Home » Events » 1001 Books » The Count of Monte Cristo – Alexandre Dumas

The Count of Monte Cristo – Alexandre Dumas


My emotions will flow with hatred,
And death you will meet,
Through this day of reckoning I have realized,
Revenge through success is sweet.

“Sweet Revenge” by Matt Pike, © 2005

Sumber: dari sini

Balas dendam itu manis? Hmmmm, dalam cerita yang dituturkan Alexandre Dumas ini, balas dendam yang dilakukan sang tokoh utama tak selamanya manis, dan orang yang melakukan balas dendam tak selamanya jahat. Agak bingung dengan pernyataan saya? Mari simak alur ceritanya di bawah ini…

Muda, tampan, sukses, dan akan segera menikah dengan wanita pujaannya, begitulah keadaan Edmond Dantes si pelaut muda yang bekerja sebagai kelasi pertama di kapal Pharaon milik Monsieur Morrel. Kematian Kapten Leclere dalam perjalanan menuju Marseilles memberikan keuntungan bagi Dantes, dia dipromosikan menjadi kapten kapal Pharaon yg baru.

Kemujuran yang dialami Dantes rupaya membuat iri ketiga rekannya, yang pertama adalah Danglars si kepala keuangan Monsieur Morrel, kemudian Caderousse tetangga Dantes, kemudian Fernand, pemuda yang cinta mati kepada Mercedes, tunangan Dantes. Dengan memanfaatkan mandat terakhir Kapten Leclere kepada Dantes, yaitu mengantarkan sebuah paket ke Pulau Elba, mereka bertiga menjegal Dantes dengan menuduhnya seorang agen Bonapartis yang berbahaya. Sesaat sebelum pesta pertunangannya, Dantes ditangkap dan dibawa ke hadapan penuntut umum yang bernama Monsieur Villefort. Malang bagi Dantes, sang penuntut umum memanfaatkan tuduhan yang dialamatkan ke Dantes untuk kepentingannya sendiri, sehingga tak ayal lagi, Dantes dijebloskan ke dalam penjara.

Dalam sekejap, segala yang berharga dalam hidup Dantes pun lenyap. Ia dibawa ke suatu rutan yang berdiri di atas batu karang hitam terjal dan terpencil bernama Chateau d’If, meninggalkan seorang ayah yang renta dan miskin, serta seorang tunangan yang putus asa.

Hari-hari Dantes sebagai seorang narapidana dihabiskan dalam sel bawah tanah yang gelap. Keadaan itu membuatnya putus asa dan nyaris memutuskan untuk bunuh diri, sampai suatu hari terdengar suara aneh dari balik dinding selnya. Ternyata itu adalah Abbe Faria, seorang pastor yang dianggap gila, yang telah berusaha meloloskan diri dari penjara selama beberapa tahun. Dari Abbe Faria jugalah, Dantes mengetahui keberadaan Pulau Monte Cristo, yang konon menyimpan harta karun berlimpah. Abbe Faria meninggal sebelum mereka berdua bisa meloloskan diri dari Chateau d’If, dan ‘mewariskan’ harta karun di Pulau Monte Cristo kepada Dantes. Yang terjadi kemudian adalah Dantes akhirnya berhasil kabur dari Chateau d’If dan menemukan Pulau Monte Cristo.

Sepuluh tahun kemudian, Dantes yang kini dikenal sebagai Count of Monte Cristo yang terhormat, kaya raya dan berkuasa, mulai melancarkan aksi balas dendam kepada Caderousse, Danglars, Fernand, dan Villefort beserta keluarga mereka masing-masing. Lama-kelamaan, justru sepertinya pembalasan dendam itu bergerak sendiri menghabisi musuh-musuh Dantes, dan bukan lagi Count of Monte Cristo yang menjadi nahkoda dari aksi balas dendam itu. Apakah anda berpikir ceritanya berakhir sampai disitu?
Tidak, ceritanya justru baru dimulai!

###

The Count of Monte Cristo (1846) adalah karya Alexandre Dumas yang paling terkenal setelah The Three Musketeers (1844). Namun menurut saya, Monte Cristo lebih unggul karena kekayaan detail, dan kemampuan sang pengarang yang dengan ciamik menyulam benang merah rumit antara banyak tokoh dengan beragam konfliknya, dan tetap membuat cerita tidak membosankan dan tidak gampang ditebak. The Count of Monte Cristo juga adalah salah satu karya klasik yang telah berulang kali diadaptasi dalam bentuk film, salah satunya yang paling terkenal adalah versi tahun 2002 dengan bintang Jim Caviezel (pemeran Yesus dalam film The Passion of the Christ) sebagai Edmond Dantes/Count of Monte Cristo.

Sedangkan kekurangannya, di beberapa bagian terjemahannya terasa kurang nyaman dibaca. Misalnya, ada kata-kata ‘dua belas ratus’. Saya menebak bahwa kata-kata ini diterjemahkan dari ‘twelve hundred‘, yang setahu saya berarti seribu dua ratus. Penggunaan ‘dua belas ratus’ sungguh mengganggu saya. Namun perlu dipahami juga bahwa menerjemahkan sebuah karya klasik bukanlah pekerjaan mudah, apalagi jika bertemu dengan kalimat sulit seperti dibawah ini:


Robespierre mewakili suatu persamaan yang ‘merosot’: dia membawa raja-raja ke guilotin, sementara Napoleon mewakili suatu persamaan yang ‘ditingkatkan’: dia mengangkat orang-orang setaraf singgasana.

Saya butuh lebih dari dua kali membaca kalimat diatas sebelum mampu memahaminya.

Karena sama-sama bersetting pada abad 19 di Prancis, mau tak mau saya membandingkan Monte Cristo dengan Les Miserables karya Victor Hugo yang masih menjadi buku favorit saya, dan saya harus mengakui bahwa pengaruh yang ditimbulkan sang tokoh utama Dantes/Count of Monte Cristo tidaklah sebesar pengaruh Jean Valjean dalam Les Miserables terhadap saya. Jadi, 4 bintang saya berikan untuk buku ini.  Walaupun demikian, buku ini tetap menyimpan bejibun kutipan bijak yang sayang untuk dilewatkan:


Bagi orang yang bahagia, doa hanya suatu rentetan kata-kata, sampai hari ketika derita datang untuk menjelaskan kepadanya bahasa luhur yang dengan cara itu dia berbicara kepada Tuhan.

Hidupmu, anak muda, terlalu pendek untuk dimasukkan ke dalam apa saja yang amat penting.

Kebencian itu buta, kemarahan itu gegabah, dan dia yang menuangkan pembalasan dendam punya risiko harus minum bir pahit.

Dengarkan aku. Inilah apa yang telah dilakukan Tuhan, yang tidak mau kauakui pada saat-saat terakhirmu di dunia, terhadapmu. Dia memberimu kesehatan, kekuatan, kerja yang menghasilkan dan teman-teman; singkat kata, segala sesuatu yang dibutuhkan seorang manusia dengan hati nurani bersih dan memuaskan keinginan alaminya. Tetapi, alih-alih menikmati karunia Tuhan itu, kau membiarkan dirimu dikuasai kemalasan dan kemabukan, dan dalam mabukmu kau mengkhianati salah seorang sahabat karibmu.

Aku tahu apa yang bisa dilakukan oleh kekuatan kemauan. Ada orang-orang yang telah menderita dan tidak hanya melanjutkan hidup, tetapi bahkan membangun suatu kekayaan baru di atas reruntuhan kebahagiaan mereka yang sebelumnya. Dari kedalaman tempat musuh yang telah melemparkannya, dia justru bangkit lagi dengan kekuatan dan kemuliaan sedemikian rupa sehingga mengalahkan mereka yang dahulu menaklukkannya dan pada gilirannya menyingkirkan mereka.

Jika Tuhan yang memukul mereka sampai jatuh, itu karena Dia tidak dapat menemukan sesuatu pada masa lalu mereka yang berguna untuk mengurangi hukuman mereka.

Semua kebijaksanaan manusia termuat dalam dua kata ini: tunggulah dan berharaplah.

Detail buku:
“The Count of Monte Cristo”, oleh Alexandre Dumas
568 halaman, diterbitkan Maret 2011 oleh Bentang Pustaka (Mizan Group)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

21 thoughts on “The Count of Monte Cristo – Alexandre Dumas

  1. Wuiik..Melisa ngeborong quotes deh! Aku suka dengan bahasanya Count of Monte Cristo itu, panjang memang, tapi maknanya menohok dengan manis.. Itu membuktikan efek belajar dan banyak membaca ya (selama di penjara).

  2. Jadi pengen nonton filmnya niiyy. Oiya emang ada beberapa bagian yang perlu dibaca ulang untuk mencerna makna terjemahannya, hehe.

