Home » Book Reviews » 3 star review » Letters to Sam: Kumpulan Surat Cinta Kakek kepada Cucunya

Letters to Sam: Kumpulan Surat Cinta Kakek kepada Cucunya

Tak ada gunanya hidup jika anda tak menyadari sepenuhnya bahwa anda adalah seorang manusia yang manusiawi — yang penuh dengan kelemahan.

Namun bahkan di dalam kelemahan, manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk menguatkan sesamanya. Yang menjadi masalah bukanlah bagaimana menghilangkan kelemahan itu, namun bagaimana mentransformasi kelemahan menjadi suatu bentuk kekuatan, yang bisa menolong diri sendiri dan bahkan orang lain. Dan langkah pertama yang perlu dilakukan supaya hal ini terjadi, adalah mengubah cara berpikir kita terhadap diri sendiri dan terhadap kehidupan.


Letters to Sam
merupakan 217 halaman surat cinta dari seorang manusia lemah kepada manusia lemah lainnya, yakni seorang kakek yang menderita kelumpuhan kepada cucunya yang mengidap autisme. Sang kakek, yang adalah seorang psikolog dan terapis keluarga yang telah menangani ratusan pasien sepanjang hidupnya, menuturkan berbagai nasihat, pandangan, pengalaman, dan filosofi bagi Sam, cucu tercintanya, dengan harapan bahwa suatu hari nanti Sam akan mampu membaca surat-surat ini dan memahami apa yang disampaikan kakeknya padanya.

Buku ini terbagi menjadi enam bagian. Di bagian pertama sang kakek menulis surat untuk menyambut hadirnya cucunya di dunia ini. Pada bagian-bagian selanjutnya, ia akan bercerita banyak hal mengenai keluarga, hubungan, tubuh, pikiran, dan jiwa, masa depan dan harapan, mengenai tempatmu di dunia, dan ditutup dengan salam perpisahan. Bagi saya, buku ini membuka jalan untuk perenungan pribadi, apa artinya menjadi manusia; sebanyak apa cinta yang telah saya berikan bagi orang lain sepanjang hidup saya.

Namun demikian, berbagai nasihat, pandangan, dan filosofi yang terkandung dalam buku ini, bagaimanapun baik kedengarannya, tidaklah untuk ditelan mentah-mentah. Kita perlu ingat bahwa buku ini adalah kumpulan surat-surat yang ditulis oleh seseorang yang memiliki keterbatasan, kepada seorang lain yang juga memiliki keterbatasan, sehingga notabene hidup mereka berbeda dengan hidup yang dijalani kebanyakan orang. Hal ini saya jumpai dalam surat yang berjudul “Berikan kesempatan untuk berbuat baik”. Dalam surat ini sang kakek menunjukkan bahwa kebaikan manusia seringkali muncul ketika mereka melihat kerapuhan dan kelemahan dalam diri sesamanya. Hal ini tentu saja benar. Namun mari kita cermati penggalan di bawah ini,


“Terkadang, keadaan memaksa kita untuk berpura-pura kuat dan berani, padahal sebenarnya kita merasakan sebaliknya. Tapi itu jarang sekali. Pada umumnya, akan lebih baik kalau kita tak usah berpura-pura berani padahal merasa takut. Aku percaya, dunia akan menjadi tempat yang lebih aman kalau setiap orang yang merasa lemah menggunakan flasher dan berkata, ‘Aku punya masalah. Aku lemah dan sedang berusaha semaksimal mungkin’.”
(hal. 58)

Saya setuju dan tidak setuju terhadap penggalan di atas. Di satu sisi, pada dasarnya bersikap apa adanya — berlaku A ketika kita merasakan A dan berkata B ketika kita merasakan B, adalah sesuatu yang baik. Namun kalimat terakhir berpotensi menimbulkan dampak yang negatif bagi beberapa orang, yang mungkin, suka ‘obral kelemahan’. Pandangan ini seakan-akan mengesahkan bahwa oke-oke saja jika anda berkata kepada orang lain, “I’m weak” dalam banyak kesempatan. Pada akhirnya, orang yang terus menerus berkata kepada dirinya dan orang lain bahwa saya lemah, akan terus menuntut untuk menerima bantuan, dan tidak akan mampu berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Ini suatu hal yang buruk, jika yang mengalaminya seseorang yang tidak memiliki keterbatasan sebagaimana Dr Gottlieb atau Sam.

Kemudian kalimat ini :

“Hanya dengan menerima, hanya dengan berhenti melawan, aku menemukan kedamaian.” (hal 76)

Entah karena sudah natur saya bahwa saya seorang fighter yang terus memperjuangkan berbagai hal dalam hidup, saya tidak setuju dengan ungkapan ini. Selama masih ada harapan, saya tidak mau berhenti berjuang, meskipun itu berarti melawan banyak hal atau banyak orang. Namun jika perjuangan itu buntu dan tidak membuahkan hasil, itu bisa berarti memang sudah saatnya berhenti melawan.

Di dalam buku ini juga Daniel Gottlieb memasukkan berbagai kebijaksanaan dari beberapa keyakinan yang berbeda-beda, mulai dari Yahudi, Kristen, sufi, sampai Buddha. Saya pribadi kurang suka jika seseorang membawa berbagai elemen keyakinan dalam dirinya. Kalau sekedar mempelajari, okelah, namun jika anda hidup ditengah-tengah bermacam-macam filosofi dan lebih parah lagi, mengajarkannya kepada orang lain, maka siapakah sebenarnya anda? Jika anda seorang Kristen, jadilah sepenuhnya Kristen, jika anda muslim, jadilah sepenuhnya muslim, jika anda penganut Buddha, jadilah sepenuhnya orang Buddha. Tentu saja dengan tidak mengabaikan cinta kepada sesama manusia, tanpa pandang bulu. Tetapkan apakah anda panas atau dingin, jangan mengambil tempat di tengah-tengahnya karena ini sangat berbahaya!

Terlepas dari hal-hal diatas, buku ini menyimpan banyak nilai-nilai berharga yang dapat dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan:

1. Cinta mengubah segalanya. Memberikan cinta jauh lebih penting daripada menerimanya.

2. Seorang yang punya keterbatasan seperti seorang tunadaksa pun mampu memberi, mampu melakukan sesuatu yang berharga bagi orang lain.

3. Labelling atau pengelompokan terhadap manusia sangatlah berbahaya. Kita tidak pernah tahu dampak psikologis sebuah label bagi seseorang yang kita panggil “si cacat”, “si bodoh”, “si autis”, dan sebagainya. Yang perlu kita lakukan adalah menerima seorang manusia sebagaimana adanya, karena apapun yang terjadi dengan tubuh atau pikirannya, jiwanya tetap utuh.

4. Tubuh kita mempunyai sistem yang mampu menyembuhkan luka fisik dengan sendirinya. Demikian juga luka emosional, semua yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka tersebut sebenarnya sudah ada dalam diri kita. Tidak perlu menuntut supaya luka itu sembuh dengan cepat, karena sudah pasti diperlukan waktu dalam proses penyembuhan. Dan diperlukan keyakinan bahwa kelak rasa sakit itu akan pergi. Seseorang yang sakit lebih membutuhkan seseorang yang bersedia duduk bersamanya, hanya menemaninya dan mendengarkannya, tanpa melontarkan berbagai nasihat atau saran terkait penyakitnya.

5. Kadang-kadang seorang manusia dapat mencapai suatu titik penting dalam hidupnya — justru ketika ia sendirian, tidak punya siapa-siapa.

“Masa itu menjadi sebagian dari tahun-tahun terpenting dalam hidupku. Aku tinggal sendirian. Aku tak punya teman. Namun, aku berhasil meningkatkan keahlian akademisku. Aku sendiri terkejut dengan daya tahan yang kumiliki. Aku juga mendapati diriku mampu bertoleransi dengan kesunyian. Perjalananku yang sesungguhnya dimulai di sana — dalam kesunyian.” (hal 121)

Saya mengenal seseorang yang boleh dibilang hampir tak punya teman. Ia lebih memilih kesendirian daripada hangout dan membiarkan diri dikelilingi banyak teman. Awalnya saya berseru padanya, “Bagaimana mungkin kamu hidup seperti itu?”
Namun sekarang, semakin lama saya mengenal dia, saya jadi mengerti bahwa mungkin keadaan seperti itu yang paling baik baginya, dan bahwa dalam kesendirian ia bergaul erat dengan Tuhan, dan hasilnya Tuhan mengaruniakan dia kebijaksanaan yang jauh melampaui usia fisiknya.

6. Seorang anak membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan dia. Ketika seorang anak menjadi korban bullying, misalnya (diterjemahkan menjadi ‘penggencetan’), hal yang lebih dihargai oleh seorang anak adalah jika orang tuanya mau mendengarkan dan bertindak dengan kepala dingin, sehingga akhirnya tindakan tersebut tidak berakibat buruk kepada si anak, daripada langsung mengkonfrontasi si pelaku bullying atau pihak sekolah.

7. Saat orangtua tak berhenti mengkhawatirkan anaknya, sebenarnya si anak juga khawatir tentang orangtuanya. Terkadang cara terbaik bagi orangtua untuk menjaga anak-anak adalah dengan menjaga diri mereka sendiri (hal 141).

8. Kebahagiaan bukan terletak pada uang, kesuksesan, atau pencapaian-pencapaian lainnya. Seringkali orangtua tidak memahami hal ini dan secara tidak sadar menuntut anaknya untuk meraih pencapaian-pencapaian sampai tingkat tertentu. Ketika hal itu tidak tercapai, anak akan merasa tidak aman dan tidak cukup dicintai oleh orangtuanya. Ketika hal itu tercapai, apa sesungguhnya yang dirasakan oleh jiwa anak tersebut?

“Rasa aman yang sebenarnya hanya datang saat kita merasa nyaman dengan diri kita yang sesungguhnya (dan perasaan ini akan meningkat ketika kita memiliki sebuah hubungan yang ada rasa saling mencintai dan memahami). Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah efek samping dari kehidupan yang kita jalani dengan baik.”

“‘Tugas anda sekarang,’ kataku kepada para orangtua, ‘adalah menikmati keuntungan, menoleransi kegagalan mereka, memiliki keyakinan atas daya tahan mereka, dan jangan pernah memberikan nasihat jika tidak diminta.’ (Ketika aku mengatakan ini, aku mendapatkan tepuk tangan bergemuruh dari anak-anak mereka.)” (hal. 156)

9. Kita harus mengalami kematian supaya kita lebih menghargai hidup yang kita miliki.

“Kematian bukanlah musuh. Mengetahui bahwa hidupmu telah mencapai titik akhir akan membantumu menghargai setiap momen yang kau lalui dalam hidup. Kematian membuatmu memahami hadiah berharga yang diberikan kehidupan itu sendiri.” (hal 187)

10. Just live your life as it is.

“Banyak dari kita menderita karena mencoba menjalani kehidupan yang pernah kita miliki atau kehidupan yang kita dambakan. Kau mengingatkanku hari itu bahwa hidup terasa sangat manis ketika kita menjalani kehidupan yang kita miliki.” (hal 202)

Dan saya sangat suka dengan puisi Jalaluddin Rumi berjudul Guest House yang diselipkan oleh Gottlieb di akhir buku.

“Be grateful for whoever comes, because each has been sent as a guide from beyond.”

Tiga bintang saya persembahkan untuk kumpulan surat cinta seorang kakek kepada cucunya ini. Terjemahannya digarap oleh Windy Ariestanty dengan sangat baik, walaupun masih bertabur typo di beberapa tempat 😦 dan tampilan fisik buku benar-benar cakep khas penerbit Gagas Media 😉
Pesan saya, bacalah buku ini dengan hati dan pikiran lapang dan terbuka, jangan langsung melahap mentah-mentah kalimat-kalimat di dalamnya. Saringlah filosofi yang mana yang sesuai dengan keyakinan pribadi anda dan yang mana yang bukan, karena paling baik jika seseorang benar-benar yakin akan sesuatu dalam hatinya sendiri.

Detail buku:
“Letters to Sam” oleh Daniel Gottlieb
217 halaman, diterbitkan Juli 2011 oleh Gagas Media
My rating: ♥ ♥ ♥

Advertisements

19 thoughts on “Letters to Sam: Kumpulan Surat Cinta Kakek kepada Cucunya

  1. Mantap reviewnya!
    Tapi tentang: “Hanya dengan menerima, hanya dengan berhenti melawan, aku menemukan kedamaian.”, menurutku sih itu merujuk ke hal2 yang tidak dapat kita ubah. Misal kenyataan bahwa Daniel lumpuh dan Sam autis. Karena memang tak dapat diubah, maka just live with it, jangan menangisi dan terus menyesali. Menurutku, itu maknanya.

  2. EEbusettt dah panjang amat reviewnya ck ck ck hahahahahaha tapi setuju sama kamu, ada beberapa hal yang kayaknya kurang cocok u/ ditiru …at least bagi orang Timur seperti kita misalnya bagian seks bebas, kapan tidak mjd perjaka lagi eaa hgagagagaga

    tapi terlepas dr itu, nilai-nilai kebaikan dr sang kakek memang patut u/ kita renungkan, hanya saja …kok rasanya ada yg kurang pas aja ya …entah kenapa ada sedikit bagian yang seolah kurang sreg dr buku ini…..hohohohoho minta buntelannya donk

    Kau mengingatkanku hari itu bahwa hidup terasa sangat manis ketika kita menjalani kehidupan yang kita miliki.” (hal 202)

  3. wawww reviewnya super lengkap ya mel =D iya bener, banyak yang harus disesuaikan saat baca buku kayak gini…perlu buka mata dan hati lebar2 =D

  4. Haduh2. Maap buat semua aku baru sempat ngecek blog lagi….Sekedar info, aku baru menyelesaikan buku ini pukul 4 tadi pagi, langsung bikin reviewnya, trus dilanjutin pas perjalanan ke kantor diatas bus (emang sengaja naik bus hari ini :p)
    Tapi sebelumnya memang sudah kutandain, bagian-bagian mana yang mau aku komentari.

    Hehehe.. terima kasih buat semua komennya yaaa! Viva #BBI! \m/

  5. Waaah buku ini udah lama menarik perhatianku, tapi gak sempet beli mulu ): Aku tertarik karena kedengarannya unik – berformat surat, terus dari kakek buat cucunya, berisi nasihat2 dan filosofi2 untuk diajarkan ke sang cucu. Jarang banget ada yang begini. Zaman sekarang, anak atau cucu belajar dari sekolah dan lingkungan sekitar, apalagi sekarang udah ada internet, jadi jarang sekali orangtua atau kakek/nenek yang berbagi berbagai pandangannya ke sang anak/cucu, lewat surat lagi. Unik! Pengen bacaaaaa….

  6. Pernah lihat buku ini tapi ga tertarik buat ambil, mungkin karena GagasMedia yang saya kenal itu karya-karyanya yang lebih pop, ya? Entahlah.

    Terlepas dari itu, review ini bikin saya cukup penasaran sama bukunya. Lain kali jika menemukan, mungkin akan saya baca. Tapi sepertinya buku ini tidak akan ditemukan di toko buku ya karena sudah cukup lama. ^^;;

    Lalu, saya suka banget pada ulasan Kak Mel yang ini:

    “Jika anda seorang Kristen, jadilah sepenuhnya Kristen, jika anda muslim, jadilah sepenuhnya muslim, jika anda penganut Buddha, jadilah sepenuhnya orang Buddha. Tentu saja dengan tidak mengabaikan cinta kepada sesama manusia, tanpa pandang bulu. Tetapkan apakah anda panas atau dingin, jangan mengambil tempat di tengah-tengahnya karena ini sangat berbahaya!”

    Aih, iya, setuju banget, Kak. Kalo berkaitan sama kepercayaan, sebaiknya memang berpihak. Tapi, ya, tentu saja harus siap bertoleransi. 🙂

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s