Blog Archives

[Review] Pope Joan, Sang Paus Perempuan

Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?

Quis — siapa?

Namanya Joan. Dilahirkan tahun 814 Masehi di Ingelheim (sekarang di wilayah Jerman). Putri satu-satunya seorang kanon (semacam pendeta atau imam) dari Inggris dan istrinya yang orang Saxon. Punya dua kakak laki-laki, Matthew dan John. Dari kecil sudah menampakkan kecerdasan dan keingintahuan yang luar biasa. Joan menderita siksaan fisik dari ayahnya gara-gara hal itu, tapi toh ia tidak mau berhenti belajar.

Quid — apa?

Perjuangan Joan, yang dengan karunia kecerdasan yang dimilikinya, menolak kenyataan yang terjadi pada masa itu bahwa perempuan tidak diperbolehkan untuk membaca dan menulis, apalagi belajar dan menguasai berbagai ilmu sebagaimana kaum laki-laki. Ditengah-tengah busuknya politik Kepausan Katolik Roma, ancaman Kaisar Lothar dari kerajaan Frank, ancaman wabah yang merajalela, dan juga serangan bangsa Viking, Joan menapaki langkah demi langkah menuju tahta tertinggi dalam Katolik Roma – Paus.

Quomondo – bagaimana?

Di satu titik Joan membuat suatu keputusan besar yang mengubah seluruh hidupnya – ia menyamar sebagai seorang laki-laki, sehingga ia bisa mempelajari banyak hal – sesuatu yang mustahil dilakukan seorang perempuan pada abad kesembilan. Keteguhannya untuk terus menjalani hidup sebagai laki-laki hampir tergoyahkan ketika ia jatuh cinta pada Gerold, seorang count yang menjadi ayah angkatnya di Dorstadt. Namun toh Joan tetap teguh melakukan apa yang menjadi hasratnya sampai nafasnya yang terakhir.

Ubi – Di mana?

Mengawali dengan bersekolah di Dorstadt oleh rujukan dari guru pertamanya, Aesculapius, seorang Yunani. Setelah lolos dari serangan brutal bangsa Viking di Dorstadt, Joan melarikan diri ke pertapaan di Fulda di mana ia menyamar sebagai laki-laki untuk pertama kalinya. Kemudian, setelah menghabiskan bertahun-tahun di Fulda, sebuah wabah demam nyaris membongkar penyamarannya sehingga ia kabur, dan akhirnya pergi ke Roma, menjadi tabib pribadi Paus Sergius, dan pada waktunya—ia sendiri yang diangkat menjadi Paus.

Quando – kapan?

Keseluruhan kisah berlangsung pada tahun 814 hingga 855 Masehi, yang termasuk dalam era Abad Kegelapan. Joan memerintah sebagai Paus pada tahun 853 hingga 855. Setelah Joan meninggal, Katolik Roma dibawah tulisan Anastasius menghapuskannya dari Liber pontificalis, yaitu kronik resmi seluruh Paus yang pernah ada. Empat puluh tahun setelah kematiannya, Uskup Agung Arnaldo menyalin Liber pontificalis dan menambahkan bab mengenai Joan ke dalamnya, sehingga kebenaran tidak sepenuhnya hilang.

Cur – mengapa?

Mengapa Joan sampai memilih meninggalkan identitas keperempuanannya? Karena ia punya impian, dan hasratnya terhadap impian tersebut demikian besarnya sehingga pengorbanan demi pengorbanan yang ia lakukan dirasanya setimpal. Mengapa lalu ia bisa sampai di tahta tertinggi Katolik Roma? Karena Joan mampu. Karena perempuan mampu, karena perempuan bukanlah makhluk yang bodoh dan lemah. Karena perempuan sejajar dengan laki-laki.

***

Pope Joan adalah sebuah novel yang lengkap. Sejarah, politik, perjuangan perempuan, agama, perang, cinta, pengorbanan, kemunafikan, kebrutalan manusia; semua terkandung di dalamnya. Sang pengarang, Donna Woolfolk Cross, menghimpun kisah ini dengan apik, tokoh-tokohnya terasa nyata dan emosinya dapet. Apalagi dengan alur cepat yang tidak membuat bosan. Walau di beberapa bagian emang sadis sih, terutama pas serangan bangsa Viking itu. Pope Joan versi film (2009) kurang mengesankan walaupun dari segi cast secara fisik sudah pas, setting juga bagus, tapi emosinya kurang terasa.

Salut untuk pengarang yang menyelesaikan penulisan Pope Joan setelah melakukan riset selama tujuh tahun. Salut juga untuk F.X. Dono Sunardi sang penerjemah, karena menerjemahkan karya ini sudah pasti bukan pekerjaan gampang. Puasss banget melahap lebih dari 700 halaman novel ini, karena wawasan bertambah banyak, terutama tentang sejarah, seluk-beluk kepausan di Katolik Roma, dan beberapa kalimat dalam bahasa Latin… Juga bagian Catatan dari Pengarang sungguh-sungguh membantu dalam memahami kisah.

Saran saya bagi penerbit yang hendak menerbitkan novel serupa: akan lebih nyaman kalau ada glossary di bagian belakang buku, terutama sih tentang berbagai istilah dan jabatan keagamaan yang tidak familiar bagi saya sehingga membuat saya jadi cukup bingung. Kalau sebatas catatan kaki, kan, kalau ketemu lagi dengan kata “X’, saya sudah lupa catatan kakinya ada di halaman berapa, hehehe.

Jadi, apakah Paus Joan pernah ada? Setelah membaca buku ini rasanya saya percaya kalau beliau benar-benar pernah ada. Bagaimanapun, kisahnya menginspirasi para perempuan (dan juga laki-laki) untuk tidak menyerah dan berani berkorban dalam berusaha mencapai impian.
Go for it, no matter what it takes! Empat bintang bagi kisah perempuan hebat yang nyaris terlupakan ini.

Beberapa kutipan favorit:

“Jika ingin dapat bertahan di dunia ini, kau harus bersikap lebih sabar dengan mereka yang ada di atasmu.” – hal. 179

“Sungguh aneh apa yang terjadi pada hati manusia. Orang dapat saja terus hidup selama bertahun-tahun, terbiasa kehilangan, serta berdamai dengannya, tetapi kemudian, dalam sekejap saja, rasa sakit itu muncul kembali bersama rasa pedih dan perih seperti luka yang masih baru.” – hal. 495

“Kita akan tetap berdoa seakan-akan semuanya bergantung kepada Tuhan dan terus bekerja seolah-olah segalanya tergantung pada diri kita sendiri.” – hal. 573

“Terangnya harapan yang dipantikkan oleh para perempuan tersebut hanya serupa kelap-kelip cahaya kecil di samudra kegelapan, tetapi nyalanya tidak pernah sepenuhnya padam. Kesempatan selalu ada dan tersedia bagi kaum perempuan yang cukup kuat untuk bermimpi. Pope Joan adalah kisah dari salah satu pemimpi itu.” – hal. 732.

Catatan:Quis, quid, quomondo, ubi, quando, cur?” tidak lain adalah 5W+1H (Who, what, when, where, why, how) yang konsep awalnya dirumuskan oleh filsuf Romawi Marcus Tullius Cicero (106-43 SM).

Links:

Pope Joan on Wikipedia
Pope Joan the Novel Official Site
Resensi Pope Joan di Kompasiana oleh Kornelius Ginting

Detail buku:
“Pope Joan”, oleh Donna Woolfolk Cross
736 halaman, diterbitkan Januari 2007 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] The Bridge of San Luis Rey

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman TUHAN.

Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9)

Siapakah dari umat manusia yang mengetahui rencana Tuhan, dan memahami rancangan-rancangan-Nya? Ketika sesuatu yang buruk terjadi, bukankah kita bertanya, “Mengapa?” “Mengapa hal ini terjadi?” “Mengapa hal itu menimpa kami?”, atau “Mengapa hal ini menimpa mereka?”

Pertanyaan yang sama terpatri di benak Brother Juniper, seorang biarawan Fransiskan, setelah peristiwa putusnya jembatan gantung San Luis Rey di Peru yang terkenal. Adapun jembatan gantung yang menghubungkan kota Lima dan Cuzco tersebut ditenun oleh peradaban suku Inca dari abad yang telah berlalu, dan masih dilewati ratusan orang setiap harinya, sampai hari nahas itu tiba.

Pada siang hari, tanggal 20 Juli 1714, jembatan gantung San Luis Rey putus dan melemparkan lima orang ke dalam jurang di bawahnya. Peristiwa ini menggugah masyarakat Lima begitu rupa dan mengusik hati Brother Juniper, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk mengadakan suatu “penelitian”, untuk menyelidiki kehidupan kelima orang korban. Ia berusaha menemukan jawaban mengapa Tuhan memilih kelima orang tersebut, untuk menunjukkan demostrasi kebijaksanaan-Nya, pada hari itu.

“Why did this happen to those five? If there were any plan in the universe at all, if there were pattern in a human life, surely it could be discovered mysteriously latent in those lives so suddenly cut off. Either we live by accident and die by accident, or we live by plan and die by plan.”

Selama enam tahun Brother Juniper mengetuk semua pintu di Lima, mengajukan ribuan pertanyaan, dan mencatat di buku catatannya semua fakta, kecil dan besar, penting maupun kurang penting, terkait kelima orang korban San Luis Rey, untuk membuktikan bahwa kelima nyawa yang hilang tersebut sesungguhnya adalah satu kesatuan yang utuh. Penelitian ini membawanya menguak lembar demi lembar kehidupan Dona Maria, La Marquesa de Montemayor, seorang wanita bangsawan yang tidak dicintai oleh putrinya semata wayang; Pepita, gadis muda cerdas pelayan sang Marquesa; Camila Perichole, seorang aktris luar biasa cantik yang dikagumi oleh seantero Peru; Paman Pio, lelaki paruh baya yang merupakan pelatih sekaligus “ayah” La Perichole; dan pemuda kembar yatim piatu Manuel dan Esteban, yang memiliki kisah hidup muram mereka sendiri.

Setiap dari mereka mencintai dan berjuang untuk hidup dengan cara masing-masing; hampir setiap detail dari kehidupan mereka dikumpulkan oleh Brother Juniper dengan harapan samar bahwa entah bagaimana detail-detail tersebut akan memunculkan diri begitu rupa dan membuka tabir rahasia lima nyawa yang direnggut. Apakah Brother Juniper akan menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini menghantui dirinya, dan mungkin juga hampir setiap orang di muka bumi ini?

***

Poster film The Bridge of San Luis Rey (2004)

Kekuatan utama novel pendek ini adalah gaya penulisan Thornton Wilder yang indah. Sebenarnya saya terlebih dahulu mengetahui versi film dari novel ini, secara tidak sengaja menemukan VCDnya beberapa tahun yang lalu. Versi film tahun 2004 dibintangi antara lain Gabriel Byrne sebagai Brother Juniper, Kathy Bates sebagai Marquesa de Montemayor, Harvey Keitel sebagai Uncle Pio, dan Robert De Niro sebagai Archbishop of Peru; dan menurut saya merupakan adaptasi yang cukup bagus. Jika dulu, saat pertama selesai menonton filmnya, saya akan duduk diam termenung beberapa saat, sekarang lebih lagi saat saya menyelesaikan bukunya. Alih-alih memberikan jawaban, buku ini mengajak pembaca untuk merenung. Kesimpulan yang saya ambil dalam hati mengenai buku ini adalah: kita mungkin tidak mengetahui rahasia Tuhan, mengapa Ia berbuat begini dan begitu. Namun satu hal yang mutlak adalah; ia menganugerahi masing-masing kita dengan cinta. Inilah hal yang terpenting, di atas segalanya.

“But soon we shall die and all memory of those five will have left the earth, and we ourselves shall be loved for a while and forgotten. But the love will have been enough; all those impulses of love return to the love that made them. Even memory is not necessary for love.

There is a land of the living and a land of the dead and the bridge is love, the only survival, the only meaning.

Tentang Pengarang

Thornton Wilder, novelis dan penulis naskah sandiwara berkebangsaan Amerika, lahir pada tanggal 17 April 1897 di Madison, Wisconsin, Amerika Serikat. Beliau menghabiskan sebagian masa kecil di wilayah Amerika Selatan karena pekerjaan ayahnya. Sebagai seorang yang punya intelektualitas tinggi, beliau mengenyam pendidikan di Yale University dan meraih gelar master dalam bahasa Prancis di Princeton. Beliau juga tergabung dalam komunitas sastra Alpha Delta Phi Fraternity. Setelah lulus beliau melanjutkan studi di Roma, Italia, dan mengajar bahasa Prancis di New Jersey, dan kemudian di University of Chicago. Novel pertamanya, The Cabala, dirilis pada tahun 1926. Menyusul di tahun 1927, novel keduanya, The Bridge of San Luis Rey, sukses di pasaran dan membuatnya memenangkan hadiah Pulitzer Prize pertamanya. Beliau memenangkan hadiah Pulitzer dua kali lagi untuk kategori Drama untuk naskah sandiwara Our Town (1938) dan The Skin of Our Teeth (1942).  Novel The Eighth Day (1967) juga dianugerahi penghargaan National Book Award for Fiction. Di tahun 1998, American Modern Library memilih The Bridge of San Luis Rey sebagai salah satu dari 100 novel terbaik di abad 20. Novel ini juga dikutip oleh PM Inggris Tony Blair dalam pidato dalam memorial service korban tragedi 11 September 2001. Thornton Wilder meninggal dunia tanggal 7 Desember 1975 pada usia 78 tahun.

Detail buku:
“The Bridge of San Luis Rey”, oleh Thornton Wilder
148 halaman, diterbitkan tahun 1986 oleh Harper Perennial
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Si Cantik dari Notre Dame

“Atau, bisa dikatakan, semua saling menghancurkan melalui perjalanan nasib yang tak dapat dijelaskan…”

Paris, Januari 1482. Perayaan hari Epifani yang diadakan bersamaan dengan Festival Kaum Dungu di alun-alun Paris berlangsung dengan meriah. Hampir semua penduduk Paris larut dalam euforia yang aneh, kecuali mungkin sang penyair dan filsuf Pierre Gringoire, yang pementasan dramanya terganggu dengan kedatangan Kardinal dan rombongannya. Kemudian ada seorang gadis gipsi cantik yang menari dengan lincah di jalan, seekor kambing berbaring di permadani di sudut di dekatnya. Gadis luar biasa ini bernama La Esmeralda. Rombongan orang yang menontonnya ternganga oleh kecantikan dan kelincahan kakinya yang anggun, termasuk sang wakil uskup dari Katedral Notre Dame, Dom Claude Frollo. Ia begitu asyik mengamati si gadis menari, sesuatu yang tak patut dilakukan oleh seseorang yang telah bersumpah untuk hidup selibat.

Di saat yang sama, ada Quasimodo, si bungkuk buruk rupa yang adalah pemukul lonceng gereja Notre Dame. Quasimodo dipungut oleh Claude Frollo ketika berusia empat tahun ketika ia ditinggalkan di depan gereja, begitu buruk rupa sehingga menjadi sasaran hujatan orang. Sang pendeta membesarkannya dengan susah payah dan Quasimodo tumbuh dengan hanya dua bentuk kasih sayang yang dikenalnya, yang pertama kepada tuannya Frollo, dan yang kedua untuk Katedral Notre Dame.

Kembali ke La Esmeralda, suatu malam ketika ia hendak pulang ke Mahkamah Keajaiban, ia merasa bahwa dirinya sedang dikuntit. Seorang pria misterius berpakaian hitam-hitam dan pembantunya yang berperawakan besar menghadang gadis itu. Saat itulah Kapten Phoebus de Chateaupers yang gagah dan tampan lewat dan menyelamatkan si gadis cantik. La Esmeralda jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya, namun lenyap segera sesudah sang kapten menyelamatkannya. Pada suatu malam di waktu yang lain, gadis yang dimabuk cinta itu bertemu dengan sang kapten, yang memandang si gadis dengan nafsu badaniah yang menggelegak. Pertemuan mereka berakhir dengan sebuah golok menancap di tubuh Phoebus. Pagi harinya La Esmeralda diseret ke penjara oleh sekawanan prajurit penjaga. Tiang gantungan telah menanti si gadis.

Quasimodo menyelamatkan si gadis cantik dari tiang gantungan dan membawanya ke Notre Dame sehingga ia terlindung oleh suaka yang diberikan gereja. Namun keselamatan La Esmeralda masih terancam. Di dalam dinding Notre Dame masih ada Claude Frollo yang dibakar kecemburuan yang amat sangat melihat kedekatan anak asuhnya yang buruk rupa dengan La Esmeralda. Sementara cinta si gadis justru tertuju pada kapten Phoebus yang sesungguhnya tidak mati, namun berangsur-angsur sembuh dari lukanya dan kembali kepada tunangannya, gadis bangsawan bernama Fleur-de-Lys. Sementara Parlemen telah memerintahkan supaya La Esmeralda kembali diseret ke tiang gantungan, teman-teman si gadis di Mahkamah Keajaiban, orang-orang gipsi, telah menyusun rencana untuk menculik si gadis dari tempat perlindungannya. Mereka datang menyerbu Notre Dame.

***

Karya yang indah sekaligus tragis dan mengerikan dengan segala kemegahannya. Inilah karya yang paling terkenal dari sastrawan besar Prancis, Victor Hugo (1802-1885). Karya yang berjudul asli Notre Dame de Paris (1831) ini dikenal seantero dunia dengan judul The Hunchback of Notre Dame, sementara terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Serambi terbit dengan judul Si Cantik dari Notre Dame. Mengapa “The Hunchback” lantas diterjemahkan menjadi “si cantik”? Setelah selesai membaca buku ini saya baru paham, pusat cerita dalam kisah ini sebenarnya bukanlah Quasimodo si bungkuk, melainkan si gadis cantik, La Esmeralda, yang dicintai sekaligus dikutuk. Pernah menonton film versi Disney dari novel ini? Bersiaplah karena saat membaca buku ini anda akan sadar bahwa ceritanya jauh berbeda dengan versi Disney.

Novel ini membuktikan bahwa karya klasik tak melulu muram dan serius, karena Victor Hugo juga menyelipkan humor di dalam novel ini. Beberapa adegan yang lucu antara lain ketika Quasimodo yang tuli akibat bunyi lonceng gereja disidang oleh seorang hakim yang juga tuli, kemudian karakter Gringoire yang tidak bisa berhenti bicara, dan adegan ketika Jehan Frollo, adik Claude Frollo, datang menemui kakaknya untuk minta uang. Sang kakak menanyai adiknya mengenai studinya, dan sang adik menjawabnya dengan apa yang kita sebut hari ini sebagai “ngeles”. Berikut sebagian percakapan mereka.

“Bagaimana studimu mengenai perintah Gratian?”
“Aku kehilangan buku catatanku.”
“Dan bagaimana dengan humaniora Latin?”
“Seseorang mencuri kopi naskah Horatius.”
“Dan bagaimana dengan pelajaranmu mengenai Aristoteles?”
“Lho, apakah kakak tak tahu bahwa salah seorang frater di gereja berkata bahwa pendukung bidah selalu mencari perlindungan di bahwah kekusutan metafisika Aristoteles? Aku tak perlu mengetahui apa pun mengenai Aristoteles. Aku tak ingin metafisikanya menghancurkan agamaku.”

Terdengar sangat familier? Ternyata “ngeles” tidak hanya terjadi di zaman modern, lho!

Penerjemah juga menambahkan kelucuan dalam bagian ketika Phoebus memanggil La Esmeralda dengan “Semar” lantaran ia kesulitan menyebut nama si gadis.

Penulisan Hugo yang sangat indah, cerita yang dijalin antara ketiga tokoh utama dan banyak tokoh pendukung yang mempunyai peran masing-masing, terjemahan yang digarap dengan baik oleh Sunaryono Basuki K.S., membuat saya tidak ragu memberikan lima bintang untuk novel ini, sebagaimana saya juga memberi lima bintang untuk novel karya Hugo yang lain, Les Misérables.

Review buku ini dipost dalam rangka merayakan HUT ke-210 Victor Hugo (26 Februari 1802 – 26 Februari 2012)

Happy birthday, Victor Hugo!

Detail buku:
“Si Cantik dari Notre Dame” (judul asli: “Notre Dame de Paris”), oleh Victor Hugo
572 halaman, diterbitkan Juli 2010 oleh Penerbit Serambi
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] City of Thieves, Kota Para Pencuri

Sepotong peristiwa yang menjadi bagian sejarah Perang Dunia II (1939-1945) adalah pengepungan kota Leningrad (sekarang dikenal dengan nama St. Petersburg) di Rusia yang dilakukan oleh Jerman, berlangsung selama kurang lebih 900 hari, dari tanggal 8 September 1941 hingga 8 Januari 1944. Pengepungan ini merupakan pengepungan terbesar dan paling berdarah dalam sejarah, menewaskan lebih dari 1 juta orang. Pihak Jerman menyebutnya Operation Nordlicht (Operasi Cahaya Utara).

Peristiwa sejarah inilah yang menjadi latar belakang cerita dalam novel Kota Para Pencuri (City of Thieves). Namun jangan bayangkan City of Thieves sebagai sebuah novel yang serius dan melankolis. Sang penulis, David Benioff, yang sejatinya adalah seorang penulis skenario film, mengambil sisi petualangan yang dialami tokoh-tokoh utama di tengah-tengah gejolak perang.

Pengeboman di kota Leningrad, gambar dari http://planetcoh.gamespy.com/

Benioff bercerita tentang sang ayah, yang konon telah membunuh dua orang Jerman sebelum ia berusia delapan belas tahun. Suatu hari sang ayah membeberkan segala ceritanya kepada Benioff, mengenai apa yang dialaminya semasa perang.

Adalah Lev, seorang pemuda Yahudi 17 tahun bertubuh pendek yang tinggal di apartemen yang dinamai Kirov, di salah satu sudut kota Leningrad. Ayah Lev yang seorang penyair  telah tewas di tangan Jerman, sementara ibu dan adik perempuannya mengungsi ke Moskwa. Tinggallah Lev dan teman-teman seapartemennya, anak-anak Piter (sebutan penduduk St. Petersburg bagi kota mereka) yang bangga, ikut berjuang mempertahankan kota.

Pada suatu malam yang membeku sesudah tahun baru, mayat seorang prajurit Jerman yang mati kedinginan melayang turun dengan parasutnya di atap Kirov. Lev mengambil pisau milik si prajurit, sementara teman-temannya mengambili barang-barang milik si prajurit yang lain. Siapa sangka lewat kejadian itu Lev akhirnya tertangkap oleh NKVD dan dijebloskan ke penjara Kresty. Di Kresty, Lev yang mengira bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, bertemu dengan Kolya, seorang prajurit Rusia berumur awal dua puluhan yang punya ketampanan khas ras Arya: rambut berwarna jerami, mata biru, tubuh tinggi dan gagah. Kolya dijebloskan ke Kresty dengan tuduhan sebagai desertir. Tak disangka, mereka berdua malah dipertemukan dengan seorang kolonel tua yang akan melangsungkan pernikahan anak perempuannya dalam sepekan kedepan. Lev dan Kolya dibebankan suatu misi yang kedengarannya konyol namun taruhannya nyawa: mereka harus mencari selusin telur untuk kue pernikahan anak perempuan sang kolonel dalam waktu satu minggu!

Dari sini banyak petualangan yang dialami Lev dan Kolya, dan kebanyakan nyawa mereka hampir melayang dalam petualangan yang mereka jalani untuk mencari selusin telur. Saya tidak akan membocorkan apa saja yang mereka alami, anda harus membacanya sendiri :-p. Berhasilkah mereka memenuhi misi gila yang dipercayakan sang kolonel kepada mereka?

Satu hal yang tertanam di benak saya ketika membaca buku ini adalah: saya sungguh-sungguh bersyukur bahwa saya tidak hidup di tengah-tengah situasi perang. Benioff menggambarkan situasi yang terjadi saat itu dengan blak-blakan dan sangat riil, kekejaman dan kebrutalannya terasa banget, namun di saat yang sama juga menyorot hal-hal yang agak vulgar namun sangat manusiawi. Misalnya, Lev yang nggak pede tapi sangat penasaran dengan makhluk bernama cewek. Kolya, di sisi lain, adalah karakter yang suka omong besar, nekat, dan sebenarnya seorang maniak seks. Sangat menarik mengikuti perkembangan hubungan antara Lev dan Kolya, yang mana awalnya Lev sangat sebal dengan Kolya namun lama-lama mereka pun bersahabat.

Beberapa hal menarik yang saya temukan dalam buku ini:

Di halaman 104:

“Anak itu menjual sesuatu yg dijuluki orang permen perpustakaan. Cara membuatnya adalah dengan menghancurkan sampul buku, mengelupaskan lem perekatnya, lalu merebus, dan mencetaknya menjadi potongan-potongan yang selanjutnya dibungkus dlm kertas. Rasanya seperti lilin, tapi lem yang terkandung di dalamnya mengandung protein yg membuatmu tetap hidup. Sementara itu buku-buku di kota menghilang seperti burung dara.”

Baru tahu kan ada yang namanya permen perpustakaan? Saking sengsaranya orang-orang yang hidup di masa dan di tempat yang sedang terjadi peperangan, mereka sehari-hari hanya makan bawang dan roti yang sangat keras. Mereka menjadi sangat kurus dan banyak yang mati akibat kelaparan dan kedinginan (musim dingin di Rusia bisa mencapai titik suhu minus 30 derajat Celcius!) Jangankan telur dan daging, ”permen perpustakaan” ini merupakan hidangan yang cukup mewah bagi mereka! :-S

Di halaman 202:

“Tapi tak ada Elba untuk Hitler!”

Pulau Elba di Italia adalah tempat dimana Napoleon Bonaparte pernah dibuang. Ini kejutan yang saya suka dalam sebuah novel fiksi sejarah. I just love how the author can connect to another historical event. ;)

Just a warning: City of Thieves adalah novel dewasa. Saya tidak menyarankan siapapun yang berumur di bawah 18 tahun untuk membacanya.

Secara keseluruhan, saya sangat suka buku ini! Terima kasih sekali lagi buat Secret Santaku, Ally, yang sudah menghadiahkan buku ini! *peluk* :)

Detail buku:
“Kota Para Pencuri” (judul asli: “City of Thieves”, oleh David Benioff
490 halaman, diterbitkan Agustus 2010 oleh Penerbit Ufuk Press
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) oleh Charles Dickens

London dan Paris; dua kota yang bergolak menjelang revolusi Prancis. Konon di Prancis, kaum bangsawan memerintah dengan sewenang-wenang dan menyengsarakan rakyat. Kesejahteraan kaum bangsawan diletakkan diatas segalanya, sementara rakyat kecil dianggap tidak lebih daripada anjing. Rakyat harus membayar pajak dengan jumlah yang menggigit, sementara kaum bangsawan terus berfoya-foya dan menggemukkan badan. Kejahatan merajalela, tiada hari tanpa pelaksanaan hukuman mati, tidak peduli kecil atau besar kejahatan yang dilakukan orang yang akan dieksekusi. Begitulah situasinya, sampai di suatu titik, rakyat Prancis bangkit dan melakukan perlawanan. Situasi berputar balik, kali ini kaum bangsawanlah yang ditangkapi, diadili, dan dibunuh.

Di tengah-tengah gejolak yang terjadi, Mr. Jarvis Lorry, seorang bankir di Tellson’s Bank, London, ditemui oleh seorang gadis muda berparas cantik berkebangsaan Prancis bernama Lucie, mengenai keberadaan ayah yang disangkanya telah mati. Dr. Manette, ayah si gadis, ternyata masih hidup di Prancis. Ia dijebloskan ke penjara Bastille tanpa pernah tahu bahwa ia memiliki keturunan. Setelah bertahun-tahun menjalani hukuman di Bastille, yang menguras kewarasan sang dokter, ia tinggal di rumah mantan pelayannya yang bernama Defarge. Mr. Lorry dan Mlle Manette menjemput sang dokter dari tempat itu, pindah ke Inggris, dimana mereka berusaha memulihkan keadaan fisik dan psikis sang dokter.

Lima tahun kemudian, Dr. Manette dan putrinya terlibat dalam persidangan seorang keturunan Prancis yang bernama Charles Darnay, sebagai saksi. Darnay didakwa sebagai mata-mata Prancis yang menjalankan suatu rencana untuk melumpuhkan Inggris. Di persidangan itu mereka bertemu dengan pengacara yang bernama Mr. Stryver, dan rekannya yang eksentrik, Sydney Carton, yang secara mengherankan memiliki kemiripan fisik dengan Charles Darnay. Darnay akhirnya diputuskan tidak bersalah oleh pengadilan. Beberapa tahun kemudian Darnay menikahi Lucie, dan ketiga orang keturunan Prancis itu, Darnay, Lucie, dan sang dokter, hidup di Inggris dengan cukup bahagia.

Namun suatu hal yang belum diketahui Lucie, bahwa nama asli suaminya bukan Charles Darnay. Darnay sebenarnya adalah salah satu keturunan bangsawan Prancis, keponakan dari Marquis Evrémonde. Ketika Gabelle, pengurus kediaman Evrémonde dipenjarakan, ia menulis surat kepada tuannya, Darnay, minta diselamatkan. Maka Darnay, dengan mengabaikan bahaya yang mengancam dirinya sendiri, pergi ke Prancis. Disana ia ditangkap karena jati dirinya yang seorang bangsawan. Darnay sempat dibebaskan, karena Dr. Manette dan Lucie pergi ke Prancis, dan Dr. Manette memanfaatkan pengaruh yang dimilikinya sehingga menantunya itu bisa bebas. Namun malam harinya Darnay ditangkap lagi, dengan tuduhan yang berasal dari Defarge dan istrinya, serta Dr. Manette! Dalam persidangan, Defarge membacakan sebuah surat yang ditulis Dr. Manette, yang mengungkapkan alasan mengapa ia dijebloskan ke Bastille. Suatu peristiwa buruk yang terjadi di masa lalu mengaitkan Dr. Manette dengan keluarga bangsawan Evrémonde, dimana sekarang seorang keturunan Evrémonde menjadi menantunya. Sementara itu, Darnay akan dieksekusi oleh La Guillotine, si wanita tajam, dalam waktu dua puluh empat jam. Dr. Manette, Lucie, Mr. Lorry, dan Sydney Carton berada di tengah-tengah situasi tak menentu itu. Bagaimanakah badai kehidupan ini akan berakhir?

Gambar dari http://charlesdickenspage.com/illustrations-cities.html

”Saat itu adalah waktu terbaik, sekaligus waktu terburuk.
Masa kebijaksanaan, sekaligus masa kebodohan.
Zaman iman, sekaligus zaman keraguan.
Musim Terang, sekaligus musim Kegelapan.
Musim semi pengharapan, sekaligus musim dingin keputusasaan.
Kita memiliki semuanya di hadapan kita, sekaligus tidak memiliki semuanya.
Kita semua langsung pergi ke Surga, sekaligus langsung pergi ke jalan lainnya.
Pendeknya, zaman itu begitu persis dengan zaman sekarang.”

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka yang terkenal dari Kisah Dua Kota. Novel ini terbagi menjadi 3 buku, Buku I: Kembali ke Kehidupan, Buku II: Benang Emas, dan Buku III: Badai Kehidupan. Kisah Dua Kota adalah terjemahan dari karya fenomenal Charles Dickens, A Tale of Two Cities. Novel klasik dengan plot yang kompleks ini ditulis Dickens dengan menggunakan kontradiksi, mempertentangkan situasi yang terjadi di dua negara pada masa itu, Inggris yang taat hukum dan Prancis yang feodal. Kontradiksi juga bisa ditemukan dalam karakter-karakter di dalam cerita, misalnya Darnay, si bangsawan yang emigran karena menolak feodalisme, berpenampilan necis dan rapi, merupakan ”lawan” dari karakter Sydney Carton, si pengacara slengean yang tidak memiliki fokus dalam hidupnya untuk mencapai apapun. Karakter Miss Pross, pelayan Lucie yang secara fisik tangguh namun sangat setia, bertolak belakang dengan Madame Defarge yang pendendam dan haus darah. Dalam banyak bagian juga Dickens menggunakan simbol-simbol yang kadang sulit dipahami, misalnya di awal cerita pada Buku I: Kembali ke Kehidupan, Mr. Lorry akan menjemput ”seseorang yang telah dikubur hidup-hidup selama delapan belas tahun”. Maksudnya adalah Mr. Lorry akan menjemput Dr. Manette, yang telah menjalani sekian tahun hukuman di Bastille sehingga kehilangan akal sehatnya. Ia sama saja seperti orang yang sudah mati. Kemudian Madame Defarge yang merajut tanpa henti. Ia sebenarnya sedang mendaftar nama-nama mereka yang akan dijatuhi hukuman mati. Kegiatan merajut ini juga menyimbolkan ”serigala berbulu domba”, rakyat kecil Prancis yang kelihatan tidak berbahaya, merajut dalam diam, namun di tangan mereka juga aristokrasi akan tumbang.

Terjemahan A Tale of Two Cities yang diterbitkan Elex Media Komputindo dengan judul ”Kisah Dua Kota” ini sama sekali tidak mengecewakan, baik dalam bentuk fisik maupun substansi buku. Terjemahan yang digarap oleh Peusy Sharmaya menurut saya sangat bagus, jenis kertas dan font yang digunakan sangat nyaman untuk dibaca. Meskipun rasanya lebih nyaman membaca “Mr.”, “Monsieur”, “Mademoiselle” ketimbang “Tuan” dan “Nona”. Dan semoga juga jilidan bukunya awet, mengingat bukunya cukup tebal. Saya tidak menyesal membeli buku ini walaupun harganya relatif mahal ;)

Secara keseluruhan, Kisah Dua Kota layak diganjar 5 bintang. Faktor yang terbesar adalah penulisan Dickens yang brilian. Ia mampu membangun cerita dengan plot yang padat dan kompleks, kadang-kadang sengaja menyimpan beberapa elemen untuk akhir cerita, sehingga pembaca tidak akan berhenti penasaran seperti apakah nanti endingnya. Gaya penulisannya puitis namun dengan aura yang suram dan tragis, sangat khas Dickens. Namun, bagi pembaca yang tidak suka narasi yang panjang-panjang, kemungkinan akan sulit menikmati karya Dickens ini. Ada yang menyebutkan A Tale of Two Cities sebagai karya Dickens yang tidak memiliki karakter yang se-memorable Scrooge di A Christmas Carol, Miss Havisham di Great Expectations, atau Fagin di Oliver Twist. Saya secara pribadi tidak setuju, setelah membaca buku ini sampai akhir dan mengalami “gema” di akhir cerita yang disebabkan tokoh yang bernama Sydney Carton. Bagi saya, A Tale of Two Cities akan selalu menjadi salah satu karya sastra yang akan terus saya kenang.

Resensi Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) ini diposting dalam rangka merayakan HUT ke-200 Charles Dickens yang jatuh tepat pada hari ini, 7 Februari 2012.

Happy Birthday, Charles Dickens!

Senang rasanya bisa menikmati karyamu yang bunyinya masih terdengar bahkan setelah 200 tahun berlalu! ;)

***

Detail buku:
“Kisah Dua Kota” (judul asli: “A Tale of Two Cities”), oleh Charles Dickens
576 halaman, diterbitkan Oktober 2010 oleh Elex Media Komputindo
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Belajar Hidup Tanpa Batas bersama Nick Vujicic

Entah kebetulan atau tidak, posting resensi pertama di tahun 2012 ini adalah buku non fiksi, sama seperti resensi pertama di tahun 2011 lalu. Padahal saya boleh dibilang sangat jarang membaca non fiksi. Bisa jadi tradisi ini akan saya teruskan di awal tahun depan dan seterusnya :)

***

Ada saat-saat ketika kehidupan terasa sangat sulit dan penuh masalah. Kita menjadi sedih, marah, pahit, negatif, kehilangan gairah hidup. Seakan kitalah orang paling sengsara di dunia, dan waktu yang ada hanya dimanfaatkan untuk duduk menunggu dunia runtuh.

Ada banyak orang yang hidupnya tidak bahagia karena mereka masih merasa “kekurangan”. Kurang kaya, kurang ganteng atau cantik, kurang langsing, kurang modis, kurang pandai, dan masih banyak kurang-kurang lainnya. Sebenarnya kunci untuk menjadi bahagia hanya satu: pilihan anda. Mungkin banyak hal yang tidak enak sedang terjadi dalam hidup anda saat ini. Tidak ada manusia yang dapat mengendalikan hal itu. Namun kita bisa mengendalikan bagaimana sikap kita ketika menghadapi masalah. Kita punya pilihan!

Demikian pula dengan Nicholas James Vujicic, yang akrab disapa Nick. Pemuda 29 tahun keturunan Serbia yang lahir dan dibesarkan di Australia ini terlahir ke dunia dengan Tetra-amelia syndrome, suatu kelainan langka yang menyebabkan ketiadaan lengan dan tungkai. Tidak dapat disangkal bahwa Nick menjalani kehidupan yang ekstra sulit. Akan tetapi, setelah melalui perjalanan panjang penemuan diri dan tujuan hidup, dan berbagai pengalaman yang mengerikan, Nick menyadari bahwa ia mempunyai pilihan. Alih-alih menyerah terhadap keadaan, Nick justru memilih untuk memanfaatkan kekurangannya sebagai suatu kelebihan. Nick menyadari bahwa Tuhan memberinya karunia untuk berbicara, memotivasi, dan menghibur orang lain, dan dengan karunia itu ia dapat memberi sesuatu yang spesial kepada dunia. Pilihan yang dibuat Nick telah membawanya menjadi seorang penginjil dan pembicara motivasi kelas internasional yang telah melakukan perjalanan keliling dunia untuk berbicara di depan ribuan hingga jutaan orang. Nick juga adalah seorang sarjana akuntansi dan perencanaan keuangan yang kini memiliki beberapa perusahaan termasuk organisasi nirlaba Life Without Limbs, dan bintang film pendek pemenang penghargaan Doorpost Film Project 2009 yang berjudul The Butterfly Circus.


“Orang kerap bertanya bagaimana aku bisa bahagia walaupun tidak punya lengan dan tungkai. Jawaban cepatku adalah aku punya pilihan. Aku bisa merasa marah karena tidak punya tungkai, atau aku bisa bersyukur karena punya tujuan. Aku memilih sikap bersyukur. Kau juga bisa melakukannya.”

– Nick Vujicic

Pengalaman mengatasi tantangan baik secara fisik maupun mental yang dialami Nick karena kondisi tubuhnya, dituangkan  dalam buku berjudul asli Life Without Limits: Inspiration for A Ridiculously Good Life, pertama kali diterbitkan oleh Random House tahun 2010. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan judul Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia. Buku yang berisi 12 bab ini adalah gabungan memoar sekaligus merupakan non fiksi pengembangan diri/inspirasional.

Melalui halaman-halaman bukunya, pemuda tak berlengan dan bertungkai ini akan menuntun anda untuk menerima dan mencintai diri sendiri sebagaimana adanya, menemukan tujuan hidup, menyalakan iman dan harapan, berani menghadapi tantangan, bertahan dalam cobaan, bangkit dari kegagalan, dan akhirnya mendobrak segala batasan, mencintai kehidupan sepenuhnya dan mendorong anda untuk memberi dan menjadi berkat bagi orang lain.

Buku ini juga merekam banyak pengalaman Nick di berbagai kesempatan. Beberapa sangat menyentuh, beberapa lainnya sungguh konyol dan gila. Nick ingin pembaca buku ini tahu bahwa ia juga manusia biasa, yang sangat menikmati dan mencintai hidupnya. Ia suka melakukan berbagai hal yang bisa membantu meringankan beban orang lain, namun ia juga suka melakukan hal-hal yang murni untuk kesenangan pribadi. Ia menjalani hidup layaknya orang normal! Nick berenang, bermain basket, bermain musik, main skateboard, melakukan perencanaan bisnis, berkeliling dunia untuk berbicara di depan orang banyak, bertemu dengan berbagai tokoh penting dunia. Ia menjalani kehidupan dengan segala rasa syukur dan kebahagiaan. Ia menjalani kehidupan yang tanpa batas, meskipun secara fisik ia terbatas. Kalau orang tanpa lengan dan tungkai ini saja mampu hidup seperti itu, mengapa tidak demikian dengan anda?


“Kehidupanku adalah sebuah kesaksian tentang kenyataan bahwa kita tidak memiliki batasan kecuali batasan yang kita buat sendiri. Hidup tanpa batas berarti mengetahui bahwa kau selalu memiliki sesuatu untuk diberikan, sesuatu yang mungkin bisa meringankan beban orang lain.” –
hal. 242

Tak hanya dirinya sendiri, di dalam buku ini Nick menyebutkan beberapa nama yang telah membuktikan bahwa mereka mampu mendobrak tembok-tembok yang membatasi diri mereka dan memberikan kontribusi bagi kebahagiaan dan kesejahteraan orang lain. Ada Bethany Hamilton, peselancar kelas dunia yang kehilangan tangan kirinya karena diserang seekor hiu saat ia baru berusia 13 tahun. Bethany kembali berselancar setelah kecelakaan itu, walau ia hanya mempunyai sebelah lengan. Christy Brown, seorang laki-laki (ya, Christy Brown adalah seorang pria) Irlandia yang terlahir lumpuh, dari semua bagian tubuhnya hanya kaki kirinya saja yang bisa digerakkan. Christy menjadi seorang penulis, penyair, dan pelukis yang dihormati dan kisah hidupnya diangkat menjadi sebuah film pemenang penghargaan Academy Award. Kemudian ada Reggie Dabbs, yang lahir sebagai anak haram dari seorang pekerja seks dan nyaris saja diaborsi. Hari ini, seperti Nick, Reggie adalah seorang public speaker dan motivator yang dibayar untuk menumbuhkan harapan kepada orang-orang. Joni Eareckson Tada, penderita quadriplegia sekaligus musisi dan penulis buku inspiratif. Joni memiliki organisasi nirlaba yang telah membagikan lebih dari 60.000 kursi roda kepada para difabel di 102 negara. Dan beberapa nama lain yang memberikan kontribusi bagi sesama dengan cara masing-masing.

Buku yang ditulis dengan bantuan Wes Smith ini secara keseluruhan bagus dan sangat inspiratif. Penuturannya sederhana namun mengena, menarik dan jauh dari menjemukan. Banyak kutipan bagus yang bisa ditemukan di dalamnya. Kelemahannya mungkin terletak pada beberapa kalimat yang diulang (mungkin tidak persis sama, namun serupa) dalam bab-bab selanjutnya. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh P. Herdian Cahaya Khrisna sangat bagus, namun  sayang kenikmatan membaca masih terganggu dengan typo yang bertaburan di sana-sini. Dan perlu diketahui juga, meskipun buku yang di Indonesia telah memasuki cetakan keempat ini ditulis dengan nafas Kristiani, namun menurut saya masih sangat bisa dinikmati oleh pembaca non-Kristiani. Jadi, bacalah buku ini dan mulailah menjalani kehidupan tanpa batas seperti Nick!

Nick & his soon-to-be-wife Kanae

Berita gembira: Nick dan tunangannya, Kanae Miyahara, akan melangsungkan pernikahan bulan Februari 2012 ini. Congratulations, Nick & Kanae!

***

Lebih lanjut tentang Nick Vujicic:
NickVujicic.com / LifeWithoutLimbs.org / AttitudeIsAltitude.com
Lihat juga video-video Nick yang telah ditonton jutaan kali di YouTube.com

Detail buku:
“Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia” (judul asli: “Life Without Limits: Inspiration for A Ridiculously Good Life”), oleh Nick Vujicic
259 halaman, diterbitkan Mei 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Sarah’s Key: Kunci ke Masa Lalu yang Tragis


“Berhati-hatilah. Kau bermain-main dengan kotak Pandora. Terkadang, lebih baik tidak membukanya. Terkadang, lebih baik tidak tahu.”

Julia Jarmond, seorang wartawan perempuan Amerika setengah baya yang tinggal di Prancis, memegang kunci ke masa lalu ketika ia ditugasi meliput pengumpulan besar-besaran orang Yahudi di Vélodrome d’Hiver (Vel’ d’Hiv’), sebuah stadion tertutup di jantung kota Paris, 16 Juli 1942. Pengumpulan ini dilakukan oleh polisi Prancis, dengan sarana dan prasarana milik Prancis, atas perintah pendudukan Nazi.

Di dalam Vel’ d’Hiv’ inilah, 1.129 lelaki, 2.916 perempuan, dan 4.115 anak-anak dijejalkan dalam kondisi tidak manusiawi. Tempat itu panas dan pengap, tidak ada toilet dan tempat tidur, hampir tidak ada makanan dan air. Anak-anak Yahudi ini kemudian dipisahkan dari orangtua mereka, yang dikirim langsung ke Auschwitz untuk menerima kematian dalam kamar gas. Pada pertengahan Agustus, keputusan dari Berlin mengatakan bahwa nasib yang sama menanti anak-anak malang tersebut di Auschwitz.

Dari sekitar empat ribu anak-anak Yahudi yang dikumpulkan di Vel’ d’Hiv’, ada seorang anak perempuan sepuluh tahun bernama Sarah Starzynski. Pada malam terjadinya pengumpulan besar-besaran itu, Sarah telah mengunci adik lelakinya yang baru berumur empat tahun, Michel, di dalam lemari tersembunyi di apartemen keluarganya di rue de Saintonge. Ia bersumpah akan kembali untuk menjemput adiknya, bahkan ketika mereka dipindahkan dari Vel’ d’Hiv’ ke kamp Drancy, jauh dari kota Paris, Sarah meneguhkan hati untuk kabur dari Drancy dan menjemput adik semata wayangnya. Perjalanan dan jerih payah Sarah inilah yang berusaha dikorek oleh Julia sejak ia mengetahui bahwa apartemen tua nenek suaminya ternyata dulunya dihuni oleh keluarga Starzynski. Dari apartemen di rue de Saintonge itulah keluarga Starzynski diciduk oleh polisi Prancis, dan digiring ke Vel’ d’Hiv. Di dalam lemari yang tersembunyi di dalam dinding apartemen itulah, Sarah pernah menyembunyikan adik lelakinya, menguncinya disana dengan harapan bahwa dia akan aman, dan Sarah akan segera menjemputnya dan mereka akan bersama-sama lagi, juga dengan ayah dan ibunya, utuh dan bahagia.

Benang merah antara Sarah dan Julia yang terpaut waktu enam puluh tahun dijalin dalam kisah mendebarkan ini dengan alur bolak-balik masa lalu dan masa kini. Siap-siaplah emosi anda dijungkirbalikkan ketika membaca buku ini, ketika Julia melakukan penyelidikan terhadap nasib Sarah, saat ia menemukan fakta demi fakta, dan bagaimana penyelidikannya itu berdampak sedemikian rupa terhadap keluarga suaminya, keluarga Prancis tua bermarga Tézac, bagaimana hidup mereka semua tidak akan pernah sama lagi sejak kebenaran menyakitkan itu terungkap…

***

Jika dihadapkan dengan dua pilihan, antara mengetahui kebenaran, entah bagaimanapun menyakitkannya, atau menutup mata dan memilih untuk tidak tahu, manakah yang akan anda pilih?
Di satu sisi, kebenaran tetaplah hal yang terbaik. Namun di sisi lain, kadangkala kebenaran terlalu menyakitkan sehingga lebih baik tidak tahu.

Peristiwa 16 Juli 1942 di Vel’ d’Hiv’ di kota Paris adalah salah satu peristiwa terburuk di dalam sejarah Prancis. Menurut buku ini, kebanyakan orang Prancis menutup mata akan bagian sejarah negeri mereka yang satu ini, dan generasi muda Prancis hanya menerima secuil, kalau tidak sama sekali, pengetahuan tentang sejarah peristiwa Vel’ d’Hiv’ di bangku sekolah. Pada tahun 1995 , Presiden Prancis yang baru saja terpilih, Jacques Chirac, memberikan pidato yang secara resmi mengakui keterlibatan Prancis dalam pembunuhan dan deportasi orang-orang Yahudi di Eropa.

Sang penulis, Tatiana de Rosnay, boleh diberi pujian karena keberaniannya menulis fiksi sejarah yang didasarkan pada peristiwa yang dianggap borok memalukan dalam sejarah Prancis, dengan twist masa lalu versus masa kini. Sarah’s Key ditulis dengan cantik, mendetail, sekaligus dekat dan menyentuh. Emosi masing-masing karakter utama dapat sampai kepada pembaca dengan baik. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Lily Endang Joeliani juga tidak buruk. Terlepas dari berbagai kelemahan, misalnya alur bolak-balik masa lalu-masa kini di dalam bab-bab pendek yang bagi saya agak melelahkan, dan ada beberapa hal mengenai cerita kehidupan Julia yang menurut saya tidak penting untuk disampaikan, cerita masih gampang ditebak ujungnya, serta cover yang, kalau boleh saya bilang, terlalu cantik, sama sekali tidak mewakili isi buku; Sarah’s Key adalah sebuah buku yang haunting dan memeras emosi. Empat bintang bagi karya yang didedikasikan penulis sebagai penghormatan bagi anak-anak Vel’ d’Hiv’. Bahwa pada 16 Juli 1942 ada 13 ribu orang Yahudi yang dikumpulkan di tempat itu, 4 ribu diantaranya adalah anak-anak tak bersalah, mereka yang menjerit menangis karena tak mengerti, terkurung mengenaskan di dalam tempat persinggahan sementara menuju kematian.

Sarah’s Key telah difilmkan tahun 2010 dengan aktris nominator Oscar Kristin Scott Thomas sebagai Julia Jarmond.

“Kadangkala aku bertanya-tanya berapa banyak anak, sepertinya, yang mengalami neraka itu dan bertahan hidup, dan sekarang harus terus hidup, tanpa orang-orang yang mereka cintai.

Begitu banyak penderitaan, begitu banyak rasa sakit. Sarah harus menyerahkan semua yang dimilikinya: keluarganya, namanya, agamanya.

Kami tidak pernah membicarakannya, tetapi aku tahu betapa dalam kehampaannya, betapa kejam kehilangan yang dialaminya.”


Zakhor, Al Tichkah.

Ingat. Jangan pernah lupa.

***

Links:
French President Jacques Chirac’s Speech at the Ceremonies to Commemorate “The Great Roundup” of July 16 and 17, 1942
YouTube video: Jacques Chirac – Discours du Vel’d'Hiv’ – 1995
Speech by M. Chirac at the official opening of the new exhibition, French pavilion of the Auschwitz-Birkenau Memorial and Museum, Auschwitz 27.01.2005
Behind the French Ruling on WWII Deportations of Jews (article by Bruce Crumley)
Chirac hailed for citing France’s role in Holocaust (article by Michel di Paz, Jewish Telegraphic Agency)

Detail buku:
“Sarah’s Key”, oleh Tatiana de Rosnay
356 halaman, diterbitkan 15 Agustus 2011 oleh Elex Media Komputindo
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina

Jangan tertipu dengan judulnya.
Tidak, saya tidak tertarik dengan traktor.
Tidak, tentu saja saya tidak bisa bahasa Ukraina.
Lantas mengapa saya membaca buku ini?

Pertama, karena menyadari bahwa buku ini adalah novel dan bukannya buku non fiksi, seperti yang tersirat pada judulnya yang unik (bagi sebuah novel).

Kedua, karena membaca review di Goodreads yang rata-rata menyatakan bahwa buku ini lucu, kadang mengharukan, kadang kelam. Intinya, layak dicoba untuk dibaca.

Ketiga, karena buku ini dijual hanya dengan harga sepuluh ribu rupiah di event Kompas Gramedia Fair di kota saya beberapa bulan yang lalu.

Keempat, karena saya memang punya ketertarikan khusus kepada negara Ukraina (anda akan mengerti nanti setelah selesai membaca review ini).

Jadi……………

Berkenalanlah saya dengan Nikolai Mayevskyj, duda 84 tahun yang tinggal di Inggris dengan dua anak perempuan yang sudah menginjak usia setengah baya dan hampir tak pernah akur, Vera dan Nadezhda. Nikolai baru saja ditinggal mati istrinya, Ludmilla, selama dua tahun ketika sosok Valentina, seorang janda Ukraina berambut pirang dan (maaf) berpayudara besar memasuki bingkai keluarga Mayevskyj.

Nikolai tergila-gila pada Valentina yang berumur 36 tahun itu. Vera dan Nadezhda menganggap ayah mereka sudah gila. Singkat cerita,Valentina dan anaknya, Stanislav, diboyong dari Ukraina ke Inggris. Kemudian pernikahan pun dilangsungkan antara Nikolai dan sang “Venus dari lukisan Botticelli”. Nadezhda awalnya berpikiran positif dengan pernikahan kedua ayahnya ini, dan menganggap bahwa suatu kabar baik bila sang ayah yang telah tua punya seseorang untuk menemani dan merawatnya. Namun ternyata dia sama sekali salah.

Valentina adalah penjajah dan pemeras dengan sejuta akal licik. Dari si tua bangka Nikolai ia berhasil mengeruk sejumlah uang yang tidak sedikit, diantaranya untuk biaya perjalanan Ukraina-Inggris, tujuan kecantikan, dan untuk membeli tidak hanya satu, tapi tiga buah mobil, yang ternyata semuanya bobrok. Dan jangankan bermanis-manis dan perhatian dengan si tua Nikolai, Valentina justru sangat kasar kepada si kakek tua. Dan tebak apa yang Nikolai katakan mengenai hal itu?

“Orang bisa memaafkan wanita cantik atas banyak hal.” #doh!

Wegah ayahnya terus menerus diperlakukan demikian, Vera dan Nadezhda terpaksa melupakan permusuhan lama mereka dan bergabung untuk mendongkel Valentina dari “tahta”. Dan sementara itu, dari ocehan-ocehan ayah mereka yang adalah seorang insinyur eksentrik, sedikit demi sedikit terkuaklah sejarah keluarga mereka, dimulai dari kisah kakek-nenek buyut Vera dan Nadezhda, dan bagaimana sejarah keluarga mereka merupakan satu bagian kecil dari sejarah tanah air mereka, Ukraina, yang awalnya bergelut dalam agrikultura dan industri, kemudian remuk redam dan hancur oleh perang dan penjajahan. Dan tentu saja ada sejarah mengenai perkembangan pembuatan traktor di Ukraina. Nikolai menjelaskan dengan hampir-hampir dramatis bagaimana ia memutuskan untuk berhenti bekerja di industri penerbangan yang pelik dengan konflik dan intrik masa perang, dan memilih berkarya di suatu industri yang lebih “down-to-earth”, memproduksi traktor.

Buku ini menggabungkan drama dysfunctional family saga dengan banyak unsur sejarah, dengan banyak lompatan-lompatan dari masa kini ke masa lalu, antara periode-periode sejarah kelam di Ukraina yang membuat bergidik, dan keadaan masa kini yang kacau balau, abnormal, dan sinting ketika Valentina melakukan “penjajahan” terhadap Nikolai dan harta bendanya, serta bagaimana upaya Vera dan Nadezhda untuk membebaskan ayah mereka dari cengkeraman Valentina.

Sang penulis, Marina Lewycka, menulis novel dewasa pemenang Saga Award for Wit 2005 ini dengan begitu blak-blakan, dengan humor sinis di balik setiap kata, namun tetap enak untuk dinikmati. Sedangkan dari unsur sejarahnya, saya jadi banyak mengetahui hal baru, misalnya bahwa bendera Ukraina yang berwarna biru dan kuning, melambangkan langit biru di atas hamparan ladang jagung yang menguning. Membaca ini mengingatkan saya pada film Everything is Illuminated yang pernah saya tonton (diangkat dari buku berjudul sama karya penulis Jonathan Safran Foer). Di film tersebut ada satu pemandangan yang tidak bisa saya lupakan.

Memang yang berada di bawah langit biru bukan ladang jagung, tapi lebih cantik bukan? Dan ya, tempat ini berada di Ukraina.

Fakta lain yang menyesakkan, bahwa Ukraina sebenarnya adalah negara yang kuat dengan agrikulturnya, namun pengembangan potensi agrikultura dengan mekanisasi dilakukan dengan cara yang sangat mengerikan oleh Stalin. Ia memaksakan pertanian kolektif, sementara petani yang memilih tetap mempertahankan lahannya sendiri mendapat ganjaran yang kejam. Hasil produksi pertanian diserobot oleh pasukan Stalin, kemudian dikirim ke pabrik-pabrik untuk memberi makan kaum proletar, sementara di desa-desa Ukraina orang-orang menderita kelaparan. Hasilnya, sekitar tujuh hingga sepuluh juta manusia mati di seantero Ukraina selama musim kelaparan buatan manusia pada tahun 1932-1933.

Ironis!

Yah, begitulah sekelumit kesan yang saya dapatkan melalui membaca buku ini. Buku ini menghibur sekaligus memberi banyak tambahan pengetahuan terutama tentang sejarah. Dan kabar baiknya lagi, buku ini bukan termasuk buku berat yang membuat kening berkerut. Karena si tua Nikolai akan membuat anda tertawa, geleng-geleng kepala, dan mungkin bahkan terkesima dengan kejeniusannya yang eksentrik. Apakah saya sempat menyebutkan bahwa Nikolai menulis buku? Ya, ia menulis kalimat berikut sebagai penutup mahakaryanya:

“Tetapi bisa ditambahkan, lebih lanjut, bahwa ketidakstabilan dan kemelaratan yang menyebar ke seluruh dunia juga menjadi faktor di balik timbulnya Fasisme di Jerman dan Komunisme di Rusia, sementara benturan kedua ideologi itu nyaris mengantar bangsa manusia ke kehancurannya.
Maka aku meninggalkan Anda dengan pikiran ini, pembaca yang budiman. Gunakan teknologi yang dikembangkan insinyur, tetapi gunakan dengan semangat rendah hati dan selalu mempertanyakan. Jangan pernah membiarkan teknologi menjadi penguasamu, dan jangan manfatkan demi menguasai orang lain.”

Apa judul buku yang ditulis oleh Nikolai? Tentu saja, “Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina”.

***

In loving memory of my father, 1941-2011
He attended school for 6 years in Marine Engineering Institute in Odessa, Ukraine (was Soviet Union at that time)

***

Detail buku:
“Sejarah Singkat Traktor dalam Bahasa Ukraina” (judul asli: “A Short History of Tractors in Ukrainian”, oleh Marina Lewycka
416 halaman, diterbitkan Februari 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

[Review] Cinta Tak Pernah Mati: Antologi Cerpen Klasik

Kadang-kadang, pena bisa lebih tajam daripada pisau. Dan kadang-kadang, sebuah cerita pendek bisa bergaung lebih keras daripada novel setebal ratusan halaman.

Selama ini saya tidak terlalu tertarik dengan cerpen, sampai buku ini jatuh ke tangan saya. Saya baru ngeh bahwa sebuah cerpen bisa memiliki daya pikat yang kadangkala bisa melebihi sebuah novel. Dan membuat sebuah cerita yang “nendang” hanya dalam beberapa ribu kata saja, jelas bukan pekerjaan gampang! Edgar Allan Poe pernah berkata,

“Dalam cerpen tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma, harus punya fungsi, tujuan dalam komposisi keseluruhan.”

Dalam seri kumpulan cerpen klasik terbitan Serambi Ilmu Semesta yang diberi tajuk Cinta Tak Pernah Mati ini, tidak kurang dari 17 cerpen dari para maestro sastra dunia dikumpulkan. Masing-masing cerpen mengusung warna dan ciri khas dari pengarangnya mengenai satu hal yang sangat universal di dunia ini, yaitu cinta. Seperti apa jadinya jika 17 orang luar biasa ini digabungkan untuk menyuarakan cinta melalui kertas dan pena?

Kumcer ini menyentuh tema cinta dari berbagai sisi. Cinta antara sepasang kekasih, suami dan istri, ayah dan anak, Tuhan dan manusia, manusia dengan sesamanya, dan bahkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Cinta yang terang benderang membahagiakan, cinta yang ganjil, cinta yang berkorban, sampai cinta yang meremukkan hati dan jiwa, dan cinta yang membuat manusia jadi gila.

Berikut ini adalah daftar judul cerpen yang ada di dalam kumcer Cinta Tak Pernah Mati:

  1. Suatu Hari di Surga – Ryunosuke Akutagawa
  2. Cinta Tak Pernah Mati – Honoré de Balzac
  3. Ayah dan Anak – Bjornstjerne Bjornson
  4. Varka Hanya Ingin Tidur – Anton Chekov
  5. Maling yang Jujur – Fyodor Dostoevsky
  6. Kebajikan – John Galsworthy
  7. Tamu Pernikahan – O. Henry
  8. Ibunda – James Joyce
  9. Hantu Mantan Kekasih -Rudyard Kipling
  10. Bekas Luka – W. Somerset Maugham
  11. Senyum Schopenhauer – Guy de Maupassant
  12. Kucing Hitam – Edgar Allan Poe
  13. Perkawinan – August Strindberg
  14. Kesetiaan – Rabindranath Tagore
  15. Kebahagiaan – Leo Tolstoy
  16. Keberuntungan – Mark Twain
  17. Sepatu Bot – Émile Zola

Jujur saja, saya agak bingung bagaimana harus meresensi buku ini. Anda harus membacanya sendiri untuk bisa mengerti kehebatan buku ini. Anda harus mengalami sendiri ‘didongengi’ oleh 17 pengarang kenamaan seantero dunia ini. Satu hal yang membuat buku ini semakin istimewa adalah foto dan biografi singkat masing-masing pengarang yang diselipkan di akhir masing-masing cerpen.

Jika anda penasaran, maka bacalah, dan jika anda penggemar karya sastra klasik, maka koleksi anda tidak akan lengkap sebelum buku ini nangkring di rak buku anda. Dijamin anda tidak akan rugi jika memilikinya! #bukanpromosi

Cinta Tak Pernah Mati dalam angka:
227 halaman
17 cerita pendek
17 pengarang ternama yang berasal dari 9 negara dan 3 benua
4 peraih Hadiah Nobel Sastra
kumpulan cerpen klasik ke-6 yang diterbitkan oleh Penerbit Serambi
2 jempol dari saya untuk Serambi, Anton Kurnia dan Atta Verin :)

Detail buku:
“Cinta Tak Pernah Mati” oleh Ryunosuke Akutagawa, dkk
227 halaman, diterbitkan Juni 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

[Review] Flipped: Siap-siap Jungkir Balik!

Cinta monyet tidak pandang bulu. Juli Baker yang masih berusia 7 tahun pun tidak luput dari panah si monyet (#eh) ketika tetangga baru datang untuk tinggal di seberang rumahnya dan membawa serta seorang anak laki-laki sebayanya yang bernama Bryce Loski.


[Juli] Pertama kali aku bertemu Bryce, aku jungkir balik. Pasti karena matanya. Ada sesuatu di matanya. Matanya yang biru dengan bulu mata hitam itu benar-benar memukau.

Dan begitulah keadaannya sampai mereka menginjak kelas sembilan. Juli membuntuti Bryce kemana-mana seperti bayangan kedua. Dan coba tebak apakah Bryce merasakan hal yang sama tentang Juli? Hell no! Selagi Juli kelihatannya tidak bisa jauh-jauh dari Bryce, sebaliknya Bryce malah ogah dekat-dekat dengan Juli. Cuma satu hal yang Bryce mau, yaitu supaya Juli lenyap dari hidupnya.

Kemudian, ketika Juli dan Bryce beranjak remaja, serangkaian insiden aneh nan membingungkan mulai terjadi. Bagi Juli, insiden-insiden ini melibatkan pohon sikamor, ayam-ayam dan telur-telur, pekarangan depan rumahnya, dan tentu saja Bryce. Dan Bryce, yang selama ini menganggap dirinya sedang ‘berperang’ melawan Juli, sebenarnya dia terus berperang melawan rasa takutnya sendiri.

Pengalaman duduk diatas pohon sikamor dan nasihat dari ayahnya untuk melihat sesuatu secara keseluruhan dan jangan hanya satu bagian saja, plus kejadian tak mengenakkan yang melibatkan Bryce, membuat Juli pelan-pelan merasa bahwa ia tidak begitu menyukai Bryce lagi.

Sedangkan Bryce yang awalnya menganggap Juli sebagai si Nona Menyebalkan yang betah menghabiskan waktu diatas pohon sikamor kesayangannya, dan merangkak masuk kandang ayam yang jorok dan kotor, akhirnya melihat sisi lain dalam diri Juli yang mulai membuatnya tertarik…

Tebak siapa sekarang yang jungkir balik… :D

###

Novel ‘ringan namun berbobot’ yang diberondong pujian dari berbagai pihak (Chicago Tribune, BookPage, Publishers Weekly, Kirkus Reviews, dan lain-lain) ini bukan hanya sekedar menyajikan kisah cinta-cintaan a la remaja, tapi juga pembelajaran karakter dan kisah keluarga yang menghangatkan hati. Karakter-karakter yang ada di dalamnya, mulai Juli yang keras kepala, Bryce yang diam-diam pengecut, Mr. Baker dan Chet yang bijak, sampai Mr. Loski yang doyan merendahkan orang lain; semuanya melambangkan orang-orang di sekitar kita atau bahkan diri kita sendiri. Cerita dalam novel ini tidak akan berlalu begitu saja setelah kita selesai membacanya, namun nilai-nilai yang ada di dalamnya, jika kita renungkan, akan membuka pintu gerbang untuk (istilah kerennya) aktualisasi diri. Novel ini seperti wake-up call yang ‘menyentil’ pola pikir kita secara halus namun tepat sasaran, dan masih mengena juga buat kita-kita yang umurnya sudah tidak belasan lagi….hehehe.

Empat bintang kupersembahkan untuk novel yang benar-benar sanggup bikin pembaca jungkir balik ini. Novel ini highly recommended terutama bagi para remaja! Ada yang tahu novel untuk remaja yang sekeren Flipped ini? Kasih tau saya dong!

Beberapa quote favorit saya dalam buku ini antara lain:

“Karakter seseorang terbentuk sejak kecil, Nak. Pilihan yang kau buat hari ini akan memengaruhi hidupmu sampai kapan pun.”

“Hanya wanita yang keras kepala saja yang bisa membuat hidup terasa lebih hidup.”

–> #tunjukdirisendiri #bloggerbukusedangnarsis #abaikan XD XD

“Walaupun berbagai macam emosi mengaduk perasaan kita setiap hari, tapi jika pada akhirnya kita merasa bahagia, alangkah indahnya.”

“Satu hal sudah kupelajari dari Juli Baker, bahwa jika aku ingin berhasil, aku harus fokus dan terus mencoba.”

Dari halaman Dialog dengan Wendelin Van Draanen :

“Cinta sejati berlabuh setelah kita mengenal dan menghormati orangnya.”

Dan berikut ini adalah kalimat yang merupakan inti dari buku ini:

“Keseluruhan lebih baik dibandingkan jumlah bagian-bagiannya. Begitu pula dengan manusia, hanya kalau manusia kadang kebalikannya, justru keseluruhan diri mereka itu bernilai kecil dibanding jumlah bagian-bagiannya.”

Dalam bahasa Inggris (ini saya ambil dari film, bukan buku berbahasa Inggrisnya) :

“The whole being is greater than the sum of its parts. It is the same with people, but sometimes with people, the whole could be less.”

A word of warning: terjemahan versi Orange Books ini remaja buangeeet *membuat berasa tua* =p. Saya jadi ingin baca versi bahasa Inggrisnya. And I love the movie as much as I love the book! Cuma satu hal yang kurang dari filmnya, yaitu tidak ada si Tukang Pipis Misterius! Siapa dia? Read the book and you’ll know… :D

Flipped movie poster

Bryce dan Juli versi film : diperankan oleh Callan McAuliffe dan Madeleine Carroll

Detail buku:
“Flipped” oleh Wendelin Van Draanen
272 halaman, diterbitkan Agustus 2011 oleh Orange Books
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 697 other followers