Northanger Abbey – Jane Austen

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Sang heroine dalam kisah ini adalah Catherine Morland, seorang gadis tujuh belas tahun yang naif dan tidak berpengalaman, serta hobi membaca terutama novel-novel gothic. Ia belum pernah mencicipi dunia di luar kampung halamannya di Fullerton. Sampai suatu ketika Mr. dan Mrs. Allen, teman dekat keluarga Morland; mengundang Catherine untuk menghabiskan waktu beberapa bulan bersama mereka di Bath, suatu kota peristirahatan bagi sebagian warga Inggris kalangan atas. Di Bath, Catherine berkenalan dengan beberapa orang, antara lain Isabella dan John Thorpe, anak-anak dari Mrs. Thorpe yang adalah kawan sekolah Mrs. Allen. Ia juga berkenalan dengan seorang pemuda karismatik bernama Henry Tilney, dan nantinya dengan Eleanor Tilney, adik dari Henry. Setelah menghabiskan beberapa bulan di Bath, Catherine diundang ke kediaman keluarga Tilney, yaitu Northanger Abbey yang dulunya adalah biara. Di biara yang besar dengan banyak ruangan misterius inilah pikiran Catherine bergolak dalam imajinasi yang mencekam, sebagaimana novel-novel gothic yang begitu dicintainya.

Kisah Northanger Abbey terbagi menjadi 2 tema utama, yaitu:

1. Pertumbuhan menuju kedewasaan yang dialami karakter utama, yaitu Catherine. Inilah mengapa Northanger Abbey dikategorikan dalam genre bildungsroman (a story about coming-of-age). Setelah berinteraksi dengan beberapa karakter di dalam buku, watak Catherine yang aslinya naif dan polos mulai berkembang. Perubahan dalam watak Catherine terutama disebabkan oleh interaksinya dengan kakak-beradik Thorpe, yang pada awalnya menempatkan diri sebagai kawan sejati Catherine, namun sebenarnya mereka tidak tulus dan manipulatif.

Catherine, dalam perjalanannya menuju kedewasaan, pelan-pelan mulai mengasah kemampuan membaca karakter orang lain, dan bukan hanya membaca buku.

2. Kegemaran membaca yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Dalam kasus ini adalah Catherine yang hobi membaca novel-novel gothic. Peristiwa-peristiwa yang dibacanya di dalam novel-novel tersebut membekas begitu rupa di dalam pikirannya dan menghasilkan imajinasi yang overaktif. Batasan antara fantasi dan kenyataan menjadi kabur, dan akibatnya hubungannya dengan orang lain (dalam hal ini Henry Tilney yang dicintai Catherine) jadi rusak. Northanger Abbey merupakan gothic parody, yaitu parodi dari novel-novel gothic yang sedang booming pada masa Austen hidup. Secara spesifik Austen menyebut The Mysteries of Udolpho karya Ann Radcliffe, yang menjadi bacaan Catherine sepanjang buku ini dan yang membuat imajinasi Catherine melambung tinggi. Mungkin rumus yang ada di pikirannya adalah: an old building = history and mysteries to be unveiled = a hidden villain. Secara keseluruhan, adegan-adegan mencekam khas novel gothic hanya ada sedikit di dalam buku.

Tema-tema lain yang hendak disorot Austen antara lain norma-norma sosial pada masa itu, posisi seorang wanita di masyarakat, dan materialitas yang begitu mencolok, apalagi kalau menyangkut pernikahan.

Simak beberapa petikan dari buku sebagai berikut:

[Kritik Austen mengenai kaum perempuan pada masanya, yang cenderung fokus pada hal yang sia-sia, misalnya penampilan]

“It would be mortifying to the feelings of many ladies, could they be made to understand how little the heart of man is affected by what is costly or new in their attire; how little it is biased by the texture of their muslin, and how unsusceptible of peculiar tenderness towards the spotted, the sprigged, the mull, or the jackonet. Woman is fine for her own satisfaction alone. No man will admire her the more, no woman will like her the better for it. Neatness and fashion are enough for the former, and a something of shabbiness or impropriety will be most endearing to the latter.”

[Menyangkut keberadaan novel yang cenderung diremehkan, terutama oleh kalangan kelas atas. Masyarakat Inggris abad 18 cenderung mengganggap novel sebagai sarana hiburan semata dan bukannya sebuah karya seni yang serius]

“And what are you reading, Miss—?” “Oh! it is only a novel!” replies the young lady… in short, only some work in which the greatest powers of the mind are displayed, in which the most thorough knowledge of human nature, the happiest delineation of its varieties, the liveliest effusions of wit and humor are conveyed to the world in the best chosen language.”

 Hal ini dijawab oleh Austen dengan dialog antara Catherine-Henry sebagai berikut:

“But you never read novels, I dare say?”

“Why not?”

“Because they are not clever enough for you—gentlemen read better books.”

“The person, be it a gentleman or lady, who has not pleasure in a good novel, must be intolerably stupid. I have read all Mrs. Radcliffe’s works, and most of them with great pleasure. The Mysteries of Udolpho, when I had once begun it, I could not lay down again; I remember finishing it in two days—my hair standing on end the whole time.”

Perkembangan hubungan Catherine-Henry diceritakan dengan menarik. Karakter Catherine dipertemukan dengan Henry yang jauh lebih dewasa, cerdas, simpatik, dan boleh dibilang sabar dan instruktif pada Catherine yang masih kekanak-kanakan. Dialog mereka seringkali membuat tertawa, atau sedikitnya gemes. 🙂

“…it is a nice book, and why should not I call it so?”

“Very true,” said Henry, “and this is a very nice day, and we are taking a very nice walk, and you are two very nice young ladies. Oh! It is a very nice word indeed! It does for everything. Originally perhaps it was applied only to express neatness, propriety, delicacy, or refinement—people were nice in their dress, in their sentiments, or their choice. But now every commendation on every subject is compromised in that one word.”

***

It was no effect to Catherine to believe that Henry Tilney could never be wrong. His manner might sometimes surprise, but his meaning must always be just; and what she did not understand, she was almost as ready to admire, as what she did.

Wah, saya rasanya paham mengapa Catherine jatuh cinta kepada Henry. 😀

Kesimpulan yang saya ambil setelah membaca buku yang ditulis Austen pada awal karirnya (ditulis sekitar tahun 1798–1799, dan diterbitkan secara anumerta di tahun 1817), dan notabene merupakan novel Austen yang “dipandang sebelah mata” oleh kebanyakan orang:

Fokus dalam buku ini tidak jelas. Begitu banyak unsur dan tema yang dikemukakan Austen sehingga satu novel tidak menyampaikan satu tema yang utuh, namun beberapa tema. Mungkin “ketidakfokusan” ini bisa dimaklumi karena novel ini merupakan salah satu karya Austen yang pertama. Namun, membaca buku ini  tetap menyenangkan, karena banyak adegan yang lucu, ditambah beberapa adegan yang menegangkan; serta pembaca juga beroleh banyak wawasan mengenai praktik sosial yang terjadi pada masa tersebut. Saya juga sangat menyukai adaptasi Northanger Abbey oleh PBS Masterpiece versi tahun 2007. Di dalam miniseri yang dibintangi Felicity Jones, JJ Feild, dan Carey Mulligan ini lebih banyak adegan menegangkan yang merupakan visualisasi imajinasi Catherine.

#postingbersama BBI 29 Juni 2012 tema buku gothic

Baca juga:
Visual Tour on Northanger Abbey
Post mengenai karakter Isabella dan John Thorpe

Detail buku:
“Northanger Abbey”, oleh Jane Austen
256 halaman, diterbitkan Februari 2008 oleh Signet Classics (pertama kali diterbitkan tahun 1817)
My rating: ♥ ♥ ♥


Conclusion:

Being at the same time a bildungsroman and a gothic parody, Northanger Abbey quite confused me for not having a single theme. To be honest I expect more of the gothic stuff, but then I realize that Austen meant this work to be a parody of gothic novels, specifically Ann Radcliffe’s The Mysteries of Udolpho. I also learned a great deal about social norms, materiality and marriage, women’s position and the 18th century England’s underestimation of novels. But, I have to say, I enjoyed the witty book, finished it within a few days (and quite falling in love too with Henry Tilney, LOL! I gave the book 3 stars. Someday I might read The Mysteries of Udolpho. And I loved PBS Masterpiece’s 2007 adaptation of Northanger Abbey, a lot of action in it (visualizations of Catherine’s imagination).

7th review for The Classics Club Project, 3rd review for The Classic Bribe

Character Thursday [8]: The Thorpes of Northanger Abbey

Isabella & John Thorpe, from Northanger Abbey

Pernah punya kawan yang menyebalkan? Catherine Morland masih sangat muda, tujuh belas tahun, ketika mengenal Isabella Thorpe, dan kakak lelakinya, John Thorpe. Mula-mulanya Isabella bersikap sangat manis pada Catherine, sehingga Catherine yang polos tidak mempunyai pikiran buruk apapun terhadap Isabella, dan mereka pun menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Lama-lama, terbongkarlah watak Isabella yang asli, yaitu orang yang ceroboh dalam berkata-kata, tidak jujur, tidak setia, dan egois. Kakaknya tak kalah menyebalkan. Dari awal kisah ia sudah menunjukkan temperamen dan kata-kata yang kasar. Ia juga pemaksa dan sangat lancang.

Isabella Thorpe, the nineteenth-century mean girl.
Character played by Carey Mulligan

Berikut beberapa kutipan dari buku yang menunjukkan betapa menyebalkannya kakak-beradik Thorpe:

[Isabella dan opininya mengenai kaum pria]:

“Oh! They give themselves such airs. They are the most conceited creatures in the world, and think themselves of such importance!”

[Catherine sudah terlanjur membuat janji dengan kakak-beradik Tilney, ketika tiba-tiba Isabella dan John datang untuk mengajaknya pergi. Catherine berusaha sebisa mungkin menolak mereka, karena sudah terikat janji dengan kakak-beradik Tilney, tapi Isabella dan John tidak bisa menerima kata tidak]:

But Isabella became only more and more urgent, calling her in the most affectionate manner, addressing her by the most endearing names. She was sure her dearest, sweetest Catherine would not seriously refuse such a trifling request to a friend who loved her so dearly. (…) Isabella then tried another method. (…) “I cannot help being jealous, Catherine, when I see myself slighted for strangers, I, who love you so excessively! (…) But I believe my feelings are stronger than anybody’s; I am sure they are too strong for my own peace; and to see myself supplanted in your friendship by strangers does cut me to the quick, I own. These Tilneys seem to swallow up everything else.” Catherine though this reproach equally strange and unkind. (…) Isabella appeared to her ungenerous and selfish, regardless of everything but her own gratification.

John Thorpe. Should we judge him by his face?
Character played by William Beck

[Saat John Thorpe bersikap lancang, memberitahu Miss Tilney bahwa Catherine membatalkan janjinya dengan mereka, tanpa sepengetahuan dan seijin Catherine]:

“Well, I have settled the matter, and now we may all go tomorrow with a safe conscience. I have been to Miss Tilney, and made your excuses.”

“You have not!” cried Catherine.

“I have, upon my soul.”

Uh, saya punya alasan yang kuat untuk sebal pada 2 karakter ini, kan?

***

Character Thursday

  • Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
  • Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
  • Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
  • Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.

Syarat Mengikuti :

  1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
  2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
  3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
  4. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di post ini. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
  5. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Nah, siapa Character Thursday mu minggu ini?

Wishful Wednesday [6]

Haiiii, I’m back at Wishful Wednesday!!! *heboh sendiri*

Setelah vakum berminggu-minggu, ini dia buku yang lagi saya pengenin banget:

Sinopsis dari Goodreads:

Tintin The Complete Companion starts where Tintin and the World of Herge stooped. An overview of the world famous comic character and of his adventures through the 23 titles of the complete oeuvre, the Complete Companion contextualizes Herge’s work replaces it in its historical period by showing side by side by side the drawings and the references used by the artist to establish believable backgrounds and realistic details. Also included are sketches, large number of sketches that Herge would rework and polish until he would fine the clearest, most easily readable line giving birth to a style that would later be called the Clear Line. While this book is clearly aimed at an older reading audience, its iconography and attractive layouts will also appeal to teenagers and young and old comic connoisseurs who are familiar with Tintin adventures.

Denger-denger dari akun Twitter @tintinid, buku ini segera terbit versi terjemahannya, harganya Rp 165.000,-, full color. Kudu nabung nih T___T. Harga 165.000 ternyata masih jauh lebih murah dari versi aslinya, yang saya lihat di Bookdepository harganya diatas USD 30. Tintin, tunggu saya!!!

***

Yuk ikutan blog hop Wishful Wednesday! Silakan lompat ke sini ya.

Wishful Wednesday adalah blog hop yang dihost oleh blog Books to Share. Berikut ini ketentuannya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Pangeran Bahagia – Oscar Wilde

[Conclusion in English at the bottom of the post]

Dongeng untuk segala usia. Buku tipis yang berisi lima cerita pendek karya Oscar Wilde ini sungguh sayang untuk dilewatkan dan menyenangkan untuk dibaca berulang-ulang. Lewat untaian kata-kata yang indah, cenderung tragis, dan penuh sindiran, Wilde berusaha mengajak pembaca untuk berhenti dan merenungkan apa artinya menjadi manusia seutuhnya. Bahwa manusia diciptakan satu paket dengan kemampuan untuk mencintai dengan tulus, apakah kita sudah mampu untuk melakukannya? Inilah kelima cerpen yang termuat dalam kumcer Pangeran Bahagia:

1. Pangeran Bahagia (judul asli: The Happy Prince)

Pangeran Bahagia adalah sebuah patung yang berdiri di atas tiang tinggi dan menatap kota dari ketinggian. Tubuh sang Pangeran bersepuhkan emas murni, matanya dari batu safir, dan pedang yang dipegangnya berhiaskan batu delima besar yang berkilauan. Suatu ketika seekor burung Walet mungil terbang mendatangi sang Pangeran dan bertengger di bahunya. Saat itulah, Walet kecil mendapati bahwa sang Pangeran tidak bahagia sama sekali! Sang Pangeran kemudian memohon si Walet kecil untuk membantunya merasa bahagia, dan si Walet mengabulkan permintaannya, meskipun rencananya untuk terbang ke Mesir menyusul kawanannya yang migrasi karena musim dingin harus tertunda. Di akhir cerita, pembaca akan menemukan apa sebenarnya yang diperlukan untuk menjadi bahagia, dan bukan tidak mungkin akan menitikkan air mata haru. :’)

2. Bunga Mawar dan Burung Bulbul (judul asli: The Nightingale and the Rose)

Seorang Pelajar Muda hendak memberikan sekuntum bunga mawar merah untuk gadis yang dicintainya, namun ia tidak mendapatinya dimana-mana. Seekor burung bulbul mendengar si pemuda menangis karena putus asa, dan saat itu juga Burung Bulbul memutuskan untuk menolongnya.

“Akhirnya kutemukan seorang kekasih sejati,”  kata si Burung Bulbul. “Malam demi malam aku bernyanyi untuknya, meskipun aku tidak mengenalnya. Malam demi malam juga telah kuceritakan kepadanya cerita tentang bintang-bintang, dan akhirnya bisa juga kusaksikan sang kekasih sejati. Rambutnya sehitam bunga bakung, dan bibirnya semerah bunga mawar yang ia dambakan; tapi keinginannya telah membuat wajahnya sepucat gading, dan kesengsaraan tergambar jelas di keningnya.”

Maka dimulailah pencarian si Burung Bulbul akan sekuntum mawar merah, pencarian yang akan membuatnya melakukan pengorbanan yang amat menyakitkan…

3. Raksasa yang Egois (judul asli: The Selfish Giant)

Konon, ada seorang Raksasa yang memiliki sebuah taman yang besar dan indah, dan anak-anak sangat suka bermain di taman itu. Setelah kembali dari bepergian selama tujuh tahun, sang Raksasa merasa tidak senang akan anak-anak yang bermain di tamannya, dan ia memasang papan pengumuman yang berbunyi, “Barangsiapa yang sembarangan masuk akan dihukum”. Anak-anak merasa sedih, dan Musim Semi dan Musim Panas mendengar kesedihan mereka sehingga mereka enggan menghampiri kediaman sang Raksasa. Hasilnya, Musim Salju beserta kawan-kawannya yang berpesta pora melingkupi taman sang Raksasa. Suatu hari, tiba-tiba taman sang Raksasa dilingkupi Musim Semi yang paling indah, dan ia melihat seorang anak yang sangat mungil yang berusaha untuk mencapai cabang-cabang pohon. Hati sang Raksasa tersentuh melihatnya, namun sesudah itu ia tidak lagi melihat si anak mungil yang misterius tersebut. Siapakah ia?

4. Teman yang Setia (judul asli: The Devoted Friend)

Apakah kamu merasa bahwa dirimu seorang teman yang setia? Cobalah baca cerpen yang satu ini, dan simak percakapan antara seekor Tikus Air tua dan Burung Pipit. Burung Pipit bercerita kepada Tikus Air tua mengenai seorang pria kecil sederhana bernama Hans, dan “teman sejati”nya, si Tukang Giling. Membaca kisah ini mengingatkan saya akan sebuah kisah yang diceritakan Nabi Natan kepada Daud* tentang seorang kaya yang memiliki banyak kambing domba, namun ia mengambil domba satu-satunya milik tetangganya yang miskin, untuk disajikan bagi tamunya. Egois! Demikian pula si Tukang Giling, karakter yang akan membuatmu sebal luar biasa. Namun setelah itu bercerminlah, apakah dirimu seorang teman yang sejati, tanpa tanda kutip?

*2 Samuel 12:1-4

5. Roket yang Luar Biasa (judul asli: The Remarkable Rocket)

Orang yang berkoar-koar bahwa dirinya paling penting, kemungkinan besar akan sampai pada akhir yang menunjukkan bahwa ia tidak sepenting yang ia kira. Sepertinya inilah pesan yang ingin disampaikan Oscar Wilde melalui cerpen ini. Kita akan melihat sebuah kerajaan yang sedang berpesta atas pernikahan sang putra mahkota dengan seorang putri yang sangat cantik. Semua kembang api berlomba-lomba memeriahkan pesta itu, mulai dari si Petasan mungil, Mercon besar, Kembang Api Kicir-kicir, Cerawat, dan si Lentera Terbang. Namun sang Roket yang Luar Biasa malah mengoceh tak karuan, dan akhirnya tidak berkesempatan untuk menunjukkan kebolehannya, dan malah jadi tersia-sia. Akibat omong besar, kejayaan berlalu begitu saja dari dirinya.

Empat bintang buat buku ini!

Detail buku:
“Pangeran Bahagia” (judul asli: “The Happy Prince and Other Stories”), oleh Oscar Wilde, penerjemah: Risyiana Muthia
108 halaman, diterbitkan April 2011 oleh Serambi Ilmu Semesta (terbit pertama kali Mei 1888)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥


Tentang Oscar Wilde

Sastrawan legendaris bernama lengkap Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde (inisialnya O.F.O’F.W.W.) yang hidup tahun 1854-1900 ini lahir di Dublin, Irlandia, dan terkenal akan karya-karyanya yang beragam, mulai cerpen, novel, puisi, esai, dan lakon, dan juga akan kisah hidupnya yang kontroversial. Beberapa karyanya yang paling terkenal adalah The Happy Prince and Other Stories (1888), The Picture of Dorian Gray (novel, 1890), Lord Arthur Savile’s Crime (kumpulan cerpen, 1891), Lady Windermere’s Fan (lakon, 1892), A Woman of No Importance (lakon, 1893), An Ideal Husband (lakon, 1895), dan The Importance of Being Earnest (lakon, 1895). Berikut adalah kredo kepenulisan seorang Oscar Wilde yang termuat dalam pengantar novel The Picture of Dorian Gray:

“Tak ada yang namanya buku bermoral atau tak bermoral. Yang ada hanyalah buku yang ditulis dengan baik atau yang ditulis dengan buruk.”


 Conclusion:

I really don’t have much to say about this book. It was wonderful: beautiful, tragic, and satirical. It makes readers stop and contemplate from the stories; are we truly a complete human being? Are we capable of loving our neighbors with all our heart? Are we capable of loving so much that we are willing to make sacrifices for those we love? Are we selfish or selfless? Are we truly a devoted friend towards others? Do we boast much? These are the questions that popped into my head during and after reading this collection of short stories. This book is—with no doubt, a collection of tales for any age. 4 from 5 stars for The Happy Prince!

1st review for A Victorian Celebration, 6th review for The Classics Club Project, 2nd review for The Classic Bribe

Visual Tour on Northanger Abbey

This is my entry for A Classics Challenge’s June prompt. The theme this month is Visual Tour, which I did with my latest classics read, Jane Austen’s Northanger Abbey.

What exactly is a Visual Tour?

A series of images that closely represents how you see the scene or description. It doesn’t have to absolutely follow the text but it must reflect the mood. Please be sure to include the quote you are referencing. – from November’s Autumn’s original post

Here I go–

“The morrow brought a very sober-looking morning, the sun making only a few efforts to appear, and Catherine augured from it everything most favourable to her wishes.” – page 84

“They determined on walking around Beechen Cliff, that noble hill whose beautiful verdure and hanging coppice render it so striking an object from almost every opening in Bath.” – page 107

“…and the pump-room to be attended, where they paraded up and down for an hour, looking at everybody and speaking to no one.” – page 31

“As they drew near the end of their journey, her impatience for a sight of the abbey—for some time suspended by his conversation on subjects very different—returned in full force, and every bend in the road was expected with solemn awe to afford a glimpse of its massy walls of grey stone, rising amidst a grove of ancient oaks, with the last beams of the sun playing in beautiful splendor on its high Gothic windows.” – page 154

“It was a narrow winding path through a thick grove of Scotch firs…” — page 171

Classic Author of June 2012: Rudyard Kipling

Pertama-tama, maafkan saya atas post yang sangat terlambat ini T__T

***

Banyak dari kita yang familiar dengan kisah Mowgli si anak manusia yang dibesarkan oleh makhluk-makhluk rimba, melalui film kartun The Jungle Book versi Disney. Versi asli dongeng anak-anak yang ditulis oleh Rudyard Kipling ini tidak se”manis” versi Disney. Saya baru membaca separuh dari The Jungle Book, namun saya sudah terkagum-kagum akan imajinasi Kipling dalam menulis kisah tersebut, bagaimana ia membuat hutan rimba dan segala isinya menjadi hidup dengan segala hukum dan prinsipnya.

“Words are, of course, the most powerful drug used by mankind.”
― Rudyard Kipling

Sekarang marilah kita berkenalan lebih lanjut dengan sang pengarang, RUDYARD KIPLING. Pengarang berkebangsaan Inggris ini terlahir dengan nama Joseph Rudyard Kipling pada tanggal 30 Desember 1865, di Bombay, tepatnya di Bombay Presidency, British India. Nama Rudyard berasal dari danau yang indah bernama Rudyard Lake, di Rudyard, Staffordshire, Inggris.

Ayahnya, John Lockwood Kipling, menjabat sebagai Kepala Sekolah dan Profesor bidang Architectural Sculpture di Sir Jamsetjee Jeejebhoy School of Art, Bombay, pada saat Kipling dilahirkan. Sebagai seorang Anglo-Indian (istilah yang digunakan untuk menyebut orang berkebangsaan Inggris yang tinggal di India pada abad ke-19), tulisan-tulisan Kipling banyak sekali yang bernafaskan India. Kipling sempat menjadi korban bullying saat ia dan adiknya, Trix, tinggal di Southsea, Portsmouth bersama pasangan Holloway sebagai orang tua asuh. Dalam autobiografinya beliau menulis:

“Often and often afterwards, the beloved Aunt would ask me why I had never told anyone how I was being treated. Children tell little more than animals, for what comes to them they accept as eternally established.”

Rudyard Lake (source: Wikipedia)

Mulai Januari 1878 Kipling menempuh pendidikan persiapan masuk British Army di United Services College, di Westward Ho, Devon. Sekolah ini yang melatarbelakangi kisah-kisah anak sekolah yang ditulisnya dengan judul Stalky & Co. (1899). Di sekolah ini juga ia bertemu dan jatuh cinta dengan Florence Garrard, yang menjadi model tokoh Maisie di novel pertamanya, The Light that Failed (1891). Menjelang akhir studinya, sang ayah memberinya pekerjaan sebagai asisten editor pada harian The Civil & Military Gazette, di Lahore, Punjab (sekarang Pakistan). Karirnya di surat kabar dilanjutkan di The Pioneer di Allahabad.

Pada tahun 1886 Kipling menerbitkan kumpulan puisinya yang pertama, Departmental Ditties. Ia kemudian diminta untuk mengisi kolom cerita pendek pada surat kabar tersebut. Hasilnya, sekitar 39 cerita pendek karyanya muncul di Gazette mulai November 1886 hingga Juni 1887. Kebanyakan dari cerita-cerita pendek tersebut dimasukkan dalam Plain Tales from the Hills, kumpulan cerpen pertamanya, yang diterbitkan di Calcutta pada Januari 1888, hanya sebulan setelah ulang tahunnya yang ke-22.

Karirnya dalam kepenulisan cerita pendek terus berlanjut pada tahun yang sama, 1888, saat ia menerbitkan tidak kurang dari 6 kumpulan cerita pendek, berisi total 41 cerita pendek. Pada tahun berikutnya ia banyak melakukan perjalanan, dari Benua Asia hingga ke Benua Amerika, dan kembali ke Inggris. Tulisannya yang dihasilkan selama perjalanan tersebut dimuat dalam karya literatur perjalanan berjudul From Sea to Sea and Other Sketches, Letters of Travel. Kipling memulai debutnya sebagai penulis yang diakui di London, dan pada akhir 1891, kumpulan cerita pendeknya yang bertema kehidupan orang-orang Inggris di India dengan judul Life’s Handicap, diterbitkan.

