Quo Vadis? – Henryk Sienkiewicz

quo vadis

“Tanamlah air mata, supaya kelak kalian menuai kegembiraan.

Mengapa kalian harus gemetar menghadapi kuasa kejahatan? Jauh di atas sana Tuhan bersemayam, sebagaimana Dia bersemayam di dalam hatimu.

Parit boleh penuh dengan mayatmu, tapi kaulah nanti yang akan memperoleh kemenangan.”

– hal. 389

Quo Vadis? mengetengahkan Kerajaan Romawi dibawah pemerintahan Nero, sekitar 34 tahun setelah kematian Kristus. Kehidupan para bangsawan Romawi pada masa itu penuh pesta pora dan kecabulan, mereka menyembah dewa-dewa yang tak terhitung banyaknya, bahkan Nero sendiri pun disebut dewa. Yang hari ini kita sebut dengan “asal bapak senang”, demikianlah rakyat Romawi pada masa itu. Mereka menyanjung-nyanjung sang Caesar walaupun sebenarnya amat membencinya, mereka menantikan saat-saat Nero bertandang ke kota mereka, karena itu berarti pertunjukan dan pembagian gandum. Nero atau Ahenobarbus (si ‘Janggut Perunggu’) sendiri adalah pelawak gendut yang gila, pengecut dan berhati keji.

Kisah dibuka dengan seorang bangsawan, Petronius, yang dikenal sebagai sang Penilai Keindahan dan kesayangan Nero. Keponakannya, Marcus Vinicius, suatu hari datang ke rumahnya dan mengatakan bahwa ia telah jatuh cinta. Gadis yang ketiban cinta Vinicius adalah seorang dari bangsa barbar yang bernama Lygia. Maka disusunlah rencana untuk merampas Lygia dari tempat dimana ia tinggal. Petronius bicara kepada Nero supaya Lygia diserahkan kepada Vinicius, tapi sebelumnya ia harus berada di istana raja beberapa waktu. Disanalah Lygia menyaksikan segala ketidaksenonohan yang terjadi dalam pesta Caesar. Padahal Lygia masih amat suci dan ia adalah pengikut Kristus yang taat.

Kaburnya Lygia dari istana memancing berita-berita palsu, termasuk bahwa Lygia telah menenung anak Caesar dan Poppaea, si Augusta Kecil, sehingga ia meninggal. Vinicius tanpa lelah mencari Lygia karena cinta yang membara. Dia terus berjalan sampai ke Ostrianum, dimana Petrus, Rasul yang Agung, berkhotbah dan memberkati domba-dombanya. Diapun ikut mendengar ajaran Petrus dan lama-kelamaan makin terpesona dengan ajaran baru ini.

Suatu saat ketika sang Caesar mengunjungi Antium, ia berhasrat untuk membuat sajak yang menandingi Iliad-nya Homerus. “Namun aku belum pernah melihat kota terbakar,” keluhnya. Mendengar ini, Tigellinus, salah seorang bawahan Nero yang licik mengatur agar seluruh kota Roma dibakar. Dan Roma benar-benar menyala oleh api yang ganas. Akhirnya dikabarkan berita bahwa orang-orang Kristen-lah yang membakar kota Roma. Pembantaian besar-besaran dan banjir darah pun dimulai. Semuanya disajikan dalam “pertunjukan-pertunjukan” sadis yang tak terbayangkan.

Melalui pena Sienkiewicz, pembaca disuguhi kisah keteguhan iman orang-orang Kristen yang menghadapi ancaman maut pada masa itu. Mereka menerima kematian dengan wajah ditengadahkan ke langit, dan sebelum ajal tiba, mereka melihat sesuatu yang membuat wajah mereka bercahaya dalam kedamaian. Rasul Petrus, yang sempat putus asa karena domba-domba yang dipercayakan Kristus kepadanya telah habis dibantai Nero, akhirnya melihat Tuhan pada saat ia hendak meninggalkan Roma. Ia akhirnya sadar bahwa kebenaran takkan bisa dihancurkan oleh kekejian Nero, takkan bisa dibendung oleh legiun pasukannya, dan walaupun sudah amat banyak darah yang tertumpah, itu hanya akan membuat orang-orang Kristen semakin banyak. Roma diserahkan ke tangan Petrus, yang tadinya kota kecabulan menjadi kota bagi kemuliaan Kristus.

Banyak bagian dari kisah ini yang amat berkesan bagi saya. Cinta Vinicius dan Lygia yang semula hanya nafsu menggebu-gebu dan akhirnya berkembang menjadi cinta sejati dalam roh, dan akhirnya Vinicius sendiri menerima Kristus dan mencintai Dia sepenuh jiwa seperti Lygia. Pertobatan Chilo sang pengkhianat. Iman yang ditunjukkan orang-orang Kristen sewaktu maut menjemput. Hikmat dan kekuatan yang dimiliki Petrus, sang Rasul yang hanya seorang tua bungkuk berpakaian sederhana.

Bab-bab pertama terus terang agak membuat saya bosan, karena banyak menjelaskan tetek bengek kehidupan Romawi dan banyak sekali catatan kaki. Tapi setelah menemukan alur ceritanya, rasanya kisah ini cukup enak dibaca, tidak seberat yang saya bayangkan sebelumnya. Quo Vadis mungkin dianggap kisah yang penuh siksa dan penderitaan, tapi di dalamnya juga terkandung makna bahwa dibalik semua itu pasti ada pengharapan baru. Ada yang mati tapi kemudian ada yang lahir. Setelah kegelapan yang paling pekat sekalipun pasti ada cahaya fajar. Dan bagi orang-orang yang meyakini yang sama dengan yang saya yakini, apabila kita bertanya “Quo Vadis, Domine?”, sesungguhnya Dia tidak kemana-mana. Tapi dibutuhkan iman yang besar untuk melihat itu.

Detail buku:
Quo Vadis?, oleh Henryk Sienkiewicz
552 halaman, diterbitkan November 2009 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1896)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Have A Little Faith – Mitch Albom

Have a Little Faith (Sadarlah)Have a Little Faith by Mitch Albom
My rating: 5 of 5 stars

Ini buku Mitch Albom pertama yg kubaca, yang langsung membuatku jatuh cinta 🙂

Tokoh utama dalam kisah ini adalah 2 orang pemimpin agama yg berbeda, Rabbi Albert Lewis dan Pastor Henry Covington. Kedua orang ini memberikan yang terbaik dari apa yang mereka yakini, dan walaupun keyakinan mereka berbeda, kita bisa merasakan bahwa pesan yang mereka bawa itu sama, yaitu kebaikan dan cinta kasih tanpa pandang bulu.

Orang-orang yang berpikir bahwa mereka bisa menghakimi orang lain dari keyakinan atau agama mereka harus membaca buku ini, supaya mereka mengerti bahwa Tuhan telah memberikan kepada manusia suatu itikad baik untuk melakukan segala hal, tidak peduli kepada siapa atau apa keyakinannya ditujukan.

Kamu dapat menjadi seorang Kristen, Muslim, Yahudi, Buddha dan lain-lain tetapi kamu masih mempunyai itikad baik itu di dalam dirimu. Tuhan juga memberi kita kehendak bebas yang membebaskan kita untuk memilih, apakah kita mau menggunakan itikad baik itu atau tidak.

Kamu mungkin meyakini bahwa keyakinanmu adalah yg paling benar dari segala keyakinan yg lain, tapi apakah itu berarti kamu tidak dapat mengasihi atau menyadari keberadaan orang lain sama seperti dirimu sendiri? Apakah itu berarti bahwa orang-orang yang tidak punya keyakinan yg sama denganmu semuanya buruk dan jahat?

Siapa yang meyakini yang benar, dan siapa yang akan pergi ke surga, mungkin kita tak akan pernah tahu. Tetapi seperti yang telah ditunjukkan secara brilian oleh Mr. Albom dalam buku ini, kamu bisa memilih untuk berbuat kebaikan kepada orang lain, tak peduli latar belakang mereka, dan kamu dapat melakukannya tanpa mengharapkan upah apapun, hanya karena kesadaran bahwa kamu adalah suatu makhluk ilahi (Godly creature) yang dinamakan manusia.

View all my reviews

Softcover, 284 pages
Published November 2009 by Gramedia Pustaka Utama (first published September 16th 2009)
Literary Awards: Michigan Notable Book (2010)
Price: IDR 40,000

The Secret Garden – Frances Hodgson Burnett

Taman Rahasia (The Secret Garden)Taman Rahasia by Frances Hodgson Burnett
My rating: 5 of 5 stars

The Secret Garden adalah suatu karya klasik yang timeless, dan meskipun ini buku anak-anak, orang dewasapun sangat boleh untuk membacanya. Karena nggak cuma memuat dalamnya pikiran seorang anak, tetapi buku seperti ini membuatmu berhenti dan mengambil napas dalam-dalam, untuk sejenak melupakan bahwa kamu berada di tengah-tengah kehidupan kota yg sibuk atau apalah ;-P, dan tiba-tiba kamu berada di taman, dengan Mary, Dickon, dan Colin.

Sejenak kamu bisa merasakan hembusan angin padang moor dan mencium wangi mawar. Buku ini memberikan penghargaan terhadap keajaiban alam dan persahabatan. Bahwa hal-hal yang paling pahit dan kecut bisa berubah, seperti Mary, Colin, dan Lord Craven berubah dalam kisah ini.

Bahayanya adalah, buku ini memberi suatu gagasan, suatu keyakinan akan kekuatan yg disebut ”Sihir”, yg bertanggung jawab atas segala keajaiban yang terjadi di taman dan di dalam diri mereka sendiri.
Orang-orang dewasa yang lebih mengerti, setelah tahu bahwa anak-anak pun menyadari ada suatu kuasa yang bekerja dalam kehidupan, dan mungkin mereka tidak tahu apa namanya, rasanya kita bertanggung jawab untuk mengarahkan mereka, jika kita tidak mau mereka mengucapkan syukur kepada ”Sihir”, kepada mawar atau angin.

Oh ya, jauh sebelum saya membaca bukunya, saya udah menonton filmnya duluan dan menyukainya. Bagian favoritku dalam film yaitu di akhir film, ketika Mary berkata ”Colin has learned to laugh and I learned to cry.” Paradoks yang menarik, menurutku.
Agak kaget juga ketika membaca bukunya dan menemukan banyak sekali perbedaan antara buku dan film, misalnya di dalam film ibu Mary dan ibu Colin adalah saudara kembar, tapi ternyata dalam buku tidak begitu.
Terlepas dari semuanya itu, saya masih berpendapat bahwa buku ini layak mendapatkan apresiasi karena penulis telah menorehkan “keajaiban” dengan caranya sendiri.

View all my reviews

Softcover, 320 pages
Published March 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1909)
Price: IDR 35,000

To Kill A Mockingbird – Harper Lee

To Kill A Mockingbird: Novel Tentang Kasih Sayang dan PrasangkaTo Kill A Mockingbird: Novel Tentang Kasih Sayang dan Prasangka by Harper Lee

My rating: 5 of 5 stars

Novel yang pernah memenangkan Pulitzer dan katanya terjual lebih dari 30 juta kopi di seluruh dunia dan jadi bacaan wajib anak2 di AS ini akhirnya selesai juga kubaca.

Alurnya mengalir dengan menyenangkan, cenderung apa adanya tanpa kata-kata yang berlebihan, walaupun ada beberapa bagian terjemahan yg mengganggu.

To Kill a Mockingbird bercerita mengenai kehidupan seorang pengacara di kota kecil Maycomb, negara bagian Alabama bernama Atticus Finch, yang hidup dengan kedua anaknya Jem dan Scout Finch. Hidup kedua anak ini spontan berubah total ketika sang ayah memutuskan menjadi pengacara pembela bagi seorang kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan. Dalam novel yang kukira bersetting sekitar tahun 1930-an ini sudah ada mobil, sudah ada Coca-Cola, namun salah satu yang belum ada adalah kesetaraan antara warga kulit putih dan kulit berwarna di Alabama.

Sampai membaca bab kesembilan, belum ketahuan alur sebenarnya dari kisah ini, yang ada ketika aku membaca bab 1-8 ada perasaan seperti sedang membaca seri misterinya R.L. Stine, karena dalam bab 1-8 tersebut diceritakan bagaimana Jem dan Scout serta teman mereka Dill, berusaha memancing tetangga mereka yang misterius yang tak pernah keluar rumah selama 20 tahun, Boo Radley, untuk keluar. Dalam bayangan mereka Boo adalah seseorang yang seperti monster jahat, dan aku tetap penasaran siapakah Boo Radley sesungguhnya sampai akhirnya penulis membukanya pada bab terakhir.

Pujian yang diberikan The New York Times kepada buku ini rasanya tidak berlebihan : “…karakter yang patut dikenang…”. Karakter favoritku tentu saja Atticus, sang pengacara paruh baya yang bijaksana, hampir tidak pernah lepas kontrol di depan siapapun. Setiap kata yang diucapkan Atticus sangat berharga bagi keseluruhan buku ini. Jem, anak lelakinya yang cerdas dan sedang memasuki masa pubertas yang membuat bingung adik perempuannya, Scout, gadis kecil 8 tahun yang ingin tahu dan cenderung emosional, yang belum tahu caranya “jadi wanita terhormat”.

Kepelikan konflik dalam kisah ini dan kompleksitas karakter-karakter lainnya, yang walaupun punya bagian kecil namun semuanya memberi nilai-nilai berharga untuk dipelajari, membuatku  setuju bahwa buku ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah ditulis.

Scout : “Tidak Jem, kukira hanya ada satu jenis manusia. Manusia.”

Jem : “Pikirku juga begitu, saat aku seusiamu. Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci?”

View all my reviews

Softcover, 533 pages
Published : 2006 by Qanita (Mizan Group)
Literary Awards: Pulitzer Prize for Fiction (1961)
Price: IDR 65,000