Blog Archives
[Review] My Ridiculous, Romantic Obsessions
Sarah–tokoh utama dalam kisah ini–sama sekali bukan tipikal tokoh utama dalam novel-novel romatis. Dia tidak langsing, malah cenderung gemuk. Rambutnya tidak berkilau keemasan dan selembut sutra, tapi ikal dan liar seperti rambut Medusa. Sarah mengalami krisis pede akut jika berhadapan dengan cowok (ganteng). Dan dia membaca terlalu banyak novel roman, yang hanya membuat Prince Charming complex yang diidapnya ini makin parah.
Awalnya Chel, sahabat karibnya, yang memprovokasi Sarah untuk berkuliah di kampusnya. Di kampus ini, konon ada seorang manusia yang sangat terkenal, berjenis kelamin laki-laki, dan dia luar biasa tampan. Dia adalah Asisten Dosen dalam kelas sejarah seni. Sang Asisten Dosen, sebagaimana Sarah menggambarkannya, punya ketampanan ala orang Iran, laksana Dewa dari Timur Tengah. Tak dinyana, dalam kelas yang sama pula, Sarah bertemu dengan makhluk yang tak kalah tampannya dari sang Asisten Dosen. Sarah menyebutnya Adonis (salah satu dewa dalam mitologi Yunani yang melambangkan ketampanan). Dasar Sarah yang malang, ia gelagapan ketika harus menghadapi si Adonis yang sedang mengkoordinir kelompok belajar. Padahal Adonis–nama sebenarnya Ben
–sebenarnya sangat-sangat baik.
Lama-kelamaan hubungan Sarah dan Ben semakin dekat. Ben mengantar Sarah pulang sehabis kelompok belajar, main ke apartemennya, mereka bermain gitar bersama, makan es krim bersama, dan Ben mengajak Sarah ke acara pernikahan kakaknya di rumah orang tuanya. Belum lagi Ben selalu mengirim SMS dan menelponnya. Sarah rasa-rasanya tak percaya semua ini. Bagaimana mungkin–Ben yang setampan dewa Yunani ini, bisa tertarik padanya–cewek aneh yang sama sekali tidak menarik? Tokoh utama dalam novel romantis sama sekali tidak mirip diriku, pikir Sarah. Mereka cantik, tinggi langsing, anggun, dan punya rambut berkilau seperti mutiara yang tergerai lembut sepanjang punggung. Mereka bisa membuat laki-laki manapun bertekuk lutut hanya dengan mengibaskan rambut atau mengerjap-ngerjapkan mata. Teman-temannya menyebut Sarah sedang pacaran dengan Ben, tapi dia menolak mempercayainya. Ben mulai merasa insecure karena Sarah tidak merespon segala perhatian yang diberikan Ben kepadanya. Sementara Sarah begitu takut bahwa semua ini hanya permainan, dan ia akan berakhir dipermalukan seperti pengalaman di masa lalu. Novel ini punya happy ending dan ceritanya cukup gampang ditebak, tapi seru juga mengikuti ke-o’on-an Sarah menuju happy endingnya, hehehe.
Ini bukan novel romantis biasa. Itu kalimat tagline yang tercetak di bagian atas cover buku. Dan kurang lebih saya setuju (walaupun saya sangat jarang membaca novel romantis :p), karena: 1. Buku ini mbanyol sangat, mampu bikin saya cekikikan sendiri ketika membacanya, cukup menghibur lah. 2. Tokoh utama perempuannya sama sekali bukan heroine, tapi cewek yang dorky dan o’on gak ketulungan terutama jika berhadapan dengan cowok. 3. Punya pesan moral yang bagus. Bahwa setiap cewek harus percaya diri dengan diri mereka masing-masing. Dan setiap cewek layak mendapatkan cowok yang pantas bagi mereka. And never take the one you love for granted, you might regret it. 4. Saya suka warna-warna di covernya. 5. Saya suka dengan tokoh Ben yang ‘sempurna tapi sebenarnya tidak sempurna-sempurna banget’. He was so lovable, dan resmi menjadi kandidat untuk masuk daftar Top 5 Book Crushes tahun 2012. LOL.
Karena saya membaca buku ini berbarengan dengan nonton film From Prada to Nada, malah kebayang Ben itu seperti salah satu aktor yang main di film itu, yang punya nama Nicholas D’Agosto :p
Ada satu kalimat di hal. 115 yang saya suka, tidak disangka bisa muncul dalam novel roman jaman sekarang ini:
“Kau tidak bisa membiarkan orang-orang ini–bahkan yang benar-benar asing–untuk melihatmu bersama Ben jika hubungan kalian sewaktu-waktu tidak berhasil. Kau benar-benar yakin bahwa seharusnya kau tidak boleh terlihat dalam situasi romantis dengan orang yang tidak akan menjadi suamimu.”
