Home » Book Reviews » 4 star review » Dimsum Terakhir – Clara Ng

Dimsum Terakhir – Clara Ng

Dimsum TerakhirDimsum Terakhir by Clara Ng

My rating: 4 of 5 stars

Pasangan keturunan Cina Nung Atasana dan istrinya, Anas, setelah 13 tahun pernikahan, akhirnya dikaruniai empat orang anak kembar, semuanya perempuan.

Siska, Indah, Rosi, dan Novera.

Tahun-tahun berlalu setelah ibu mereka meninggal dunia, dan keempat gadis kembar yang telah dewasa menjalani kehidupan masing-masing di tempat berbeda.

Mereka dipersatukan kembali ketika Nung mengalami stroke dan harapan hidupnya tinggal sedikit.

Yang terjadi selanjutnya adalah rentetan peristiwa yang kadang konyol, kadang juga mengharukan. Karakter-karakter digambarkan dengan baik. Siska, si businesswoman yang tak percaya pernikahan dan terlalu enjoy menjadi single. Indah yang adalah “si tukang atur” di tengah-tengah keluarga. Si tomboi Rosi yang riang dan ceria, namun punya rahasia yang disembunyikan. Si bungsu Novera yang lembut dan cenderung tak percaya diri.

Mereka semua disatukan dalam perjuangan menemani Nung di saat-saat terakhir sang ayah. Kisah yang menyentuh banyak sisi manusiawi ini diwarnai dengan budaya Cina yang kental dan banyak flashback ke masa lalu, misalnya saat si kembar empat dilecehkan karena ras mereka.

Dimsum Terakhir menurut saya, adalah karya terbaik Clara Ng. Yang paling saya sukai dari Clara Ng adalah gaya penulisannya yang bisa kocak dan jenaka, bisa juga agak mengharu biru, yang dibungkus dengan perbendaharaan kata yang amat luas dan kombinasi kata-kata yang tak terduga.

Akhirnya saya menamatkan juga buku ini, setelah sekian lama dibeli dan ditelantarkan begitu saja. Sampai saat ini Clara Ng adalah satu dari sedikit pengarang Indonesia yang saya gandrungi. 🙂
View all my reviews

Softcover with flap, 361 pages
Published April 2006 by PT Gramedia Pustaka Utama
Price IDR 55.000

Advertisements

4 thoughts on “Dimsum Terakhir – Clara Ng

  1. Dimsum terakhir ini buku Clara Ng favorit saya juga. Lebih menyentuh dibanding karya lainnya.

    Salam kenal Melisa, tadi browsing-browsing di goodreads ketemu blog ini. Nice blog! 🙂

  2. Anyway, aku juga pernah baca reviewnya di salah satu blog member BBI, dan aku lupa. Entah kapan pernah lihat bukunya terpajang di perpustakaan sekolah, tapi pas kembali udah nggak ada, dan sampai sekarang belum menemukan lagi buku itu. Kayaknya memang udah lama juga mengingat tahun terbitnya 2006, umurku masih anak SD 😀

    Dari review, aku suka karakter Siska. Siska, si businesswoman yang tak percaya pernikahan dan terlalu enjoy menjadi single. Kayaknya, aku banget gitu ya… ya walaupun memang belum mikirin nikah *anak SMA bok’*, tapi mungkin karakter Siska yang busy dari seorang business-woman lah, dalam konteksnya aku sebagai pelajar [sok] sibuk.

    Dan… lucu juga sih bisa lahir kembar empat itu, tapi kenapa namanya nggak mirip ya? Kayak misalnya Tata, Tati, Tita, sama Teta.. biar bingungin pembaca aja sih. Hehe…

    Aku belum terlalu banyak tau juga tentang etnis China, cuma kenal sama penjual di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Bandung, orangnya baik sih *eh salah fokus*

    Andaikan bukunya masih ada, aku pengen baca, pssst… aku kepo arti dimsum tuh apa *gyahahaha*

  3. jujur aku belum pernah baca review buku ini, tapi dari judulnya “Dimsum Terakhir” yang ada di list riview surga buku, buku ini sepertinya menarik. Dan benar ternyata setelah baca review diatas aku jadi makin penasaran bagaimana kisah keempat saudara kembar tersebut. Apalagi dikemas menarik dari mulai lucu hingga mengharu biru…Bisa-bisa majinasi dan perasaanku bisa naik turun dibuatnya… hehehe

  4. Nung ini keturunan Cina, tapi nama-nama anaknya kok nggak ada unsur Cinanya ya? He he
    Anas itu perempuan? Tahunya Anas Urbaningrum itu nama cowok, sih. #plak
    Siska, Indah, Rosi, dan Novera.

    Setuju sama komentar asysyifaahs99. Pasangan kembar tapi namanya kayak bukan pasangan kembar.

    Penasaran apakang Nung Atasana itu seorang pedagang dimsum ? *nggak dijelasin, sih di review ini.
    🙂

    Aku baru tahu kenapa covernya dipilih empat cewek (yang keliatan kaki doang) ternyata diambil dari karakter-karakter empat anak dari Nung Atasana yag telah disebutkan dalam review. Sekarang udah nggak penasaran lagi deh, kenapa ilustrasinya covernya seperti itu. *misteri sudah terpecahkan #tsah

    “Siska, si businesswoman yang tak percaya pernikahan dan terlalu enjoy menjadi single. Indah yang adalah “si tukang atur” di tengah-tengah keluarga. Si tomboi Rosi yang riang dan ceria, namun punya rahasia yang disembunyikan. Si bungsu Novera yang lembut dan cenderung tak percaya diri.”

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s