Blog Archives

[Review] The Phantom of the Opera

# Please skip to the bottom of the post for Conclusion in English #

Bayangkan Gedung Opera Paris yang berdiri megah, dengan dua puluh lima lantai di atas permukaan tanah dan lima gudang bawah tanah. Bayangkan sosok misterius berjubah hitam yang “gentayangan” di dalam Gedung Opera, yang dikenal dengan sebutan “Hantu Opera”. Sekarang bayangkan sebuah cerita yang memuat sejarah, kisah cinta, musik, petualangan, dan sekaligus horor. Cerita yang menyajikan semua hal tadi ada dalam The Phantom of the Opera karya Gaston Leroux.

Dikemas dalam bentuk semi-reportase, sehingga feel ketika membacanya tidak seperti ketika sedang membaca sebuah novel biasa, kisah The Phantom of the Opera dibuka dengan pergantian dua manajer Gedung Opera. Monsieur Armand dan Moncharmin-lah yang kini memegang jabatan penting tersebut, dan kedua pendahulunya menasihati kedua manajer baru tersebut untuk memperhatikan permintaan-permintaan sang Hantu Opera, kalau tidak hal-hal yang buruk akan terjadi. Permintaan si hantu antara lain mengenai siapa yang memerankan karakter apa dalam pementasan opera, menyisihkan Balkon Nomor Lima baginya, dan tunjangan bulanan sebesar 20.000 franc. Sedikit saja kekeliruan dalam menyanggupi permintaan-permintaan si hantu, berarti musibah. Musibah bisa datang dalam bentuk kematian seorang staf opera dengan cara yang mengerikan, tragedi dalam pementasan di mana tiba-tiba sang biduanita mengeluarkan suara kwok-kwok-kwok seperti katak, atau jatuhnya kandelar besar yang menewaskan orang yang sialnya sedang berada di bawahnya.

Ada seorang penyanyi, gadis muda yang cantik bernama Christine Daae yang sangat diperhatikan oleh si hantu. Dengan cara-cara yang magis, si hantu memberikan pelajaran menyanyi kepada Christine, yang berbuah penampilan gemilangnya sebagai Marguerite dalam pementasan pada suatu malam. Pada malam itu juga, Vicomte Raoul de Chagny muda, yang telah mengenal Christine sejak kecil, menyaksikan bagaimana si gadis bernyanyi dengan luar biasa indahnya, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti Christine untuk memberinya ucapan selamat secara pribadi. Betapa kagetnya ia ketika berada di depan kamar ganti Christine, didengarnya Christine sedang berbicara kepada seorang pria… namun tidak ada seorangpun di dalam ruangan itu selain Christine sendiri. Di lain waktu, Raoul menyaksikan Christine menghilang ke dalam cermin besar di kamar gantinya. Peristiwa-peristiwa aneh ini membuatnya penasaran setengah mati, apalagi ketika ia mengetahui bahwa pemilik suara tanpa tubuh ini adalah sang Hantu Opera sendiri. Lebih lagi kemudian, ketika si hantu membujuk Christine supaya mencintainya, padahal Christine hanya mencintai Raoul, si hantu akhirnya menculik Christine tepat di tengah-tengah suatu pementasan. Raoul pun memutuskan untuk memburu sosok misterius yang dipanggil oleh Christine dengan sebutan “Malaikat Musik” ini.

Perburuan yang dilakukan Raoul terhadap Hantu Opera alias “Malaikat Musik” menemui titik terang ketika ia bertemu dengan Orang Persia, seorang pria yang konon mengetahui asal-usul Erik, sang Hantu Opera. Petualangan Raoul dan si orang Persia dimulai dengan menyusuri ruang-ruang bawah tanah Gedung Opera, sampai ke rumah di samping telaga milik Erik dan sempat terperangkap dalam Bilik Penyiksaan yang mengerikan. Pada bagian cerita yang ini ketegangan dibangun oleh pengarang dengan sangat intens. Berhasilkah Raoul menyelamatkan Christine, ataukah ia harus mati di dalam Bilik Penyiksaan bersama si Orang Persia? Lalu siapa sesungguhnya sang Hantu Opera?

