Home » Book Reviews » 4 star review » Cinta yang Hilang: Kumcer Klasik – O. Henry

Cinta yang Hilang: Kumcer Klasik – O. Henry


Cinta yang hilang. Sounds so cheesy. Jujur saja, itu pemikiran pertama saya saat mengetahui tentang buku ini. Namun, setelah ‘berkenalan’ untuk pertama kalinya dengan O. Henry dalam antologi cerpen klasik Cinta Tak Pernah Mati, saya pun jadi penasaran dan akhirnya membeli kumcer ini.

Buku setebal 118 halaman ini berisi 7 cerita pendek karya O. Henry, yang bernama asli William Sydney Porter (1862-1910), sang maestro cerpen yang namanya diabadikan sebagai nama penghargaan tahunan bergengsi bagi cerpen-cerpen terbaik di Amerika Serikat; O. Henry Award.

Yang tadinya saya kira roman picisan (dari kesan pertama terhadap judul kumcer ini), ternyata adalah cerita-cerita pendek bertema cinta yang padat, penuh humor, menghibur, kadang satir dan misterius, dan selalu punya ending mengejutkan. Sama sekali bukan cerita cinta yang cengeng. Ketujuh cerpen di dalam kumcer ini ditulis O. Henry dengan menggunakan karakter dan setting yang tidak jauh-jauh dari dunia seni.

William Sydney Porter a.k.a. O. Henry

Di cerpen pembuka yang bertajuk sama dengan judul kumcer ini; Cinta yang Hilang, pembaca akan diperkenalkan dengan seorang lelaki muda yang dengan gelisah mengitari rumah-rumah di area teater di West Side. Ia sebenarnya hanya punya satu tujuan: mencari seorang gadis bernama Eloise Vashner, seorang aktris teater dan cinta sejatinya. Saat si lelaki muda akhirnya menyewa kamar di sebuah rumah, tiba-tiba ia mencium wangi tajam bunga mignonette di dalam kamar itu, bau yang menjadi ciri khas Eloise! Apakah dia sudah gila?

Cinta membuatmu rela mengorbankan hartamu yang paling berharga. Demikian juga dengan Della, yang begitu ingin memberikan hadiah yang indah di malam Natal buat suami tercinta, Jim. Padahal mereka hanyalah sepasang suami-istri yang miskin. Begitulah kisah yang disajikan cerpen kedua yang berjudul Hadiah Kejutan (judul aslinya The Gift of the Magi). Magi yang dimaksud disini adalah orang Majus yang memberi hadiah pada malam Yesus Kristus dilahirkan di dunia. Cerpen yang ini favorit saya dari keseluruhan buku, karena walaupun singkat, tapi menghangatkan hati.

Dalam cerpen ketiga berjudul Bukti Cerita, kita akan diajak mengikuti perdebatan seru dua orang kenalan lama, Westbrook yang adalah seorang redaktur majalah, dan Dawe seorang penulis fiksi. Westbrook punya teori, jika seseorang tiba-tiba dihadapkan dengan krisis emosional, ucapan yang keluar dari mulut orang itu akan kacau, namun tetap menggunakan kata-kata dalam bahasa sehari-hari. Teori Dawe sebaliknya, sebagai penulis fiksi, menurutnya seseorang akan mengucapkan kata-kata dramatis nan lebay jika dihadapkan dengan krisis emosional. Nah, yang mana dari mereka yang benar?

Semata-mata Bisnis. Dunia pertunjukan kabaret merupakan bisnis yang menguntungkan. Jadi jangan heran ketika aktor dan aktris yang terlibat dalam satu pementasan “mengikat kontrak” satu sama lain demi suksesnya pertunjukan. Itulah yang dilakukan Bob Hart dan Winona Cherry, ketika mereka terlibat dalam pementasan bertajuk “Mice Will Play” yang kemudian sukses besar. Tapi benarkah semuanya hanya semata-mata demi uang?

“Aku benar-benar takut kalau semua pertunjukan mencerminkan dunia yang sebenarnya dan semua orang adalah aktor dan aktris.”

Demikian kata narator cerpen berjudul Kenyataan adalah Sandiwara. Ia lalu menguraikan kisah cinta segitiga antara seorang perempuan bernama Helen, Frank Barry, dan John Delaney. Di hari pernikahan Helen dengan Frank, John yang gila karena cinta menghambur ke kamar Helen dan memintanya untuk kabur bersamanya. Frank yang marah besar karena melihat adegan itu kabur dan tidak kembali. Helen kemudian menjalani hidup 18 tahun tanpa suami, sampai akhirnya beberapa orang pria secara misterius muncul untuk melamar Helen. Apakah suaminya yang menghilang selama 18 tahun akhirnya kembali?

Judul cerpen selanjutnya adalah Perempuan dan Suap Menyuap. Tidak, cerpen ini tidak mendiskreditkan perempuan, malah sang penulis mengakui bahwa “Lelaki adalah masalah tersulit yang harus dihadapi perempuan.” Inti cerpen ini sebenarnya adalah seberapa jauh, atau lebih tepatnya berapa banyak uang yang bersedia dikeluarkan oleh seseorang demi terciptanya sensasi yang membuatnya terkenal. Seorang pencoleng bernama Pogue membuat kesepakatan dengan seorang wanita bernama Artemisia Blye dan Tuan Vaucross, seorang pengusaha kaya. Vaucross harus berpura-pura jatuh cinta setengah mati kepada Nona Blye kemudian mencampakkannya. Nona Blye kemudian akan mengajukan tuntutan kepada Vaucross. Semua diuntungkan, uang dan ketenaran ada di tangan. Jika saja semuanya berjalan sesuai dengan rencana.

Cerpen terakhir yang berjudul Demi Cinta dibuka dengan kalimat:

“Ketika seseorang mencintai Seni, tidak ada yang terasa membebani.”

Hidup yang dijalani Joe dan Delia Larrabee berat, namun mereka tidak mau menganggapnya sebagai beban. Joe adalah seorang pelukis dan Delia adalah penyanyi lulusan sekolah musik. Suatu hari, Delia mengatakan pada Joe bahwa ia akan memberi les musik kepada anak perempuan seorang jenderal. Beberapa hari kemudian, Joe dengan gembira mengumumkan bahwa sketsa-sketsanya dibeli seorang lelaki dari Peoria. Mereka hidup dengan cinta dan seni di setiap helaan nafas, namun pada akhirnya mereka sadar bahwa cinta jauh lebih besar daripada seni.

Empat bintang saya berikan untuk kumcer ini, karena gaya penulisan O. Henry yang khas mampu membuat saya merasa seakan terlempar ke dunia seni dan hiburan di New York pada akhir abad 19. Cerpen-cerpen O. Henry merupakan selebrasi kehidupan, sifat-sifat alami manusia, kejutan, dan tentu saja seni dan cinta. Dua hal yang mengganjal di hati saya, yang pertama adalah cover yang tidak mewakili isi buku yang bertema seni. Dengan cover seperti itu dan judul “Cinta yang Hilang”, jangan heran kalau orang mengira buku ini sebuah novel roman biasa. Kedua, salah ketik pada profil O. Henry di bagian belakang buku. Tertulis di buku ini bahwa O. Henry lahir pada tahun 1896 dan wafat 1910, sementara tahun kelahiran O. Henry yang benar adalah tahun 1862. Kesalahan ketik yang sama saya temui pada profil O. Henry di kumcer Cinta Tak Pernah Mati. Semoga penerbit bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan seperti ini, karena sungguh sayang jika sebuah buku yang bagus jadi “cacat” hanya gara-gara masalah sepele.

Detail Buku:

“Cinta yang Hilang” oleh O. Henry
118 halaman, diterbitkan Februari 2011 oleh Penerbit Serambi Ilmu Semesta
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Advertisements

16 thoughts on “Cinta yang Hilang: Kumcer Klasik – O. Henry

    • Kalo buatku sih nggak susah… yang bikin agak mikir mungkin di cerpen Perempuan & Suap Menyuap, awalnya aku nggak ngerti ini ngomongin apa sih? Tapi overall cerpen2 O. Henry gampang dicerna 🙂

  1. Kayaknya judul2 aslinya lebih menggugah ya daripada terjemahannya mel =) btw itu nama aliasnya kenapa jauh banget dari nama aslinya ya?

  2. Aku nggak begitu suka dengan cerpen karena kisahnya terlalu cepet banget berakhir bahkan ketika kita blom benar-benar “kenal” ma tokohnya

    kovernya kenapa kayak gitu XDD

  3. Wah, sumpah reviewmu ini menggugah sekali… sayang aku ga suka cerpen karena ga begitu mendalam, sama kayak mba Ally. Hehe. Takutnya kepoooo terus karena ga puas. Apalagi kalau cerpennya bagus2 kayak gini

    • sekali2 baca cerpen buat penyegaran kalo bosen sama novel ky 😀
      klo dipikir nggak gampang lho bikin cerpen, panjangnya dibatasi, tapi kudu punya power yg cukup biar bisa “nendang” 🙂

  4. Senang baca review ini karena mengingatkan saya pada cerita-cerita O Henry yang pernah saya baca, saya suka gaya berceritanya yang khas kadang muram, kadang tajam mengandung satire. “Hadiah Kejutan’ saya pernah baca di buku kumpulan cerita O Henry yang lain kalau tak salah judulnya “Hadiah sang Magi” dan memang cerita ini sering disadur di media lain juga.
    Jadi kangen baca lagi karya dia

  5. Di Cerpen “Perempuan dan Suap Menyuap” bukannya yang cowok itu sudah nggak kaya, ya?
    Ehm, atau nggak sekaya yang dibayangkan orang-orang dari penampilannya. Di akhir cerita, hadiah yang dikasih isinya celana tua, bukan? Dan dia sampe hafal jumlah dolar dan sen yang dia keluarin buat menjamu makan si wartawan. Saya inget adegan ini, soalnya, pernah ngalamin pas masih kuliah. Kalo mendadak inget jumlah utang temen-temen, pasti lagi kere, haghaghag….
    >__<
    Dan saya nggak bisa ketawa di cerpen "Kenyataan adalah Sandiwara", padahal salah satu temen saya bilang, dia nggak bisa berhenti tertawa.
    Jangan-jangan, kotak tertawa saya sudah rusak… (~..~")

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s