Book Challenge 2011

Okey, ini post terakhirku di tahun 2010 😉

Menyambut tahun 2011, saya sebagai pecinta buku ingin menantang diri sendiri untuk membaca lebih banyak buku!

Karena saya baru menemukan kembali kecintaan terhadap buku pada pertengahan 2010 (sebelumnya sibuk dengan banyak hal selain buku ;P), maka banyak sekali buku yang belum kubaca.

Selain menetapkan jumlah buku yang akan dibaca (misalnya, saya mau membaca 60 judul buku tahun ini –> Goodreads 2011 Reading Challenge), ikut Book Challenge – What’s In A Name 4 seru lho!

Book Challenge ini menantang kita, para pecinta buku, untuk membaca buku-buku sesuai dengan 6 persyaratan yang sudah ditetapkan. Selain membuat kita banyak bereksplorasi mencari judul-judul buku yang sesuai persyaratan, kita juga sangat disarankan untuk “bermain” genre buku. Artinya, kita ditantang untuk memilih genre yang berbeda-beda untuk buku-buku yang disertakan dalam Book Challenge tersebut, dan berani mengambil genre-genre buku yang tidak pernah kita sentuh sebelumnya, atau malah yang kurang kita sukai!

Ini dia listku untuk Book Challenge 2011 – What’s In A Name 4 :

1. A book with a number in the title:

kartu kedua belas

The Twelfth Card — Jeffery Deaver

Genre : Thriller

Penerbit : GPU

2. A book with jewelry or a gem in the title:

A Golden Web — Barbara Quick

Genre : Historical fiction, Young Adult

Penerbit : Atria

3. A book with a size in the title:

daddy long legs

Daddy Long Legs — Jean Webster

Genre : Classics, Children & Teens

Penerbit : Atria

4. A book with travel or movement in the title:

The Voyage of the Dawn Treader (Chronicles of Narnia #5) — C.S. Lewis

Genre : Fantasy, Classics

Penerbit : GPU

5. A book with evil in the title:

devils kiss

Devil‘s Kiss — Sarwat Chadda

Genre : Misteri, historical

Penerbit : Atria

6. A book with a life stage in the title:

the old man and the sea

The Old Man and The Sea — Ernest Hemingway

Genre : Classics, Inspirational

Penerbit : Serambi

Book Challenge 2011 – What’s In A Name 4 ini sebelumnya juga dimuat di Blog Baca Buku Fanda, dimana Mbak Fanda menantang pembaca blognya untuk merekomendasikan buku untuk tugas no. 2 dan 4.

Saya sih berharap bisa mendapatkan buku no. 4 yaitu The Journey (Guardians of Ga’Hoole #2) karya Kathryn Lasky. Hehehe… semoga dikabulkan oleh Mbak Fanda. Amiiinn 😀

Tertarik untuk ikut Book Challenge ini juga? Daftarkan posting blog kamu di sini!

Kisah-kisah Tengah Malam – Edgar Allan Poe

Kisah-kisah Tengah Malam Kisah-kisah Tengah Malam by Edgar Allan Poe

My rating: 4 of 5 stars

“Mereka yang berkeliaran di lembah itu
Melihat sesuatu di balik dua jendela istana
Roh gentayangan bergerak dan berdansa
Mengikuti irama suling yang ditiup;
Di atas takhta, duduklah
Seorang penguasa istana
Gagah dan penuh kemenangan.”

“Istana Berhantu” dari Misteri Rumah Keluarga Usher (1839)

Kisah-kisah Tengah Malam yang judul aslinya adalah Tales of Mystery and Terror, adalah kumpulan tiga belas cerita pendek bertema horor gotik karya Edgar Allan Poe.

Inilah judul ketiga belas cerita pendek yang ada dalam Kisah-kisah Tengah Malam sesuai daftar isi:

  1. Gema Jantung yang Tersiksa
  2. Pesan Dalam Botol (namun di halaman cerita judul yang tercantum adalah Catatan dalam Botol)
  3. Hop-Frog
  4. Potret Seorang Gadis
  5. Mengarungi Badai Maelström
  6. Kotak Persegi Panjang
  7. Obrolan dengan Mummy
  8. Setan Merah
  9. Kucing Hitam
  10. Jurang dan Pendulum
  11. Pertanda Buruk
  12. William Wilson
  13. Misteri Rumah Keluarga Usher

Jika Anda belum pernah mengenal atau mendengar nama Edgar Allan Poe, beliau adalah seorang penulis cerita pendek, penyair, dan kritikus sastra kelahiran Boston, Amerika Serikat, yang hidup antara tahun 1809-1849 (umurnya pendek hanya 40 tahun), dan boleh disebut sebagai salah satu pelopor genre horor/misteri/teror/suspens di masanya.