Kipling menikahi Carrie Balestier, saudara perempuan Wolcott Balestier yang pernah berkolaborasi menulis dengannya, pada tanggal 18 Januari 1892 di All Souls Church, Langham Place, dengan Henry James sebagai pendamping pengantin wanita. Di kediamannya yang disebut Bliss Cottage, putri pertamanya dengan Carrie lahir pada tanggal 29 Desember 1892, dan diberi nama Josephine. Uniknya, sang ibu berulang tahun pada tanggal 31 dan Kipling pada tanggal 30 bulan yang sama. Di Bliss Cottage inspirasi untuk menulis The Jungle Book dan The Second Jungle Book mulai mendatangi Kipling.

Dari Bliss Cottage mereka pindah ke tanah di sisi Sungai Connecticut, dan membangun rumah yang disebut “Naulakha” (sama dengan judul cerita yang ditulis Kipling dengan Wolcott Balestier), di Dummerston, Vermont. Pada tahun 1897 Kipling sekeluarga pindah dari Devon ke Sussex, ke rumah yang disebut The Elms, dan kemudian ke Bateman’s, sebuah rumah tukang besi peninggalan abad ke-17.

Bateman’s, a seventeenth century iron-master’s house (source: http://www.kipling.org.uk)

Putra Kipling, John, meninggal dunia saat Perang Dunia I meletus. Beliau mengabadikan memori akan putranya dengan puisi berjudul “My Boy Jack” (1916) yang juga telah diadaptasi menjadi film televisi dengan bintang Daniel Radcliffe. Beliau juga berusaha melipur lara akibat ditinggalkan putra tercintanya dengan membacakan novel-novel Jane Austen kepada istri dan anak perempuannya.

Dalam kurun waktu empat tahun sejak tahun 1892, Kipling kembali membuktikan produktivitas dan kreativitasnya sebagai penulis, dengan menerbitkan kumpulan cerpen, kumpulan puisi, novel, termasuk kedua volume The Jungle Book yang fenomenal (terbit 1894 dan 1895) dengan gaya khas penulisan imajinatif a la Kipling. Karya-karya Kipling lainnya yang terkenal adalah Kim, kisah Kimball O’Hara dan petualangannya di Himalaya yang terbit tahun 1901, dan menyusul di tahun 1902 adalah kumpulan cerita pendek anak dengan judul Just So Stories for Little Children. Puncak karir Kipling sebagai seorang penulis terjadi pada awal abad 20. Kumpulan puisi Rewards and Fairies (1910) memuat puisi Kipling yang menjadi favorit Inggris sepanjang masa, “If—”.

The Jungle Book, 1st edition cover

The Second Jungle Book, 1st edition cover

Kipling menolak sebagian besar perhargaaan yang dianugerahkan kepadanya, termasuk gelar ksatria, the Poet Laureateship, dan the Order of Merit, namun pada tahun 1907 ia menerima Nobel Prize for Literature, dengan keterangan sebagai berikut: “In consideration of the power of observation, originality of imagination, virility of ideas and remarkable talent for narration which characterize the creations of this world-famous author.” Kipling adalah penerima Hadiah Nobel Sastra pertama yang berasal dari Inggris, dan termuda pada saat penanugerahan terjadi. Pada tahun 1926 beliau juga dianugerahi Gold Medal of the Royal Society of Literature.

Kipling tetap aktif menulis sampai sekitar tahun 1930, dan autobiografinya yang berjudul Something of Myself ditulis pada tahun 1935 dan diterbitkan secara anumerta. Pada tanggal 18 Januari 1936 Kipling wafat pada usia 70 tahun. Jenazahnya dikremasikan di Golders Green Crematorium dan abunya disimpan di Poets’ Corner, bagian sebelah selatan Westminster Abbey. Di Museum of the Rottingdean Preservation Society, di The Grange, Rottingdean, ada ruangan yang disebut Kipling Room, yang merupakan rekonstruksi ruangan kerja beliau di The Elms, dan dipamerkan atas penghargaaan atas karya-karya beliau. Kipling Room dibuka setiap hari tanpa dikenakan biaya.

IF…..

If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you,
If you can trust yourself when all men doubt you,
But make allowance for their doubting too;
If you can wait and not be tired by waiting,
Or being lied about, don’t deal in lies,
Or being hated, don’t give way to hating,
And yet don’t look too good, nor talk too wise:

If you can dream – and not make dreams your master;
If you can think – and not make thoughts your aim;
If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two impostors just the same;
If you can bear to hear the truth you’ve spoken
Twisted by knaves to make a trap for fools,
Or watch the things you gave your life to, broken,
And stoop and build ’em up with worn-out tools:

If you can make one heap of all your winnings
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings
And never breathe a word about your loss;
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
Except the Will which says to them: ‘Hold on!’

If you can talk with crowds and keep your virtue,
‘ Or walk with Kings – nor lose the common touch,
if neither foes nor loving friends can hurt you,
If all men count with you, but none too much;
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds’ worth of distance run,
Yours is the Earth and everything that’s in it,
And – which is more – you’ll be a Man, my son!

– Rudyard Kipling

– Dari berbagai sumber

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society – Mary Ann Shaffer & Annie Barrows

Surabaya, Indonesia, June 18th, 2012

Dear friend,

I’ve just read a wonderful book called “The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society” a few weeks ago, and I thought that I’d write a personal letter to you recommending it.

