Home » Book Reviews » 2 star review » The Wind in the Willows – Kenneth Grahame

The Wind in the Willows – Kenneth Grahame

Ini cerita tentang empat sahabat, Moly si Tikus Tanah, Ratty si Tikus Air, Katak, dan Tuan Luak. Masing-masing memiliki karakter yang khas, Moly cenderung pemalu, Ratty ramah dan senang berkawan, Katak kaya dan suka menyombongkan diri, dan Tuan Luak yang pendiam dan misterius, namun bijaksana dan sangat peduli akan teman-temannya.

Cerita bergulir dari Tikus Tanah yang meninggalkan sarangnya untuk kemudian tinggal bersama Tikus Air di tepi sungai. Suatu hari di musim salju secara tidak sengaja mereka terdampar di pintu rumah Tuan Luak, yang awalnya terkesan waspada, namun kemudian mempersilakan mereka masuk dengan ramah dan menyuguhi mereka makanan yang hangat. Mereka pun bercakap-cakap tentang Katak yang ceroboh dan suka keasyikan dengan “mainan”nya, jika dulu ia tergila-gila dengan perahu, sejak mengalami kecelakaan ia memilih “bermain” dengan kereta gipsi. Suatu hari ia terpesona akan sebuah mobil balap mengilap yang dipanggil Tut-tut.

Lama-kelamaan Katak menjadi terobsesi terhadap Tut-tut si mobil balap sampai secara tidak sadar ia mencurinya! Katak pun dikejar polisi, dijebloskan ke penjara , melarikan diri dari penjara dengan bantuan anak perempuan sipir, dan melalui berbagai petualangan untuk sampai ke rumahnya yang megah, Puri Katak. Sementara itu, teman-temannya mulai kehabisan akal untuk menasihati si Katak. Mereka ingin Katak menjadi lebih bertanggung jawab dan tidak hanya menghabiskan hidupnya untuk bersenang-senang. Bisakah mereka mengubah pribadi si Katak yang keras kepala itu?

***

Kisah yang disebut-sebut penuh petualangan dan banyak menyimpan pesan moral ini ternyata tidak banyak menyentuh hati saya. Jika dibilang penuh petualangan, saya lebih condong memilih Manxmouse karya Paul Gallico yang tokoh-tokohnya juga dari dunia hewan. Pesan moral yang bisa saya ambil dari kisah ini adalah:

1. Rumah adalah tempat terbaik di dunia. Kamu bisa bertualang ke mana saja namun pada saatnya pasti kamu akan pulang ke rumah.

Berikut sepenggal kutipan dari halaman 57:

“Malam itu, Tikus Tanah – walau kelelahan – merasa gembira karena telah kembali ke rumah. Namun sebelum dipejamkan, ia membiarkan kedua matanya menjelajahi setiap sudut kamarnya yang lama. Tindakan yang amat sederhana, tapi sangat berarti. Ia tidak ingin mengabaikan kehidupan barunya. Dunia di atas sana terlalu menarik. Tempat itu memanggil-manggil ke dalam dirinya. Namun sungguh melegakan karena dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima.

Sungai adalah tempat bertualang.

Di sini adalah rumahnya.”

2. Jangan abaikan nasihat dari sahabat-sahabat yang peduli akan dirimu. Dengarkan mereka, apa yang mereka katakan mungkin mencegahmu masuk dalam kesulitan.

The Wind in the Willows terjemahan Indonesia yang diterbitkan Mahda Books ini, dengan fisik hardcover, font relatif besar, banyak ilustrasi, dan penerjemahan yang bagus oleh mbak Rini Nurul Badariah rasanya cocok untuk anak-anak yang baru menginjak bangku sekolah dasar.

Review buku ini dibuat dalam rangka merayakan HUT ke-153 Kenneth Grahame (8 Maret 1859 – 8 Maret 2012)
Happy birthday, mas Kenneth! 😀

Detail buku:
“The Wind in the Willows”
, oleh Kenneth Grahame
134 halaman (HC), diterbitkan April 2010 oleh Mahda Books
My rating: ♥ ♥

Advertisements

3 thoughts on “The Wind in the Willows – Kenneth Grahame

  1. Pingback: A Classics Challenge 2012: December Prompt & Wrap-Up « Surgabukuku

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s