Blog Archives
[Review] Petualangan Sherlock Holmes, Part II & Conclusion
# Conclusion in English at the bottom of the post #
Melanjutkan review Petualangan Sherlock Holmes, Part I, inilah bagian yang kedua.
7. Batu Delima Biru (judul asli: The Adventure of the Blue Carbuncle)
Dalam cerpen ini kita diajak mengikuti petualangan sang detektif pada hari sesudah Natal. Dikisahkan bahwa Peterson, seorang petugas antar barang yang jujur, pada pukul empat pagi hari Natal, menyaksikan seorang pria yang dihadang sekelompok pemuda berandalan. Pria itu lalu kabur, dan meninggalkan begitu saja seekor bebek putih yang tadi dipanggulnya. “Bebek Natal” itu kemudian diambil oleh Peterson berikut topi penyok pria itu, yang kemudian jatuh ke tangan Sherlock Holmes. Dari serangkaian kejadian dan barang bukti yang tampaknya sepele, Holmes menganalisis topi penyok itu untuk mendapatkan gambaran tentang pemiliknya, dan melacak asal-usul si bebek sampai ke penjual dan penyuplainya. Ternyata memang si bebek menyimpan “harta terpendam”, secara harafiah.
8. Lilitan Bintik-bintik (judul asli: The Adventure of the Speckled Band)
Inilah cerita paling menegangkan dari semua cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes. Helen Stoner muda datang kepada Sherlock Holmes pada suatu pagi, dalam keadaan penuh teror dan ketakutan. Miss Stoner mengaku tinggal di Stoke Moran, Surrey, bersama dengan ayah tirinya, Dr. Grimesby Roylott. Ia ketakutan, karena malam sebelumnya, suatu peristiwa yang terjadi sesaat sebelum kematian saudara kembarnya terjadi lagi. Ia takut bahwa ia akan mengalami nasib yang sama, mati secara misterius! Bagaimanakah Sherlock Holmes memecahkan kasus ini? Baca saja dalam cerpen yang menurut saya adalah cerpen terbaik dalam kumcer ini!
9. Ibu Jari Sang Insinyur (judul asli: The Adventure of the Engineer’s Thumb)
Orang bisa saja mengalami berbagai kejadian aneh, tapi berapa orang yang mengalami petualangan sehubungan dengan ibu jarinya? Seorang insinyur hidrolik muda bernama Mr. Victor Hatherley mengalaminya. Sebuah tawaran pekerjaan yang ringan, tapi dengan bayaran tinggi dari seorang Kolonel Lysander Stark membawanya ke sebuah wilayah terpencil dekat Reading. Victor tak menyangka kalau nantinya ia akan mengalami peristiwa menegangkan yang melibatkan beberapa orang Jerman dan membuatnya harus kehilangan ibu jarinya. Dalam cerpen yang satu ini Conan Doyle banyak menggunakan istilah teknik berkenaan dengan bidang pekerjaan seorang insinyur hidrolik, yang membuat orang non-teknik seperti saya mengerutkan dahi membacanya…
10. Bangsawan Muda (judul asli: The Adventure of the Noble Bachelor)
Lord St. Simon yang malang! Istrinya yang cantik tiba-tiba menghilang saat jamuan makan tepat setelah upacara pernikahan! Sang bangsawan meminta pertolongan Sherlock Holmes untuk menemukan istrinya, dan menyampaikan bahwa istrinya tidak pernah menunjukkan tanda-tanda mau kabur sebelum pernikahan. Hanya saja, ia sempat gugup dan menjatuhkan buket bunganya saat berjalan keluar dari altar setelah upacara pemberkatan di gereja. Peristiwa yang nampaknya misterius ini ternyata pemecahannya sederhana saja.
11. Tiara Bertatahkan Permata Hijau (judul asli: The Adventure of the Beryl Coronet)
Klien Sherlock Holmes kali ini adalah seorang bankir dari salah satu bank swasta paling ternama di London, Mr. Alexander Holder dari Holder & Stevenson Bank. Mr. Holder baru saja memberikan pinjaman sebesar 50.000 pound kepada seorang bangsawan yang tidak disebutkan namanya. Jaminannya adalah benda yang nilainya jauh melebihi nilai pinjaman, yaitu sebuah tiara bertatahkan 39 buah permata hijau. Merasa terbeban karena dititipi benda yang merupakan kekayaan negara, Mr. Holder menyimpan tiara itu dengan ekstra hati-hati dan bersikap ekstra waspada. Namun malang, tiara itu berhasil dicuri juga! Tersangka utama adalah putra Mr. Holder sendiri, Arthur. Sementara itu, Sherlock Holmes yang sedang melakukan penyelidikan, tidak sampai pada keyakinan bahwa Arthurlah pelakunya. Arthur yang malang telah dijebak…
12. Petualangan di Copper Beeches (judul asli: The Adventure of the Copper Beeches)
Cerpen yang dibuka dengan cukup menarik dengan perdebatan antara Holmes-Watson ini berkisah tentang Miss Violet Hunter yang ingin berkonsultasi dengan Sherlock Holmes mengenai apakah sebaiknya ia menerima tawaran pekerjaan sebagai guru les privat di suatu tempat tertentu atau tidak. Kedengarannya sepele sekali, bukan? Tapi ternyata tidak. Violet menemukan banyak keanehan saat ia mulai bekerja di kediaman Mr. Jephro Rucastle, dan belum menyadari bahwa ia terlibat suatu persekongkolan licik. Namun pada waktunya ia akan tahu.
***
Itulah kedua belas cerpen dalam kumcer Petualangan Sherlock Holmes (baca review bagian pertama). Kumcer ini merupakan buku Sherlock Holmes yang pertama kali saya baca, dan secara umum kumcer ini menarik, terutama karena kecemerlangan metode deduksi Sherlock Holmes dan perhatiannya terhadap detail. Kadang-kadang karakter Holmes tampak terlalu sempurna bagi saya, karena sepertinya tidak ada misteri yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Kegagalan yang jarang sekali terjadi tampak dalam cerpen pertama dalam kumcer ini, Skandal di Bohemia. Cerpen favorit saya tetap jatuh pada Lima Butir Biji Jeruk (cerpen no. 5) yang berlatar belakang sejarah perkumpulan Ku Klux Klan dan Lilitan Bintik-bintik (cerpen no. 8) yang bikin deg-degan, membuat saya merasa sedang membaca karya Poe. Saya tertarik untuk membaca novel-novel Sherlock Holmes dengan harapan novel-novelnya lebih dalam dan menyentuh sisi emosional sang detektif handal. Tiga bintang untuk keseluruhan kumcer Petualangan Sherlock Holmes ini.
Conclusion in English:
I have written 2-part review for The Adventures of Sherlock Holmes (it is Petualangan Sherlock Holmes in the Indonesian translated version). Part I was written fully in Indonesian, but here in Part II I included a conclusion in English too. This is the first Sherlock Holmes I have ever read, and I found this book interesting, especially for the brilliant deductive method used by Sherlock Holmes, and his attention to tiny, seemingly meaningless details. However, sometimes I found the character Sherlock Holmes a bit beyond perfection, because it seemed that there was no case that cannot be solved by him (except A Scandal in Bohemia in this particular work). My two favorite short stories in this work go to The Five Orange Pips with its background history of Ku Klux Klan extremist organization and the gripping The Adventure of the Speckled Band that made me felt like I was reading Poe. I want to read Sherlock Holmes’ novels too, with hope that they would be deeper and more emotional. I gave three out of five stars for The Adventures of Sherlock Holmes.
Detail buku:
Petualangan Sherlock Holmes (judul asli: “The Adventures of Sherlock Holmes”), oleh Sir Arthur Conan Doyle
504 halaman, diterbitkan Maret 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde
Dalam jiwa setiap manusia berperang dua sisi yang berlawanan: Baik dan Jahat.
Mr. Utterson, seorang pengacara, mencium sesuatu yang ganjil mengenai Henry Jekyll, seorang dokter berusia setengah baya yang ternama dan dermawan, yang menulis dalam surat wasiatnya seperti berikut:
“… dalam hal meninggalnya Henry Jekyll, maka semua harta miliknya akan diwariskan kepada “teman dan pelindungnya Edward Hyde”; tetapi juga dalam hal apabila Dr. Jekyll menghilang atau tidak bisa dijelaskan ketidakberadaannya selama jangka waktu apa pun yang melebihi tiga bulan kalender…”
Siapakah Edward Hyde? Dr. Lanyon, salah seorang sahabat dekat Jekyll yang ditanyai oleh Mr. Utterson, mengaku tak tahu-menahu mengenai Hyde. Dahi Mr. Utterson semakin berkerut bila ia mengingat sebuah kisah aneh yang diceritakan seorang rekannya, Mr. Enfield, beberapa hari sebelumnya. Ia menceritakan tentang seorang laki-laki berperawakan kecil yang menabrak seorang anak perempuan dan kemudian ia menginjak-injak tubuh si anak perempua dan berjalan pergi dengan tenang, membiarkan si anak perempuan menjerit-jerit di tanah. Lelaki jahat ini adalah Mr. Hyde, yang digambarkan bertubuh kecil dan mengesankan bahwa dirinya mempunyai suatu kecacatan yang tak dapat dijelaskan, sesuatu yang membuat orang merasa benci dan muak terhadap dirinya.
Beberapa waktu kemudian, kota London kembali dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan terhadap seorang yang terpandang di masyarakat, Sir Danvers Carew. Keterangan saksi dan bukti yang ada menunjukkan bahwa pelakunya adalah Mr. Hyde, sementara yang menjadi tersangka raib seakan ditelan bumi. Waktu berlalu dan sementara Mr. Hyde belum juga ditemukan, Mr. Utterson menyadari bahwa ada perubahan yang terjadi pada diri Dr. Jekyll. Sang dokter yang biasanya supel dan ramah itu tiba-tiba menutup diri dan menolak menerima tamu di rumahnya. Mr. Utterson yang mengutarakan pendapatnya kepada Dr. Lanyon bahwa kemungkinan besar Jekyll sedang sakit, malah dikejutkan dengan respon Lanyon yang mengatakan bahwa ia tidak mau melihat atau mendengar apa-apa lagi mengenai Dr. Jekyll. Lanyon sendiri kelihatan tidak sehat dan akhirnya meninggal dunia beberapa minggu kemudian.
Pada suatu malam, Mr. Utterson dikejutkan oleh kunjungan mendadak Poole, kepala pelayan Dr. Jekyll, yang memintanya untuk mengikutinya ke rumah Dr. Jekyll. Dengan rasa takut dan was-was Mr. Utterson pun mengikuti Poole, dan apa yang terjadi sesudahnya menanamkan suatu kecurigaan kuat dalam benak Mr. Utterson bahwa Dr. Jekyll telah dibunuh, dan pembunuhnya masih berada di ruang kerjanya, tak lain tak bukan adalah Mr. Hyde, yang diberi akses penuh atas ruang kerja dan kamar Dr. Jekyll. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Dr. Jekyll? Lalu apa gerangan yang dilakukan si pembunuh gila di ruang kerjanya?
***
Karya Robert Louis Stevenson ini merupakan gabungan antara kisah misteri Gothic, fiksi ilmiah, dan sekaligus merupakan studi psikologis dualitas sifat manusia (the duality of human nature); yang diwujudkan di dalam kisah melalui karakter Dr. Jekyll (gabungan karakter baik dan jahat, namun lebih berat pada sisi baik), dan Mr. Hyde (mewakili sisi jahat, sama sekali tidak ada kebaikan dalam dirinya). Dalam 128 halaman versi terjemahan kisah ini, Stevenson menguraikan teka-teki mengenai Dr. Jekyll dan Mr. Hyde yang sedang diusut oleh Mr. Utterson dengan tingkat ketegangan yang cukup mendebarkan, termasuk di dalamnya pergumulan fisik dan batin yang mendera Dr. Jekyll, dan peristiwa-peristiwa menyeramkan yang terjadi dalam kegelapan dan kesuraman kota London. Kalau pun ada yang kurang, mungkin hal tersebut adalah detail eksperimen ilmiah yang dilakukan Dr. Jekyll. Terjemahannya cukup baik, walau mungkin di banyak bagian dahi pembaca dibuat berkerut akibat kalimat dengan penjelasan yang panjang-panjang. Tapi memang begitulah ciri khas literatur klasik (terutama literatur yang ditulis dalam era Victoria).
“Hari demi hari, dan dengan kedua sisi diriku, moral dan intelektual, aku, perlahan-lahan tapi pasti, semakin mendekati kebenarannya, yang pada akhirnya membuatku menjadi manusia terkutuk: bahwa manusia sesungguhnya bukanlah satu, melainkan dua.
… Sudah menjadi kutukan takdir manusia sehingga kedua aspek yang berlawanan tersebut saling terikat bersama-sama—dan oleh karenanya, di dalam rahim alam sadar, seorang manusia dengan kedua kutub kembar tersebut harus selalu berjuang untuk mengalahkan satu sama lain. Bagaimana seandainya keduanya dipisahkan?”
Dengan demikian, kesimpulan logis yang saya tarik setelah membaca buku ini (karena saya tidak punya kapabilitas cukup untuk membahasnya secara psikologis):
- Kepandaian manusia adalah berkat dari Tuhan, namun bisa menjadi kutuk ketika digunakan tidak pada tempatnya, atau dengan cara yang salah. Kejeniusan Dr. Jekyll membuatnya berangan-angan, dan kemudian mewujudkan, ide “memisahkan kedua sisi berlawanan di dalam dirinya”. Ide gila ini, tanpa bisa dihentikan lagi, kemudian membawanya ke kehancuran. So, people, it is best to use our intelligence wisely and responsibly.
- Penting bagi seorang manusia untuk mempunyai kehidupan yang seimbang. Usahakanlah bahwa “Jekyll” di dalam diri kita yang memegang kendali, dan bukannya “Hyde”. “Hyde” tidak harus hilang sama sekali dari diri kita, karena toh kita masih manusia yang punya kekuatan juga kelemahan. Yang penting adalah “Jekyll” harus bisa mengontrol “Hyde”, sehingga kehidupan kita menjadi seimbang.
Tiga bintang saya berikan untuk novel yang pendek namun menarik untuk didiskusikan ini.
Baca juga:
Playing Hyde & Seek (Eng)
Analisis Kejiwaan Dr. Jekyll dalam Novel “The Strange Case of Dr. Jekyll & Mr. Hyde” karya Robert Louis Stevenson, oleh Ferry Ismawan (Ind)
Detail buku:
“The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde”, oleh Robert Louis Stevenson
128 halaman, diterbitkan 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] Bleak House oleh Charles Dickens
“London, 1852. London in November. It was cold, winter weather. There was mud in the streets. There was fog too. The fog was everywhere. It came up the river and down the river.
Cold, mud, and fog filled the streets of London. And the fog was thickest and the mud was deepest near Lincoln’s Inn, the very heart of London. The Lord High Chancellor was there, sitting in his High Court of Chancery.
Some of the fog and the mud had got into the courtroom too. Perhaps a little fog and mud had got into the minds of the people in the High Court of Chancery.”
Bleak House merupakan karya Dickens kedua yang pernah saya baca, dan saya pertama kali membacanya ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMP.
“Bleak House”, jika diIndonesiakan berarti “Rumah Suram” adalah karya Dickens yang merupakan kritik sosial terhadap kehidupan di London pada pertengahan abad 19. Mengambil setting waktu tahun 1852, Dickens menyorot bobroknya sistem hukum perdata di Inggris pada waktu itu, secara spesifik mengenai hal waris. Alkisah ada sebuah kasus mengenai hak waris yang telah dilangsungkan selama bertahun-tahun, bahkan beberapa generasi telah mati dan dilahirkan selama kasus tersebut berlangsung. Kasus ini dikenal dengan nama kasus Jarndyce dan Jarndyce (the case of Jarndyce and Jarndyce). Konon, kasus ini menghabiskan seluruh energi, waktu, dan kepandaian para pengacara di High Court of Chancery, London, dan para penuntut hak waris yang tadinya muda dan penuh harapan, lama kelamaan-menjadi tua dan hancur hidupnya selama menunggu penyelesaian/keputusan atas kasus Jarndyce dan Jarndyce. Kasus ini telah membuat nasib banyak orang menjadi begitu sengsara. Mengapa begitu lama dan sulit untuk menyelesaikan kasus ini? Konon karena tidak ada pengacara yang mampu memahami surat waris Jarndyce.
Para penuntut–mereka yang mempunyai hak atas warisan Jarndyce–yang berumur di bawah 21 tahun diurus oleh Pengadilan, dan Pengadilanlah yang akan mencarikan rumah bagi mereka. Para penuntut ini disebut “wards of court”. Diantara sekian banyak penuntut kasus Jarndyce dan Jarndyce, ada sepasang sepupu yang masih berusia di bawah 21 tahun, mereka adalah Ada Clare dan Richard Carstone. Pengadilan kemudian memutuskan bahwa Ada dan Richard akan tinggal bersama sepupu mereka, John Jarndyce, di kediaman tua Jarndyce yang disebut Bleak House. Pengadilan mengutus Esther Summerson, seorang perempuan muda yang memiliki masa lalu pahit, namun sangat mandiri dan bisa diandalkan, untuk mendampingi Ada. Mereka berempat pun tinggal di Bleak House, yang ternyata tidak sesuram namanya karena sang sepupu, John Jarndyce, adalah seorang pria paruh baya yang periang dan menyenangkan.
Di sudut lain Inggris, di Lincolnshire, tinggallah sepasang bangsawan yang terkenal angkuh. Mereka adalah Sir Leicester Dedlock, dan istrinya, Lady Dedlock yang cantik namun dingin. Suami-istri Dedlock tinggal di rumah yang disebut Chesney Wold. Teras di bagian depan rumah besar itu dijuluki Ghost’s Walk, karena kadang-kadang terdengar langkah-langkah kaki di batu yang keras itu. Konon jika langkah-langkah kaki terdengar di Ghost’s Walk, itu berarti akan ada kematian, kemalangan atau aib yang akan menimpa keluarga Dedlock.
Kembali ke London, Esther, Ada, dan Richard mengunjungi sebuah toko yang sangat kotor dan aneh di dekat High Court of Chancery, toko ini bernama “Krook, Rag and Bottle Shop”. Toko ini begitu aneh karena “everything is bought here, but nothing is sold.” Pemiliknya, Mr Krook, berkata bahwa orang-orang memanggilnya Lord Chancellor (semacam Hakim Agung), dan tokonya adalah High Court of Chancery, karena ia tidak pernah melepaskan satupun barang-barang berkarat dan berdebu dari tokonya. Toko tersebut tidak pernah disapu, dibersihkan, atau diperbaiki, melambangkan High Court of Chancery. Mereka bertiga melihat bagaimana kemiskinan menggerogoti warga yang tinggal di jantung kota London, dan ironisnya warga yang termasuk kaya seakan menutup dunia mereka dari keberadaan warga lain yang miskin.
Sejauh ini terdengar membosankan? Tunggu dulu, Lady Dedlock ternyata punya rahasia yang selama ini setengah mati disimpannya supaya keluarga Dedlock tidak dipermalukan akibat aib masa lalunya. Rahasia ini berkaitan dengan Esther Summerson dan Nemo, seorang law-writer (penulis dokumen hukum) yang identitasnya tidak jelas, yang dulunya tinggal di atas Krook, Rag and Bottle Shop, sampai ia ditemukan mati karena sakit. FYI, “Nemo” dalam bahasa Latin berarti “no one”. Pengacara Sir Leicester, Mr Tulkinghorn, curiga bahwa Lady Dedlock memiliki rahasia dan berusaha mengoreknya. Ada juga seorang perempuan Perancis bernama Hortense yang sangat membenci Lady Dedlock dan berusaha mencelakainya. Karakter penting lainnya adalah Allan Woodcourt, seorang dokter yang datang ketika Nemo ditemukan telah mati. Allan menjalin hubungan persahabatan yang erat dengan para penghuni Bleak House dan menjadi suami Esther di akhir cerita. Menarik juga mengikuti bagaimana kasus Jarndyce dan Jarndyce berhasil menggelapkan hidup banyak orang, termasuk Richard Carstone, karakter yang plin-plan dan tidak pikir panjang, yang selalu berpikir bahwa ia akan menjadi kaya jika keputusan atas kasus Jarndyce dan Jarndyce telah dijatuhkan. Sepupunya, John Jarndyce menasihatinya: “For the love of God, do not put any hope or trust in Jarndyce and Jarndyce. It is better to borrow, better to beg, better to die.”
Penjelasan singkat tentang kasus Jarndyce dan Jarndyce, sebagaimana disampaikan oleh John Jarndyce, adalah sebagai berikut:
“Long ago, a man called Jarndyce made a great fortune. And so he made a great will. This will was difficult to understand. Lawyers have been arguing about it ever since. The Court of Chancery has to decide about the money. Every member of the family has to go to Court sometime. No one can escape. I don’t like to think about it. My poor great-uncle, Tom Jarndyce, thought about the case all the time. In the end, he shot himself.”
***
Bleak House merupakan sebuah novel yang kompleks dan panjang, merupakan suatu potret sosial Inggris pada era Victoria. Sekalipun beberapa sumber menyebutkan bahwa Bleak House adalah novel terbaik Dickens, mungkin novel ini tidak terlalu enjoyable, khususnya bagi pembaca Indonesia, karena cenderung panjang dan membosankan. Begini pendapat G. K. Chesterton mengenai Bleak House: there is a certain monotony about the book: “the artistic . . . unity . . . is satisfying, almost suffocating. There is the motif and again the motif.”
Namun bagi saya pribadi, saya masih bisa menikmati kompleksitasnya, dan juga gaya penulisan Dickens yang sangat khas dan memikat, yang masih terasa sekalipun buku yang saya baca ini versi yang telah dipersingkat dan disederhanakan.
Detail buku:
“Bleak House”, oleh Charles Dickens, diceritakan kembali oleh Margaret Tarner
122 halaman, diterbitkan 1990 oleh Dian Rakyat
My rating: ♥ ♥ ♥
[Review] Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) oleh Charles Dickens
London dan Paris; dua kota yang bergolak menjelang revolusi Prancis. Konon di Prancis, kaum bangsawan memerintah dengan sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyat. Kesejahteraan kaum bangsawan diletakkan diatas segalanya, sementara rakyat kecil dianggap tidak lebih daripada anjing. Rakyat harus membayar pajak dengan jumlah yang menggigit, sementara kaum bangsawan terus berfoya-foya dan menggemukkan badan. Kejahatan merajalela, tiada hari tanpa pelaksanaan hukuman mati, tidak peduli kecil atau besar kejahatan yang dilakukan orang yang akan dieksekusi. Begitulah situasinya, sampai di suatu titik, rakyat Prancis bangkit dan melakukan perlawanan. Situasi berputar balik, kali ini kaum bangsawanlah yang ditangkapi, diadili, dan dibunuh.
Di tengah-tengah gejolak yang terjadi, Mr. Jarvis Lorry, seorang bankir di Tellson’s Bank, London, ditemui oleh seorang gadis muda berparas cantik berkebangsaan Prancis bernama Lucie, mengenai keberadaan ayah yang disangkanya telah mati. Dr. Manette, ayah si gadis, ternyata masih hidup di Prancis. Ia dijebloskan ke penjara Bastille tanpa pernah tahu bahwa ia memiliki keturunan. Setelah bertahun-tahun menjalani hukuman di Bastille, yang menguras kewarasan sang dokter, ia tinggal di rumah mantan pelayannya yang bernama Defarge. Mr. Lorry dan Mlle Manette menjemput sang dokter dari tempat itu, pindah ke Inggris, dimana mereka berusaha memulihkan keadaan fisik dan psikis sang dokter.
Lima tahun kemudian, Dr. Manette dan putrinya terlibat dalam persidangan seorang keturunan Prancis yang bernama Charles Darnay, sebagai saksi. Darnay didakwa sebagai mata-mata Prancis yang menjalankan suatu rencana untuk melumpuhkan Inggris. Di persidangan itu mereka bertemu dengan pengacara yang bernama Mr. Stryver, dan rekannya yang eksentrik, Sydney Carton, yang secara mengherankan memiliki kemiripan fisik dengan Charles Darnay. Darnay akhirnya diputuskan tidak bersalah oleh pengadilan. Beberapa tahun kemudian Darnay menikahi Lucie, dan ketiga orang keturunan Prancis itu, Darnay, Lucie, dan sang dokter, hidup di Inggris dengan cukup bahagia.
Namun suatu hal yang belum diketahui Lucie, bahwa nama asli suaminya bukan Charles Darnay. Darnay sebenarnya adalah salah satu keturunan bangsawan Prancis, keponakan dari Marquis Evrémonde. Ketika Gabelle, pengurus kediaman Evrémonde dipenjarakan, ia menulis surat kepada tuannya, Darnay, minta diselamatkan. Maka Darnay, dengan mengabaikan bahaya yang mengancam dirinya sendiri, pergi ke Prancis. Disana ia ditangkap karena jati dirinya yang seorang bangsawan. Darnay sempat dibebaskan, karena Dr. Manette dan Lucie pergi ke Prancis, dan Dr. Manette memanfaatkan pengaruh yang dimilikinya sehingga menantunya itu bisa bebas. Namun malam harinya Darnay ditangkap lagi, dengan tuduhan yang berasal dari Defarge dan istrinya, serta Dr. Manette! Dalam persidangan, Defarge membacakan sebuah surat yang ditulis Dr. Manette, yang mengungkapkan alasan mengapa ia dijebloskan ke Bastille. Suatu peristiwa buruk yang terjadi di masa lalu mengaitkan Dr. Manette dengan keluarga bangsawan Evrémonde, dimana sekarang seorang keturunan Evrémonde menjadi menantunya. Sementara itu, Darnay akan dieksekusi oleh La Guillotine, si wanita tajam, dalam waktu dua puluh empat jam. Dr. Manette, Lucie, Mr. Lorry, dan Sydney Carton berada di tengah-tengah situasi tak menentu itu. Bagaimanakah badai kehidupan ini akan berakhir?
”Saat itu adalah waktu terbaik, sekaligus waktu terburuk.
Masa kebijaksanaan, sekaligus masa kebodohan.
Zaman iman, sekaligus zaman keraguan.
Musim Terang, sekaligus musim Kegelapan.
Musim semi pengharapan, sekaligus musim dingin keputusasaan.
Kita memiliki semuanya di hadapan kita, sekaligus tidak memiliki semuanya.
Kita semua langsung pergi ke Surga, sekaligus langsung pergi ke jalan lainnya.
Pendeknya, zaman itu begitu persis dengan zaman sekarang.”
Kalimat di atas adalah kalimat pembuka yang terkenal dari Kisah Dua Kota. Novel ini terbagi menjadi 3 buku, Buku I: Kembali ke Kehidupan, Buku II: Benang Emas, dan Buku III: Badai Kehidupan. Kisah Dua Kota adalah terjemahan dari karya fenomenal Charles Dickens, A Tale of Two Cities. Novel klasik dengan plot yang kompleks ini ditulis Dickens dengan menggunakan kontradiksi, mempertentangkan situasi yang terjadi di dua negara pada masa itu, Inggris yang taat hukum dan Prancis yang feodal. Kontradiksi juga bisa ditemukan dalam karakter-karakter di dalam cerita, misalnya Darnay, si bangsawan yang emigran karena menolak feodalisme, berpenampilan necis dan rapi, merupakan ”lawan” dari karakter Sydney Carton, si pengacara slengean yang tidak memiliki fokus dalam hidupnya untuk mencapai apapun. Karakter Miss Pross, pelayan Lucie yang secara fisik tangguh namun sangat setia, bertolak belakang dengan Madame Defarge yang pendendam dan haus darah. Dalam banyak bagian juga Dickens menggunakan simbol-simbol yang kadang sulit dipahami, misalnya di awal cerita pada Buku I: Kembali ke Kehidupan, Mr. Lorry akan menjemput ”seseorang yang telah dikubur hidup-hidup selama delapan belas tahun”. Maksudnya adalah Mr. Lorry akan menjemput Dr. Manette, yang telah menjalani sekian tahun hukuman di Bastille sehingga kehilangan akal sehatnya. Ia sama saja seperti orang yang sudah mati. Kemudian Madame Defarge yang merajut tanpa henti. Ia sebenarnya sedang mendaftar nama-nama mereka yang akan dijatuhi hukuman mati. Kegiatan merajut ini juga menyimbolkan ”serigala berbulu domba”, rakyat kecil Prancis yang kelihatan tidak berbahaya, merajut dalam diam, namun di tangan mereka juga aristokrasi akan tumbang.
Terjemahan A Tale of Two Cities yang diterbitkan Elex Media Komputindo dengan judul ”Kisah Dua Kota” ini sama sekali tidak mengecewakan, baik dalam bentuk fisik maupun substansi buku. Terjemahan yang digarap oleh Peusy Sharmaya menurut saya sangat bagus, jenis kertas dan font yang digunakan sangat nyaman untuk dibaca. Meskipun rasanya lebih nyaman membaca “Mr.”, “Monsieur”, “Mademoiselle” ketimbang “Tuan” dan “Nona”. Dan semoga juga jilidan bukunya awet, mengingat bukunya cukup tebal. Saya tidak menyesal membeli buku ini walaupun harganya relatif mahal
Secara keseluruhan, Kisah Dua Kota layak diganjar 5 bintang. Faktor yang terbesar adalah penulisan Dickens yang brilian. Ia mampu membangun cerita dengan plot yang padat dan kompleks, kadang-kadang sengaja menyimpan beberapa elemen untuk akhir cerita, sehingga pembaca tidak akan berhenti penasaran seperti apakah nanti endingnya. Gaya penulisannya puitis namun dengan aura yang suram dan tragis, sangat khas Dickens. Namun, bagi pembaca yang tidak suka narasi yang panjang-panjang, kemungkinan akan sulit menikmati karya Dickens ini. Ada yang menyebutkan A Tale of Two Cities sebagai karya Dickens yang tidak memiliki karakter yang se-memorable Scrooge di A Christmas Carol, Miss Havisham di Great Expectations, atau Fagin di Oliver Twist. Saya secara pribadi tidak setuju, setelah membaca buku ini sampai akhir dan mengalami “gema” di akhir cerita yang disebabkan tokoh yang bernama Sydney Carton. Bagi saya, A Tale of Two Cities akan selalu menjadi salah satu karya sastra yang akan terus saya kenang.
Resensi Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) ini diposting dalam rangka merayakan HUT ke-200 Charles Dickens yang jatuh tepat pada hari ini, 7 Februari 2012.
Happy Birthday, Charles Dickens!
Senang rasanya bisa menikmati karyamu yang bunyinya masih terdengar bahkan setelah 200 tahun berlalu!
***
Detail buku:
“Kisah Dua Kota” (judul asli: “A Tale of Two Cities”), oleh Charles Dickens
576 halaman, diterbitkan Oktober 2010 oleh Elex Media Komputindo
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Treasure Island: Berebut Harta Karun!
“Fifteen men on the dead man’s chest—
…Yo-ho-ho, and a bottle of rum!
Drink and the devil had done for the rest—
…Yo-ho-ho, and a bottle of rum!”
Jauh sebelum ada wahana Disneyland (dan kemudian franchise film) Pirates of the Caribbean, novel berjudul Treasure Island karya pengarang Skotlandia, Robert Louis Stevenson, terbit pada bulan Maret 1883. Treasure Island sebenarnya sudah dimuat sebagai cerita bersambung dalam majalah anak-anak Young Folks pada tahun 1881-1882 namun baru dibukukan pada tahun 1883.
Cerita bermula di Penginapan Admiral Benbow yang terletak di tepi laut di barat daya Inggris. Jim Hawkins, putra pemilik Admiral Benbow yang berusia 17 tahun, menjadi penutur cerita utama dan membuka kisah dengan datangnya seorang bajak laut tua bernama Billy Bones yang menetap di Admiral Benbow untuk waktu yang cukup lama. Bones yang mengaku pernah menjadi salah seorang kru almarhum Kapten Flint, seorang bajak laut yang ditakuti, ternyata sedang bersembunyi di Admiral Benbow, terutama dari seorang berkaki satu yang terus ia sebut-sebut kepada Jim agar mewaspadai kedatangan orang tersebut.
Bones mengaku bahwa ia membawa peti bajak laut yang berisi harta dan selembar peta Pulau Harta Karun. Peti bajak laut itulah yang membuat Bones diincar oleh berbagai pihak, seorang pelaut yang dipanggil Black Dog dan seorang buta bernama Pew. Pertemuan dengan Pew mengakibatkan kematian bagi Bones yang sebelumnya memang sudah jatuh sakit. Dengan kematian Bones, Jim dan ibunya mengambil sejumlah uang yang menjadi hak mereka dan gulungan kertas minyak yang diyakini adalah peta Pulau Harta Karun dari peti Bones, dan di tengah-tengah ancaman bajak laut yang mengincar peti tersebut mereka melarikan diri ke tempat yang aman.
Jim selanjutnya membawa peta itu untuk dilihat oleh Dokter Livesey dan Hakim Trelawney, dan kemudian mereka membentuk kru untuk pergi ke pulau tersebut dengan kapal bernama Hispaniola. Beberapa orang yang menyertai perjalanan mereka antara lain Kapten Smollett sebagai kapten kapal, dan Long John Silver, seorang juru masak kapal berkaki satu. Jim baru menyadari kemudian bahwa Silver-lah orang berkaki satu yang ditakuti Billy Bones. Selanjutnya Silver membantu Hakim Trelawney merekrut pelaut-pelaut untuk menggenapkan jumlah kru kapal yang dibutuhkan.
Setelah mereka sampai di Pulau Harta Karun, Jim yang pada saat itu tertidur di dalam sebuah tong mencuri dengar pembicaraan antara Silver dan beberapa orang dari kru yang telah dipilihnya. Mereka ternyata menyusun rencana untuk melakukan pemberontakan, merampas harta karun itu dan membunuh orang-orang yang tidak sepihak dengan mereka, termasuk Jim sendiri. Mendengar itu, Jim melarikan diri dan secara tidak sengaja bertemu Ben Gunn, yang juga adalah seorang mantan kru Kapten Flint yang ditinggalkan di Pulau Harta Karun dan tidak bertemu seorang manusia pun selama 3 tahun. Selanjutnya, terjadi pertempuran yang memakan banyak korban antara pihak Hakim Trelawney melawan pihak John Silver memperebutkan harta karun yang terpendam di pulau itu.
###
Salah satu karya klasik yang dikenang sepanjang masa karya Robert Louis Stevenson (1850-1894, juga menulis Kidnapped dan Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde) ini diceritakan melalui 2 sudut pandang, yang pertama dari sudut pandang Jim Hawkins selaku tokoh utama, dan sudut pandang Dr. Livesey. Peralihan kedua sudut pandang sebenarnya cukup mulus karena ada keterangan di bawah judul bab, namun kadang-kadang saya masih suka bingung siapa sebenarnya yang sedang membawakan cerita. Banyaknya tokoh di dalam Treasure Island membuat karakterisasi masing-masing tokoh penting menjadi sekeping-sekeping saja, dan terutama sih saya kurang puas dengan karakter Jim Hawkins sendiri. Di awal sampai pertengahan buku, Jim terkesan seperti ”anak manis”, dan salah rasanya menempatkan dia ditengah-tengah bajak laut yang beringas. Baru kemudian ketika Jim melarikan diri baru mulai kelihatan ”bengalnya”.
Walau saya biasanya menyenangi cover buku-buku terbitan penerbit Atria, untuk cover edisi terjemahan Treasure Island versi Atria ini rasanya terlalu lembut dan kekanak-kanakan untuk sebuah cerita yang aslinya keras dan maskulin. Dan secara keseluruhan, walaupun ceritanya sangat berpotensi untuk menjadi menarik, menurut saya ketegangan tidak cukup berhasil dibangun oleh penulis. Entah apakah ini pengaruh dari terjemahannya atau memang aslinya seperti itu. Rasanya saya lebih memilih untuk menonton filmnya saja…
Detail buku:
“Treasure Island”, oleh Robert Louis Stevenson
345 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥
[Review] Pride and Prejudice
“Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi.”
Begitu kuatnya prasangka yang dapat berakar dalam hati seseorang, sehingga tumbuh kebencian. Angkuh dan menyebalkan, begitu kesan pertama yang didapatkan Elizabeth Bennet ketika bertemu Mr. Darcy.
Elizabeth sendiri adalah putri kedua dari pasangan Mr. dan Mrs. Bennet. Ia memiliki empat orang saudari yang berbeda-beda karakternya; Jane, yang tertua, adalah yang tercantik dan paling lembut dari semuanya; Mary, seorang penyendiri dan kutu buku; serta Catherine dan Lydia yang agak liar, terutama jika menyangkut prajurit-prajurit tampan.
Suatu saat, Netherfield, sebuah rumah tiga mil dari rumah mereka di Longbourn, kedatangan penyewa baru bernama Mr. Bingley. Mrs. Bennet yang sangat ingin anak-anak perempuannya segera menikah, terutama si sulung Jane, begitu bersemangat mendengar kedatangan Mr. Bingley. Kakak beradik Bennet pun bertemu Mr. Bingley di sebuah pesta yang diadakan di Netherfield dan disana mereka melihat bahwa Mr. Bingley membawa dua adik perempuannya, dan seorang temannya, yaitu Mr. Darcy.
Seperti yang diharapkan oleh Mrs. Bennet, Mr. Bingley tertarik kepada Jane. Dan Mr. Darcy lambat laun pun tertarik kepada Elizabeth, namun perasaan itu tidak dibalas oleh Elizabeth, karena ia, juga ibunya, terlanjur mencap buruk Mr. Darcy. Pada bagian akhir cerita, ketika suatu masalah pelik menimpa keluarga Bennet, akhirnya Elizabeth pun dapat melihat kebaikan yang tersembunyi dalam diri Mr. Darcy, dan juga mulai membuka hatinya terhadap pria itu.
###
Saya banyak menyenangi novel-novel klasik, dan meskipun bukan penikmat roman, saya sangat menikmati membaca Jane Eyre karangan Charlotte Bronte. Ketika memutuskan membaca Pride and Prejudice, karya paling terkenal dari novelis roman ternama Jane Austen, saya berharap banyak bahwa novel ini, setidaknya, akan sebagus Jane Eyre. Ternyata saya sangat kecewa setelah membacanya. Isi Pride and Prejudice sangat mencerminkan judulnya (yang bila diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia berarti Harga Diri dan Prasangka), diuraikan penulis menjadi 585 halaman dalam versi terjemahan Indonesianya. Ceritanya, walau tidak bisa dibilang beralur lamban, namun datar-datar saja, cenderung hambar, tanpa ada konflik yang berarti, dan sangat mudah ditebak. Kebanyakan hanya berkisah tentang kunjungan Mr. X ke tempat Y, pesta di Z, dan tokoh-tokoh yang mengagumi rumah yang mereka kunjungi, melontarkan pujian untuk entah taman atau perabotnya, dan tentu saja percakapan-percakapan panjang nan ngalor ngidul yang terjadi antar tokohnya. Konflik terbesar yang terjadi di bagian akhir buku pun entah kenapa tidak mampu mencapai klimaksnya, dan apa yang terjadi pada kedua tokoh utama setelah konflik berlalu hanya mampu membuat saya membatin, “Ealah, cuma begitu doang to???”
Hal yang menarik mengenai Pride and Prejudice bahwa di Indonesia ini ada tiga penerbit yang hampir secara bersamaan merilis versi terjemahannya. Yang pertama adalah penerbit Bukune, yang kedua Qanita (Mizan Group) yaitu versi yang saya baca ini, dan yang terakhir Gramedia Pustaka Utama, yang sedianya akan terbit pertengahan tahun 2011. Tertarik membandingkannya? Kalau saya sih, jujur, angkat tangan. Nyerah. ;-P
Detail buku:
“Pride and Prejudice”, oleh Jane Austen
585 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Qanita (Mizan Group)
My rating : ♥ ♥



























