Home » Book Reviews » 3 star review » Mockingjay – Suzanne Collins

Mockingjay – Suzanne Collins

*** WARNING: THIS REVIEW INCLUDE SPOILERS ***

DYSTOPIA.
Produk dari kekuatan imajinasi manusia yang setelah mencapai utopia, masih belum puas juga dan akhirnya mengoyak batasan-batasan akal sehat dan meraih impian yang liar dan gila dengan memutarbalikkan utopia.
Mengapa harus ada dystopia? Apakah karena manusia semakin lama semakin jahat? Atau karena kemanusiaan kita makin lama makin digerogoti teknologi? Apakah karena Bumi sudah semakin tua, lelah, rusak parah akibat perbuatan manusia?

Inilah dunia dystopia yang diciptakan Suzanne Collins melalui trilogi The Hunger Games. Collins mengubah wajah negara yang tadinya adalah Amerika menjadi Panem, negara dengan tiga belas distrik dibawah pemerintahan ibukota Capitol. Jika di dua buku pertama trilogi ini, The Hunger Games dan Catching Fire, pembaca banyak disuguhi aksi mendebarkan dalam permainan maut Hunger Games dan Quarter Quell, maka Mockingjay sebagai sekuel penutup tidak kalah banyak menyimpan aksi. Namun sayangnya aksi yang dimiliki Mockingjay cenderung dingin dan tak berperasaan. Cerita masih berpusat pada Katniss Everdeen, pemenang dari Distrik Dua Belas, yang kali ini dielu-elukan sebagai simbol pemberontakan, sang Mockingjay. Setelah diloloskan dari Quarter Quell oleh kelompok pemberontak dari Distrik Tiga Belas yang sebelum ini diyakininya sudah musnah, setelah memulihkan keadaan fisiknya Katniss menjalani sesi-sesi latihan dalam kota bawah tanah di Distrik Tiga Belas untuk menjadikannya seorang pejuang. Pemberontak. Prajurit Everdeen.

Distrik Tiga Belas sungguh aneh. Semua orang berpakaian sama, berwarna abu-abu membosankan. Ada jadwal yang ditato di tanganmu yang memberitahumu apa saja yang akan (dan harus) kau lakukan hari ini. Makanan dijatah dan diberikan tanpa variasi, jangan harap bisa makan enak disini. Sama sekali tidak ada hiburan. Semua orang terkungkung di bawah tanah, yang mana beberapa orang tidak bisa menyukainya, termasuk Katniss yang suka berburu di hutan. Dan Tiga Belas memiliki Presiden Coin, pemimpin wanita yang penuh perhitungan, namun sebenarnya tidak kalah kejam dari Presiden Snow.

Siapakah Katniss dalam Mockingjay? Rasanya kok nggak jelas. Meskipun dialah simbol pemberontakan, dan apapun yang ia lakukan berdampak kepada Capitol dan seluruh Panem. Katniss sudah amat lelah secara fisik dan mental setelah melalui Hunger Games dan Quarter Quell, ditambah dengan kehilangan orang-orang yang dicintainya, dan dalam Mockingjay bebannya menjadi semakin berat karena setiap perbuatannya memiliki konsekuensi bahwa ada yang akan dihukum, entah orang itu dekat dengannya atau tidak. Si gadis yang terbakar jadi melempem dalam buku final ini.

Peeta berubah 180 derajat. Ia ditahan dan disiksa sedemikian rupa oleh Capitol, dan kemudian para pemberontak berhasil menculiknya dan membawanya ke Tiga Belas, hanya untuk menghadapi anak lelaki yang telah kacau pikirannya. Peeta telah dibajak. Dicuci otak. Segala kenangan masa lalunya, terutama yang berhubungan dengan Katniss, diobrak-abrik dengan racun tawon penjejak. Peeta yang baru ini melihat Katniss sebagai mutt (makhluk buas ciptaan Capitol), dan bernafsu membunuhnya.

Katniss depresi. Stres. Menderita gangguan mental. Namun sementara itu ia terus berperang bersama para pemberontak, merebut distrik-distrik. Seakan luka-luka yang dideritanya belum cukup banyak saja. Katniss menjadi boneka Coin, sang Mockingjay yang menyulutkan api pemberontakan ke seluruh distrik. Namun ia belum mengetahui, bahwa Coin punya rencana lain terkait dengan dirinya. Katniss punya satu tujuan yang menguasai benaknya, yaitu membunuh Presiden Snow dengan tangannya sendiri. Gale selalu ada disampingnya selama perjuangan, namun juga ada Peeta dengan pikirannya yang kacau. Di saat-saat paling tak memungkinkan inilah, Katniss akhirnya bisa menentukan perasaannya ditujukan kepada siapa. Tapi percuma saja ia memilih, karena ia tahu dirinya, Peeta, Gale, beserta semua orang lain yang terlibat perjuangan, tidak ditakdirkan untuk tetap hidup.

