Blog Archives

[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part II & Conclusion

# Conclusion in English at the bottom of the post #

Melanjutkan review Petualangan Sherlock Holmes, Part I, inilah bagian yang kedua. :)

7. Batu Delima Biru (judul asli: The Adventure of the Blue Carbuncle)

Dalam cerpen ini kita diajak mengikuti petualangan sang detektif pada hari sesudah Natal. Dikisahkan bahwa Peterson, seorang petugas antar barang yang jujur, pada pukul empat pagi hari Natal, menyaksikan seorang pria yang dihadang sekelompok pemuda berandalan. Pria itu lalu kabur, dan meninggalkan begitu saja seekor bebek putih yang tadi dipanggulnya. “Bebek Natal” itu kemudian diambil oleh Peterson berikut topi penyok pria itu, yang kemudian jatuh ke tangan Sherlock Holmes. Dari serangkaian kejadian dan barang bukti yang tampaknya sepele, Holmes menganalisis topi penyok itu untuk mendapatkan gambaran tentang pemiliknya, dan melacak asal-usul si bebek sampai ke penjual dan penyuplainya. Ternyata memang si bebek menyimpan “harta terpendam”, secara harafiah.

 

8. Lilitan Bintik-bintik (judul asli: The Adventure of the Speckled Band)

Inilah  cerita paling menegangkan dari semua cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes. Helen Stoner muda datang kepada Sherlock Holmes pada suatu pagi, dalam keadaan penuh teror dan ketakutan. Miss Stoner mengaku tinggal di Stoke Moran, Surrey, bersama dengan ayah tirinya, Dr. Grimesby Roylott. Ia ketakutan, karena malam sebelumnya, suatu peristiwa yang terjadi sesaat sebelum kematian saudara kembarnya terjadi lagi. Ia takut bahwa ia akan mengalami nasib yang sama, mati secara misterius! Bagaimanakah Sherlock Holmes memecahkan kasus ini? Baca saja dalam cerpen yang menurut saya adalah cerpen terbaik dalam kumcer ini!

 

9. Ibu Jari Sang Insinyur (judul asli: The Adventure of the Engineer’s Thumb)

Orang bisa saja mengalami berbagai kejadian aneh, tapi berapa orang yang mengalami petualangan sehubungan dengan ibu jarinya? Seorang insinyur hidrolik muda bernama Mr. Victor Hatherley mengalaminya. Sebuah tawaran pekerjaan yang ringan, tapi dengan bayaran tinggi dari seorang Kolonel Lysander Stark membawanya ke sebuah wilayah terpencil dekat Reading. Victor tak menyangka kalau nantinya ia akan mengalami peristiwa menegangkan yang melibatkan beberapa orang Jerman dan membuatnya harus kehilangan ibu jarinya. Dalam cerpen yang satu ini Conan Doyle banyak menggunakan istilah teknik berkenaan dengan bidang pekerjaan seorang insinyur hidrolik, yang membuat orang non-teknik seperti saya mengerutkan dahi membacanya…

 

10. Bangsawan Muda (judul asli: The Adventure of the Noble Bachelor)

Lord St. Simon yang malang! Istrinya yang cantik tiba-tiba menghilang saat jamuan makan tepat setelah upacara pernikahan! Sang bangsawan meminta pertolongan Sherlock Holmes untuk menemukan istrinya, dan menyampaikan bahwa istrinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mau kabur sebelum pernikahan. Hanya saja, ia sempat gugup dan menjatuhkan buket bunganya saat berjalan keluar dari altar setelah upacara pemberkatan di gereja. Peristiwa yang nampaknya misterius ini ternyata pemecahannya sederhana saja.

 11. Tiara Bertatahkan Permata Hijau (judul asli: The Adventure of the Beryl Coronet)

Klien Sherlock Holmes kali ini adalah seorang bankir dari salah satu bank swasta paling ternama di London, Mr. Alexander Holder dari Holder & Stevenson Bank. Mr. Holder baru saja memberikan pinjaman sebesar 50.000 pound kepada seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Jaminannya adalah benda yang nilainya jauh melebihi nilai pinjaman, yaitu sebuah tiara bertatahkan 39 buah permata hijau. Merasa terbeban karena dititipi benda yang merupakan kekayaan negara, Mr. Holder menyimpan tiara itu dengan ekstra hati-hati dan bersikap ekstra waspada. Namun malang, tiara itu berhasil dicuri juga! Tersangka utama adalah putra Mr. Holder sendiri, Arthur. Sementara itu, Sherlock Holmes yang sedang melakukan penyelidikan, tidak sampai pada keyakinan bahwa Arthurlah pelakunya. Arthur yang malang telah dijebak…

 

12. Petualangan di Copper Beeches (judul asli: The Adventure of the Copper Beeches)

Cerpen yang dibuka dengan cukup menarik dengan perdebatan antara Holmes-Watson ini berkisah tentang Miss Violet Hunter yang ingin berkonsultasi dengan Sherlock Holmes mengenai apakah sebaiknya ia menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Kedengarannya sepele sekali, bukan? Tapi ternyata tidak. Violet menemukan banyak keanehan saat ia mulai bekerja di kediaman Mr. Jephro Rucastle, dan belum menyadari bahwa ia terlibat suatu persekongkolan licik. Namun pada waktunya ia akan tahu.

***

Itulah kedua belas cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes (baca review bagian pertama). Kumcer ini merupakan buku Sherlock Holmes yang pertama kali saya baca, dan secara umum kumcer ini menarik, terutama karena kecemerlangan metode deduksi Sherlock Holmes dan perhatiannya terhadap detail. Kadang-kadang karakter Holmes tampak terlalu sempurna bagi saya, karena sepertinya tidak ada misteri yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Kegagalan yang jarang sekali terjadi tampak dalam cerpen pertama dalam kumcer ini, Skandal di Bohemia. Cerpen favorit saya tetap jatuh pada Lima Butir Biji Jeruk (cerpen no. 5) yang berlatar belakang sejarah perkumpulan Ku Klux Klan dan Lilitan Bintik-bintik (cerpen no. 8) yang bikin deg-degan, membuat saya merasa sedang membaca karya Poe. Saya tertarik untuk membaca novel-novel Sherlock Holmes dengan harapan novel-novelnya lebih dalam dan menyentuh sisi emosional sang detektif handal. Tiga bintang untuk keseluruhan kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini.

