Home » Book Reviews » 5 star review » Anak-anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia

Anak-anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia

Totto-chan's Children: A Goodwill Journey to the Children of the World  (Anak-Anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-Anak Dunia)Totto-chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World by Tetsuko Kuroyanagi

Judul terjemahan Indonesia: Anak-anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia

My rating: 5 of 5 stars

Tanzania. Anak-anak antre mengambil air di ‘sumur’ yang tak lain lubang yang berisi air berlumpur. Mereka anak-anak asli Afrika yang tidak pernah melihat gajah, singa, atau jerapah secara langsung.

Nigeria. Negara dengan curah hujan tahunan 2,5 sentimeter. Suhu udara pada siang hari mencapai 60 derajat Celcius. Tidak ada air bersih yang layak dikonsumsi.

India. Negara dengan budaya yang menawan. Namun di kota Madras, 92 persen anak-anak menderita kekurangan gizi.

Mozambik. Bekas jajahan Portugis yang memperoleh kemerdekaan dengan tingkat literasi hanya 2 persen. Tentara gerilya menghancurkan semua fasilitas umum, laki-laki dibunuhi, perempuan diperkosa, anak-anak dilatih paksa menjadi tentara gerilya.

Kamboja. Ada tempat bernama kuburan massal Choeng Ek tempat 9.000 tengkorak manusia diletakkan begitu saja di atas rumput. Korban-korban rezim Pol Pot menggali lubang kuburan mereka sendiri dan dipenggal tepat di depan lubang yang mereka gali.

Vietnam. Anak-anak bekerja dari pagi hingga malam hari. Mereka pergi ke sekolah pukul 19.00-21.30.

Angola. Tentara gerilya antipemerintah memotong kaki dan tangan anak-anak. Ayah ibu mereka dibunuh di depan mata.

Bangladesh. Setiap kali terjadi banjir, sepertiga negara ini terendam. Bencana alam menyebabkan kelaparan dan wabah penyakit merajalela.

Irak. Kotoran masuk ke rumah penduduk karena saluran pembuangan dan pembangkit listrik tidak berfungsi akibat dibom. Anak-anak dijadikan alat pendeteksi ranjau darat.

Etiopia. Orang-orangnya kurus kering, hanya tulang berbalut kulit. Makanan dijatah, yang mendapatkannya hanya mereka yang berat badannya kurang dari 70 persen standar berat untuk umur dan tinggi badan mereka.

Sudan. Banyak sekali anak yang menjadi korban tembakan gerakan antipemerintah. Banyak anak menjadi yatim piatu karena perang saudara.

Rwanda. Kata salah satu pendeta setempat yang dimuat di majalah Time, “Tidak ada lagi iblis di neraka. Semuanya ada disini, di Rwanda.” Orang-orang saling membunuh karena kebencian yang amat hebat.

Haiti. Anak-anak menjadi pelacur untuk memberi makan keluarganya. Anak-anak jalanan dijebloskan ke penjara, tanpa mengetahui apa kesalahannya.

Bosnia-Herzegovina. Anak-anak menderita luka psikologis yang sulit disembuhkan, akibat perang. Ada ranjau dan bom yang khusus dibuat untuk membunuh anak-anak, yang berbentuk seperti cone es krim, cokelat, atau mainan.

###

Sangat mudah bagi kita untuk berkata, “Di negara X terjadi kelaparan,” atau “di negara Y pecah perang,” tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya dirasakan orang-orang yang mengalami langsung kejadian itu. Kalaupun kita sempat melihat liputan beritanya di televisi, paling-paling kita hanya mendesah pelan dan berkata, “Oh, kasihan ya.” Titik.

Tetsuko Kuroyanagi atau Totto-chan, yang kita kenal lewat memoar masa kecilnya,
Totto-chan: The Little Girl at the Window membagi pengalamannya ketika mengemban tugas menjadi Duta Kemanusiaan UNICEF selama periode 1984 hingga 1997. Ia mengunjungi sejumlah negara dan bertemu bermacam-macam anak; anak yang sangat kekurangan gizi sehingga otaknya rusak, anak yang ditinggal mati orangtuanya karena wabah kolera, anak yang harus bekerja untuk memberi makan keluarganya, anak yang haus belajar namun tidak ada sarana prasarana yang tersedia baginya untuk belajar, anak yang menderita trauma batin amat parah akibat perang saudara yang terjadi di negaranya.

Begitu banyak fakta mengejutkan yang dibeberkan Totto-chan dalam buku ini, baik mengenai musibah kelaparan, kejamnya perang, dan kondisi mereka yang mengalaminya, baik anak-anak maupun orang dewasa. Siapapun yang masih memiliki nurani akan remuk hatinya mengikuti penuturan Totto-chan sementara ia bergerak dari satu negara ke negara lain. Betapa mengerikannya dampak kelaparan dan perang terhadap anak-anak khususnya, dan umat manusia pada umumnya!

Namun kabar gembiranya adalah; masih ada orang-orang yang dengan sukarela mau membangun kembali negara yang hancur, mengusahakan kesehatan masyarakat, memberdayakan kaum perempuan, memperjuangkan perdamaian. Dari orang-orang seperti inilah kita dapat mengambil teladan, bahwa masih ada kasih sayang di dunia ini. Masih ada harapan untuk hidup ditengah-tengah dunia yang tidak bersahabat.

Inilah salah satu buku yang “menampar” saya dengan begitu keras. Walaupun fakta yang ditulis dalam buku ini terjadi sudah 13-26 tahun yang lampau, dan saya tidak begitu tahu seberapa banyak perkembangan yang terjadi sampai dengan hari ini, tetap saja selesai membacanya saya merenung lama, memikirkan hal-hal ini;

Saya masih bisa makan tiga kali sehari, masih pantaskah saya mengeluh?
Saya tidak kekurangan air bersih, kalau tidak ada air tinggal beli saja, masih pantaskah saya mengeluh?
Saya tinggal di negara yang relatif masih damai, ketakutan tidak merajalela di jalan-jalan, masih pantaskah saya mengeluh?

Di luar sana, ada anak-anak yang harus berjalan sejauh 4,8 sampai 9,6 kilometer untuk mengambil air. Airnya cokelat berlumpur, tapi tidak ada air yang lain.
Di luar sana, ada anak-anak yang tidak bisa bebas berlarian di padang berumput, karena satu kali saja salah melangkah, nyawa bisa hilang akibat ranjau darat yang tersebar dimana-mana.
Di luar sana, ada keluarga-keluarga terpisahkan akibat perang, rumah-rumah yang masih berdiri punya lubang-lubang yang tak terhitung jumlahnya, hasil bombardir peluru.

Teman-teman, bersyukurlah dan lebih banyak lagi bersyukur. Di luar sana, banyak orang yang mengalami kesulitan-kesulitan tak terbayangkan, masih pantaskah kau mengeluh karena hal yang begitu kecil dan remeh?

Totto-chan menuliskan hal ini dalam Epilog;

“Setelah bertemu berbagai macam anak,
Aku ingin mengatakan pada anak-anak Jepang:
Jika kalian sedih melihat anak-anak di negara berkembang,
Yang kalian temui di dalam buku ini,
Dan ingin membantu mereka,
Katakan sekarang kepada teman yang duduk di sebelahmu,
“Mari berdamai.
Mari bergandengan tangan dan menjalani hidup bersama
.”

Anak-anak tidak mengenal teman atau musuh. Bagi mereka semuanya sama. Dapatkah kita bersikap seperti mereka, dan memandang manusia sebagai manusia, sesama ciptaan Tuhan, tanpa memandang suku, ras, agama, golongan, kewarganegaraan? Jika kita bisa melakukan hal itu, tentulah akan jauh lebih sedikit perang yang terjadi di muka bumi ini.

Bersyukurlah dan berdamailah. Sesederhana itu. Sebab manusia tidak dilahirkan untuk saling membenci, tapi untuk saling mengasihi.

View all my reviews

Softcover, 328 pages
Published February 22nd 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 50.000

Advertisements

9 thoughts on “Anak-anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia

    • @Ewa : makasih ya udah mampir di Surgabukuku.
      Iya deh, buruan beli n baca bukunya… bener2 worth it!! 😉

      NB: Di dalam buku ini juga banyak foto anak-anak di negara-negara yg Totto-chan kunjungi. Melihatnya benar2 bikin miris sekaligus menggerakkan hati untuk lebih peduli.

  1. Pingback: Tweets that mention Anak-anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia « surgabukuku -- Topsy.com

  2. Bener-bener pingin baca buku ini! dulu sempat pinjam teman tp belum dibaca karna udah mendekati kelulusan dan diminta kembai bukunya T.T. Baca reviewnya, ini buku bener2 dalem banget artinya yaa jadi penasaran gimana nasib anak2 di luar negeri sana yang negaranya parah..

  3. Baca review ini sambil menahan nafas…Membayangkan jika keadaan di indonesia sama seperti di Ethiopia atau Rwanda..

    Memang untuk mensyukuri hal-hal-hal yang terlihat sepele seperti ketersediaan air, harus membandingkan dengan tempat lain yang kekurangan ya..
    Jika cerita di buku ini terjadi bertahun lalu, apa sekarang masih terjadi?

    Setidaknya jika belum bisa menyumbang ke Ethiopia atau Irak, berusaha untuk lebih bersyukur, tidak lagi membuang buang makanan..

    Dan perdamaian itu sangat indah, berdoa dalam hati semoga tidak ada perang dunia ketiga.

    Salut pada volunteer yang bersemangat, tidak takut kelaparan atau kena ranjau.

    Makasih ya reviewnya, lengkap pula dengan harganya. Jadi pengen punya 🙂 Penasaran, setelah baca buku Totto chan yang pertama.

    Dan si Tetsuko ini pernah jadi penyanyi ya? Berarti jadi duta PBB setelah pensiun jadi penyanyi?

    Makasih 🙂

  4. Hallo mbak, udah lama buku ini nangkring di perpustakaan sekolah SMA ku dulu, kata temen.temen sih bagus, cuma hati ku belum tergerak untuk membacanya. Karena ku kira buku ini hanya bercerita tentang kehidupan gadis kecil biasa hehe. Ternyata sangat jauh berbeda dari apa yg ku bayangkan.

    Waktu liat daftar review mbak, aku pilih baca review ini karena buku ini memang tidak asing bagi ku. Hampir di setiap toko buku maupun online pasti memajang buku ini.
    Sekarang aku jadi tergerak untuk membaca buku ini, karena kisahnya sangat.sangat bisa membuat ku membuka mata dan lebih bersyukur.
    Terima kasih reviewnya mbak, aku bakalan nyari buku ini untuk dibaca (mungkin beli karena sudah tidak di SMA lagi jadi gak bisa pinjem hehe). Mencoba pindah haluan dari romance ke kisah inspiratif hehe
    Sekian terima kasih…

  5. Buku ini saya baca tahun 1992 ketika masih kuliah di Bandug. Saya bukan penyuka novel, entah mengapa ketika melihat buku ini tergelatak di meja tulis teman saya, saya tregerak untuk membacanya, saya baca sekilas dan tertarik. Seakan ada magnet kuat untuk memiliki novelnya. Saya menabung dari uang bulanan hanya sekedar mencari atau mendapatkan novel sejenis…Toto Chan membuat saya masuk ke suatu dunia di masa antah berantah

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s