Book Tag with Athaya Irfan

Haiii! Masih dalam rangka event BBI Share the Love 2017, kali ini saya dan Athaya tuker-tukeran 10 pertanyaan Book Tag, tentunya masih berkaitan tentang buku dan membaca.

Langsung aja, ini dia Book Tag Ahsyek (minjem istilah Aya) dengan Athaya Irfan:

booktagathaya

  1. Lebih suka buku standalone atau series? Alasannya?

Series, kebanyakan yang aku koleksi buku-buku berseri. Untuk aku buku berseri ceritanya lebih seru, rumit, dan berkelanjutan. Terutama buku fantasi macam A Game of Thrones, Bartimeaus, His Dark Material dan Inkheart. Nggak bisa kubayangkan Harry Potter dan A Game of Thrones gimana jadinya kalau dibikin standalone. Hehehe. Makin rumit ceritanya aku makin suka.

  1. Paling suka membaca dimana? (Ruang tamu, kasur, perpustakaan, garasi, dll?)

Paling suka baca di perpustakaan kalau bisa yang hening dan ada pendingin udaranya. Andai aku punya garasi, loteng atau basement pasti aku akan baca disana khusus kalau lagi baca buku horor dan triller. Tapi untuk baca buku romance paling nyaman di kasur, jadi kalau tiba-tiba nangis nggak ada yang lihat. Uhuk.

  1. Series terfavorit?

The Lunar Chronicles-nya Marrisa Meyer. Ada perpaduan retelling princess di dalam buku ini, seperti Cinderella, Red Riding Hood, Rapunzel dan Snow White. Ada tokoh super jahat dan kejam yaitu Ratu Levana. Totalnya ada 4 buku utama, dan beberapa novella untuk pelengkap. Tapi masih belum baca dua judul lagi yang belum kubaca; Fairest dan Stars Above menunggu diterjemahkan.

  1. Adaptasi film dari buku fantasy yang paling kamu suka?

Harry Potter series. Cast, pemilihan lokasi shoot dan semua di filmnya bagus. Bukunya jadi terasa hidup setelah diangkat jadi film. Kalau di urutan kedua dan ketiga aku suka The Hobbit dan Fallen.

  1. Buku thriller yang menurutmu harus dibaca setiap orang?

Murder on Orient Express-nya Agatha Christie.  Ketimbang Agatha aku lebih rekomen Dan Brown. Tapi bagaimanapun oma Agatha Christie dan Arthur Conan Doyle adalah perintis kisah-kisah thriller sampai akhirnya populer. Setiap orang harus baca buku Agatha minimal satu, lalu Dan Brown. Hehehe.  #MaklumPenulisFavorit

  1. Penulis favoritmu, yang dari Indonesia dan luar negeri?

Dari Indonesia, Tere Liye dan Ilana Tan. Luar negeri, Daniel Brown dan Jenny Han. Aku buatin masing-masing sepasang laki-laki dan perempuan ya. .

  1. Buku karya penulis Indonesia yang menurutmu harus diterjemahkan ke bahasa Inggris?

Gadis Penenun Mimpi-nya Gina Gabrielle, Duologi Negeri Para Bedebah-Tere Liye dan Raden Mandasia. Ketiganya punya potensi lebih diapresiasi di luar daripada di dalam negeri. Ditambah lagi masing-masing punya ide cerita yang nggak biasa. Pembaca dunia mesti baca.

  1. Tim Baca 1 Buku Sampai Habis atau Tim Baca Beberapa Buku dalam Sekali Waktu?

Aslinya aku ini pembaca setia, tim 1 Buku Sampai Habis. Sampai sekarang masih seperti itu. Tapi kadang aku menemukan buku yang ternyata nggak aku sukai lalu beralih ke buku lain. Entah itu bisa disebut Tim Baca Beberapa Buku dalam Sekali Waktu atau nggak. Tapi aku mulai meragukan kesetiaanku pada satu buku. LOL.

  1. Favorite quote

“You only get one life. It’s actually your duty to live it as fully as possible.”Me Before You. Buku ini walau alurnya lambat dan adegan yang repetitif tapi eksekusinya berhasil bikin aku terpana dan simpatik sama dua tokoh utamanya yang berakhir tragis.

  1. Book boyfriend

Thorne – The Lunar Chronicles. Thorne menurutku tipikal boyfriend yang nggak ingin terikat tanggung jawab dengan hal semacam cinta, konyol, dan ingin diagungkan sebagai kapten. Thorne muncul di tiga buku tapi paling berkesan di buku keempat. Perasaan cintanya benar-benar diuji disitu. Keren sekali! Khusus untuk Hot boyfriend aku pilih Jai di buku Tiger On My Bed.


bbi-share-the-love

Post ini sekaligus sebagai penutup rangkaian event BBI Share the Love 2017. Senang sekali saya bisa berpartisipasi dalam event ini dan mengakrabkan diri dengan sesama member BBI yang walaupun “pernah tahu” tapi sebelumnya belum pernah ngobrol. Athaya ini seru juga orangnya hehehe. Gara-gara ngobrol dengan Athaya saya jadi pengen kembali coba baca contemporary romance dan fantasy, ya siapa tahu aja ada buku-buku yang bener-bener saya suka kan? Dari beberapa buku yang muncul dalam Book Tag ini, Murder on the Orient Express otomatis masuk dalam daftar wajib-baca saya. Begitu pula dengan buku Raden Mandasia, kayaknya buku ini heboh banget dibicarain dan banyak yang ngasih review bagus. The Lunar Chronicles menarik juga deh, saya beberapa kali baca retelling dongeng dan biasanya suka. Terima kasih atas rekomendasinya, Athaya!

Oya, guest post saya di blog Athaya bisa dibaca di link berikut ini:

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Baca Sastra Klasik

Book Tag with Melmarian

Saya juga sudah menerima kado BBI Share the Love dari Athaya, yang saya posting di bawah ini:

Terima kasih buat BBI, Athaya, dan juga semua pembaca Surgabukuku! Let’s keep sharing the love! ♥ :*

Guest Post: Novel Romance Paling Berkesan

Guest Post oleh Athaya Irfan, partner saya di event BBI Share the Love 2017.

 

 

Saat aku berkabar dengan kak Melisa untuk dibuatkan guest post, aku teringat aku sendiri belum membuat postingan tentang diriku sendiri. Hehehe. Aku sudah nggak kaget ketika tahu kak Melisa bukan kubu pembaca buku mainstream sepertiku. Aku yang suka baca buku dengan tema utama romance dan drama, sementara Melmarian lebih suka buku-buku klasik dan fiksi historis.

Dulu aku suka banget dengan cerita-cerita drama romantis, tapi sekarang mulai jadi omnireader. Nggak pilih-pilih bacaan. Malah sekarang mulai beralih ke fantasi, triller dan distopia. Fiksi historis kesukaanku pasti semua buku Dan Brown dan satu lagi buku unik berjudul  Rumah Kertas. Bahkan bacaan horor seperti Edgar Allan Poe juga kubaca. Aku mengganggap aku ini sedang dalam masa mencari jati diri. Tidak tetap. Hehehe.

Kak, buku-buku dengan tema romance itu banyak sekali. Aku jadi bingung mau menentukan mana yang paling kusuka. Karena banyak banget yang bagus . Tapi ada beberapa buku yang  akhirnya bikin aku suka dengan buku-buku drama romantis. Dan semua buku yang kusuka pasti aku juga suka dengan penulisnya.

Berikut nama buku-buku yang bikin aku jatuh hati dengan genre romance :

  1. To All The Boys I’ve Loved Before series

Aku suka dengan kisah cinta Lara Jean dan Peter Kavinsky disini, seperti air dan api, begitu juga dengan kisah cinta dua hati Lara Jean dengan beberapa cowok yang  pernah ia suka semasa sekolah dulu. Lara Jean ini tipikal gadis nerd yang suka memendam perasaan dari cowok-cowok yang pernah disukainya. Selain kisah cinta khas anak remaja, juga diselipi dengan kisah keluarga Lara Jean dan persabatan dengan tetangga sebelah rumahnya. Mungkin karena kemampuan Jenny Han merangkai beberapa tema sekaligus  yang bikin aku suka dengan series ini.

  1. Me Before You

Kalau ditanya penulis penghasil cerita kontemporer dengan latar belakang tokoh yang nggak biasa aku pasti akan menjawab Jojo Moyes. Dua buku yang sudah kubaca baru Me Before You dan The Girl You Left Behind, karena yang diterjemahkan baru itu saja. Aku suka dengan cara penulis membuat dua buku itu benar-benar beda, nggak hanya dari siapa tokohnya tapi juga settingnya beda era. Me Before You mengambil point lines singkat tentang gadis miskin dan pria kaya yang kehilangan semangat hidupnya. Sementara The Girl You Left Behind termasuk historical fiksi  tentang  wanita di zaman Perang Dunia I yang mencari tahu pesan terakhir yang ditinggalkan suaminya yang mati di medan perang. Kedua buku itu sama memukau dan pesan moralnya dapet banget.

  1. A Pirate’s Love

Satu-satunya buku Johanna Lindsey yang berhasil kubaca. Aku ingat betul buku ini kudapat di penjual buku loak dengan setengah harga. Aku yang waktu itu masih usia awal masuk SMA nggak sadar buku yang kubeli adalah buku bacaan dewasa. Dan aku merasa kotor pada diriku sendiri waktu itu. Hahaha. Kalau sekarang aku jadi suka baca buku kontemporer romance, itu pasti karne Johanna Lindsey. Ciri khas tulisan dia adalah dua tokoh yang saling bertengkar dan kemudian jadilah cinta. Sederhana itu. Tapi aku tetap memfavoritkan tulisan, berharap bisa baca bukunya Lindsey yang lain suatu hari nanti.

  1. Autumn In Paris

Buku ini bikin menyayat hati, sungguh kalau bukan karena luka, sedih dan depresi yang dialami dua tokoh utama buku ini aku nggak akan setia menunggu buku terbaru Ilana Tan. Menurutku cerita yang dibangun penulis mudah diikuti dan pilihan diksinya bagus. Ada yang bilang untuk penulis lokal, gaya tulisannya baku. Tapi pasti lama kelamaan terbiasa dan enak untuk diikuti.

  1. Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Kalau mau baca buku-buku yang punya bobot atau pesan moral, pasti aku akan bilang Tere Liye. Penulis lokal ini identik sama kisah-kisah yang dekat sama keseharian orang Indonesia. Kalau membuat judul pasti ada landasan filosofisnya. Daun yang Jatuh inti ceritanya juga nggak lepas dari itu.Pesan moral di buku ini benar-benar menohok hati. Bahkan dari judulnya kita akan tahu, bahwa hidup seperti daun biarkan angin membawa kemana kita akan pergi. Let it go. Let it flow.  Karena hakikat cinta itu melepaskan dan mengikhlaskan bukan memaksakan apalagi berusaha melupakan dan membencinya.

Menurutku membaca buku romance itu asyik dan nggak ada habisnya. Mereka senang bermain-main dengan perasaan dan melihat seseorang secara humanis, punya sisi kuat dan juga rapuh. Dan setiap penulis punya cara merangkai cerita yang berbeda-beda. Bisa disesuaikan sama selera kamu lho. Kalau  sudah ketemu dengan penulis favorit pasti lama kelamaan juga akan jatuh hati dan nggak ingin lepas dari genre ini.


My Thoughts:

Sebenarnya saya nggak anti banget kok sama novel romance, buktinya salah satu buku terfavorit saya, Jane Eyre, termasuk dalam genre romance juga. Tapi buku-buku yang temanya dominan romance memang cepat membuat saya bosan. Setelah membaca guest post dari Athaya, saya baru tahu kalau The Girl You Left Behind karya Jojo Moyes termasuk fiksi sejarah berlatar belakang Perang Dunia I. Wah, kalau yang begitu sih biasanya saya doyan, hehehe. Boleh lah masuk dalam rak to-read. 😉

BBI Share the Love 2017: Kenalan dengan Athaya Irfan

bbi-share-the-loveHola!

Maafkan untuk post yang agak terlambat ini. Untuk meramaikan Hari Kasih Sayang sekaligus International Book Giving Day 14 Februari kemarin, saya mengikuti event yang diadakan BBI yang bertajuk BBI Share the Love 2017.

Konsepnya menarik, karena masing-masing anggota BBI yang mengikuti event ini dipertemukan dengan “pasangan” yang nantinya akan mengisi guest post di blognya. Menariknya, dua orang ini hampir bisa dipastikan memiliki selera baca yang berbeda. Selain itu, di akhir event mereka juga saling bertukar kado buku.

“Pasangan” saya adalah Athaya Irfan, yang blognya bisa kamu kunjungi di http://theboochconsultant.blogspot.com/. Sebelumnya Aya pernah memenangi salah satu giveaway yang saya adakan setahun lalu di Instagram, namun baru sekarang melalui event BBI Share the Love ini saya bisa mengenalnya lebih dekat. Saya masih ingat kegembiraannya waktu memenangkan buku To Kill a Mockingbird, dan ternyata ketika paketnya datang dia merasa kaget dan senang karena saya kasih hadiah tambahan berupa crochet bookmark yang cantik.

Dari akun Instagram Athaya – yang sudah lama nggak diisi update terbaru, kenapa ya?

Siapa sih, seorang Athaya Irfan? Berikut ini perkenalan cewek manis berhijab (dan masih single, lho!) yang menyukai genre Fantasy, Thriller, YA, dan Contemporary Romance ini. Kebanyakan memang saya copas dari percakapan di WA, karena Aya sendiri sudah menceritakan tentang dirinya begitu rupa sehingga saya nggak perlu repot-repot menyusun ulang hasil pembicaraan, hehehe.

aya-hans

Alkisah 19 tahun yg lalu, lahir anak perempuan bernama Athaya Irfan.

Lahir dari seorang ibu yg ngidam jeruk mandarin namun tidak dibelikan oleh suaminya.

Ia tumbuh mnjadi gadis tomboi, karena pengaruh kakak2 sepupunya. Setelah beberapa waktu tinggal di Semarang, ia kembali ke Jakarta dan memiliki satu orang adik laki-laki yang lahir ditengah ajang Piala Dunia di bulan Juni.

Athaya sekarang masih kuliah semester 2. Bapaknya berharap ia ambil jurusan Akuntansi dan kerja perbankan, tapi akhirnya ia mengambil jurusan yg belajar bumi dan seisinya, yaitu Pendidikan Geografi.

Aslinya Athaya ini pendiam bgt, makanya suka nulis, dan paling suka baca buku sambil mandangin hujan.

Hobinya baca buku kalo senggang, nonton film animasi dan mengoleksi potongan komik/artikel di koran. Biasanya yang bertema seni fotografi, destinasi negara , mural, seni graphic lainnya yang abstrak, dan kadang puisi di koran mingguan.

 

Itu perkenalan yang Aya tuliskan sendiri. Nah, setelah ubek-ubek blognya, walaupun genre preference kami berbeda, saya menemukan ada beberapa kesamaan antara saya dan Athaya:

  1. Nggak suka baca buku diselingi aktivitas lain, misal makan, nonton tv, masak, push up atau angkat beban. -> Sama nih, walau nggak pernah kepikiran baca buku sambil push up atau angkat beban, hahahaha. Saya juga nggak suka baca buku sambil dengerin musik, karena buntut-buntutnya malah pengen nyanyi dan hilanglah konsentrasi membaca.
  2. Sangat suka dengan buku-buku yang menyisipkan data sejarah di dalamnya -> Sama! Saya juga demen sama historical fiction, sebenarnya ingin memperbanyak baca buku-buku sejarah juga, tapi sayangnya banyak buku sejarah yang bikin ngantuk 😛
  3. Buku klasik pertama yang dibaca adalah Secret Garden. Masih ingat banget kalau buku ini punya logo mawar mewah di bawahnya yang jadi ciri khas Gramedia untuk beberapa buku tertentu saat itu. Dan sayang sekali lini buku seperti ini sudah sulit ditemukan. -> The Secret Garden bukan buku klasik pertama yang saya baca, tapi salah satu buku klasik favorit saya. Dan betul, karena sekarang bukunya sudah langka, maka jadi semacam “harta karun” di rak yang bisa membuat iri beberapa orang, hihihi.

Oya, kamu juga bisa kepoin cuitan-cuitan Athaya di akun Twitternya: @JerukNipisAnget.

Nah, segitu dulu postingan pembuka BBI Share the Love 2017 sekaligus perkenalan teman baru saya Athaya Irfan. Nantikan postingan selanjutnya yang akan mengambil tema genre-genre buku yang paling disukai Aya: Fantasy, Thriller, YA, dan Contemporary Romance!

Rumah Kertas – Carlos María Domínguez

rumah-kertasSatu kata yang paling pas untuk menggambarkan novella yang hanya setebal 76 halaman ini adalah: Gila. Sinting. Edan. Crazy. Insane. Complete & utter madness. You name it lah…

Buku ini memang tentang orang-orang yang gila. Lebih spesifik lagi; gila buku. Tentang para kolektor buku dan pelahap bacaan yang rakus, yang rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membangun ‘kerajaan’ berupa perpustakaan pribadi. Tentang kecemasan mereka yang sudah mengumpulkan begitu banyak buku sehingga tidak tahu lagi mau disimpan dimana buku-buku tersebut. (Don’t I know it!). Tentang sulitnya merawat dan memelihara koleksi buku, ketika jumlahnya sudah bukan lagi sebuah kebanggaan, tetapi mulai menjadi beban. Tentang terbatasnya waktu untuk membaca–padahal waktu-waktu menyepi bersama buku itulah yang paling dirindukan para pecinta buku.

Sekarang saya masuk ke bagian yang ‘gila’. Buku ini bercerita tentang Bluma Lennon, seorang dosen Universitas Cambridge yang meninggal tertabrak mobil, saat sedang asyik membaca buku kumpulan puisi Emily Dickinson. Tentang rekannya yang menerima paket yang dialamatkan kepada Bluma, yang berisi sebuah buku terjemahan Spanyol karya Joseph Conrad, yang dipenuhi serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Tentang penyelidikan yang dilakukan oleh sang rekan, yang membawa dia bertemu orang-orang gila buku lainnya, menelusuri kebiasaan-kebiasaan para bibliofil mulai yang normal hingga yang di luar batas kewajaran, dan menguak kebenaran mengerikan di balik misteri buku Joseph Conrad yang bersalut serpihan semen kering.

Rasanya saya sudah cukup mengungkapkan alasan mengapa buku ini layak dibaca. Bila perlu alasan lain:

1. Buku tentang buku selalu menarik untuk disimak.
2. Mungkin kita tidak akan pernah tahu keberadaan buku ini, boro-boro membacanya, jika tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dan diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri. Karena, saya pernah membaca bahwa Uruguay adalah negara paling kecil kedua di Amerika Selatan. Versi terjemahan buku ini belum lama terbit (September 2016 lalu) dan relatif gampang menemukannya di toko-toko buku terdekat.

Detail buku:
Rumah Kertas (judul asli: La casa de papel), oleh Carlos María Domínguez
76 halaman, diterbitkan 2016 oleh Marjin Kiri
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

tolstoyBuku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

Detail buku:
How Much Land Does A Man Need?, oleh Leo Tolstoy
64 halaman, diterbitkan 2015 oleh Penguin Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Selamat Hari Blogger Nasional!

Walau terlambat beberapa hari, ijinkan saya mengucapkan Selamat Hari Blogger Nasional!

Ya, tanggal 27 Oktober dicanangkan menjadi Hari Blogger Nasional sejak tahun 2007 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Bapak Muhammad Nuh.

Di akhir bulan Oktober 2016 ini juga, kebetulan blog Surgabukuku telah mencapai milestone 500.000 views, setelah hampir 6 tahun! 🙂 Yah, untuk blog yang frekuensi update-nya tidak teratur, bagi saya pencapaian ini cukup menggembirakan. Artinya, walaupun jarang ada post baru, post-post lama saya masih bisa berguna dan dinikmati oleh pembaca. Terima kasih kepada semua pembaca Surgabukuku! ♥

surgabukuku-500k

Surgabukuku Top 10 Posts (per 31 Oktober 2016, 2:42 PM):

surgabukuku-top-5

Dari kegiatan book blogging yang sederhana ini saya bisa bertemu dengan banyak orang dari dunia perbukuan, mulai dari sesama blogger buku (khususnya yang tergabung dalam Blogger Buku Indonesia/BBI), penulis, penerbit, sampai orang-orang yang bergerak di bidang literasi. Mungkin karena itulah juga salah seorang kawan meminta saya untuk menjadi salah satu pembicara dalam event diskusi literasi dalam acara Literaturia, 2 Oktober 2016 yang lalu. (baca artikelnya di sini) Walaupun secara pribadi saya merasa apa yang saya bagikan di acara tersebut masih jauh dari maksimal, tapi semoga masih bisa bermanfaat dan menginspirasi teman-teman yang sudah jauh-jauh datang ke acara tersebut.

Bagi saya, kegiatan blogging (khususnya tentang buku) menjadi pintu gerbang untuk cita-cita yang lebih besar: meningkatkan minat baca orang Indonesia. Wow, kelihatannya muluk-muluk banget ya. Tapi bukan mustahil terjadi lho, sekecil apapun aksi yang kita lakukan pasti ada dampaknya. Karena itu, saya ingin bilang kepada semua pegiat literasi di luar sana, baik yang bekerja secara online maupun offline: jangan patah semangat! Kerja keras kalian pasti ada buahnya suatu hari nanti.

Let’s get to work!

LPM: Literaturia, Surabaya 2 Oktober 2016

Selamat pagi BBI-ers,

Pernah ikutan festival literatur, baik lokal maupun internasional? 😀 Saya sih jarang, haha. Kadang karena di Surabaya sendiri, acara literatur semacam ini jarang dan jaraknya cukup jauh dari rumah saya, dan bikin saya malas berangkat.

Kalian mengenali salah satu pembicara pada poster diatas? Pada tanggal 2 Oktober 2016 kemarin, Kak Melisa Mariani, pemilik blog Surgabukuku, diundang menjadi pembicara pada Literaturia. Literaturia mengusung tagline “The first, biggest, and most diverting literary event in Surabaya”. Di acara ini, Kak Melisa menjadi perwakilan BBI sebagai komunitas perbukuan dan penggemar baca.

Anyway. Dari BBI Surabaya, sayangnya hanya saya yang bisa datang, padahal menurut saya acara ini cukup kece dan menginspirasi. Literaturia digagas oleh grup Surabaya Youth, dan mengusung beberapa jenis acara. Mulai dari coaching class mengenai menulis, Chatterbus bersama Bernard Batubara, baca puisi, dan juga music performance (menurut saya DJ-nya yang ngeremix My Way ganteng sih…) #jadisalahfokus Saya juga hanya berkesempatan mengintip kelas Drop-A-Line bersama Hipwee dan Di-sku-shion yang diadakan sore hari.

Selain Kak Mel, ada beberapa tamu lain sebagai narasumber yaitu Mutia Prawitasari, penulis Teman Imaji, Ivana Kurniawati perwakilan dari Pecandu Buku, dan Akhyari Hananto dari Good News from Indonesia. Dimoderatori oleh Kak Hasan Askari, acara ini berlangsung hangat dengan format diskusi bersama peserta.

Di-sku-shion mengangkat tema dunia perbukuan dan peran komunitas perbukuan dalam masyarakat. Selain itu, disinggung juga mengenai Surabaya sebagai Kota Literasi. Ada banyak cerita menarik dari para narasumber. Mulai dari pengalaman suka dan duka Pecandu Buku yang menyediakan lapak baca di Surabaya. Kisah-kisah pembaca dan juga pengalaman Kak Akhyari di luar negeri, yang jadi membuka mata saya betapa mundurnya negara kita ini. Dari penulis Kak Mutia, ada cerita mengenai penulis-penulis yang ingin terkenal secara instan sehingga buku-bukunya tidak mengikuti proses penerbitan yang benar, dan kondisi kualitas literatur Indonesia saat ini, yang menurut saya sendiri memang memprihatinkan. Kak Mel sendiri bercerita mengenai suka duka menjadi blogger buku.

Ada banyak kendala mengapa literatur dan budaya kita masih tidak berubah. Salah satunya adalah regulasi dan instruksi pemerintah tanpa adanya tindakan langsung dari pemerintah. Ada juga sentilan mengenai sikap pemerintah yang plinplan dan cenderung membiarkan. Pegiat kegiatan semacam ini memang kurang mendapat support dari pemerintah, terbukti dari cerita Kak Ivana kalau Pecandu Buku sering kena gusur. Masyarakat sendiri masih tidak membudayakan bercerita dan membaca yang baik, lagi-lagi terbukti dari banyaknya acara televisi yang tidak mendidik, budaya membajak dan minta gratisan, membicarakan sisi negatif dari sebuah kejadian saja dan tidak berfokus pada sisi positif, dan menjadikan berita-berita jelek (bahkan hoax) viral. Hal-hal ini dianggap menghambat kemajuan bangsa kita.

Kak Mel sedang menceritakan bagaimana buku dapat mengubah cara pandang seseorang

 

Dari diskusi ini juga ada definisi literasi yang menarik menurut para narasumber. Literasi adalah sesuatu yang mencerahkan, membuat kita merasa dan mendaya guna, serta sesuatu yang berproses dalam keberadaannya. Literasi tidak hanya tentang buku, tapi juga berbagai hal yang mengelilingi buku itu sendiri seperti pembaca, penulis, kritikus, dan lain-lain. Saya sendiri setuju dengan definisi ini. Dan saya juga berpendapat Indonesia memiliki banyak sekali PR untuk meningkatkan kualitas literasi, termasuk mengubah pola pemberian informasi sehingga lebih positif 🙂
Semoga kedepannya, kita bisa semakin memajukan dunia literasi di Indonesia dengan hal-hal yang positif, bermutu, dan bermanfaat. Because literacy and books can, literally, change our lives and our mindsets.
Kiri ke Kanan: Hasan Askari, Akhyari Hananto, Melisa Mariani, Mutia Prawitasari, Ivana Kurniawati
Sekian LPM dari saya. Karena saya bikinnya agak buru-buru, maafkan kesalahan dalam penulisan dan juga tata bahasa yang mungkin dianggap tidak sesuai dengan EYD.
-Nina Ridyananda, The Bookaddict Diaries

New Hobby, Blogger’s Block and (Almost) Reaching my Classics Club Goal

Hello guys.

As it so often happened before, I find myself having blogger’s block. It’s not just about boredom this time, but also because now I have a new hobby that takes up a lot of my time and energy: colouring! I started colouring almost a year ago but right now, you can say that I’m more enthusiastic of it than ever.

Now, I’m not going to rattle on too much about colouring, because reading and colouring are quite different (though, there are a lot of colouring books based on novels/literature). But in my defense, I love it. Isn’t that what you should do to spend your free time, something you love? So forgive me if I sort of abandoned this blog. I still read, of course, but at this time I just don’t find the spirit to write book reviews. Yes it sounds bad, but this sort of thing happens, I guess. Maybe next year I will get tired of colouring and will get back into book blogging and reviewing with full force, who knows.

However, I have good news too. Back in March 2012, I joined The Classics Club. My original list (which contains a number of classic books I should read in the course of 5 years) contained 100 titles. Then I shrunk it into 60, and by now (September 2016) I have finally read 50 titles. Yay! I’m quite proud of this achievement, even though I couldn’t keep up with writing the reviews (I’ve only written 30 reviews out of 50 books so far), and even though I still have 10 books to read (which honestly I don’t think I will be able to finish reading before March 2017 ends), and even though there are people out there who are more successful in reaching their Classics Club goal (for example: read 100 books and wrote reviews for every single title). Jeez, that was a lot of even thoughs. No matter, I will still read classics, maybe 3-5 titles every year.

And lastly, soon I will review a self-published book in this blog. It’s something I’ve never done before, but the book’s theme is quite interesting and hopefully a lot of people will like it.

Now I will leave you with a “bookish” colouring work I did some time ago.

Cheers!

“Not all those who wander are lost” ~ J.R.R. Tolkien

Bacaan Liburan Campur Aduk a la Surgabukuku (dan Mini-Reviews)

Banner Posbar 2016Hola!

Post ini dibuat dalam rangka ikutan event Posbar BBI bulan Juli 2016 dengan tema #BBIHoliday. Di bawah ini adalah daftar bacaan liburan (campur aduk) a la Surgabukuku. Kok campur aduk? Soalnya isinya buku dari macam-macam genre, mulai buku anak, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, sampai sastra klasik.

Ada 2 daftar dalam post ini, yang pertama adalah buku-buku yang pernah saya baca selama liburan (Read on Holiday(s)) dan yang kedua adalah buku-buku yang menurut saya cocok untuk dibaca selama liburan (Recommended Holiday Reads).

 Off we go!

Read on Holiday(s)

Flora & Ulysses: The Illuminated Adventures – Kate DiCamillo

Dibaca: 2 Juli 2016

Saya yakin banyak di antara teman-teman yang sudah tidak asing dengan karya-karya pengarang ini, misalnya The Miraculous Journey of Edward Tulane dan Because of Winn-Dixie. Nah, di buku Flora & Ulysses ini humornya yang lebih ditonjolkan oleh Tante Kate, bukan seperti di buku-buku lainnya yang biasanya menyentuh (baca: bikin mewek).

Tokoh utamanya adalah gadis kecil bernama Flora Belle Buckman, seorang cynic dan nerd yang sudah membaca sampai habis tiap seri komik berjudul Terrible Things Can Happen to You! Suatu hari, tetangga Flora membeli vacuum cleaner berkekuatan “super” yang dinamakan Ulysses 200X. Saking supernya, si vacuum cleaner menyeret Tootie si tetangga ke halaman luar, dan menyedot seekor tupai malang sampai setengah gundul. Eh ternyata, setelah tersedot vaccum cleaner tersebut, si tupai (yang akhirnya diselamatkan oleh Flora Belle dan dinamai Ulysses) jadi memiliki kekuatan super!

Ceritanya agak tak biasa bagi yang sudah familier dengan karya-karya Kate DiCamillo, tapi tetap menghibur, dan tetap ada nilai-nilai persahabatan dan kekeluargaan yang biasanya menjadi sorotan di dalam setiap bukunya. Dan ilustrasi di dalamnya membuat feel-nya seperti membaca novel dan komik dalam 1 buku.

How Much Land Does A Man Need? – Leo Tolstoy

Dibaca: 17 Juli 2016

Buku mungil ini adalah satu dari 80 (iya, DELAPAN PULUH!) buku yang diterbitkan di bawah label Penguin Little Black Classics. Ada 2 cerpen karya Tolstoy di dalamnya: How Much Land Does A Man Need? dan What Men Live By.

Classics for holiday reads? Why not? 😛 Toh buku ini berisi cerita pendek dan menurut saya termasuk ringan untuk dinikmati selama liburan. How Much Land Does A Man Need? dibuka oleh percakapan dua orang saudari (satunya bersuamikan petani, dan yang satunya lagi bersuamikan pedagang yang hidup di kota). Mereka berdebat kehidupan mana yang lebih baik, kehidupan petani ataukah pedagang. Mendengar perdebatan mereka, dari suami yang berprofesi sebagai petani tercetus kalimat ini: “Seandainya saja aku punya cukup tanah, aku pasti tidak akan tergoda cobaan apapun dari Iblis!” Kemudian ia membeli tanah yang lebih luas dan lebih subur di daerah yang jauh dan membawa keluarganya pindah ke sana. Lama kelamaan ia ingin lebih dan lebih banyak tanah lagi. Cerpen ini mengajarkan kita tentang bahaya ketamakan.

Sedangkan What Men Live By bercerita tentang seorang pengrajin sepatu yang pergi untuk membeli mantel musim dingin yang baru baginya dan istrinya (mantel yang lama sudah tipis dan usang). Di perjalanan, ia bertemu seorang lelaki muda misterius yang entah bagaimana tidak berpakaian, padahal saat itu cuaca bersalju dan dingin menggigit. Meskipun tadinya sang pengrajin sepatu ingin pergi meninggalkan si pemuda karena “bukan urusannya”, tapi akhirnya ia jatuh kasihan dan memakaikan mantelnya yang usang ke si pemuda dan membawanya ke rumah. Sesuai judulnya, si pemuda dan keluarga si pengrajin sepatu pada akhirnya memahami, dengan apa manusia hidup.

i capture

I Capture the Castle – Dodie Smith

Dibaca: 22 Mei 2016

Termasuk novel coming-of-age klasik, buku ini menarik karena tokoh-tokohnya yaitu keluarga Mortmain, tinggal di sebuah istana. Bukan, mereka bukan keluarga bangsawan. Jangan bayangkan istana yang megah dengan lusinan pelayan, istana yang mereka tinggali adalah istana yang sudah lama diabaikan, dan malah ada bagian yang hanya tinggal puing-puing. Namun pemandangan di sekitar istana itu sangat indah, dan ada danau yang bisa direnangi saat musim panas. Setiap karakter di dalam novel ini sangat menarik dengan kekhasannya masing-masing, namun yang menjadi sentral adalah kakak-beradik Rose dan Cassandra. Rose yang tertua, paling cantik, dan sudah capek hidup miskin. Cassandra tidak secantik Rose, tapi dialah yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, yang akan kita lihat jatuh cinta dan berkembang menjadi lebih dewasa. Suatu hari, keturunan dari pemilik istana yang mereka tinggali datang. Mereka adalah kakak beradik Simon dan Neil Cotton yang berasal dari Amerika, dan Rose langsung melihat Simon sebagai kesempatan untuk keluar dari hidup keluarganya yang miskin. Sulit meringkas plot novel ini dalam satu paragraf karena untuk novel yang termasuk dalam genre young adult, cerita novel ini cukup kompleks. Namun ada banyak bagian yang menghibur, misalnya ketika Rose dan Cassandra dikejar-kejar karena dikira beruang, padahal mereka hanya mengenakan mantel bulu beruang warisan bibi mereka yang nyentrik. Walaupun saya agak merasa meh dengan endingnya, saya cukup menikmati novel ini, apalagi deskripsi keindahan alamnya yang khas Inggris bikin cocok banget untuk dibaca dalam suasana liburan.

pohon2 sesawi

Pohon-pohon Sesawi – Y.B. Mangunwijaya

Dibaca: 23 Desember 2015

Walaupun disebut sebagai novel, buku yang sesungguhnya berisi beberapa naskah milik Romo Mangun yang tercerai-berai ini lebih terasa seperti kumpulan cerita. Melalui tangan Joko Pinurbo dan Tri Kushardini-lah naskah-naskah ini disunting hingga bisa menjadi buku yang enak dibaca. Saya tadinya agak takut membaca karya Romo Mangun karena takut isinya terlalu “teologis” tapi ternyata ketakutan saya sama sekali tidak terbukti, malah saya sangat menikmati buku yang termasuk out-of-my-comfort-zone ini. Dalam buku ini Romo Mangun menceritakan suka duka kehidupan sebagai Romo di paroki, dengan gaya jenaka yang bisa membuat pembaca terbahak-bahak. Banyak istilah Katolik yang bisa jadi membingungkan pembaca non-Katolik, tapi saya rasa buku ini bisa dibaca semua kalangan (yang berpikiran terbuka). 🙂

Recommended Holiday Reads

Tidak Ada New York Hari Ini – M. Aan Mansyur

Oke, buku ini mungkin adalah buku puisi paling kekinian saat ini. Tapi serius, jika untuk liburan kamu ingin membawa buku yang tipis, gampang dan cepat dibaca maka buku ini pilihan yang tepat. Apalagi jika kamu bepergian dengan kereta atau berjalan-jalan di kota besar (tidak harus New York), foto-foto di dalam buku ini cocok banget untuk menemani liburanmu.

The Penderwicks at Point Mouette – Jeanne Birdsall

Seri The Penderwicks adalah seri buku anak dengan tokoh utama 4 bersaudari: Rosalind, Skye, Jane, dan Batty dan anjing mereka, Hound. Dari keempat buku yang sudah terbit (saya belum membaca buku ke-4), menurut saya yang paling cocok dibaca saat liburan adalah buku ke-3, The Penderwicks at Point Mouette. Ceritanya, Skye, Jane dan Batty berlibur di pantai di Maine dengan bibi Claire dan sahabat mereka Jeffrey, tanpa kehadiran Rosalind saudari mereka yang tertua. Otomatis Skye-lah yang menjadi OAP (oldest available Penderwick) yang bertanggung jawab atas saudari-saudarinya yang lebih muda. Selain usaha keras Skye agar semuanya under control, pembaca juga akan diberi kejutan melalui perkembangan cerita untuk karakter Jeffrey. Selain seri Harry Potter dan Narnia, seri The Penderwicks ini adalah buku anak yang paling saya sukai.

The Penderwicks (buku #1) pernah saya review di sini.

And Then There Were None – Agatha Christie

Bayangkan kamu diundang berlibur ke suatu pulau terpencil bersama 9 orang lainnya, lalu satu demi satu mereka terbunuh dengan mengerikan. Hehehe, semoga jangan pernah terjadi beneran ya, serem. 😄 Nah, jika kamu ingin sedikit ketegangan untuk spice up your holiday, maka buku inilah jawabannya. Buku ini akan bikin kamu jantungan menebak-nebak siapa yang akan mati berikutnya dan siapa pembunuhnya. Tapi tolong jangan buka halaman terakhir sebelum saatnya tiba ya!

And Then There Were None pernah saya review di sini.


Okeeeee, kali berikutnya kamu pergi liburan, mungkin satu atau dua buku dari tujuh buku di atas bisa jadi pilihanmu untuk bacaan liburan. Ciao!

Wishful Wednesday (31)

wishful-wednesday1Okeeee saya tahu ini hari Kamis, tapi karena kemarin saya cuti dan nggak sempat buka laptop, maka ijinkan saya posting Wishful Wednesday hari ini ya.

Meme Wishful Wednesday ini ternyata udah masuk post yang ke-200, lho. Woah, congratulations! Siapa tau saya kecipratan hoki bisa dapet giveaway dalam rangka WW ke-200 ini, jadi berikut ini buku yang jadi wishlist saya:

cinta semanis racun

Foto: Penerbit Diva Press

Sinopsis (dari Goodreads.com):

Antologi ini memuat 99 cerpen terjemahan karya 99 pengarang terkemuka dari pelbagai penjuru dunia dan zaman, dari sastrawan klasik semacam Leo Tolstoy hingga pengarang masa kini berusia awal 40-an serupa Liliana Blum. Lebih dari dua per tiganya, tepatnya 74 di antara 99 cerpen, pernah dipublikasikan sebelumnya di 20 media cetak nasional dan daerah.

Dalam antologi ini, kita bisa membaca pula jejak pencapaian para pengarang terkemuka di berbagai belahan dunia dan zaman. Dari para empu Eropa seperti Anton Chekov, Fyodor Dostoyevsky, Emile Zola, James Joyce, dan Franz Kafka hingga para maestro Amerika Latin semacam Jorge Luis Borges, Jorge Cortazar, Carlos Fuentes, Isabel Allende, dan Roberto Bolano. Tak ketinggalan juga para kampiun Nobel Sastra serupa Gabriel Garcia Marquez, Octavio Paz, Nadine Gordimer, Gao Xingjian, dan Mo Yan. Suara-suara utama masa kini dalam pentas sastra dunia antara lain diwakili oleh Horacio Castellanos Moya (pengarang Honduras yang disebut-sebut World Literature Today layak meraih Nobel Sastra), Etgar Keret (penulis Israel yang menarik perhatian dunia), dan Haruki Murakami (novelis laris yang berkali-kali menjadi kandidat pemenang Nobel Sastra).

Aku segera menyelesaikan dinding itu. Kurapatkan batu terakhir pada tempatnya. Lalu aku merekatkannya dengan semen. Terakhir, aku menumpuk belulang menutupi dinding baru itu. Hingga setengah abad tak seorang pun mengusik mereka. Beristirahat dengan damai! –Anggur Amontillado, Edgar Allan Poe

632 halaman, hardcover. Dikuratori dan diterjemahkan oleh salah seorang penerjemah favorit saya. Banyak nama pengarang di dalamnya yang termasuk pengarang klasik. Jadi, nampaknya memang ini buku yang wajib saya koleksi, walaupun kemungkinan besar bakal ditimbun dulu enggak langsung dibaca sampai habis. Harga aslinya Rp 155.000, tapi jika preorder sampai dengan tanggal 18 Agustus 2016 (informasi preorder di link ini) bisa membeli buku ini dengan harga Rp 124.000 (masih diatas harga maksimal hadiah WW yak, nanti selisihnya aku ganti deh :D).

Semoga saya beruntung! 🙂

N.B.: kamu juga bisa ikutan Giveaway dalam rangka WW ke-200 ini, sampai dengan hari Senin, 25 Juli 2016. Cek informasi lengkapnya di sini.