Top 5 Favorite Books 2012

book-kaleidoscope-2012-button

Akhirnya, puncak dari rangkaian Book Kaleidoscope 2012. Setelah mengobrak-abrik buku-buku berbintang lima di tahun ini, without further ado, inilah Top 5 Favorite Books dari semua buku yang sudah saya baca selama tahun 2012.

#5. The Book Thief, by Markus Zusak

book thief

Sebenarnya saya nggak pede bisa menghabiskan buku berbahasa Inggris apapun di atas 300 halaman. Tapi buku ini beralur cepat, dengan gaya bertutur yang unik, dan narator si Death yang suka tebar spoiler. Sehingga saya pun tidak butuh waktu relatif lama untuk menghabiskan buku ini. Kisahnya tentang seorang gadis Jerman Liesel Meminger, yang diadopsi oleh keluarga Hubermann di Molching, dekat Munich. Situasi menjadi menegangkan ketika keluarga Hubermann memutuskan untuk menyembunyikan Max Vandenburg, seorang pemuda Yahudi putra teman Hans Hubermann, dalam rumah mereka. Saya suka sekali cara penulis menuturkan perkembangan hubungan Liesel dengan keluarga Hubermann, dengan Max, juga dengan sahabatnya Rudy Steiner (Rudy is my favorite character!). Dan, setelah sekian lama, sayapun dibuat nangis oleh sebuah buku. Tersangkanya adalah buku ini.

Review The Book Thief

#4. Just So Stories, by Rudyard Kipling

Just So Stories

Buku yang membuat saya geleng-geleng kagum dengan imajinasi penulisnya, dari awal hingga akhir. Tidak kurang dari dua belas pourquoi stories dirangkum dalam buku ini. Saya sudah menyebutkan hal berikut ini di dalam review, tapi saya akan menyampaikannya lagi: ini adalah jenis buku yang bisa saya baca besok atau sepuluh tahun lagi tanpa pernah merasa bosan dengan isinya. Terjemahannya bagus, ilustrasi-ilustrasi di dalamnya juga sangat keren. And I wanna read this book to my children one day. 🙂

Review Just So Stories

#3. A Tale of Two Cities, by Charles Dickens

kisah dua kota cover1

A Tale of Two Cities merupakan sebuah buku yang menyimpan banyak kontradiksi: antara Inggris dan Prancis, yang baik dan yang jahat, yang kaya dan yang miskin, yang menindas dan yang tertindas. Dan sebuah pengorbanan atas nama cinta disimpan untuk akhir cerita yang tragis. Buku yang kompleks, penuh simbol, bikin penasaran, penuh kejutan. Gaya bertutur Dickens bikin ketagihan untuk terus membacanya, apalagi didukung terjemahan yang apik. Harganya lumayan mahal untuk sebuah buku berbahasa Indonesia, tapi saya nggak menyesal membeli buku ini. Hai penerbit-penerbit lokal, terjemahin karya-karya Dickens lagi dooong!

Review A Tale of Two Cities

#2. A Tree Grows in Brooklyn, by Betty Smith

a tree grows in brooklyn

Saya baru saja menamatkan buku ini di awal bulan Desember 2012 dan baru saja menulis reviewnya. Buku ini sebenarnya berisi kisah sehari-hari yang notabene “biasa” namun entah bagaimana sang penulis mampu mengisahkannya dengan indah dan mengalir. Lewat buku ini kita diajak melihat potret kehidupan kaum imigran miskin di Amerika pada awal abad 20. Dan cerita tentang sebuah keluarga yang berjuang dalam kemiskinan, tentang seorang ibu yang berusaha sekuat tenaga agar anak-anaknya berpendidikan. Kutipan-kutipan bagus bertebaran di dalam buku ini. Jarang ada sebuah buku yang isinya sederhana, tapi maknanya luar biasa.

Review A Tree Grows in Brooklyn

#1. The Bridge of San Luis Rey, by Thornton Wilder

bridge of san luis rey

Buku yang menempati peringkat pertama Top 5 Favorite Books 2012 versi saya adalah sebuah buku, yang ketika saya selesai membacanya, saya tercenung lama seperti orang bego. Ada perasaan seperti tertampar. Bahasa keren untuk fenomena ini adalah: susah move on. Buku pemenang Pulitzer 1928 ini menceritakan tentang penelusuran seorang biarawan mengorek kehidupan kelima korban musibah putusnya jembatan San Luis Rey. Ia berusaha menemukan, adakah pola tertentu yang menandakan bahwa mereka berlima akan menemui ajal dengan tragis? Inti buku ini sebenarnya adalah cinta, tapi bukan seperti dalam buku-buku lainnya, apalagi dalam kisah romantis. Buku ini seakan menyerukan, “share all the love you have before you die.” Buku ini BAGUS, pake BANGET. Titik.

Review The Bridge of San Luis Rey

***

Itulah kelima buku terfavorit saya selama tahun 2012, semoga di tahun 2013 nanti saya bisa membaca banyak buku bagus yang tak terlupakan seperti lima buku di atas! Amin. And see you next year!