Tiga bintang untuk novel romantis nan konyol ini!
Detail buku:
“My Ridiculous, Romantic Obsessions”, oleh Becca Wilhite
270 halaman, diterbitkan Oktober 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] Esperanza Rising
Esperanza. Ramona. Alfonso. Hortensia. Miguel. Membaca nama-nama ini membuat saya merasa seakan kembali ke tahun 90-an di mana telenovela lagi booming-boomingnya
Esperanza Rising, yang sekilas ceritanya mirip A Little Princess versi Latin, memperkenalkan kita pada seorang gadis muda bernama Esperanza Ortega, anak pemilik perkebunan yang luas di Meksiko, yang belum pernah mengenal kesusahan sepanjang hidupnya. Kisah ini dirangkai dengan setting tahun 1930, sepuluh tahun setelah revolusi Meksiko, dan tahun dimulainya Depresi Besar di Amerika.
Tepat sehari sebelum ulang tahun Esperanza yang ketiga belas, terjadi musibah yang tak diharapkan dalam hidupnya. Ayahnya tercinta terbunuh oleh bandit-bandit dalam perjalanan pulang dari perkebunan. Fiesta ulang tahun yang dinanti-nantikan Esperanza lenyap sudah, digantikan duka mendalam. Dengan kematian sang pemilik perkebunan, maka kedua paman Esperanza, Tio Marco dan Tio Luis, memulai rencana busuk mereka untuk menguasai perkebunan itu. Tio Luis membujuk ibu Esperanza, Ramona, untuk menikah dengannya; sehingga Ramona, Esperanza, Abuelita (nenek Esperanza), beserta pekerja-pekerja perkebunan Sixto Ortega yang setia tidak perlu menguatirkan hidup mereka di masa mendatang. Ramona menolak lamaran Luis, kemudian rumah dan tanahnya ludes dilahap api dalam kebakaran besar.
Ramona dan Abuelita mempunyai kecurigaan kuat bahwa kebakaran itu memang direncanakan oleh Tio Luis, sebagai upaya untuk memaksa Ramona agar setuju menikah dengannya. Tak sudi menuruti ambisi licik Tio Luis, Ramona dan Esperanza akhirnya memutuskan kabur ke California, mengikuti pelayan-pelayan mereka, Alfonso, Hortensia, dan anak mereka Miguel. Di kereta menuju California mereka bertemu dengan Carmen, seorang janda dengan 8 orang anak yang baru saja ditinggal mati suaminya. Meskipun begitu, Carmen adalah seorang wanita yang kuat, dan ia berkata,
“Aku miskin, tapi aku kaya. Aku memiliki anak-anakku. Aku memiliki taman dengan bunga-bunga mawar, dan aku memiliki keyakinanku, serta kenangan akan orang-orang yang telah pergi mendahuluiku. Apa lagi yang kubutuhkan?”
Sesampainya di California mereka bekerja di suatu perkebunan milik perusahaan, bersama adik Alfonso yang bernama Juan, istrinya Josefina, serta ketiga anak mereka, Isabel serta bayi kembar Lupe dan Pepe. Sayangnya Abuelita tidak dapat ikut ke California karena sakit.
Di babak baru kehidupannya ini, Esperanza dipaksa untuk berubah dari nona muda yang kaya menjadi pekerja kasar yang miskin. Tidak ada lagi rumah yang megah dan luas, Esperanza dan ibunya harus tidur dalam pondok sempit yang diisi lima orang. Tidak ada lagi gaun-gaun yang indah dan mainan-mainan yang mewah. Ia kemudian bersahabat dengan Isabel, dan Esperanza iri kepadanya karena “…Isabel tidak memiliki apa-apa, tetapi dia juga memiliki segalanya. Esperanza menginginkan milik Isabel. Ia menginginkan begitu sedikit kekhawatiran sehingga sesuatu yang sesederhana boneka benang bisa membuatnya gembira.” Dan Esperanza rindu kepada sang ayah, yang pernah mengajarinya menempelkan telinga di tanah untuk mendengar denyut jantung bumi. Ia rindu mendengar ayahnya membisikkan kata-kata ini kepadanya;
“Aguántate tantito y la fruta caerá en tu mano” (“Tunggu beberapa saat dan buahnya akan jatuh ke tanganmu”).
