Nineteen-Eighty Four – George Orwell

[Review in Bahasa Indonesia and English]

“Kalau kamu ingin potret tentang masa depan itu, bayangkanlah sepatu bot yang menginjak wajah manusia—selama-lamanya.”

Selamat datang di Oceania. Tempat dimana Bung Besar berkuasa. Tempat dimana PERANG IALAH DAMAI, KEBEBASAN ADALAH PERBUDAKAN, dan KEBODOHAN IALAH KEKUATAN. Tempat dimana segala gerak-gerikmu diawasi oleh teleskrin. Tempat dimana perbendaharaan kata dalam bahasa diciutkan begitu rupa sehingga setiap kata yang melawan ortodoksi (kepatuhan penuh kepada Bung Besar) dipangkas habis.

Di Oceania inilah, tepatnya di London, Winston Smith hidup. Sebagai pegawai tekun dan andal yang bekerja di Kementerian Catatan dan sebagai anggota Partai Luar, Winston menghabiskan setiap hari dalam hidupnya menulis ulang artikel di koran The Times sehingga selalu seturut dengan agenda Partai. Hidup di Oceania yang terus menerus berperang, dalam pengawasan pemerintah yang maha hadir alias omnipresent, dan pengekangan individualisme dan kebebasan berpikir di bawah prinsip Sosing atau Ingsoc (English Socialism), suatu waktu Winston tidak kuasa menahan pemikiran mengenai suatu dunia sebelum Bung Besar berkuasa. Suatu dunia yang lain dengan dunia yang sekarang ini dikenalnya.

Winston menaruh harapan kepada O’Brien, salah satu anggota Partai Inti yang dicurigai Winston mempunyai pemikiran tak-ortodoks, dan adalah pengikut Emmanuel Goldstein yang menolak tirani Bung Besar, yang adalah pimpinan gerakan pemberontakan yang disebut Persaudaraan yang tidak jelas keberadaannya. O’Brien pernah berkata pada Winston, “Kita akan bertemu di tempat yang tidak ada kegelapan.” Seandainya saja Winston menemukan cara untuk berbicara kepada O’Brien mengenai mimpi yang dipendamnya! Namun dengan adanya teleskrin dan Polisi Pikiran yang mengawasi setiap tindakan, bahasa tubuh, dan kata-kata yang keluar dari mulut setiap orang, Winston mati kutu. Sedikit saja teleskrin mencium gelagat tak-ortodoks dari perilaku seseorang, itu bisa berarti orang tersebut akan diuapkan, yang berarti dihapus dari sejarah dan dianggap tidak pernah ada.

Pada suatu waktu, Winston dan rekan wanitanya Julia berkesempatan menghadap O’Brien tanpa diawasi teleskrin. Apakah O’Brien hendak mengundang mereka bergabung dalam Persaudaraan? Apakah Winston akan berperan dalam rencana penggulingan Bung Besar? Akankah Oceania pada akhirnya bebas?

“Kamu sadari bahwa masa silam, mulai dari kemarin, sudah sungguh-sungguh dihapus? […] Kita sudah tidak tahu apa-apa sama sekali tentang Revolusi dan tahun-tahun sebelum Revolusi. Semua catatan sudah dimusnahkan atau dipalsukan, setiap buku sudah ditulis ulang, setiap gambar telah dilukis atau dicat ulang, setiap patung dan jalan dan bangunan diberi nama baru, setiap hari dan tanggal kejadian sudah diubah. Dan proses itu terus berlangsung hari demi hari dan menit demi menit. Sejarah sudah berhenti. Tidak ada apa-apa lagi, kecuali suatu masa kini tanpa akhir yang di dalamnya Partai selalu benar.”

 

Tentang bahasa Newspeak:

Tidakkah kamu lihat bahwa seluruh tujuan Newspeak ialah menyempitkan lingkup pemikiran? Pada akhirnya nanti kita akan membuat kejahatan pikiran sungguh-sungguh tidak mungkin, karena tidak akan ada kata untuk mengungkapkannya. Setiap konsep yang diperlukan akan diungkapkan dengan satu kata saja, yang maknanya didefinisikan secara ketat dan kaku dan segala pengertian embel-embelnya dihapus dan dilupakan. […] Setiap tahun jumlah kata menyusut dan makin menyusut, dan lingkup kesadaran selalu dipersempit. Bahkan sekarang pun, tentunya, tidak ada dalih untuk melakukan kejahatan pikiran. Ini cuma soal disiplin diri, pengendalian realitas. Tapi pada akhirnya itu semua tidak perlu lagi. Revolusi akan rampung ketika bahasanya sempurna. Newspeak adalah Sosing dan Sosing adalah Newspeak.” […] “Menjelang 2050—lebih awal lagi mungkin—segala pengetahuan yang ada tentang Oldspeak sudah akan lenyap. Seluruh pustaka masa lalu sudah akan dihancurkan. Chaucer, Shakespeare, Milton, Byron—semuanya hanya akan ada dalam versi Newspeak-nya, tidak hanya berubah menjadi sesuatu yang lain tetapi sungguh-sungguh dijadikan sesuatu yang bertentangan dengan versi sebelumnya.”

Novel bergenre literary political fiction dan dystopian science-fiction yang pertama kali terbit tahun 1949 ini ditulis oleh George Orwell sebagai ramalan akan masa depan, dan merupakan satir tajam terhadap totalitarianisme. Orwell mengungkapkan berbahayanya kediktatoran pemerintah, baik yang beraliran kiri maupun kanan, melalui gambaran yang tak terbayangkan dan mengerikan mengenai Oceania, Sosing, bahasa Newspeak, konsep pikir-ganda (doublethink) dan Bung Besar (Big Brother). Buku yang sempat dilarang beredar di beberapa negara atas kontroversinya ini termasuk dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die, yang menjadi tema posting bareng BBI bulan Agustus. Dan apakah saya setuju bahwa buku ini harus dibaca sebelum anda menemui ajal? Jawabnya: ya. Karena menurut saya karya fiksi ini ada, sebagai suatu langkah peringatan, kalau tidak bisa disebut pencegahan, agar situasi di dalamnya jangan sampai terjadi di dunia nyata.

#postingbareng BBI bulan Agustus 2012 tema 1001 Books You Must Read Before You Die

Baca juga: Lasting Impression on Nineteen-Eighty Four (Eng)
Classic Author of July 2012: George Orwell (Ind)
Ulasan karakter Big Brother (Ind)

Detail buku:
Nineteen-Eighty-Four (1984), oleh George Orwell
585 halaman, diterbitkan tahun 2003 oleh Bentang Pustaka (pertama kali diterbitkan tahun 1949)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥


Review in English:

Welcome to Oceania. A world where Big Brother rules over everything and dictates everything. A world where WAR IS PEACE, FREEDOM IS SLAVERY, IGNORANCE IS STRENGTH. A world where you’re being watched 24 hours a day, 7 days a week. A world where there is no place for individualism and freedom to think, to act, to speak. A world where humanity is dead. George Orwell wrote this literary political and dystopian science-fiction novel as a grim picture of the future. Through this sharp satire to totalitarianism, Orwell pointed out the danger of dictatorial government whether it is left or right ideology in a depressing, frightening, and unimaginable description of Oceania, Ingsoc, Newspeak language, the concept of doublethink, and Big Brother himself. The book that has been widely banned for its controversial ideas is in the 1001 Books You Must Read Before You Die list. And do I, as a reader, agree that Nineteen-Eighty Four should be read before I die? The answer is yes. Because I think George Orwell meant this work to be a word of caution, if not prevention, so that the situation in his novel won’t come into reality.

