Home » Book Reviews » 4 star review » Rumah Tangga yang Bahagia – Leo Tolstoy

Rumah Tangga yang Bahagia – Leo Tolstoy

Baru-baru ini saya menemukan sebuah kutipan menarik dari akun @ihatequotes di Twitter. Jika diterjemahkan bebas ke bahasa Indonesia kira-kira artinya, “Sebuah hubungan yang baik mampu mengeluarkan yang terbaik dari dirimu, menerima yang terburuk dari dirimu, dan lebih lagi mendekatkan Tuhan padamu.”

Mungkin itulah yang dirasakan Marya Alexandrovna atau Masha, seorang gadis yatim piatu 17 tahun, terhadap sosok Sergei Mikhailich, yang adalah teman baik ayahnya sekaligus pelindung bagi Masha dan adiknya, Sonya. Mendung yang meliputi hati Masha ketika satu persatu ayah dan ibunya meninggal dunia perlahan-lahan terkikis oleh kepribadian Sergei Mikhailich yang selalu riang, jujur dan bersahaja. Sergei Mikhailich boleh berusia 36 tahun, namun yang dilihat Masha dalam senyumnya dan matanya yang berseri-seri tak ubahnya kanak-kanak berusia 10 tahun. Walau sebelumnya ia berperan seperti seorang ayah yang bijak bagi Masha, kini Sergei Mikhailich mengajari Masha yang masih belia sedemikian rupa, sehingga Masha bisa menjadi seseorang yang setaraf dengannya, dan hal ini sangat dihargai oleh Masha. Salahkah Masha bila ia jatuh cinta pada pria yang usianya jauh lebih tua darinya? Tak salah lagi, dalam sorot mata dan segala tindak tanduk Sergei Mikhailich, Masha dapat melihat bahwa pria itu juga mencintainya, hanya saja ia sepertinya sulit mengatakannya pada Masha.


“Tetapi mengapa ia tak lantas saja mengatakan cintanya padaku?” Aku merasa heran. “Mengapa dia merasa sulit dan merasa dirinya telah tua, sedangkan semua itu begitu mudah dan indah? Mengapa saat-saat yang segemilang ini dikatakannya telah berlalu dan tak ‘kan kembali?

Suruhlah ia mengatakan ‘aku cinta padamu!’ Suruhlah ia mengucapkannya dalam kata-kata. Suruhlah ia meraih tanganku dalam genggamannya, suruhlah kepalanya merunduk dan berkata ‘aku cinta padamu’. Suruhlah ia tersipu-sipu dan menundukkan kepalanya di hadapanku, dan biarlah kukatakan semuanya. Atau tidak, tak ‘kan kukatakan sepatah kata pun jua — akan kulilitkan lenganku dan kudekapkan badanku padanya dan menangis.”

Singkat cerita, seperti yang jelas tersirat pada judul buku, Masha dan Sergei Mikhailich menikah. Namun disinilah, tantangan yang sesungguhnya dimulai. Bagaimana Sergei Mikhailich, seorang pria yang sudah mapan dan sangat menikmati kehidupan pedesaan yang tenang, menghadapi gelora jiwa masa muda Masha yang jemu akan ketenangan dan mendambakan kegemparan, kehidupan yang hiruk pikuk, dan pergaulan yang penuh hasrat duniawi di kota? Bagaimanakah mereka akan mewujudkan apa yang dinamakan rumah tangga yang bahagia?

Kisah yang sebetulnya sederhana, namun terasa luar biasa indah akibat penceritaan yang kuat. Inilah yang menurut saya menjadi kekuatan karya-karya Leo Tolstoy, yang mana tidak semua penulis mampu melakukannya. Penerjemahan oleh Dodong Djiwapradja yang ‘nyastra’ sekali juga ternyata masih bisa dinikmati oleh saya yang tidak begitu terbiasa dengan gaya bahasa demikian, dan malah saya rasakan semakin menambah keindahan cerita.

Dalam Rumah Tangga yang Bahagia, Tolstoy berusaha menyampaikan bahwa kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah hidup untuk orang lain. Dalam hal rumah tangga, ini tentu berarti pengorbanan masing-masing pihak atas kepentingan diri sendiri, dan hidup bagi suami atau istrinya serta anak-anak mereka. Namun seringkali sifat manusia yang egois lebih dominan sehingga seseorang tak mau berkorban dan akhirnya terjadi konflik dalam rumah tangga, atau pengorbanan tidak terjadi timbal-balik sehingga rumah tangga menjadi timpang. Tolstoy juga menyampaikan bahwa, “Setiap waktu punya bentuk cintanya sendiri-sendiri”. Cinta yang dirasakan sepasang suami istri ketika baru saja menikah dan beberapa tahun setelah itu mungkin berbeda, tapi cinta itu tidak binasa, hanya berubah saja bentuknya. Dan sebetulnya salah satu hal sederhana namun penting untuk menjadi bahagia malah sering kita lupakan, yaitu puas dengan keberadaan pasangan kita, dan puas dengan segala sesuatu yang kita miliki. Pertanyaannya sekarang, mampukah kita hidup seperti itu?


“Satu-satunya kebahagiaan dalam hidup ini ialah hidup untuk orang lain. Aku yakin bahwa kami bersama-sama akan hidup rukun dan bahagia untuk selama-lamanya. Aku tidak melamunkan pergi ke luar negeri, juga tidak memimpikan kemewahan, melainkan hidup yang sama sekali lain hidup rumah tangga yang damai di pedalaman, hidup yang tak henti-hentinya berkorban dan cinta mencintai antara satu dengan lainnya, yang bersamaan dengan itu senantiasa menyadari akan adanya rahmat Tuhan yang Pengasih dan Penyayang dalam menghadapi segala yang bakal tiba.”

Resensi buku ini ditulis dalam rangka #SavePustakaJaya sekaligus baca bareng Blogger Buku Indonesia bulan November 2011. Lebih lanjut tentang Pustaka Jaya klik link ini : Demi Pustaka Jaya

Detail buku:

“Rumah Tangga yang Bahagia” oleh Leo Tolstoy
168 halaman, diterbitkan tahun 2008 oleh Pustaka Jaya
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

13 thoughts on “Rumah Tangga yang Bahagia – Leo Tolstoy

  1. Memang penulis yang bagus itu, tak perlu menciptakan konflik yang njelimet, sudah bisa memukau hanya lewat caranya bercerita ya.. Dan aku suka Tolstoy, karena ia selalu bertutur tentang cinta, dalam semua bentuknya

  2. Setelah baca reviewnya jadi penasaran sama buku ini. Benarkah yang dirasakan masha terhadap sergei adalah cinta? bagaimana cara mereka menghadapi perbedaan usia? aahhh,, mau bacaa buku iniii 😀

  3. Setelah baca reviewnya, cukup menarik, tentang pernikahan anak muda dan orang yang lebih tua, ya? Kayanya bakal seru untuk tau keseharian Masha after wedding. Secara beda usia kan berarti tidak sedikit yang perlu diselaraskan bersama. Menurutku hubungan seperti itu ga cuma untuk pasangan yang nikah aja. Banyak di keseharian kita kan, kontak dengan orang-orang yang usianya di atas kita. Mungkin di buku ini akan ada banyak inspirasi untuk kita untuk menghadapi perbedaan itu di lingkungan sekitar. Jadi pengen baca buku ini, biar tau gitu gimana Masha menjalaninya.
    Tapi tetep, satu deh aku mau bilang, bahwa kebahagiaan itu bukan dicari melainkan diciptakan 🙂

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s