Cobaan belum berhenti sampai disitu; beberapa bulan setelah pindah ke California, ibunya jatuh sakit karena infeksi yang diakibatkan oleh spora debu setelah terjadinya badai debu, dan juga karena depresi. Inilah saat bagi Esperanza mengambil alih tanggung jawab atas dirinya dan ibunya, dengan bekerja keras untuk membiayai pengobatan ibunya, dan sekaligus menabung untuk ongkos perjalanan Abuelita ke California untuk bisa bersama-sama dengan mereka lagi. Esperanza pun akhirnya paham, bahwa kehidupan itu naik turun, seperti alur zigzag pada selimut Abuelita: ada kalanya naik ke puncak gunung, ada kalanya turun ke lembah. Dan pada saat ia gagal, ia mengingat perkataan Abuelita: jangan takut untuk memulai lagi dari awal.
###
Novel indah yang ditulis Pam Munoz Ryan ini menceritakan riwayat neneknya, Esperanza Ortega. Buku ini unik karena setiap bab diberi judul buah-buahan, misalnya Las Uvas (buah-buah anggur), Las Papayas (buah-buah pepaya), Los Melones (buah-buah melon), dan sebagainya. Selain itu ada resep untuk membuat Jamaica Flower Punch dan cara membuat boneka benang di akhir buku. Nilai moral yang berharga terkandung di dalam buku ini sehingga saya merekomendasikan buku ini terutama kepada para remaja, sesuai segmen yang disasar Penerbit Atria. Terjemahan yang baik, cover yang manis (lebih manis daripada cover aslinya, walaupun hampir sama), dan banyaknya kutipan-kutipan indah nan bijak, membuat buku ini pantas dimasukkan dalam wishlist.
Detail buku:
“Esperanza Rising” oleh Pam Munoz Ryan
238 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Treasure Island: Berebut Harta Karun!
“Fifteen men on the dead man’s chest—
…Yo-ho-ho, and a bottle of rum!
Drink and the devil had done for the rest—
…Yo-ho-ho, and a bottle of rum!”
Jauh sebelum ada wahana Disneyland (dan kemudian franchise film) Pirates of the Caribbean, novel berjudul Treasure Island karya pengarang Skotlandia, Robert Louis Stevenson, terbit pada bulan Maret 1883. Treasure Island sebenarnya sudah dimuat sebagai cerita bersambung dalam majalah anak-anak Young Folks pada tahun 1881-1882 namun baru dibukukan pada tahun 1883.
Cerita bermula di Penginapan Admiral Benbow yang terletak di tepi laut di barat daya Inggris. Jim Hawkins, putra pemilik Admiral Benbow yang berusia 17 tahun, menjadi penutur cerita utama dan membuka kisah dengan datangnya seorang bajak laut tua bernama Billy Bones yang menetap di Admiral Benbow untuk waktu yang cukup lama. Bones yang mengaku pernah menjadi salah seorang kru almarhum Kapten Flint, seorang bajak laut yang ditakuti, ternyata sedang bersembunyi di Admiral Benbow, terutama dari seorang berkaki satu yang terus ia sebut-sebut kepada Jim agar mewaspadai kedatangan orang tersebut.
Bones mengaku bahwa ia membawa peti bajak laut yang berisi harta dan selembar peta Pulau Harta Karun. Peti bajak laut itulah yang membuat Bones diincar oleh berbagai pihak, seorang pelaut yang dipanggil Black Dog dan seorang buta bernama Pew. Pertemuan dengan Pew mengakibatkan kematian bagi Bones yang sebelumnya memang sudah jatuh sakit. Dengan kematian Bones, Jim dan ibunya mengambil sejumlah uang yang menjadi hak mereka dan gulungan kertas minyak yang diyakini adalah peta Pulau Harta Karun dari peti Bones, dan di tengah-tengah ancaman bajak laut yang mengincar peti tersebut mereka melarikan diri ke tempat yang aman.
Jim selanjutnya membawa peta itu untuk dilihat oleh Dokter Livesey dan Hakim Trelawney, dan kemudian mereka membentuk kru untuk pergi ke pulau tersebut dengan kapal bernama Hispaniola. Beberapa orang yang menyertai perjalanan mereka antara lain Kapten Smollett sebagai kapten kapal, dan Long John Silver, seorang juru masak kapal berkaki satu. Jim baru menyadari kemudian bahwa Silver-lah orang berkaki satu yang ditakuti Billy Bones. Selanjutnya Silver membantu Hakim Trelawney merekrut pelaut-pelaut untuk menggenapkan jumlah kru kapal yang dibutuhkan.