12th review for The Classics Club Project, 8th review for The Classic Bribe

Hobi Membaca Sehatkan Fisik dan Mental

Luckty Si Pustakawin

Kompas.com – Membaca memang kebiasaan yang baik karena akan memperluas pengetahuan. Tetapi hobi membaca, terutama buku bagus, punya manfaat lebih dari itu karena menyehatkan mental dan fisik.

Di era twitter dan pesan pendek seperti saat ini, tingkat konsentrasi seseorang untuk membaca dalam waktu lama sudah jauh berkurang. Karenanya membaca novel atau buku bisa menjadi penawar.

Ahli saraf Baroness Susan Greenfield mengatakan, membaca bisa memperpanjang rentang perhatian pada anak-anak dan meningkatkan kemampuan mereka untuk berpikir jernih.

“Sebuah cerita memiliki awal, pertengahan, dan akhir. Sebuah struktur yang akan merangsang otak kita untuk berpikir dalam sebuah urutan, menghubungan sebab, akibat, dan keterkaitan. Makin sering dilakukan makin baik,” kata Greenfield.

Membaca juga akan memperkaya hubungan karena meningkatkan pemahaman kita pada kebudayaan lain dan membantu kita belajar berempati.

Penelitian baru yang dilakukan tim dari University of Michigan menemukan bahwa dalam 10 tahun terakhir ini, di mana perkembangan teknologi informasi sangat pesat, terjadi penurunan empati di…

View original post 303 more words

My Favorite Classic Book: The Classics Club August meme

Yeah I know August is almost over! But when I still got time, I want to share my favorite classic for The Classic Club’s August meme. Like many other Classic Clubbers who had difficult time deciding which classic work is their most favorite, I had it too, but then managed to choose ONE that is, according to myself, the best so far.

Tadaaa, my favorite classic is:

Les Misérables by Victor Hugo

Indonesian edition cover of Les Misérables

Wikipedia explains Les Misérables as follows:

Beginning in 1815 and culminating in the 1832 June Rebellion, the novel follows the lives and interactions of several characters, focusing on the struggles of ex-convict Jean Valjean and his experience of redemption.

Examining the nature of law and grace, the novel elaborates upon the history of France, architecture of Paris, politics, moral philosophy, antimonarchism, justice, religion, and the types and nature of romantic and familial love. The story is historical fiction because it contains factual and historic events.

I first read the Indonesian version of Les Misérables (translated from the abridged version) on January 2011 and have been LOVING it ever since. I love how the author described social injustice in nineteenth-century France, and especially how he emphasized that love can change everything and everyone, including Jean Valjean. Including even Javert. And the writing, duh. It made me cry. Jean Valjean made me cry. Fantine made me cry. Eponine made me cry. See, I’m going emotional just by remembering that I have read it.

So when Tien mentioned in her comments in my blog that she planned to host a Les Misérables read along before the recent adaptation (a musical! Wohooo!) is released this December, I was excited. This time I want to read the unabridged version. In English. Although I hesitated in joining the read along at first, because I’m intimidated by its thickness (1600+ pages), I finally made up my mind and joined it. Well, because it is my favorite classic, right? And I do want to read it in the unabridged version (wait, I mentioned this already, haven’t I?). So I should give it a try. And the read along will be held in about 2 and half months. I think I’ll manage!

If you’re interested in joining Tien’s Les Misérables read along, click the button below.

Read my review of the abridged version of Les Misérables (in Indonesian language) HERE.

Oh. Just in case you’re curious. Jane Eyre, To Kill a Mockingbird, and The Secret Garden are also some of my favorite classics. 😉

Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC – E.S. Ito

Serangkaian pembunuhan tokoh penting Indonesia.

Harta karun peninggalan VOC yang terpendam di perut bumi Jakarta.

Batu Noah Gultom, wartawan koran Indonesiaraya. Rafael, Erick, dan Robert, tiga orang peneliti asal Belanda. Cathleen Zwinkel, mahasiswa master yang sedang menyelesaikan tesis tentang sejarah ekonomi kolonial. Dan Attar Malaka alias Kalek, seorang anarkis yang diberitakan telah terbunuh tetapi sebenarnya dalam persembunyian.

Sementara yang satu menyelidiki serangkaian pembunuhan dengan motif yang mengherankan, yang lain menggali bawah tanah Jakarta untuk menemukan harta peninggalan VOC, yang lainnya lagi menelusuri arsip dokumen untuk membuktikan kebenaran harta peninggalan VOC tersebut, dan yang terakhir punya agenda sendiri yang didasarkan atas ketidaktundukan terhadap pemerintah RI.

Serangkaian pembunuhan itu disebut dengan pembunuhan Gandhi, karena setiap korbannya dibunuh dengan pesan salah satu dari Tujuh Dosa Sosial yang digagas oleh Gandhi. Yang lebih mencurigakan, setiap korban ditemukan di kota/daerah dengan huruf awal B. Apakah itu hanya kebetulan semata?

Het Geheim van Meede—Rahasia Meede, adalah rahasia seorang gadis Belanda yang lari karena menyandang nama keluarga yang terkutuk pada masanya, dengan membawa kunci atas emas VOC. Melalui sebuah perjalanan melintasi ratusan tahun sejarah Indonesia, pengarang E.S. Ito mencoba mengangkat sebuah thriller sejarah yang mencekam sekaligus memesona.

***

Satu hal yang paling menohok batin saya ketika membaca buku ini adalah—betapa minimnya pengetahuan saya tentang sejarah Indonesia. Dan saya hanyalah satu dari sekian banyak anak muda Indonesia yang lupa, atau malah tak mau tahu sejarah negeri sendiri. Pelajaran sejarah di sekolah tak lebih dari dongeng pengantar tidur yang berisi fakta-fakta yang tak bermakna. Membosankan. Siapa yang patut disalahkan? Kurikulum? Guru? Siswa? Sampai-sampai E.S. Ito harus menulis buku ini untuk “menggoda” orang-orang Indonesia (khususnya generasi muda) untuk sedikit memelekkan matanya terhadap sejarah.

Bagi manusia Indonesia, masa lalu dan masa sekarang tidak ada kaitannya sama sekali. Bekapan kemiskinan menghasilkan super-ego dan sinisme lingkungan. Waktu adalah uang. Yang lalu biarlah berlalu. Lihat ke depan, globalisasi menanti. Era pasar bebas akan menggilas mereka yang lengah. Manusia Indonesia, tentu dengan banyak keterbatasannya, melihat masa lalu sebagai perintang masa depan. – hal.173

Tokoh favorit saya adalah Guru Uban yang sampai akhir buku identitasnya tetap misterius, dan ternyata adalah seorang…… (baca sendiri deh supaya nggak spoiler) :D.

Beginilah cuplikan di halaman 62 saat Guru Uban mengajar sejarah di sebuah sekolah kecil di Bojonggede:

“Tetapi kita sekarang kan sudah merdeka, Pak?” Murid perempuan tadi merasa dapat angin.

“Raga, tetapi tidak jiwanya,” Guru Uban menelan ludah. Dialog ini seakan-akan menguras energinya. “Sekarang, lihatlah diri kalian anak-anakku. Miskin, tidak berdaya dan kalian sama sekali tidak merdeka bercita-cita. Sekarang, acungkan jari kalian, siapa yang ingin kuliah setelah ini?”

[…]

“Kalian tidak akan pernah berani bercita-cita untuk kuliah di kampus itu, sekalipun ada di antara kalian yang pintar. Kalian tidak merdeka, anak-anakku, sebab Belanda-Belanda cokelat jauh lebih bengis daripada kulit putih.”