Conclusion in English:

 

I have written 2-part review for The Adventures of Sherlock Holmes (it is Petualangan Sherlock Holmes in the Indonesian translated version). Part I was written fully in Indonesian, but here in Part II I included a conclusion in English too. This is the first Sherlock Holmes I have ever read, and I found this book interesting, especially for the brilliant deductive method used by Sherlock Holmes, and his attention to tiny, seemingly meaningless details. However, sometimes I found the character Sherlock Holmes a bit beyond perfection, because it seemed that there was no case that cannot be solved by him (except A Scandal in Bohemia in this particular work). My two favorite short stories in this work go to The Five Orange Pips with its background history of Ku Klux Klan extremist organization and the gripping The Adventure of the Speckled Band that made me felt like I was reading Poe. I want to read Sherlock Holmes’ novels too, with hope that they would be deeper and more emotional. I gave three out of five stars for The Adventures of Sherlock Holmes.

Detail buku:

Petualangan Sherlock Holmes (judul asli: “The Adventures of Sherlock Holmes”), oleh Sir Arthur Conan Doyle
504 halaman, diterbitkan Maret 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part 1

Untuk pertama kalinya, review satu buku saya jadikan dua bagian. Karena kebetulan buku ini adalah kumpulan cerpen, maka tidak ada salahnya bila saya membahas satu per satu cerpen yang ada di dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini. Enam cerpen pertama dari kedua belas cerpen yang ada dalam Petualangan Sherlock Holmes inilah yang akan saya bahas dalam review bagian pertama ini.

 1. Skandal di Bohemia (judul asli: A Scandal in Bohemia)

Cerpen Sherlock Holmes pertama yang pernah diterbitkan ini membuka perkenalan pertama saya dengan Sherlock Holmes dengan cukup mulus. Melalui kacamata Watson, saya tidak hanya jadi tahu tentang reputasi dan kebiasaan-kebiasaan Holmes, tetapi juga sosok wanita yang dikaguminya. Cukup pribadi untuk perkenalan pertama, bukan? Ya, sosok wanita istimewa itu adalah Irene Adler, mantan penyanyi opera, petualang asmara, dan seorang wanita yang luar biasa cantik. Ms. Adler terlibat hubungan rahasia dengan Raja Bohemia, dan sang raja yang akan menikah, menghendaki agar bukti-bukti hubungan gelapnya dengan wanita itu direnggut dari tangan Irene. Sang raja meminta bantuan detektif kita untuk menjalankan rencana ini dan… peristiwa ini merupakan satu-satunya peristiwa di mana Sherlock Holmes dikelabui oleh seorang wanita.

 2. Kasus Identitas (judul asli: A Case of Identity)

Suatu malam, apartemen Holmes di Baker Street kedatangan seorang wanita muda yang bingung, bernama Mary Sutherland. Miss Mary mengaku bahwa tunangannya, Mr. Hosmer Angel telah menghilang tepat di hari pernikahannya dengan Mary. Adapun Mary adalah seorang wanita muda yang berpenghasilan cukup, dan ayah tirinya (yang hanya lebih tua 5 tahun dari dirinya) menentang keras hubungannya dengan Mr. Angel, sehingga pernikahan diantara Mary dan Mr. Angel harus dilaksanakan secara diam-diam. Lalu sekarang ketika sang tunangan misterius itu menghilang, apa yang harus dilakukan Mary? Sherlock Holmes membongkar misteri ini dengan cukup mudah, tanpa “merenggut angan-angan indah dari seorang gadis”; sebagaimana yang dikutipnya dari seorang penyair Persia bernama Hafiz.

 3. Perkumpulan Orang Berambut Merah (judul asli: The Adventure of the Red-Headed League)

I wonder why Ron Weasley wasn’t in this story! Hahaha. Setiap kali membaca tentang orang berambut merah menyala, mau tak mau saya teringat akan Ron Weasley. Kebetulan pengarang yang menciptakan karakter Ron dan pengarang yang menulis cerpen ini berasal dari negara yang sama. Tokoh utama berambut merah dalam cerpen ini adalah Mr. Jabez Wilson, seorang pedagang paruh baya dengan penghasilan pas-pasan yang memiliki tempat usaha di salah satu sudut kumuh kota London. Suatu hari, ia mendengar tentang lowongan yang dipasang “Perkumpulan Orang Berambut Merah” yang mencari pegawai untuk melakukan pekerjaan ringan, namun dengan gaji yang cukup besar. Asisten Mr. Wilson, Vincent Spaulding, mendorong Mr. Wilson untuk melamar pekerjaan itu, dan benar saja, dengan sangat mudah ia diterima. Ia melakukan pekerjaan untuk Perkumpulan Orang Berambut Merah untuk beberapa minggu, dengan menyalin Encyclopedia Britannica. Betapa kagetnya ia ketika suatu hari perkumpulan itu dikabarkan bubar begitu saja. Memang, Mr. Wilson tidak rugi apa-apa, karena toh ia sudah mendapatkan penghasilan tambahan untuk beberapa minggu, dan tambahan pengetahuan dari hasil menyalin ensiklopedi, namun ia tidak rela pekerjaan bagus ini hilang begitu saja, dan Sherlock Holmes pun tertarik akan kasus yang aneh ini. Benar saja, memang ada “udang di balik batu” dari perkumpulan aneh ini, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh Mr. Wilson, atau orang-orang lain.

 4. Misteri di Boscombe Valley (judul asli: The Boscombe Valley Mystery)

Seorang petani yang tinggal di daerah pedesaan di Herefordshire terbunuh dengan tangan dingin, dan tersangka utama pembunuhan ini adalah putranya sendiri. Bagaimana mungkin? Sementara semua bukti dan kesaksian menunjuk kepada si pemuda, James McCarthy muda, dan vonis hampir pasti menyatakan bahwa ia bersalah; sementara itu Sherlock Holmes kembali menyusuri tempat kejadian perkara dan menemukan fakta-fakta kecil yang bisa jadi menunjukkan bahwa bukan si pemuda pelakunya… Cerpen yang satu ini menarik karena di sini kita bisa melihat bagaimana Conan Doyle memutarbalikkan asumsi para tokoh yang beranggapan bahwa James McCarthy pasti bersalah, ternyata malah sama sekali keliru.

 5. Lima Butir Biji Jeruk (judul asli: The Five Orange Pips)

Cerpen favorit saya dari enam cerpen pertama dalam Petualangan Sherlock Holmes. Kasus yang ditangani Holmes yang satu ini benar-benar aneh dan misterius. Tiga pembunuhan yang terjadi semuanya ditandai dengan datangnya amplop berisi lima butir biji jeruk yang sudah kering, dan tulisan K.K.K. berwarna merah di bagian dalam amplop. Anehnya lagi, kematian ketiga orang tersebut tampak seperti bunuh diri atau kecelakaan, padahal sesungguhnya adalah pembunuhan. Cerpen ini memuat sejarah singkat tentang perkumpulan Ku Klux Klan yang mempunyai reputasi dan agenda yang sadis dan mengerikan. Dan walaupun endingnya menggantung, cerpen yang satu ini cukup membuat saya penasaran dan tegang karena kisahnya, dan saya jadi ingin membaca lebih banyak tentang perkumpulan Ku Klux Klan yang membuat jantung terasa dingin itu.

 6. Pria Berbibir Miring (judul asli: The Man With the Twisted Lip)

Ketika hendak menjemput Isa Whitney, suami dari teman istrinya, Dr. Watson terkaget-kaget ketika menjumpai teman baiknya, Sherlock Holmes sedang berada di dalam pondok candu yang sama dengan Mr. Whitney. Ternyata Holmes sedang menyelidiki kasus di mana seorang pria, Neville St. Clair, dilaporkan belum pulang ke rumah selama dua hari. Namun, istrinya sempat melihatnya di atas atap pondok candu, namun kemudian menghilang begitu saja seperti ditarik seseorang dari belakang. Mereka hanya menemukan sebagian pakaian Mr. St. Clair dari hasil pemeriksaan di lantai atas pondok candu itu, sementara jasnya baru ditemukan belakangan. Seorang pengemis bernama Hugh Boone tinggal di lantai atas pondok candu itu, ia mempunyai bekas luka mengerikan pada wajahnya yang menyebabkan pinggiran bibir atasnya tertarik ke atas kalau wajahnya sedang bergerak-gerak. Bagaimana keterlibatan si pengemis dalam peristiwa hilangnya Mr. St. Clair? Lalu dimanakah pria itu sebenarnya?

***

Sejauh ini, kumcer Petualangan Sherlock Holmes layak diganjar tiga bintang. Beberapa cerpen memang agak datar dan membosankan, namun beberapa lainnya berhasil memukau saya dengan cara brilian Sherlock Holmes memecahkan kasus dan perhatiannya kepada detail-detail kecil yang dianggap orang tak penting. Seandainya saya bertemu dengan Sherlock Holmes saat review ini terbit, ia pasti akan memperhatikan lingkaran hitam dibawah kedua mata saya yang menunjukkan bahwa saya sering tidur larut malam dan jari telunjuk kanan saya yang kelihatan lebih berotot daripada jari-jari yang lain karena keseringan digunakan memencet-mencet mouse; tapi saya harus berhenti menulis sekarang.

Review ini diposting bersama-sama dengan beberapa BBI-ers dalam rangka merayakan HUT Sir Arthur Conan Doyle yang ke-153 (22 Mei 1859-22 Mei 2012)

Happy birthday, Sir Arthur Conan Doyle!

Dan sampai jumpa di bagian kedua review ini! ;)

Baca juga:
Mini biografi Sir Arthur Conan Doyle
Event Baca Klasik Mei 2012: Sherlock Quest
Sherlock Classics Quest Game

[Review] The Tale of Desperaux

This is a tale about a mouse, a princess, a king, some soup, a rat, a servant girl, a treacherous plan of revenge gone wrong. The story takes place in a castle, and the dungeon underneath the castle.

The mouse, Desperaux Tilling his name, was born as the last mouse to his parents and the only surviving one of his litter. Desperaux was born so small, with two huge ears, and with eyes open, staring directly to light. Instead of being so small and sickly, the strange little mouse lived. And he was nothing like other mice. He listened to music, he loved light, and he read pages of books instead of eating them.

“Reader, you must know that an interesting fate (sometimes involving rats, sometimes not) awaits almost everyone, mouse or man, who does not conform.”

Interesting fate it was. One day when Desperaux lifted up his head to listen to the sweet sweet music, the music brought him to encounter the king and his beloved daughter, the Princess Pea. The princess looked down at him and smiled to the little mouse. As ridiculous as it might be, Desperaux fell in love.

“Love is ridiculous. But love is also wonderful. And powerful. And Desperaux’s love for the princess would prove, in time, to be all these things: powerful, wonderful, and ridiculous.”

Desperaux’s little encounter with the king and the princess then brought him serious consequence: the Mouse Council decided to punish him with sending him to the dungeon. Dungeon means deep darkness. It also means rats. And rats never meant a good thing.

While we’re still talking about rats, there was one peculiar rat that lived in the dungeon. Unlike his rat brothers and sisters, Chiaroscuro, or Roscuro, loved being surrounded by light. He too, like Desperaux, had a little encounter with the king and the princess, only then he also meets the queen. His encounter with the royal family was followed with a tragedy, which caused the king to ban soup and all soup-related items like bowls and soup spoons. The look the princess Pea gave Roscuro broke his heart and made him desire revenge. A servant girl called Miggery Sow then helped the rat to execute his plan.

The princess was in danger. What will Desperaux do? Could it be that a little mouse, in spite of all circumstances, help the lovely princess and save her from harm? The answer to this question, dear reader, you must read in this remarkable book, winner of Newbery Medal 2004, The Tale of Desperaux.