Setelah mereka sampai di Pulau Harta Karun, Jim yang pada saat itu tertidur di dalam sebuah tong mencuri dengar pembicaraan antara Silver dan beberapa orang dari kru yang telah dipilihnya. Mereka ternyata menyusun rencana untuk melakukan pemberontakan, merampas harta karun itu dan membunuh orang-orang yang tidak sepihak dengan mereka, termasuk Jim sendiri. Mendengar itu, Jim melarikan diri dan secara tidak sengaja bertemu Ben Gunn, yang juga adalah seorang mantan kru Kapten Flint yang ditinggalkan di Pulau Harta Karun dan tidak bertemu seorang manusia pun selama 3 tahun. Selanjutnya, terjadi pertempuran yang memakan banyak korban antara pihak Hakim Trelawney melawan pihak John Silver memperebutkan harta karun yang terpendam di pulau itu.
###
Salah satu karya klasik yang dikenang sepanjang masa karya Robert Louis Stevenson (1850-1894, juga menulis Kidnapped dan Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde) ini diceritakan melalui 2 sudut pandang, yang pertama dari sudut pandang Jim Hawkins selaku tokoh utama, dan sudut pandang Dr. Livesey. Peralihan kedua sudut pandang sebenarnya cukup mulus karena ada keterangan di bawah judul bab, namun kadang-kadang saya masih suka bingung siapa sebenarnya yang sedang membawakan cerita. Banyaknya tokoh di dalam Treasure Island membuat karakterisasi masing-masing tokoh penting menjadi sekeping-sekeping saja, dan terutama sih saya kurang puas dengan karakter Jim Hawkins sendiri. Di awal sampai pertengahan buku, Jim terkesan seperti ”anak manis”, dan salah rasanya menempatkan dia ditengah-tengah bajak laut yang beringas. Baru kemudian ketika Jim melarikan diri baru mulai kelihatan ”bengalnya”.
Walau saya biasanya menyenangi cover buku-buku terbitan penerbit Atria, untuk cover edisi terjemahan Treasure Island versi Atria ini rasanya terlalu lembut dan kekanak-kanakan untuk sebuah cerita yang aslinya keras dan maskulin. Dan secara keseluruhan, walaupun ceritanya sangat berpotensi untuk menjadi menarik, menurut saya ketegangan tidak cukup berhasil dibangun oleh penulis. Entah apakah ini pengaruh dari terjemahannya atau memang aslinya seperti itu. Rasanya saya lebih memilih untuk menonton filmnya saja…
Detail buku:
“Treasure Island”, oleh Robert Louis Stevenson
345 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥
[Review] Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya

Ternyata memang ada beberapa cerita yang melekat pada diri kita dari masa kecil dan ketika kita membacanya lagi saat sudah dewasa, perasaan yang ditimbulkan oleh cerita-cerita itu sama seperti perasaan pada waktu kita membacanya sebagai seorang anak kecil.
Jacob dan Wilhelm Grimm atau yang lebih dikenal dengan sebutan The Brothers Grimm (Grimm bersaudara) tidak mengakui diri mereka sebagai pendongeng bagi anak-anak, namun sebagai pahlawan folklor yang berjasa mengabadikan dongeng-dongeng rakyat Jerman yang disampaikan dari generasi ke generasi secara lisan dalam bentuk tertulis. Tak dapat dipungkiri jika Grimm bersaudara tidak mengumpulkan dan menerbitkan dongeng-dongeng pada masanya dan jika Kinder-und Hausmärchen atau Children’s and Household Tales (kumpulan dongeng pertama yang mereka publikasikan pada tahun 1812) tidak pernah terbit, maka mungkin sampai pada era ini kita tidak akan pernah mendengar cerita tentang Snow White, Musisi dari Bremen, Tom Ibu Jari, Hansel dan Gretel, Pangeran Katak, ataupun Rapunzel.

Cover Grimm’s Kinder- und Hausmärchen (1812)
Dan jika sampai saat ini kita sudah membaca, mendengar, atau menonton berbagai versi dari dongeng-dongeng Grimm, maka melalui buku ini kita dapat mengetahui bagaimana cerita dalam versi aslinya.
