The Wizard of Oz – L. Frank Baum

The Wizard of Oz (Oz, #1)The Wizard of Oz by L. Frank Baum

My rating: 3 of 5 stars

Kisah fantasi anak-anak yg sarat imajinasi dan petualangan. Setiap kali Dorothy dan kawan-kawan datang ke suatu tempat, selalu saja ada yg baru, entah itu kawanan Kera Bersayap atau perkampungan yang seluruh penduduk dan bangunannya terbuat dari porselen Cina yang gampang pecah.

Dari cerita ini kita juga dapat belajar dari kebersamaan dan kesetiakawanan Dorothy dengan Scarecrow, Tin Woodman dan Singa Penakut bahkan ketika mereka masing-masing telah menemukan tempat paling nyaman bagi mereka, mereka tetap dengan setia mendampingi Dorothy sampai tujuannya tercapai, yaitu kembali ke kampung halamannya di Kansas.

Gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini sederhana dan tidak bertele-tele, dalam banyak bagian tidak ada penjelasan yang detil tentang peristiwa yang sedang terjadi. Namun maklum, ini buku untuk anak-anak.

Ada beberapa hal yg masih ‘ganjel’ di hati saya, antara lain:

1. Entah mengapa sang penulis memberi kisah ini judul “The Wizard of Oz”. Jelas-jelas tokoh utamanya adalah Dorothy, disusul kawan-kawannya. Si Penyihir Oz sendiri hanya bagian kecil dari kisah ini.

2. Rasanya lebih pas kalau “Scarecrow” tidak usah diterjemahkan menjadi “Boneka Jerami”. Yah itu menurut saya saja sih 😉

Lepas dari itu semua, saya sangat menyukai kisah ini, termasuk juga karena adanya ilustrasi-ilustrasi cantik di edisi terjemahan terbitan Atria. 4 stars for this!

View all my reviews

Paperback, 206 pages
Published October 22nd 2010 by Penerbit Atria (first published 1900)
Price IDR 24.900

Advertisements

Betsy and the Emperor – Staton Rabin

Betsy and the Emperor (Betsy dan Sang Kaisar)Betsy and the Emperor by Staton Rabin
My rating: 3 of 5 stars

Saya menemukan buku ini di tumpukan buku diskon 10 ribuan Gramedia Fair, pertama sih tertarik karena covernya yang “remaja banget” dan jelas ada bau-bau kerajaan disitu karena ada kata “Emperor” dan setelah saya membaca sinopsis singkat dibelakangnya, saya pun makin tertarik.

Karena tidak seperti TeenLit biasanya, yang menjadi tema utama dalam buku ini adalah persahabatan antara Betsy dan Napoleon Bonaparte. Saya selalu suka novel historical yang dikemas dengan ringan.

Perlu lebih banyak TeenLit seperti ini! Kisah yang umumnya ditemui dalam TeenLit yaitu cinta remaja masa kini amat membosankan bagi saya, dan maaf saja–dangkal.

Betsy Balcombe si gadis badung yang tinggal di kepulauan terpencil St.Helena, suatu saat kedatangan tamu yang tidak biasa. Dan kehadiran tamu istimewa ini akan merubah seluruh hidupnya. Ya, sang tamu istimewa tidak lain Napoleon Bonaparte, mantan Kaisar Prancis yang baru saja dikalahkan di Waterloo.

Yang paling saya sukai dari buku ini adalah bagaimana penulis menggambarkan Sang Kaisar sebagai sosok yang amat manusiawi, lepas dari kenyataan dia pernah menjadi orang yang amat berkuasa. Karakter Sang Kaisar kadang membuat saya sebal, tapi dia lebih sering dia membuat saya bersimpati. Persahabatannya yang unik dengan Betsy juga sangat menarik, ditambah dengan kebadungan Betsy, muatan-muatan sejarah yang tidak membuat pembaca mengerutkan dahi, semuanya membuat novel ini layak dikoleksi.