Baca juga post Book Kaleidoscope 2012 yang lain:

Top 5 Book Boyfriends 2012

Top 5 Best Book Covers 2012

Advertisements

The Time Keeper – Mitch Albom

time keeper

Time is what we want most, but what we use worst.– William Penn

 

Ini sebuah kisah tentang WAKTU.

Yang diceritakan melalui sudut pandang tiga manusia:

Manusia pertama yang menghitung waktu,

Manusia yang menginginkan terlalu banyak waktu,

Dan manusia yang ingin semua waktu yang dimilikinya cepat berakhir.

Seorang manusia dari zaman menara Babel didirikan,

Dan dua orang manusia di zaman modern.

Satu orang yang mengira ia bisa mencurangi Kematian,

Satu orang lagi yang mengira ia punya hak untuk mengundang Kematian.

Dan bapa dari waktu, yang akan meneruskan pelajaran yang telah dikecapnya kepada kedua orang itu.

“Mengertikah kau sekarang?” tanyanya. “Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya.”

[…]

“Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita.”

“Mengapa?”

“Supaya setiap hari itu berharga.”

***

Buku ini bukan masterpiece seorang Mitch Albom, namun seperti buku-buku lainnya, nilai moral yang ingin disampaikan penulis melalui buku ini melesat tepat ke sasaran. Melalui bahasa yang sederhana dan alur yang mengalir, Albom mengajak pembaca untuk merenungkan kembali bagaimana menggunakan waktu. Karena itu, saya memberi empat bintang untuk buku ini, lebih tinggi daripada novel Albom yang lain yaitu The Five People You Meet in Heaven.

I need about 3 hours to read this book,

An hour to write its review;

But the lesson it has told me will last forever.

 ###

#postingbareng BBI bulan Oktober 2012 tema karya-karya Mitch Albom

Detail buku:

Sang Penjaga Waktu (judul asli: The Time Keeper), oleh Mitch Albom
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Tanti Lesmana
312 halaman, diterbitkan Oktober 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan September 2012)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

5 Cover Novel Klasik Terjemahan Terjelek

Tadinya saya sempat ragu-ragu dalam menulis post ini. Ada wacana dari teman-teman BBI untuk mempost cover buku terjelek versi masing-masing, bukan untuk mencaci maki melainkan sebagai kritik yang membangun. Sebagai bukti bahwa kami para blogger buku peduli, bahkan sampai mengenai cover atau sampul buku.

Bagi kami, ungkapan don’t judge a book by its cover benar dan salah. Benar, karena seringkali sebuah cover tidak merepresentasikan isi buku dengan baik, dalam banyak kasus malah memberikan gambaran yang misleading alias menyesatkan. Bisa jadi sebuah buku yang bagus dengan cover jelek, atau sebuah buku dengan cover yang bagus namun ternyata isinya tidak sebagus bukunya. Salah, karena ungkapan ini seakan menurunkan pentingnya sebuah cover buku. “Yang penting isinya, covernya sih tidak masalah”, seringkali kita mendengar seperti itu. Tapi, dari segi literatur dan segi pemasaran, seharusnya sebuah cover buku selain bisa merepresentasikan isi buku dengan baik juga semestinya punya daya tarik tertentu (yang tidak perlu berlebihan) yang bisa memikat calon pembeli dan pembaca di toko buku.

Nah, karena genre klasik adalah genre buku yang banyak saya lahap, maka saya membuat posting ini, yang membeberkan 5 cover buku klasik terjemahan terjelek menurut saya. Ini murni merupakan pendapat saya, jadi kalau ada yang tidak setuju dengan saya, ya silakan. Semoga ini menjadi kritik yang membangun bagi para penerbit lokal yang sudah mau repot-repot menerbitkan novel-novel klasik kesayangan saya.

#5. Anne of Green Gables oleh L.M. Montgomery. Penerbit Qanita, 2008.

anne of green gables

Uh-oh. Kombinasi warnanya bikin sakit mata. Buku ini terkenal karena karakter Anne yang ceria, penuh imajinasi, malah cenderung lebay dan meledak-ledak (in a funny way), tapi hal itu tidak tampak melalui cover ini. Nggak ada kesan klasik sama sekali dari cover buku ini. Cover buku-buku sekuelnya hampir sama jeleknya, terlihat seperti novel historical romance kebanyakan. Tapi yang paling parah ya buku pertama ini.

#4. Laba-laba dan Jaring Kesayangannya (Charlotte’s Web) oleh E.B. White. Penerbit Dolphin, 2012.

charlotte-web

Ehm. Babinya menonjol banget di cover ini. Bukan perkara relijius yang membuat saya keberatan dengan si babi, tapi entah kenapa ada sesuatu yang rasanya salah dengan cover ini. Memang, Wilbur si babi adalah salah satu karakter sentral dalam novel ini, dan tampang babi di dalam cover polos dan imut gimana gitu. Tapiiii…. *kehilangan kata-kata*

Charlotte si laba-laba juga nongol di cover ini, tapi tentu saja karena ukurannya yang jauh lebih kecil, laba-laba yang malang jadi kalah pamor dengan babi. Lalu itu jaring laba-labanya menggantung dari mana? Saya cuma bisa berimajinasi bahwa ada pohon di bagian cover yang tidak terlihat (bahkan ranting-rantingnya pun nggak kelihatan, yeah, right). Sekali lagi, nuansa klasiknya tidak terasa. Pencantuman judul yang sudah diterjemahkan menjadi “Laba-laba dan Jaring Kesayangannya” juga membuat calon pembaca jadi nggak tahu bahwa buku ini novel klasik. Saya jauh lebih suka cover aslinya.

