Home » Authors » Charlotte Bronte » Classic Author of April 2012: Charlotte Brontë

Classic Author of April 2012: Charlotte Brontë

“If all the world hated you, and believed you wicked, while your own conscience approved you, and absolved you from guilt, you would not be without friends.”
— Charlotte Brontë

The authoress

Bagaimana rasanya punya saudara sekandung yang sama-sama berprofesi sebagai penulis? Seandainya Charlotte Brontë masih hidup, kita mungkin bisa menanyakan kepadanya. Berikut biografi singkat Charlotte Brontë, pengarang perempuan Inggris era Victoria yang diakui, yang mempunyai tanggal lahir sama dengan pahlawan wanita Indonesia, Raden Ajeng Kartini.

***

CHARLOTTE BRONTË dilahirkan tanggal 21 April 1816 sebagai putri ketiga pasangan Rev. Patrick Brontë dan Maria Branwell. Dua kakak tertua Charlotte adalah Maria dan Elizabeth, sedangkan adik-adiknya antara lain Patrick Branwell, Emily, dan Anne. Ibu mereka meninggal dunia saat Charlotte masih berusia lima tahun. Brontë bersaudara akhirnya diasuh oleh saudara perempuan ibu mereka, Elizabeth Branwell, dan kemudian pada tahun 1824 Charlotte beserta tiga Brontë lainnya: Maria, Elizabeth, dan Emily, dikirimkan ke Clergy Daughters’ School, di Cowan Bridge, Lancashire. Adapun kondisi sekolah ini sangat tidak layak dan berpengaruh buruk pada kesehatan dan perkembangan fisik Charlotte. Dua Brontë tertua, Maria dan Elizabeth meninggal dunia akibat tuberkulosis saat masih berada di sekolah tersebut. Clergy Daughters’ School nantinya dipakai Charlotte sebagai inspirasi sekolah Lowood dalam novel Jane Eyre.

Rumah keluarga Brontë di Haworth, sekarang menjadi Brontë Parsonage Museum

Padang moor di Haworth, yang sering menjadi setting di kisah-kisah karya Brontë bersaudara

Di rumah mereka yang terpencil di Haworth Parsonage, keempat Brontë mulai mengembangkan daya imajinasi mereka; Charlotte dan Branwell menulis kisah tentang suatu kerajaan fiktif dan penghuninya, berjudul “The Tales of Angria”, sementara Emily dan Anne menulis puisi-puisi “kerajaan tetangga” Angria yang diberi judul “Gondal”.

Pada tahun 1842, Charlotte dan Emily belajar di sebuah sekolah asrama di Brussels, di bawah pimpinan Constantin Heger dan istrinya. Charlotte menghabiskan tahun berikutnya dengan perasaan kesepian, rindu rumah, dan cinta tak sampai kepada sang “pak guru”, Mr. Heger. Charlotte menulis surat-surat cinta untuk Heger, yang meskipun telah dibakar, dijual, dipotong-potong, pendeknya dihancurkan; surat-surat cinta tersebut berhasil diselamatkan dan akhirnya diterbitkan oleh The British Library. Pengalaman di sekolah asrama di Brussels tersebut kemudian digunakan oleh Charlotte sebagai inspirasi cerita dalam novel The Professor dan Villette. Selain menulis, Charlotte bekerja sebagai guru dan pengasuh anak.

Portrait by Duyckinick, 1873

Charlotte, Emily, dan Anne menerbitkan kumpulan puisi karya mereka secara independen pada Mei 1846, di bawah nama pena Currer, Ellis, dan Acton Bell. Charlotte mengungkapkan alasan mereka menggunakan nama pena sebagai berikut:

“… while we did not like to declare ourselves women, because — without at that time suspecting that our mode of writing and thinking was not what is called ‘feminine’ – we had a vague impression that authoresses are liable to be looked on with prejudice…”

Setelah manuskrip The Professor ditolak oleh penerbit, Charlotte kemudian mengirimkan manuskrip Jane Eyre pada bulan Agustus 1847. Jane Eyre diterbitkan enam minggu kemudian dan menuai kesuksesan. Beberapa bulan kemudian novel-novel pertama dari kedua saudari Charlotte, Emily (Wuthering Heights), dan Anne (Agnes Grey) juga diterbitkan. Publik mulai penasaran dan curiga mengenai identitas sebenarnya “Currer Bell”, dan timbul kritik tajam yang mengatakan bahwa tulisan Charlotte “kasar”. Kritik yang senada juga dialamatkan terhadap Villette, novel ketiga Charlotte yang dipublikasikan semasa ia masih hidup, dengan tambahan bahwa penggambaran keinginan sang tokoh utama (Lucy Snowe) tidak “feminin” sebagaimana seharusnya.

Charlotte baru menyelesaikan sebagian dari novel keduanya, Shirley, ketika tragedi merundung keluarga Brontë bertubi-tubi. Satu-satunya saudara lelaki Charlotte, Branwell, meninggal dunia akibat bronkhitis kronis pada bulan September 1848, disusul Emily karena tuberkulosis pada bulan Desember, dan Anne karena penyakit yang sama dengan Emily pada bulan Mei tahun berikutnya. Setelah kematian Anne, Charlotte melanjutkan penulisan Shirley dan akhirnya novel tersebut terbit pada bulan Oktober 1849.