***

Membaca karya ini menimbulkan sensasi yang agak berbeda daripada ketika membaca karya-karya klasik lain. Di satu sisi, cara pengarang menggambarkan musik dan cinta antara Raoul-Christine terasa begitu magis dan menyentuh, namun di sisi lain penggambaran sosok Erik begitu mengerikan dan brutal. Belum lagi fakta-fakta yang dijabarkan di sepanjang karya ini. Pada akhir cerita, saya merasa tercabik antara membenci dan merasa iba terhadap tokoh Erik, yang karena rupanya yang buruk, harus menutup diri terhadap dunia dan akhirnya menjadi jahat. Sebenarnya apa yang menjadi hasratnya hanya satu dan sama dengan setiap manusia normal yang ada di dunia: untuk dicintai.

Novel gothic ini menginspirasi komposer Andrew Lloyd Webber untuk menggubah sekumpulan lagu dalam pertunjukan teater musikal The Phantom of the Opera yang pertama kali dipentaskan di West End pada tahun 1986 dan kemudian di Broadway pada tahun 1988. Pertunjukan The Phantom of the Opera ini diklaim menjadi pertunjukan yang terlama dipentaskan di Broadway dan pementasannya yang ke 10.000 berlangsung pada 11 Februari 2012 lalu. Pada tahun 2004, sutradara Joel Schumacher merilis adaptasi film dari pertunjukan ini dengan bintang Gerard Butler sebagai Erik/the Phantom, Emmy Rossum sebagai Christine Daae, dan Patrick Wilson sebagai Raoul de Chagny. Membaca novelnya dan kemudian menonton versi filmnya memberikan kepuasan tersendiri karena yang dinikmati bukan hanya karya sastra, namun juga karya seni bercitarasa tinggi dalam bentuk musik dan sinematografi.

Conclusion in English:

Reading this piece gave an exclusively different sensation than when reading other classic literature pieces. The way the author expressed music and love between Christine and Raoul felt magical to the root, when the way Erik was expressed was so brutal and gruesome. At the end of the story, I felt torn between hating Erik for his ruthlessness and at the same time pity him, that because of his grotesque looks, he had to hide from the world, and in time became villainous. His desire was the same with every living human’s desire: to be loved. I would recommend everyone who is interested in The Phantom of the Opera to read the novel and then watch the musical (or the film adaptation of the musical). They would give a complete experience of a journey in literature, art, music, performance, and cinematography.

Detail buku:

“The Phantom of the Opera” (judul asli: “Le Fantôme de l’Opéra”), oleh Gaston Leroux
485 halaman, diterbitkan Februari 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Si Cantik dari Notre Dame

“Atau, bisa dikatakan, semua saling menghancurkan melalui perjalanan nasib yang tak dapat dijelaskan…”

Paris, Januari 1482. Perayaan hari Epifani yang diadakan bersamaan dengan Festival Kaum Dungu di alun-alun Paris berlangsung dengan meriah. Hampir semua penduduk Paris larut dalam euforia yang aneh, kecuali mungkin sang penyair dan filsuf Pierre Gringoire, yang pementasan dramanya terganggu dengan kedatangan Kardinal dan rombongannya. Kemudian ada seorang gadis gipsi cantik yang menari dengan lincah di jalan, seekor kambing berbaring di permadani di sudut di dekatnya. Gadis luar biasa ini bernama La Esmeralda. Rombongan orang yang menontonnya ternganga oleh kecantikan dan kelincahan kakinya yang anggun, termasuk sang wakil uskup dari Katedral Notre Dame, Dom Claude Frollo. Ia begitu asyik mengamati si gadis menari, sesuatu yang tak patut dilakukan oleh seseorang yang telah bersumpah untuk hidup selibat.

Di saat yang sama, ada Quasimodo, si bungkuk buruk rupa yang adalah pemukul lonceng gereja Notre Dame. Quasimodo dipungut oleh Claude Frollo ketika berusia empat tahun ketika ia ditinggalkan di depan gereja, begitu buruk rupa sehingga menjadi sasaran hujatan orang. Sang pendeta membesarkannya dengan susah payah dan Quasimodo tumbuh dengan hanya dua bentuk kasih sayang yang dikenalnya, yang pertama kepada tuannya Frollo, dan yang kedua untuk Katedral Notre Dame.

Kembali ke La Esmeralda, suatu malam ketika ia hendak pulang ke Mahkamah Keajaiban, ia merasa bahwa dirinya sedang dikuntit. Seorang pria misterius berpakaian hitam-hitam dan pembantunya yang berperawakan besar menghadang gadis itu. Saat itulah Kapten Phoebus de Chateaupers yang gagah dan tampan lewat dan menyelamatkan si gadis cantik. La Esmeralda jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya, namun lenyap segera sesudah sang kapten menyelamatkannya. Pada suatu malam di waktu yang lain, gadis yang dimabuk cinta itu bertemu dengan sang kapten, yang memandang si gadis dengan nafsu badaniah yang menggelegak. Pertemuan mereka berakhir dengan sebuah golok menancap di tubuh Phoebus. Pagi harinya La Esmeralda diseret ke penjara oleh sekawanan prajurit penjaga. Tiang gantungan telah menanti si gadis.

Quasimodo menyelamatkan si gadis cantik dari tiang gantungan dan membawanya ke Notre Dame sehingga ia terlindung oleh suaka yang diberikan gereja. Namun keselamatan La Esmeralda masih terancam. Di dalam dinding Notre Dame masih ada Claude Frollo yang dibakar kecemburuan yang amat sangat melihat kedekatan anak asuhnya yang buruk rupa dengan La Esmeralda. Sementara cinta si gadis justru tertuju pada kapten Phoebus yang sesungguhnya tidak mati, namun berangsur-angsur sembuh dari lukanya dan kembali kepada tunangannya, gadis bangsawan bernama Fleur-de-Lys. Sementara Parlemen telah memerintahkan supaya La Esmeralda kembali diseret ke tiang gantungan, teman-teman si gadis di Mahkamah Keajaiban, orang-orang gipsi, telah menyusun rencana untuk menculik si gadis dari tempat perlindungannya. Mereka datang menyerbu Notre Dame.

***

Karya yang indah sekaligus tragis dan mengerikan dengan segala kemegahannya. Inilah karya yang paling terkenal dari sastrawan besar Prancis, Victor Hugo (1802-1885). Karya yang berjudul asli Notre Dame de Paris (1831) ini dikenal seantero dunia dengan judul The Hunchback of Notre Dame, sementara terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi terbit dengan judul Si Cantik dari Notre Dame. Mengapa “The Hunchback” lantas diterjemahkan menjadi “si cantik”? Setelah selesai membaca buku ini saya baru paham, pusat cerita dalam kisah ini sebenarnya bukanlah Quasimodo si bungkuk, melainkan si gadis cantik, La Esmeralda, yang dicintai sekaligus dikutuk. Pernah menonton film versi Disney dari novel ini? Bersiaplah karena saat membaca buku ini anda akan sadar bahwa ceritanya jauh berbeda dengan versi Disney.

Novel ini membuktikan bahwa karya klasik tak melulu muram dan serius, karena Victor Hugo juga menyelipkan humor di dalam novel ini. Beberapa adegan yang lucu antara lain ketika Quasimodo yang tuli akibat bunyi lonceng gereja disidang oleh seorang hakim yang juga tuli, kemudian karakter Gringoire yang tidak bisa berhenti bicara, dan adegan ketika Jehan Frollo, adik Claude Frollo, datang menemui kakaknya untuk minta uang. Sang kakak menanyai adiknya mengenai studinya, dan sang adik menjawabnya dengan apa yang kita sebut hari ini sebagai “ngeles”. Berikut sebagian percakapan mereka.

“Bagaimana studimu mengenai perintah Gratian?”
“Aku kehilangan buku catatanku.”
“Dan bagaimana dengan humaniora Latin?”
“Seseorang mencuri kopi naskah Horatius.”
“Dan bagaimana dengan pelajaranmu mengenai Aristoteles?”
“Lho, apakah kakak tak tahu bahwa salah seorang frater di gereja berkata bahwa pendukung bidah selalu mencari perlindungan di bahwah kekusutan metafisika Aristoteles? Aku tak perlu mengetahui apa pun mengenai Aristoteles. Aku tak ingin metafisikanya menghancurkan agamaku.”

Terdengar sangat familier? Ternyata “ngeles” tidak hanya terjadi di zaman modern, lho!

Penerjemah juga menambahkan kelucuan dalam bagian ketika Phoebus memanggil La Esmeralda dengan “Semar” lantaran ia kesulitan menyebut nama si gadis.

Penulisan Hugo yang sangat indah, cerita yang dijalin antara ketiga tokoh utama dan banyak tokoh pendukung yang mempunyai peran masing-masing, terjemahan yang digarap dengan baik oleh Sunaryono Basuki K.S., membuat saya tidak ragu memberikan lima bintang untuk novel ini, sebagaimana saya juga memberi lima bintang untuk novel karya Hugo yang lain, Les Misérables.

Review buku ini dipost dalam rangka merayakan HUT ke-210 Victor Hugo (26 Februari 1802 – 26 Februari 2012)

Happy birthday, Victor Hugo!

Detail buku:
“Si Cantik dari Notre Dame” (judul asli: “Notre Dame de Paris”), oleh Victor Hugo
572 halaman, diterbitkan Juli 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] The Count of Monte Cristo: Balas Dendam Anggun sang Count


My emotions will flow with hatred,
And death you will meet,
Through this day of reckoning I have realized,
Revenge through success is sweet.

- “Sweet Revenge” by Matt Pike, © 2005

Sumber: dari sini

Balas dendam itu manis? Hmmmm, dalam cerita yang dituturkan Alexandre Dumas ini, balas dendam yang dilakukan sang tokoh utama tak selamanya manis, dan orang yang melakukan balas dendam tak selamanya jahat. Agak bingung dengan pernyataan saya? Mari simak alur ceritanya di bawah ini…

Muda, tampan, sukses, dan akan segera menikah dengan wanita pujaannya, begitulah keadaan Edmond Dantes si pelaut muda yang bekerja sebagai kelasi pertama di kapal Pharaon milik Monsieur Morrel. Kematian Kapten Leclere dalam perjalanan menuju Marseilles memberikan keuntungan bagi Dantes, dia dipromosikan menjadi kapten kapal Pharaon yg baru.

Kemujuran yang dialami Dantes rupaya membuat iri ketiga rekannya, yang pertama adalah Danglars si kepala keuangan Monsieur Morrel, kemudian Caderousse tetangga Dantes, kemudian Fernand, pemuda yang cinta mati kepada Mercedes, tunangan Dantes. Dengan memanfaatkan mandat terakhir Kapten Leclere kepada Dantes, yaitu mengantarkan sebuah paket ke Pulau Elba, mereka bertiga menjegal Dantes dengan menuduhnya seorang agen Bonapartis yang berbahaya. Sesaat sebelum pesta pertunangannya, Dantes ditangkap dan dibawa ke hadapan penuntut umum yang bernama Monsieur Villefort. Malang bagi Dantes, sang penuntut umum memanfaatkan tuduhan yang dialamatkan ke Dantes untuk kepentingannya sendiri, sehingga tak ayal lagi, Dantes dijebloskan ke dalam penjara.

Dalam sekejap, segala yang berharga dalam hidup Dantes pun lenyap. Ia dibawa ke suatu rutan yang berdiri di atas batu karang hitam terjal dan terpencil bernama Chateau d’If, meninggalkan seorang ayah yang renta dan miskin, serta seorang tunangan yang putus asa.

Hari-hari Dantes sebagai seorang narapidana dihabiskan dalam sel bawah tanah yang gelap. Keadaan itu membuatnya putus asa dan nyaris memutuskan untuk bunuh diri, sampai suatu hari terdengar suara aneh dari balik dinding selnya. Ternyata itu adalah Abbe Faria, seorang pastor yang dianggap gila, yang telah berusaha meloloskan diri dari penjara selama beberapa tahun. Dari Abbe Faria jugalah, Dantes mengetahui keberadaan Pulau Monte Cristo, yang konon menyimpan harta karun berlimpah. Abbe Faria meninggal sebelum mereka berdua bisa meloloskan diri dari Chateau d’If, dan ‘mewariskan’ harta karun di Pulau Monte Cristo kepada Dantes. Yang terjadi kemudian adalah Dantes akhirnya berhasil kabur dari Chateau d’If dan menemukan Pulau Monte Cristo.

Sepuluh tahun kemudian, Dantes yang kini dikenal sebagai Count of Monte Cristo yang terhormat, kaya raya dan berkuasa, mulai melancarkan aksi balas dendam kepada Caderousse, Danglars, Fernand, dan Villefort beserta keluarga mereka masing-masing. Lama-kelamaan, justru sepertinya pembalasan dendam itu bergerak sendiri menghabisi musuh-musuh Dantes, dan bukan lagi Count of Monte Cristo yang menjadi nahkoda dari aksi balas dendam itu. Apakah anda berpikir ceritanya berakhir sampai disitu?
Tidak, ceritanya justru baru dimulai!

###

The Count of Monte Cristo (1846) adalah karya Alexandre Dumas yang paling terkenal setelah The Three Musketeers (1844). Namun menurut saya, Monte Cristo lebih unggul karena kekayaan detail, dan kemampuan sang pengarang yang dengan ciamik menyulam benang merah rumit antara banyak tokoh dengan beragam konfliknya, dan tetap membuat cerita tidak membosankan dan tidak gampang ditebak. The Count of Monte Cristo juga adalah salah satu karya klasik yang telah berulang kali diadaptasi dalam bentuk film, salah satunya yang paling terkenal adalah versi tahun 2002 dengan bintang Jim Caviezel (pemeran Yesus dalam film The Passion of the Christ) sebagai Edmond Dantes/Count of Monte Cristo.

Sedangkan kekurangannya, di beberapa bagian terjemahannya terasa kurang nyaman dibaca. Misalnya, ada kata-kata ‘dua belas ratus’. Saya menebak bahwa kata-kata ini diterjemahkan dari ‘twelve hundred‘, yang setahu saya berarti seribu dua ratus. Penggunaan ‘dua belas ratus’ sungguh mengganggu saya. Namun perlu dipahami juga bahwa menerjemahkan sebuah karya klasik bukanlah pekerjaan mudah, apalagi jika bertemu dengan kalimat sulit seperti dibawah ini:


Robespierre mewakili suatu persamaan yang ‘merosot’: dia membawa raja-raja ke guilotin, sementara Napoleon mewakili suatu persamaan yang ‘ditingkatkan’: dia mengangkat orang-orang setaraf singgasana.

Saya butuh lebih dari dua kali membaca kalimat diatas sebelum mampu memahaminya.

Karena sama-sama bersetting pada abad 19 di Prancis, mau tak mau saya membandingkan Monte Cristo dengan Les Miserables karya Victor Hugo yang masih menjadi buku favorit saya, dan saya harus mengakui bahwa pengaruh yang ditimbulkan sang tokoh utama Dantes/Count of Monte Cristo tidaklah sebesar pengaruh Jean Valjean dalam Les Miserables terhadap saya. Jadi, 4 bintang saya berikan untuk buku ini.  Walaupun demikian, buku ini tetap menyimpan bejibun kutipan bijak yang sayang untuk dilewatkan:


Bagi orang yang bahagia, doa hanya suatu rentetan kata-kata, sampai hari ketika derita datang untuk menjelaskan kepadanya bahasa luhur yang dengan cara itu dia berbicara kepada Tuhan.

Hidupmu, anak muda, terlalu pendek untuk dimasukkan ke dalam apa saja yang amat penting.

Kebencian itu buta, kemarahan itu gegabah, dan dia yang menuangkan pembalasan dendam punya risiko harus minum bir pahit.

Dengarkan aku. Inilah apa yang telah dilakukan Tuhan, yang tidak mau kauakui pada saat-saat terakhirmu di dunia, terhadapmu. Dia memberimu kesehatan, kekuatan, kerja yang menghasilkan dan teman-teman; singkat kata, segala sesuatu yang dibutuhkan seorang manusia dengan hati nurani bersih dan memuaskan keinginan alaminya. Tetapi, alih-alih menikmati karunia Tuhan itu, kau membiarkan dirimu dikuasai kemalasan dan kemabukan, dan dalam mabukmu kau mengkhianati salah seorang sahabat karibmu.

Aku tahu apa yang bisa dilakukan oleh kekuatan kemauan. Ada orang-orang yang telah menderita dan tidak hanya melanjutkan hidup, tetapi bahkan membangun suatu kekayaan baru di atas reruntuhan kebahagiaan mereka yang sebelumnya. Dari kedalaman tempat musuh yang telah melemparkannya, dia justru bangkit lagi dengan kekuatan dan kemuliaan sedemikian rupa sehingga mengalahkan mereka yang dahulu menaklukkannya dan pada gilirannya menyingkirkan mereka.

Jika Tuhan yang memukul mereka sampai jatuh, itu karena Dia tidak dapat menemukan sesuatu pada masa lalu mereka yang berguna untuk mengurangi hukuman mereka.

Semua kebijaksanaan manusia termuat dalam dua kata ini: tunggulah dan berharaplah.

Detail buku:
“The Count of Monte Cristo”, oleh Alexandre Dumas
568 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Bentang Pustaka (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Les Misérables

Les MisérablesLes Misérables by Victor Hugo

My rating: 5 of 5 stars

Les Misérables (1862) adalah salah satu dari dua karya paling terkenal dari Victor Hugo (1802-1885). Karya satunya adalah The Hunchback of Notre-Dame yang diselesaikannya pada 1831.

Tokoh utama Les Misérables adalah Jean Valjean, seorang mantan narapidana yang telah mengalami 19 tahun hukuman yang berawal dari pencurian sepotong roti. Hidup keras di kapal kerja paksa telah mengubahnya menjadi orang yang jiwanya dipenuhi kegelapan dan kebencian.

Ia mengecap kebebasannya pada Oktober 1815 dan di kota D___ (bukan disensor, memang penulisannya begitu) ia bertemu dengan Uskup Bienvenu-Myriel, seorang pelayan Tuhan yang benar, dan sang Uskup menyibak kegelapan dari jiwa Jean Valjean dan melepaskan cahaya yang masih dipunyai sang narapidana sebagai manusia.

Tiga tahun kemudian Jean Valjean tiba di kota M___sur m___ dan menempuh kehidupan sebagai manusia yang diperbarui, ia menggerakan roda industri kota M___sur m___ sebagai seorang bijak dan lembut hati. Akhirnya ia diangkat menjadi walikota atas kota itu. Masa lalunya terkubur dalam-dalam dan saat itu ia dikenal sebagai Bapa Madeleine. Namun di kota itu ada seorang inspektur polisi bernama Javert, yang merasa mengenali Bapa Madeleine sebagai salah satu narapidana yang ia pernah lihat di kapal kerja paksa.

Sang Monsieur Walikota terbebas dari kecurigaan Javert ketika seorang bapak tua bernama Champmathieu dituduh sebagai Jean Valjean. Champmathieu terancam hukuman seumur hidup di kapal kerja paksa, sementara Jean Valjean yang asli mengalami pergolakan batin antara menyerahkan diri atau membiarkan orang tua yang tak bersalah itu mengambil tempatnya sebagai orang terhukum. Monsieur Walikota yang dihormati banyak orang itu akhirnya mengakui jati dirinya dan ia kembali ke kapal kerja paksa, namun tidak untuk waktu yang lama.

Tahun 1823 Jean Valjean diberitakan jatuh ke laut dan mayatnya tidak ditemukan. Namun yang sesungguhnya terjadi adalah, Jean Valjean hidup, dan ia menjemput anak dari Fantine, seorang perempuan miskin yang meminta pertolongannya ketika ia masih menjadi walikota di M___sur m___. Gadis cilik ini bernama Cosette dan ia diperlakukan seperti budak oleh keluarga dimana ibunya telah menitipkannya.

Dari sini cerita bergulir kepada pelarian Jean Valjean dan Cosette, sampai Cosette beranjak dewasa sepuluh tahun kemudian, diselingi dengan kisah keluarga Thénardier yaitu keluarga yang dititipi Cosette, sampai kepada peristiwa 5 Juni 1832 saat pecahnya huru-hara revolusi yang digaungkan kaum Republikan.

cosetteIlustrasi Cosette

Les Misérables adalah suatu cerita yang kompleks dengan banyak tokoh, namun Victor Hugo dengan amat brilian menjalin satu demi satu benang merah yang menghubungkan tokoh-tokoh tersebut. Les Misérables memberitahu kita tentang perihnya menjadi orang terbuang, kemelaratan sejati, jiwa manusia yang gundah memilih antara kebaikan atau kejahatan, sistem hukum dan keadilan yang berlaku pada masyarakat Prancis pada masa itu, belum lagi sejarah, politik, sistem sosial, dan arsitektur Prancis yang diuraikan panjang-lebar oleh sang penulis. Hugo juga tak lupa untuk memasukkan unsur spiritual dan cinta dalam karya ini, baik cinta antara pria dan wanita dan cinta kekeluargaan, serta pengampunan dan belas kasihan.

Dari awal hingga akhir, pembaca akan dibawa dalam gejolak emosi yang naik-turun: kesedihan, keputusasaan, kegundahan, kebahagiaan, dan sampai pada suatu perasaan yang begitu ilahi yang sulit untuk dijelaskan.

Betapa Jean Valjean sesungguhnya berhati malaikat. Jika ia adalah seorang mantan narapidana yang sudah dibebaskan, lalu atas dasar apa inspektur Javert memburunya untuk ditangkap kembali? Bukankah ia tak berbuat kejahatan lagi? Rasanya sentimen inilah yang melekat pada tatanan sosial di Prancis abad ke-19, bahwa sekali seseorang terjatuh dalam lembah kejahatan, maka selamanya ia tidak akan terlepas dari cap “orang berbahaya”, tanpa diberi kesempatan untuk bertobat, tanpa diberi kesempatan untuk memulai lagi hidupnya, tidak diterima dimanapun.

Terjemahan Indonesia yang diterbitkan Bentang Pustaka digarap dengan sangat apik oleh Anton Kurnia, terlepas dari banyaknya typo dan panggilan tokoh yang berbeda-beda; misalnya ada kalanya sang tokoh utama disebutkan sebagai Bapa Madeleine, Bapak Madeleine, Monsinyur Madeleine, Monsieur Walikota, dan sebagainya. Hal ini sedikit mengganggu kenikmatan membaca.

Ada banyak kalimat yang layak digarisbawahi dalam buku ini; kalimat-kalimat yang indah menyejukkan hati, yang mencerahkan, sampai yang menohok batin.

Dari Fantine, perempuan miskin yang memiliki anak hasil hubungan gelap, kita dapat belajar bagaimana rasanya terpuruk dalam kemiskinan.

Fantine yang aslinya seorang perempuan yang cantik, dengan rambut panjang tergerai dan gigi indah, memotong rambutnya panjangnya dan menjualnya, bahkan ia menjual dua gigi serinya kepada tukang gigi. Fantine yang telah menjelma menjadi perempuan gundul buruk rupa berkata, “Ayolah! Aku akan menjual apa yang masih tersisa padaku.”

Hugo juga lihai membuat baris-baris puisi cinta, seperti sepenggal puisi Marius kepada Cosette dibawah ini:

“Tatkala semesta menciut menjadi sesosok makhluk, tatkala sesosok makhluk meluas bahkan sampai menjangkau Tuhan, maka itulah cinta.
Kau yang merana karena cintamu, tetaplah mencinta. Mati dalam cinta berarti hidup bersama cinta.”

Pada akhirnya, Les Misérables memang bercerita tentang para jembel (terjemahan di halaman 291, les misérables berarti para jembel); orang-orang merana (dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi The Miserable Ones, The Wretched, The Poor Ones, The Wretched Poor, atau The Victims). Les Misérables yang ditulis Hugo semasa menjalani pengasingan di Pulau Guernsey, adalah mahakarya yang menggambarkan dan mengutuk ketidakadilan sosial di Prancis abad ke-19. Tulisan-tulisannya menjadi karya-karya sastra paling berpengaruh di Prancis dan seluruh dunia sampai sekarang. Les Misérables juga dikenal melalui banyaknya adaptasi teatrikal, drama musikal, dan film yang diangkat dari karya tersebut.

Cita-cita yang terpendam dalam hati Victor Hugo tersurat pada halaman 442 dan 483;

“Di masa depan tidak boleh ada lagi manusia yang membantai sesamanya, bumi akan menjadi terang, umat manusia akan saling mencinta. Akan tiba suatu hari ketika semuanya terasa damai, harmonis, terang benderang, menggembirakan, dan begitu hidup.”

“Mereka tak perlu lagi takut pada kelaparan, nasib yang tak menentu, pelacuran karena kemelaratan, penderitaan karena tiadanya kesempatan kerja, dan pada tiang gantungan, pada pedang, pada pertempuran, juga pada segala perampasan peluang dalam belantara kejadian. Kita hampir bisa mengatakan: tak akan ada lagi peristiwa-peristiwa seperti itu. Semua orang akan bahagia.”

View all my reviews

Softcover, 604 pages
Published 2008 by Bentang Pustaka (first published 1862)
Price IDR 84.000

[Review] Trio Musketri

Trio MusketriTrio Musketri by Alexandre Dumas
My rating: 3 of 5 stars

Judul kisah ini boleh “Les Trois Mousquetaires” atau bahasa Inggrisnya “The Three Musketeers”, namun tokoh utamanya adalah D’Artagnan, pemuda kampung dari Gascon yang gampang naik darah dan gampang mengangkat pedangnya untuk berduel.

Kisah dimulai saat D’Artagnan muda, yang baru berusia 18 tahun, pergi dari kampung halamannya di Gascon ke Paris untuk menjadi seorang musketri atau anggota pasukan pembela Raja Prancis. Ketika ia berada di kota niaga Meung, ia berkelahi dengan seorang pria misterius yang membuatnya kehilangan surat pengantar yang ditujukan kepada Kapten Musketri, Monsieur de Tréville. Karena egonya yang tinggi jugalah, dalam perjalanan menuju rumah de Tréville, ia terlibat adu mulut dan akhirnya menantang duel tiga orang musketri dalam satu hari dengan jam yang berurutan. Betapa kagetnya ia ketika menemukan bahwa Athos, Porthos, dan Aramis, musketri-musketri tersebut, adalah sahabat baik yang tak terpisahkan. Rencana duel mereka diinterupsi oleh pengawal Kardinal yang memergoki mereka hendak berduel, dan akhirnya mereka berempat pun bersatu melawan pengawal Kardinal tersebut dan melalui kejadian itu D’Artagnan resmi menjadi salah satu sahabat Athos, Porthos, dan Aramis.

Petualangan yang mereka jalani selanjutnya sungguh menarik dan penuh intrik; perselingkuhan Ratu dengan Duke of Buckingham, Sang Kardinal yang penuh tipu muslihat, perang dengan La Rochelle, kekasih-kekasih Porthos dan Aramis, masa lalu kelam dan misterius Athos, kisah cinta D’Artagnan dengan Madame Bonacieux, pelayan kepercayaan Ratu, hubungan aneh Kardinal dan Raja, dan penjahat paling jahat dalam kisah ini, yaitu seorang wanita yang dikenal sebagai Milady atau Lady de Winter.

Kisah terjalin dengan apik walau kadang terasa agak lambat, mungkin karena awalnya kisah ini adalah cerita bersambung. Akhir riwayat Milady dituturkan oleh penulis dengan greget yang pas, sedangkan bagi Athos, Porthos, Aramis, dan D’Artagnan, ada ending bagi mereka masing-masing sehingga saya agak bingung menentukan kisah ini termasuk happy ending atau bukan.

Buku ini saya beri tiga bintang, karena saya merasa emosi masing-masing karakter tidak tergali dengan baik, dan sungguh sayang dalam 537 halaman buku ini, Porthos dan Aramis hanya punya sedikit bagian sehingga tampak seperti peran pembantu saja. Padahal Porthos dan Aramis masing-masing adalah karakter yang unik dan menarik jika dieksplor lebih jauh.

Jika kalian pernah menonton filmnya, yang dibintangi Chris O’Donnell sebagai D’Artagnan dan membandingkannya dengan bukunya, maka kalian akan menemukan betapa banyak perbedaannya antara buku dan versi filmnya. Namun bagi saya itu tak menjadi masalah besar, karena baik kisah di buku maupun di film punya daya tariknya sendiri dan tinggallah kita, pembaca/penonton untuk menentukan, yang manakah favorit kita.

View all my reviews

Softcover, 537 pages
Published January 2010 by PT Serambi Ilmu Semesta (first published 1844)
Price IDR 49.000

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers