layar lebar, game dan manga.

Di Indonesia, buku ini diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang oleh Indah S. Pratidina di bawah supervisi Mikihiro Moriyama sebagai koordinator penerjemah. Dan kalau boleh berpendapat, menurut saya terjemahannya sangat renyah dan enak dibaca. Untuk penerbit Kansha Books, dan semua orang yang bertanggung jawab atas terbitnya terjemahan buku ini di Indonesia, saya hanya mau bilang, “Anda semua gabai!” \m/

N.B.: Resensi ini saya ikut sertakan dalam Lomba Resensi Mahdabooks (Penerbit Redline), Juni 2011

Detail buku:

“Saga no Gabai Baachan” (Nenek Hebat dari Saga), oleh Yoshichi Shimada
263 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Kansha Books (a division of Mahda Books)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] A Child Called “It”

A Child Called 'It': Sebuah Kisah Nyata Perjuangan Seorang Anak untuk Bertahan HidupA Child Called ‘It’: Sebuah Kisah Nyata Perjuangan Seorang Anak untuk Bertahan Hidup by Dave Pelzer

My rating: 2 of 5 stars

Child abuse. Siapapun yang melakukannya adalah orang yang lemah. Mengapa? Karena ia hanya mampu menindas makhluk yang jauh lebih lemah daripadanya. Berhadapan dengan orang yang kekuatannya setara, ia tak bakal mampu berbuat apa-apa.

Memoar korban child abuse, Dave Pelzer, serta bagian pertama dari trilogi kisah hidupnya ini menceritakan siksaan, hinaan, kekejaman yang dilakukan ibu kandungnya sendiri ketika ia masih kecil. Beberapa orang yang telah membaca buku ini bisa jadi ragu-ragu akan kebenaran ceritanya, karena hal-hal yang dilakukan sang ibu kepada Dave kecil sungguh tidak masuk akal dan gila.

Terlepas dari hal itu, bagi saya buku ini membawa dua pesan. Pesan yang pertama adalah bagi para orang tua. Jangan sekali-kali menyiksa anakmu. Didikan bisa saja diberi secara fisik, tapi orang tua yang baik tentunya tahu batasan antara mendidik dan menyiksa.

Pesan yang kedua adalah bagi para korban child abuse, buku ini dapat menjadi penyemangat bagi mereka. Sangat jarang korban child abuse yang berhasil keluar dari traumanya. Kekerasan dan pelecehan yang dialami sejak dini bisa menghantui seluruh hidup si anak sehingga kemauan bertahan hidupnya lemah, ia bertumbuh dengan rasa rendah diri dan mental terganggu. Dave Pelzer, dengan perjuangan keras dan dukungan tanpa henti orang-orang yang mengasihinya, berhasil keluar dari traumanya.

View all my reviews

Softcover, 168 pages
Published 2001 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1992)
Price IDR 34.500

[Review] Anak-anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia

Totto-chan's Children: A Goodwill Journey to the Children of the World  (Anak-Anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-Anak Dunia)Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World by Tetsuko Kuroyanagi

Judul terjemahan Indonesia: Anak-anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia

My rating: 5 of 5 stars

Tanzania. Anak-anak antre mengambil air di ‘sumur’ yang tak lain lubang yang berisi air berlumpur. Mereka anak-anak asli Afrika yang tidak pernah melihat gajah, singa, atau jerapah secara langsung.

Nigeria. Negara dengan curah hujan tahunan 2,5 sentimeter. Suhu udara pada siang hari mencapai 60 derajat Celcius. Tidak ada air bersih yang layak dikonsumsi.

India. Negara dengan budaya yang menawan. Namun di kota Madras, 92 persen anak-anak menderita kekurangan gizi.

Mozambik. Bekas jajahan Portugis yang memperoleh kemerdekaan dengan tingkat literasi hanya 2 persen. Tentara gerilya menghancurkan semua fasilitas umum, laki-laki dibunuhi, perempuan diperkosa, anak-anak dilatih paksa menjadi tentara gerilya.

Kamboja. Ada tempat bernama kuburan massal Choeng Ek tempat 9.000 tengkorak manusia diletakkan begitu saja di atas rumput. Korban-korban rezim Pol Pot menggali lubang kuburan mereka sendiri dan dipenggal tepat di depan lubang yang mereka gali.

Vietnam. Anak-anak bekerja dari pagi hingga malam hari. Mereka pergi ke sekolah pukul 19.00-21.30.

Angola. Tentara gerilya antipemerintah memotong kaki dan tangan anak-anak. Ayah ibu mereka dibunuh di depan mata.

Bangladesh. Setiap kali terjadi banjir, sepertiga negara ini terendam. Bencana alam menyebabkan kelaparan dan wabah penyakit merajalela.

Irak. Kotoran masuk ke rumah penduduk karena saluran pembuangan dan pembangkit listrik tidak berfungsi akibat dibom. Anak-anak dijadikan alat pendeteksi ranjau darat.

Etiopia. Orang-orangnya kurus kering, hanya tulang berbalut kulit. Makanan dijatah, yang mendapatkannya hanya mereka yang berat badannya kurang dari 70 persen standar berat untuk umur dan tinggi badan mereka.

Sudan. Banyak sekali anak yang menjadi korban tembakan gerakan antipemerintah. Banyak anak menjadi yatim piatu karena perang saudara.