Buku “Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya” besutan Penerbit Atria berisi 19 dongeng, antara lain:
1. Musisi dari Bremen
2. Teka-teki
3. Tom Ibu Jari
4. Briar Rose
5. Dua Belas Putri yang Menari
6. Pengantin Perampok
7. Ratu Lebah
8. Raja Janggut-Mengerikan
9. Peri Pembuat Sepatu
10. Aschenputtel
11. Hansel dan Gretel
12. Serigala dan Tujuh Kambing Kecil
13. Pangeran Katak
14. Frau Holle
15. Rumpelstiltskin
16. Tiga Pemintal
17. Gadis Angsa
18. Rapunzel
19. Snow-white
Buku ini seakan menjadi jawaban bagi penikmat buku yang ingin memiliki kumpulan dongeng dengan harga yang terjangkau. Karena sejauh pengamatan saya, buku kumpulan dongeng biasanya terbuat dari kertas tebal yang berat dan full color, sehingga harganya pun menjadi selangit. Tampilan fisik Hansel dan Gretel versi Atria menurut saya cukup cocok bagi pembaca anak-anak, dengan ilustrasi-ilustrasi hitam putih cantik yang dikemas secara modern di dalamnya akan semakin memanjakan mereka ketika menikmati buku ini. Sedangkan bagi pembaca remaja dan dewasa, buku ini dapat menjadi koleksi yang berharga, karena setiap dongeng dalam buku ini adalah cerita versi asli dari Grimm bersaudara yang telah diterjemahkan dengan baik ke dalam bahasa Indonesia.
Namun ada beberapa kekurangan dan hal yang mengganjal bagi saya tentang buku ini, antara lain:
- Tidak adanya daftar isi. Rasanya sudah sepatutnya, sebuah buku kumpulan cerita (kumcer) menyertakan daftar isi di bagian awal buku. Absennya daftar isi ini cukup menyusahkan pembaca jika ingin langsung skip membaca cerita/dongeng tertentu di dalam buku.
- Castle, di dalam buku ini diterjemahkan menjadi kastel. Sungguh kata yang aneh, meskipun kata ini memang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mengapa tidak menggunakan kata kastil saja, atau lebih baik lagi, istana.
- Pada hal. 126 dalam cerita Frau Holle, ada kalimat yang berbunyi, “Hatta, Frau Holle memegang tangannya dan menuntunnya ke sebuah gerbang”. Nah lho, apa lagi artinya “Hatta” ini?
Namun demikian, kerja keras Penerbit Atria untuk menghidupkan kembali dongeng-dongeng Grimm versi asli untuk dinikmati dalam bahasa Indonesia patut diapresiasi, karena itu saya memberikan 4 bintang untuk buku ini.
Dongeng-dongeng Grimm lainnya bisa dinikmati lewat berbagai situs di dunia maya, ini salah satunya yang menarik: http://www.nationalgeographic.com/grimm/
Detail buku:
“Hansel dan Gretel dan Dongeng-dongeng Lainnya”, oleh Grimm Bersaudara
192 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Scones and Sensibility
Saya ingin menampar Polly Madassa!
Yap, Polly Madassa, seandainya ia benar-benar nyata, pasti adalah gadis dua belas tahun paling menyebalkan di muka bumi. Dia kira dia sudah mengetahui semuanya tentang cinta dengan membaca Pride and Prejudice serta Anne of Green Gables berulang kali. Ia kecanduan segala sesuatu yang berbau romantis, setiap kata yang ia ucapkan (atau pikirkan) selalu berbunga-bunga dengan kata-kata seperti “indah”, “cantik”, “molek”, “anggun”, dan sebagainya.
Sebagai gadis muda yang salah abad, Polly lebih suka mengenakan gaun daripada t-shirt dan jeans, senang menulis dengan pencahayaan lilin menggunakan pena bulu daripada bolpoin, dan lebih memilih mesin tik daripada komputer.
Polly, yang bekerja membantu mengantarkan kue-kue selama musim panas untuk toko roti antik orangtuanya, merasa bahwa sudah panggilan hidupnya untuk membantu kehidupan percintaan orang-orang terdekatnya. Ia jengah melihat kakaknya, Clementine, yang berpacaran dengan cowok bernama Clint, yang menurutnya, kasar dan sama sekali tidak gentleman. Ia sedih melihat sahabat baiknya, Fran Fisk, dan ayahnya, yang telah hidup selama tiga tahun tanpa kehadiran sosok seorang ibu dan istri. Juga ada Mr. Nightquist, seorang kakek dari cucu lelaki yang nakal, yang telah lama ditinggal mati istrinya.
Maka Polly pun mulai menyusun rencana dan mencarikan “kandidat-kandidat” yang cocok bagi Clementine, Mr. Fisk, serta Mr. Nightquist. Yang masuk dalam kriterianya adalah orang-orang yang berpenampilan menawan dan “berbudaya”, kurang lebih seperti Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, tokoh-tokoh dalam novel yang telah berulang kali dibacanya. Polly menganggap bahwa segala rencananya akan berjalan lancar, dan semua orang yang dijodohkannya akan “mereguk kebahagiaan cinta yang teramat manis”. Polly sama sekali tak sadar bahwa semua yang dilakukannya bisa mengarah kepada bencana…
###
Sayang sekali, saya tidak bisa bilang bahwa saya menyukai buku ini. Saya sudah membaca Pride and Prejudice yang menjadi “kitab suci” bagi Polly dan saya tidak menyukainya. Bagi saya karakter Elizabeth Bennet terlalu dangkal karena ia menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya dan bagaimana ia membawa dirinya. Hey, orang-orang yang rupawan tak selalu jujur dan baik hati. Dan sebagian orang paling baik di dunia tidak tahu cara membawa diri dengan ramah dan ceria di tengah-tengah orang banyak. Keramahan dan keceriaan bisa saja palsu. Polly, menurut saya, sama dangkalnya dengan Elizabeth. Karena ia dengan terburu-buru menilai seseorang sebelum benar-benar mengenal orang itu. Dan ia juga tidak mengerti bahwa sesuatu yang romantis itu relatif, tergantung pada tiap-tiap orang. Sebagian besar juga karena ia mengira ia tahu yang terbaik bagi orang-orang tercintanya.
Nilai moral dari cerita ini adalah, lebih baik tidak usah ikut campur dalam kehidupan cinta orang lain. Anda juga pasti tidak mau kalau ada orang yang melakukan itu kepada anda. Satu bintang saya berikan untuk gaya penulisan Lindsay Eland yang berhasil memadukan gaya bahasa buku-buku klasik dengan setting masa kini, dan sukses membuat saya sebal (dan diterjemahkan dengan sangat baik oleh Mbak Uci) dan satu bintang lagi untuk nilai moral yang diberikan buku ini.
Detail buku:
“Scones and Sensibility”, oleh Lindsay Eland
308 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥
[Review] Kerutan dalam Waktu (A Wrinkle in Time)
“Satu hal yang telah kupelajari, adalah kau tak perlu memahami sesuatu untuk menerima sesuatu itu ada.”
Margaret “Meg” Murry, anak tertua dari empat bersaudara, adalah seorang anak perempuan yang bermasalah di sekolah. Sepertinya ia tidak bisa melakukan apapun dengan benar, para guru dan teman-temannya mencelanya, dan dengan penampilan fisiknya yang “mengerikan”: kawat gigi, kacamata tebal, dan rambut berantakan; ia semakin dianggap makhluk yang aneh. Orangtua Meg adalah sepasang ilmuwan jenius, sehingga orang-orang tak habis pikir mengapa Meg bisa menjadi begitu bodoh, demikian juga adik bungsunya, Charles Wallace. Padahal, mereka sama sekali tidak bodoh, mereka hanya melakukan segala sesuatunya tidak seperti kebanyakan orang. Dan itulah yang membuat Meg dan Charles Wallace berbeda, bahkan berbeda dengan saudara lelaki kembar mereka, Sandy dan Dennys.
Ditambah lagi, ayah Meg telah menghilang secara misterius setelah beliau pergi melakukan pekerjaan untuk pemerintah. Pada suatu malam berbadai yang aneh, Meg akhirnya terlibat perjalanan berbahaya menembus ruang dan waktu untuk menyelamatkan ayahnya, bersama-sama dengan Charles Wallace dan seorang anak lelaki bernama Calvin O’Keefe. Mereka dibantu oleh tiga individu yang masing-masing sangat ganjil; Mrs. Whatsit yang penampilannya seperti perempuan tua yang tenggelam dibawah mantel dan tumpukan syal, Mrs. Who yang memakai kacamata amat besar dan selalu mengutip peribahasa-peribahasa dan ungkapan-ungkapan kuno serta ucapan-ucapan para tokoh terkenal dari abad yang sudah berlalu; serta Mrs. Which yang sosok tubuhnya seakan transparan dan suaranya menggema tajam di udara ketika ia berbicara.