Kejam, dingin, brutal, sadis, melelahkan. Itulah Mockingjay. Penutup trilogi Hunger Games yang fenomenal ini jujur saja tidak memenuhi ekspektasi saya. Akhir dari perang di Capitol malah jadi antiklimaks. Penulis tidak menjabarkan banyak tentang perkembangan hubungan Katniss-Peeta, walaupun sudah membukanya dengan menarik dengan membuat ingatan Peeta kacau. Endingnya menguap begitu saja, walaupun epilognya cukup manis. Sang Mockingjay melakukan penerbangan terakhirnya dengan kelelahan luar biasa, dengan kondisi fisik dan mental yang sudah luluh lantak. Kemudian ia kandas begitu saja di tanah. Pada akhirnya, saya memberi 3 bintang buat Mockingjay, karena penulisan Collins masih mengagumkan dengan segala detailnya.

Dialog penutup Katniss-Peeta tidak akan mudah dilupakan.

“You love me. Real or not real?”
I tell him, “Real.”

Hanya tinggal satu pertanyaan tersisa buat kita renungkan.
Akankah suatu saat nanti, di saat dunia sudah sedemikian rusaknya dan tak bisa dikendalikan lagi, dystopia versi Collins menjadi nyata?

Detail buku:
“Mockingjay” (The Hunger Games, #3), oleh Suzanne Collins
432 halaman, diterbitkan 12 Januari 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥

Advertisements

14 thoughts on “Mockingjay – Suzanne Collins

  1. Saya U-17 jadi gak begitu paham pas baca nih novel, kata-katanya terlalu sulit buat dicerna hehehe. Nunggu filmnya keluar aja, ah (tapi itu masih lama banget!). Salam kenal. Very cool post. Masa sih gak sweet endingnya? Bagus kok (kalo menurutku). PeeKat (hmm, nama couple yang aneh, ada alternatif lain?) kan married (punya anak pula). Cuma saya bingung sama kegajean ending-nya, sesuai post di atas.

  2. Saya suka sekali dengan Mockingjay setelah membaca ini, apalagi dengan dialog penutupnya.
    Real?
    Ya, sangat nyata. Katniss yang sudah bingung, kehilangan orang yang dicintainya, kehilangan harapannya. Saya sudah membaca The Hunger Games, dan kurang greget. Semoga dengan membaca ini, feel nya dapet greget

  3. saya baru baca seri #1 dan #2 nya, dan belum punya yang satu ini. Setelah baca reviewnya, saya malah makin yakin kalo yang ke #3 ini mengecewakan (setelah banyak yang bilang kalo novel ini malah bikin gemes, greget sampe bikin kesel -_-) . Tapi berhubung udah tanggung, jadi kayaknya kurang komplit kalo ga dilengkapi sama buku yang satu ini. Dan, pendeskripsiannya mbak(?) Collins yang selalu bikin saya ‘kenyang’ baca buku-bukunya, hahaha.

    Halo ^^ salam kenal~
    reviewnya asyik! kata-kata ‘Dystopia’, ‘Kejam, dingin, brutal, sadis, melelahkan’ bener-bener hunger games banget ^^b

  4. Ternyata buku ini udah diterbitkan 2 tahun lalu ya.
    Aku baru tau Hunger Games semenjak ada filmnya. Setelah tau itu diangkat dari novel, jadi kepengen koleksi ketiga novelnya. Alasan lain kenapa aku pengen punya dan suka cerita ini, soalnya Hunger Games cuma ada 3 sekuel, ga seperti Harry Potter yang punya 7. Jadi kalo mau koleksi novel2nya perlu biaya yang ga murah. Kalau cuma 3, ya masih bisa lah… Walaupun sebenarnya sampai sekarang belum kebeli satu pun #poorme. Soalnya selalu tergida dgn novel-novel terbaru sih.

  5. salam.. baru baca, mockingjay perfect menurutku ya…soal hubungan dari awal memang seri ini lebih menekankan ke intrik politik, beda dengan twilight…dan di akhir pembaca sudah bisa menyimpulkan, lumayan indah..*_*

  6. aku juga kasih 3 bintang, terlalu fokus di actionnya ampe beberapa unsur lain gak dibahas. Kalau soal hubungan Peeta-Katniss, emang agak susah sih scr Peetanya berubah di Mockingjay, tapi aku tetap suka karena akhirnya Katniss sama Peeta. Dan terlepas dari ceritanya yang suram, suka endingnya yg bitter sweet.

