10 Reasons Why You Should Re-read Harry Potter

Just in time with the Hotter Potter event! Here are the ten reasons why you should re-read Harry Potter:

1. Teaches You about Friendship

Through thick and thin, Harry, Ron, and Hermione remained the best of friends. That is one of my favorite things about Harry Potter. It teaches readers that, no matter how bad things get, they put friendship first. Can you think of a better lesson, or a better reason to re-read Harry Potter?

2. The Characters Are Great Role Models

Harry shows courage, Ron shows Loyalty, and Hermione shows Intelligence. All are qualities a person should strive to display. The characters in Harry Potter all have some quality about them that makes them a great role model.

3. Teaches You about Courage

One of the main themes of Harry Potter is to remain courageous no matter what the odds. That is one of the biggest reasons you should re-read Harry Potter; it will inspire you to stand up for what is right, even in the face of adversity.

4. Lets Your Imagination Run Wild

With spells, creatures, and everything magical, it is easy to let your imagination run wild when re-reading the Harry Potter books. Even if you have already seen the movies, you can imagine the characters and settings the way you want to.

5. You Will Catch The Little Details

When reading the books the first time, you had no idea how everything would tie together in the end, but J.K. Rowling did. She planted little details in each book that connected the ending. Try and look out for them when you are re-reading the book and admire how discreet they were when you first read the books.

6. Teaches You about Love

Ron and Hermione’s relationship is probably my favorite love story. It wasn’t the typical “meet each other and fall in love at first sight” love story. They became friends and had a rocky relationship when it came to their love life. But in the end, they belonged together and that’s all that mattered to them.

7. You Can Read It at Any Age

Sure, Harry Potter started out as a children’s book, but that doesn’t mean that only children can read it. Many of the themes in the books have a darker undertone that is more appropriate for adults, which is another reason to re-read Harry Potter.

8. Hogwarts

What’s not to love about a school that teaches magic! I was genuinely upset when I turned 11 and didn’t get my invitation to Hogwarts. So I live vicariously through the characters of Harry Potter as they experience the moving staircases, floating candles of the Great Hall, and all their magical classes.

9. Dumbledore

Dumbledore was by far my favorite character in the Harry Potter series. Not only is he incredibly wise, he is also quite funny. And as the series moves on, you learn more about his past and get to see into the world of Dumbledore.

10. Magic!

Because what other book has all of these amazing characteristics…and magic! You should re-read Harry Potter, not just for the magic in the book, but because of the magic you feel when you are reading them. Harry Potter is one of the most iconic books of our age, and when you are a part of that, it is just magical.

Why would you re-read Harry Potter? Are these some of the reasons you would re-read Harry Potter? What are your favorite things about Harry Potter?

Written by Kelly Marcus for All Women Stalk (Link to original article)

Advertisements

Therese Raquin – Émile Zola

therese raquin[Review in Bahasa Indonesia and English]

Sebuah novel klasik yang diberi judul nama seorang perempuan – misalnya Jane Eyre, Anne of Green Gables, atau Emma, biasanya mengisahkan perjuangan atau perkembangan karakter yang dialami si tokoh utama dalam hidupnya. Tapi buku ini tidak menceritakan tentang perjuangan ataupun perkembangan karakter seperti yang diceritakan dalam tiga buku diatas.

Therese Raquin yang dilahirkan dari ayah Perancis dan ibu Algeria, sejak masih kecil ditinggalkan oleh ayahnya ke dalam pengasuhan Madame Raquin. Jadilah Therese tumbuh besar bersama sepupu laki-lakinya yang ringkih dan sakit-sakitan, Camille. Karena kondisi fisik yang lemah itulah, Madame Raquin sangat memanjakan anak lelakinya sehingga Camille tumbuh menjadi seorang pemuda yang manja dan egosentris. Saat mereka dewasa, Madame Raquin menikahkan mereka berdua. Demi penghidupan yang lebih baik, keluarga Raquin pindah dari Vernon ke Paris, tepatnya di Selasar du Pont-Neuf yang lembap, gelap, dan kumuh. Kondisi ini sebenarnya membuat sesak Therese, ditambah lagi dengan mempunyai seorang suami yang pucat dan lembek. Namun Therese telah terbiasa bersikap dingin, acuh tak acuh, dan menunjukkan kepatuhan yang pasif.

Keadaan berubah setelah Camille mengundang teman kerjanya, Laurent, ke rumahnya. Bersama-sama dengan Grivet dan Michaud, mereka menghabiskan setiap Kamis malam di rumah keluarga Raquin, makan malam dan main domino. Therese memandang Laurent dengan ketertarikan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya; jika dibandingkan dengan suaminya, Laurent tampak gagah perkasa, dengan otot-otot kekar dan leher tebal. Singkat kata, Laurent kemudian menyambar kesempatan saat ia ditinggal berduaan saja dengan Therese dan perselingkuhan mereka yang kotor dan keji pun dimulai. Hubungan mereka berdua didasarkan oleh nafsu yang membabi buta— dan Therese merasa seakan ia dibangunkan dari tidur panjang setelah berhubungan dengan Laurent, sementara Laurent sendiri mendapat pelampiasan nafsunya secara gratis, karena ia tidak mampu lagi membayar pelacur untuk memuaskannya. Mengapa keji? Karena perselingkuhan itu kemudian mendorong mereka untuk membunuh Camille. Dan setelah pembunuhan itu dilakukan, apakah mereka bisa hidup bersama dengan bahagia? Ataukah justru hantu Camille bangkit dari kubur, dan menempatkan dirinya setiap malam di atas ranjang di antara Therese dan Laurent?

***

Therese Raquin bukanlah sebuah kisah yang gampang dinikmati. Tidak ada satupun dari para karakter yang mendapat simpati dari saya, boleh dikata saya benci dan jijik terhadap mereka semua. Namun, saya tak dapat menyangkal bahwa buku ini ditulis dengan luar biasa bagus. Dalam pendahuluan penulis menjelaskan, bahwa novel ini dituliskan untuk mempelajari watak dan bukannya tokoh. Di mana Laurent adalah seorang sanguinis, Therese seorang melankolis dan Camille seorang phlegmatis. Setelah membacanya saya pun paham bahwa Therese Raquin bukan sekedar novel yang mengumbar adegan tak senonoh, tapi merupakan hasil penelitian sang penulis terhadap sifat-sifat terburuk manusia, sifat-sifat yang (maaf) menyerupai binatang. Kedengaran mengerikan? Ya, memang. Namun suatu saat saya ingin membaca buku ini lagi, siapa tahu saya mendapatkan pemahaman dari segi yang lain yang tidak saya dapatkan ketika selesai membacanya untuk pertama kali. Dan sebenci-bencinya saya dengan para karakter dalam novel ini, saya merasa penulis seakan berkata kepada saya, “ya seperti ini lho manusia.” Dan kemudian perasaan benci dan jijik saya agak dilunturkan oleh rasa iba.

Segala detail yang ada dituliskan supaya pembaca bukan hanya membayangkan, namun benar-benar hidup di Selasar du Pont-Neuf yang gelap dan lembap itu, menyaksikan perselingkuhan menjijikkan Therese dan Laurent, dan bagaimana pembunuhan yang mereka lakukan menghancurkan segala yang mereka miliki sampai tak tersisa. Buku ini bagi saya memberi salah satu bukti bahwa “upah dosa adalah maut”; pembaca dibawa menyaksikan bagaimana dosa yang setitik berakibat dosa yang lebih besar dan pada akhirnya melemparkan mereka pada kehancuran. Tiga bintang untuk drama keji yang ditulis Émile Zola dengan brilian.

Detail buku:

Therese Raquin, oleh Émile Zola
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Julanda Tantani
336 halaman, diterbitkan tahun 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1867)
My rating: ♥ ♥ ♥


 

Review in English:

Therese Raquin—a novel intended by its author to be an observation of temperaments, not characters—is a novel I loathe for its characters and story, and at the same time I love for the author’s brilliant writing. It tells us about a young woman, Therese Raquin, who was raised by her aunt and then by the time she was an adult, her aunt made her married her sickly cousin Camille. The life of the Raquins was once quite normal and peaceful, before Laurent, Camille’s friend from work, came into the picture. Being a farmer’s son, Laurent was muscular and had a thick neck, which Therese couldn’t stop looking at. Shortly, Therese and Laurent engaged in a brutal, filthy, and sickening affair that soon encouraged them to murder Camille so they can be “together”. What happened after the murder was not a bit close to what they wanted. The murder lived on between them, and the dead body of the drowned Camille appeared to them and took his place on the bed between Laurent and Therese. So what’s so special about Emile Zola’s writing? It was so detailed that I felt like I really lived between the Raquins in the Passage du Pont-Neuf and witnessed Therese and Laurent’s dirty deeds. But no matter how bad I hated the characters in this novel, I felt as if the author spoke to me, “this is what human is like.” Then my hate and disgust for the characters was slightly faded by pity. I think that this novel is also proof of “Death is the penalty of sin”. I saw how sin dragged the characters into even bigger sin, and finally to destruction. For this cruel drama that actually has a deep meaning, I gave three stars.


 

20th review for The Classics Club Project | 2nd review for What’s In a Name Reading Challenge 2013 | 1st review for New Authors Reading Challenge 2013 | 1st review for Back to the Classics 2013


 A Note to My Secret Santa:

Buku ini mungkin bukan buku favoritku, tapi aku senang kamu ngasih buku ini karena akhirnya aku bisa “kenalan” dengan Émile Zola, sesuatu yang pengen kulakukan sejak lama. Dan tentu saja buku ini melengkapi koleksi novel klasik Gramedia berstempel mawar merah punyaku! So, thanks to you. #ketjup. Terima kasih juga untuk buku satunya, Letter to My Daughter nya Maya Angelou yang sudah kubaca tapi belum kutulis reviewnya. Menyusul ya! Dan, menebak siapa sebenarnya kamu membuat aku bingung. Yang pertama, resi yang berasal dari Tangerang sepertinya nggak ngasih clue yang membantu. Lalu di dalam riddlemu (riddle dari Santa sudah kuposting di sini) ada beberapa karakter fiksi: Hannibal Lecter (as in, “Hannibal Rising”, tapi beneran deh aku nggak tahu apa artinya itu) lalu Baudelaire bersaudara, Lester McKinley, Harry Potter, Sirius Black, dan Peter Pan. Dari sederetan nama ini aku mengambil nama yang paling asing buatku untuk “diselidiki”, yaitu Lester McKinley. Dan hasil penyelidikanku menyatakan bahwa seorang BBI-er yang suka sama Lester McKinley adalah Santaku, dan dia adalah….

Asriani “Ally” Purnama

Bener nggak sih? Kalo bener, berarti kamu Santaku untuk 2 tahun berturut-turut dong? *koprol sambil bilang WOW* Eniwei, event Secret Santa 2012 seru banget deh, makasih buat duet koordinator Ndari dan Oky. Thumbs up!

Harry Potter and the Sorcerer’s Stone – J.K. Rowling

Siapakah tokoh fiksi terbaik dalam sastra Inggris yang pernah diciptakan?

“Bukankah sudah jelas? Pencipta kami, William Shakespeare, telah menciptakan banyak sekali karakter fiksi sepanjang hidupnya, namun tidak ada yang seterkenal kami. Kisah cinta kami yang tragis tidak ada bandingannya!” sesumbar Romeo, sambil menggandeng Juliet yang tersenyum mendukung di sampingnya.

“Ya, benar, kisah cinta yang terinspirasi dari sumber lain!” sergah seorang pria berpenampilan bangsawan yang kelihatan angkuh. “Jika kau menanyakan kepada kaum perempuan sampai abad ini, siapa karakter fiksi yang ingin mereka nikahi, mereka akan memberikan namaku sebagai jawabannya. Dan jika kau mencari sebuah kisah cinta yang hidup sepanjang masa, masa kisah cintaku dan istrikulah jawabannya!”