#3. Cinta yang Hilang (kumpulan cerpen klasik) oleh O. Henry. Penerbit Serambi, 2011.

buku_cinta-yg-hilang

Serambi menerbitkan sejumlah kumpulan cerpen klasik dari beberapa penulis yang berbeda, dan sejauh ini dari seluruh koleksi itu, yang menurut saya covernya paling tidak mewakili isinya adalah buku ini. Saya belum baca kumpulan cerpen Maupassant dan Chekov, jadi mungkin juga nanti pendapat saya bergeser. Judul dan cover buku ini awalnya sempat membuat saya ogah-ogahan membeli bukunya. Tapi setelah membaca salah satu cerpen O. Henry di kumcer Cinta Tak Pernah Mati, saya memutuskan kalau saya harus membaca lebih banyak cerpen karya beliau. Dan yang saya temukan setelah membaca buku ini…. Cinta yang Hilang berisi lima cerpen yang berlatar dunia seni di Amerika pada akhir abad 19. Mestinya ini menjadi bahan yang bisa melahirkan cover yang menarik. Tapi kok jadinya malah covernya seperti itu? Maksud dari ekspresi wanita yang menutupi mulutnya di cover apa ya? Juga jamnya? Sungguh, cover ini membuat saya bingung…

#2. Si Cantik dari Notre Dame (The Hunchback of Notre Dame) oleh Victor Hugo. Penerbit Serambi, 2010.

notre dame

Ah, satu lagi buku bagus yang harus menderita akibat cover jelek. Saya bisa bilang begitu karena beberapa teman mengakui bahwa mereka enggan membeli buku ini karena covernya. Bagi saya, ilustrasi si bungkuk Quasimodo yang sedang menggendong La Esmeralda yang pingsan dan dilatarbelakangi percikan darah itu memang mengganggu. Aneh. Mestinya dibuat misterius dan gelap saja sekalian, seperti menara-menara Notre Dame. Sungguh sayang, padahal saya suka sekali dengan font yang digunakan untuk judul. Warna dasar cover dan latar belakang katedral Notre Dame juga tak menjadi masalah bagi saya. Juga pemilihan judul terjemahan “si cantik” yang ternyata memang lebih tepat daripada “si bungkuk”.

#1. Les Miserables oleh Victor Hugo. Penerbit Visimedia, 2012.

les mis visimedia

Entah kenapa Victor Hugo jadi korban lagi dapat cover jelek… padahal beliau salah satu penulis favorit saya. Huhuhu! Menjelang dirilisnya adaptasi film Les Miserables yang terbaru, penerbit Visimedia memanfaatkan kesempatan ini untuk meluncurkan novel Les Miserables terjemahan versinya. Kebahagiaan saya bahwa ada satu penerbit lokal lagi yang mau menerjemahkan novel favorit saya ini sirna seketika saat saya melihat covernya. Kenapa mesti Fantine? Apakah mentang-mentang (pemeran) Fantine cantik dan beken lantas sah untuk memajangnya menjadi cover buku? Apakah porsi keseluruhan Fantine di dalam buku tidak menjadi pertimbangan? (FYI, Fantine hanya secuil bagian dari Les Miserables). Lalu, apa maksudnya tulisan “Jean Valjean-Fantine” di bawah buku? Hello, they weren’t a couple. Not even close. Embel-embel “Fantastic!” dan “Fight Dream Hope Love” menambah ke-lebay-an cover ini. Kenapa tidak membiarkan sebuah buku bagus berbicara untuknya sendiri? FB Page penerbit ini cukup interaktif, dan membuka forum apakah embel-embel “Fantastic!” harus dihilangkan dari cover. Penerbit mengakui bahwa embel-embel tersebut dicantumkan untuk menjadi pembeda dengan penerbit-penerbit lain. Saya sendiri sudah memberi masukan, namun sayang tidak banyak masukan dari follower Visimedia lainnya.

Fakta yang harus saya akui dengan menghela nafas dan mengelus dada: kelima buku yang saya sebutkan di atas semuanya buku bagus…

Kutipan Buku: A Tree Grows in Brooklyn

a tree grows in brooklyn

“Pemberian maaf,” kata Mary Rommely, “adalah hadiah yang sangat berharga. Namun tidak membutuhkan biaya apa pun.” – hal. 215

***

Francie membaca beberapa halaman dengan cepat dan nyaris demam saking semangatnya. Rasanya ia ingin berteriak keras-keras. Ia bisa membaca! Ia bisa membaca!

Sejak saat itu, ia merasa memiliki dunia lewat membaca. Ia takkan pernah kesepian lagi, takkan pernah sedih karena tidak punya teman akrab. Buku-buku menjadi sahabatnya dan ada satu buku untuk setiap suasana hati. Ada buku puisi untuk waktu-waktu tenang. Ada buku petualangan saat ia bosan dengan waktu-waktu tenang. Ada kisah-kisah cinta saat ia memasuki usia remaja, dan saat ia ingin merasa dekat dengan seseoarang, ia bisa membaca biografi. Pada hari ketika ia sadar bisa membaca, Francie bersumpah untuk membaca satu buku sehari selama ia hidup. – hal. 224-225

***

“Ya. Tapi aku ingin hidup untuk suatu tujuan. Aku tidak mau hidup untuk menerima makanan derma supaya aku cukup kuat untuk menerima lebih banyak makanan derma.” – hal. 405

***

“Tuhan yang baik”, Francie berdoa, “biarkan aku menjadi sesuatu setiap menit dalam setiap jam hidupku. Biarkan aku bahagia; biarkan aku sedih. Biarkan aku kedinginan; biarkan aku merasa hangat. Biarkan aku kelaparan… terlalu banyak makan. Biarkan bajuku compang-camping atau rapi. Biarkan aku jadi tulus — jadi penuh muslihat. Biarkan aku jujur; biarkan aku jadi pembohong. Biarkan aku jadi terhormat dan biarkan aku berdosa. Tapi biarkanlah aku jadi sesuatu dalam setiap menit yang penuh berkah. Dan saat aku tidur, biarkan aku terus bermimpi supaya tak ada satu pun kepingan kehidupan yang terlewat.” – hal. 557

***

A Tree Grows in Brooklyn (Sebatang Pohon Tumbuh di Brooklyn), oleh Betty Smith. Versi terjemahan Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Baca review A Tree Grows in Brooklyn di sini.

A Christmas Carol – Charles Dickens, and The Classics Club’s December meme

Christmas Books by Charles Dickens

[Review in Bahasa Indonesia and English (plus the answer to The Classics Club’s December meme question!)]

A Christmas Carol mungkin adalah cerita Natal yang paling diingat sepanjang masa, kecuali kisah tentang kelahiran Juruselamat itu sendiri. Ebenezer Scrooge adalah seorang pria tua yang hidup di London di era Victoria. Satu fakta mencengangkan mengenai Mr. Scrooge selain bahwa ia luar biasa kikir, adalah bahwa ia membenci Natal. Berikut adalah petikan percakapan Scrooge dengan sang keponakan Fred:

“A merry Christmas, uncle! God save you!” cried a cheerful voice. It was the voice of Scrooge’s nephew, who came upon him so quickly as this was the first intimation he had of his approach.

“Bah!” said Scrooge. “Humbug!”

“Christmas a humbug, uncle!” said Scrooge’s nephew. “You don’t mean that, I am sure?”

“I do,” said Scrooge. “Merry Christmas! What right have you to be merry? What reason have you to be merry? You’re poor enough.”

“Come then,” returned the nephew gaily. “What right have you to be dismal? What reason have you to be morose? You’re rich enough.”

Malam itu, di Malam Natal, hantu Marley menampakkan diri kepada Scrooge. Marley adalah partner kerja Scrooge yang telah meninggal dunia. Hantu Marley memperingatkan bahwa Scrooge akan didatangi oleh tiga sosok hantu; Hantu Natal Masa Lalu (Ghost of Christmas Past), Hantu Natal Masa Kini (Ghost of Christmas Present), dan Hantu Natal Masa Depan (Ghost of Christmas Yet to Come). Setiap hantu akan membawa Scrooge dalam perjalanan menembus waktu dan tempat, di mana ia akan memperoleh pelajaran untuk mengubah dirinya, bagaimana ia bersikap terhadap orang lain, dan bagaimana ia menggunakan uang yang dimilikinya untuk membantu mereka yang miskin. Cerita yang pendek, mudah ditebak (kurang lebih karena kita sudah mendengarnya disampaikan dalam berbagai versi yang lebih mudah dicerna) dan ditulis dalam gaya cerita khas Dickens yang kadang memusingkan (saya membacanya dalam bahasa Inggris), namun A Christmas Carol tetaplah sebuah cerita yang tidak bisa didepak dari memori saya.

“I will honour Christmas in my heart, and try to keep it all the year. I will live in the Past, the Present, and the Future. The Spirits of all Three shall strive within me. I will not shut out the lessons that they teach.”

Sekedar info, perkenalan pertama saya dengan A Christmas Carol adalah melalui sebuah buku anak-anak dengan tokoh-tokoh Disney yaitu Miki Tikus dan kawan-kawan. Gober Bebek sebagai Ebenezer Scrooge, Miki sebagai Bob Crachit, Donal tentu saja jadi Fred sang keponakan, dan Hantu Marley adalah Gufi #brbngakakdulu XD Sayangnya saya tidak bisa menemukan buku yang berjudul asli Disney’s Mickey’s Christmas Carol ini di rak buku keluarga. Sepertinya sih sudah diwariskan ke salah satu keponakan saya.

christmas_carol movie

Versi adaptasi A Christmas Carol yang paling terkenal adalah film animasi yang dirilis tahun 2009 besutan Robert Zemeckis. Tidak kurang dari tiga nama beken ada dalam daftar pengisi suara. Yang pertama tidak lain adalah Jim Carrey sang aktor serba bisa, yang dalam film ini mengisi suara Scrooge (termasuk Scrooge kecil, Scrooge muda dan Scrooge tua) dan ketiga hantu (walaupun hantu ketiga rasanya nggak ngomong apa-apa). Kemudian Gary Oldman yang menyuarakan karakter karyawan Scrooge yang miskin tapi punya keluarga besar, Bob Crachit. Tidak hanya itu, pemeran Sirius Black di seri Harry Potter ini juga mengisi suara Marley dan Tiny Tim. Yang terakhir adalah Colin Firth yang mengisi suara keponakan Scrooge, Fred. Menurut saya film ini adalah adaptasi yang bagus, apalagi dialog-dialognya banyak yang sama persis dengan di buku. Entah kenapa rating film ini di IMDb hanya 6.8…?

Saya sebenarnya membaca A Christmas Carol sebagai bagian dari The Christmas Books yang memuat tiga cerita pendek bertema Natal karya Charles Dickens. Dua cerita lainnya berjudul The Chimes dan The Cricket on the Hearth. Namun saya masih malas baca dua cerita yang lain, jadi setor review untuk A Christmas Carol saja dulu yah. Empat bintang buat kisah pertobatan Scrooge! 🙂


Review in English + The Classics Club’s December meme:

A Christmas Carol is, no doubt, the most remembered story about Christmas other than the nativity story itself. Set in Victorian England, the story tells us about the old miser Ebenezer Scrooge, a stingy man who hated Christmas. Then at Christmas Eve, his late work partner Marley came to him in a shape of a ghost to warn him of the coming of three ghosts of Christmas: Ghost of Christmas Past, Ghost of Christmas Present, and Ghost of Christmas Yet to Come. They would take Scrooge in a journey beyond time and space, a journey to self redemption.

I love the animated adaptation of A Christmas Carol (2009) directed by Robert Zemeckis, with Jim Carrey as Scrooge. I think that this adaptation is good because the dialogues hadn’t been changed much from the book. However, I don’t know why the rating for this movie on IMDb is only 6.8.

My first acquaintance with A Christmas Carol was with a children book called Disney’s Mickey’s Christmas Carol, in which Scrooge McDuck was Ebenezer Scrooge (of course), Mickey Mouse was Bob Crachit, and Goofy was the ghost of Marley (sorry, I have to laugh at this. Hahahaha.) The book was given to me as a child. Unfortunately, I can’t find the book on the family’s bookshelves now, probably it has been given to one of my nephews and nieces. And this, to answer The Classics Club’s December meme question, was my favorite memory about A Christmas Carol.

christmascarol1

A scene from Disney’s Mickey’s Christmas Carol

Now, after reading the original story, though it was written in sometimes confusing Victorian style, made my love for it even bigger. Four stars for a Christmas story that will always remain in my memory.

Book details:

A Christmas Carol, by Charles Dickens, first published 1843
Read as a part of The Christmas Books, 234 pages, published 2007 by Penguin Popular Classics
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

18th review for The Classics Club Project


This post is also a late entry for the event Dickens in December. (Button below)

dickens-button-01-resized

A Tree Grows in Brooklyn – Betty Smith

a tree grows in brooklyn

[Review in Bahasa Indonesia and English]

DESKRIPSI KEHIDUPAN MISKIN. Itu yang ada di benak saya ketika selesai membaca separuh buku tebal ini. Seperti yang disampaikan di Kata Pengantar yang ditulis oleh Anna Quindlen, A Tree Grows in Brooklyn memang bukanlah buku yang mentereng. Dalam arti, jika disandingkan dengan buku-buku klasik lain, buku ini lebih mirip potret kaum imigran di Amerika pada awal abad 20. Plot Tree pun tidak dapat disimpulkan dalam satu kalimat, karena banyaknya detail yang disampaikan; detail-detail yang berlangsung pelan, pasti, dan penuh liku, sama seperti kehidupan itu sendiri.

Tree dibuka dalam adegan di musim panas di New York tahun 1912 yang mana dua orang kakak-beradik, Francie dan Neeley Nolan, melakukan kegiatan yang bisa kita sebut “berbelanja”. Bedanya, kegiatan berbelanja mereka didahului dengan instruksi mendetail dari ibu mereka, Katie, dan dengan budget yang amat terbatas. Dari sana pembaca akan dibawa mengenal para tokoh: Mary Rommely, ibu ketiga gadis Rommely; Sissy, Evy, dan Katie; Katie Rommely (yang kemudian menjadi Katie Nolan) ibu Francie dan Neeley, sosok wanita tegar dan pekerja keras; Johnny Nolan suami Katie yang tampan dan jago bernyanyi namun tukang mabuk, dan juga lebih dalam mengenai Francie dan Neeley. Dikisahkan bagaimana Katie, dengan arahan Mary Rommely, mewajibkan anak-anaknya untuk membaca satu halaman Alkitab dan satu halaman Shakespeare setiap malam. Dikisahkan bagaimana kerja keras Katie untuk membiayai pendidikan bagi anak-anaknya, walau dengan kondisi terhimpit kemiskinan. Dan bagaimana mereka menabung dalam celengan kaleng yang dipaku di bagian dalam laci. Francie yang suka mengamati lingkungan sekitar, suka membaca (ia bertekad membaca satu buku sehari dan rajin mengunjungi perpustakaan) dan kemudian menulis, dan seperti remaja lainnya, bergumul untuk bisa diterima dalam pergaulan.

“Kuncinya ada dalam menulis dan membaca. Kau bisa membaca. Setiap hari, kau harus membacakan satu halaman dari buku yang bagus untuk anakmu. Setiap hari, sampai anak itu belajar membaca. Lalu dia harus membaca setiap hari, aku tahu itu rahasianya.”

Buku ini mengumpulkan detail-detail kehidupan sehari-hari yang nyata dan alami, hal-hal yang sebenarnya “biasa” dikisahkan dengan cantik oleh Betty Smith. Untungnya juga gaya penceritaan yang mengalir dengan enak sangat membantu saya menikmati buku setebal 664 halaman ini walau kadang plotnya terasa lambat, namun tidak membosankan. Pendapat saya tentang penulis wanita Amerika pun berubah setelah membaca novel biografis seorang Betty Smith. (Saya agak kurang sreg dengan karya-karya L.M. Montgomery dan Louisa May Alcott, yang menurut saya too sweet for my taste).

Penerbit Gramedia juga membungkus buku ini dengan cover yang cantik, namun menurut saya kurang pas menggambarkan isi buku (nggak ada kesan “miskin” sama sekali). Buku ini adalah bukti nyata bahwa hal-hal yang sederhanapun bisa jadi indah dan bermakna. Dan sayapun bisa mencoret kata “miskin” dalam kalimat pertama review ini, menjadi DESKRIPSI KEHIDUPAN. Karena dua kata inilah yang tepat untuk menggambarkan apa yang berusaha disampaikan oleh A Tree Grows in Brooklyn.

“Segala sesuatu berjuang untuk hidup. Lihat pohon di luar yang tumbuh dekat selokan itu. Pohon itu tidak mendapat sinar matahari, dan hanya kena air kalau hujan. Pohon itu tumbuh dari tanah kering. Dan pohon itu kuat karena perjuangan kerasnya untuk hidup membuatnya kuat. Anak-anakku akan kuat seperti itu.”

Detail buku:

Sebatang Pohon Tumbun di Brooklyn (judul asli: A Tree Grows in Brooklyn), oleh Betty Smith
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Rosemary Kesauly
664 halaman, diterbitkan tahun 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1943)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

N.B.: Terima kasih untuk yang namanya tidak boleh disebut, sudah menghadiahkan buku ini. Maaf kalo lama baru direview. 😀


Review in English:

A Description of Poor Living. That’s what I had in mind when I got to the middle of the book. The main focus of the book set on the beginning of 20th century in America was about how a family struggles from poverty. And how a determined mother, Katie Nolan, strived to get education for her two children; Francie and Neeley. The book is thick, full of stories of everyday life, and the plot is slow sometimes, but Betty Smith’s writing style made it flowing beautifully. It is not a kind of book that comes with a “BOOM” or a “BANG” but from its simplicity, from its lessons, I can say that this is a great book, a kind of book that you can (and should) read over and over again in your life. And finally I can cross out the word “poor” from the first sentence of this review, which leaves “A Description of Living.” Because that is what A Tree Grows in Brooklyn is all about.

17th review for The Classics Club Project

Books and Riddle from Secret Santa 2012

Secret Santa adalah event tahunan para Blogger Buku Indonesia alias BBI-ers. Ajang saling tukar menukar kado (yang berupa buku! Nggak boleh yang lain! Kalo pun ada yang lain itu cuma tambahan aja. :P) di tahun ini makin seru aja karena masing-masing Santa boleh menuliskan riddle “Who Am I” yang harus ditebak oleh si X. Makasih buat Ndari dan Oky yang sudah mengkoordinir event Secret Santa tahun ini!

Daaaan… di tahun 2012 ini saya mendapatkan 2 buku di bawah dari my dear Santa:

books from ss

Therese Raquin oleh Emile Zola dan Letter to My Daughter oleh Maya Angelou. Makasih, Santa! #ketjup

Dan inilah riddle dari Santa yang relatif pendek tapi cukup membuat saya garuk-garuk hidung, eh, kepala…

“Hannibal Rising,

If I were in a book, I’d choose Atticus Finch as my father, the Baudelaires as my siblings, and Lester McKinley as my life partner.”

“I saw Harry Potter and Sirius Black when they rode Buckbeak, I was also there when Peter Pan tried to catch the star.”

Who Am I?

Yeah, seriously, WHO ARE YOU, Santa?

Top 5 Best Book Covers 2012

Sebagai bagian dari Book Kaleidoscope 2012, dibawah ini adalah lima cover buku favorit dari semua buku yang sudah dibaca di tahun 2012. Empat novel terjemahan, dan satu novel Indonesia. Check them out!

kisah dua kota cover1

Kisah Dua Kota (A Tale of Two Cities) oleh Charles Dickens. Elex Media Komputindo, 2010. Banyak orang mungkin nggak setuju dengan cover bernuansa putih-pink ini, tapi bagi saya cover ini berkesan, karena guillotine yang dipenuhi bunga mawar melambangkan kebiadaban yang ditutupi oleh cinta. IMO sih. 😀 Sayang desainer cover tidak disebutkan di dalam buku ini.

city of thieves

City of Thieves (Kota Para Pencuri) oleh David Benioff. Penerbit Ufuk Press, 2010. Suka banget dengan cover novel hisfic yang menggambarkan suasana kota di Rusia yang bersalju. Nice! Credits to pewajah sampul Arie Hadianto.

bibbi bokken

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken (Bibbi Bokkens magische Bibliothek) oleh Jostein Gaarder. Penerbit Mizan, 2011. Cover versi Gold Edition ini lebih mantap daripada edisi lamanya! Covernya membuat buku ini tak sekadar dilirik oleh calon pembeli dan pembaca. Pujian untuk desainer sampul Andreas Kusumahadi.

meede

Rahasia Meede oleh E.S. Ito. Penerbit Hikmah, 2007. Cover novel hisfic Indonesia bercitarasa Dan Brown ini sungguh-sungguh wah. Misterius dan eyecatching. Cover dalamnya pun, emmm… bikin penasaran. Great job pewajah sampul Windu Budi!

Just So Stories

Just So Stories (Sekadar Cerita) oleh Rudyard Kipling. Gramedia Pustaka Utama, 2011. Seperti yang sudah saya sebutkan dalam review, salah satu faktor penentu yang membuat saya memberikan bintang 5 untuk buku ini adalah ilustrasi (dan juga desain cover) yang digarap oleh Staven Andersen. Reinterpretasi ilustrasi-ilustrasi asli karya Kipling bukannya bermaksud menggantikan, namun memberikan suatu nafas baru yang segar bagi buku ini. Dua jempol!

Christmas Prayer by Robert Louis Stevenson

BabyJesusShepherds

Christmas Prayer

by Robert Louis Stevenson

Loving Father, Help us remember the birth of Jesus,
that we may share in the song of angels, the gladness of the shepherds, and the worship of the wise men.

Close the door of hate and open the door of love all over the world.
Let kindness come with every gift and good desires with every greeting.
Deliver us from evil by the blessing which Christ brings, and teach us to be merry with clean hearts.

May the Christmas morning make us happy to be Thy children,
and the Christmas evening bring us to our beds with grateful thoughts, forgiving and forgiven, for Jesus’ sake, Amen!

***

Doa Natal

Bapa yang penuh kasih, tolonglah kami untuk mengingat kelahiran Yesus, supaya kami dapat mengambil bagian dalam kidung para malaikat, sukacita para gembala, dan puji-pujian orang-orang bijak.

Tutuplah pintu kebencian dan bukalah pintu kasih di seluruh dunia.
Biarlah kebaikan hadir melalui setiap pemberian dan keinginan-keinginan yang baik melalui setiap sapaan.
Bebaskanlah kami dari yang jahat melalui berkat yang dibawa oleh Kristus, dan ajarlah kami untuk bersukacita dengan hati yang bersih.

Semoga pagi Natal membuat kami berbahagia karena menjadi anak-anakMu, dan malam Natal menyertai tidur kami dengan pikiran-pikiran yang penuh ucapan syukur, mengampuni dan diampuni, demi Yesus.
Amin!

N.B.: terjemahan diambil dari buku The Christmas Story oleh G.A. Myers, diterjemahkan oleh Andina M. Rorimpandey dan diterbitkan oleh Penerbit Gloria Graffa, 2005.

***

Surgabukuku wishes you Merry Christmas!

God bless all of us.

Top 5 Book Boyfriends 2012

book-kaleidoscope-2012-button

Post ini termasuk bagian dari Book Kaleidoscope 2012 yang dihost oleh Fanda Classiclit yang sebenarnya sudah dimulai tahun lalu (tapi nggak ada hostnya) dengan post Top 5 Book Crushes… So Far. Kenapa tahun lalu saya namakan Book Crushes dan bukan Book Boyfriends? Karena di list itu ada Severus Snape, yang sejujurnya I don’t want him to be my “boyfriend”, I just had a crush on him. 😀

Nah, untuk tahun 2012 ini saya sudah menyusun (ceilah, emang proposal gitu ya disusun?) 5 karakter fiksi dari buku yang menjadi My Top 5 Book Boyfriends 2012. Kali ini memang pake nama top book boyfriends supaya kompak dengan teman-teman yang lain 😉

#5. Ben dari My Ridiculous, Romantic Obsessions

Ben adalah love interest Sarah, tokoh utama dalam novel YA yang mengklaim diri “bukan novel romantis biasa” ini. Sarah adalah cewek nggak pedean yang susah mempercayai bahwa Ben yang “setampan dewa Yunani” bisa jatuh suka padanya. Sementara Ben, yang digambarkan cakep dan populer, bukan tipe cowok yang sombong dan pilih-pilih teman. Yang paling saya suka dari Ben adalah bahwa dia nggak sesempurna kelihatannya dan nggak gengsian (terutama dalam hal cewek yang dia suka). Kayaknya sih, Nicholas d’Agosto yang main di film From Prada to Nada cocok untuk memerankan Ben. 😀

tumblr_m8twgq0FVK1qcxdq1o1_500

#4. Henry Tilney dari Northanger Abbey

Nggak salah juga kalo novel-novel Jane Austen dibilang chicklit atau metropop abad ke-19, sementara seorang Henry Tilney hampir bisa dibilang cowok metroseksual di abad itu. Eh tapi jangan bayangkan Henry seperti cowok-cowok metroseksual modern, lho! Saya bisa bilang Henry (hampir) metroseksual karena dia paham tentang jenis-jenis kain muslin (kain halus yang sebagai bahan gaun-gaun untuk acara istimewa yang dipakai para cewek di zaman itu.) Tapi bukan itu sih yang paling saya suka dari Henry. Bahwa dia sosok cowok yang ngemong (beberapa cewek suka banget dengan tipe cowok seperti ini) dan dia punya selera humor yang seringkali bikin saya ketawa-ketiwi sendiri membaca adegan percakapannya dengan Catherine di novel ini!

tilney2

JJ Feild as Henry Tilney (with Felicity Jones as Catherine Morland)

“…it is a nice book, and why should not I call it so?”

“Very true,” said Henry, “and this is a very nice day, and we are taking a very nice walk, and you are two very nice young ladies. Oh! It is a very nice word indeed! It does for everything. Originally perhaps it was applied only to express neatness, propriety, delicacy, or refinement—people were nice in their dress, in their sentiments, or their choice. But now every commendation on every subject is compromised in that one word.”

#3. Sydney Carton dari A Tale of Two Cities

Sebenarnya tokoh ini tidak likeable. Tidak sampai akhir buku. Sydney Carton adalah seorang pengacara dengan karakter eksentrik dan cenderung slengean. Secara kebetulan ia memiliki kemiripan fisik dengan Charles Darnay, pria yang dicintai Lucie Manette. Sementara itu Sydney yang juga mencintai Lucie tidak mampu mengekspresikan cintanya dengan cara lain kecuali dengan sebuah pengorbanan (huaaaa….sediiih! T__T). Kedengarannya lebay banget ya, berkorban demi cinta. Tapi Sydney Carton melakukannya.

James Wilby as Sydney Carton

James Wilby as Sydney Carton

“It is a far, far better thing that I do, than I have ever done; it is a far, far better rest that I go to than I have ever known.”

#2. Gerold dari Pope Joan

Akhirnya, seorang oom-oom. #eh. Gerold yang adalah ayah angkat Joan pertama kali bertemu dengan gadis itu saat ia sudah menikah dan punya beberapa orang anak. Namun pernikahan itu tidak didasari dengan cinta, dan setelah sebuah tragedi menewaskan istri dan anak-anak Gerold, beberapa tahun kemudian ia bertemu lagi dengan Joan yang sudah menyamar sebagai seorang pria. Saya suka Gerold karena dia penyabar dan setia mendampingi Joan dalam segala sesuatu yang dialaminya. Dan… saya ngaku deh, fakta kalau yang memerankan Gerold di versi film Pope Joan adalah David Wenham (yang jadi Faramir di seri Lord of the Rings) juga menjadi faktor yang membuat saya memilih Gerold sebagai salah satu dari 5 book boyfriends tahun ini. Hehehe.

pope_joan38

David Wenham as Gerold

“But she had known, better than anyone else, what demons he had faced, had known how hard he had fought to free himself from them. That he had lost the fight in the end made the struggle no less honorable.”

#1. Rudy Steiner dari The Book Thief

Yap, yang menempati posisi pertama book boyfriends tahun 2012 adalah seorang anak kecil (eh, menjelang remaja kok!). Saya menyukai dia dari mata seorang Liesel Meminger lho, so don’t call me a pedophile. XD Saya sendiri juga tidak menyangka saya bisa begitu suka dengan karakter Rudy. Sahabat Liesel ini seorang anak laki-laki berambut sewarna lemon yang dibilang orang-orang “gila” karena dia pernah melumuri seluruh tubuhnya dengan arang dan berlari di lapangan dengan mengaku sebagai Jesse Owens, atlit kulit hitam favoritnya. Apa yang saya suka dari Rudy? He’s so playful and really fun to be with. I would love to have him as a childhood friend. Dan ia adalah sahabat sejati Liesel. Rudy adalah karakter favorit saya dari buku The Book Thief, selain sang bapak teladan Hans Hubermann. Saya nggak nemu foto aktor yang menurut saya pas untuk memerankan Rudy yang iseng, jadi saya pilih ilustrasi karakter yang dicomot dari Tumblr di bawah ini.

tumblr_m8rianDaQv1r3vpe8o2_1280

“The only thing worse than a boy who hates you: a boy that loves you.”

***

So those are my top 5 book boyfriends this year. Boleh dibilang nggak ada di antara mereka yang super duper istimewa, tapi mereka punya ciri khas dan kualitas masing-masing yang membuat saya suka banget sama mereka. Siapa saja top 5 book boy/girlfriends mu?