Home » Book Reviews » 4 star review » Harry Potter and the Sorcerer’s Stone – J.K. Rowling

Harry Potter and the Sorcerer’s Stone – J.K. Rowling

Siapakah tokoh fiksi terbaik dalam sastra Inggris yang pernah diciptakan?

“Bukankah sudah jelas? Pencipta kami, William Shakespeare, telah menciptakan banyak sekali karakter fiksi sepanjang hidupnya, namun tidak ada yang seterkenal kami. Kisah cinta kami yang tragis tidak ada bandingannya!” sesumbar Romeo, sambil menggandeng Juliet yang tersenyum mendukung di sampingnya.

“Ya, benar, kisah cinta yang terinspirasi dari sumber lain!” sergah seorang pria berpenampilan bangsawan yang kelihatan angkuh. “Jika kau menanyakan kepada kaum perempuan sampai abad ini, siapa karakter fiksi yang ingin mereka nikahi, mereka akan memberikan namaku sebagai jawabannya. Dan jika kau mencari sebuah kisah cinta yang hidup sepanjang masa, masa kisah cintaku dan istrikulah jawabannya!”

“Tapi siapakah anda, Tuan?” tanya Romeo.

“Aku Fitzwilliam Darcy,” jawab si lelaki sambil membusungkan dada. “Dan itu istriku yang cantik, Elizabeth Bennet. Jane Austen-lah yang menciptakan kami.”

“Kisah cinta. Bah!” Yang mengucapkan ini adalah seorang pria yang berada agak jauh dari mereka, tersembunyi di balik asap yang membumbung dari pipa yang sedang diisapnya. Ia mendekat, lalu melanjutkan, “Siapa butuh kisah cinta ketika kau punya kemampuan untuk memecahkan segala kasus, bahkan yang paling misterius dan mustahil sekalipun? Tak diragukan lagi, pasti aku, Sherlock Holmes, adalah karakter fiksi terhebat yang pernah diciptakan. Sejak penciptaku, Sir Arthur Conan Doyle,  memutuskan untuk membunuhku di Reichenbach Fall dan kemudian membangkitkanku kembali, sejak saat itu aku tak pernah mati.”

Saat keempat tokoh fiksi lainnya sedang terpana dengan khotbah singkat Sherlock Holmes mengenai kehebatannya, seorang bocah lelaki, kira-kira berumur sebelas tahun, diam-diam berjalan mendekati mereka. Posturnya agak pendek, kurus, dengan rambut hitam pekat dan sepasang mata hijau. Dan mereka juga menyadari, ada bekas luka berbentuk sambaran kilat di keningnya.

“Siapa kau, bocah?” tanya Sherlock.

“Namaku Harry Potter.”

“Dan sedang apa kau disini?” tanya Mr. Darcy.

“Bergabung dengan kalian,” jawab Harry Potter muda. Ia mungkin masih bocah, tapi ada aura keberanian dan keyakinan yang kuat dalam tatapan mata dan suaranya yang membuat kelima orang itu ingin menyimak apa yang akan dikatakannya selanjutnya.

“Kalian kan tokoh fiksi terbaik yang pernah diciptakan dalam sastra Inggris. Aku salah satunya.”

Para wanita kelihatan kaget, dan para pria mengeluarkan gerutuan tak jelas.

“Tapi, kami tetap tidak tahu siapa kau,” Elizabeth Bennet akhirnya berbicara.

“Aku seorang penyihir, yang lahir dan dibesarkan dalam dunia Muggle. Muggle adalah manusia yang tidak memiliki kekuatan sihir,” jelasnya.

“Wah, mereka selalu membakar penyihir di jaman kami!” seru Elizabeth, agak ketakutan.

“Tidak di masaku,” jawab Harry. “Lagipula, ada penyihir jahat dan penyihir baik, dan aku salah satu yang termasuk penyihir baik.” * (lihat note)

“Ada tujuh buah buku yang memuat kisahku. Di buku pertama, aku baru saja mengetahui bahwa aku ini penyihir ketika aku berulang tahun yang kesebelas. Hagrid, pemegang kunci Sekolah Sihir Hogwarts yang memberitahuku. Hagrid lalu membantuku menyiapkan segala keperluanku sebelum masuk Hogwarts.  Untuk pertama kalinya sepanjang hidupku, aku bebas dari keluarga Dursley, keluarga Muggle yang membesarkanku dengan sangat buruk. Aku juga akhirnya mengetahui bahwa aku ini terkenal. Itu karena aku lolos dari mantra maut yang dilancarkan kepadaku saat aku masih bayi oleh seorang penyihir hitam yang sangat jahat. Penyihir itu, namanya Lord Voldemort—namun kami para penyihir pada umumnya pantang menyebutkan namanya—membunuh ayah dan ibuku, namun ketika ia berusaha membunuhku, ia gagal dan mantra itu berbalik ke dirinya sendiri dan nyaris membinasakannya. Itu kenangan yang buruk dan menyakitkan untuk diingat, namun aku jadi terkenal gara-gara itu.”

“A-ayah dan ibumu dibunuh oleh penyihir jahat itu?” gagap Juliet. “Oh Harry, aku ikut berduka.”

Keempat tokoh lainnya pun mengungkapkan belasungkawa kepada Harry.

“Terima kasih, semuanya,” jawab Harry pelan,” namun ceritaku tidak berhenti sampai disitu. Di sekolahku, di Hogwarts, aku bertemu dua sahabat sejatiku. Yang pertama adalah anak lelaki berambut merah dengan wajah berbintik-bintik, Ron Weasley. Dan Hermione Granger, gadis kelahiran-Muggle yang otaknya lebih brilian daripada penyihir manapun seusianya. Kami mengalami berbagai petualangan, termasuk yang menyangkut Batu Bertuah yang disembunyikan di Hogwarts. Itu adalah Batu yang bisa membuatmu hidup abadi. Ternyata Voldemort yang setengah-hidup mengincar Batu itu supaya ia bisa hidup dan berkuasa kembali, dan ada mata-mata yang ia tempatkan di dalam Hogwarts. Kami bolak-balik bertatap muka dengan bahaya, aku bertemu langsung dengan wujud setengah-hidup Lord Voldemort, nyaris kehilangan nyawaku, namun kami semua berhasil lolos dari maut. Hal ini juga karena kepala sekolahku, penyihir tua yang bijak Albus Dumbledore. Kami belajar banyak kebijaksanaan dari beliau. Ini barulah cerita dalam buku pertama dari ketujuh buku yang menuliskan kisahku.”

Kelima tokoh lainnya terpesona dengan cerita yang dituturkan seorang Harry Potter. Keheningan lalu dipecahkan oleh Sherlock Holmes, yang berkata dengan pongah, “Bah, hanya tujuh buku! Penciptaku menuliskan lebih banyak buku dan cerita pendek tentangku daripada hanya tujuh buku!”

“Ah, diamlah, Mr. Holmes,” sambar Elizabeth, satu-satunya yang menjaga kepala dingin di antara mereka semua. “Kisahmu memang menarik, namun kisah Harry tampaknya tak kalah menariknya. Aku bisa melihat bahwa di dalamnya ada banyak petualangan, misteri, nilai-nilai persahabatan dan kebijaksanaan. Bahkan mungkin cinta, di buku-buku selanjutnya, saat dia sudah lebih besar.”

“Terima kasih, Madam,” jawab Harry. “Aku yakin apa yang kau ucapkan benar. Semua hal besar punya awal, dan yang baru kusampaikan hanyalah rangkuman dari kisahku dalam buku pertama. Kisahku dalam buku-buku selanjutnya akan semakin kompleks, semakin menarik, sekaligus makin misterius dan menantang. Dan terus menjadi lebih baik dengan setiap buku yang ada. Dan kalian perlu tahu juga, penciptaku, Madam J.K. Rowling, menjadi bilyuner karena menulis kisahku. Walau setelah itu, ia kehilangan status bilyunernya karena menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk amal.”

Romeo, Juliet, dan Elizabeth tak mampu menyembunyikan kekaguman mereka. Sedangkan Mr. Darcy dan Sherlock tetap memasang tampang angkuh dan pongah, namun di dalam hati mereka diam-diam mengakui bahwa bocah ini, kisahnya berpotensi untuk tetap hidup melampaui abad, sama seperti kisah mereka sendiri.

Note:

* Ini saya tulis hanya untuk mendukung keseluruhan cerita Harry Potter dan keperluan untuk menulis post ini. Saya pribadi berkeyakinan bahwa ilmu sihir, apapun warnanya, adalah jahat. But the main theme of Harry Potter isn’t (literally) magic, don’t you agree?

** Ditulis dengan rasa hormat kepada William Shakespeare, Jane Austen, Sir Arthur Conan Doyle, dan tentu saja J.K. Rowling.

***

Perkenalan pertama saya dengan Harry Potter sebenarnya bukan dari buku pertama, tapi buku keduanya dulu, Harry Potter and the Chamber of Secrets. Waktu itu tertarik sama gambar covernya sih (thumbs up for Mary Grand Pré!), dan saya juga membacanya agak terlambat, sekitar tahun 2000 atau 2001. Saya kira banyak orang yang seperti saya, jatuh cinta kepada buku atau kembali menemukan cinta kepada buku setelah membaca Harry Potter. Kalau saya pribadi, sebenarnya dari kecil sudah suka membaca, tapi karena stok bacaan terbatas akhirnya masa kecil hanya saya habiskan dengan Bobo, Donal Bebek, Tini, Tintin, dan Asterix. Lalu ketika mulai beranjak remaja saya mulai baca novel (kebanyakan teenlit yang setipe Princess Diaries-nya Meg Cabot) baru kemudian Harry Potter. Ada beberapa teman saya yang bahkan bilang bahwa mereka sebenarnya tidak suka baca novel, dengan perkecualian Harry Potter. Karena yang satu ini membuat mereka ketagihan, dan nggak bisa berhenti membacanya sampai tiba di akhir. Walaupun makin lama buku Harry Potter makin tebal, tetap dibeli dan dilahap saja karena udah terlanjur suka (saya juga seperti itu sih, dan makin parah di buku-buku terakhir, hahaha :D).

All great things have beginnings, so did Harry Potter. This is the beginning of the great story of Harry Potter. This was my “Hello, Harry.” How is your “Hello, Harry”?

HP1

Detail buku:

Harry Potter dan Batu Bertuah (judul asli: Harry Potter and the Philosopher’s Stone / Sorcerer’s Stone), oleh J.K. Rowling
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Listiana Srisanti
384 halaman, diterbitkan September 2000 oleh Gramedia Pustaka Utama (pertama kali diterbitkan tahun 1997)
My rating: ♥ ♥ ♥ ♥

Review ini juga diikutsertakan dalam What’s in a Name Reading Challenge 2013 (buku #1)

 hotter potter logo-1

Akhirnya! Review pertama dari seluruh rangkaian event Hotter Potter. Para peserta bisa memasukkan link reviewnya di Linky di bawah ini. (Click on the blue frog and then “add your link.”) Linky dibuka sampai dengan tanggal 31 Januari 2013 pukul 23.59 WIB.



Advertisements

19 thoughts on “Harry Potter and the Sorcerer’s Stone – J.K. Rowling

  1. keren… ngebayangin tokoh2 fiksi itu ngumpul beneran, seru pasti 🙂
    Aku baca Harry Potter lebih telat lgi, sktr 2005an, tapi langsung dr buku 1-6, hehe

  2. wah aku mungkin salah satu yg beruntung, karena mengenal HP dari buku pertama. Dasarnya kuat sekali! – hingga ketika loncat ke buku 4 pun msh nyambung.

    thanks 4 hotter potter event, membuatku membaca dari awal & runut 🙂

  3. Aku malah nggak begitu ngeh pas teman-temanku heboh dengan Harry Potter tahun 2000. Aku baru baca setelah kelar Ebtanas, pertengahan tahun 2001. Padahal berbulan-bulan sebelumnya bukunya dah beredar di sekolah. Yang jelas nggak ada kata terlambat untuk baca buku sekeren ini.

    Sebelum terjemahannya, aku dah pernah liat versi bahasa inggrisnya. Tapi karena nggak tahu itu buku apa jadi dilepas gitu aja. Sekarang nyesel.

  4. Pingback: 15 Day Book Blogging Challenge Day 11: My Best Blog Posts | Surgabukuku

  5. Pingback: Hotter Potter: Wrap-Up & Winners Announcement | Surgabukuku

  6. Pingback: Wrap-Up of Reading Challenges 2013 | Surgabukuku

  7. Siapa sih yang nggak tau Harry Potter? hehehehehe
    saya salah satu fans berat buku-buku J.K Rowling ini. Saya inget, baca buku ini semasa SMP.
    Sayangnya, buku itu hasil pinjeman dari temen kakak, dan sampai sekarang belum bisa mengumpulkan dana untuk beli ke-7 serinya. Bagaimanapun, pengen re-read buku yang ini karena… well, buku pertama selalu memberi kesan kan? kalau nggak berkesan, mana mungkin kita mau melahap ke-7 serinya? 🙂
    ake pengen baca buku ini lagi karena chemistry dari pertemuan pertama itu nggak bisa dicari lagi selain di buku ini. Awal persahabatan Harry dan Ron, juga tentu saja suasana magis yang dipersembahkan di buku pertama ini membuat tercengang

  8. aku lebih suka novel ketimbang filmnya, kalau novelnya sangat detail ceritanya dan terjemahan Indonesianya bagusss, menikmati banget cara penuturan JK Rowling, ditambah bebrapa ilustrasi bikin imajinasi semakin hidup ><

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s