Dalam Kisah-kisah Tengah Malam, pembaca akan dibawa ke dalam situasi dan tempat yang berbeda-beda; di dalam rumah tua yang seram, di atas kapal yang dilanda badai, di atas tebing curam, dalam istana raja, dan di dalam penjara yang gelap pekat.
Salah satu ciri khas Poe adalah penggunaan sudut pandang orang pertama atau “Aku” dalam setiap cerita dalam buku ini. Uniknya, hampir-hampir tak ada penjelasan mengenai “Aku” di setiap cerita. Tidak ada nama, kecuali dalam cerita pendek berjudul William Wilson ketika si “Aku” menyebut dirinya dengan nama yang sama dengan judul cerita pendek tersebut. Dalam beberapa cerita yang lain, disebutkan bahwa “Aku” memiliki istri, jadi jelaslah dalam cerita pendek itu sang tokoh utama adalah seorang laki-laki.

Ciri khas Poe yang kedua, yaitu penggambaran sedemikian rupa kondisi psikis sang tokoh utama dalam cerita, yang sarat kegilaan, dicekam ketakutan dan teror yang berkecamuk dalam jiwa dan benak. Pada cerita pertama, Gema Jantung yang Tersiksa, pembaca diajak menyelami kegilaan yang dialami sang tokoh utama, seseorang yang telah membunuh seorang tua dan menyembunyikan tubuhnya di bawah lantai kayu.
Selain itu, dari cerita-cerita yang dituturkan, kita dapat melihat betapa Poe adalah orang cerdas yang berpengetahuan luas.
Di dalam cerita Catatan Dalam Botol dan Mengarungi Badai Maelström, Poe memaparkan dengan panjang-lebar mengenai terjadinya badai yang menggulung laut. Saya pribadi berpendapat kedua cerita tersebut agak melelahkan untuk dibaca, karena panjangnya penjelasannya. Namun membaca Obrolan dengan Mummy menjadi angin segar bagi saya, karena wacana mengenai mumifikasi ras tertentu di Mesir adalah baru bagi saya.

Cerita favorit saya dari semuanya adalah Setan Merah, yang menurut saya paling menakutkan sekaligus menakjubkan. Dalam cerita ini Poe membuktikan bahwa beliau adalah benar-benar seorang master horor yang mampu membangun cerita yang membuat pembacanya tak berani menarik napas ketika membaca.

Secara keseluruhan, membaca Kisah-kisah Tengah Malam membuka jendela yang sama sekali baru bagi pembaca yang belum pernah mengecap karya Poe sebelumnya, membawa kita semua di alam yang mungkin asing, tapi sungguh menantang.
Sedikit saran saja bagi Anda yang agak penakut, walaupun judul buku ini Kisah-kisah Tengah Malam, saya tak akan menyarankan Anda untuk membacanya pada tengah malam, karena mungkin—mungkin saja, bisa timbul imajinasi liar dalam kepala Anda dan akhirnya Anda mengalami salah satu cerita horor khas Edgar Allan Poe. ;-P

View all my reviews

Softcover, 245 pages
Published December 28th 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 40,000

Message In A Bottle – Nicholas Sparks

Pesan dalam Botol (Message In A Bottle)Pesan dalam Botol by Nicholas Sparks

My rating: 2 of 5 stars

 

“Aku ada disini untuk mencintaimu, untuk memelukmu, untuk melindungimu.
Aku ada disini untuk belajar darimu dan untuk merasakan balasan cintamu.
Aku ada disini karena tak ada tempat lain bagiku.”

Itulah sepenggal dari isi surat dalam botol yang ditemukan Theresa Osborne saat joging pagi-pagi di pantai Cape Cod. Kata-kata yang dibacanya begitu menyentuh hati Theresa, yang hidupnya hampa sejak suaminya mengkhianatinya.

Surat itu ditulis oleh seorang lelaki, Garrett, kepada wanita cinta abadinya yang telah tiada, Catherine. Mengikuti keinginan hatinya dan atas saran sahabatnya, Deanna, Theresa pun mencari dan menemukan Garrett. Kemudian takdir pun membawa dua orang kesepian itu ke dalam sesuatu yang tak pernah mereka sangka sebelumnya…

###

Cerita Message in A Bottle sebetulnya biasa saja, dengan karakter-karakter yang tipikal untuk novel roman dan alur cerita yang tidak terlalu sulit ditebak. Saya pun sebetulnya bukan penggemar novel roman, namun karena penasaran dengan karya Nicholas Sparks dan merasa perlu untuk “menjelajah” buku dalam genre-genre yang belum pernah saya sentuh sebelumnya, akhirnya saya membaca buku ini.

Pelajaran berharga yang dapat diambil dari Message in A Bottle adalah, yang pertama, cinta saja tidak cukup, perlu ada pengorbanan dari masing-masing pihak agar hubungan tetap terpelihara. Garrett tinggal di North Carolina yang jauh dari tempat tinggal Theresa, yaitu di Boston. Garrett dan Theresa punya kehidupan mereka masing-masing; Garrett sangat mencintai laut dan profesinya sebagai instruktur selam, sementara Theresa juga punya karir yang bagus sebagai kolumnis surat kabar dan ia sudah terbiasa tinggal di kota dengan ritme yang cepat. Perlu pengorbanan dari salah satu pihak untuk pindah ke tempat pihak yang lain, bila mereka mau membawa cinta mereka ke tahap yang lebih serius.

Yang kedua, jangan hidup berpegangan pada masa lalu. Karena masa lalu adalah masa lalu. Kau tak bisa hidup pada masa kini dan memandang masa depan dengan penuh pengharapan, jika terus memandang ke masa lalu. Garrett mencintai Theresa, namun karena tak mampu mengenyahkan dan meninggalkan bayangan Catherine yang sudah tiada di belakangnya, akhirnya hubungan mereka pun kandas. Orang yang memiliki cinta sejati pasti ingin pasangannya bahagia, walaupun bersama orang lain dan bukan dirinya.

 

“Ini bukan ucapan selamat berpisah, kasihku. Ini adalah ucapan terima kasihku.
Terima kasih telah mencintaiku dan menerima cintaku.
Tapi terutama terima kasih telah menunjukkan padaku bahwa suatu saat nanti aku akan bisa merelakanmu.”

 

View all my reviews

Softcover, 409 pages
Published 1999 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1998)
Price : IDR 37.000

Perjalanan Ajaib Edward Tulane – Kate DiCamillo

edward tulane“Aku pernah disayang,” kata Edward.
“Jangan bicara soal kasih sayang padaku.”

Dahulu, ada seekor kelinci porselen yang amat disayangi oleh seorang gadis cilik. Edward Tulane, demikian nama kelinci itu. Ia sangat bangga akan dirinya sendiri, karena ia hampir seluruhnya terbuat dari porselen, sedangkan telinga dan ekornya terbuat dari bulu kelinci asli, dan Abilene, gadis cilik pemiliknya, selalu mendandaninya dengan pakaian-pakaian indah yang dijahit khusus. Meski tak dapat bicara, Edward dapat mendengar dan melihat sekelilingnya, dan ia sangat benci bila disebut boneka.

Walaupun Abilene sangat menyayanginya, hati Edward tetap dingin. Sampai suatu hari, Edward hilang! Ia jatuh ke laut. Disinilah Edward memulai perjalanan ajaibnya dan mengalami banyak hal. Ia diselamatkan oleh seorang nelayan, dibuang di tempat pembuangan sampah, dipungut oleh gelandangan, dibuang dari kereta, digantung di tempat orang-orangan sawah, diambil oleh anak lelaki untuk adik perempuannya yang sakit, melihat anak itu meninggal, menari di kota, kepalanya dipecahkan orang, disatukan kembali oleh tukang reparasi, dan berakhir di rak toko sang tukang reparasi boneka. Dalam perjalanannya, ia menjadi kelinci betina dan jantan, dan dipanggil dengan nama yang berbeda-beda.

Edward yang tadinya tak mampu membalas kasih sayang, akhirnya sedikit demi sedikit terbuka hatinya setelah menerima kasih sayang dari nelayan dan istrinya, dari gelandangan yang memungutnya, dan akhirnya ketika ia menjadi boneka kesayangan Sarah Ruth, anak perempuan yang sedang sakit keras. Ada sesuatu pada diri Sarah Ruth yang membuat Edward ingin melindunginya dan berbuat lebih untuknya. Namun kehangatan itu tak berlangsung lama.

Ketika ia akhirnya duduk menunggu di rak toko boneka selama beberapa waktu, Edward menyerah dan tak mau disayangi lagi. Sebuah boneka anak perempuan yang sudah sangat tua dan kepalanya penuh retakan berkata padanya, “Buka hatimu. Akan ada yang datang, akan ada yang datang menjemputmu. Tapi kau harus membuka hatimu dulu.”

Edward pun membuka hatinya lagi, menyimpan harapan bahwa akan ada yang datang menjemputnya. Dan akhirnya, di hari hujan di musim semi itu, Edward menemukan jalan pulang.

Dongeng yang luar biasa indah dan menyentuh, yang membuat saya agak menyesal mengapa saya tak pernah melirik karya-karya Kate DiCamillo sebelumnya.
Seperti kata pepatah, “Orang tidak tahu apa yang dimilikinya sampai ia kehilangan sesuatu itu” demikian juga moral yang dapat diambil dari kisah Edward Tulane. Balaslah kasih sayang dari orang-orang yang mengasihimu, selagi mereka semua masih ada dalam hidupmu.

Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi—atau menurut saya lebih tepat disebut lukisan-lukisan—yang begitu mendetail dan hidup, oleh tangan seorang bernama Bagram Ibatoulline. Kisah menyentuh dan lukisan-lukisan indah yang mewarnai setiap babnya, membuat buku ini to die for!

 

Detail buku:
Perjalanan Ajaib Edward Tulane (The Miraculous Journey of Edward Tulane), oleh Kate DiCamillo
188 halaman, diterbitkan 2006 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Sang Harimau (The Tiger Rising) – Kate DiCamillo

Sang HarimauSang Harimau by Kate DiCamillo
My rating: 3 of 5 stars

Pernahkah kau merasa seperti menyimpan seekor harimau di dalam hatimu?

Mungkin ada beberapa dari kita yang pernah atau masih menyimpan ‘harimau’ di dalam hatinya. Harimau itu bisa berupa kesedihan, kemarahan, kepahitan, pemberontakan, dan berbagai macam lagi yang terus dipendam dalam hati sampai berkarat, dan akhirnya menyedot sisa kehidupan yang kita miliki.

The Tiger Rising mengisahkan seorang anak lelaki, Rob Horton, yang berjuang melawan kesedihannya karena ditinggal ibunda tercinta. Rob sampai pada suatu titik dalam hidupnya dimana ia menyimpan rapat-rapat segala perasaannya dan bersikap diam untuk banyak hal, bahkan ketika ia menjadi korban bullying.

Sampai di suatu hari yang ajaib, saat berjalan-jalan di hutan, ia menemukan seekor harimau yang terkurung dalam kandang. Di hari yang sama ia bertemu dengan Sistine Bailey, anak perempuan yang terus terang dan berkemauan keras. Rob dan sahabat barunya pun mulai memikirkan untuk melepaskan si harimau dari kandangnya, dan seiring tumbuhnya persahabatan mereka, pelan-pelan hati Rob pun dijalari perasaan yang hampir dilupakannya–yaitu kebahagiaan.

Kisah ini amat sederhana dan cenderung melankolis, namun nilai moral yang dapat diambil sangat bagus, yaitu jangan menyimpan rapat-rapat perasaan atau kenangan yang kau miliki, walaupun mungkin menyakitkan. Pada suatu waktu kita harus melepaskan segala sesuatu dari ‘kurungan’ hati kita dan memulai kembali hidup kita dengan hati yang ringan.

N.B.: melepaskan harimau dari kurungan dalam arti harfiah —> DON’T TRY THIS AT HOME, CAUSE IT’S VERY DANGEROUUUUSSS…. 😀

View all my reviews

Softcover, 146 pages
Published April 2005 by PT Gramedia Pustaka Utama (first published 2001)
Price IDR 20.000

A Little Princess – Frances Hodgson Burnett

A Little Princess (Putri Raja Cilik)A Little Princess by Frances Hodgson Burnett

My rating: 4 of 5 stars

What does it take to be a princess?

Sara Crewe berusia tujuh tahun ketika masuk Sekolah Pilihan untuk Anak Perempuan Miss Minchin. Sara adalah seorang gadis piatu yang memiliki ayah kaya raya yang selalu memenuhi segala keinginannya. Semua pakaian yang dimilikinya bagus dan mahal, ia memiliki boneka-boneka yang cantik dan banyak sekali buku.
Sara anak yang pintar dan sangat suka belajar. Ia juga punya imajinasi yang tinggi dan pandai mendongeng.

Sounds too perfect?

Memiliki segalanya, Sara kecil ternyata tidak tumbuh menjadi anak yang sombong, egois, keras kepala atau tidak tahu terima kasih. Ia justru menjadi anak yang bijaksana dan penuh kasih, yang senang membantu teman-temannya yang sedang dalam kesulitan. Hal ini, di satu sisi, membuatnya disayangi teman-temannya dan menjadikannya “pemimpin” atas mereka, sedangkan di sisi lain membuat beberapa murid dan Miss Minchin sendiri iri hati kepadanya.

Kehidupannya yang seperti putri raja harus berakhir tepat pada hari ulang tahunnya yang kesebelas, ketika ia menerima kabar bahwa ayahnya yang tercinta telah meninggal tanpa mewariskan apapun kepadanya.
Dari kamar istimewanya yang besar dan dipenuhi barang mewah, Sara harus pindah ke bilik bawah atap, yang sempit, dingin, dan suram.

Karena ia telah kehilangan semua hartanya, Miss Minchin sang kepala sekolah, juru masak, dan seluruh pembantu sekolah yang lain memperlakukannya seperti budak dan memaksanya bekerja melebihi kemampuan tubuh kecilnya. Ia hanya diberi pakaian dan sepatu yang tua dan butut, dan juga seringkali ia tidak diberi makan.

Di saat-saat paling sulit sekalipun, Sara mencoba bertahan, bahkan ketika ia diomeli tanpa henti, ia malah membalas dengan bersikap amat sopan. Ketika udara di bilik bawah atap terasa dingin menusuk tulang dan ia tidak mendapat makanan, ia membayangkan bahwa semuanya tersedia di biliknya; makanan hangat yang berlimpah, perapian yang menyala, dan berbagai perabot dan barang-barang indah nan cantik.

A Little Princess bercerita tentang keteguhan hati seorang gadis kecil yang terpaksa menjalani penderitaan. Kisah Sara mengajarkan kepada kita banyak hal, tentang ketabahan menghadapi penderitaan, amarah, pengendalian diri, ketekunan, persahabatan, dan banyak hal lainnya.

Berikut ini adalah beberapa kutipan dalam buku ini yang pantas kita renungkan.

“Tapi kurasa mungkin selalu ada hal-hal baik pada segala sesuatu di dunia ini, walaupun kita tidak melihatnya.”

-hal. 129

“Saat kau tidak mau terpancing kemarahan, orang-orang tahu kau lebih kuat daripada mereka, karena kau cukup kuat untuk menahan amarah, sedangkan mereka tidak.”

-hal. 158

“Mungkin, mampu mempelajari pelbagai hal dengan cepat bukanlah segala-galanya. Bersikap ramah jauh lebih berarti bagi orang lain.”

-hal. 220

“Entah bagaimana, selalu ada yang terjadi, persis sebelum keadaan jadi semakin buruk.”

-hal. 231

“Apa pun yang terjadi, takkan bisa mengubah satu hal. Meski pakaianku lusuh dan kumal, aku tetap bisa menjadi putri raja dalam hati.”

-hal. 174

View all my reviews

Softcover, 312 pages
Published November 11th 2010 by PT Gramedia Pustaka Utama (first published 1888)
Price : IDR 35.000

Trio Musketri – Alexandre Dumas

Trio MusketriTrio Musketri by Alexandre Dumas
My rating: 3 of 5 stars

Judul kisah ini boleh “Les Trois Mousquetaires” atau bahasa Inggrisnya “The Three Musketeers”, namun tokoh utamanya adalah D’Artagnan, pemuda kampung dari Gascon yang gampang naik darah dan gampang mengangkat pedangnya untuk berduel.

Kisah dimulai saat D’Artagnan muda, yang baru berusia 18 tahun, pergi dari kampung halamannya di Gascon ke Paris untuk menjadi seorang musketri atau anggota pasukan pembela Raja Prancis. Ketika ia berada di kota niaga Meung, ia berkelahi dengan seorang pria misterius yang membuatnya kehilangan surat pengantar yang ditujukan kepada Kapten Musketri, Monsieur de Tréville. Karena egonya yang tinggi jugalah, dalam perjalanan menuju rumah de Tréville, ia terlibat adu mulut dan akhirnya menantang duel tiga orang musketri dalam satu hari dengan jam yang berurutan. Betapa kagetnya ia ketika menemukan bahwa Athos, Porthos, dan Aramis, musketri-musketri tersebut, adalah sahabat baik yang tak terpisahkan. Rencana duel mereka diinterupsi oleh pengawal Kardinal yang memergoki mereka hendak berduel, dan akhirnya mereka berempat pun bersatu melawan pengawal Kardinal tersebut dan melalui kejadian itu D’Artagnan resmi menjadi salah satu sahabat Athos, Porthos, dan Aramis.

Petualangan yang mereka jalani selanjutnya sungguh menarik dan penuh intrik; perselingkuhan Ratu dengan Duke of Buckingham, Sang Kardinal yang penuh tipu muslihat, perang dengan La Rochelle, kekasih-kekasih Porthos dan Aramis, masa lalu kelam dan misterius Athos, kisah cinta D’Artagnan dengan Madame Bonacieux, pelayan kepercayaan Ratu, hubungan aneh Kardinal dan Raja, dan penjahat paling jahat dalam kisah ini, yaitu seorang wanita yang dikenal sebagai Milady atau Lady de Winter.

Kisah terjalin dengan apik walau kadang terasa agak lambat, mungkin karena awalnya kisah ini adalah cerita bersambung. Akhir riwayat Milady dituturkan oleh penulis dengan greget yang pas, sedangkan bagi Athos, Porthos, Aramis, dan D’Artagnan, ada ending bagi mereka masing-masing sehingga saya agak bingung menentukan kisah ini termasuk happy ending atau bukan.

Buku ini saya beri tiga bintang, karena saya merasa emosi masing-masing karakter tidak tergali dengan baik, dan sungguh sayang dalam 537 halaman buku ini, Porthos dan Aramis hanya punya sedikit bagian sehingga tampak seperti peran pembantu saja. Padahal Porthos dan Aramis masing-masing adalah karakter yang unik dan menarik jika dieksplor lebih jauh.

Jika kalian pernah menonton filmnya, yang dibintangi Chris O’Donnell sebagai D’Artagnan dan membandingkannya dengan bukunya, maka kalian akan menemukan betapa banyak perbedaannya antara buku dan versi filmnya. Namun bagi saya itu tak menjadi masalah besar, karena baik kisah di buku maupun di film punya daya tariknya sendiri dan tinggallah kita, pembaca/penonton untuk menentukan, yang manakah favorit kita.

View all my reviews

Softcover, 537 pages
Published January 2010 by PT Serambi Ilmu Semesta (first published 1844)
Price IDR 49.000

Catching Fire – Suzanne Collins

Tersulut - Catching Fire (Hunger Games, #2)Tersulut – Catching Fire by Suzanne Collins
My rating: 5 of 5 stars

Dan The Hunger Games pun berlanjut…
Katniss Everdeen dan Peeta Mellark keluar sebagai pemenang Hunger Games ke-74. Untuk pertama kalinya dalam 74 tahun, Hunger Games punya dua pemenang.
Distrik 12 dibanjiri hadiah karena kemenangan mereka tentu saja, tapi di balik semua itu masih ada bahaya mengintai…
Capitol tidak senang. Semua karena buah berry beracun yang mereka pegang tepat sebelum diumumkan sebagai pemenang. Capitol menganggap itu sebagai tindakan yang dapat memicu pemberontakan. Dan benar saja, tanpa Katniss dan Peeta sadari, api pemberontakan mulai tersulut dimana-mana.

Hunger Games ke-75 semakin mendekat, dan setiap 25 tahun Panem merayakan versi lebih kejam dari Hunger Games yang disebut Quarter Quell. Quarter Quell 25 tahun yang lalu saat Haymitch menjadi pemenang, pesertanya bukan hanya 24 orang namun dua kali lipatnya. Dan kali ini… Quarter Quell ketiga akan mengambil peserta dari para pemenang yang masih hidup. Katniss dan Peeta pun kembali ke arena.

Buku ini sama bagusnya dengan buku pertama. Jalan ceritanya tak terduga, penuh action, dan endingnya membuat penasaran. Sekedar bocoran, versi terjemahan Indonesia dari buku ketiga, Mockingjay, rencananya akan terbit awal 2011.

View all my reviews

Softcover, 424 pages
Published July 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published September 1st 2009)
Literary Awards: British Fantasy Award (2010)
Goodreads Choice Award for Favorite Book and Young Adult Series (2009)
Booklist Top Ten Science Fiction/Fantasy Novels for Youth (2010)
Children’s Choice Book Award for Teen Choice Book of the Year (2010)
Indies Choice Book Award for Young Adult (2010)
Teen Read Award Nominee for Best Read (2010)

Price : IDR 58.000

The Hunger Games – Suzanne Collins

The Hunger Games (Hunger Games, #1)The Hunger Games by Suzanne Collins
My rating: 5 of 5 stars

Astaga, kata apa lagi yg bisa mendeskripsikan buku ini? Menakjubkan? Menegangkan?
Hanya butuh dua hari bagi saya untuk menyelesaikan buku ini, ditengah-tengah kesibukan sehari-hari.
Why? Rasanya karena saya tergolong tipe pembosan, ketika membaca buku yang kisahnya drama yang minim “lompatan-lompatan” saya pun mudah bosan dan akhirnya lama untuk menyelesaikannya.

Tapi tidak ketika saya membaca buku ini. Ini adalah salah satu dari sedikit buku yang bisa membuat saya tak mampu meletakkannya, dan berusaha menghabiskannya secepat mungkin.

Di suatu saat di masa depan, Amerika Utara sudah tidak ada lagi dan negara Panem berdiri sebagai gantinya. Panem mempunyai ibukota yang mentereng bernama Capitol, dan tiga belas distrik yang mengelilinginya. Suatu saat terjadi pemberontakan melawan Capitol dan Distrik 13 binasa.

Setelah pemberontakan, Capitol mengadakan The Hunger Games bagi kedua belas distrik yang tersisa, untuk terus mengingatkan mereka bahwa keselamatan jiwa mereka sesungguhnya tergantung pada belas kasihan Capitol. Maka setiap tahunnya, satu anak lelaki dan satu anak perempuan berusia 12 hingga 18 tahun dipilih dari setiap distrik, untuk bertarung di arena yang ditentukan sampai hanya satu orang yang tetap hidup dan selamat. Dan pertarungan mereka ditayangkan di televisi di setiap rumah di Panem.

Begitu setiap tahunnya, namun The Hunger Games ke-74 menjadi yang tidak terlupakan ketika Katniss Everdeen dan Peeta Mellark menjadi peserta terpilih dari Distrik 12.

Dari sini saja calon pembaca buku ini bisa merasakan bahwa buku ini seru. Ide yang orisinal, ketegangan yang tercipta dalam setiap aksi dalam buku ini membuat saya kagum akan Suzanne Collins sang penulis, juga Hetih Rusli yang menerjemahkan buku ini ke bahasa Indonesia dengan sangat mulus bahkan hampir tanpa cacat.

Bosan dengan drama, roman, cerita vampir, chicklit, cerita detektif, Harry Potter atau apapun yang sedang “booming” untuk dibaca? Penggemar fiksi harus membaca buku ini. 🙂

View all my reviews

Softcover, 408 pages
Published October 2009 by Gramedia Pustaka Utama (first published October 1st 2008)
Literary Awards: British Fantasy Award for Top Ten (2009)
A School Library Journal Best Book of the Year (2008)
An ALA Notable Children’s Book for Older Readers (2009)
New York Times Notable Children’s Book of (2008)
Publishers Weekly’s Best Books of The Year

Price IDR 58.000

Theodore Boone: Pengacara Cilik – John Grisham

Theodore Boone, Pengacara CilikTheodore Boone, Pengacara Cilik by John Grisham
My rating: 3 of 5 stars

Theo Boone, 13 tahun, bukan remaja biasa. Bukan, Theo bukanlah penyihir seperti Harry Potter dan bukan juga demigod seperti Percy Jackson. Dan jelas Theo bukan vampir ;P

Theo, yang pergi ke sekolah naik sepeda dan punya anjing bernama Judge, adalah putra satu-satunya pasangan suami istri yang sama-sama pengacara, ayahnya pengacara real estate dan ibunya pengacara perceraian. Theo juga mempunyai minat dan pengetahuan yang besar terhadap hukum, khususnya proses hukum pidana. Remaja mana lagi yang betah menghabiskan berjam-jam mengikuti persidangan daripada bermain bola basket atau skateboard di luar rumah? Remaja mana lagi yang bisa menjadi ”konsultan hukum gratisan” bagi teman-temannya yang bingung menghadapi masalah hukum?

Saat Theo sedang mengalami pergumulan yang biasa terjadi pada masa remaja, yaitu mengenai cewek dan cita-cita masa depan, kota tempat tinggalnya dihebohkan dengan peristiwa pembunuhan seorang wanita di kompleks perumahan mewah, dan tersangka utamanya adalah suami wanita itu!

Theo, seperti (hampir) semua orang lain di Strattenburg, penasaran setengah mati dengan kasus tersebut, dan tak mau melewatkan persidangan, yang diadakan secara terbuka. Tak dinyana, Theo bertemu dengan seorang saksi rahasia dan satu-satunya, yang kesaksiannya dapat mengubah vonis yang akan dijatuhkan kepada terdakwa!

Hanya ada satu masalah, yaitu orang itu tidak mau bersaksi. Sementara si terdakwa sudah sangat dekat dengan vonis bebas, berhasilkah Theo meyakinkan si saksi untuk membeberkan semua yang ia ketahui di persidangan?

==============

”What could John Grisham write for teens?” mungkin adalah pertanyaan yang jawabannya adalah buku ini. Sudah pasti buku ini muatannya lebih “ringan” dari buku-buku John Grisham yang lain, namun bukan berarti buku ini tidak patut dibaca.

Grisham, menurut saya, sukses meramu antara kehidupan seorang remaja berikut seluk-beluknya, pengetahuan dasar mengenai proses hukum pidana di Amerika Serikat, dialog yang cerdas dan cukup lucu, dan karakter-karakter yang membuat cerita semakin hidup.

Buku ini terutama, saya rekomendasikan kepada para remaja. Mudah-mudahan melalui Theo mereka juga bisa belajar mengutamakan pendidikan, dan menumbuhkan “hasrat” belajar yang lebih menggebu. Theo tidak akan menjadi Theo jika ia sebelumnya tidak melahap buku-buku hukum, mengamati proses hukum, banyak berdiskusi dengan orang-orang yang melek hukum bukan?

==============

Buku ini kudapat dari menang kuis di toko buku online langganan… gak sia-sia deh jadi pelanggan setia hehehe.
Lihat post nya di sini!

Kebetulan kakakku juga penggemar John Grisham, dulu waktu masih belasan tahun aku juga sempat coba-coba baca The Firm, The Client, Runaway Jury, A Time to Kill, The Pelican Brief dll. Tapi dasar belum bisa dibebani buku seberat itu, jadi banyak gak selesainya deh.

Sekarang, tiba-tiba sang maestro menerbitkan novel dengan judul Pengacara Cilik. Mungkin bagi penggemar Grisham sejati buku ini hanya ditulis untuk “selingan” saja, karena begitu banyaknya karya Grisham lain yang berat dan serius.

Buatku, mungkin setelah selesai membacanya aku bisa mulai (lagi) untuk membaca karya-karya yang “John Grisham banget”.

Anyway, thanks to Vixxio for giving me this book! 🙂

View all my reviews

Paperback, 272 pages
Published September 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published May 25th 2010)
Price IDR 42.000