Pengarang juga mengkritik habis-habisan kota Jakarta yang disebutnya “bukan lagi Ratu dari Timur, melainkan Ratu Terpuruk Lumpur” dan kawasan Menteng yang disebutnya sebagai “pengabdi kolonial abadi” dengan segala borjuismenya.

Salut kepada pengarang yang memasukkan banyak fakta sejarah dalam buku ini, sehingga saya sebagai pembaca yang kurang suka non fiksi mendapat lebih banyak informasi dengan membaca 675 halaman Rahasia Meede daripada membaca novel-novel lainnya. Apalagi di halaman 79-86 saya disuguhi sejarah akuntansi modern dan Luca Pacioli, beserta pengaruhnya terhadap Jan Pieterszoon Coen dan “perlakuan akuntansi” yang diterapkannya dalam serikat dagang Vereenigde Oost-Indische Compagnie alias VOC.

Pengarang cukup berhasil membangun ketegangan dalam thriller sejarah bercita rasa sastra Indonesia ini. Terlepas dari beberapa kekurangan, diantaranya beberapa bahasan sejarah yang dibahas sangat detail sehingga rasanya memusingkan, plot yang terasa agak dipaksakan dan beberapa hal yang masih menyisakan pertanyaan (misalnya motif asli Anarki Nusantara dalam pembunuhan Gandhi dan hubungannya dengan pencarian emas VOC); Rahasia Meede tetaplah sebuah karya yang tidak boleh dilewatkan setiap manusia Indonesia. Kalau tidak ada Rahasia Meede, bisa jadi seumur hidup saya tidak akan melirik topik yang kedengarannya saja sangat membosankan seperti sejarah ekonomi kolonial. Empat bintang buat buku ini.

“Belajar sejarah tujuannya agar kita memberikan arti pada masa sekarang. Supaya tidak ada ruang hampa dalam hidup ini. Dengan berpikir seperti itu, kalian akan menghargai setiap garis kehidupan yang kalian jalani. Kita tidak perlu kaya dan berkuasa untuk menikmati hidup.” – hal. 401

Detail buku:
Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC, oleh E.S. Ito
675 halaman, diterbitkan tahun 2007 oleh Penerbit Hikmah
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Entri #1 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge by ma petite bibliothèque

Focus On: Book Blogs

Great post for book bloggers and book blogger-to-be!

The Daily Post

Who says the internet has destroyed books? With the proliferation of book blogs, bookworms are more influential (and social) than ever before. I’m a complete nerd for book blogs, and have tried book blogging myself…without much success. My mistake was I just posted a bunch of lengthy reviews of books I’d read, which I now realize weren’t very interesting to my readers unless they happened to have read those books themselves. Popular book bloggers do a lot more with their content, and here are some things I’ve since learned from them:

  • Blog about books everyone is reading now, or will be reading soon. More readers will take part in a conversation about a book they’re excited about, too.
  • Blog about books everyone has already read. Posts about books that you loved in childhood (or despised in high school) will reach a wide audience. Certain books – The Very…

View original post 288 more words

A Bookish Quote from The Catcher in the Rye

This post is written to enter the August prompt of November’s Autumn’s A Classics Challenge. This month’s prompt is to share a memorable

Quote

… or a few of them from what you’re currently reading. Try to select one that are not so well-known but, of course, if you can’t help yourself share it too!

Isn’t it the easiest prompt EVER? Actually I plan to read The Catcher in the Rye in September, but I didn’t read any Classics but Nineteen-Eighty Four this month (and I already used it for last month’s prompt) so I thought it won’t hurt anyone if I share this bookish quote from The Catcher in the Rye. 😉

“What really knocks me out is a book that, when you’re all done reading it, you wish the author that wrote it was a terrific friend of yours and you could call him up on the phone whenever you felt like it. That doesn’t happen much, though.”

Will The Catcher in the Rye give me the feeling mentioned above after I’m finished reading it? Well, I’m going to figure it out next month!

If you want to join A Classics Challenge, head on to this post.