“Tapi siapakah anda, Tuan?” tanya Romeo.

“Aku Fitzwilliam Darcy,” jawab si lelaki sambil membusungkan dada. “Dan itu istriku yang cantik, Elizabeth Bennet. Jane Austen-lah yang menciptakan kami.”

“Kisah cinta. Bah!” Yang mengucapkan ini adalah seorang pria yang berada agak jauh dari mereka, tersembunyi di balik asap yang membumbung dari pipa yang sedang diisapnya. Ia mendekat, lalu melanjutkan, “Siapa butuh kisah cinta ketika kau punya kemampuan untuk memecahkan segala kasus, bahkan yang paling misterius dan mustahil sekalipun? Tak diragukan lagi, pasti aku, Sherlock Holmes, adalah karakter fiksi terhebat yang pernah diciptakan. Sejak penciptaku, Sir Arthur Conan Doyle,  memutuskan untuk membunuhku di Reichenbach Fall dan kemudian membangkitkanku kembali, sejak saat itu aku tak pernah mati.”

Saat keempat tokoh fiksi lainnya sedang terpana dengan khotbah singkat Sherlock Holmes mengenai kehebatannya, seorang bocah lelaki, kira-kira berumur sebelas tahun, diam-diam berjalan mendekati mereka. Posturnya agak pendek, kurus, dengan rambut hitam pekat dan sepasang mata hijau. Dan mereka juga menyadari, ada bekas luka berbentuk sambaran kilat di keningnya.

“Siapa kau, bocah?” tanya Sherlock.

“Namaku Harry Potter.”

“Dan sedang apa kau disini?” tanya Mr. Darcy.

“Bergabung dengan kalian,” jawab Harry Potter muda. Ia mungkin masih bocah, tapi ada aura keberanian dan keyakinan yang kuat dalam tatapan mata dan suaranya yang membuat kelima orang itu ingin menyimak apa yang akan dikatakannya selanjutnya.

“Kalian kan tokoh fiksi terbaik yang pernah diciptakan dalam sastra Inggris. Aku salah satunya.”

Para wanita kelihatan kaget, dan para pria mengeluarkan gerutuan tak jelas.

“Tapi, kami tetap tidak tahu siapa kau,” Elizabeth Bennet akhirnya berbicara.

“Aku seorang penyihir, yang lahir dan dibesarkan dalam dunia Muggle. Muggle adalah manusia yang tidak memiliki kekuatan sihir,” jelasnya.

“Wah, mereka selalu membakar penyihir di jaman kami!” seru Elizabeth, agak ketakutan.

“Tidak di masaku,” jawab Harry. “Lagipula, ada penyihir jahat dan penyihir baik, dan aku salah satu yang termasuk penyihir baik.” * (lihat note)

“Ada tujuh buah buku yang memuat kisahku. Di buku pertama, aku baru saja mengetahui bahwa aku ini penyihir ketika aku berulang tahun yang kesebelas. Hagrid, pemegang kunci Sekolah Sihir Hogwarts yang memberitahuku. Hagrid lalu membantuku menyiapkan segala keperluanku sebelum masuk Hogwarts.  Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, aku bebas dari keluarga Dursley, keluarga Muggle yang membesarkanku dengan sangat buruk. Aku juga akhirnya mengetahui bahwa aku ini terkenal. Itu karena aku lolos dari mantra maut yang dilancarkan kepadaku saat aku masih bayi oleh seorang penyihir hitam yang sangat jahat. Penyihir itu, namanya Lord Voldemort—namun kami para penyihir pada umumnya pantang menyebutkan namanya—membunuh ayah dan ibuku, namun ketika ia berusaha membunuhku, ia gagal dan mantra itu berbalik ke dirinya sendiri dan nyaris membinasakannya. Itu kenangan yang buruk dan menyakitkan untuk diingat, namun aku jadi terkenal gara-gara itu.”

“A-ayah dan ibumu dibunuh oleh penyihir jahat itu?” gagap Juliet. “Oh Harry, aku ikut berduka.”

Keempat tokoh lainnya pun mengungkapkan belasungkawa kepada Harry.

“Terima kasih, semuanya,” jawab Harry pelan,” namun ceritaku tidak berhenti sampai disitu. Di sekolahku, di Hogwarts, aku bertemu dua sahabat sejatiku. Yang pertama adalah anak lelaki berambut merah dengan wajah berbintik-bintik, Ron Weasley. Dan Hermione Granger, gadis kelahiran-Muggle yang otaknya lebih brilian daripada penyihir manapun seusianya. Kami mengalami berbagai petualangan, termasuk yang menyangkut Batu Bertuah yang disembunyikan di Hogwarts. Itu adalah Batu yang bisa membuatmu hidup abadi. Ternyata Voldemort yang setengah-hidup mengincar Batu itu supaya ia bisa hidup dan berkuasa kembali, dan ada mata-mata yang ia tempatkan di dalam Hogwarts. Kami bolak-balik bertatap muka dengan bahaya, aku bertemu langsung dengan wujud setengah-hidup Lord Voldemort, nyaris kehilangan nyawaku, namun kami semua berhasil lolos dari maut. Hal ini juga karena kepala sekolahku, penyihir tua yang bijak Albus Dumbledore. Kami belajar banyak kebijaksanaan dari beliau. Ini barulah cerita dalam buku pertama dari ketujuh buku yang menuliskan kisahku.”

Kelima tokoh lainnya terpesona dengan cerita yang dituturkan seorang Harry Potter. Keheningan lalu dipecahkan oleh Sherlock Holmes, yang berkata dengan pongah, “Bah, hanya tujuh buku! Penciptaku menuliskan lebih banyak buku dan cerita pendek tentangku daripada hanya tujuh buku!”

“Ah, diamlah, Mr. Holmes,” sambar Elizabeth, satu-satunya yang menjaga kepala dingin di antara mereka semua. “Kisahmu memang menarik, namun kisah Harry tampaknya tak kalah menariknya. Aku bisa melihat bahwa di dalamnya ada banyak petualangan, misteri, nilai-nilai persahabatan dan kebijaksanaan. Bahkan mungkin cinta, di buku-buku selanjutnya, saat dia sudah lebih besar.”

“Terima kasih, Madam,” jawab Harry. “Aku yakin apa yang kau ucapkan benar. Semua hal besar punya awal, dan yang baru kusampaikan hanyalah rangkuman dari kisahku dalam buku pertama. Kisahku dalam buku-buku selanjutnya akan semakin kompleks, semakin menarik, sekaligus makin misterius dan menantang. Dan terus menjadi lebih baik dengan setiap buku yang ada. Dan kalian perlu tahu juga, penciptaku, Madam J.K. Rowling, menjadi bilyuner karena menulis kisahku. Walau setelah itu, ia kehilangan status bilyunernya karena menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk amal.”

Romeo, Juliet, dan Elizabeth tak mampu menyembunyikan kekaguman mereka. Sedangkan Mr. Darcy dan Sherlock tetap memasang tampang angkuh dan pongah, namun di dalam hati mereka diam-diam mengakui bahwa bocah ini, kisahnya berpotensi untuk tetap hidup melampaui abad, sama seperti kisah mereka sendiri.

Note:

* Ini saya tulis hanya untuk mendukung keseluruhan cerita Harry Potter dan keperluan untuk menulis post ini. Saya pribadi berkeyakinan bahwa ilmu sihir, apapun warnanya, adalah jahat. But the main theme of Harry Potter isn’t (literally) magic, don’t you agree?

** Ditulis dengan rasa hormat kepada William Shakespeare, Jane Austen, Sir Arthur Conan Doyle, dan tentu saja J.K. Rowling.

***

Perkenalan pertama saya dengan Harry Potter sebenarnya bukan dari buku pertama, tapi buku keduanya dulu, Harry Potter and the Chamber of Secrets. Waktu itu tertarik sama gambar covernya sih (thumbs up for Mary Grand Pré!), dan saya juga membacanya agak terlambat, sekitar tahun 2000 atau 2001. Saya kira banyak orang yang seperti saya, jatuh cinta kepada buku atau kembali menemukan cinta kepada buku setelah membaca Harry Potter. Kalau saya pribadi, sebenarnya dari kecil sudah suka membaca, tapi karena stok bacaan terbatas akhirnya masa kecil hanya saya habiskan dengan Bobo, Donal Bebek, Tini, Tintin, dan Asterix. Lalu ketika mulai beranjak remaja saya mulai baca novel (kebanyakan teenlit yang setipe Princess Diaries-nya Meg Cabot) baru kemudian Harry Potter. Ada beberapa teman saya yang bahkan bilang bahwa mereka sebenarnya tidak suka baca novel, dengan perkecualian Harry Potter. Karena yang satu ini membuat mereka ketagihan, dan nggak bisa berhenti membacanya sampai tiba di akhir. Walaupun makin lama buku Harry Potter makin tebal, tetap dibeli dan dilahap saja karena udah terlanjur suka (saya juga seperti itu sih, dan makin parah di buku-buku terakhir, hahaha :D).

All great things have beginnings, so did Harry Potter. This is the beginning of the great story of Harry Potter. This was my “Hello, Harry.” How is your “Hello, Harry”?

HP1

Detail buku:

Harry Potter dan Batu Bertuah (judul asli: Harry Potter and the Philosopher’s Stone / Sorcerer’s Stone), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
384 halaman, diterbitkan September 2000 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1997)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Review ini juga diikutsertakan dalam What’s in a Name Reading Challenge 2013 (buku #1)

 hotter potter logo-1

Akhirnya! Review pertama dari seluruh rangkaian event Hotter Potter. Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. (Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan tanggal 31 Januari 2013 pukul 23.59 WIB.



New Authors Reading Challenge 2013

finding new authors button

Challenge lagi!!! Ehehe. Sekali lagi, untuk menyusun daftar bacaan untuk challenge yang ini sebenarnya saya cuma copy-paste dari daftar bacaan untuk beberapa challenge yang lain. Karena tujuan mengikuti challenge yang dihost oleh Ren ini adalah: … “menemukan pengarang yang bukunya belum pernah kamu baca sama sekali. Jadi challenge ini bisa membuat kamu menemukan buku – buku baru yang mungkin sebelumnya kamu abaikan atau ingin baca tapi ga kesampaian terus. Selain itu, pas juga dong buat mengurangi buku di timbunan ;).“ Jadi saya hanya perlu mencari buku-buku mana saja yang adalah karya dari pengarang yang sama sekali baru bagi saya. Saya mengambil level Middle (12-20 buku), dengan daftar bacaan sebagai berikut:

  1. A. A. Milne: Winnie-the-Pooh
  2. Antal Szerb: Journey by Moonlight
  3. Brian Selznick: The Invention of Hugo Cabret –> READ
  4. Carlos Ruiz Zafon: The Shadow of the Wind –> READ
  5. Diana Wynne Jones: Howl’s Moving Castle
  6. E. B. White: Charlotte’s Web –> READ
  7. Emile Zola: Therese Raquin –> READ
  8. F. Scott Fitzgerald: The Great Gatsby –> READ
  9. Harriet Beecher Stowe: Uncle Tom’s Cabin
  10. Irving Stone: Lust for Life –> READ
  11. Jacqueline Kelly: The Evolution of Calpurnia Tate
  12. Johann David Wyss: Swiss Family Robinson
  13. John Bunyan: The Pilgrim’s Progress
  14. Jules Verne: Around the World in Eighty Days
  15. Kathryn Stockett: The Help
  16. Ken Kesey: One Flew Over the Cuckoo’s Nest
  17. Lew Wallace: Ben-Hur: A Tale of Christ
  18. Marjorie Kinnan Rawlings: The Yearling –> READ
  19. Mark Twain: The Adventures of Tom Sawyer –> READ
  20. Ray Bradbury: Fahrenheit 451 –> READ
  21. Sophocles: Oedipus Rex –> READ
  22. William Pène du Bois: The Twenty-One Baloons
  23. Maggie Tiojakin: Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa –> READ
  24. Shannon Hale: Austenland –> READ
  25. Roald Dahl: Matilda –> READ
  26. Karen Levine: Hana’s Suitcase –> READ
  27. Shel Silverstein: The Giving Tree –> READ

Kalau kamu ingin ikutan challenge ini juga, simak syarat dan ketentuan mengikutinya di sini.

Our Town – Thornton Wilder

ourtown

Oh, earth, you’re too wonderful for anybody to realize you. Do any human beings ever realize life while they live it? – every, every minute?

*

The play I chose for LRP event this month presents the events of everyday life in a way that underscores their value and their importance. We tend to hurry up with our lives: get this and that done, and suddenly day after day passes with little meaning or none at all. Hardly ever we take time to enjoy life as it is; to cherish every moment no matter how small that moment is, moments with those we love. Therefore the playwright Thornton Wilder wrote Our Town to remind us to be aware with the smallest events of our lives. He knew that those events, little and often ignored they are, sometimes have a meaning that surpass the “big” events. He knew that those are the things we would miss having.

The story of Our Town narrates the story of two families living in a small town, Grover’s Corners, New Hampshire. There is Dr. Frank Gibbs, the town doctor, with his wife Julia and two children: George and Rebecca. Then there is the newspaper editor Mr. Charles Webb, with his wife Myrtle and two children: Wally and Emily. We will learn a lot about Grover’s Corners and how everyday life in the year 1901 was lead there in the first act. George and Emily were both sixteen in the first act. Emily, who was the brightest girl in her class, was helping George to do his math homework while Julia Gibbs talked to her husband about getting a vacation abroad. She was about to receive a considerable amount of money and she said, It seems to me that once in your life before you die you ought to see a country where they don’t talk in English and don’t even want to.” Sadly, she never got the vacation she wanted.

Here we move on to the second act. The time was July 7, 1904. The day was George and Emily’s wedding day. Yes, they got closer to each other; we saw a hint of it on the first act. We will see a little bit of flashback on the second act; when George was about to leave for college, Emily showed her worries about him and after a heart-to-heart conversation they confessed that they were in love with each other. Some wedding jitters, some nervousness, some reminiscence of Frank and Julia’s wedding day years before, and then George and Emily were married.

The third and last act is the critical part of the play. The time was 1913 and the scene was the burial of Emily, who died of childbirth. When the living was mourning, the dead took seats on a part of the stage: Julia Gibbs has been dead for some years now, along with a supporting character, Mr. Stimson who was a choir director of the town’s church and a drunk. The dead conversed about how little the living notice each other and the happiness they feel in the company of loved ones. Their eyes were open while the eyes of the living were shut. Living people are blind.

“That’s what it was to be alive. To move about in a cloud of ignorance; to go up and down trampling on the feelings of those . . . of those about you. To spend and waste time as though you had a million years. To be always at the mercy of one self-centered passion, or another. Now you know – that’s the happy existence you wanted to go back to. Ignorance and blindness.” (Mr. Stimson, Act III, p.109)

“We all know that something is eternal. And it ain’t houses and it ain’t names, and it ain’t earth, and it ain’t even the stars . . . everybody knows in their bones that something is eternal, and that something has to do with human beings. All the grandest people ever lived have been telling us that for five thousand years and yet you’d be surprised how people are always losing hold of it. There’s something way down deep that’s eternal about every human being.” (Stage Manager, Act III, p.87-88)

*

So that was it. Act I tells about Daily Life. Act II about Love and Marriage. And Act III about Death. All three happens to every living human being, except marriage. I was surprised when I finished reading this play. I mean, I  love The Bridge of San Luis Rey, which was a Pulitzer-winning novel from the author. So I shouldn’t be surprised if I happen to like this play, but again Mr. Wilder got me thinking and contemplating on my own life after reading his work. I’d like to say, “Mr. Wilder, you did it again!” I am really in love with the works of an author who won three Pulitzer Prizes in his life; for The Bridge of San Luis Rey (1927, fiction), Our Town (1938, play/drama), and The Skin of Our Teeth (1942, play/drama). I’m so glad that this play is the very first book I read in 2013 and I will be reading The Skin of Our Teeth for LRP event next July.

Our Town was short, simple, familiar. But it moves me in a way that I know I should read this play over and over again. When life gets too hectic and I need to “stop” for a while. I don’t want to be blind; I want to see the beauty of things, the beauty of every moment. That way I can give thanks to the Lord every minute of every day.

3rd review for Let’s Read Plays event| 19th review for The Classics Club Project| 1st review for Books in English Reading Challenge 2013

#bacabareng BBI bulan Januari 2013 tema pemenang Pulitzer

Book details:

Our Town, by Thornton Wilder
103 pages e-book (first published 1938)
My rating : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Adaptation Review: Les Misérables (2012)

les-miserables-poster

Sebenarnya kurang tepat kalau disebut review juga sih. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan kesan-kesan setelah menonton film Les Misérables. (Mungkin) banyak diantara pembaca yang tahu bahwa Les Misérables adalah salah satu buku favorit saya, dan sejak saya pertama tahu akan ada film musikalnya, saya excited banget. Apalagi dari awal sudah beredar nama beken Hugh Jackman dan Anne Hathaway. Jadwal rilis Les Mis di Hollywood tepat pada hari Natal, 25 Desember 2012. Namun apa boleh dikata, Les Mis baru tayang di Indonesia hari Rabu, 16 Januari 2013. Dan kemarin, 17 Januari 2013, setelah penantian berbulan-bulan, akhirnya saya bisa menonton film ini. Yeay! Dalam tulisan ini, saya akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyebarkan spoiler. Hehehe.

Saya sedikit ngetes si mbak kasir bioskop pada saat membeli tiket nonton. “Le misserab”, kata saya. Si mbak memandang saya dengan aneh, dan saya pun mengulangi, “Le misserab.”
“Les-mi-se-ra-bles?” tanya si mbak. Dengan senyum iseng saya menjawab, “Iya. Yang itu.” Hehehe, bukannya saya menyalahkan dia karena nggak tahu cara mengucapkan Les Misérables dengan benar. Banyak orang juga sama dengan si mbak (kecuali yang belajar bahasa Prancis), dan saya sendiri juga baru tahu bagaimana pengucapan Les Misérables yang benar setelah nonton video di YouTube.

Nah, mari lanjut. Saya agak malas menulis ulang sinopsis Les Mis, jadi baca yang di bawah ini saja yah.

Perancis abad ke-19, saat Jean Valjean (Hugh Jackman) dibebaskan dari penjara setelah 19 tahun mendekam karena mencuri sepotong roti, pembebasan bersyarat untuk menciptakan kehidupan baru untuk dirinya sendiri, ia harus menghindari Inspektur kejam Javert (Russell Crowe), yang telah ditunjuk untuk membawanya ke keadilan.
Delapan tahun berlalu, Valjean menggunakan identitas baru dan hidup membujang sebagai pemilik pabrik yang kaya serta sebagai Walikota Montreuil-sur-Mer. Fantine, salah satu wanita yang bekerja di pabriknya, adalah seorang ibu tunggal yang mengirimkan semua uang kepada orang-orang yang merawat putrinya kecil, Cosette. Ketika para pekerja mengetahui bahwa ia memiliki anak diluar nikah, mereka menuntut pengusiran Fantine.
Di jalanan, Fantine terjerumus dalam prostitusi untuk membiayai Cosette. Ia ditangkap namun Valjean menolongnya dan dan membawanya ke rumah sakit namun jiwa Fantine tak tertolong. Valjean berjanji untuk menemukan Cosette dan merawatnya, dimana semua itu mengubah hidup mereka selamanya.

Sinopsis diambil dari sini.

Dan sekarang kesan-kesan saya. Kalau ditanya bagus enggak, saya pasti menjawab bagus. Tapi banyak “tapi”nya. Yang pertama dan melingkupi keseluruhan film adalah karena saya sudah membaca bukunya dan menonton konsernya (saya menonton 25th Anniversary Concert Les Mis), I found no surprise in it at all. Sinematografi dan setting bagus, namun rasanya pergantian scene “dikebut”, terutama di awal-awal film. Ini bisa dimaklumi sih, sudah “dikebut” aja jadinya masih dua setengah jam, lha kalau nggak dikebut gimana? Sayangnya, karena “dikebut” ini penonton jadi tidak diberi banyak waktu untuk menikmati sinematografi dan setting. Make-up keren. Lihat saja bagaimana Hugh Jackman menjelma jadi tahanan 24601 dengan penampilan kasar dan jelek.

les-miserables-screenshot-6

Kemudian, para aktor. Mari kita list dulu siapa saja cast-nya: Hugh Jackman (Jean Valjean), Anne Hathaway (Fantine), Russell Crowe (Javert), Amanda Seyfriend (Cosette), Eddie Redmayne (Marius), Samantha Barks (Eponine), Helena Bonham Carter dan Sacha Baron Cohen (M. & Mme Thenardier). Semua bermain bagus, namun ada beberapa karakter yang lebih menonjol dari yang lainnya. Peran kecil yang mencuri perhatian adalah si bocah Gavroche. Akan tetapi kalau menilik cast dari segi kualitas suara, jelas menang cast di konser. Di konser suaranya lebih halus semua. Tapi semua adegan/nyanyian di Les Misérables direkam secara langsung saat syuting lho, bukan direkam di studio. Hebat yah? Eh sebentar, yang memerankan Father Myriel itu bukannya yang jadi Jean Valjean di musikal Les Mis tahun 1985 ya? Ternyata beneran itu Opa Colm Wilkinson, pemilik suara yang bisa bikin pendengarnya ”meleleh” (dalam air mata maksudnya).

Les Miserables cast and crew

Les Miserables cast and crew

Yang paling membuat saya WOW dari film Les Mis adalah Anne Hathaway yang memerankan Fantine. Di scene “I Dreamed a Dream” dia menyanyi sekaligus berakting amat sangat menderita. Ekspresinya itu lho, as though it was real! Damn, she was amazing. Layak banget sih Anne dapat Golden Globe, semoga dia dapat Oscar juga! Favorit saya yang kedua adalah Samantha Barks yang jadi Eponine. Tepat deh keputusan buat ngecast Samantha Barks yang jadi Eponine di 25th Anniversary Concert Les Mis. Wahai galau-ers, “On My Own” itu lagu galau yang amat sangat bagus lho. Just saying. 😀 Sedikit salah fokus, itu pinggang si Samantha kecil banget yak?

Minus-nya Les Mis, yang pertama saya temukan dalam tokoh Javert. Tadinya saya sempat menyangsikan kemampuan Russell Crowe dalam bernyanyi, tapi ternyata he wasn’t so bad at singing. Tapi, rasanya kok aktingnya datar-datar aja ya? Javert versi Russell Crowe nggak berhasil membuat saya “takut” sama dia seperti Jean Valjean takut sama dia. Saya lebih “takut” sama Javert versi Geoffrey Rush (Les Misérables 1998) yang punya wajah runcing dan tatapan mata sinis. Dulu waktu belum ketahuan siapa yang akan memerankan Javert, saya berandai-andai mungkin nggak yah Geoffrey Rush yang akan memerankannya lagi? Karena Tom Hooper dan Geoffrey sebelumnya sudah pernah kerjasama di The King’s Speech kan? Well, definitely Russell Crowe is not my Javert.

Javert: Russell Crowe vs. Geoffrey Rush

Javert: Russell Crowe vs. Geoffrey Rush

Dan yang kedua, sayangnya dalam film ini adegan yang benar-benar menguras emosi bisa dihitung jari. Yang pertama, scene ”I Dreamed a Dream” nya Fantine. Lalu ”On My Own” nya Eponine. Dan yang terakhir scene Finale. Di luar ketiga scene itu, kok rasanya agak flat dan hambar. Chemistry Jean Valjean-Javert sebagai musuh bebuyutan kurang dapet, demikian juga chemistry antara sepasang kekasih Cosette dan Marius.

