Home » Ini dan Itu » [Dongeng] Bukan Prince Charming

[Dongeng] Bukan Prince Charming

Retelling dongeng dalam rangka ikut event Vixxio Buku Gratis di fanpage FB, hadiahnya buku The Thirteenth Tale-Diane Setterfield. *drooling*
Semoga dengan dongeng ini saya bisa menangin buku itu ;P


BUKAN PRINCE CHARMING – oleh Melmarian

 

Pangeran Vixxio adalah putra mahkota Aran, suatu kerajaan jauh di dalam hutan yang diliputi kegelapan dan kemalangan. Ketika suatu wabah penyakit misterius membunuh separuh penduduk Aran, Vixxio melarikan diri ke kerajaan Librion, dengan harapan bisa memulai hidup yang baru dan mencari kebijaksanaan di sana, karena orang yang terlahir sebagai bangsa Aran tidak dididik dengan baik.

Maka sampailah Vixxio ke gerbang utama kerajaan Librion, gerbang yang semula kelihatan seperti pintu kayu tua yang reyot dan penuh goresan. Pintu gerbang ini tidak dijaga oleh pengawal, namun oleh seekor burung hantu.

Si burung hantu menanyakan nama dan apa tujuan Vixxio datang ke Librion, kemudian menyuruhnya membaca tulisan yang terukir di daun pintu gerbang. Konon tidak semua orang bisa membaca tulisan tersebut, karena tidak semua orang yang ingin memasuki Librion dengan hati yang murni dan kuat.

Vixxio yang hanyalah seorang pemuda bodoh dan kurang pengetahuan, semula tidak bisa membaca tulisan itu, namun ia memohon di dalam hatinya supaya ia diperkenankan masuk, karena ia datang ke Librion mencari kebijaksanaan yang selama ini belum pernah ia miliki.

Maka dengan suara lantang Vixxio pun membaca tulisan itu:

”Kebijaksanaan tersedia bagi mereka yang mencarinya.”

Si burung hantu tersenyum dan pintu gerbang kayu reyot berubah menjadi pintu gerbang perunggu yang besar dan megah, ukiran tulisan-tulisan bijak memenuhi tiap senti permukaannya. Gerbang itu berderit membuka dan masuklah Vixxio ke dalam kerajaan Librion. Segera saja Vixxio terkagum-kagum melihat kemegahan kerajaan itu, ketika ia mendapati bahwa jalanan, tiang-tiang, papan-papan, dan bangunan-bangunan di Librion juga penuh dengan ukiran tulisan-tulisan bijak.

Di alun-alun terdapat sebuah monumen berbentuk buku raksasa yang terbuka. Di tengah-tengah buku terukir kata-kata yang sama dengan yang dibacanya di pintu gerbang tadi.

 

Ketika Vixxio hendak mencari istana raja, di jalan ia nyaris menabrak seorang gadis berkuda. Gadis itu muda dan cantik, namun melebihi semuanya itu ada aura kebijaksanaan yang meliputi wajahnya, sehingga ia tampak cantik, ceria, cerdas, dan berwibawa pada saat yang sama. Gadis itu meninggalkan Vixxio yang terbengong-bengong menatapnya sambil tertawa merdu.

Dari penduduk sekitar, Vixxio mengetahui bahwa gadis itu adalah Rovena, putri dari pemimpin kerajaan Librion, raja Roandler. Putri Rovena juga ternyata sedang mencari seorang calon suami. Syarat yang ditentukannya adalah, pria itu harus berasal dari luar Librion, dan mampu membuat sang putri terkesan.

Karena penasaran, Vixxio datang juga ke istana dan melihat deretan pria-pria yang hendak melamar sang putri. Kebanyakan dari mereka mempertontonkan emas dan permata berkilau-kilauan dari negeri mereka, dan sang putri menguap.

Ketika ada yang menyanyi, berpuisi, berpidato, atau mendongeng, mata sang putri berbinar samar sesaat, namun kemudian binar itu hilang seperti tidak pernah ada.

Kemudian tibalah giliran beberapa pria yang menunjukkan kebolehan dengan menggambar, menyusun bangunan dari kartu-kartu, melatih binatang, dan lain-lain. Yang ini pun tidak menarik perhatian sang putri.

Ketika para pria pelamar sang putri itu melihat Vixxio, mereka mendengus mengejeknya, karena ia kelihatan seperti seorang gelandangan kumal yang jelas-jelas tak membawa harta apapun, dan tindak-tanduknya menyiratkan seorang pemuda yang bodoh dan kurang pengalaman. Diluar kemauannya, Vixxio didorong oleh seorang pengawal kerajaan untuk tampil dihadapan sang putri. Vixxio enggan maju, namun si pengawal mendorongnya dengan keras sehingga ia jatuh di depan singgasana yang diduduki sang putri.

Ketika memandang Vixxio, mata sang putri Rovena berkilat, menunjukkan bahwa ia mengenali pemuda yang nyaris ditabraknya di jalanan tadi.

”Siapa namamu dan apa yang hendak kau tunjukkan padaku?” tanya Rovena.

”Nama hamba Vixxio, tuan putri. Sejujurnya hamba datang kesini bukan untuk melamar tuan putri, dan karena hamba tidak punya sesuatu pun juga yang dapat hamba tunjukkan untuk membuat tuan putri terkesan, maka jika tuanku putri berkenan, biarkan hamba pergi agar hamba dapat mulai mencari kebijaksanaan, karena itulah yang menjadi tujuan hamba datang ke tempat ini.”

Kemudian ia menengadah menatap sang putri. Selama sepersekian detik tatapan mereka bertemu, perasaan aneh menjalar di dalam hati sang putri; bukan rasa suka, melainkan rasa familier, seakan-akan pemuda kumal di depannya itu adalah sahabat lamanya yang telah lama hilang dan kini kembali.

”Akan tetapi,” kata Vixxio sebelum sang putri sempat menjawabnya, ”jika tuan putri mau memberikan kesempatan kepada hamba untuk menjadi orang yang layak untuk melamar tuan putri, maka hamba akan memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya.” Ia menatap sang putri penuh harap.

Sang putri menunduk memandangnya dan tanpa banyak kata lagi ia menjawab, ”Aku memberimu waktu tiga bulan.”

***

Waktu yang diberikan Putri Rovena dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Vixxio untuk mencari kebijaksanaan, sesuai dengan tujuan awal ia datang ke negeri itu. Ia berguru kepada salah satu orang terbijak di Librion, yang sekaligus adalah penasihat raja, ia menghabiskan hari-harinya membaca buku-buku di perpustakaan kerajaan.

Pada hari pertama setelah waktu tiga bulan yang diberikan kepadanya habis, Vixxio pergi menghadap Putri Rovena. Ketika memandangnya, sang putri sudah tidak lagi melihat pemuda kumal bodoh yang dilihatnya tiga bulan yang lalu, melainkan seorang pemuda gagah berpenampilan rapi, dengan tutur kata halus dan bijak.

Pesta pernikahan mereka dilangsungkan beberapa bulan kemudian. Rakyat Librion bertanya-tanya mengapa Putri Rovena memilih Vixxio dari sekian banyak pangeran dan pria bangsawan yang melamarnya. Sang putri menjawab dengan sumringah bahwa ia belum pernah melihat ada seseorang yang punya kemauan begitu keras untuk mencari kebijaksanaan, dan Vixxio telah berhasil menggapai apa yang ia cari dalam waktu tiga bulan saja, seolah-olah ia bermetamorfosis dari seekor anak itik buruk rupa menjadi seekor angsa yang anggun dan cantik dalam waktu yang begitu singkat.

Sebelum mereka menikah, Vixxio memberitahu Rovena bahwa dirinya sebenarnya adalah putra mahkota kerajaan Aran dan suatu saat nanti ia ingin pergi melihat kondisi negerinya. Rovena setuju dan bahkan bersedia pergi mendampingi Vixxio ke Aran, dan disana mereka melihat penduduk Aran diliputi kondisi yang amat menyedihkan.

Mereka membangun kembali kerajaan itu dengan bantuan orang-orang Librion, dan Vixxio dan Rovena dinobatkan menjadi raja dan ratu atas Aran. Vixxio membangun sebuah perpustakaan umum di Aran dan menorehkan kata-kata ini di pintu masuknya:

”Perpustakaan ini dibangun sebagai ucapan terima kasih kepada Rovena, yang membuatku menemukan jalan dari kegelapan menuju terang.”

 

Apakah Vixxio dan Rovena hidup bahagia selamanya? Tidak usah bertanya, kamu sudah mengetahui jawabannya… ;))

Advertisements

2 thoughts on “[Dongeng] Bukan Prince Charming

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s