Character Thursday (10): Big Brother of 1984

BIG BROTHER (diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai Bung Besar) adalah sosok diktator tunggal dalam novel 1984 karya George Orwell. Konon wajah Bung Besar menghiasi poster-poster di seantero Oceania dan layar-layar teleskrin raksasa di Victory Square.

“Apakah hal yang paling mengerikan, paling memuakkan daripada segalanya? Dia memikirkan Bung Besar. Wajah yang luar biasa besar itu (karena terus-menerus melihatnya di poster-poster dia selalu membayangkan wajah itu satu meter lebarnya), dengan kumis hitam tebalnya dan mata yang terus-menerus mengikutimu ke sana kemari, seolah mengambang sendiri di pikirannya.” – hal. 523

“Mata yang menghipnotis itu menatap ke dalam mata Winston. Seolah suatu kekuatan yang sangat besar sedang menekanmu– sesuatu yang menembus tengkorakmu, memukul-mukul otakmu, menakut-nakuti kamu supaya melepaskan keyakinan itu, membujukmu, hampir, untuk menyangkal bukti yang tertangkap indramu. Pada akhirnya Partai akan mengumumkan bahwa dua tambah dua itu lima, dan kau akan terpaksa mengakuinya.” – hal. 146

Di dalam novel, Bung Besar tidak berinteraksi secara langsung dengan tokoh-tokoh lainnya. Juga tidak dijelaskan apakah Bung Besar adalah sosok manusia yang nyata atau hanya sosok diktator yang direkayasa oleh Partai sesuai dengan kepentingan mereka untuk membuat rakyat Oceania takluk akan kekuasaannya. Sejak 1984 diterbitkan, istilah Big Brother dipakai untuk menyebut figur pemerintah yang melakukan upaya pengawasan dan pengendalian yang berlebihan.

Majalah Book meranking Big Brother di posisi ke-59 dalam daftar 100 Best Characters in Fiction Since 1900. Sedangkan majalah Wizard meletakkan Big Brother pada posisi ke-75 dari sosok penjahat paling besar sepanjang masa.

Big Brother, meskipun bukanlah karakter antagonis yang melakukan kekejaman langsung terhadap tokoh protagonis, tetaplah merupakan simbol kediktatoran dan totalitarianisme yang diciptakan Orwell, dan merupakan sosok penjahat yang paling haunting hingga saat ini.

***

Feature Character Thursday yang dihost Fanda Classiclit mengajak kamu memilih salah satu karakter dari dalam buku dan mengulasnya. Simak syarat-syarat mengikutinya di post ini.

Wishful Wednesday (8)

Hai hai! Tibalah saya di Wishful Wednesday yang ke-8. Dan minggu ini saya lagi pengen banget buku dibawah ini:

The Time Keeper by Mitch Albom.

Sinopsis dari Goodreads:

From the author who’s inspired millions worldwide with books like Tuesdays with Morrie and The Five People You Meet in Heaven comes his most imaginative novel yet, The Time Keeper–a compelling fable about the first man on earth to count the hours.
The man who became Father Time.

In Mitch Albom’s newest work of fiction, the inventor of the world’s first clock is punished for trying to measure God’s greatest gift. He is banished to a cave for centuries and forced to listen to the voices of all who come after him seeking more days, more years. Eventually, with his soul nearly broken, Father Time is granted his freedom, along with a magical hourglass and a mission: a chance to redeem himself by teaching two earthly people the true meaning of time.

He returns to our world–now dominated by the hour-counting he so innocently began–and commences a journey with two unlikely partners: one a teenage girl who is about to give up on life, the other a wealthy old businessman who wants to live forever. To save himself, he must save them both. And stop the world to do so.

Told in Albom’s signature spare, evocative prose, this remarkably original tale will inspire readers everywhere to reconsider their own notions of time, how they spend it and how precious it truly is.