View all my reviews

Paperback, 269 pages
Published 2007 by Gramedia Pustaka Utama (first published 2004)
Price IDR 29.000

Reuni Tsunami – Ita Sembiring

Reuni TsunamiReuni Tsunami by Ita Sembiring
My rating: 1 of 5 stars

Peringatan: review ini saya tulis dengan blak-blakan tanpa tedeng aling-aling!

Buku ini mungkin salah satu buku paling buruk yang pernah saya baca. Sebenarnya ide ceritanya cukup menarik walaupun njelimet dan tetap saja kurang masuk akal ala cerita sinetron. Buku ini saya temukan di tumpukan buku obralan dan saya tertarik ketika membaca sinopsis di bagian belakang buku yang berbunyi:

“Seperti karya-karya Ita Sembiring lainnya, Reuni Tsunami juga mencoba menangkap realitas yang terjadi di tanah airnya, Indonesia – meski penulis saat itu menetap di Roosendaal-Belanda. Jalinan cerita yang ditampilkannya hendak menangkap kegelisahan, kekalutan, kesedihan, bahkan keculasan yang terjadi ketika bencana tsunami melanda sebagian besar wilayah Aceh dan Sumatra Utara.

Lewat novel ini, Ita Sembiring mencoba secara spesifik mengangkat Pulau Nias sebagai setting cerita. Inilah novel yang penuh ekspresi dan emosi, serta sungguh berani memasuki isu-isu sensitif.”

Harus saya akui, apa yang disajikan dalam novel ini sangat jauh dari yang saya harapkan. Ini juga bukanlah karya pertama penulis jadi saya tidak tahu mengapa novel ini terkesan –maaf– seperti karya amatiran.

Berikut ini adalah apa yang saya temukan dalam novel ini.

1. Deskripsi setting kurang mendalam. Katanya setting dalam kisah ini adalah Pulau Nias, ternyata Pulau Nias tidak dijelaskan sedalam penulis menjelaskan Lugon de Sable, tempat pertanian anggur Chantal berada, dan Saint Emilion, kota penghasil wine terkenal di Prancis. Walaupun tentu saja kedua tempat itu pasti sangat eksotik, namun seharusnya tetap Indonesia yang ditonjolkan dalam kisah ini.

2. Terlalu banyak karakter, sehingga sekali lagi karakterisasi tidak mendalam sama sekali. Sifat satu tokoh protagonis dengan protagonis lainnya hampir tidak ada bedanya. Emosi tidak tergali dengan baik. Dan seakan-akan satu tokoh dan tokoh lainnya begitu gampang jatuh cinta.

3. Terlalu banyak tokoh bule dalam kisah ini. Kalau mau ada tokoh bule sebaiknya tidak lebih dari 2 orang, jikalau kisah ini mau mempertahankan ke-Indonesia-annya. Namun tidak demikian, dalam kisah ini ada Chantal, anak lelakinya Sardou, keponakannya Nigel, ada Duncan Bennett, dan Auguri McKendry.

4. Penggunaan bahasa pada dialog yang tak mungkin terjadi di dunia nyata. Contohnya seperti berikut:

“Masih ingat bagaimana malam-malam kau perkosa aku gara-gara kurang puas dengan ibu gendut itu? Sambil menggerayang paksa tak henti mulut kotormu menghina ibu gendut yang sudah memberi kau makan, memeliharamu sebagai pemuas seks, sekaligus anjing penjaga?”

Dialog diatas diucapkan seorang pelacur didepan orang banyak. Sekalipun seorang pelacur di dunia nyata hendak memaki orang yang pernah memerkosanya, saya kira kata-kata yang keluar tidak akan seperti diatas.

5. Penggunaan bahasa Inggris dengan grammar kacau. Bayangkan, adakah orang bule yang berkata, “Hey, what’s happen here?” Grammar yang benar adalah “Hey, what happened here?”. “Saved by the bell” bukannya “Save by the bell”. Saya heran mengapa yang seperti ini lolos proses editing. Semua kata dalam bahasa Inggris dan Prancis yang ada dalam novel ini tidak ada yang diset dengan font italic.

6. Penulis memulai setiap bab dengan puisi pendek, dan dari 14 bab dalam novel ini ada 11 bab yang diawali kutipan dari Alkitab Perjanjian Lama tanpa menyebut sumbernya. (!) Berikut ini ayat-ayat Perjanjian Lama yang dikutip penulis.

Bab 3 – Yesaya 5:20

Bab 4 – Yeremia 2:2

Bab 5 – Yeremia 8:4

Bab 6 – Yeremia 8:15

Bab 7 – Yesaya 48:6-7

Bab 8 – Yeremia 9:1. Pada pendahuluan bab ini bahkan penulis memotong ayat yang dikutip. Di buku tertulis “Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangis.”

Sementara Yeremia 9:1 sesungguhnya berbunyi, “Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangisi orang-orang puteri bangsaku yang terbunuh!”

Bab 9 – Yesaya 5:12

Bab 10 – Yesaya 3:24

Bab 11 – Kidung Agung 5:3

Bab 12 – Kidung Agung 5:9

Bab 13 – Yeremia 9:10

Saya tidak tahu apakah yang seperti ini bisa dikategorikan plagiat, karena mengutip tanpa mencantumkan sumbernya. Saya tidak tahu mengapa editor meloloskan hal ini. Saya juga tidak tahu menahu tentang keyakinan yang dianut penulis sampai ia berani memotong kutipan ayat kitab suci. Yang saya tahu ini tidak benar dan ini merupakan kesalahan fatal.

7. Ada dua kejanggalan yang amat ketara yang saya temukan. Yang pertama di halaman 171, ketika Mellisa bertemu dengan Gundari, perempuan Indonesia di Prancis. Awalnya dijelaskan bahwa Gundari serta suami dan anaknya selamat dari bencana tsunami karena mereka pergi ke Pematang Siantar. Kemudian Gundari mengatakan bahwa ia sudah lama menetap di Prancis, menikah dengan orang Prancis dan punya anak satu. Nah, yang mana yang benar? Apakah suaminya yang pertama meninggal sehingga ia menikahi orang Prancis?

8. Kejanggalan yang kedua, dan ini merupakan puncak kejengkelan saya terhadap novel ini. Pada hal 181 dikisahkan awal pertemuan Chantal dan Pagoh di kapal pesiar. Pagoh berkata, “Kupikir tadi diriku Leonardo di Caprio, jatuh cinta dengan Kate Winslet di kapal Titanic.”

Tsunami terjadi tahun 2004. Sedangkan film Titanic yang dibintangi Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet keluar pada tahun 1997. Di hal 69 dijelaskan bahwa masa “kini” dalam kisah adalah 29,5 tahun setelah Pagoh meninggalkan tanah kelahirannya. Umur Sardou, anak Chantal dan Pagoh ketika disapu tsunami kira-kira pertengahan duapuluhan. Bagaimana mungkin pada awal pertemuannya dengan Chantal, Pagoh menyebut-nyebut film Titanic sementara seharusnya setting waktunya sekitar tahun 1975 hingga 1980?

Satu-satunya hal positif mengenai buku ini adalah buku ini membuat “ketajaman” saya sebagai pembaca terasah.

View all my reviews

Paperback, 198 pages
Published 2007 by Gramedia Widiasarana Indonesia

The (Un)Reality Show – Clara Ng

The (Un)Reality ShowThe (Un)Reality Show by Clara Ng
My rating: 3 of 5 stars

Fresh, funny, and intimidating. Itu yg saya rasakan saat membaca The (Un) Reality Show. Seperti biasa kelihaian Clara Ng membuat saya larut dalam cerita dan tak mampu meletakkan buku, dan membuat saya tersenyum kecil, cengengesan, sampai terbahak-bahak.

Tentang endingnya… Yah, saya rasa semua yang pernah membaca buku ini setuju bahwa endingnya sangat tak disangka-sangka, totally unpredictable.

Jujur saya tak terlalu suka endingnya,karena saya sudah terlanjur berharap bahwa tokoh Azuza, Jodi, Wendy, Primus, Richard, Meiying, Tara, Feivel sungguh-sungguh nyata dan hidup di kehidupan ini, hehehe.

Namun salut utk Clara Ng yg mampu meramu cerita yg berlapis-lapis, tanpa membuat kening pembaca berkerut terlalu dalam. Saya kasih tiga bintang utk buku ini.

View all my reviews

Paperback, 360 pages
Published 2005 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 50.000

Perjalanan Mata dan Hati – Prima Rusdi

Perjalanan Mata dan HatiPerjalanan Mata dan Hati by Prima Rusdi
My rating: 5 of 5 stars

Buku ini adalah kumpulan cerpen karya Prima Rusdi yang dimuat di majalah CosmoGIRL! pada rentang waktu tertentu (saya lupa). Yang jelas saya membeli buku ini ketika masih SMA, dan isi buku ini sangat mengena bagi remaja putri seperti saya (pada waktu itu).

Gaya tutur yang ringan dan enak, bentuk cerpen yg berbeda-beda (ada yg seperti skenario, penggalan-penggalan, dll) dan kepekaan Mbak Prima akan kehidupan cewek remaja membuat yang membaca buku ini seakan bercermin ketika melihat tingkah laku para tokoh dalam kumpulan cerpen ini, dan akhirnya menjadi suatu refleksi dan introspeksi diri.

Last word, buku ini adalah kumpulan cerpen sederhana yang mampu mengubah mindset banyak cewek remaja di Indonesia yang membacanya. Bahkan ketika saya membaca buku ini lagi (ketika saya sudah bukan lagi remaja ;P ) rasa-rasanya masih relevan dengan kehidupan saya yg sekarang.

Good one!

View all my reviews

Published 2004 by Terrant Books
Price IDR 39.500

The Five People You Meet in Heaven – Mitch Albom

The Five People You Meet in Heaven - Meniti BianglalaThe Five People You Meet in Heaven – Meniti Bianglala by Mitch Albom
My rating: 3 of 5 stars

Seperti judulnya, buku ini berkisah tentang pertemuan seorang yg telah mati dengan 5 orang berbeda di “surga”. Tapi entah mengapa judul terjemahan Indonesianya jadi “Meniti Bianglala” bukannya “5 Orang Yang Kautemui di Surga”. Judul kedua kurang menarik kali ya ;P

Dan sama seperti buku Mitch Albom yg pernah saya baca sebelumnya, Have a Little Faith: The Story of a Last Request, penggalan-penggalan dalam buku ini dibuat pendek-pendek dan dengan alur maju mundur. Bagi beberapa orang yang tidak suka “menyatukan kepingan-kepingan puzzle”, mungkin agak kurang nyaman membaca buku seperti ini.

Yang paling saya sukai dari buku ini tentu saja kekayaan imajinasi Mr Albom dalam merangkai kisah, mengembangkan karakter Eddie dan karakter2 lain, membuat setting “surga” versi dirinya, dan pelajaran-pelajaran dari kelima orang yang ditemui Eddie di “surga”.

Pelajaran-pelajaran tersebut, walaupun mungkin sudah sering sekali kita dengar, tetaplah pelajaran-pelajaran yg baik untuk diingat kembali, karena jujur saja, kita sering “lupa” makna hidup, dan makna menjadi bagian dari umat manusia.

Bagaimanapun, pertanyaan terakhir yang membekas ketika saya selesai membaca buku ini, adalah “Mengapa Eddie diberikan pelajaran-pelajaran itu ketika ia sudah mati? Bukankah mestinya seorang manusia memperoleh pelajaran2 ttg hidup sebelum ia tiada, supaya ia sadar betul bahwa ia berarti, bahwa ia disayangi, dan akhirnya memanfaatkan setiap helaan nafasnya dengan penuh rasa syukur?” 🙂

View all my reviews

Paperback, 204 pages
Published 2005 by Gramedia Pustaka Utama (first published 2003)
Price IDR 33.000