What first comes to your mind when you hear “World War II”? War must mean blood, chaos, ruthlessness, hope running out; don’t you think? Well, this book was set at the end of the World War II. The main character was Juliet Ashton, a writer for the English weekly Spectator under the pseudonym Izzy Bickerstaff. With her humorous writings Juliet brought the minds of people away from the war for a while. Juliet might have been famous for her Izzy Bickerstaff columns, but she had much deeper passion when it comes to literature. She also wrote a biography of Anne Brontë, which was sold poorly. When she was looking for a subject for her next book, she was accidentally corresponding with Dawsey Adams from the Guernsey Island, who told her about the book society he’s been involved in, how was the society accidentally formed during the German occupation, and how books changed the bitter lives of its members during wartime. Driven by curiosity, Juliet asked Dawsey if she could correspond to other members of the society, and BAM! Her wish was granted. She wrote and received long letters from almost all of the members, only to realize that she fell in love with them and she longed to read more from them. I won’t spoil much plot of the book, but you will find surprises as you turn the pages, surprises that would make you smile long after you finished it. I particularly liked the character Juliet, a woman who would dump a guy because he didn’t share her love for books (whoops!). Guernsey was written by Mary Ann Shaffer and continued by her niece, Annie Barrows.

Have you ever hear about Guernsey Island before? Yes, Victor Hugo wrote Les Misérables during his period of exile in Guernsey. It is a British Crown dependency in the Channel Islands off the coast of Normandy. I attached the map and some photos of the beautiful little island if you’re curious.

Back to the book, it was written in epistolary method (told in series of letters). It was warm and sweet, witty and romantic, you’ll fall in love with the characters (well, not all, thankfully), and it tells a lot about the love for literature. Anybody who loves books and literature should read this book. But mind you, men might not enjoy this book. It was like chick lit set in the 1940s era, written especially for book lovers. By page 11 I found one of my favorite lines of the book:

“I wonder how the book got to Guernsey? Perhaps there is some secret sort of homing instinct in books that brings them to their perfect readers.”

And in page 16:

“I love seeing the bookshops and meeting the booksellers—booksellers really are a special breed. No one in their right mind would take up clerking in a bookstore for the salary, and no one in his right mind would want to own one—the margin of profit is too small. So, it has to be a love of readers and reading that makes them do it—along with first dibs on the new books.”

And this one line in page 56 reminds me so much of the Indonesian Book Bloggers (BBI) community I’m involved in:

“We read books, talked books, argued over books, and became dearer and dearer to one another.”

Ain’t that sweet? 😀

So, my dear friend, if you are curious much after reading my letter, I suggest you grab a copy of The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, as soon as possible. And do you know, the book is filming at the time being with Kate Winslet as Juliet Ashton! When you have read the book, if you loved it, maybe we can watch the movie together. See you when it comes!

Truly yours,
Melisa

Book details:
“The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, by Mary Ann Shaffer and Annie Barrows
305 pages Paperback, published May 2009 by Random House
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

#13 Date a Girl who Reads

Ordinary Journal

“Date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes. She has problems with closet space because she has too many books. Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.

Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag. She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she finds the book she wants. You see the weird chick sniffing the pages of an old book in a second hand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow.

She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her…

View original post 535 more words

I’m joining A Victorian Celebration for June-July 2012!

I’m always excited for reading events and challenges, especially in the Classics genre. So when I found out about Allie’s A Victorian Celebration, I finally decided to join even though I was hesitant at first. I’ve always loved literature works from the nineteenth century, and literature works during the Victorian era (1837-1901) shouldn’t be so far off.

After searching my shelves for books that would suit the event, I built up my reading list below. Many of them are “light-reads”, a lot of short stories collection; I won’t read anything tough, because I also plan to read other books that are not part of the Victorian Celebration too.

Here is my reading list for A Victorian Celebration:

JUNE

Villette by Charlotte Bronte (first published 1853)

The Happy Prince and Other Tales by Oscar Wilde (first published 1888) (READ) Read review.

Little Lord Fauntleroy by Frances Hodgson Burnett (first published 1885-1886) (READ) Read review.

Just So Stories by Rudyard Kipling (first published 1902) (READ) Read review.

JULY

Tess of d’Urbervilles by Thomas Hardy (first published 1891)

The Jungle Book by Rudyard Kipling (first published 1894) (READ) Read review.

There are 3 books from non-English authors that were published during the Victorian era that I would like to read for this event, they are:

Uncle Tom’s Cabin by Harriet Beecher Stowe (first published 1852)

Eight Cousins by Louisa May Alcott (first published 1875)

Leaves of Grass by Walt Whitman (first published 1855)

So that was my list. Hopefully I can read every book I listed here during these two months. Are you joining A Victorian Celebration too? I would love to know what books you are going to read!

Fiksi Lotus, Vol. 1: Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

[Conclusion in English at the bottom of this post]

Jika buku diibaratkan makanan, maka buku ini tampilannya memikat dan menggugah selera. Diangkat dari situs cerita pendek klasik Fiksi Lotus yang diprakarsai Maggie Tiojakin, Fiksi Lotus Vol. 1 membukukan beberapa cerpen pilihan dari situs tersebut.

Tidak kurang dari 14 cerpen dikumpulkan dalam buku setebal 184 halaman ini, yaitu sebagai berikut:
1. Teka-teki (“The Riddle”) karya Walter De La Mare
2. Ramuan Cinta (“The Chaser”) karya John Collier
3. Sang Ayah (“The Father”) karya Bjornstjerne Bjornson
4. Pemberian Sang Magi (“The Gift of the Magi”) karya O. Henry
5. Menembus Batas (“The Interlopers”) karya Saki
6. Dilema Sang Komandan (“The Upturned Face”) karya Stephen Crane
7. Persinggahan Malam (“A Clean, Well-Lighted Place”) karya Ernest Hemingway
8. Gegap Gempita  (”Rapture”) karya Anton Chekov
9. Charles karya Shirley Jackson
10. Dering Telepon (“The Telephone Call”) karya Dorothy Parker
11. Pesan Sang Kaisar (“A Message from the Emperor”) karya Franz Kafka
12. Republick (“Evil Adored”) karya Naguib Mahfouz
13. Menjelang Fajar (“The Wall”) karya Jean-Paul Sartre
14. Kalung Mutiara (“A String of Beads”) karya W. Somerset Maugham

Dari keempat belas cerpen ini, 2 yang menjadi favorit saya, Sang Ayah karya Bjornstjerne Bjornson dan Pemberian Sang Magi karya O. Henry, sudah pernah saya baca di kumpulan cerpen klasik terjemahan dari penerbit lain. Sang Ayah menceritakan tentang dedikasi seorang ayah kepada putranya tercinta, dari saat putranya baru lahir hingga dewasa. Akhir ceritanya menyentuh dan mendorong pembaca untuk merenung. Sedangkan Pemberian Sang Magi, salah satu karya terbaik O. Henry menurut saya, menceritakan tentang sepasang suami-istri yang hendak memberikan hadiah Natal istimewa kepada pasangannya, meskipun sebenarnya mereka tidak punya uang. Cerpen lainnya yang menarik dari buku ini adalah Menembus Batas karya Saki, yang mengisahkan tentang dua keluarga yang bermusuhan selama tiga generasi. Suatu hari masing-masing kepala keluarga dari dua musuh bebuyutan itu bertemu dalam keadaan yang menentukan hidup dan mati mereka. Cerpen yang ini menunjukkan bahwa sekuat-kuatnya manusia dan rasa benci yang mereka rasakan, alam masih lebih kuat dan sekali alam diijinkan Sang Pencipta untuk memukul manusia, pukulannya tidak tanggung-tanggung. Satu lagi yang membuat saya merenungkan makna kebaikan dan kejahatan adalah cerpen Republick karya Naguib Mahfouz. Agak sulit mendeskripsikan cerpen yang satu ini, yang berusaha menyampaikan pesan bahwa dunia ini tidaklah sempurna, kalaupun kedamaian sempat bertahta untuk beberapa waktu, tidak lama kemudian kejahatan akan kembali merampas keadaan. Betapa samanya dengan kondisi dunia sekarang ini.

Empat cerpen itulah yang punya tempat khusus di hati saya, sementara 10 lainnya bagi saya biasa-biasa saja. Seperti yang saya singgung di awal review, buku yang satu ini tampilannya menggugah selera, namun setelah saya mencicipinya, kok ternyata tidak cocok dengan selera saya. Dalam Kata Pengantar (yang bagi saya merupakan “appetizer” yang memuaskan, tapi ternyata tidak diikuti dengan hidangan utama yang sama memuaskannya), Maggie Tiojakin menguraikan alasan memilih keempat belas cerpen tersebut untuk dikumpulkan dalam Fiksi Lotus Vol. 1, yaitu karena ia ingin mengangkat karya-karya cerpenis yang mungkin kurang terkenal, namun merupakan milestone dalam perkembangan cerita pendek. Dan satu lagi, entah karena saya yang agak o’on atau kurang berjiwa sastra; saya tidak menemukan mata rantai yang menghubungkan keempat belas cerpen dalam buku ini. Cerpen Teka-teki tak ubahnya (atau memang) dongeng anak-anak; sementara Sang Ayah, Pemberian Sang Magi, dan Charles menceritakan hubungan dalam keluarga; beberapa cerpen lainnya bersetting pada masa perang; dan sisanya membawa tema yang acak.

Kesimpulan yang saya ambil adalah; buku ini cocok sekali bagi:
1. Para pecinta cerpen dan followers blog Fiksi Lotus
2. Mereka yang ingin mempelajari cerpen dari sumber-sumber klasik
Jika kamu termasuk salah satu dari dua diatas, maka rasanya buku ini akan cocok bagi kamu. Sedangkan saya, setelah membaca buku ini saya akan berpikir lagi sebelum membaca kumcer keroyokan apapun (baik klasik maupun modern, dan bukannya saya tidak punya kumcer keroyokan di dalam timbunan).

Detail buku:
“Fiksi Lotus Vol. 1: Kumpulan Cerita Pendek Klasik Dunia”, diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin
184 halaman, diterbitkan April 2012 (Cetakan I) oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥


 

Conclusion:

Fiksi Lotus Vol. 1 is an anthology of classic short stories from various authors including Kafka, Hemingway and Maugham, translated into Indonesian language. It all started with a blog “Fiksi Lotus”, a collection of classic short stories translated into Indonesian language by Maggie Tiojakin. Maggie also translated some short stories by Edgar Allan Poe and it was published under the title “Kisah-kisah Tengah Malam”. However, from the 14 short stories in this anthology, there are only 4 that I really like; “The Father” by Bjornstjerne Bjornson, “The Gift of the Magi” by O. Henry, “The Interlopers” by Saki, and “Evil Adored” by Naguib Mahfouz. Overall, this book would really suit the need of those who want to study short stories from the classic sources, in Indonesian language. Two out of five stars for this book.

4th review for The Classics Club Project