  3. Saya menebak bahwa kata-kata ini diterjemahkan dari ‘twelve hundred‘, yang setahu saya berarti seribu dua ratus.
    memang banyak kata yang sangat sulit untuk mencari padanannya dalam bahasa indonesia. saya pernah menemukan kata “showed off” di buku Petualangan Tom Sawyer yang diterjemahkan “pamer” tetapi saya rasa kurang pas jika dipakai dalam kalimat. saya rasa ini perlu keluwesan dari penerjemah. terima kasih

  4. aku udah donlot filemnya, paruh pertama sih lancar subtitelnya, paruh keduanya, mulai deh subtitelnya ngulah..anyway, saya menjadi tertarik membaca sejarah prancis setelah mengubek-ubek bikin review monte cristo ini. bagaimanapun dumas penulis hebad

    • Waaahh aku malah belom berhasil donlot filmnya, mesti mandek di tengah jalan :((
      Lho, kita kan belajar sejarah dengan metode yang keren, yaitu baca buku fiksi.. =p
      yup, setuju bahwa Dumas penulis hebat!

  5. iya bener, terjemahan klasik emang rada susah ya…tapi menurutku sih udah lumayan ok lah tjemahan bentang, ga parah2 amat hahaha…
    btw jd penasaran sama les miserables nih mel =D

  6. Jd lebih bagus dari Tree Musketers ya? sy blm baca. Tapi soal keciamikan Dumas menyulam benang merah rumit antara banyak tokoh dengan beragam konfliknya memang luar biasa. Seperti si Monte Cristo, Duman itu penulis yg sabar dan tekun, terlihat dia gak tergesa-gesa merangkai kisah, dia sepertinya betul2 merangkai kisah dgn ketekunan dan kerumitan seorang maestro pendongeng.. 🙂

    • “Duman itu penulis yg sabar dan tekun, terlihat dia gak tergesa-gesa merangkai kisah, dia sepertinya betul2 merangkai kisah dgn ketekunan dan kerumitan seorang maestro pendongeng..” Hehe bener banget rahib… cuma bukan Duman ya tapi Dumas 😀

      yep, menurutku Monte Cristo lebih bagus daripada Three Musketeers. kalo mau buktiin dibaca aja Trio Musketri nya 😉

    • Yap betul, Trio Musketri terbitan Serambi. kalo aku sih nggak bermasalah dengan “tunggulah dan berharaplah”, tapi istilah2 yang laen emang kadang2 aneh sih, palagi “dua belas ratus” itu… >.<

  7. Heu? Dua belas ratus? Konteks kalimatnya apa sih Mel? kan ada juga Twelve Hundreds Hour alias pukul 12.00.

    Menurutku sih, penerjemah novel ini harus baca sejarah Prancis pada abad ini (sekarang sih bisa baca buku sejarah Prancis terbitan KPG ya).

    Oya ini loh:
    “Robespierre represented a `lowering’ equality: he brought kings to the guillotine, while Napoleon represented an `elevating’ quality: he raised the people to the level of the throne.”

    Menurutku sih harusnya equality itu lebih ke “kesetaraan” atau “penyetaraan” bukan “persamaan”. Jadi terjemahannya bisa “penyetaraan yang menurunkan derajat vs penyetaraan yang mengangkat derajat”. Atau kalau mau penafsiran bebas bisa:

    “Robespierre mewakili penurunan derajat: dia itu menyeret raja-raja ke gilotin, sementara Napoleon merepresentasikan kenaikan derajat: dia yang mengangkat orang kebanyakan ke level keluarga kerajaan.”

    Robespierre yang aktivis Revolusi Perancis mengirim raja dipancung, sementara Napoleon mengangkat saudara-saudaranya jadi raja seperti di Belanda.

    Eh kepanjangan ya?

    *iri neh komentar di blog ini rame banget hehe

    • Kalau gak salah dua belas ratus yang dimaksud itu harga ato nilai sejumlah uang kok…

      –> “Robespierre mewakili penurunan derajat: dia itu menyeret raja-raja ke gilotin, sementara Napoleon merepresentasikan kenaikan derajat: dia yang mengangkat orang kebanyakan ke level keluarga kerajaan.”

      Trims untuk terjemahan kalimat ini yang jauuuuuhh lebih tepat n lebih gampang dipahami! 🙂

      Klo komentar di post dikuisin membeludak gitu loh yg komen (jadi intinya setiap post dikuisin aja biar komentarnya rame #eh) :p

  8. Pingback: TTT: Top Ten Favorite Quotes From Books | Surgabukuku

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s