Rwanda. Kata salah satu pendeta setempat yang dimuat di majalah Time, “Tidak ada lagi iblis di neraka. Semuanya ada disini, di Rwanda.” Orang-orang saling membunuh karena kebencian yang amat hebat.

Haiti. Anak-anak menjadi pelacur untuk memberi makan keluarganya. Anak-anak jalanan dijebloskan ke penjara, tanpa mengetahui apa kesalahannya.

Bosnia-Herzegovina. Anak-anak menderita luka psikologis yang sulit disembuhkan, akibat perang. Ada ranjau dan bom yang khusus dibuat untuk membunuh anak-anak, yang berbentuk seperti cone es krim, cokelat, atau mainan.

###

Sangat mudah bagi kita untuk berkata, “Di negara X terjadi kelaparan,” atau “di negara Y pecah perang,” tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya dirasakan orang-orang yang mengalami langsung kejadian itu. Kalaupun kita sempat melihat liputan beritanya di televisi, paling-paling kita hanya mendesah pelan dan berkata, “Oh, kasihan ya.” Titik.

Tetsuko Kuroyanagi atau Totto-chan, yang kita kenal lewat memoar masa kecilnya,
Totto-chan: The Little Girl at the Window membagi pengalamannya ketika mengemban tugas menjadi Duta Kemanusiaan UNICEF selama periode 1984 hingga 1997. Ia mengunjungi sejumlah negara dan bertemu bermacam-macam anak; anak yang sangat kekurangan gizi sehingga otaknya rusak, anak yang ditinggal mati orangtuanya karena wabah kolera, anak yang harus bekerja untuk memberi makan keluarganya, anak yang haus belajar namun tidak ada sarana prasarana yang tersedia baginya untuk belajar, anak yang menderita trauma batin amat parah akibat perang saudara yang terjadi di negaranya.

Begitu banyak fakta mengejutkan yang dibeberkan Totto-chan dalam buku ini, baik mengenai musibah kelaparan, kejamnya perang, dan kondisi mereka yang mengalaminya, baik anak-anak maupun orang dewasa. Siapapun yang masih memiliki nurani akan remuk hatinya mengikuti penuturan Totto-chan sementara ia bergerak dari satu negara ke negara lain. Betapa mengerikannya dampak kelaparan dan perang terhadap anak-anak khususnya, dan umat manusia pada umumnya!

Namun kabar gembiranya adalah; masih ada orang-orang yang dengan sukarela mau membangun kembali negara yang hancur, mengusahakan kesehatan masyarakat, memberdayakan kaum perempuan, memperjuangkan perdamaian. Dari orang-orang seperti inilah kita dapat mengambil teladan, bahwa masih ada kasih sayang di dunia ini. Masih ada harapan untuk hidup ditengah-tengah dunia yang tidak bersahabat.

Inilah salah satu buku yang “menampar” saya dengan begitu keras. Walaupun fakta yang ditulis dalam buku ini terjadi sudah 13-26 tahun yang lampau, dan saya tidak begitu tahu seberapa banyak perkembangan yang terjadi sampai dengan hari ini, tetap saja selesai membacanya saya merenung lama, memikirkan hal-hal ini;

Saya masih bisa makan tiga kali sehari, masih pantaskah saya mengeluh?
Saya tidak kekurangan air bersih, kalau tidak ada air tinggal beli saja, masih pantaskah saya mengeluh?
Saya tinggal di negara yang relatif masih damai, ketakutan tidak merajalela di jalan-jalan, masih pantaskah saya mengeluh?

Di luar sana, ada anak-anak yang harus berjalan sejauh 4,8 sampai 9,6 kilometer untuk mengambil air. Airnya cokelat berlumpur, tapi tidak ada air yang lain.
Di luar sana, ada anak-anak yang tidak bisa bebas berlarian di padang berumput, karena satu kali saja salah melangkah, nyawa bisa hilang akibat ranjau darat yang tersebar dimana-mana.
Di luar sana, ada keluarga-keluarga terpisahkan akibat perang, rumah-rumah yang masih berdiri punya lubang-lubang yang tak terhitung jumlahnya, hasil bombardir peluru.

Teman-teman, bersyukurlah dan lebih banyak lagi bersyukur. Di luar sana, banyak orang yang mengalami kesulitan-kesulitan tak terbayangkan, masih pantaskah kau mengeluh karena hal yang begitu kecil dan remeh?

Totto-chan menuliskan hal ini dalam Epilog;

“Setelah bertemu berbagai macam anak,
Aku ingin mengatakan pada anak-anak Jepang:
Jika kalian sedih melihat anak-anak di negara berkembang,
Yang kalian temui di dalam buku ini,
Dan ingin membantu mereka,
Katakan sekarang kepada teman yang duduk di sebelahmu,
“Mari berdamai.
Mari bergandengan tangan dan menjalani hidup bersama
.”

Anak-anak tidak mengenal teman atau musuh. Bagi mereka semuanya sama. Dapatkah kita bersikap seperti mereka, dan memandang manusia sebagai manusia, sesama ciptaan Tuhan, tanpa memandang suku, ras, agama, golongan, kewarganegaraan? Jika kita bisa melakukan hal itu, tentulah akan jauh lebih sedikit perang yang terjadi di muka bumi ini.

Bersyukurlah dan berdamailah. Sesederhana itu. Sebab manusia tidak dilahirkan untuk saling membenci, tapi untuk saling mengasihi.

View all my reviews

Softcover, 328 pages
Published February 22nd 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 50.000

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers