Blog Archives
[Review] The Bridge of San Luis Rey
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman TUHAN.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9)
Siapakah dari umat manusia yang mengetahui rencana Tuhan, dan memahami rancangan-rancangan-Nya? Ketika sesuatu yang buruk terjadi, bukankah kita bertanya, “Mengapa?” “Mengapa hal ini terjadi?” “Mengapa hal itu menimpa kami?”, atau “Mengapa hal ini menimpa mereka?”
Pertanyaan yang sama terpatri di benak Brother Juniper, seorang biarawan Fransiskan, setelah peristiwa putusnya jembatan gantung San Luis Rey di Peru yang terkenal. Adapun jembatan gantung yang menghubungkan kota Lima dan Cuzco tersebut ditenun oleh peradaban suku Inca dari abad yang telah berlalu, dan masih dilewati ratusan orang setiap harinya, sampai hari nahas itu tiba.
Pada siang hari, tanggal 20 Juli 1714, jembatan gantung San Luis Rey putus dan melemparkan lima orang ke dalam jurang di bawahnya. Peristiwa ini menggugah masyarakat Lima begitu rupa dan mengusik hati Brother Juniper, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mengadakan suatu “penelitian”, untuk menyelidiki kehidupan kelima orang korban. Ia berusaha menemukan jawaban mengapa Tuhan memilih kelima orang tersebut, untuk menunjukkan demostrasi kebijaksanaan-Nya, pada hari itu.
“Why did this happen to those five? If there were any plan in the universe at all, if there were pattern in a human life, surely it could be discovered mysteriously latent in those lives so suddenly cut off. Either we live by accident and die by accident, or we live by plan and die by plan.”
Selama enam tahun Brother Juniper mengetuk semua pintu di Lima, mengajukan ribuan pertanyaan, dan mencatat di buku catatannya semua fakta, kecil dan besar, penting maupun kurang penting, terkait kelima orang korban San Luis Rey, untuk membuktikan bahwa kelima nyawa yang hilang tersebut sesungguhnya adalah satu kesatuan yang utuh. Penelitian ini membawanya menguak lembar demi lembar kehidupan Dona Maria, La Marquesa de Montemayor, seorang wanita bangsawan yang tidak dicintai oleh putrinya semata wayang; Pepita, gadis muda cerdas pelayan sang Marquesa; Camila Perichole, seorang aktris luar biasa cantik yang dikagumi oleh seantero Peru; Paman Pio, lelaki paruh baya yang merupakan pelatih sekaligus “ayah” La Perichole; dan pemuda kembar yatim piatu Manuel dan Esteban, yang memiliki kisah hidup muram mereka sendiri.
Setiap dari mereka mencintai dan berjuang untuk hidup dengan cara masing-masing; hampir setiap detail dari kehidupan mereka dikumpulkan oleh Brother Juniper dengan harapan samar bahwa entah bagaimana detail-detail tersebut akan memunculkan diri begitu rupa dan membuka tabir rahasia lima nyawa yang direnggut. Apakah Brother Juniper akan menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini menghantui dirinya, dan mungkin juga hampir setiap orang di muka bumi ini?
***
Kekuatan utama novel pendek ini adalah gaya penulisan Thornton Wilder yang indah. Sebenarnya saya terlebih dahulu mengetahui versi film dari novel ini, secara tidak sengaja menemukan VCDnya beberapa tahun yang lalu. Versi film tahun 2004 dibintangi antara lain Gabriel Byrne sebagai Brother Juniper, Kathy Bates sebagai Marquesa de Montemayor, Harvey Keitel sebagai Uncle Pio, dan Robert De Niro sebagai Archbishop of Peru; dan menurut saya merupakan adaptasi yang cukup bagus. Jika dulu, saat pertama selesai menonton filmnya, saya akan duduk diam termenung beberapa saat, sekarang lebih lagi saat saya menyelesaikan bukunya. Alih-alih memberikan jawaban, buku ini mengajak pembaca untuk merenung. Kesimpulan yang saya ambil dalam hati mengenai buku ini adalah: kita mungkin tidak mengetahui rahasia Tuhan, mengapa Ia berbuat begini dan begitu. Namun satu hal yang mutlak adalah; ia menganugerahi masing-masing kita dengan cinta. Inilah hal yang terpenting, di atas segalanya.
“But soon we shall die and all memory of those five will have left the earth, and we ourselves shall be loved for a while and forgotten. But the love will have been enough; all those impulses of love return to the love that made them. Even memory is not necessary for love.
There is a land of the living and a land of the dead and the bridge is love, the only survival, the only meaning.“
Tentang Pengarang
Thornton Wilder, novelis dan penulis naskah sandiwara berkebangsaan Amerika, lahir pada tanggal 17 April 1897 di Madison, Wisconsin, Amerika Serikat. Beliau menghabiskan sebagian masa kecil di wilayah Amerika Selatan karena pekerjaan ayahnya. Sebagai seorang yang punya intelektualitas tinggi, beliau mengenyam pendidikan di Yale University dan meraih gelar master dalam bahasa Prancis di Princeton. Beliau juga tergabung dalam komunitas sastra Alpha Delta Phi Fraternity. Setelah lulus beliau melanjutkan studi di Roma, Italia, dan mengajar bahasa Prancis di New Jersey, dan kemudian di University of Chicago. Novel pertamanya, The Cabala, dirilis pada tahun 1926. Menyusul di tahun 1927, novel keduanya, The Bridge of San Luis Rey, sukses di pasaran dan membuatnya memenangkan hadiah Pulitzer Prize pertamanya. Beliau memenangkan hadiah Pulitzer dua kali lagi untuk kategori Drama untuk naskah sandiwara Our Town (1938) dan The Skin of Our Teeth (1942). Novel The Eighth Day (1967) juga dianugerahi penghargaan National Book Award for Fiction. Di tahun 1998, American Modern Library memilih The Bridge of San Luis Rey sebagai salah satu dari 100 novel terbaik di abad 20. Novel ini juga dikutip oleh PM Inggris Tony Blair dalam pidato dalam memorial service korban tragedi 11 September 2001. Thornton Wilder meninggal dunia tanggal 7 Desember 1975 pada usia 78 tahun.
Detail buku:
“The Bridge of San Luis Rey”, oleh Thornton Wilder
148 halaman, diterbitkan tahun 1986 oleh Harper Perennial
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Cinta yang Hilang: Kumcer Klasik O. Henry

Cinta yang hilang. Sound so cheesy. Jujur saja, itu pemikiran pertama saya saat mengetahui tentang buku ini. Namun, setelah ‘berkenalan’ untuk pertama kalinya dengan O. Henry dalam antologi cerpen klasik Cinta Tak Pernah Mati, saya pun jadi penasaran dan akhirnya membeli kumcer ini.
Buku setebal 118 halaman ini berisi 7 cerita pendek karya O. Henry, yang bernama asli William Sydney Porter (1862-1910), sang maestro cerpen yang namanya diabadikan sebagai nama penghargaan tahunan bergengsi bagi cerpen-cerpen terbaik di Amerika Serikat; O. Henry Award.
Yang tadinya saya kira roman picisan (dari kesan pertama terhadap judul kumcer ini), ternyata adalah cerita-cerita pendek bertema cinta yang padat, penuh humor, menghibur, kadang satir dan misterius, dan selalu punya ending mengejutkan. Sama sekali bukan cerita cinta yang cengeng. Ketujuh cerpen di dalam kumcer ini ditulis O. Henry dengan menggunakan karakter dan setting yang tidak jauh-jauh dari dunia seni.
Di cerpen pembuka yang bertajuk sama dengan judul kumcer ini; Cinta yang Hilang, pembaca akan diperkenalkan dengan seorang lelaki muda yang dengan gelisah mengitari rumah-rumah di area teater di West Side. Ia sebenarnya hanya punya satu tujuan: mencari seorang gadis bernama Eloise Vashner, seorang aktris teater dan cinta sejatinya. Saat si lelaki muda akhirnya menyewa kamar di sebuah rumah, tiba-tiba ia mencium wangi tajam bunga mignonette di dalam kamar itu, bau yang menjadi ciri khas Eloise! Apakah dia sudah gila?
Cinta membuatmu rela mengorbankan hartamu yang paling berharga. Demikian juga dengan Della, yang begitu ingin memberikan hadiah yang indah di malam Natal buat suami tercinta, Jim. Padahal mereka hanyalah sepasang suami-istri yang miskin. Begitulah kisah yang disajikan cerpen kedua yang berjudul Hadiah Kejutan (judul aslinya “The Gift of the Magi”). Magi yang dimaksud disini adalah orang Majus yang memberi hadiah pada malam Yesus Kristus dilahirkan di dunia. Cerpen yang ini favorit saya dari keseluruhan buku, karena walaupun singkat, tapi menghangatkan hati.
Dalam cerpen ketiga berjudul Bukti Cerita, kita akan diajak mengikuti perdebatan seru dua orang kenalan lama, Westbrook yang adalah seorang redaktur majalah, dan Dawe seorang penulis fiksi. Westbrook punya teori, jika seseorang tiba-tiba dihadapkan dengan krisis emosional, ucapan yang keluar dari mulut orang itu akan kacau, namun tetap menggunakan kata-kata dalam bahasa sehari-hari. Teori Dawe sebaliknya, sebagai penulis fiksi, menurutnya seseorang akan mengucapkan kata-kata dramatis nan lebay jika dihadapkan dengan krisis emosional. Nah, yang mana dari mereka yang benar?
Semata-mata Bisnis. Dunia pertunjukan kabaret merupakan bisnis yang menguntungkan. Jadi jangan heran ketika aktor dan aktris yang terlibat dalam satu pementasan “mengikat kontrak” satu sama lain demi suksesnya pertunjukan. Itulah yang dilakukan Bob Hart dan Winona Cherry, ketika mereka terlibat dalam pementasan bertajuk “Mice Will Play” yang kemudian sukses besar. Tapi benarkah semuanya hanya semata-mata demi uang?
“Aku benar-benar takut kalau semua pertunjukan mencerminkan dunia yang sebenarnya dan semua orang adalah aktor dan aktris.”
Demikian kata narator cerpen berjudul Kenyataan adalah Sandiwara. Ia lalu menguraikan kisah cinta segitiga antara seorang perempuan bernama Helen, Frank Barry, dan John Delaney. Di hari pernikahan Helen dengan Frank, John yang gila karena cinta menghambur ke kamar Helen dan memintanya untuk kabur bersamanya. Frank yang marah besar karena melihat adegan itu kabur dan tidak kembali. Helen kemudian menjalani hidup 18 tahun tanpa suami, sampai akhirnya beberapa orang pria secara misterius muncul untuk melamar Helen. Apakah suaminya yang menghilang selama 18 tahun akhirnya kembali?
Judul cerpen selanjutnya adalah Perempuan dan Suap Menyuap. Tidak, cerpen ini tidak mendiskreditkan perempuan, malah sang penulis mengakui bahwa “Lelaki adalah masalah tersulit yang harus dihadapi perempuan.” Inti cerpen ini sebenarnya adalah seberapa jauh, atau lebih tepatnya berapa banyak uang yang bersedia dikeluarkan oleh seseorang demi terciptanya sensasi yang membuatnya terkenal. Seorang pencoleng bernama Pogue membuat kesepakatan dengan seorang wanita bernama Artemisia Blye dan Tuan Vaucross, seorang pengusaha kaya. Vaucross harus berpura-pura jatuh cinta setengah mati kepada Nona Blye kemudian mencampakkannya. Nona Blye kemudian akan mengajukan tuntutan kepada Vaucross. Semua diuntungkan, uang dan ketenaran ada di tangan. Jika saja semuanya berjalan sesuai dengan rencana.
Cerpen terakhir yang berjudul Demi Cinta dibuka dengan kalimat:
“Ketika seseorang mencintai Seni, tidak ada yang terasa membebani.”
Hidup yang dijalani Joe dan Delia Larrabee berat, namun mereka tidak mau menganggapnya sebagai beban. Joe adalah seorang pelukis dan Delia adalah penyanyi lulusan sekolah musik. Suatu hari, Delia mengatakan pada Joe bahwa ia akan memberi les musik kepada anak perempuan seorang jenderal. Beberapa hari kemudian, Joe dengan gembira mengumumkan bahwa sketsa-sketsanya dibeli seorang lelaki dari Peoria. Mereka hidup dengan cinta dan seni di setiap helaan nafas, namun pada akhirnya mereka sadar bahwa cinta jauh lebih besar daripada seni.
Empat bintang saya berikan untuk kumcer ini, karena gaya penulisan O. Henry yang khas mampu membuat saya merasa seakan terlempar ke dunia seni dan hiburan di New York pada akhir abad 19. Cerpen-cerpen O. Henry merupakan selebrasi kehidupan, sifat-sifat alami manusia, kejutan, dan tentu saja seni dan cinta. Dua hal yang mengganjal di hati saya, yang pertama adalah cover yang tidak mewakili isi buku yang bertema seni. Dengan cover seperti itu dan judul “Cinta yang Hilang”, jangan heran kalau orang mengira buku ini sebuah novel roman biasa. Kedua, salah ketik pada profil O. Henry di bagian belakang buku. Tertulis di buku ini bahwa O. Henry lahir pada tahun 1896 dan wafat 1910, sementara tahun kelahiran O. Henry yang benar adalah tahun 1862. Kesalahan ketik yang sama saya temui pada profil O. Henry di kumcer Cinta Tak Pernah Mati. Semoga penerbit bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan seperti ini, karena sungguh sayang jika sebuah buku yang bagus jadi “cacat” hanya gara-gara masalah sepele.
“Cinta yang Hilang” oleh O. Henry
118 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Penerbit Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Lelaki Tua dan Laut
Lelaki Tua dan Laut by Ernest Hemingway
My rating: 2 of 5 stars
Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea) adalah karya terbaik sastrawan Amerika kenamaan, Ernest Hemingway. Pemenang Nobel Sastra 1954 dan Pulitzer Prize 1953 ini mengisahkan perjuangan seorang nelayan tua yang telah 84 hari melaut tanpa menangkap seekor ikan pun.
Pada hari yang ke-85, ia berangkat dengan penuh optimisme bahwa hari ini bisa jadi hari keberuntungannya dan akhirnya dia tidak akan pulang dari laut dengan tangan kosong.
Hari itu adalah awal dari perjuangan pantang menyerah sang lelaki tua demi menangkap seekor ikan marlin raksasa, dimana dalam proses itu ia menghadapi banyak tantangan dan bahaya. Walaupun tubuh tuanya terus menerus protes selama ia terapung-apung di tengah lautan, ia tidak menyerah sampai kepada penghabisan.
Novel pendek (namun berat) ini ditulis dengan amat detail oleh penulisnya, boleh dibilang dengan alur yang bergerak lamban, yang membuat pembaca bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang nelayan.
Softcover, 145 pages
Published May 2009 by Serambi Ilmu Semesta (first published 1952)
Price IDR 29.900
[Review] Kisah-kisah Tengah Malam
Kisah-kisah Tengah Malam by Edgar Allan Poe
My rating: 4 of 5 stars
“Mereka yang berkeliaran di lembah itu
Melihat sesuatu di balik dua jendela istana
Roh gentayangan bergerak dan berdansa
Mengikuti irama suling yang ditiup;
Di atas takhta, duduklah
Seorang penguasa istana
Gagah dan penuh kemenangan.”
– “Istana Berhantu” dari Misteri Rumah Keluarga Usher (1839)
Kisah-kisah Tengah Malam yang judul aslinya adalah Tales of Mystery and Terror, adalah kumpulan tiga belas cerita pendek bertema horor gotik karya Edgar Allan Poe.
Inilah judul ketiga belas cerita pendek yang ada dalam Kisah-kisah Tengah Malam sesuai daftar isi:
- Gema Jantung yang Tersiksa
- Pesan Dalam Botol (namun di halaman cerita judul yang tercantum adalah Catatan dalam Botol)
- Hop-Frog
- Potret Seorang Gadis
- Mengarungi Badai Maelström
- Kotak Persegi Panjang
- Obrolan dengan Mummy
- Setan Merah
- Kucing Hitam
- Jurang dan Pendulum
- Pertanda Buruk
- William Wilson
- Misteri Rumah Keluarga Usher
Jika Anda belum pernah mengenal atau mendengar nama Edgar Allan Poe, beliau adalah seorang penulis cerita pendek, penyair, dan kritikus sastra kelahiran Boston, Amerika Serikat, yang hidup antara tahun 1809-1849 (umurnya pendek hanya 40 tahun), dan boleh disebut sebagai salah satu pelopor genre horor/misteri/teror/suspens di masanya.
Dalam Kisah-kisah Tengah Malam, pembaca akan dibawa ke dalam situasi dan tempat yang berbeda-beda; di dalam rumah tua yang seram, di atas kapal yang dilanda badai, di atas tebing curam, dalam istana raja, dan di dalam penjara yang gelap pekat.
Salah satu ciri khas Poe adalah penggunaan sudut pandang orang pertama atau “Aku” dalam setiap cerita dalam buku ini. Uniknya, hampir-hampir tak ada penjelasan mengenai “Aku” di setiap cerita. Tidak ada nama, kecuali dalam cerita pendek berjudul William Wilson ketika si “Aku” menyebut dirinya dengan nama yang sama dengan judul cerita pendek tersebut. Dalam beberapa cerita yang lain, disebutkan bahwa “Aku” memiliki istri, jadi jelaslah dalam cerita pendek itu sang tokoh utama adalah seorang laki-laki.
Ciri khas Poe yang kedua, yaitu penggambaran sedemikian rupa kondisi psikis sang tokoh utama dalam cerita, yang sarat kegilaan, dicekam ketakutan dan teror yang berkecamuk dalam jiwa dan benak. Pada cerita pertama, Gema Jantung yang Tersiksa, pembaca diajak menyelami kegilaan yang dialami sang tokoh utama, seseorang yang telah membunuh seorang tua dan menyembunyikan tubuhnya di bawah lantai kayu.
Selain itu, dari cerita-cerita yang dituturkan, kita dapat melihat betapa Poe adalah orang cerdas yang berpengetahuan luas.
Di dalam cerita Catatan Dalam Botol dan Mengarungi Badai Maelström, Poe memaparkan dengan panjang-lebar mengenai terjadinya badai yang menggulung laut. Saya pribadi berpendapat kedua cerita tersebut agak melelahkan untuk dibaca, karena panjangnya penjelasannya. Namun membaca Obrolan dengan Mummy menjadi angin segar bagi saya, karena wacana mengenai mumifikasi ras tertentu di Mesir adalah baru bagi saya.

Cerita favorit saya dari semuanya adalah Setan Merah, yang menurut saya paling menakutkan sekaligus menakjubkan. Dalam cerita ini Poe membuktikan bahwa beliau adalah benar-benar seorang master horor yang mampu membangun cerita yang membuat pembacanya tak berani menarik napas ketika membaca.
Secara keseluruhan, membaca Kisah-kisah Tengah Malam membuka jendela yang sama sekali baru bagi pembaca yang belum pernah mengecap karya Poe sebelumnya, membawa kita semua di alam yang mungkin asing, tapi sungguh menantang.
Sedikit saran saja bagi Anda yang agak penakut, walaupun judul buku ini Kisah-kisah Tengah Malam, saya tak akan menyarankan Anda untuk membacanya pada tengah malam, karena mungkin—mungkin saja, bisa timbul imajinasi liar dalam kepala Anda dan akhirnya Anda mengalami salah satu cerita horor khas Edgar Allan Poe. ;-P
Softcover, 245 pages
Published December 28th 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 40,000
[Review] The Wizard of Oz
The Wizard of Oz by L. Frank Baum
My rating: 3 of 5 stars
Kisah fantasi anak-anak yg sarat imajinasi dan petualangan. Setiap kali Dorothy dan kawan-kawan datang ke suatu tempat, selalu saja ada yg baru, entah itu kawanan Kera Bersayap atau perkampungan yang seluruh penduduk dan bangunannya terbuat dari porselen Cina yang gampang pecah.
Dari cerita ini kita juga dapat belajar dari kebersamaan dan kesetiakawanan Dorothy dengan Scarecrow, Tin Woodman dan Singa Penakut bahkan ketika mereka masing-masing telah menemukan tempat paling nyaman bagi mereka, mereka tetap dengan setia mendampingi Dorothy sampai tujuannya tercapai, yaitu kembali ke kampung halamannya di Kansas.
Gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini sederhana dan tidak bertele-tele, dalam banyak bagian tidak ada penjelasan yang detil tentang peristiwa yang sedang terjadi. Namun maklum, ini buku untuk anak-anak.
Ada beberapa hal yg masih ‘ganjel’ di hati saya, antara lain:
1. Entah mengapa sang penulis memberi kisah ini judul “The Wizard of Oz”. Jelas-jelas tokoh utamanya adalah Dorothy, disusul kawan-kawannya. Si Penyihir Oz sendiri hanya bagian kecil dari kisah ini.
2. Rasanya lebih pas kalau “Scarecrow” tidak usah diterjemahkan menjadi “Boneka Jerami”. Yah itu menurut saya saja sih
Lepas dari itu semua, saya sangat menyukai kisah ini, termasuk juga karena adanya ilustrasi-ilustrasi cantik di edisi terjemahan terbitan Atria. 4 stars for this!
Paperback, 206 pages
Published October 22nd 2010 by Penerbit Atria (first published 1900)
Price IDR 24.900
[Review] To Kill A Mockingbird
To Kill A Mockingbird: Novel Tentang Kasih Sayang dan Prasangka by Harper Lee
My rating: 5 of 5 stars
Novel yang pernah memenangkan Pulitzer dan katanya terjual lebih dari 30 juta kopi di seluruh dunia dan jadi bacaan wajib anak2 di AS ini akhirnya selesai juga kubaca.
Alurnya mengalir dengan menyenangkan, cenderung apa adanya tanpa kata-kata yang berlebihan, walaupun ada beberapa bagian terjemahan yg mengganggu.
To Kill a Mockingbird bercerita mengenai kehidupan seorang pengacara di kota kecil Maycomb, negara bagian Alabama bernama Atticus Finch, yang hidup dengan kedua anaknya Jem dan Scout Finch. Hidup kedua anak ini spontan berubah total ketika sang ayah memutuskan menjadi pengacara pembela bagi seorang kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan. Dalam novel yang kukira bersetting sekitar tahun 1930-an ini sudah ada mobil, sudah ada Coca-Cola, namun salah satu yang belum ada adalah kesetaraan antara warga kulit putih dan kulit berwarna di Alabama.
Sampai membaca bab kesembilan, belum ketahuan alur sebenarnya dari kisah ini, yang ada ketika aku membaca bab 1-8 ada perasaan seperti sedang membaca seri misterinya R.L. Stine, karena dalam bab 1-8 tersebut diceritakan bagaimana Jem dan Scout serta teman mereka Dill, berusaha memancing tetangga mereka yang misterius yang tak pernah keluar rumah selama 20 tahun, Boo Radley, untuk keluar. Dalam bayangan mereka Boo adalah seseorang yang seperti monster jahat, dan aku tetap penasaran siapakah Boo Radley sesungguhnya sampai akhirnya penulis membukanya pada bab terakhir.
Pujian yang diberikan The New York Times kepada buku ini rasanya tidak berlebihan : “…karakter yang patut dikenang…”. Karakter favoritku tentu saja Atticus, sang pengacara paruh baya yang bijaksana, hampir tidak pernah lepas kontrol di depan siapapun. Setiap kata yang diucapkan Atticus sangat berharga bagi keseluruhan buku ini. Jem, anak lelakinya yang cerdas dan sedang memasuki masa pubertas yang membuat bingung adik perempuannya, Scout, gadis kecil 8 tahun yang ingin tahu dan cenderung emosional, yang belum tahu caranya “jadi wanita terhormat”.
Kepelikan konflik dalam kisah ini dan kompleksitas karakter-karakter lainnya, yang walaupun punya bagian kecil namun semuanya memberi nilai-nilai berharga untuk dipelajari, membuatku setuju bahwa buku ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah ditulis.
Scout : “Tidak Jem, kukira hanya ada satu jenis manusia. Manusia.”
Jem : “Pikirku juga begitu, saat aku seusiamu. Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci?”
Softcover, 533 pages
Published : 2006 by Qanita (Mizan Group)
Literary Awards: Pulitzer Prize for Fiction (1961)
Price: IDR 65,000



