***

I have always been a fan of Kate DiCamillo, whom I love for her extraordinary writing. Kate can make a simple story so beautiful with her brilliant choice of words. Her sentences flow like a song, and I’m not exaggerating. That’s what I felt when I read The Magician’s Elephant. The book broke my heart and I felt myself crying alongside the main character. Reading The Tale of Desperaux gave me a similar feeling, although it wasn’t as dark as The Magician’s Elephant. I’m really glad I bought a copy of this book in English and not the Indonesian translation, this time I can really succumb into Kate DiCamillo’s beautiful writing. This book also has nice illustrations by Timothy Basil Ering. Parents, you should read this to your kids, I’m sure they’ll love it. ;)

“Stories are light. Light is precious in a world so dark. Begin at the beginning. Tell Gregory a story. Make some light.”

P.S. : You can also read a post about the character Desperaux here (in Indonesian).

Book details:
“The Tale of Desperaux”, by Kate DiCamillo
272 pages Paperback, published 2008 by Candlewick Press
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Mockingjay

*** SPOILER ALERT ***

DYSTOPIA.
Produk dari kekuatan imajinasi manusia yang setelah mencapai utopia, masih belum puas juga dan akhirnya mengoyak batasan-batasan akal sehat dan meraih impian yang liar dan gila dengan memutarbalikkan utopia.
Mengapa harus ada dystopia? Apakah karena manusia semakin lama semakin jahat? Atau karena kemanusiaan kita makin lama makin digerogoti teknologi? Apakah karena Bumi sudah semakin tua, lelah, rusak parah akibat perbuatan manusia?

Inilah dunia dystopia yang diciptakan Suzanne Collins melalui trilogi The Hunger Games. Collins mengubah wajah negara yang tadinya adalah Amerika menjadi Panem, negara dengan tiga belas distrik dibawah pemerintahan ibukota Capitol. Jika di dua buku pertama trilogi ini, The Hunger Games dan Catching Fire, pembaca banyak disuguhi aksi mendebarkan dalam permainan maut Hunger Games dan Quarter Quell, maka Mockingjay sebagai sekuel penutup tidak kalah banyak menyimpan aksi. Namun sayangnya aksi yang dimiliki Mockingjay cenderung dingin dan tak berperasaan. Cerita masih berpusat pada Katniss Everdeen, pemenang dari Distrik Dua Belas, yang kali ini dielu-elukan sebagai simbol pemberontakan, sang Mockingjay. Setelah diloloskan dari Quarter Quell oleh kelompok pemberontak dari Distrik Tiga Belas yang sebelum ini diyakininya sudah musnah, setelah memulihkan keadaan fisiknya Katniss menjalani sesi-sesi latihan dalam kota bawah tanah di Distrik Tiga Belas untuk menjadikannya seorang pejuang. Pemberontak. Prajurit Everdeen.

Distrik Tiga Belas sungguh aneh. Semua orang berpakaian sama, berwarna abu-abu membosankan. Ada jadwal yang ditato di tanganmu yang memberitahumu apa saja yang akan (dan harus) kau lakukan hari ini. Makanan dijatah dan diberikan tanpa variasi, jangan harap bisa makan enak disini. Sama sekali tidak ada hiburan. Semua orang terkungkung di bawah tanah, yang mana beberapa orang tidak bisa menyukainya, termasuk Katniss yang suka berburu di hutan. Dan Tiga Belas memiliki Presiden Coin, pemimpin wanita yang penuh perhitungan, namun sebenarnya tidak kalah kejam dari Presiden Snow.

Siapakah Katniss dalam Mockingjay? Rasanya kok nggak jelas. Meskipun dialah simbol pemberontakan, dan apapun yang ia lakukan berdampak kepada Capitol dan seluruh Panem. Katniss sudah amat lelah secara fisik dan mental setelah melalui Hunger Games dan Quarter Quell, ditambah dengan kehilangan orang-orang yang dicintainya, dan dalam Mockingjay bebannya menjadi semakin berat karena setiap perbuatannya memiliki konsekuensi bahwa ada yang akan dihukum, entah orang itu dekat dengannya atau tidak. Si gadis yang terbakar jadi melempem dalam buku final ini.

Peeta berubah 180 derajat. Ia ditahan dan disiksa sedemikian rupa oleh Capitol, dan kemudian para pemberontak berhasil menculiknya dan membawanya ke Tiga Belas, hanya untuk menghadapi anak lelaki yang telah kacau pikirannya. Peeta telah dibajak. Dicuci otak. Segala kenangan masa lalunya, terutama yang berhubungan dengan Katniss, diobrak-abrik dengan racun tawon penjejak. Peeta yang baru ini melihat Katniss sebagai mutt (makhluk buas ciptaan Capitol), dan bernafsu membunuhnya.

Katniss depresi. Stres. Menderita gangguan mental. Namun sementara itu ia terus berperang bersama para pemberontak, merebut distrik-distrik. Seakan luka-luka yang dideritanya belum cukup banyak saja. Katniss menjadi boneka Coin, sang Mockingjay yang menyulutkan api pemberontakan ke seluruh distrik. Namun ia belum mengetahui, bahwa Coin punya rencana lain terkait dengan dirinya. Katniss punya satu tujuan yang menguasai benaknya, yaitu membunuh Presiden Snow dengan tangannya sendiri. Gale selalu ada disampingnya selama perjuangan, namun juga ada Peeta dengan pikirannya yang kacau. Di saat-saat paling tak memungkinkan inilah, Katniss akhirnya bisa menentukan perasaannya ditujukan kepada siapa. Tapi percuma saja ia memilih, karena ia tahu dirinya, Peeta, Gale, beserta semua orang lain yang terlibat perjuangan, tidak ditakdirkan untuk tetap hidup.

Kejam, dingin, brutal, sadis, melelahkan. Itulah Mockingjay. Penutup trilogi Hunger Games yang fenomenal ini jujur saja tidak memenuhi ekspektasi saya. Akhir dari perang di Capitol malah jadi antiklimaks. Penulis tidak menjabarkan banyak tentang perkembangan hubungan Katniss-Peeta, walaupun sudah membukanya dengan menarik dengan membuat ingatan Peeta kacau. Endingnya menguap begitu saja, walaupun epilognya cukup manis. Sang Mockingjay melakukan penerbangan terakhirnya dengan kelelahan luar biasa, dengan kondisi fisik dan mental yang sudah luluh lantak. Kemudian ia kandas begitu saja di tanah. Pada akhirnya, saya memberi 3 bintang buat Mockingjay, karena penulisan Collins masih mengagumkan dengan segala detailnya.

Dialog penutup Katniss-Peeta tidak akan mudah dilupakan.

“You love me. Real or not real?”
I tell him, “Real.”

Hanya tinggal satu pertanyaan tersisa buat kita renungkan.
Akankah suatu saat nanti, di saat dunia sudah sedemikian rusaknya dan tak bisa dikendalikan lagi, dystopia versi Collins menjadi nyata?

Detail buku:
“Mockingjay” (The Hunger Games, #3), oleh Suzanne Collins
432 halaman, diterbitkan 12 Januari 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] Treasure Island: Berebut Harta Karun!


“Fifteen men on the dead man’s chest—
…Yo-ho-ho, and a bottle of rum!
Drink and the devil had done for the rest—
…Yo-ho-ho, and a bottle of rum!”

Jauh sebelum ada wahana Disneyland (dan kemudian franchise film) Pirates of the Caribbean, novel berjudul Treasure Island karya pengarang Skotlandia, Robert Louis Stevenson, terbit pada bulan Maret 1883. Treasure Island sebenarnya sudah dimuat sebagai cerita bersambung dalam majalah anak-anak Young Folks pada tahun 1881-1882 namun baru dibukukan pada tahun 1883.

Cerita bermula di Penginapan Admiral Benbow yang terletak di tepi laut di barat daya Inggris. Jim Hawkins, putra pemilik Admiral Benbow yang berusia 17 tahun, menjadi penutur cerita utama dan membuka kisah dengan datangnya seorang bajak laut tua bernama Billy Bones yang menetap di Admiral Benbow untuk waktu yang cukup lama. Bones yang mengaku pernah menjadi salah seorang kru almarhum Kapten Flint, seorang bajak laut yang ditakuti, ternyata sedang bersembunyi di Admiral Benbow, terutama dari seorang berkaki satu yang terus ia sebut-sebut kepada Jim agar mewaspadai kedatangan orang tersebut.

Bones mengaku bahwa ia membawa peti bajak laut yang berisi harta dan selembar peta Pulau Harta Karun. Peti bajak laut itulah yang membuat Bones diincar oleh berbagai pihak, seorang pelaut yang dipanggil Black Dog dan seorang buta bernama Pew. Pertemuan dengan Pew mengakibatkan kematian bagi Bones yang sebelumnya memang sudah jatuh sakit. Dengan kematian Bones, Jim dan ibunya mengambil sejumlah uang yang menjadi hak mereka dan gulungan kertas minyak yang diyakini adalah peta Pulau Harta Karun dari peti Bones, dan di tengah-tengah ancaman bajak laut yang mengincar peti tersebut mereka melarikan diri ke tempat yang aman.

Jim selanjutnya membawa peta itu untuk dilihat oleh Dokter Livesey dan Hakim Trelawney, dan kemudian mereka membentuk kru untuk pergi ke pulau tersebut dengan kapal bernama Hispaniola. Beberapa orang yang menyertai perjalanan mereka antara lain Kapten Smollett sebagai kapten kapal, dan Long John Silver, seorang juru masak kapal berkaki satu. Jim baru menyadari kemudian bahwa Silver-lah orang berkaki satu yang ditakuti Billy Bones. Selanjutnya Silver membantu Hakim Trelawney merekrut pelaut-pelaut untuk menggenapkan jumlah kru kapal yang dibutuhkan.

Setelah mereka sampai di Pulau Harta Karun, Jim yang pada saat itu tertidur di dalam sebuah tong mencuri dengar pembicaraan antara Silver dan beberapa orang dari kru yang telah dipilihnya. Mereka ternyata menyusun rencana untuk melakukan pemberontakan, merampas harta karun itu dan membunuh orang-orang yang tidak sepihak dengan mereka, termasuk Jim sendiri. Mendengar itu, Jim melarikan diri dan secara tidak sengaja bertemu Ben Gunn, yang juga adalah seorang mantan kru Kapten Flint yang ditinggalkan di Pulau Harta Karun dan tidak bertemu seorang manusia pun selama 3 tahun. Selanjutnya, terjadi pertempuran yang memakan banyak korban antara pihak Hakim Trelawney melawan pihak John Silver memperebutkan harta karun yang terpendam di pulau itu.

###

Salah satu karya klasik yang dikenang sepanjang masa karya Robert Louis Stevenson (1850-1894, juga menulis Kidnapped dan Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde) ini diceritakan melalui 2 sudut pandang, yang pertama dari sudut pandang Jim Hawkins selaku tokoh utama, dan sudut pandang Dr. Livesey. Peralihan kedua sudut pandang sebenarnya cukup mulus karena ada keterangan di bawah judul bab, namun kadang-kadang saya masih suka bingung siapa sebenarnya yang sedang membawakan cerita. Banyaknya tokoh di dalam Treasure Island membuat karakterisasi masing-masing tokoh penting menjadi sekeping-sekeping saja, dan terutama sih saya kurang puas dengan karakter Jim Hawkins sendiri. Di awal sampai pertengahan buku, Jim terkesan seperti ”anak manis”, dan salah rasanya menempatkan dia ditengah-tengah bajak laut yang beringas. Baru kemudian ketika Jim melarikan diri baru mulai kelihatan ”bengalnya”.

Walau saya biasanya menyenangi cover buku-buku terbitan penerbit Atria, untuk cover edisi terjemahan Treasure Island versi Atria ini rasanya terlalu lembut dan kekanak-kanakan untuk sebuah cerita yang aslinya keras dan maskulin. Dan secara keseluruhan, walaupun ceritanya sangat berpotensi untuk menjadi menarik, menurut saya ketegangan tidak cukup berhasil dibangun oleh penulis. Entah apakah ini pengaruh dari terjemahannya atau memang aslinya seperti itu. Rasanya saya lebih memilih untuk menonton filmnya saja… ;)

Detail buku:
“Treasure Island”, oleh Robert Louis Stevenson
345 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥

[Review] Herr Der Diebe (Pangeran Pencuri)

Selamat datang di Venezia, Kota Rembulan! Di sini anda akan dibuai dengan semilir angin Venezia saat anda menyusuri kanal-kanal dengan gondola, sambil menikmati keindahan bangunan-bangunan eksotik! Namun awasi selalu dompet, kamera, dan perhiasan anda terutama bila anda berjalan melewati Lapangan Markus, jika anda tidak ingin barang-barang berharga anda berpindah tangan ke Pangeran Pencuri dan komplotannya!

Apa? Anda belum mendengar tentang Pangeran Pencuri? Dia bukan Robin Hood, tentu saja. Pangeran Pencuri adalah pencuri paling lihai seantero Venezia, atau setidaknya ia ingin dianggap demikian. Diantara kita saja (ini rahasia), sang Pangeran Pencuri sebenarnya adalah seorang remaja misterius dengan rambut dikuncir yang suka mengenakan jaket panjang hitam dan sepatu bot berhak tinggi, dan tak lupa topeng menyeramkan yang mirip burung pembawa kematian. Nama aslinya adalah Scipio, dan ia memiliki teman-teman yang ia pelihara lewat hasil mencuri, mereka adalah Riccio si Rambut Landak, si hitam Mosca, dan seorang anak perempuan yang dipanggil Tawon. Mereka semua, kecuali Scipio sendiri, tinggal di sebuah bangunan eks bioskop bernama STELLA, namun mereka memanggil tempat itu Istana Bintang.

Sssst, belakangan, ada dua tambahan dalam rombongan anak-anak jalanan itu, mereka adalah kakak-beradik Prosper dan Bo. Prosper dan Bo yang malang sudah yatim piatu, dan paman dan bibi mereka, Max dan Esther Hartlieb, hendak mengangkat si kecil Bo sebagai anak mereka, dan memasukkan Prosper ke sekolah asrama. Tak mau berpisah dengan adik semata wayangnya, Prosper melarikan mereka berdua ke Venezia, kota yang begitu dicintai mendiang ibu mereka.

Tahu bahwa Prosper dan Bo mungkin lari ke Venezia, Bibi Hartlieb menyewa jasa seorang detektif lokal bernama Victor Getz untuk melacak keberadaan mereka. Benar saja, tak lama setelah itu Victor bertemu dengan Prosper dan Bo yang telah menyamarkan penampilan, bersama ketiga teman mereka. Namun alih-alih menangkap kakak beradik itu, Victor malah dikerjai oleh anak-anak jalanan itu sampai-sampai ia dibawa ke kantor polisi!

Sementara itu, melalui Barbarossa, seorang pemilik toko barang antik yang tamak, Pangeran Pencuri mendapat tawaran dari seorang Conte untuk mencuri sesuatu baginya di sebuah rumah di Campo Santa Margherita. Imbalan sang ditawarkan sang Conte begitu menggiurkan sehingga Scipio menyanggupi untuk melakukan pekerjaan itu, walau akhirnya ia tahu bahwa barang yang harus mereka curi hanyalah sepotong kayu tua berbentuk sayap. Dengan berani mereka memasuki rumah itu dan tertangkap basah oleh sang tuan rumah, seorang fotografer wanita terkenal bernama Ida Spavento! Untunglah, Ida seorang wanita baik hati yang tidak serta merta melaporkan mereka ke polisi. Alih-alih, ia menceritakan kisah yang sulit dipercaya mengenai sepotong sayap yang ada dirumahnya itu, dan bahkan berkomplot dengan anak-anak bandel itu untuk mengetahui siapa yang membayar mereka untuk mencuri sayapnya. Begitu banyak petualangan yang mereka jalani! Akankah Victor Getz menangkap Prosper dan Bo dan mengembalikan mereka ke bibi yang begitu mereka benci? Benda apakah sebenarnya sayap kayu itu? Siapa sebenarnya si Pangeran Pencuri? Dan bagaimana nasib Tawon, Mosca, dan Riccio selanjutnya?

###

Hal yang paling memukau mengenai novel anak Pangeran Pencuri ini adalah kemampuan pengarangnya, Cornelia Funke, untuk mendeskripsikan seluk-beluk kota Venezia yang eksotik. Dari jalanan ke gedung-gedung, dari kanal-kanal ke laguna luas dan pulau-pulau misterius. Karakter tokoh-tokohnya beraneka warna mulai Scipio yang ngebos, Prosper yang cerdik, Bo yang polos, Tawon yang ceria namun menutupi jati dirinya, Barbarossa yang tamak, dan Victor si detektif yang sering sial. Adegan demi adegan dalam buku yang sarat petualangan ini bergulir dengan mulus dan ilustrasi-ilustrasi karya penulis yang menghiasi halaman-halaman buku menjadi nilai tambah novel anak yang dapat dinikmati segala usia ini.

Dibawah ini adalah cover baru Pangeran Pencuri yang diterbitkan ulang oleh GPU April 2011 lalu, apakah anda lebih suka cover lamanya yang bernuansa biru atau cover barunya yang hitam putih?

Buku ini membuat saya ingin jalan-jalan ke Venezia dan melihat sendiri patung Cagalibri, si Gila Buku di Campo Morosini, yang dipilih Tawon (yang seorang kutu buku) sebagai “tempat pertemuan”. Hai teman-teman BBI, kapan-kapan kita foto bareng di depan patung ini yah! ;-p

Cagalibri (pic from Imageshack)

Detail buku:

“Herr Der Diebe” (Pangeran Pencuri), oleh Cornelia Funke
420 halaman, diterbitkan Maret 2006 (republish April 2011) oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] Keluarga Penderwick (The Penderwicks)

Saya baru tahu keberadaan buku ini ketika berburu buku murah di Kompas Gramedia Fair Surabaya, di Gramedia Expo. Beruntung sekali bisa mendapatkan buku ini dengan harga yang super duper murah, dan saya sangat menikmati membacanya!

Cerita dimulai ketika keluarga Penderwick, yang beranggotakan seorang profesor botani dan keempat anak perempuannya, serta seekor anjing bernama Hound, berlibur musim panas di sebuah tempat bernama Arundel. Arundel adalah sebuah mansion luar biasa besar dan mewah yang dikelilingi taman yang indah dan rapi. Keempat gadis Penderwick adalah Rosalind, dua belas tahun, yang tertua dan paling cantik, bijaksana dan bertanggung jawab; kemudian Skye, sebelas tahun, yang tomboi dan terpandai dari semuanya; Jane, sepuluh tahun, yang bercita-cita menjadi penulis hebat dan punya alter ego bernama Sabrina Starr (yang adalah pahlawan dalam cerita-ceritanya); serta Batty si bungsu yang baru empat tahun yang manis dan sangat polos.

Akibat insiden di hari pertama mereka di Arundel yang melibatkan Skye, mereka akhirnya bersahabat dengan Jeffrey Tifton, putra pemilik Arundel. Jeffrey anak yang sangat asyik, sementara ibunya, Mrs. Tifton, telah menjadi sosok yang ditakuti gadis-gadis Penderwick bahkan sebelum mereka memasuki Arundel, karena Mrs. Tifton pemarah dan sangat overprotektif terhadap tamannya. Gadis-gadis Penderwick juga bersahabat dengan Cagney, si pemuda tukang kebun yang tampan dan punya dua ekor kelinci sangat lucu bernama Yaz dan Carla, juga Churchie si pengurus rumah tangga, dan Harry si penjual tomat.

Hari-hari mereka di Arundel diisi dengan petualangan-petualangan mengasyikkan, yang seringkali konyol namun sangat seru. Misalnya ketika mereka menyelamatkan Batty dari sapi jantan yang dikenal suka menyeruduk orang yang melanggar teritorinya. Insiden ketika dua kelinci Cagney lepas dari kandangnya. Dan juga ketika Jeffrey, Skye dan Jane bermain bola sampai lupa daratan justru ketika para juri Kontes Berkebun sedang menilai taman Mrs. Tifton. Peristiwa-peristiwa lain yang tak kalah serunya, terjadi sampai pada menjelang akhir libur musim panas. Dan sebelum mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Arundel, keluarga Penderwick membantu Jeffrey untuk menghadapi ibunya yang kurang peduli terhadap putranya dan memaksanya masuk sekolah militer.

Beberapa orang mengatakan bahwa buku ini seperti gabungan antara The Secret Garden dengan Little Women. The Secret Garden memang menyajikan taman-taman yang indah dan kisah persahabatan, namun saya belum pernah membaca Little Women. Karakter para gadis Penderwick yang bengal-bengal adalah daya tarik utama cerita ini, saya kira. Kemudian kelincahan penulis dalam menggambarkan petualangan demi petualangan yang dialami para tokoh, dengan gaya konyol namun tetap terasa ketegangannya, dan juga ada adegan yang mengharukan, membuat saya sangat terhibur ketika membaca buku ini. Ini jenis bacaan yang akan saya baca lagi, lagi, dan lagi. Yang membuat saya kecewa hanyalah kenyataan bahwa Gramedia tidak menerbitkan sekuel dari The Penderwicks, yang berjudul The Penderwicks on Gardam Street. Jika ada, tentu saya akan sangat senang, ditambah lagi bahwa sekuel keduanya (alias buku ketiga), The Penderwicks at Point Mouette akan terbit Agustus 2011 ini. I’m craving for more of Jeanne Birdsall’s works!

Detail buku:
“Keluarga Penderwick” (judul asli: The Penderwicks: A Summer Tale of Four Sisters, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy), oleh Jeanne Birdsall
291 halaman, diterbitkan Maret 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Trio Musketri

Trio MusketriTrio Musketri by Alexandre Dumas
My rating: 3 of 5 stars

Judul kisah ini boleh “Les Trois Mousquetaires” atau bahasa Inggrisnya “The Three Musketeers”, namun tokoh utamanya adalah D’Artagnan, pemuda kampung dari Gascon yang gampang naik darah dan gampang mengangkat pedangnya untuk berduel.

Kisah dimulai saat D’Artagnan muda, yang baru berusia 18 tahun, pergi dari kampung halamannya di Gascon ke Paris untuk menjadi seorang musketri atau anggota pasukan pembela Raja Prancis. Ketika ia berada di kota niaga Meung, ia berkelahi dengan seorang pria misterius yang membuatnya kehilangan surat pengantar yang ditujukan kepada Kapten Musketri, Monsieur de Tréville. Karena egonya yang tinggi jugalah, dalam perjalanan menuju rumah de Tréville, ia terlibat adu mulut dan akhirnya menantang duel tiga orang musketri dalam satu hari dengan jam yang berurutan. Betapa kagetnya ia ketika menemukan bahwa Athos, Porthos, dan Aramis, musketri-musketri tersebut, adalah sahabat baik yang tak terpisahkan. Rencana duel mereka diinterupsi oleh pengawal Kardinal yang memergoki mereka hendak berduel, dan akhirnya mereka berempat pun bersatu melawan pengawal Kardinal tersebut dan melalui kejadian itu D’Artagnan resmi menjadi salah satu sahabat Athos, Porthos, dan Aramis.

Petualangan yang mereka jalani selanjutnya sungguh menarik dan penuh intrik; perselingkuhan Ratu dengan Duke of Buckingham, Sang Kardinal yang penuh tipu muslihat, perang dengan La Rochelle, kekasih-kekasih Porthos dan Aramis, masa lalu kelam dan misterius Athos, kisah cinta D’Artagnan dengan Madame Bonacieux, pelayan kepercayaan Ratu, hubungan aneh Kardinal dan Raja, dan penjahat paling jahat dalam kisah ini, yaitu seorang wanita yang dikenal sebagai Milady atau Lady de Winter.

Kisah terjalin dengan apik walau kadang terasa agak lambat, mungkin karena awalnya kisah ini adalah cerita bersambung. Akhir riwayat Milady dituturkan oleh penulis dengan greget yang pas, sedangkan bagi Athos, Porthos, Aramis, dan D’Artagnan, ada ending bagi mereka masing-masing sehingga saya agak bingung menentukan kisah ini termasuk happy ending atau bukan.

Buku ini saya beri tiga bintang, karena saya merasa emosi masing-masing karakter tidak tergali dengan baik, dan sungguh sayang dalam 537 halaman buku ini, Porthos dan Aramis hanya punya sedikit bagian sehingga tampak seperti peran pembantu saja. Padahal Porthos dan Aramis masing-masing adalah karakter yang unik dan menarik jika dieksplor lebih jauh.

Jika kalian pernah menonton filmnya, yang dibintangi Chris O’Donnell sebagai D’Artagnan dan membandingkannya dengan bukunya, maka kalian akan menemukan betapa banyak perbedaannya antara buku dan versi filmnya. Namun bagi saya itu tak menjadi masalah besar, karena baik kisah di buku maupun di film punya daya tariknya sendiri dan tinggallah kita, pembaca/penonton untuk menentukan, yang manakah favorit kita.

View all my reviews

Softcover, 537 pages
Published January 2010 by PT Serambi Ilmu Semesta (first published 1844)
Price IDR 49.000

[Review] Tersulut – Catching Fire

Tersulut - Catching Fire (Hunger Games, #2)Tersulut – Catching Fire by Suzanne Collins
My rating: 5 of 5 stars

Dan The Hunger Games pun berlanjut…
Katniss Everdeen dan Peeta Mellark keluar sebagai pemenang Hunger Games ke-74. Untuk pertama kalinya dalam 74 tahun, Hunger Games punya dua pemenang.
Distrik 12 dibanjiri hadiah karena kemenangan mereka tentu saja, tapi di balik semua itu masih ada bahaya mengintai…
Capitol tidak senang. Semua karena buah berry beracun yang mereka pegang tepat sebelum diumumkan sebagai pemenang. Capitol menganggap itu sebagai tindakan yang dapat memicu pemberontakan. Dan benar saja, tanpa Katniss dan Peeta sadari, api pemberontakan mulai tersulut dimana-mana.

Hunger Games ke-75 semakin mendekat, dan setiap 25 tahun Panem merayakan versi lebih kejam dari Hunger Games yang disebut Quarter Quell. Quarter Quell 25 tahun yang lalu saat Haymitch menjadi pemenang, pesertanya bukan hanya 24 orang namun dua kali lipatnya. Dan kali ini… Quarter Quell ketiga akan mengambil peserta dari para pemenang yang masih hidup. Katniss dan Peeta pun kembali ke arena.

Buku ini sama bagusnya dengan buku pertama. Jalan ceritanya tak terduga, penuh action, dan endingnya membuat penasaran. Sekedar bocoran, versi terjemahan Indonesia dari buku ketiga, Mockingjay, rencananya akan terbit awal 2011.

View all my reviews

Softcover, 424 pages
Published July 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published September 1st 2009)
Literary Awards: British Fantasy Award (2010)
Goodreads Choice Award for Favorite Book and Young Adult Series (2009)
Booklist Top Ten Science Fiction/Fantasy Novels for Youth (2010)
Children’s Choice Book Award for Teen Choice Book of the Year (2010)
Indies Choice Book Award for Young Adult (2010)
Teen Read Award Nominee for Best Read (2010)

Price : IDR 58.000

[Review] The Hunger Games

The Hunger Games (Hunger Games, #1)The Hunger Games by Suzanne Collins
My rating: 5 of 5 stars

Astaga, kata apa lagi yg bisa mendeskripsikan buku ini? Menakjubkan? Menegangkan?
Hanya butuh dua hari bagi saya untuk menyelesaikan buku ini, ditengah-tengah kesibukan sehari-hari.
Why? Rasanya karena saya tergolong tipe pembosan, ketika membaca buku yang kisahnya drama yang minim “lompatan-lompatan” saya pun mudah bosan dan akhirnya lama untuk menyelesaikannya.

Tapi tidak ketika saya membaca buku ini. Ini adalah salah satu dari sedikit buku yang bisa membuat saya tak mampu meletakkannya, dan berusaha menghabiskannya secepat mungkin.

Di suatu saat di masa depan, Amerika Utara sudah tidak ada lagi dan negara Panem berdiri sebagai gantinya. Panem mempunyai ibukota yang mentereng bernama Capitol, dan tiga belas distrik yang mengelilinginya. Suatu saat terjadi pemberontakan melawan Capitol dan Distrik 13 binasa.

Setelah pemberontakan, Capitol mengadakan The Hunger Games bagi kedua belas distrik yang tersisa, untuk terus mengingatkan mereka bahwa keselamatan jiwa mereka sesungguhnya tergantung pada belas kasihan Capitol. Maka setiap tahunnya, satu anak lelaki dan satu anak perempuan berusia 12 hingga 18 tahun dipilih dari setiap distrik, untuk bertarung di arena yang ditentukan sampai hanya satu orang yang tetap hidup dan selamat. Dan pertarungan mereka ditayangkan di televisi di setiap rumah di Panem.

Begitu setiap tahunnya, namun The Hunger Games ke-74 menjadi yang tidak terlupakan ketika Katniss Everdeen dan Peeta Mellark menjadi peserta terpilih dari Distrik 12.

Dari sini saja calon pembaca buku ini bisa merasakan bahwa buku ini seru. Ide yang orisinal, ketegangan yang tercipta dalam setiap aksi dalam buku ini membuat saya kagum akan Suzanne Collins sang penulis, juga Hetih Rusli yang menerjemahkan buku ini ke bahasa Indonesia dengan sangat mulus bahkan hampir tanpa cacat.

Bosan dengan drama, roman, cerita vampir, chicklit, cerita detektif, Harry Potter atau apapun yang sedang “booming” untuk dibaca? Penggemar fiksi harus membaca buku ini. :)

View all my reviews

Softcover, 408 pages
Published October 2009 by Gramedia Pustaka Utama (first published October 1st 2008)
Literary Awards: British Fantasy Award for Top Ten (2009)
A School Library Journal Best Book of the Year (2008)
An ALA Notable Children’s Book for Older Readers (2009)
New York Times Notable Children’s Book of (2008)
Publishers Weekly’s Best Books of The Year

Price IDR 58.000

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers