Blog Archives
[Review] Flipped: Siap-siap Jungkir Balik!
Cinta monyet tidak pandang bulu. Juli Baker yang masih berusia 7 tahun pun tidak luput dari panah si monyet (#eh) ketika tetangga baru datang untuk tinggal di seberang rumahnya dan membawa serta seorang anak laki-laki sebayanya yang bernama Bryce Loski.
[Juli] Pertama kali aku bertemu Bryce, aku jungkir balik. Pasti karena matanya. Ada sesuatu di matanya. Matanya yang biru dengan bulu mata hitam itu benar-benar memukau.
Dan begitulah keadaannya sampai mereka menginjak kelas sembilan. Juli membuntuti Bryce kemana-mana seperti bayangan kedua. Dan coba tebak apakah Bryce merasakan hal yang sama tentang Juli? Hell no! Selagi Juli kelihatannya tidak bisa jauh-jauh dari Bryce, sebaliknya Bryce malah ogah dekat-dekat dengan Juli. Cuma satu hal yang Bryce mau, yaitu supaya Juli lenyap dari hidupnya.
Kemudian, ketika Juli dan Bryce beranjak remaja, serangkaian insiden aneh nan membingungkan mulai terjadi. Bagi Juli, insiden-insiden ini melibatkan pohon sikamor, ayam-ayam dan telur-telur, pekarangan depan rumahnya, dan tentu saja Bryce. Dan Bryce, yang selama ini menganggap dirinya sedang ‘berperang’ melawan Juli, sebenarnya dia terus berperang melawan rasa takutnya sendiri.
Pengalaman duduk diatas pohon sikamor dan nasihat dari ayahnya untuk melihat sesuatu secara keseluruhan dan jangan hanya satu bagian saja, plus kejadian tak mengenakkan yang melibatkan Bryce, membuat Juli pelan-pelan merasa bahwa ia tidak begitu menyukai Bryce lagi.
Sedangkan Bryce yang awalnya menganggap Juli sebagai si Nona Menyebalkan yang betah menghabiskan waktu diatas pohon sikamor kesayangannya, dan merangkak masuk kandang ayam yang jorok dan kotor, akhirnya melihat sisi lain dalam diri Juli yang mulai membuatnya tertarik…
Tebak siapa sekarang yang jungkir balik…
###
Novel ‘ringan namun berbobot’ yang diberondong pujian dari berbagai pihak (Chicago Tribune, BookPage, Publishers Weekly, Kirkus Reviews, dan lain-lain) ini bukan hanya sekedar menyajikan kisah cinta-cintaan a la remaja, tapi juga pembelajaran karakter dan kisah keluarga yang menghangatkan hati. Karakter-karakter yang ada di dalamnya, mulai Juli yang keras kepala, Bryce yang diam-diam pengecut, Mr. Baker dan Chet yang bijak, sampai Mr. Loski yang doyan merendahkan orang lain; semuanya melambangkan orang-orang di sekitar kita atau bahkan diri kita sendiri. Cerita dalam novel ini tidak akan berlalu begitu saja setelah kita selesai membacanya, namun nilai-nilai yang ada di dalamnya, jika kita renungkan, akan membuka pintu gerbang untuk (istilah kerennya) aktualisasi diri. Novel ini seperti wake-up call yang ‘menyentil’ pola pikir kita secara halus namun tepat sasaran, dan masih mengena juga buat kita-kita yang umurnya sudah tidak belasan lagi….hehehe.
Empat bintang kupersembahkan untuk novel yang benar-benar sanggup bikin pembaca jungkir balik ini. Novel ini highly recommended terutama bagi para remaja! Ada yang tahu novel untuk remaja yang sekeren Flipped ini? Kasih tau saya dong!
Beberapa quote favorit saya dalam buku ini antara lain:
“Karakter seseorang terbentuk sejak kecil, Nak. Pilihan yang kau buat hari ini akan memengaruhi hidupmu sampai kapan pun.”
“Hanya wanita yang keras kepala saja yang bisa membuat hidup terasa lebih hidup.”
–> #tunjukdirisendiri #bloggerbukusedangnarsis #abaikan XD XD
“Walaupun berbagai macam emosi mengaduk perasaan kita setiap hari, tapi jika pada akhirnya kita merasa bahagia, alangkah indahnya.”
“Satu hal sudah kupelajari dari Juli Baker, bahwa jika aku ingin berhasil, aku harus fokus dan terus mencoba.”
Dari halaman Dialog dengan Wendelin Van Draanen :
“Cinta sejati berlabuh setelah kita mengenal dan menghormati orangnya.”
Dan berikut ini adalah kalimat yang merupakan inti dari buku ini:
“Keseluruhan lebih baik dibandingkan jumlah bagian-bagiannya. Begitu pula dengan manusia, hanya kalau manusia kadang kebalikannya, justru keseluruhan diri mereka itu bernilai kecil dibanding jumlah bagian-bagiannya.”
Dalam bahasa Inggris (ini saya ambil dari film, bukan buku berbahasa Inggrisnya) :
“The whole being is greater than the sum of its parts. It is the same with people, but sometimes with people, the whole could be less.”
A word of warning: terjemahan versi Orange Books ini remaja buangeeet *membuat berasa tua* =p. Saya jadi ingin baca versi bahasa Inggrisnya. And I love the movie as much as I love the book! Cuma satu hal yang kurang dari filmnya, yaitu tidak ada si Tukang Pipis Misterius! Siapa dia? Read the book and you’ll know…
Detail buku:
“Flipped” oleh Wendelin Van Draanen
272 halaman, diterbitkan Agustus 2011 oleh Orange Books
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Esperanza Rising
Esperanza. Ramona. Alfonso. Hortensia. Miguel. Membaca nama-nama ini membuat saya merasa seakan kembali ke tahun 90-an di mana telenovela lagi booming-boomingnya
Esperanza Rising, yang sekilas ceritanya mirip A Little Princess versi Latin, memperkenalkan kita pada seorang gadis muda bernama Esperanza Ortega, anak pemilik perkebunan yang luas di Meksiko, yang belum pernah mengenal kesusahan sepanjang hidupnya. Kisah ini dirangkai dengan setting tahun 1930, sepuluh tahun setelah revolusi Meksiko, dan tahun dimulainya Depresi Besar di Amerika.
Tepat sehari sebelum ulang tahun Esperanza yang ketiga belas, terjadi musibah yang tak diharapkan dalam hidupnya. Ayahnya tercinta terbunuh oleh bandit-bandit dalam perjalanan pulang dari perkebunan. Fiesta ulang tahun yang dinanti-nantikan Esperanza lenyap sudah, digantikan duka mendalam. Dengan kematian sang pemilik perkebunan, maka kedua paman Esperanza, Tio Marco dan Tio Luis, memulai rencana busuk mereka untuk menguasai perkebunan itu. Tio Luis membujuk ibu Esperanza, Ramona, untuk menikah dengannya; sehingga Ramona, Esperanza, Abuelita (nenek Esperanza), beserta pekerja-pekerja perkebunan Sixto Ortega yang setia tidak perlu menguatirkan hidup mereka di masa mendatang. Ramona menolak lamaran Luis, kemudian rumah dan tanahnya ludes dilahap api dalam kebakaran besar.
Ramona dan Abuelita mempunyai kecurigaan kuat bahwa kebakaran itu memang direncanakan oleh Tio Luis, sebagai upaya untuk memaksa Ramona agar setuju menikah dengannya. Tak sudi menuruti ambisi licik Tio Luis, Ramona dan Esperanza akhirnya memutuskan kabur ke California, mengikuti pelayan-pelayan mereka, Alfonso, Hortensia, dan anak mereka Miguel. Di kereta menuju California mereka bertemu dengan Carmen, seorang janda dengan 8 orang anak yang baru saja ditinggal mati suaminya. Meskipun begitu, Carmen adalah seorang wanita yang kuat, dan ia berkata,
“Aku miskin, tapi aku kaya. Aku memiliki anak-anakku. Aku memiliki taman dengan bunga-bunga mawar, dan aku memiliki keyakinanku, serta kenangan akan orang-orang yang telah pergi mendahuluiku. Apa lagi yang kubutuhkan?”
Sesampainya di California mereka bekerja di suatu perkebunan milik perusahaan, bersama adik Alfonso yang bernama Juan, istrinya Josefina, serta ketiga anak mereka, Isabel serta bayi kembar Lupe dan Pepe. Sayangnya Abuelita tidak dapat ikut ke California karena sakit.
Di babak baru kehidupannya ini, Esperanza dipaksa untuk berubah dari nona muda yang kaya menjadi pekerja kasar yang miskin. Tidak ada lagi rumah yang megah dan luas, Esperanza dan ibunya harus tidur dalam pondok sempit yang diisi lima orang. Tidak ada lagi gaun-gaun yang indah dan mainan-mainan yang mewah. Ia kemudian bersahabat dengan Isabel, dan Esperanza iri kepadanya karena “…Isabel tidak memiliki apa-apa, tetapi dia juga memiliki segalanya. Esperanza menginginkan milik Isabel. Ia menginginkan begitu sedikit kekhawatiran sehingga sesuatu yang sesederhana boneka benang bisa membuatnya gembira.” Dan Esperanza rindu kepada sang ayah, yang pernah mengajarinya menempelkan telinga di tanah untuk mendengar denyut jantung bumi. Ia rindu mendengar ayahnya membisikkan kata-kata ini kepadanya;
“Aguántate tantito y la fruta caerá en tu mano” (“Tunggu beberapa saat dan buahnya akan jatuh ke tanganmu”).
Cobaan belum berhenti sampai disitu; beberapa bulan setelah pindah ke California, ibunya jatuh sakit karena infeksi yang diakibatkan oleh spora debu setelah terjadinya badai debu, dan juga karena depresi. Inilah saat bagi Esperanza mengambil alih tanggung jawab atas dirinya dan ibunya, dengan bekerja keras untuk membiayai pengobatan ibunya, dan sekaligus menabung untuk ongkos perjalanan Abuelita ke California untuk bisa bersama-sama dengan mereka lagi. Esperanza pun akhirnya paham, bahwa kehidupan itu naik turun, seperti alur zigzag pada selimut Abuelita: ada kalanya naik ke puncak gunung, ada kalanya turun ke lembah. Dan pada saat ia gagal, ia mengingat perkataan Abuelita: jangan takut untuk memulai lagi dari awal.
###
Novel indah yang ditulis Pam Munoz Ryan ini menceritakan riwayat neneknya, Esperanza Ortega. Buku ini unik karena setiap bab diberi judul buah-buahan, misalnya Las Uvas (buah-buah anggur), Las Papayas (buah-buah pepaya), Los Melones (buah-buah melon), dan sebagainya. Selain itu ada resep untuk membuat Jamaica Flower Punch dan cara membuat boneka benang di akhir buku. Nilai moral yang berharga terkandung di dalam buku ini sehingga saya merekomendasikan buku ini terutama kepada para remaja, sesuai segmen yang disasar Penerbit Atria. Terjemahan yang baik, cover yang manis (lebih manis daripada cover aslinya, walaupun hampir sama), dan banyaknya kutipan-kutipan indah nan bijak, membuat buku ini pantas dimasukkan dalam wishlist.
Detail buku:
“Esperanza Rising” oleh Pam Munoz Ryan
238 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥
[Review] Scones and Sensibility
Saya ingin menampar Polly Madassa!
Yap, Polly Madassa, seandainya ia benar-benar nyata, pasti adalah gadis dua belas tahun paling menyebalkan di muka bumi. Dia kira dia sudah mengetahui semuanya tentang cinta dengan membaca Pride and Prejudice serta Anne of Green Gables berulang kali. Ia kecanduan segala sesuatu yang berbau romantis, setiap kata yang ia ucapkan (atau pikirkan) selalu berbunga-bunga dengan kata-kata seperti “indah”, “cantik”, “molek”, “anggun”, dan sebagainya.
Sebagai gadis muda yang salah abad, Polly lebih suka mengenakan gaun daripada t-shirt dan jeans, senang menulis dengan pencahayaan lilin menggunakan pena bulu daripada bolpoin, dan lebih memilih mesin tik daripada komputer.
Polly, yang bekerja membantu mengantarkan kue-kue selama musim panas untuk toko roti antik orangtuanya, merasa bahwa sudah panggilan hidupnya untuk membantu kehidupan percintaan orang-orang terdekatnya. Ia jengah melihat kakaknya, Clementine, yang berpacaran dengan cowok bernama Clint, yang menurutnya, kasar dan sama sekali tidak gentleman. Ia sedih melihat sahabat baiknya, Fran Fisk, dan ayahnya, yang telah hidup selama tiga tahun tanpa kehadiran sosok seorang ibu dan istri. Juga ada Mr. Nightquist, seorang kakek dari cucu lelaki yang nakal, yang telah lama ditinggal mati istrinya.
Maka Polly pun mulai menyusun rencana dan mencarikan “kandidat-kandidat” yang cocok bagi Clementine, Mr. Fisk, serta Mr. Nightquist. Yang masuk dalam kriterianya adalah orang-orang yang berpenampilan menawan dan “berbudaya”, kurang lebih seperti Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, tokoh-tokoh dalam novel yang telah berulang kali dibacanya. Polly menganggap bahwa segala rencananya akan berjalan lancar, dan semua orang yang dijodohkannya akan “mereguk kebahagiaan cinta yang teramat manis”. Polly sama sekali tak sadar bahwa semua yang dilakukannya bisa mengarah kepada bencana…
###
Sayang sekali, saya tidak bisa bilang bahwa saya menyukai buku ini. Saya sudah membaca Pride and Prejudice yang menjadi “kitab suci” bagi Polly dan saya tidak menyukainya. Bagi saya karakter Elizabeth Bennet terlalu dangkal karena ia menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya dan bagaimana ia membawa dirinya. Hey, orang-orang yang rupawan tak selalu jujur dan baik hati. Dan sebagian orang paling baik di dunia tidak tahu cara membawa diri dengan ramah dan ceria di tengah-tengah orang banyak. Keramahan dan keceriaan bisa saja palsu. Polly, menurut saya, sama dangkalnya dengan Elizabeth. Karena ia dengan terburu-buru menilai seseorang sebelum benar-benar mengenal orang itu. Dan ia juga tidak mengerti bahwa sesuatu yang romantis itu relatif, tergantung pada tiap-tiap orang. Sebagian besar juga karena ia mengira ia tahu yang terbaik bagi orang-orang tercintanya.
Nilai moral dari cerita ini adalah, lebih baik tidak usah ikut campur dalam kehidupan cinta orang lain. Anda juga pasti tidak mau kalau ada orang yang melakukan itu kepada anda. Satu bintang saya berikan untuk gaya penulisan Lindsay Eland yang berhasil memadukan gaya bahasa buku-buku klasik dengan setting masa kini, dan sukses membuat saya sebal (dan diterjemahkan dengan sangat baik oleh Mbak Uci) dan satu bintang lagi untuk nilai moral yang diberikan buku ini.
Detail buku:
“Scones and Sensibility”, oleh Lindsay Eland
308 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥
[Review] Kerutan dalam Waktu (A Wrinkle in Time)
“Satu hal yang telah kupelajari, adalah kau tak perlu memahami sesuatu untuk menerima sesuatu itu ada.”
Margaret “Meg” Murry, anak tertua dari empat bersaudara, adalah seorang anak perempuan yang bermasalah di sekolah. Sepertinya ia tidak bisa melakukan apapun dengan benar, para guru dan teman-temannya mencelanya, dan dengan penampilan fisiknya yang “mengerikan”: kawat gigi, kacamata tebal, dan rambut berantakan; ia semakin dianggap makhluk yang aneh. Orangtua Meg adalah sepasang ilmuwan jenius, sehingga orang-orang tak habis pikir mengapa Meg bisa menjadi begitu bodoh, demikian juga adik bungsunya, Charles Wallace. Padahal, mereka sama sekali tidak bodoh, mereka hanya melakukan segala sesuatunya tidak seperti kebanyakan orang. Dan itulah yang membuat Meg dan Charles Wallace berbeda, bahkan berbeda dengan saudara lelaki kembar mereka, Sandy dan Dennys.
Ditambah lagi, ayah Meg telah menghilang secara misterius setelah beliau pergi melakukan pekerjaan untuk pemerintah. Pada suatu malam berbadai yang aneh, Meg akhirnya terlibat perjalanan berbahaya menembus ruang dan waktu untuk menyelamatkan ayahnya, bersama-sama dengan Charles Wallace dan seorang anak lelaki bernama Calvin O’Keefe. Mereka dibantu oleh tiga individu yang masing-masing sangat ganjil; Mrs. Whatsit yang penampilannya seperti perempuan tua yang tenggelam dibawah mantel dan tumpukan syal, Mrs. Who yang memakai kacamata amat besar dan selalu mengutip peribahasa-peribahasa dan ungkapan-ungkapan kuno serta ucapan-ucapan para tokoh terkenal dari abad yang sudah berlalu; serta Mrs. Which yang sosok tubuhnya seakan transparan dan suaranya menggema tajam di udara ketika ia berbicara.
Meg, Charles Wallace dan Calvin melintasi dimensi kelima untuk pergi ke Camazotz, tempat Mr. Murry ditawan oleh ITU, suatu individu jahat yang mengendalikan segala sesuatunya sehingga semua makhluk hidup di tempat itu bergerak dalam satu irama yang sama, sehingga mereka tidak kelihatan benar-benar hidup tapi seperti selongsong kosong yang tak berjiwa. “Mengapa kau pikir orang-orang menjadi bingung dan tidak bahagia? Karena mereka semua menjalani kehidupan mereka masing-masing, terpisah, dan individual. Perbedaan hanya menciptakan masalah,” demikian alasan ITU. Bertiga mereka saling membantu untuk melewati segala bahaya dalam perjalanan mereka, dan pada akhirnya Meg sendirilah yang harus menghadapi ITU, dengan senjata rahasia yang ia miliki namun tidak dimiliki oleh ITU. Akankah Meg memenangkan pertempuran ini?
###
“Buku-buku yang paling melekat dalam kenangan masa kecil kita adalah buku-buku yang membuat kita merasa tidak kesepian, yang meyakinkan kita bahwa kelemahan dan keanehan kita sama individualnya dengan sidik jari dan sama universalnya dengan tangan yang terbuka.”
Demikian kalimat pembuka dari halaman apresiasi yang ditulis oleh Anna Quindlen, seorang penulis dan jurnalis Amerika yang pernah memenangkan Pulitzer Prize, yang entah mengapa diletakkan di bagian awal buku A Wrinkle In Time edisi terjemahan Indonesia terbitan Atria ini. Dalam enam halaman apresiasi ini Anna sudah merangkum isi buku ini, sehingga, bagi anda yang ingin membaca buku ini tanpa terganggu dengan spoiler, maka saya menyarankan anda untuk melewati halaman apresiasi ini dan langsung membaca bab pertama.
Jujur saja, saya agak bingung mengkategorikan buku ini. Pendapat saya ketika sekilas melihat covernya, ini adalah buku anak-anak. Setelah membacanya, saya berpendapat buku ini agak terlalu berat untuk anak-anak, mereka yang sudah memasuki usia remaja yang bisa membacanya. Namun, dalam beberapa bagian, sayapun yang sudah tergolong pembaca dewasa pun agak sulit memahami buku ini, terutama mengenai tesseract alias dimensi kelima, serta siapa sebenarnya Mrs. Whatsit, Mrs. Who, dan Mrs. Which, serta Medium Bahagia serta beberapa tokoh lain yang notabene bukan manusia. Karakter Charles Wallace kecil yang unik juga membuat saya bingung, sebab bagaimana mungkin seorang anak lelaki kecil yang berusia tak lebih dari 9 tahun, dapat berkata seperti ini, “Jalan menuju neraka dilapisi oleh niat-niat baik.”
Kesimpulan yang saya tarik ketika selesai membacanya, A Wrinkle in Time adalah kisah tentang perjuangan batin melawan rasa kesepian, tidak dicintai, dan ketakutan pribadi. (bagi saya buku ini seakan berteriak keras-keras “YOU ARE LOVED!” )
Dan pada akhirnya, perang antara kebaikan dan kejahatan, namun tidak dalam hingar bingar spektakuler seperti yang sering tampak di film-film Hollywood. Semua ini dibungkus rapat oleh penulis dengan rasa fiksi ilmiah dan unsur-unsur sains yang kental, serta imajinasi yang berbeda dengan apa yang sudah sering kita baca sebelumnya.
Dan tentu saja, kutipan-kutipan yang diucapkan oleh Mrs. Who adalah daya tarik tersendiri.
“Tidak ada yang mustahil; kita harus berharap akan segala sesuatu.” – Euripides
“Ab honesto virum bonum nihil deterret. Tidak ada yang mampu menghalangi seseorang yang baik untuk melakukan sesuatu yang terhormat.” – Seneca
“Qui plus sait, plus se tait. Jika seseorang tahu lebih banyak, dia akan lebih sedikit berbicara.” – peribahasa Prancis
Detail buku:
“Kerutan dalam Waktu” (judul asli: A Wrinkle in Time), oleh Madeleine L’Engle
267 halaman, diterbitkan September 2010 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥
[Review] Tuck Everlasting
Bagaimana jika kau bisa hidup selamanya?
Pada minggu pertama bulan Agustus yang panas itu, serangkaian kejadian yang tampaknya tak saling berhubungan terjadi. Pada pagi hari Mae Tuck pergi dengan kudanya ke hutan di sisi Desa Treegap untuk menemui kedua anaknya. Siangnya, Winnie Foster, anak pemilik hutan Treegap bosan dengan hidupnya yang serba teratur, berpikir untuk melarikan diri. Sore harinya, seorang pria asing datang ke rumah keluarga Foster dengan maksud tertentu di benaknya.
Winnie Foster, anak perempuan keluarga Foster yang berusia sepuluh tahun, mengalami hari yang paling tidak terduga sepanjang hidupnya. Ia memasuki hutan Treegap dan melihat seorang pemuda tampan minum dari mata air yang tersembunyi di dekat sebuah pohon besar di pusat hutan itu. Pemuda yang ditemuinya bernama Jesse Tuck, dan Winnie langsung jatuh hati kepadanya. Dan ternyata, Jesse beserta ayah, ibu dan kakaknya telah hidup selama delapan puluh tujuh tahun tanpa menua barang semenit pun!
Keluarga Tuck pun menculik Winnie, namun mereka tidak berniat menyakitinya, hanya untuk memberikan penjelasan padanya bahwa tidak ada seorang pun yang boleh tahu keberadaan mata air keabadian itu. Di saat yang sama, pria asing yang datang ke kediaman keluarga Tuck menawarkan diri untuk menyelamatkan Winnie dari cengkeraman para penculik dan meminta hutan Treegap yang dimiliki keluarga Foster sebagai gantinya.
Winnie harus memilih. Ia harus memilih antara keluarganya sendiri dengan keluarga Tuck yang juga ia kasihi, terutama Jesse. Ia harus memilih antara membiarkan keberadaan mata air itu diketahui—dan dimanfaatkan, atau berjuang untuk menutup rapat-rapat rahasia itu, tidak peduli sebesar apapun harga yang harus dibayar.
###
Buku tipis yang ditulis dengan apik ini mungkin singkat, namun memiliki makna yang sangat bagus. Buku ini menyadarkan kita, bahwa hidup selamanya itu tak selamanya enak, seperti yang dipikirkan oleh banyak orang. Segala sesuatunya di dunia ini diciptakan Tuhan untuk mengecap kehidupan, dan kemudian mati, semua pada waktu dan perencanaan-Nya yang sempurna.
Tuck Everlasting pernah difilmkan pada tahun 2002 dengan bintang Alexis Bledel (Gilmore Girls) dan Jonathan Jackson. Saya tidak tahu apakah versi filmnya setia pada bukunya karena saya belum pernah menontonnya
Detail buku:
“Tuck Everlasting”, oleh Natalie Babbitt
173 halaman, diterbitkan November 2010 oleh Penerbit Atria
My rating : ♥ ♥ ♥
[Review] Theodore Boone, Pengacara Cilik
Theodore Boone, Pengacara Cilik by John Grisham
My rating: 3 of 5 stars
Theo Boone, 13 tahun, bukan remaja biasa. Bukan, Theo bukanlah penyihir seperti Harry Potter dan bukan juga demigod seperti Percy Jackson. Dan jelas Theo bukan vampir ;P
Theo, yang pergi ke sekolah naik sepeda dan punya anjing bernama Judge, adalah putra satu-satunya pasangan suami istri yang sama-sama pengacara, ayahnya pengacara real estate dan ibunya pengacara perceraian. Theo juga mempunyai minat dan pengetahuan yang besar terhadap hukum, khususnya proses hukum pidana. Remaja mana lagi yang betah menghabiskan berjam-jam mengikuti persidangan daripada bermain bola basket atau skateboard di luar rumah? Remaja mana lagi yang bisa menjadi ”konsultan hukum gratisan” bagi teman-temannya yang bingung menghadapi masalah hukum?
Saat Theo sedang mengalami pergumulan yang biasa terjadi pada masa remaja, yaitu mengenai cewek dan cita-cita masa depan, kota tempat tinggalnya dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan seorang wanita di kompleks perumahan mewah, dan tersangka utamanya adalah suami wanita itu!
Theo, seperti (hampir) semua orang lain di Strattenburg, penasaran setengah mati dengan kasus tersebut, dan tak mau melewatkan persidangan, yang diadakan secara terbuka. Tak dinyana, Theo bertemu dengan seorang saksi rahasia dan satu-satunya, yang kesaksiannya dapat mengubah vonis yang akan dijatuhkan kepada terdakwa!
Hanya ada satu masalah, yaitu orang itu tidak mau bersaksi. Sementara si terdakwa sudah sangat dekat dengan vonis bebas, berhasilkah Theo meyakinkan si saksi untuk membeberkan semua yang ia ketahui di persidangan?
==============
”What could John Grisham write for teens?” mungkin adalah pertanyaan yang jawabannya adalah buku ini. Sudah pasti buku ini muatannya lebih “ringan” dari buku-buku John Grisham yang lain, namun bukan berarti buku ini tidak patut dibaca.
Grisham, menurut saya, sukses meramu antara kehidupan seorang remaja berikut seluk-beluknya, pengetahuan dasar mengenai proses hukum pidana di Amerika Serikat, dialog yang cerdas dan cukup lucu, dan karakter-karakter yang membuat cerita semakin hidup.
Buku ini terutama, saya rekomendasikan kepada para remaja. Mudah-mudahan melalui Theo mereka juga bisa belajar mengutamakan pendidikan, dan menumbuhkan “hasrat” belajar yang lebih menggebu. Theo tidak akan menjadi Theo jika ia sebelumnya tidak melahap buku-buku hukum, mengamati proses hukum, banyak berdiskusi dengan orang-orang yang melek hukum bukan?
==============
Buku ini kudapat dari menang kuis di toko buku online langganan… gak sia-sia deh jadi pelanggan setia hehehe.
Lihat post nya di sini!
Kebetulan kakakku juga penggemar John Grisham, dulu waktu masih belasan tahun aku juga sempat coba-coba baca The Firm, The Client, Runaway Jury, A Time to Kill, The Pelican Brief dll. Tapi dasar belum bisa dibebani buku seberat itu, jadi banyak gak selesainya deh.
Sekarang, tiba-tiba sang maestro menerbitkan novel dengan judul Pengacara Cilik. Mungkin bagi penggemar Grisham sejati buku ini hanya ditulis untuk “selingan” saja, karena begitu banyaknya karya Grisham lain yang berat dan serius.
Buatku, mungkin setelah selesai membacanya aku bisa mulai (lagi) untuk membaca karya-karya yang “John Grisham banget”.
Anyway, thanks to Vixxio for giving me this book!
Paperback, 272 pages
Published September 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published May 25th 2010)
Price IDR 42.000
[Review] Betsy dan Sang Kaisar (Betsy and the Emperor)
Betsy and the Emperor by Staton Rabin
My rating: 3 of 5 stars
Saya menemukan buku ini di tumpukan buku diskon 10 ribuan Gramedia Fair, pertama sih tertarik karena covernya yang “remaja banget” dan jelas ada bau-bau kerajaan disitu karena ada kata “Emperor” dan setelah saya membaca sinopsis singkat dibelakangnya, saya pun makin tertarik.
Karena tidak seperti TeenLit biasanya, yang menjadi tema utama dalam buku ini adalah persahabatan antara Betsy dan Napoleon Bonaparte. Saya selalu suka novel historical yang dikemas dengan ringan.
Perlu lebih banyak TeenLit seperti ini! Kisah yang umumnya ditemui dalam TeenLit yaitu cinta remaja masa kini amat membosankan bagi saya, dan maaf saja–dangkal.
Betsy Balcombe si gadis badung yang tinggal di kepulauan terpencil St.Helena, suatu saat kedatangan tamu yang tidak biasa. Dan kehadiran tamu istimewa ini akan merubah seluruh hidupnya. Ya, sang tamu istimewa tidak lain Napoleon Bonaparte, mantan Kaisar Prancis yang baru saja dikalahkan di Waterloo.
Yang paling saya sukai dari buku ini adalah bagaimana penulis menggambarkan Sang Kaisar sebagai sosok yang amat manusiawi, lepas dari kenyataan dia pernah menjadi orang yang amat berkuasa. Karakter Sang Kaisar kadang membuat saya sebal, tapi dia lebih sering dia membuat saya bersimpati. Persahabatannya yang unik dengan Betsy juga sangat menarik, ditambah dengan kebadungan Betsy, muatan-muatan sejarah yang tidak membuat pembaca mengerutkan dahi, semuanya membuat novel ini layak dikoleksi.
Paperback, 269 pages
Published 2007 by Gramedia Pustaka Utama (first published 2004)
Price IDR 29.000






















