Home » Book Reviews » 3 star review » Herr Der Diebe (Pangeran Pencuri) – Cornelia Funke

Herr Der Diebe (Pangeran Pencuri) – Cornelia Funke

Selamat datang di Venezia, Kota Rembulan! Di sini anda akan dibuai dengan semilir angin Venezia saat anda menyusuri kanal-kanal dengan gondola, sambil menikmati keindahan bangunan-bangunan eksotik! Namun awasi selalu dompet, kamera, dan perhiasan anda terutama bila anda berjalan melewati Lapangan Markus, jika anda tidak ingin barang-barang berharga anda berpindah tangan ke Pangeran Pencuri dan komplotannya!

Apa? Anda belum mendengar tentang Pangeran Pencuri? Dia bukan Robin Hood, tentu saja. Pangeran Pencuri adalah pencuri paling lihai seantero Venezia, atau setidaknya ia ingin dianggap demikian. Diantara kita saja (ini rahasia), sang Pangeran Pencuri sebenarnya adalah seorang remaja misterius dengan rambut dikuncir yang suka mengenakan jaket panjang hitam dan sepatu bot berhak tinggi, dan tak lupa topeng menyeramkan yang mirip burung pembawa kematian. Nama aslinya adalah Scipio, dan ia memiliki teman-teman yang ia pelihara lewat hasil mencuri, mereka adalah Riccio si Rambut Landak, si hitam Mosca, dan seorang anak perempuan yang dipanggil Tawon. Mereka semua, kecuali Scipio sendiri, tinggal di sebuah bangunan eks bioskop bernama STELLA, namun mereka memanggil tempat itu Istana Bintang.

Sssst, belakangan, ada dua tambahan dalam rombongan anak-anak jalanan itu, mereka adalah kakak-beradik Prosper dan Bo. Prosper dan Bo yang malang sudah yatim piatu, dan paman dan bibi mereka, Max dan Esther Hartlieb, hendak mengangkat si kecil Bo sebagai anak mereka, dan memasukkan Prosper ke sekolah asrama. Tak mau berpisah dengan adik semata wayangnya, Prosper melarikan mereka berdua ke Venezia, kota yang begitu dicintai mendiang ibu mereka.

Tahu bahwa Prosper dan Bo mungkin lari ke Venezia, Bibi Hartlieb menyewa jasa seorang detektif lokal bernama Victor Getz untuk melacak keberadaan mereka. Benar saja, tak lama setelah itu Victor bertemu dengan Prosper dan Bo yang telah menyamarkan penampilan, bersama ketiga teman mereka. Namun alih-alih menangkap kakak beradik itu, Victor malah dikerjai oleh anak-anak jalanan itu sampai-sampai ia dibawa ke kantor polisi!

Sementara itu, melalui Barbarossa, seorang pemilik toko barang antik yang tamak, Pangeran Pencuri mendapat tawaran dari seorang Conte untuk mencuri sesuatu baginya di sebuah rumah di Campo Santa Margherita. Imbalan sang ditawarkan sang Conte begitu menggiurkan sehingga Scipio menyanggupi untuk melakukan pekerjaan itu, walau akhirnya ia tahu bahwa barang yang harus mereka curi hanyalah sepotong kayu tua berbentuk sayap. Dengan berani mereka memasuki rumah itu dan tertangkap basah oleh sang tuan rumah, seorang fotografer wanita terkenal bernama Ida Spavento! Untunglah, Ida seorang wanita baik hati yang tidak serta merta melaporkan mereka ke polisi. Alih-alih, ia menceritakan kisah yang sulit dipercaya mengenai sepotong sayap yang ada dirumahnya itu, dan bahkan berkomplot dengan anak-anak bandel itu untuk mengetahui siapa yang membayar mereka untuk mencuri sayapnya. Begitu banyak petualangan yang mereka jalani! Akankah Victor Getz menangkap Prosper dan Bo dan mengembalikan mereka ke bibi yang begitu mereka benci? Benda apakah sebenarnya sayap kayu itu? Siapa sebenarnya si Pangeran Pencuri? Dan bagaimana nasib Tawon, Mosca, dan Riccio selanjutnya?

###

Hal yang paling memukau mengenai novel anak Pangeran Pencuri ini adalah kemampuan pengarangnya, Cornelia Funke, untuk mendeskripsikan seluk-beluk kota Venezia yang eksotik. Dari jalanan ke gedung-gedung, dari kanal-kanal ke laguna luas dan pulau-pulau misterius. Karakter tokoh-tokohnya beraneka warna mulai Scipio yang ngebos, Prosper yang cerdik, Bo yang polos, Tawon yang ceria namun menutupi jati dirinya, Barbarossa yang tamak, dan Victor si detektif yang sering sial. Adegan demi adegan dalam buku yang sarat petualangan ini bergulir dengan mulus dan ilustrasi-ilustrasi karya penulis yang menghiasi halaman-halaman buku menjadi nilai tambah novel anak yang dapat dinikmati segala usia ini.

Dibawah ini adalah cover baru Pangeran Pencuri yang diterbitkan ulang oleh GPU April 2011 lalu, apakah anda lebih suka cover lamanya yang bernuansa biru atau cover barunya yang hitam putih?

