Home » Book Reviews » 4 star review » Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC – E.S. Ito

Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC – E.S. Ito

Serangkaian pembunuhan tokoh penting Indonesia.

Harta karun peninggalan VOC yang terpendam di perut bumi Jakarta.

Batu Noah Gultom, wartawan koran Indonesiaraya. Rafael, Erick, dan Robert, tiga orang peneliti asal Belanda. Cathleen Zwinkel, mahasiswa master yang sedang menyelesaikan tesis tentang sejarah ekonomi kolonial. Dan Attar Malaka alias Kalek, seorang anarkis yang diberitakan telah terbunuh tetapi sebenarnya dalam persembunyian.

Sementara yang satu menyelidiki serangkaian pembunuhan dengan motif yang mengherankan, yang lain menggali bawah tanah Jakarta untuk menemukan harta peninggalan VOC, yang lainnya lagi menelusuri arsip dokumen untuk membuktikan kebenaran harta peninggalan VOC tersebut, dan yang terakhir punya agenda sendiri yang didasarkan atas ketidaktundukan terhadap pemerintah RI.

Serangkaian pembunuhan itu disebut dengan pembunuhan Gandhi, karena setiap korbannya dibunuh dengan pesan salah satu dari Tujuh Dosa Sosial yang digagas oleh Gandhi. Yang lebih mencurigakan, setiap korban ditemukan di kota/daerah dengan huruf awal B. Apakah itu hanya kebetulan semata?

Het Geheim van Meede—Rahasia Meede, adalah rahasia seorang gadis Belanda yang lari karena menyandang nama keluarga yang terkutuk pada masanya, dengan membawa kunci atas emas VOC. Melalui sebuah perjalanan melintasi ratusan tahun sejarah Indonesia, pengarang E.S. Ito mencoba mengangkat sebuah thriller sejarah yang mencekam sekaligus memesona.

***

Satu hal yang paling menohok batin saya ketika membaca buku ini adalah—betapa minimnya pengetahuan saya tentang sejarah Indonesia. Dan saya hanyalah satu dari sekian banyak anak muda Indonesia yang lupa, atau malah tak mau tahu sejarah negeri sendiri. Pelajaran sejarah di sekolah tak lebih dari dongeng pengantar tidur yang berisi fakta-fakta yang tak bermakna. Membosankan. Siapa yang patut disalahkan? Kurikulum? Guru? Siswa? Sampai-sampai E.S. Ito harus menulis buku ini untuk “menggoda” orang-orang Indonesia (khususnya generasi muda) untuk sedikit memelekkan matanya terhadap sejarah.

Bagi manusia Indonesia, masa lalu dan masa sekarang tidak ada kaitannya sama sekali. Bekapan kemiskinan menghasilkan super-ego dan sinisme lingkungan. Waktu adalah uang. Yang lalu biarlah berlalu. Lihat ke depan, globalisasi menanti. Era pasar bebas akan menggilas mereka yang lengah. Manusia Indonesia, tentu dengan banyak keterbatasannya, melihat masa lalu sebagai perintang masa depan. – hal.173

Tokoh favorit saya adalah Guru Uban yang sampai akhir buku identitasnya tetap misterius, dan ternyata adalah seorang…… (baca sendiri deh supaya nggak spoiler) :D.

Beginilah cuplikan di halaman 62 saat Guru Uban mengajar sejarah di sebuah sekolah kecil di Bojonggede:

“Tetapi kita sekarang kan sudah merdeka, Pak?” Murid perempuan tadi merasa dapat angin.

“Raga, tetapi tidak jiwanya,” Guru Uban menelan ludah. Dialog ini seakan-akan menguras energinya. “Sekarang, lihatlah diri kalian anak-anakku. Miskin, tidak berdaya dan kalian sama sekali tidak merdeka bercita-cita. Sekarang, acungkan jari kalian, siapa yang ingin kuliah setelah ini?”

[…]

“Kalian tidak akan pernah berani bercita-cita untuk kuliah di kampus itu, sekalipun ada di antara kalian yang pintar. Kalian tidak merdeka, anak-anakku, sebab Belanda-Belanda cokelat jauh lebih bengis daripada kulit putih.”

Pengarang juga mengkritik habis-habisan kota Jakarta yang disebutnya “bukan lagi Ratu dari Timur, melainkan Ratu Terpuruk Lumpur” dan kawasan Menteng yang disebutnya sebagai “pengabdi kolonial abadi” dengan segala borjuismenya.

Salut kepada pengarang yang memasukkan banyak fakta sejarah dalam buku ini, sehingga saya sebagai pembaca yang kurang suka non fiksi mendapat lebih banyak informasi dengan membaca 675 halaman Rahasia Meede daripada membaca novel-novel lainnya. Apalagi di halaman 79-86 saya disuguhi sejarah akuntansi modern dan Luca Pacioli, beserta pengaruhnya terhadap Jan Pieterszoon Coen dan “perlakuan akuntansi” yang diterapkannya dalam serikat dagang Vereenigde Oost-Indische Compagnie alias VOC.

Pengarang cukup berhasil membangun ketegangan dalam thriller sejarah bercita rasa sastra Indonesia ini. Terlepas dari beberapa kekurangan, diantaranya beberapa bahasan sejarah yang dibahas sangat detail sehingga rasanya memusingkan, plot yang terasa agak dipaksakan dan beberapa hal yang masih menyisakan pertanyaan (misalnya motif asli Anarki Nusantara dalam pembunuhan Gandhi dan hubungannya dengan pencarian emas VOC); Rahasia Meede tetaplah sebuah karya yang tidak boleh dilewatkan setiap manusia Indonesia. Kalau tidak ada Rahasia Meede, bisa jadi seumur hidup saya tidak akan melirik topik yang kedengarannya saja sangat membosankan seperti sejarah ekonomi kolonial. Empat bintang buat buku ini.

“Belajar sejarah tujuannya agar kita memberikan arti pada masa sekarang. Supaya tidak ada ruang hampa dalam hidup ini. Dengan berpikir seperti itu, kalian akan menghargai setiap garis kehidupan yang kalian jalani. Kita tidak perlu kaya dan berkuasa untuk menikmati hidup.” – hal. 401

Detail buku:
Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC, oleh E.S. Ito
675 halaman, diterbitkan tahun 2007 oleh Penerbit Hikmah
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Entri #1 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge by ma petite bibliothèque

Advertisements

15 thoughts on “Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC – E.S. Ito

  1. Yup, aku juga merasa detail sejarahnya terlalu dipaksakan sehingga malah pusing, kayak dipaksa belajar beberapa bab pelajaran sejarah menjelang ulangan :)). Tapi tetap patut dipuji keberanian Ito masuk ke genre ini. Reviewku baru minggu depan deh…

  2. Buku ini juara deh.
    aku jadi suka sejarah gara-gara Rahasia Meede. Memang miris banget, seharusnya guru sejarah lebih bisa bercerita daripada ngajar hapalan tanggal-tanggal.

  3. Uwooo, ini ya yg katanya buku keren, the Da Vinci Codenya Indonesia. Keren ih, sumpah. Mau fakta sejarahnya di paksakan juga ttp keren *heh baca aja belum* *tapi dari reviewnya uda OK bgt*

    *masukin wishlist*

  4. wah pengen baca buku ini… terlepas dari bbrp kekurangan buku ini, karya E. S Ito ini tampaknya tetap memberi inspirasi dan keingintahuan lebih lanjut.

    ya belajar sejarah mmg bukan utk dihafal, tp utk mendapat makna dari perjalanan kita di masa lalu. gimana mau lompat ke masa depan kalo gak tau apa yg dipijak (di masa lalu)?

    thanks ya reviewnya. ok banget! 🙂

    • ya belajar sejarah mmg bukan utk dihafal, tp utk mendapat makna dari perjalanan kita di masa lalu. gimana mau lompat ke masa depan kalo gak tau apa yg dipijak (di masa lalu)?

      setuju banget sama kalimat ini!

  5. Pingback: Name In A Book Reading Challenge 2012 – Wrap-Up! « Surgabukuku

  6. Pingback: Wishful Wednesday (13) « Surgabukuku

  7. menanggapi bagian komentar anda yang :”plot yang terasa agak dipaksakan dan beberapa hal yang masih menyisakan pertanyaan (misalnya motif asli Anarki Nusantara dalam pembunuhan Gandhi dan hubungannya dengan pencarian emas VOC)”
    JANGAN DIBACA : SPOILER ALERT!!!
    1. Dari yang saya baca, si “pelaku” Gandhi murder didalangi bukan oleh anarki nusantara.
    2. Menurut observasi saya, tujuan si tokoh utama bukan mengejar pencarian emas tersebut tetapi lebih untuk mencegah jatuhnya harta Karun tersebut ke tangan yang salah

  8. Pingback: TBRR Historical Fiction Challenge | Surgabukuku

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s