Meg, Charles Wallace dan Calvin melintasi dimensi kelima untuk pergi ke Camazotz, tempat Mr. Murry ditawan oleh ITU, suatu individu jahat yang mengendalikan segala sesuatunya sehingga semua makhluk hidup di tempat itu bergerak dalam satu irama yang sama, sehingga mereka tidak kelihatan benar-benar hidup tapi seperti selongsong kosong yang tak berjiwa. “Mengapa kau pikir orang-orang menjadi bingung dan tidak bahagia? Karena mereka semua menjalani kehidupan mereka masing-masing, terpisah, dan individual. Perbedaan hanya menciptakan masalah,” demikian alasan ITU. Bertiga mereka saling membantu untuk melewati segala bahaya dalam perjalanan mereka, dan pada akhirnya Meg sendirilah yang harus menghadapi ITU, dengan senjata rahasia yang ia miliki namun tidak dimiliki oleh ITU. Akankah Meg memenangkan pertempuran ini?
###
“Buku-buku yang paling melekat dalam kenangan masa kecil kita adalah buku-buku yang membuat kita merasa tidak kesepian, yang meyakinkan kita bahwa kelemahan dan keanehan kita sama individualnya dengan sidik jari dan sama universalnya dengan tangan yang terbuka.”
Demikian kalimat pembuka dari halaman apresiasi yang ditulis oleh Anna Quindlen, seorang penulis dan jurnalis Amerika yang pernah memenangkan Pulitzer Prize, yang entah mengapa diletakkan di bagian awal buku A Wrinkle In Time edisi terjemahan Indonesia terbitan Atria ini. Dalam enam halaman apresiasi ini Anna sudah merangkum isi buku ini, sehingga, bagi anda yang ingin membaca buku ini tanpa terganggu dengan spoiler, maka saya menyarankan anda untuk melewati halaman apresiasi ini dan langsung membaca bab pertama.
Jujur saja, saya agak bingung mengkategorikan buku ini. Pendapat saya ketika sekilas melihat covernya, ini adalah buku anak-anak. Setelah membacanya, saya berpendapat buku ini agak terlalu berat untuk anak-anak, mereka yang sudah memasuki usia remaja yang bisa membacanya. Namun, dalam beberapa bagian, sayapun yang sudah tergolong pembaca dewasa pun agak sulit memahami buku ini, terutama mengenai tesseract alias dimensi kelima, serta siapa sebenarnya Mrs. Whatsit, Mrs. Who, dan Mrs. Which, serta Medium Bahagia serta beberapa tokoh lain yang notabene bukan manusia. Karakter Charles Wallace kecil yang unik juga membuat saya bingung, sebab bagaimana mungkin seorang anak lelaki kecil yang berusia tak lebih dari 9 tahun, dapat berkata seperti ini, “Jalan menuju neraka dilapisi oleh niat-niat baik.”
Kesimpulan yang saya tarik ketika selesai membacanya, A Wrinkle in Time adalah kisah tentang perjuangan batin melawan rasa kesepian, tidak dicintai, dan ketakutan pribadi. (bagi saya buku ini seakan berteriak keras-keras “YOU ARE LOVED!” )
Dan pada akhirnya, perang antara kebaikan dan kejahatan, namun tidak dalam hingar bingar spektakuler seperti yang sering tampak di film-film Hollywood. Semua ini dibungkus rapat oleh penulis dengan rasa fiksi ilmiah dan unsur-unsur sains yang kental, serta imajinasi yang berbeda dengan apa yang sudah sering kita baca sebelumnya.
Dan tentu saja, kutipan-kutipan yang diucapkan oleh Mrs. Who adalah daya tarik tersendiri.
“Tidak ada yang mustahil; kita harus berharap akan segala sesuatu.” – Euripides
“Ab honesto virum bonum nihil deterret. Tidak ada yang mampu menghalangi seseorang yang baik untuk melakukan sesuatu yang terhormat.” – Seneca
“Qui plus sait, plus se tait. Jika seseorang tahu lebih banyak, dia akan lebih sedikit berbicara.” – peribahasa Prancis
Detail buku:
“Kerutan dalam Waktu” (judul asli: A Wrinkle in Time), oleh Madeleine L’Engle
267 halaman, diterbitkan September 2010 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥
[Review] Tuck Everlasting
Bagaimana jika kau bisa hidup selamanya?
Pada minggu pertama bulan Agustus yang panas itu, serangkaian kejadian yang tampaknya tak saling berhubungan terjadi. Pada pagi hari Mae Tuck pergi dengan kudanya ke hutan di sisi Desa Treegap untuk menemui kedua anaknya. Siangnya, Winnie Foster, anak pemilik hutan Treegap bosan dengan hidupnya yang serba teratur, berpikir untuk melarikan diri. Sore harinya, seorang pria asing datang ke rumah keluarga Foster dengan maksud tertentu di benaknya.