Sudah lama saya nggak baca karya-karya Mitch Albom, dan sekarang kangen sama cerita-ceritanya yang menyentuh :’). Kayaknya saya nggak perlu menjelaskan panjang lebar kenapa saya pengen baca bukunya Mitch Albom, itu karena buku-buku karya beliau bagus. Titik. :D. Nggak sabar nunggu bukunya terbit!

Oh ya, di posting WW ke-10 nanti, saya mau share wishlist mana saja yang sudah tercapai selama ikut blog hop Wishful Wednesday. Boleh kan? :3

***

Wishful Wednesday adalah blog hop yang dihost oleh blog Books to Share. Berikut ini ketentuannya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

The Curious Incident of the Dog in the Night-time – Mark Haddon

To Christopher John Francis Boone, a mathematically gifted boy of fifteen with Asperger’s syndrome, his mind is sometimes like a machine, like a bread-slicing machine that isn’t working fast enough but the bread keeps coming and there is a blockage. Christopher knows all the countries in the world and their capitals and every prime number up to 7,057. He loves animals but is foreign to human affections. He doesn’t like being shouted at or touched. And he hates the color yellow and brown.

One night he discovered that Wellington, the dog next door, was dead with a garden fork sticking out of its body. Since then he decided to investigate on “the murder”, even though to do that he had to cope with the things that were out of his comfort zone. For example, being a “detective”, he had to interact with strangers, and go to new places, these are things that he wouldn’t do under normal circumstances. And even though his father didn’t approve, he kept doing his detective work and wrote everything he’d found in a book, the very book I was reading, The Curious Incident of the Dog in the Night-time.

This book is so unique because it enables readers to see the world through the eyes of a boy who suffers from Asperger’s syndrome. According to Wikipedia, Asperger’s syndrome is is an autism spectrum disorder (ASD) that is characterized by significant difficulties in social interaction, alongside restricted and repetitive patterns of behavior and interests. It differs from other autism spectrum disorders by its relative preservation of linguistic and cognitive development. People with Asperger’s syndrome often display intense interests; in Christopher’s case he was interested in mathematics and science. His profound interest in math was reflected upon his choice to use only prime numbers for the chapters in his book. Therefore, there isn’t Chapter 1 in this book, but Chapter 2, 3, 5, 7, 11, 13, and so on. Here’s what Christopher said about prime numbers:

Prime numbers are what is left when you have taken all the patterns away. I think prime numbers are like life. They are very logical but you could never work out the rules, even if you spent all your time thinking about them. – p. 12

What an amazing work the author, Mark Haddon, did in this book. While diving into the head of a mathematically genius boy with Asperger’s syndrome, the author provided readers with details as comprehensive as possible. For example, when Christopher was asked by the policeman to empty his pockets, he described every little thing he had in his pockets. Christopher drew the map of a zoo he and his father went to from memory. And the author described what Christopher do to make himself feel calm, which is do math equations and doubling 2’s in his head (he could do that until 245). And he could quickly give answer to 251 times 864 which is 216,864, because “it was a really easy sum because you just multiply 864 x 1,000, which is 864,000. Then you divide it by 4, which is 216,000, and that’s 250 x 864. Then you just add another 864 onto it to get 251 x 864. And that’s 216,864.”

Also, his relationship with his father is an important point in the book. We can learn that special kids like Christopher tends to need time to regain trust to his closed ones (in this case his father) if that person has done something wrong towards him. We can learn that being a parent of a child who has special needs requires not only love but never-ceasing stock of patience. One final note to wrap this review: people with Asperger’s syndrome are special, but they’re still human beings. To love them and interact with them you have to know what’s going on inside their heads. And Mark Haddon had done amazing job in telling us what’s going on inside their heads.

Book details:
“The Curious Incident of the Dog in the Night-time, by Mark Haddon
226 pages Paperback, published 2003 by Vintage Books, a division of Random House
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