Di bioskop tempat saya menonton Les Mis, studionya hanya terisi ¼ dari keseluruhan kursi yang ada. Sepertinya Les Mis ini bukan tipe film yang banyak penggemarnya ya. Sedikit warning, film ini hampir full berisi nyanyian. Kalaupun ada dialog yang ngomong itu hanya sepotong-sepotong saja. Warning lagi, siapkan tissue sebelum nonton. Film ini wajib tonton kalau kamu suka Les Mis (buku atau konsernya, atau keduanya), suka period drama, atau suka film musikal. Saya sendiri pasti akan membeli DVDnya supaya saya bisa nonton sekaligus sing-a-long keras-keras dirumah, hahaha! (Saat nonton di bioskop pun saya sudah ikut nyanyi, tapi nggak bisa keras-keras kan nanti di-hush penonton yang lain). 😛

Kalau pengen lihat-lihat screenshots, klik link ini.

Average rating on IMDb: 8.1 out of 10 Les Misérables (2012) on IMDb
My rating: 8 out of 10

Awards: Won 2013 Golden Globes for Best Motion Picture – Musical or Comedy, Best Performance by an Actor in a Motion Picture – Musical or Comedy (Hugh Jackman), Best Performance by an Actress in a Supporting Role in a Motion Picture (Anne Hathaway). Nominated on 2013 Academy Awards for Best Achievement in Costume Design, Best Achievement in Makeup and Hairstyling, Best Achievement in Music Written for Motion Pictures (Original Song), Best Achievement in Production Design, Best Achievement in Sound Mixing, Best Motion Picture of the Year, Best Performance by an Actor in a Leading Role (Hugh Jackman), and Best Performance by an Actress in a Supporting Role (Anne Hathaway).

Details:

“Les Misérables”, released December 2012.
Adapted by Tom Hooper from the novel by Victor Hugo and the Les Misérables musical by Claude-Michel Schönberg and Alain Boublil.
Starring Hugh Jackman, Anne Hathaway, Russell Crowe, Sacha Baron Cohen, Helena Bonham Carter, Amanda Seyfried, Eddie Redmayne, Samantha Barks, Aaron Tveit, Daniel Huttlestone, Colm Wilkinson.
Runtime 157 min.

Hotter Potter & Fantasy Reading Challenge: Announcement

Sampai hari ini, jumlah blogger yang sudah mendaftar untuk event Hotter Potter sejumlah 70 orang! Woohoo! Nah, berbarengan dengan event Hotter Potter ini, dua rekan sesama BBI-ers, Maria dan Ally mengadakan Fantasy Reading Challenge dengan goal membaca dan membuat review bacaan fantasi minimal 12 (dua belas) buku selama setahun, dengan kata lain peserta hanya perlu membaca dan mereview 1 (satu) buku fantasi per bulannya. Lebih serunya lagi, kamu boleh  mengikuti event Fantasy Reading Challenge sekaligus event Hotter Potter! Artinya, dari 12 buku yang disyaratkan untuk mengikuti Fantasy Reading Challenge, 7 buku pertama bisa diisi oleh ketujuh buku Harry Potter.

Untuk Monthly Meme & Giveaway Hotter Potter terakhir yaitu di bulan Juli 2013, hadiahnya akan disponsori oleh Maria & Ally selaku host Fantasy Reading Challenge. Semua peserta Hotter Potter boleh mengikuti monthly meme & giveaway di bulan Juli, namun mereka yang mengikuti event Hotter Potter dan Fantasy Reading Challenge berkesempatan memenangkan hadiah tambahan dari Maria & Ally. Jadi, tunggu apa lagi, daftarkan keikutsertaan kamu di Fantasy Reading Challenge paling lambat tanggal 25 Januari 2013.

FantasyReadingChallengeButton

Untuk keterangan lengkap mengenai Fantasy Reading Challenge yang dihost oleh Maria & Ally, silakan klik LINK INI.

Dan jangan lupa, hari terakhir untuk mendaftar di event Hotter Potter untuk dapat kesempatan mengikuti berbagai giveaway dalam rangka event ini adalah BESOK, 15 Januari 2013. Silakan cek link Master Post & Sign Up Post di bawah button Hotter Potter di sidebar kanan untuk keterangan lengkap dan cara mendaftar.

What’s In a Name Reading Challenge 2013

Challenge ini diadopsi oleh Ren’s Little Corner dari Name in a Book Reading Challenge 2012 yang dulu dihost oleh Fanda’s Bookshelf. Syarat-syarat mengikutinya hampir sama sih dengan tahun lalu, dengan sedikit penambahan. Ada 4 level yang bisa dipilih oleh peserta reading challenge ini:

Level 1 : That’s not My Name  (Baca 5 buku dengan nama tokoh di judulnya )

Level 2 : What’s in a Name  (Baca 10 buku dengan nama tokoh di judulnya)

Level 3 : You Know My Name (Baca  15 buku dengan nama tokoh di judulnya)

Level 4 : Crazy About Name (Baca 20 buku atau lebih dengan nama tokoh di judulnya)

Nah, karena plan membaca saya tahun ini memang banyak buku-buku dengan nama tokoh di judulnya, maka nggak pake pikir panjang saya langsung daftar dong. 😀 Saya pilih Level 4 : Crazy About Name. Di bawah ini adalah daftar buku yang akan saya baca untuk reading challenge ini. Sebenarnya daftar ini Cuma copy-paste dari challenge-challenge lain yang sudah saya ikuti, jadi semua buku di bawah ini overlapping dengan challenge lain. Oh, kecuali Therese Raquin yang adalah buku dari Secret Santa. Hehehe.

  1. Harry Potter and the Sorcerer’s Stone by J.K. Rowling (#HotterPotter) –> READ
  2. Harry Potter and the Chamber of Secrets by J.K. Rowling (#HotterPotter) –> READ
  3. Harry Potter and the Prisoner of Azkaban by J.K. Rowling (#HotterPotter)–> READ
  4. Harry Potter and the Goblet of Fire by J.K. Rowling (#HotterPotter)–> READ
  5. Harry Potter and the Order of the Phoenix by J.K. Rowling (#HotterPotter) –> READ
  6. Harry Potter and the Half-Blood Prince by J.K. Rowling (#HotterPotter) –> READ
  7. Harry Potter and the Deathly Hallows by J.K. Rowling (#HotterPotter) –> READ
  8. The Adventures of Tom Sawyer by Mark Twain (Children’s Lit) –> READ
  9. The Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain (Children’s Lit)
  10. Therese Raquin by Emile Zola (buku dari Secret Santa) –> READ
  11. Ben-Hur: A Tale of Christ by Lew Wallace (TBR Pile Challenge)
  12. Uncle Tom’s Cabin by Harriet Beecher Stowe (Back to the Classics)
  13. The Death of Ivan Ilyich by Leo Tolstoy (Back to the Classics)
  14. Romeo & Juliet by William Shakespeare (Let’s Read Plays)
  15. Jody dan Anak Rusa (The Yearling) by Marjorie Kinnan Rawlings (Children’s Lit) –> READ
  16. The Invention of Hugo Cabret by Brian Selznick (Children’s Lit) –> READ
  17. The Penderwicks on Gardam Street by Jeanne Birdsall (Children’s Lit)
  18. The Penderwicks at Point Mouette by Jeanne Birdsall (Children’s Lit)
  19. The Evolution of Calpurnia Tate by Jacqueline Kelly (Children’s Lit)
  20. Matilda by Roald Dahl (Children’s Lit) –> READ

Makasih buat Ren yang sudah ngehost reading challenge ini! Kalau kamu mau ikutan juga, simak detail lengkapnya di POST INI ya. 🙂

Twelfth Night Brought Into Screen: LRP January meme

The theme of January meme for LRP event hosted by Listra from Half-Filled Attic is Stage/Film Adaptation. Honestly, I prefer films than stage performance. Therefore I am writing about 2 film adaptations (modern versus period drama) of the play I read last month, Twelfth Night (Or What You Will), by William Shakespeare. I have written a review of the play here.

Like I said on the review, my first acquaintance with this play was actually with a teen romantic comedy titled “She’s The Man” (2006), directed by Andy Fickman. Amanda Bynes was Viola and Channing Tatum was Duke Orsino (yes, THAT Channing Tatum :D). “Duke” in this adaptation is the first name of Orsino. Viola was a tomboyish, high-spirited high school student who likes to play soccer. But then female soccer in her school got challenged by the coach. So female soccer no more.

shesthemanposter

Viola (pretending to be Sebastian) and Olivia

Viola (pretending to be Sebastian) and Olivia

Viola and Duke at soccer field

Viola and Duke at soccer field

Her twin brother, Sebastian, was enrolled in a school called Illyria but he prefers to perform with his band in London. Seeing the chance that her brother would be away for some time, and he would not show up at Illyria; Viola took this chance to disguise herself as her brother to achieve one goal: enter the well-reputed soccer team of Illyria. We’ll see her efforts to pretend to be a young man and to make it in the team in a whole lot of funny scenes. There was also Olivia, who was the school’s prettiest girl. When Viola (as Sebastian) tried to get her to like Duke, Olivia liked Sebastian instead. This movie is, pretty much, Twelfth Night plus modern day high school plus teenagers plus soccer. Amanda Bynes did a good job in bringing comedy to this film. (I like her better than Lindsay Lohan, just so you know.) 😀

She’s The Man trailer:

And now the other adaptation I watched just after I finished reading the play. This version directed by Trevor Nunn titled “Twelfth Night” (1996) is quite faithful to the original play, but using the set of late 19th century in Cornwall. The plot was altered a bit at the beginning—they made Messaline and Illyria at war.

twelfth_night1996poster

left to right: Olivia (Helena Bonham Carter), Sebastian (Steven Mackintosh), Viola/Cesario (Imogen Stubbs), and Orsino (Toby Stephens)

left to right: Olivia (Helena Bonham Carter), Sebastian (Steven Mackintosh), Viola/Cesario (Imogen Stubbs), and Orsino (Toby Stephens)

Feste!!! (Ben Kingsley)

Feste!!! (Ben Kingsley)

Love the set: Lanhydrock House in Cornwall

Love the set: Lanhydrock House in Cornwall

The main attraction of this adaptation is the parade of wonderful cast. Imogen Stubbs played Viola (she resembled Steven Mackintosh who played Sebastian only when dressed as a man). Helena Bonham Carter was Olivia, and the handsome Toby Stephens as Orsino. Not forgetting the very pleasing Ben Kingsley as Feste the Fool (he’s my favorite!). And Imelda Staunton brought Maria’s wits into life. I’ve said it, haven’t I? It was a wonderful cast. Their performance made this 2 hours 14 minutes movie really enjoyable, as well as really, really funny (hey, it’s a comedy after all!). And it has wonderful music! I just love hearing Feste singing. But, the last scene when the two couples kissed and Viola held out her hand to her brother’s, that’s just…awkward. (Sorry for the spoiler!)  But overall, this adaptation is really worth watching.

Twelfth Night trailer:

And this is one song from Twelfth Night sung by Feste (Ben Kingsley), The Wind and the Rain. This is also the final scene of the film, so beware of spoilers!

So, which one do I like the most? Of course Trevor Nunn’s Twelfth Night. But She’s The Man wasn’t a bad modern adaptation of it as well, I think. Both adaptations are funny in their own styles; just pick one which is closest to your taste and mood.

Well, then. One more proof that Shakespeare lives beyond centuries.


She’s The Man IMDb link: She's the Man (2006) on IMDb
Twelfth Night IMDb link: Twelfth Night or What You Will (1996) on IMDb
//