Intimidating Classics: The Classics Club November Meme

This post is written to answer The Classics Club’s November meme question:

What classic piece of literature most intimidates you, and why? (Or, are you intimidated by the classics, and why? And has your view changed at all since you joined our club?)

 

Intimidating Classics for me are:

Especially those that are called chunky books. Number one on my list is Les Misérables, in which I did a-bit-too-bravely act when I decided to join a Les Misérables read along equipped only with an e-book and a laptop. Now I know that I really suck at reading on laptop. How could I ever finish this 1.600+ page book? I want to finish reading the unabridged version at least once in my life, since I have read and loved the abridged version very dearly.

On second place is Shakespeare plays. I joined Let’s Read Plays event to encourage myself to read Shakespeare plays, but I have to admit that Shakespeare is really hard to digest. At least for me whose mother language is not English, and wasn’t taught about Shakespeare’s works nor read any at school. Luckily, there’s still a light in the dark, I can still understand what Shakespeare was trying to say through No Fear Shakespeare. This section on SparkNotes provides today’s English translation to some Shakespeare plays. Without NFS, I am blind in case of reading Shakespeare.

Then there are lengthy works from Dickens. So far I have only read a translated version of A Tale of Two Cities and a simplified version of Bleak House. But I love Dickens and I want to read more of his works. Yes, I love Dickens. That is because I watched some movies and miniseries adapted from Dickens’ works, such as Little Dorrit (review in Bahasa here), Great Expectations (review in Bahasa here), and Nicholas Nickleby. Watching movies and miniseries wasn’t a great deal, but when I learned that most of Dickens’ works are very lengthy, I am intimidated. However, reading The Christmas Books this December might be a very nice prelude in reading more Dickens. I also have an unabridged copy of Bleak House, waiting to be read. (Though honestly I really don’t know when I can read it, I have so many other books on my TBR pile!)

Oh ya, and one more chunky book that I wish to read at least once before I die is Leo Tolstoy’s War and Peace. Do you have any Classics that you wish to read but are intimidated with? I would love to hear about it!

“Do not read, as children do, to amuse yourself, or like the ambitious, for the purpose of instruction. No, read in order to live.”
― Gustave Flaubert

Advertisements

Tanah Tabu – Anindita S. Thayf

Tanah Tabu adalah novel yang menceritakan tentang Papua, perjuangan, dan perempuan. Pusat cerita ada pada tiga perempuan tiga generasi yang terikat satu ikatan kasih sayang: Mabel, perempuan setengah baya yang tangguh dan cerdas; Mace, menantu Mabel yang ditinggalkan oleh suaminya; dan Leksi, anak perempuan Mace yang polos dan ceria. Bertiga, mereka berjuang hidup di lingkungan keras di Papua, tanah yang tabu itu. Mabel, yang semasa muda pernah tinggal bersama Tuan Piet dan Nyonya Hermine de Wissel, sepasang suami-istri Belanda yang baik hati, mewariskan prinsip dan pemikiran maju yang ia dapatkan dari mereka kepada Mace dan juga kepada cucunya, Leksi. Mabel dan Mace tak henti-hentinya berusaha agar Leksi dapat terus sekolah dan bebas dari kebodohan. Ada pula tokoh Pum, yang setia mendampingi Mabel sejak berpuluh-puluh tahun yang lampau, dan Kwee yang tidak bisa lepas dari si kecil Leksi. Dua tokoh ini sama sekali bukan hiasan, melainkan dari mata merekalah pembaca akan menikmati perjalanan di tanah Papua: keindahannya sekaligus kekejamannya.