Buku ini membuat saya ingin jalan-jalan ke Venezia dan melihat sendiri patung Cagalibri, si Gila Buku di Campo Morosini, yang dipilih Tawon (yang seorang kutu buku) sebagai “tempat pertemuan”. Hai teman-teman BBI, kapan-kapan kita foto bareng di depan patung ini yah! ;-p

Statue of Cagalibri

Statue of Cagalibri

Detail buku: “Herr Der Diebe” (Pangeran Pencuri), oleh Cornelia Funke 420 halaman, diterbitkan Maret 2006 (republish April 2011) oleh Gramedia Pustaka Utama My rating: ♥ ♥ ♥

Advertisements

13 thoughts on “Herr Der Diebe (Pangeran Pencuri) – Cornelia Funke

    • Dibaca dong penjelasan diatas fotonya 🙂
      Ini patung Cagalibri si Gila Buku. Tapi klo mo foto rame2 di depannya agak susah ya kayaknya kalo mau buku2 di belakang si patung keliatan (Jiahhh kayak udah mo berangkat ke Venezia aja) :p

  1. Ayuk…foto di depan patung itu! Foto2 kita dimasukin situ pake photoshop boleh gak? hehehe…
    Ini salah satu buku yg sulit direview. Karena, menurutku kekuatannya justru terletak pada keindahan dan keeksotisan Venesia, yang sulit diceritakan kembali. Kalau ceritanya sendiri sih, malah antiklimaks di akhirnya.

    • Hahaha, ada yang jago ngedit pake photoshop? Yuk mariii 😀
      Yep, dari segi cerita memang gak terlalu istimewa, tapi cukup menghibur n bikin pingin jalan2 ke Venezia 😉

  2. ini lagiii…aku bru tau juga klo pangeran pencuri ada bukunya. Udah nonton filmnya sih.

    keindahan seperti digambarkan di buku mungkin tidak tertuang dengan sempurna di film ya..soalnya aksi si pangeran pencuri dkk banyakan di malam hari jadi klo lewat film kurang bisa menikmati keindahan venice (petualangan siang hari jg ada sih tpi mungkin tdk se-detail di buku kali ya..)

  3. hahahaha..mbak fanda muekso.. ;p eh jadi buku ini ada ilustrasinya ya mel? asyiiik ! 😀 tp ini kok nda dikasi cap mawar merah itu ya?
    omong2 kisah dengan setting venesia emang selalu mempesona, eksotis2 gimana gitu ;p
    aku juga ga suka kedua covernya.harusnya ini dimasukin cap mawar dgn cover warna perkamen pasti kewl ;p
    reviewnya kereeen!

  4. Cacat sebenarnya kalau menulis tentang Venezia tapi lupa menjabarkan keindahannya. Karena kelebihan Venezia memang terletak pada panorama (dan sejarahnya, tentu saja) yang membuat banyak orang terpesona. Pada kenyataannya, meski 60% novel Pangeran Pencuri berisikan deskripsi tentang Venezia, pembaca tetap dapat menikmatinya.

    Sebagai bacaan ringan, Pangeran Pencuri cukup santun menerjemahkan mimpi anak-anak — terbukti dengan banyaknya kelakar, petualangan, fantasi dan kutipan / petuah bijak tentang persahabatan yang tersebar di sepanjang cerita. Meski jika aku anak-anak, aku pasti kecewa ketika mengetahui sosok dibalik topeng Scipio.

    Pada akhirnya, ternyata ceritanya menarik juga, dengan ending mengejutkan — lebih tepatnya, (benar-benar) di luar dugaan. Apalagi kadar serius dan santainya cukup seimbang. Sehingga dapat mereduksi perasaan pembaca agar (tetap) terus membacanya =P.

    Kalau aku benar-benar diizinkan ke Venezia, asyik juga foto bersama si kuli buku Canto Morosini dengan sekawanan pencuri cilik, detektif Victor dan kura-kura kesayangannya =D

    P.S.
    Lebih suka kaver kedua. Charming =)

  5. Mau fotoan di sana 🙂
    4 bintang ya, saya ada buku ini sudah lama tapi belum juga kesentuh hadeeeh..

    Nice review Mel! Penasaran dengan filmnya juga nih, pengennya sih setiap film yang diinspirasi dari buku maunya ditonton :p

    Masalah cover aku punya yang biru, tapi lebih suka cover barunya, lebih artistik walaupun kedua cover nuansanya sama.

  6. Hai Mel, aku suka banget nih buku ini, kebetulan punya yg cover versi jadulnya =) bener2 kebayang seluk beluk venezia banget ya! trus rahasia di balik si pangeran pencuri juga bikin terperangah =p yuk, foto di depan patungnya!

  7. Awal maret tadi aku baru beli buku ini. Kebiasaan aku kalau punya buku baru suka cari review nya dan aku gak sadar pernah baca review yang disini :3 *sekarang baru sadar XD
    Detektif Viktor fav banget walau di awal agak konyol tapi ternyata dia itu baiknya kebangetan :3
    emang cornelia funke hebat buat cerita, aku terhanyut dalam kisahnya yang ini :3 hahaha
    Coba bintangnya 4 hihihi

  8. Aku punya buku yang cetakan ulang (cover putih), tapi lupa apa aku bener-bener baca dari awal sampe akhir atau ada yang di-skip, hehe… Jadi inget sempet mau pake novel ini buat bahan skripsi, tapi gak jadi. Jujur aku merasa agak kurang gimana gitu sama endingnya… Ini masih jauh dibanding Tintenherz yang menurutku adalah Funke’s best work so far… 🙂

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s