  7. Awalnya agak sulit untuk memahami novel ini karena isinya tidak terlalu sama dengan kedua novel sblmnya.
    Lebih banyak menceritakan bagaimana pemberontakan yang dilakukan katniss bersama teman-temannya. Dan endingnya katniss sama peeta, meskipun dalam novel katniss lebih dekat dan lebih sering bersama gale.
    At least aku suka novelnya;);)

  8. Aku belum pernah baca novel seri hunger games ini baru nonton filmnya dan langsung dibuat ketagihan hehehe. “Kejam, dingin, brutal, sadis, melelahkan.” kata-kata ini bikin aku makin penasaran sama novel ini, karena di film hunger games adegan pembunuhannya nggak terlalu ekstrim sih. Biasanya seri novel itu lebih bagus dari film karena detail cerita novel bikin kita harus bayangin sendiri. karena Mockingjay ini seri terakhir pasti ada sangkut pautnya sama seri sebelumnya dan aku penasaran sekali ^^ Terima kasih untuk reviewnya, aku jadi tahu kalo film hunger games ada novelnya ^^

  9. Saya salah satu penggemar berat Hunger Games , walaupun bukan lewat novel tetapi mengenal cerita katniss lewat film . Saya sudah menonton filmnya dari seri awal , bahkan hingga mockingjay part 1 baru dirilis baru baru ini . Tapi, ini yang bikin kesel, pemutarannya ending ceritanya harus menunggu part 2, kalau begini andai punya novelnya , langsung TUNTAS ! .

    And because that reason, terima kasih buat kakak yang sudah mereview mockingjay, ending dari novel trilogy ini, memberikan gambaran bagaimana kisah ini akan berakhir

    “Dystopia” kata baru dalam kamus saya, saya setuju ini terjadi karena manusia yang digerogoti oleh teknologi, sebagai sifat dasar manusia, selalu ingin tahu. mencari hal baru . bahkan walaupun hal irrasional sekalipun . dan saya juga sangat mengagumi Collins dengan brainstormingnya menciptakan alur serumit ini .

    Katniss yang “melempem” , kalau saya memposisikan diri sebagai katniss di cerita ini , entah saya bisa sekuat dia , menghadapi berbagai cobaan hidup dari keluarga, kerabat,cinta, bahkan mengorbankan perasaan sendiri dan itu semua bahkan semakin bertambah dipundaknya . Menurut saya “melempem” – nya Katniss di Mocking jay ini , yap ! karena Peeta, perasaan bersalah terhadap Peeta membuatnya sedikit melempem. ditambah lagi perubahan peeta saat diperlihatkan pertama kalinya lewat siaran Capitol.

    Film memang tidak mengadopsi semuanya dari buku, dari review kakak dijelaskan bahwa distrik 13 menggunakan jadwal ditangannya, sedangkan di film, entahlah saya tidak meihat hal itu tetapi kegiatan mereka memang sudah diatur sedemikian rupa oleh Coin.

    Oya , saya terkejut kakak menyebutkan adegan Katniss dan peeta di ending cerita.. Huwaaa , apakah itu artinya Katniss memilih peeta bukan Gale ?. cukup tidak ikhlas sebenarnya, karena saya pribadi lebih suka gale . Mungkin karena katniss sering ketemu sama peeta, dan menghadapi cobaan hidup bersama, cukup membuat mereka terikat cinta lokasi.

    Kalau kakak ngasih 3 bintang buat novelnya, saya kasih 4 bintang buat filmnya yang detil dan penuh aksi mendebarkan dan tidak bisa ditebak

    Note : Duh, komen saya kepanjangan .__________. . haha ini karena saya bener suka sama Hunger games, apalagi trilogy mocking dan sangat menantikan lanjutan ceritanya , untunglah diberi pencerahan lewat review ini

  10. Saya baru baca trilogi Hunger Games setelah film pertamanya keluar. Waktu itu baca buku 1 dan 2 saja. Lalu setelah film Mockingjay 1 keluar, barulah punya energi buat habisin buku yang ketiga, alias buku ini.

    Menurut saya buku ini super-brutal dan mengerikan, khususnya di bagian saat pasukan khusus Boggs dan team sudah terbentuk. Filmnya malah menurut saya gagal total menggambarkan kebrutalan yang teramat sangat di versi bukunya. Dengan membaca bukunya saja, sudah kebayang seperti apa perjuangan pasukan Boggs (dan Katniss, Peeta, serta Finnick tentunya) menghadapi berbagai ranjau yang tempatnya terdeteksi maupun tidak oleh peralatan canggih mereka. Kalau sudah sampai bagian situ, serasa tidak mau berhenti membaca.

    Bagian akhir buku juga menggambarkan dengan jelas bagaimana suasana hati dan perasaan Katniss setelah “kejadian pembunuhan major” itu. Dan bahkan yang bikin miris, bab penutupnya.

    Barangkali benar kalau nanti dunia bisa mengalami transisi menuju ke arah mengerikan, seperti yang tergambar di buku ini. Kalau kita tidak menghentikan indoktrinasi paham kekerasan dan penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan.

    Akhir kata, saya juga pernah membuat review Mockingjay di sini: https://exploreadme.wordpress.com/2014/12/24/mockingjay/ – tetapi review dari Amel memberikan insight tersendiri. Thank you!

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s