Tanah Tabu menyimpan banyak petuah atau kata-kata bijak, yang kebanyakan diucapkan oleh tokoh Mabel. Misalnya seperti di bawah ini:

“Kalau ada orang yang datang kepadamu dan bilang ia akan membuatmu jadi lebih kaya, bantingkan saja pintu di depan hidungnya. Tapi kalau orang itu bilang ia akan membuatmu lebih pintar dan maju, suruh dia masuk. Kita boleh menolak uang karena bisa saja ada setan yang bersembunyi di situ. Namun hanya orang bodoh yang menolak diberi ilmu cuma-cuma. Ilmu itu jauh lebih berharga daripada uang, Nak. Ingat itu.” – hal 30

“Apa yang tampak baik dalam pandangan, belum tentu benar seperti itu dalam kenyataan. Apa yang kelihatan tenang mungkin saja menyimpan riak di dasar yang terdalam. Apa yang bagus di luar, bisa saja busuk isinya.” – hal 37-38

“Kita ini perempuan, Anabel. Tak akan mampu memanggul dunia. Jadi hendaknya kau merasa senang jika bisa menjalani bagianmu dalam kehidupan di dunia ini sebaik mungkin. Perempuan tetap akan menjadi perempuan, bukan laki-laki. Dan ingatlah selalu, perempuan tidak akan bisa memanggul dunia, Anabel. Tidak akan pernah.” – hal 123 –> yang ini diucapkan Nyonya Hermine kepada Mabel, yang malah semakin mencambuk keinginan Mabel untuk terus belajar dan tahu lebih banyak lagi.

“Ketahuilah, Nak. Rasa takut adalah awal dari kebodohan. Dan kebodohan—jangan sekali-kali engkau memandangnya dengan sebelah mata—mampu membuat siapa pun dilupakan kodratnya sebagai manusia.” – hal 163

Lalu kemana cerita bergulir? Pembaca akan disuguhi riwayat Mabel yang telah mengalami banyak hal dalam tahun-tahun kehidupannya, kemudian budaya patriarkal yang kuat di Papua yang mengakibatkan banyak perempuan menderita di bawah tangan suami-suami mereka, kekejaman perang antarsuku, dan juga bagaimana politik, pengusaha, orang-orang asing, dan modernisasi mendobrak masuk ke tanah Papua dengan cara-cara yang kadang tidak menghiraukan alam maupun manusia. Hasilnya, ketimpangan sosial yang eksplisit, di mana orang-orang asing menjadi kaya dengan mengeruk emas dan kekayaan alam Papua sementara penduduk asli Papua sendiri hidup miskin dan sengsara. Klimaks cerita terjadi saat Mabel dijebak sehingga tampaknya ia mendukung satu pihak tertentu dalam persaingan Pilkada. Saat Mabel dalam bahaya dan Mace serta Leksi tertinggal tak berdaya, bisakah Pum dan Kwee menolong Mabel?

***

Saya suka sekali dengan gaya bercerita Anindita S. Thayf, dan bagaimana ia menggunakan karakter Pum, Kwee, dan Leksi sebagai tiga sudut pandang dalam cerita ini. Penuturannya ringan dan gaya bahasa yang digunakan indah tanpa perlu terlalu “nyastra”. Apalagi “kejutan” yang disimpan pengarang di akhir novel mengenai siapa sesungguhnya Pum dan Kwee. Novel ini menjadi angin segar bagi saya yang notabene sangat jarang membaca karya sastra dalam negeri, dan haus akan bacaan berkualitas yang menyoroti kehidupan masyarakat Indonesia secara kritis dan realistis. Salut bagi pengarang yang berhasil menyelesaikan penulisan novel ini setelah melakukan riset selama 2 tahun, dan membuahkan sebuah novel indah yang menjadi Pemenang I Sayembara Novel DKJ 2008. Sekali lagi, saya sangat jarang membaca karya sastra Indonesia, namun saya rasa lima puluh tahun lagi, Tanah Tabu layak dinobatkan sebagai salah satu karya sastra klasik Indonesia, sebagaimana karya-karya Pramoedya Ananta Toer kita akui sebagai karya sastra klasik Indonesia pada zaman ini.

Detail buku:
Tanah Tabu, oleh Anindita S. Thayf
237 halaman, diterbitkan tahun 2009 oleh Gramedia Pustaka Utama
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Entri #2 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge by ma petite bibliothèque

Thanks to Ndari buat pinjamannya! 🙂