Classic Author of July 2012: George Orwell

Eric Arthur Blair, lebih dikenal dengan nama pena GEORGE ORWELL, lahir di Motihari, Bihar, India, pada tanggal 25 Juni 1903 dari pasangan Richard Walmesley Blair dan Ida Mabel Blair. Saat ia berusia satu tahun, Orwell dibawa ke Inggris oleh ibunya. Orwell tidak bertemu ayahnya yang pada saat itu bekerja di Departemen Opium di Indian Civil Service sampai kunjungan singkat pada tahun 1907, dan kemudian pada tahun 1912.  Ia mempunyai 2 orang saudara perempuan bernama Marjorie dan Avril. Nantinya Orwell mendeskripsikan latar belakang keluarganya dengan istilah “lower-upper-middle class.”

Orwell menempuh pendidikan di St Cyprian’s School, in Eastbourne, Sussex, dimana pengalaman di St Cyprian’s dituangkannya dalam esai “Such, Such Were the Joys”. Bertahun-tahun kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di Eton College sebagai penerima beasiswa. Setelah lulus dari Eton, sadar bahwa dirinya tidak memiliki peluang untuk mendapatkan beasiswa untuk kuliah dan keluarganya tidak mampu membiayainya, Orwell  memutuskan untuk bergabung dengan Indian Imperial Police di Burma (sekarang Myanmar, juga dilakukan oleh pengarang Hector Hugh Munro atau lebih terkenal dengan nama pena ‘Saki’). Ia kembali ke Inggris pada tahun 1928 dengan perasaan benci yang mendalam terhadap imperialisme (dituangkannya dalam novel pertamanya, Burmese Days, terbit 1934; dan beberapa esai seperti “A Hanging”, dan “Shooting an Elephant”). Ia mulai menggunakan nama pena pada tahun 1933, saat menulis untuk The New Adelphi. Nama pena yang dipilihnya menyiratkan kecintaannya terhadap tradisi dan daerah pedesaan Inggris: George adalah santo pelindung dari Inggris (dan George V adalah raja Inggris pada saat itu), sementara Sungai Orwell di Suffolk adalah salah satu tempat favoritnya di Inggris.

River Orwell

Orwell hidup dalam kemiskinan selama beberapa waktu di kota Paris dan London, di mana pengalaman ini dituangkannya dalam buku pertamanya Down and Out in Paris and London  (1933). Terbitnya buku ini diikuti oleh 4 judul novel: Burmese Days (1934), A Clergyman’s Daughter (1935), Keep the Aspidistra Flying (1936), dan Coming Up for Air (1939), juga buku dokumenter The Road to Wigan Pier (1937). Orwell mengambil bagian dalam Perang Sipil Spanyol (Spanish Civil War) sebagai simpatisan Independent Labour Party, dan berperang dalam pasukan infanteri untuk aliansi non-Stalinist POUM (Workers’ Party of Marxist Unification). Orwell sempat tertembak di bagian leher pada bulan Mei 1937, pengalaman yang diceritakannya dalam esai pendek “Wounded by a Fascist Sniper”, juga dalam buku dokumenter Homage of Catalonia (1938). Ia dan istrinya, Eileen, meninggalkan Spanyol setelah lolos dari penangkapan yang dilakukan para komunis.

Selanjutnya Orwell bekerja dengan menulis resensi buku dalam mingguan New English Weekly hingga tahun 1940. Ia menjadi anggota Home Guard semasa Perang Dunia II dan mulai bekerja pada BBC Eastern Service tahun 1941, di mana pekerjaan utamanya adalah mengusahakan dukungan dari India dan Asia Timur terhadap upaya perang yang dilakukan Inggris. Sadar bahwa dirinya ikut ambil bagian dalam membentuk propaganda, Orwell mengundurkan diri dari pekerjaan ini pada tahun 1943 dan kemudian menjadi literary editor pada Tribune, sebuah mingguan sayap kiri.

Animal Farm, sebuah novella alegori anti-Stalinist, diselesaikannya pada tahun 1944 dan diterbitkan pada tahun selanjutnya, diikuti dengan kesuksesan baik dari segi kritik maupun popularitas. Saat inilah, untuk pertama kalinya dalam hidupnya Orwell memiliki penghasilan yang besar. Animal Farm secara umum dianggap sebagai alegori dari korupsi ide-ide sosialis dalam Revolusi Rusia yang digalakkan oleh Stalinisme, walaupun anggapan ini ditampik oleh Orwell. Selanjutnya, karyanya yang paling dikenal, novel dystopia Nineteen-Eighty Four, yang merupakan ramalan Orwell atas akibat dari totalitarianisme, terbit pada tahun 1949. Ia menulis karya yang terinspirasi dari We karya Yevgeni Zamyatin ini di Pulau Jura, di lepas pantai Skotlandia.

George Orwell di cover Time edisi November 1983

Dalam esainya Politics and the English Language (1946), Orwell menjabarkan mengenai pentingnya penggunaan bahasa yang tepat dan jelas, dengan argumentasi bahwa sebuah tulisan yang “kabur” bisa digunakan sebagai alat manipulasi politik yang kuat, karena itu membentuk pola pikir pembacanya. Ada enam aturan bagi penulis yang dikemukakan Orwell:

  • Never use a metaphor, simile, or other figure of speech which you are used to seeing in print.
  • Never use a long word where a short one will do.
  • If it is possible to cut a word out, always cut it out.
  • Never use the passive where you can use the active.
  • Never use a foreign phrase, a scientific word, or a jargon word if you can think of an everyday English equivalent.
  • Break any of these rules sooner than say anything outright barbarous.

Lebih lanjut mengenai enam aturan dalam menulis versi Orwell ini baca di sini.

Orwell menikah dengan Eileen O’Shaughnessy pada tahun 1936 hingga kematian Eileen di meja operasi pada tahun 1945. Mereka mengadopsi seorang anak lelaki yang dinamai Richard Horatio Blair yang lahir bulan Mei 1944. Kemudian pada musim gugur 1949, hanya berselang beberapa lama sebelum kematiannya, Orwell menikah dengan Sonia Brownell. Orwell meninggal dunia pada tahun 1950 dalam usia relatif muda, 46 tahun. Penyebab kematiannya adalah penyakit tuberculosis. Ia dimakamkan dengan tradisi Anglikan dan dikebumikan di All Saints’ Churchyard, Sutton Courtenay, Oxfordshire dengan epitaf sederhana: Here lies Eric Arthur Blair, born June 25th 1903, died January 21st 1950.

Newsweek menyebut Orwell “was the finest journalist of his day and the foremost architect of the English essay since Hazlitt.” Beliau juga diakui sebagai salah satu penulis Inggris terbaik pada abad 20 dengan mengutamakan penggunaan bahasa yang jelas, kepedulian tinggi terhadap ketidakadilan sosial, perlawanan terhadap totalitarianisme, dan  keyakinan akan “sosialisme demokratis”. Selain menulis novel dan buku dokumenter, Orwell juga menulis sejumlah esai luar biasa dengan berbagai topik: politik, sastra, bahasa, dan budaya.

 

On each landing, opposite the lift shaft, the poster with the enormous face gazed from the wall. It was one of those pictures which are so contrived that the eyes follow you about when you move. BIG BROTHER IS WATCHING YOU, the caption beneath it ran.


“If you want a picture of the future, imagine a boot stamping on a human face–for ever.”

–from Nineteen Eighty-Four

– Dari berbagai sumber