Hanya setahun setelah menikahi Arthur Bell Nicholls, Charlotte meninggal dunia pada usia 38 tahun dalam keadaan mengandung pada akhir Maret 1855. Jenazah Charlotte disemayamkan di pemakaman keluarga di The Church of St. Michael and All Angels, Haworth, West Yorkshire, Inggris. Novel pertama yang ditulisnya, The Professor, diterbitkan secara anumerta pada tahun 1857, dan menyusul fragmen “Emma” yang baru ditulisnya sebanyak 20 halaman pada tahun 1860. 143 tahun kemudian, di tahun 2003, fragmen “Emma” diselesaikan oleh penulis Clare Boylan dengan judul Emma Brown: A Novel from the Unfinished Manuscript by Charlotte Brontë. Penulis Jean Rhys juga mempublikasikan karyanya yang berjudul Wide Sargasso Sea, yang menceritakan tentang kehidupan cinta Edward Rochester (tokoh utama pria dalam Jane Eyre) di masa mudanya.

Semasa hidupnya, Charlotte juga membina hubungan pertemanan dengan beberapa sastrawan terkemuka di masa itu, termasuk Elizabeth Gaskell, Harriet Martineau dan William Makepeace Thackeray. Bahkan, Gaskell menuliskan biografi Charlotte setelah yang bersangkutan wafat pada tahun 1855. Biografi dengan judul The Life of Charlotte Brontë tersebut dianggap tidak biasa pada masa itu karena bukannya memfokuskan pada pencapaian-pencapaian subyeknya, Gaskell malah memberikan detail-detail kehidupan pribadi Charlotte dan berusaha menjawab tuduhan para kritikus akan “kekasaran” gaya menulis Charlotte.

L’Ingratitude

Berita terbaru yang dirilis London Review of Books, the Guardian, the Telegraph, dan Huffington Post, menyatakan bahwa sebuah cerita pendek karya Brontë yang telah lama hilang, ditemukan di sebuah museum di Belgia. Cerita pendek yang ditulis dalam bahasa Prancis ini berjudul “L’Ingratitude”, dan rupanya adalah pekerjaan rumah dari Pak Guru Heger yang ditaksir Charlotte setengah mati. Cerita “L’Ingratitude” adalah sebuah alegori tentang seekor tikus muda ceroboh yang melarikan diri dari ayahnya dan mengalami suatu akhir yang sangat menyedihkan. Anda bisa membaca “L’Ingratitude” dalam bahasa Prancis dan Inggris di website London Review of Books di sini, juga mendengarkan cerita tersebut dibacakan oleh aktris Gillian Anderson.

My Brontë collection (sebenarnya saya juga punya buku puisinya tapi ketlisut entah dimana T__T)

Miris rasanya, bila kita melihat kisah hidup tragis (yang semuanya berakhir pada usia muda) dari kakak-beradik Brontë. Namun yang patut dikagumi adalah dalam masa hidup yang pendek, juga dalam keterasingan kehidupan mereka, masing-masing telah menghasilkan karya yang tidak punah sampai saat ini, dan membuat nama mereka diakui sebagai tokoh-tokoh terkemuka dalam sastra Inggris.

Dari berbagai sumber

Useful links:

Charlotte Brontë on Wikipedia
Charlotte Brontë on Poetry Foundation
The Brontë Parsonage Museum & Brontë Society
My review of Charlotte Brontë’s Jane Eyre (in Indonesian)
My review of Emily Brontë’s Wuthering Heights (in Indonesian)

Advertisements

12 thoughts on “Classic Author of April 2012: Charlotte Brontë

  1. sepertinya karakter2 utama charlotte bronte memang tidak ada yg feminin ya.. di jane eyre juga ada paragraf yg secara khusus menyampaikan isi pikirannya tentang kedudukan perempuan yg harusnya sama dgn pria dalam banyak hal, dan sering si jane eyre ini menunjukkan betapa pentingnya memiliki pendapat dan pikiran sendiri sebagai individu, terlepas pendapat umum.

    kalau istilah ‘feminist’ sudah muncul pada jamannya mungkin dia akan digolongkan sbg penulis feminis juga ya..

    • Jujur aja aku masih bingung definisi “feminis” itu yang kayak gimana… kalo memperjuangkan kesetaraan gender oke lah, tapi kalo modelnya kayak Perempuan di Titik Nol itu bikin aku geleng2 kepala… kayaknya kok benci banget sama laki-laki (mungkin karena laki-laki yang ditemui jahat semua kali ya?)
      Yang penting balanced lah, not one over the other 😀

  2. hihi feminis mnrt pakarnya mmg ada 3 macam kok, dgn perbedaannya sbb: 1. yg menuntut kesetaraan, 2. yg mau meng-atasi laki2, dan 3. yg mau meniadakan sama sekali perbedaan laki dan perempuan. jadi satu kata ‘feminis’ aja artinya blm tentu seragam. (sekedar berbagi)

  3. wah, koleksinya keren tuh! aku cuma baru baca Jane Eyre (semasa kuliah) sama Wuthering Heights baru2 aja, dan aku suka dua2nya. Bronte bersaudara emang bakat nulis ya?? ceritanya bagus dan gaya penulisannya keren. hehehe… jadi pengen baca bukunya Anne Bronte, hunting dulu ahhh….

  4. padang moor juga jadi latar tempat di the secret garden karya frances hudgson burnett jadi pingin ke padang moor ^^

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s