Home » Book Reviews » 4 star review » Cinta Tak Pernah Mati : Antologi Cerpen Klasik

Cinta Tak Pernah Mati : Antologi Cerpen Klasik

Kadang-kadang, pena bisa lebih tajam daripada pisau. Dan kadang-kadang, sebuah cerita pendek bisa bergaung lebih keras daripada novel setebal ratusan halaman.

Selama ini saya tidak terlalu tertarik dengan cerpen, sampai buku ini jatuh ke tangan saya. Saya baru ngeh bahwa sebuah cerpen bisa memiliki daya pikat yang kadangkala bisa melebihi sebuah novel. Dan membuat sebuah cerita yang “nendang” hanya dalam beberapa ribu kata saja, jelas bukan pekerjaan gampang! Edgar Allan Poe pernah berkata,

“Dalam cerpen tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma, harus punya fungsi, tujuan dalam komposisi keseluruhan.”

Dalam seri kumpulan cerpen klasik terbitan Serambi Ilmu Semesta yang diberi tajuk Cinta Tak Pernah Mati ini, tidak kurang dari 17 cerpen dari para maestro sastra dunia dikumpulkan. Masing-masing cerpen mengusung warna dan ciri khas dari pengarangnya mengenai satu hal yang sangat universal di dunia ini, yaitu cinta. Seperti apa jadinya jika 17 orang luar biasa ini digabungkan untuk menyuarakan cinta melalui kertas dan pena?

Kumcer ini menyentuh tema cinta dari berbagai sisi. Cinta antara sepasang kekasih, suami dan istri, ayah dan anak, Tuhan dan manusia, manusia dengan sesamanya, dan bahkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Cinta yang terang benderang membahagiakan, cinta yang ganjil, cinta yang berkorban, sampai cinta yang meremukkan hati dan jiwa, dan cinta yang membuat manusia jadi gila.

Berikut ini adalah daftar judul cerpen yang ada di dalam kumcer Cinta Tak Pernah Mati:

  1. Suatu Hari di Surga – Ryunosuke Akutagawa
  2. Cinta Tak Pernah Mati – Honoré de Balzac
  3. Ayah dan Anak – Bjornstjerne Bjornson
  4. Varka Hanya Ingin Tidur – Anton Chekov
  5. Maling yang Jujur – Fyodor Dostoevsky
  6. Kebajikan – John Galsworthy
  7. Tamu Pernikahan – O. Henry
  8. Ibunda – James Joyce
  9. Hantu Mantan Kekasih -Rudyard Kipling
  10. Bekas Luka – W. Somerset Maugham
  11. Senyum Schopenhauer – Guy de Maupassant
  12. Kucing Hitam – Edgar Allan Poe
  13. Perkawinan – August Strindberg
  14. Kesetiaan – Rabindranath Tagore
  15. Kebahagiaan – Leo Tolstoy
  16. Keberuntungan – Mark Twain
  17. Sepatu Bot – Émile Zola

Jujur saja, saya agak bingung bagaimana harus meresensi buku ini. Anda harus membacanya sendiri untuk bisa mengerti kehebatan buku ini. Anda harus mengalami sendiri ‘didongengi’ oleh 17 pengarang kenamaan seantero dunia ini. Satu hal yang membuat buku ini semakin istimewa adalah foto dan biografi singkat masing-masing pengarang yang diselipkan di akhir masing-masing cerpen.

Jika anda penasaran, maka bacalah, dan jika anda penggemar karya sastra klasik, maka koleksi anda tidak akan lengkap sebelum buku ini nangkring di rak buku anda. Dijamin anda tidak akan rugi jika memilikinya! #bukanpromosi

Cinta Tak Pernah Mati dalam angka:
227 halaman
17 cerita pendek
17 pengarang ternama yang berasal dari 9 negara dan 3 benua
4 peraih Hadiah Nobel Sastra
kumpulan cerpen klasik ke-6 yang diterbitkan oleh Penerbit Serambi
2 jempol dari saya untuk Serambi, Anton Kurnia dan Atta Verin 🙂

Detail buku:
“Cinta Tak Pernah Mati” oleh Ryunosuke Akutagawa, dkk
227 halaman, diterbitkan Juni 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

17 thoughts on “Cinta Tak Pernah Mati : Antologi Cerpen Klasik

  1. Hai mel… ini aku Momo di goodreads 😀
    Wew… sumpah pertama lihat cover ini kukira buku lokal *tepok jidat*

    ternyataaaa ;D

    btw reviewnya kereeeen… masukin ke list-to-read 😀

  2. Pingback: Cinta yang Hilang: Kumcer Klasik O. Henry « surgabukuku

  3. Kadang-kadang, pena bisa lebih tajam daripada pisau. Dan kadang-kadang, sebuah cerita pendek bisa bergaung lebih keras daripada novel setebal ratusan halaman.
    saya sangat sepakat dengan kalimat tersebut. mungkin itu adalah yang menjadi penyebab kenapa saya lebih suka membaca cerpen atau kumpulan cerpen dibandingkan dengan novel.
    butuh waktu banyak untuk membaca novel, sementara cerpen tidak demikian.
    membaca novel tidak bisa sekali baca selesai, sementara cerpen bisa selesai dalam sekali duduk.
    dalam novel hanya beberapa tokoh dan konflik saja, sementara dalam kumpulan cerpen bisa ditemukan banyak tokoh dengan beraneka karakteristik, sifat, dan sikap, juga banyak permasalahan yang bisa dikemas serta dibentangkan dalam banyak setting waktu dan latar.
    kenapa ingin membaca buku tersebut?
    mungkin tak banyak yang bisa mendefinisikan cinta dalam bentuk rangkaian kata-kata. namun cinta yang sebenarnya bisa disampaikan dengan apik dalam sebuah cerita… dan saya ingin tahu seperti apa kisah-kisah yang mewakili bahwa cinta tak pernah mati
    terima kasih

  4. “Cinta antara sepasang kekasih, suami dan istri, ayah dan anak, Tuhan dan manusia, manusia dengan sesamanya, dan bahkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Cinta yang terang benderang membahagiakan, cinta yang ganjil, cinta yang berkorban, sampai cinta yang meremukkan hati dan jiwa, dan cinta yang membuat manusia jadi gila.”
    Aku ingin sekali membaca buku ini, aku ingin lebih bisa memahami cinta. Bukan hanya dengan pacar / kekasih, tetapi dengan Tuhan, orang tua, sahabat dan lain-lain. ^^

  5. Aku suka sastra klasik. Kumcer ini recommend banget buat aku ka. Benarkah cinta tak pernah mati? pertanyaan itu terlitas begitu saja dibenakku. Akankah jawabannya ada pada kumcer ini ka? Aku sangat tertarik. Seperti apa cinta yang disuguhkan oleh para penulis dunia.

      • Aku paling suka sama karya Natsume Soseki dengan bukunya Hitoribocchi ka. dan little prince. sebetulnya untuk karya klasik selain Jepang aku kurang tahu ka. Boleh minta recommend nih ka? Lagi ngincer klasik lainnya. tapi yang terjemahan indo ka, karena selain bahasa Jepang,aku angkat. 😀

  6. Waa, mba Mel, sama. Aku baru kemarin selesai baca Kumcer ini dan sudah aku tulis juga di blog. Ada beberapa cerita yang sudah pernah aku baca sebelumnya seperti Ibunda karya James Joyce dan Black Cat Edgar Allan Poe. Meski yang menjadi fav. Saya itu cerpen Guy de Maupassant. Bukan karena dia seorang penulis kenamaan saja, tapi juga karena memang ceritanya itu lucu. Bayangin aja, udah deg-degan mikir ada apaan di bawah petinya, ternyata….. *tepok jidat*

  7. Jujur saja, kapasitas saya sebagai pembaca novel memang kerapkali mengasingkan buku-buku tipis berkiblat `Kumcer.` Karna gak jarang kumpulan cerpen yang saya temukan terkesan biasa, bahkan ada yang hanya sekedar memenuhi syarat sebuah cerpen saja, tapi gak jarang juga saya menemukan kumpulan cerpen yang memang patut dijempoli. Namun yang patut diapresiasi dalam sebuah cerpen adalah kemampuan penulis yang dengan keterbatasan karakter cerpennya mampu menggugah pembaca, dan saya cukup penasaran dengan kumper Cinta Tak Pernah Mati ini, berharap bisa mencicipinya ;D. Amin.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s