Winnie Foster, anak perempuan keluarga Foster yang berusia sepuluh tahun, mengalami hari yang paling tidak terduga sepanjang hidupnya. Ia memasuki hutan Treegap dan melihat seorang pemuda tampan minum dari mata air yang tersembunyi di dekat sebuah pohon besar di pusat hutan itu. Pemuda yang ditemuinya bernama Jesse Tuck, dan Winnie langsung jatuh hati kepadanya. Dan ternyata, Jesse beserta ayah, ibu dan kakaknya telah hidup selama delapan puluh tujuh tahun tanpa menua barang semenit pun!
Keluarga Tuck pun menculik Winnie, namun mereka tidak berniat menyakitinya, hanya untuk memberikan penjelasan padanya bahwa tidak ada seorang pun yang boleh tahu keberadaan mata air keabadian itu. Di saat yang sama, pria asing yang datang ke kediaman keluarga Tuck menawarkan diri untuk menyelamatkan Winnie dari cengkeraman para penculik dan meminta hutan Treegap yang dimiliki keluarga Foster sebagai gantinya.
Winnie harus memilih. Ia harus memilih antara keluarganya sendiri dengan keluarga Tuck yang juga ia kasihi, terutama Jesse. Ia harus memilih antara membiarkan keberadaan mata air itu diketahui—dan dimanfaatkan, atau berjuang untuk menutup rapat-rapat rahasia itu, tidak peduli sebesar apapun harga yang harus dibayar.
###
Buku tipis yang ditulis dengan apik ini mungkin singkat, namun memiliki makna yang sangat bagus. Buku ini menyadarkan kita, bahwa hidup selamanya itu tak selamanya enak, seperti yang dipikirkan oleh banyak orang. Segala sesuatunya di dunia ini diciptakan Tuhan untuk mengecap kehidupan, dan kemudian mati, semua pada waktu dan perencanaan-Nya yang sempurna.
Tuck Everlasting pernah difilmkan pada tahun 2002 dengan bintang Alexis Bledel (Gilmore Girls) dan Jonathan Jackson. Saya tidak tahu apakah versi filmnya setia pada bukunya karena saya belum pernah menontonnya
Detail buku:
“Tuck Everlasting”, oleh Natalie Babbitt
173 halaman, diterbitkan November 2010 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥
[Review] The Wizard of Oz
The Wizard of Oz by L. Frank Baum
My rating: 3 of 5 stars
Kisah fantasi anak-anak yg sarat imajinasi dan petualangan. Setiap kali Dorothy dan kawan-kawan datang ke suatu tempat, selalu saja ada yg baru, entah itu kawanan Kera Bersayap atau perkampungan yang seluruh penduduk dan bangunannya terbuat dari porselen Cina yang gampang pecah.
Dari cerita ini kita juga dapat belajar dari kebersamaan dan kesetiakawanan Dorothy dengan Scarecrow, Tin Woodman dan Singa Penakut bahkan ketika mereka masing-masing telah menemukan tempat paling nyaman bagi mereka, mereka tetap dengan setia mendampingi Dorothy sampai tujuannya tercapai, yaitu kembali ke kampung halamannya di Kansas.
Gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini sederhana dan tidak bertele-tele, dalam banyak bagian tidak ada penjelasan yang detil tentang peristiwa yang sedang terjadi. Namun maklum, ini buku untuk anak-anak.
Ada beberapa hal yg masih ‘ganjel’ di hati saya, antara lain:
1. Entah mengapa sang penulis memberi kisah ini judul “The Wizard of Oz”. Jelas-jelas tokoh utamanya adalah Dorothy, disusul kawan-kawannya. Si Penyihir Oz sendiri hanya bagian kecil dari kisah ini.
2. Rasanya lebih pas kalau “Scarecrow” tidak usah diterjemahkan menjadi “Boneka Jerami”. Yah itu menurut saya saja sih
Lepas dari itu semua, saya sangat menyukai kisah ini, termasuk juga karena adanya ilustrasi-ilustrasi cantik di edisi terjemahan terbitan Atria. 4 stars for this!
Paperback, 206 pages
Published October 22nd 2010 by Penerbit Atria (first published 1900)
Price IDR 24.900






















